<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>88 Pos Artikel oleh Penulis Aji Setiawan &#8211; Story Cilacap.info</title>
	<atom:link href="https://story.cilacap.info/author/aji/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://story.cilacap.info</link>
	<description>Media Online Masa Kini, Akurat, Mengedepankan Etika</description>
	<lastBuildDate>Tue, 19 Jul 2022 08:45:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	
<image>
<url>https://img.cilacap.info/images/story/favicon-32x32.png</url><title>88 Pos Artikel oleh Penulis Aji Setiawan &#8211; Story Cilacap.info</title>
<link>https://story.cilacap.info</link>
<width>32</width><height>32</height><description>Info Kisah Menarik</description>
</image>
	<item>
		<title>Syekh Nahrawi Al-Banyumasi, Mursyid Tarekat Syadziliyah asal Purbalingga</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-49066/syekh-nahrawi-al-banyumasi-mursyid-tarekat-syadziliyah-dan-pengarang-kitab-di-hijaz-asal-purbalingga</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Aji Setiawan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 Jul 2022 11:52:26 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Purbalingga]]></category>
		<category><![CDATA[Syekh Nahrowi al-Banyumasi]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-49066/syekh-nahrawi-al-banyumasi-mursyid-tarekat-syadziliyah-dan-pengarang-kitab-di-hijaz-asal-purbalingga</guid>

					<description><![CDATA[PURBALINGGA,  aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Syekh Nahrawi Al-Banyumasi, Beliau adalah Mursyd Tarekat Syadziliyah dan Pengarang Kitab di Hijaz yang berasal dari Purbalingga.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PURBALINGGA</strong>, <a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Syekh Nahrawi Al-Banyumasi, Beliau adalah Mursyd Tarekat Syadziliyah dan Pengarang Kitab di Hijaz yang berasal dari Purbalingga.</p>
<p>Syekh Nahrawi Al-Banyumasi adalah seorang ulama asal Indonesia yang sangat mahsyur di tanah Arab. Beliau lahir di Purbalingga pada tahun 1860. Nama aslinya adalah Kiai Mukhtarom.</p>
<p>Kemudian tafa’ulan kepada gurunya sehingga namanya menjadi Nahrawi. Nama lengkap beliau adalah &#8220;Ahmad Nahrawi Mukhtarom bin Imam Raja Al-Banyumasi Al-Jawi&#8221;.</p>
<p>Biografinya terdapat di kitab A’lamul Makiyyin yang ditulis oleh Syekh Abdullah Muallimi. Ada di entri nomor 1431 halaman 964,&#8221; ujar penulis buku Mahakarya Islam Nusantara itu.</p>
<p>Syekh Nahrawi wafat pada tahun 1926 pada usia 86 tahun dan dimakamkan Ma’la di Makkah. Meski demikian kiprah dakwahnya di tanah air tidak pernah terputus. Dakwah terus bersambung dilanjutkan keluarganya di Purbalingga.</p>
<p>Masa kecil Nahrowi dilewatinya dengan belajar Al-Qur’an dan ilmu agama kepada ayahnya, Kyai Haji Harja Muhammad yang juga dikenal dengan Imam Masjid Darussalam Purbalingga.</p>
<p>Syekh Nahrawi dan saudaranya, Kyai Haji Abu ‘Ammar melanjutkan pembelajaran di Makkah. Saat itu, usia Syekh Nahrawi baru 10 tahun.</p>
<p>Namun, Syekh Nahrawi telah memperoleh surat izin mengajar di Masjidil Haram karena ketekunannya dalam mencari ilmu. Beliau bahkan sempat menjadi seorang hakim agung.</p>
<p>Saat itu juga Makkah menjadi pusat peradaban ilmu dengan guru-guru ulama yang sangat mumpuni seperti Syekh Muhammad al-Maqri a-Mishri al-Makki, Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasballah, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, mufti madzab Syafi’iyah di Makkah, Syekh Ahmad An-Nahrawi al-Mishri al-Makki,  Sayyid Muhammad Shalih al-Zawawi al-Makki, salah seorang guru di Masjid Nabawi dan lain-lain.</p>
<p>Sejak itu, Syekh Nahrawi tidak kembali ke Nusantara. Beliau memilih berkarier di Makkah dan guru yang ulung. Berbeda dengan sang kakak, Abu ‘Ammar. Ia pulang ke tanah air dan menjadi Imam Masjid Agung Purbalingga.</p>
<p>Kyai Haji Abu ‘Ammar  pulang dari Makkah langsung menghidupkan dan memakmurkan Masjid Agung Purbalingga. Masjid tersebut merupakan peninggalan Mbah Abu ‘Ammar dan keluarganya. Sebab, tanah wakaf itu atas nama Kyai Haji Hardja Muhammad yang tidak lain adalah ayah Mbah Abu ‘Ammar .</p>
<p>Kyai Haji Abu ‘Ammar  juga dikenal dengan kelapangan dan luwes dalam bergaul. Hal itu dibuktikan dengan kedekatan Mbah Abu ‘Ammar  dengan tokoh lintas organisasi, seperti Kyai Haji Hasyim Asy’ari (NU) dan Kiai Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) pernah datang dan berdiskusi di Masjid Kauman semasa Mbah Abu ‘Ammar.</p>
<p>Bahkan Syekh Syurkati, pendiri Al Irsyad Al Islamiyah dari Makkah dikabarkan juga pernah bertandang. Kyai Haji Abu ‘Ammar  adalah seorang intelektual muslim yang sangat disegani tidak saja pada regional Banyumas akan tetapi juga nasional.</p>
<p>Kancah KH. Abu ‘Ammar di tingkat nasional bisa ditelusur ketika berteman akrab dengan seorang hakim Belanda yang sangat terkenal yaitu Prof. Terrhar.</p>
<p>Diskusi yang intens Kyai Haji Abu ‘Ammar  ini dengan Terrhar ini kemudian memunculkan perlunya sebuah peradilan bagi kaum inderland tersendiri yang terpisah dengan landrat yang ada ketika itu.</p>
<p>Peradilan ini hanya diberlakukan buat kaum inderlands yang berhubungan dengan hukum-hukum perdata (Begerlijc Wetbook). Sektor yang diurus oleh peradilan ini meliputi pernikahan, perceraian, hukum waris. Peradilan ini kemudian dikenal dengan Pengadilan Agama.</p>
<p>Peradilan agama ini telah berkembang sekarang sampai keseluruh persada nusantara. Dalam sejarah peradilan di Indonesia, pengadilan agama ini telah menjadi salah satu dari empat peradilan di Indonesia.</p>
<p>Pengadilan Agama telah sama kedudukannya dengan pengadilan umum serta di bawah satu atap Mahkamah Agung. Bahkan kewenangan Pengadilan Agama kini telah meluas tidak saja hal-hal yang berkenaan dengan hukum Perdata tapi juga menerima sengketa pidana yang bersifat syariah.</p>
<p><strong>Menjadi Guru di Makkah</strong></p>
<p>Sementara Syekh Ahmad Nahrowi Mukhtarom Al Banyumasi tidak mau pulang ke tanah Jawa. Bahkan oleh Pemerintah Saudi Syekh Ahmad Nahrowi Mukhtarom diangkat menjadi guru mengajar santri dari berbagai Negara.</p>
<p>Beliau Banyak mempunyai murid dan bahkan menjadi hakim agung di Arab Saudi (lihat; Islam transformasi; Azyumardi Azra; Gramedia; 1997).</p>
<p>Tidak satupun pengarang kitab di Haromain; Makkah-Madinah, terutama ulama-ulama yang berasal dariIndonesia yang berani mencetak kitabnya sebelum ada pengesahan dari Syekh Ahmad Nahrowi Mukhtarom Al Banyumasi.</p>
<p>Sehingga bisa dipastikan waktu Syekh Ahmad Nahrowi Mukhtarom al Banyumasi ini habis untuk mengkoreksi, mengedit dan mentahshih ratusan kitab karya ulama-ulama Nusantara yang pada waktu itu terkenal sangat produktif menulis karya.</p>
<p>Seperti Syekh Mahfudz Al Tremasi, Syekh Soleh Darat, Syekh  Nawawi Al-Bantani, Syekh Kholil Al Bangkalani, Syekh Junaid Al Batawi  dan lain-lain. Syekh Nahrowi iabaratnya adalah editor handal dari kitab-kitab klasik ulama-ulama Nusantara pada masa itu.</p>
<p>Syekh Nahrawi banyak mengoreksi ratusan kitab karya ulama-ulama Nusantara seperti Syekh Mahfudz Al Tremasi dan Syekh Nawawi Al Bantani.</p>
<p>Kala itu, para pengarang kitab, terutama yang berasal dari Indonesia, enggan mencetak karyanya sebelum diberi rekomendasi atau taqrizh oleh Syekh Nahrawi.</p>
<p>Beberapa karya tersebut adalah Fathul Majid Syarh Jauharatut Tauhid karya Syekh Husain bin Umar Palembang dan fatwa Al-Ajwibatul Makkiyah ‘alal As’ilatil Jawiyyah oleh Syekh Abdullah bin Abdurrahman Siraj.</p>
<p>Nah, menurut Syekh Nahrawi, kitab yang ditulis Syekh Abdullah berisi jawaban atas beragam persoalan di Nusantara seperti tradisi tahlil, mauludan, dan ziarah kubur.</p>
<p>pada Juli 2017 lalu, Komunitas Pegon di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Tengah menemukan karya tulis Syekh Nahrawi. Karya tersebut ditemukan saat mereka memeriksa kardus-kardus berisi kitab peninggalan Kiai Faqih Cemoro.</p>
<p>Kitab sepanjang delapan halaman itu merupakan catatan atau taqliq dari Risalah Iti’arat karya Syekh Ahmad bin Zaini Dahlan Al-Makki, seorang mufti Mekah yang menjadi guru Syekh Nahrawi.</p>
<p><strong>Menjadi Mursyid Thariqah</strong></p>
<p>Selain mengasas kitab, Syekh Ahmad Nahrowi juga menjadi Mursyid Thariqah Syadziliyah. Thariqah Syadziliyah muncul secara Besar-besaran di tanah Jawa baru di abad 19 ketika para santri Jawa yang sebelumnya berbondong-bondong belajar di Makkah dan Madinah pulang ke tanah air</p>
<p>Generasi awal adalah KH. Idris, pendiri Pesantren Jamsaren, Solo, yang mendapatkan ijazah kemursyidannya dari Syekh Muhammad Shalih, seorang mufti Madzhab Hanafi di Makkah.</p>
<p>Sementara guru-guru mursyid Syadziliyyah Jawa yang lain belajar pada generasi sesudah Syekh Shalih, yakni Syekh Ahmad Nahrawi Mukhtarom yang seangkatan dengan Kyai Idris Jamsaren saat berguru kepada Syekh Muhammad Shalih.</p>
<p>Ulama-ulama Jawa yang berguru thariqah Syekh Nahrowi antara lain KH. Muhammad Dalhar Watucongol, Muntilan, dan Kiai Siroj, Payaman, Magelang; KH. Ahmad Ngadirejo, Klaten; Kiai Abdullah bin Abdul Muthalib, Kaliwungu, Kendal; dan Syekh Abdul Malik, Kedungparuk Mersi, Purwokerto, Banyumas.</p>
<p>Dari Mbah Dalhar, ijazah kemursyidan itu turun kepada putranya KH. Ahmad Abdul Haqq (Mbah Mad Watucongol), Abuya Dimyathi (Cidahu, Pandeglang) dan Kiai Iskandar (Salatiga).</p>
<p>Perlu diketahui, Thariqah Syadziliyyah adalah thariqah yang didirikan oleh Syekh Abu al-Hasan Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar Asy-Syadzili Al Hasany, ulama kelahiran Ghamarah.</p>
<p>Yakni sebuah kampung di wilayah al-Maghrib al-Aqsha yang sekarang dikenal dengan Maroko. Beliau lahir pada tahun 593 H (1197 M) dan wafat di Humaitsara, Mesir pada tahun 656 H (1258M)</p>
<p>Beliau adalah seorang sufi pengembara yang mengajarkan bersungguh-sungguh dalam berdzikir dan berfikir di setiap waktu, tempat dan keadaan untuk mencapai fana’ (ketiadaan diri di hadapan Allah).</p>
<p>Beliau juga mengajarkan bersikap zuhud pada dunia dan iqbal (perasaan hadir di hadapan Allah). Beliau mewasiatkan agar para muridnya membaca kitab Ihya’ Ulumuddin dan kitab Qutul Qulub.</p>
<p>Peringatan Haul Syekh Ahmad Nahrowi berlangsung meriah. Puluhan ribu orang tumpah ruah di Alun-Alun Purbalingga, Sabtu (26/6) malam melepas kerinduan atas kehadiran Maulana Habib Luthfi bin Yahya dalam gelaran Haul Akbar Syech Nahrowi Muhtarom Al Banyumasi.</p>
<p>Haul ini digelar kali pertama untuk mengenalkan kembali bahwa Purbalingga pernah melahirkan ulama besar bertaraf internasional, Sayyid Syekh Ahmad Nahrowi Muhtarom Al-Banyumasi Al Makky.</p>
<p>la asal Purbalingga dan hijrah ke Makkah. Kiprahnya sebagai guru para santri dari berbagai negara, sempat menjadi hakim agung dan korektor kitab-kitab yane ditulis para ulama</p>
<p>&#8220;Umat Islam di Indonesia khususnya Purbalingga punya kebanggaan yang luar biasa. Karena Purbalingga telah melahirkan Syekh Nahrowi mewarnai keintelektualannya, keilmuannya dan seorang guru thoriqoh yang tinggal di Masjidil Haram,&#8221; katanya.</p>
<p>Rangkaian haul sendiri sudah berlangsung sejak jumat, dengan Karnaval seni dan dialog kebangsaan di Hotel Braling.</p>
<p>Puncak acara dengan tabligh Akbar dengan menghadirkan Habib Luthfy dan dimeriahkan penampilan Musthafa (Band Debu)(***)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/07/17/Maulana-Habib-Luthfi-saat-menghadiri-Haul-Syekh-Nahrawi-al-Banyumasi.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[Maulana Habib Luthfi saat menghadiri Haul Syekh Nahrawi al Banyumasi]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/07/17/Maulana-Habib-Luthfi-saat-menghadiri-Haul-Syekh-Nahrawi-al-Banyumasi-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[Maulana Habib Luthfi saat menghadiri Haul Syekh Nahrawi al Banyumasi]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Bawakan Salawat, Alfina Nindiyani Mulai Jadi Sorotan Publik</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-46284/bawakan-salawat-alfina-nindiyani-mulai-jadi-sorotan-publik</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Aji Setiawan]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 28 Apr 2022 11:35:34 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Alfina Nindiyani]]></category>
		<category><![CDATA[Sholawat]]></category>
		<category><![CDATA[Youtuber]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-46284/bawakan-salawat-alfina-nindiyani-mulai-jadi-sorotan-publik</guid>

					<description><![CDATA[ aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Sholawatnya Bikin Adem Blitar-Nama Alfina Nindiyani sendiri mulai jadi sorotan publik sejak membawakan lagu sholawat berjudul Law Kana Bainanal Habib.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Sholawatnya Bikin Adem Blitar-Nama Alfina Nindiyani sendiri mulai jadi sorotan publik sejak membawakan lagu sholawat berjudul Law Kana Bainanal Habib.</p>
<p>Lagu itu sejak diunggah di YouTube tiga tahun lalu, hingga kini telah ditonton lebih dari 36 juta kali. Wow, fantastis bukan?</p>
<p>Selain Law Kana Bainanal Habib, wanita yang akrab disapa Nindi itu juga sukses meng-cover lagu Al-I’tiraf hingga memberikan kesan tersendiri bagi pendengarnya.</p>
<p>Ada sekitar 886 ribu subscriber setia, penonton dan pendownload YouTube muda pecinta Lagu-lagu sholawat yang membuat pemilik Nama Alfina ini makin mendongkrak popularitasnya.</p>
<p>Alfina Nindiyani bergabung dengan label Musik Positif dalam perjalanan kariernya. Kehadiran Siswi SMA Blitar ini tentu menambah deretan pendatang baru lagu Sholawat di luar Nisya Sabyan, Pujaan Sharma, Naswa Auliya, dll.</p>
<p>Tetapi ngomong-ngomong, mereka fastabikhul khairaat dalam meramaikan bursa sholawat, buktinya sering manggung bareng, secara virtual.Penssaran kan? (***) AST</p>
<p>Sejauh ini sudah banyak lagu sholawat yang dirilis ke publik lengkap dengan video musiknya.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/04/28/bawakan-salawat-alfina-nindiyani-mulai-jadi-sorotan-publik.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[bawakan salawat alfina nindiyani mulai jadi sorotan publik]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/04/28/bawakan-salawat-alfina-nindiyani-mulai-jadi-sorotan-publik-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[bawakan salawat alfina nindiyani mulai jadi sorotan publik]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Jejak Langkah 2 Ulama Pembangun Bangsa</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-28470/jejak-langkah-2-ulama-pembangun-bangsa</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Aji Setiawan]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 30 Jun 2020 21:30:39 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Berita Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kiai Ahmad Dahlan]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Syaikh Hasyim Asy'ari]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-28470/jejak-langkah-2-ulama-pembangun-bangsa</guid>

					<description><![CDATA[ aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Nahdlatul Ulama didirikan pada 31 Januari 1926 M atau bertepatan dengan 16 Rajab 1344 H, pada awal berdiri, Hadratussyekh KH Hasyim Asyari menjabat sebagai Rais Akbar dan H Hasan Gipo sebagai Ketua Tanfidziyah.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Nahdlatul Ulama didirikan pada 31 Januari 1926 M atau bertepatan dengan 16 Rajab 1344 H, pada awal berdiri, Hadratussyekh KH Hasyim Asyari menjabat sebagai Rais Akbar dan H Hasan Gipo sebagai Ketua Tanfidziyah.</p>
<p>Dan Muhammadiyah lahir lebih dahulu dari NU, yaitu 18 November 1912 M atau bertepatan dengan 8 Dzulhijjah 1330 H. Muhammadiyah didirikan KH Ahmad Dahlan.</p>
<p>Namun jika kita tilik lagi dalam sejarah berdirinya kedua ormas ini</p>
<p>Awal sebelumnya KH Wahab Chasbullah dan para Kyai pesantren telah mendirikan organisasi pergerakan :</p>
<p>1, Taswirul Afkar (kawah candradimuka pemikiran) atau Nahdlatul Fikr tahun 1914</p>
<p>2, Nahdlatul Wathon atau Kebangkitan Tanah Air pada 1916</p>
<p>3, Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Saudagar) tahun 1918.</p>
<p>Namun hal yang paling mendasar pada pembentukan organisasi NU sendiri berangkat dari adanya Komite Hijaz yang dibentuk oleh Kyai Wahab Chasbullah untuk menggagalkan pembongkaran makam Rosulullah SAW di Makkah.</p>
<p>Pembentukan Komite Hijaz yang akan dikirim ke Muktamar Dunia Islam, hal ini telah mendapat restu KH Hasyim Asy’ari.</p>
<p>Maka pada 31 Januari 1926, Komite Hijaz mengundang ulama terkemuka untuk mengadakan pembicaraan mengenai utusan yang akan dikirim ke Muktamar di Mekkah.</p>
<p>Para ulama dipimpin KH Hasyim Asy’ari datang ke Kertopaten, Surabaya dan sepakat menunjuk KH Raden Asnawi Kudus sebagai delegasi Komite Hijaz.</p>
<p>Namun setelah KH Raden Asnawi terpilih, timbul pertanyaan siapa atau institusi apa yang berhak mengirim Kiai Asnawi?</p>
<p>Maka lahirlah Jam’iyah Nahdlatul Ulama (nama ini atas usul KH Mas Alwi bin Abdul Aziz) pada 16 Rajab 1344 H yang bertepatan dengan 31 Januari 1926 M.</p>
<p>Dengan kata lain, NU adalah lanjutan dari komunitas dan organisasi-organisasi yang telah berdiri sebelumnya, namun dengan cakupan dan segmen yang lebih luas.</p>
<p>Organisasi Muhammadiyah sendiri pada mulanya diusulkan oleh kerabat dan sekaligus sahabat Kyai Ahmad Dahlan yang bernama Muhammad Sangidu, seorang Ketib Anom Kraton Yogyakarta dan tokoh pembaruan yang kemudian menjadi penghulu Kraton Yogyakarta, yang kemudian diputuskan Kyai Dahlan setelah melalui salat istikharah.</p>
<p>Pada masa kepemimpinan Kyai Dahlan (1912-1923), pengaruh Muhammadiyah terbatas di karesidenan-karesidenan seperti: Yogyakarta, Surakarta, Pekalongan, dan Pekajangan, sekitar daerah Pekalongan sekarang.</p>
<p>Selain Yogya, cabang-cabang Muhammadiyah berdiri di kota-kota tersebut pada tahun 1922, tahun 1925 Abdul Malik Karim Amrullah membawa Muhammadiyah ke Sumatra Barat dengan membuka cabang di Sungai Batang, Agam.</p>
<p>Dalam tempo yang relatif singkat, arus gelombang Muhammadiyah telah menyebar ke seluruh Sumatra Barat, dan dari daerah inilah kemudian Muhammadiyah bergerak ke seluruh Sumatra, Sulawesi, dan Kalimantan. Pada tahun 1938, Muhammadiyah telah tersebar ke seluruh Indonesia.</p>
<p>Merunut kepada silsilah beliau, melalui Sunan Giri (Raden Ainul Yaqin) KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan memiliki garis keturunan yang sama sampai dengan Rasulullah dengan urutan lanjutan sebagai berikut:</p>
<p>KH Hasyim Asy&#8217;ari</p>
<p>Maulana Iskhaq
Sunan Giri (Raden Ainul Yaqin)
Abdurrohman / Jaka Tingkir (Sultan Pajang)
Abdul Halim (Pangeran Benawa)
Abdurrohman (Pangeran Samhud Bagda)
Abdul Halim
Abdul Wahid
Abu Sarwan
KH. Asy’ari (Jombang)
KH. Hasyim Asy’ari (Jombang)</p>
<p>Silsilah KH. Ahmad Dahlan</p>
<p>Maulana Iskhaq
Sunan Giri I (Prabu Satmata), salah seorang anggota wali songo
Sunan Giri II (Sunan Dalem)
Pangeran Kedhanyang (Ki Ageng Gribig I
Ki Ageng Gribig II
Ki Ageng Gribig III
Ki Ageng Gribig IV
Demang Jurang Juru Sapisan
Demang Jurang Juru Kapindo
Kyai Ilyas
Kyai Murtadha
Kyai Muhammad Sulaiman
Kyai Abu Bakar
KH Ahmad Dahlan</p>
<p>Adapun Persamaan dan Perbedaan antara kedua Pendiri Organisasi NU dan Muhammadiyah</p>
<p>Persamaan</p>
<p>1. Masih satu nasab yang sama berujung pada Sunan Giri
2. Masih satu sanad keilmuan baik dalam belajar ilmu agama ataupun ilmu ilmu yang lainya dan tentu saja pada amaliah masing masing Pendiri Organisasi baik NU dan Muhammadiyah.</p>
<p>Perbedaan</p>
<p>NU pada awalnya lebih menekankan pendidikan non formal atau pesantren untuk formal kurang penekanan
Muhammadiyah lebih menekankan pendidikan formal dengan mendirikan sekolah sekolah dan lainnya untuk pesantren kurang ditekankan.</p>
<p>Namun dalam hal organisasi Muhammadiyah dengan NU lebih dulu Muhammadiyah 1912 mendapat legalitas organisasi, sedang NU ada di belakang Muhammadiyah karena organisasi NU harus melalui proses hingga nama organisasi NU mendapat legalitas.</p>
<p>Wallahu&#8217;allambishowab..</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2020/07/16/Kiai-Ahmad-Dahlan-dan-Kiai-Hasyim-Asyari.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[Kiai Ahmad Dahlan dan Kiai Hasyim Asyari]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2020/07/16/Kiai-Ahmad-Dahlan-dan-Kiai-Hasyim-Asyari-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[Kiai Ahmad Dahlan dan Kiai Hasyim Asyari]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Syaikh Abdul Malik al Banyumasi Sesepuh Mursyid Naqsabandiyah Khalidiyah Tanah Jawa</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-28047/syaikh-abdul-malik-al-banyumasi-sesepuh-mursyid-naqsabandiyah-khalidiyah-tanah-jawa</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Aji Setiawan]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 19 Jun 2020 12:18:10 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Banyumas]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-28047/syaikh-abdul-malik-al-banyumasi-sesepuh-mursyid-naqsabandiyah-khalidiyah-tanah-jawa</guid>

					<description><![CDATA[BANYUMAS,  aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Syaikh Abdul Malik al Banyumasi, Ia adalah sosok ulama yang cukup disegani di Banyumas Jawa Tengah. Syaikh Abdul Malik semasa hidupnya memegang dua thariqah besar (sebagai mursyid) yaitu:]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>BANYUMAS</strong>, <a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Syaikh Abdul Malik al Banyumasi, Ia adalah sosok ulama yang cukup disegani di Banyumas Jawa Tengah. Syaikh Abdul Malik semasa hidupnya memegang dua thariqah besar (sebagai mursyid) yaitu:</p>
<p>Thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah dan Thariqah Asy-Syadziliyah. Diketahui Asy-Syaikh Abdul Malik lahir di Kedung Paruk, Purwokerto, pada hari Jum&#8217;at 3 Rajab 1294 H (1881).</p>
<p>Nama kecilnya adalah Muhammad Ash&#8217;ad sedang nama Abdul Malik diperoleh dari ayahnya, KH Muhammad Ilyas ketika ia menunaikan ibadah haji bersamanya.</p>
<p>Sejak kecil Asy-Syaikh Abdul Malik telah memperoleh pengasuhan dan pendidikan secara langsung dari kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya yang ada di Sokaraja, Banyumas terutama dengan KH Muhammad Affandi.</p>
<p>Sang ayah adalah KH Muhammad Ilyas bin H Aly Dipowongso. Syaikh Muhammad Ilyas trukah berdakwah di wilayah eks Karsidenan Banyumas di mulai dari grumbul Kedungparuk sekembalinya dari menuntut ilmu selama puluhan tahun di Mekkah.</p>
<p>Guru Ilyas demikian nama yang lebih dikenal dilahirkan di Kedung Paruk sekitar tahun 1186 H/1765 M dari seorang Ibu bernama Siti Zaenab binti Maseh bin KH Abdussamad (Mbah Jombor).</p>
<p>Guru Ilyas mulai menyebarkan luaskan thariqah naqsabandiyah khalidiyah sesuai tugas dan amanah gurunya yakni Syaikh Sulaiman Zuhdi Al Makki sekitar tahun 1246 H/1825 M pada usia 60 tahun.</p>
<p>Setelah belajar Al-Qur&#8217;an dengan ayahnya, Asy-Syaikh Abdul Malik kemudian mendalami kembali Al-Qur&#8217;an kepada KH Abu Bakar bin H Yahya Ngasinan (Kebasen, Banyumas).</p>
<p>Pada tahun 1312 H, ketika Syaikh Abdul Malik sudah menginjak usia dewasa, oleh sang ayah, ia dikirim ke Mekkah untuk menimba ilmu agama.</p>
<p>Di sana ia mempelajari berbagai disiplin ilmu agama di antaranya ilmu Al-Qur&#8217;an, tafsir, Ulumul Qur&#8217;an, Hadits, Fiqh, Tasawuf dan lain-lain.</p>
<p>Asy-Syaikh Abdul Malik belajar di Tanah suci dalam waktu yang cukup lama, kurang lebih selama limabelas tahun.</p>
<p>Dalam ilmu Al-Qur&#8217;an, khususnya ilmu Tafsir dan Ulumul Qur&#8217;an, ia berguru kepada Sayid Umar Asy-Syatha&#8217; dan Sayid Muhammad Syatha&#8217; (putra penulis kitab I&#8217;anatuth Thalibin hasyiyah Fathul Mu&#8217;in).</p>
<p>Dalam ilmu hadits, ia berguru Sayid Tha bin Yahya Al-Magribi (ulama Hadramaut yang tinggal di Mekkah), Sayid Alwi bin Shalih bin Aqil bin Yahya, Sayid Muhsin Al-Musawwa, Asy-Syaikh Muhammad Mahfudz bin Abdullah At-Tirmisi.</p>
<p>Dalam bidang ilmu syariah dan thariqah alawiyah ia berguru pada Habib Ahmad Fad&#8217;aq, Habib Aththas Abu Bakar Al-Attas, Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi (Surabaya), Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas (Bogor), Kyai Soleh Darat (Semarang).</p>
<p>Sementara itu, guru-gurunya di Madinah adalah Sayid Ahmad bin Muhammad Amin Ridwan, Sayid Abbas bin Muhammad Amin Ridwan, Sayid Abbas Al Maliki Al-Hasani (kakek Sayid Muhammad bin Alwi Al Maliki Al-Hasani), Sayid Ahmad An-Nahrawi Al Makki, Sayid Ali Ridha.</p>
<p>Setelah sekian tahun menimba ilmu di Tanah Suci, sekitar tahun 1327 H, Asy-Syaikh Abdul Malik pulang ke kampung halaman untuk berkhidmat kepada keduaorang tuanya yang saat itu sudah sepuh (berusia lanjut).</p>
<p>Kemudian pada tahun 1333 H, sang ayah, Asy Syaikh Muhammad Ilyas berpulang ke Rahmatullah. </p>
<p>Sesudah sang ayah wafat, Asy-Syaikh Abdul Malik kemudian mengembara ke berbagai daerah di Pulau Jawa guna menambah wawasan dan pengetahuan dengan berjalan kaki.</p>
<p>Ia pulang ke rumah tepat pada hari ke- 100 dari hari wafat sang ayah, dan saat itu umur Asy Syaikh berusia tiga puluh tahun.</p>
<p>Sepulang dari pengembaraan, Asy-Syaikh tidak tinggal lagi di Sokaraja, tetapi menetap di Kedung Paruk bersama ibundanya, Nyai Zainab.</p>
<p>Perlu diketahui, Asy-Syaikh Abdul Malik sering sekali membawa jemaah haji Indonesia asal Banyumas dengan menjadi pembimbing dan syaikh.</p>
<p>Mereka bekerja sama dengan Asy-Syaikh Mathar Mekkah, dan aktivitas itu dilakukan dalam rentang waktu yang cukup lama.</p>
<p>Sehingga wajarlah kalau selama menetap di Mekkah, ia memperdalam lagi ilmu-ilmu agama dengan para ulama dan syaikh yang ada di sana.</p>
<p>Berkat keluasan dan ke dalaman ilmunya, Syaikh Abdul Malik pernah memperoleh dua anugrah yakni pernah diangkat menjadi Wakil Mufti Madzab Syafi&#8217;i di Mekkah dan juga diberi kesempatan untuk mengajar.</p>
<p>Pemerintah Saudi sendiri sempat memberikan hadiah berupa sebuah rumah tinggal yang terletak di sekitar Masjidil Haram atau tepatnya di dekat Jabal Qubes.</p>
<p>Anugrah yang sangat agung ini diberikan oleh Pemerintah Saudi hanya kepada para ulama yang telah memperoleh gelar Al-&#8216;Allamah.</p>
<p>Syaikh Ma&#8217;shum (Lasem, Rembang) setiap berkunjung ke Purwokerto, seringkali menyempatkan diri singgah di rumah Asy-Syaikh Abdul Malik dan mengaji kitab Ibnu Aqil Syarah Alfiyah Ibnu Malik secara tabarrukan (meminta barakah) kepada Asy-Syaikh Abdul Malik.</p>
<p>Demikian pula dengan Mbah Dimyathi (Comal, Pemalang), KH Khalil (Sirampog, Brebes), KH Anshori (Linggapura, Brebes), KH Nuh (Pageraji, Banyumas) yang merupakan kiai-kiai yang hafal Al-Qur&#8217;an, mereka kerap sekali belajar ilmu Al-Qur&#8217;an kepada Syaikh Abdul Malik.</p>
<p>Kehidupan Syaikh Abdul Malik sangat sederhana, di samping itu ia juga sangat santun dan ramah kepada siapa saja. Beliau juga gemar sekali melakukan silaturrahiem kepada murid-muridnya yang miskin.</p>
<p>Baik mereka yang tinggal di Kedung Paruk maupun di desa-desa sekitarnya seperti Ledug, Pliken, Sokaraja, Dukuhwaluh, Bojong dan lain-lain.</p>
<p>Hampir setiap hari Selasa pagi, dengan kendaraan sepeda, naik becak atau dokar, Syaikh Abdul Malik mengunjungi murid-muridnya untuk membagi-bagikan beras, uang dan terkadang pakaian.</p>
<p>Sembari juga mengingatkan kepada mereka untuk datang pada acara pengajian Selasanan (Forum silaturrahiem para pengikut Thariqah An-Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah Kedung paruk yang diadakan setiap hari Selasa dan diisi dengan pengajian dan tawajjuhan).</p>
<p>Konon beliau mengamalkan lebih dari 12 thariqah,hanya yang diturunkan paling tidak 4 thariqah yaitu naqsyabandi al-khalidi, syadziliyah, qairiyah naqsyabandiyah dan alawiyah.</p>
<p>Di samping memberikan pelajaran tentang ilmu tashawuf (Thariqah), beliau juga mengembangkan ilmu al-qur&#8217;an (tahfidul-qur&#8217;an dan qira!ah sab&#8217;ah).</p>
<p>Tidak sedikit para hafidh dan qari&#8217; datang kepada beliau untuk mengambil ilmu al-qur&#8217;an atau sekedar tabarukan. Mbah Malik tidak meninggalkan harta ataupun karya tulis.</p>
<p>Namun karya agung beliau adalah karya yang dapat berjalan yaitu murid-murid beliau yang kini menjadi tokoh-tokoh masyarakat, ulama, kiyai, rijalul qaum (tokoh panutan) seperti diuangkapkan oleh al &#8216;alaamah al-mursyid al-habib Muhammad Luthfi bin Hasyim bin Aly bin Yahya.</p>
<p>Murid-murid dari Syaikh Abdul Malik di antaranya KH Abdul Qadir, Kiai Sa&#8217;id, KH Muhammad Ilyas Noor (mursyid Thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah sekarang), KH Sahlan (Pekalongan), Drs Ali Abu Bakar Bashalah (Yogyakarta), KH Hisyam Zaini (Jakarta), Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya (Pekalongan), KH Ma&#8217;shum (Purwokerto) dan lain-lain.</p>
<p>Sebagaimana diungkapkan oleh murid beliau, yakni Habib Luthfi bin Yahya, Syaikh Abdul Malik tidak pernah menulis satu karya pun.</p>
<p>&#8220;Karya-karya Al-Alamah Syaikh Abdul Malik adalah karya-karya yang dapat berjalan, yakni murid-murid beliau, baik dari kalangan kyai, ulama maupun shalihin.&#8221;</p>
<p>Diantara warisan beliau yang sampai sekarang masih menjadi amalan yang dibaca bagi para pengikut thariqah adalah buku kumpulan shalawat yang beliau himpun sendiri, yaitu &#8220;Al-Miftah al-Maqashid li-ahli at-Tauhid fi ash-Shalah &#8216;ala babillah al-Hamid al-majid Sayyidina Muhammad al-Fatih li-jami&#8217;i asy-Syada&#8217;id.&#8221; Shalawat ini diperolehnya di Madinah dari Sayyid Ahmad bin Muhammad Ridhwani Al-Madani. </p>
<p>Konon, shalawat ini memiliki manfaat yang sangat banyak, di antaranya bila dibaca, maka pahalanya sama seperti membaca kitab Dala&#8217;ilu al-Khairat sebanyak seratus sepuluh kali, dapat digunakan untuk menolak bencana dan dijauhkan dari siksa neraka.</p>
<p>Syaikh Abdul Malik semasa hidupnya memegang dua thariqah besar (sebagai mursyid) yaitu: Thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah dan Thariqah Asy-Syadziliyah.</p>
<p>Sanad thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah telah ia peroleh secara langsung dari ayah beliau yakni Syaikh Muhammad Ilyas, sedangkan sanad Thariqah Asy-Sadziliyah diperolehnya dari As-Sayyid Ahmad An-Nahrawi Al-Makki (Mekkah).</p>
<p>Dalam hidupnya, Syaikh Abdul Malik memiliki dua amalan wirid utama dan sangat besar, yaitu membaca Al-Qur&#8217;an dan Shalawat. Beliau tak kurang membaca shalwat sebanyak 16.000 kali dalam setiap harinya dan sekali menghatamkan Al-Qur&#8217;an.</p>
<p>Adapun shalawat yang diamalkan adalah shalawat Nabi Khidir AS atau lebih sering disebut shalawat rahmat, yakni &#8220;Shallallah &#8216;ala Muhammad.&#8221; Dan itu adalah shalawat yang sering beliau ijazahkan kepada para tamu dan murid beliau.</p>
<p>Adapun shalawat-shalawat yang lain, seperti shalawat Al-Fatih, Al-Anwar dan lain-lain. Beliau juga dikenal sebagai ulama yang mempunyai kepribadian yang sabar, zuhud, tawadhu dan sifat-sifat kemuliaan yang menunjukan ketinggian dari akhlaq yang melekat pada diri beliau.</p>
<p>Sehingga amat wajarlah bila masyarakat Banyumas dan sekitarnya sangat mencintai dan menghormatinya. </p>
<p>Beliau disamping dikenal memiliki hubungan yang baik dengan para ulama besar umumnya, Syaikh Abdul Malik mempunyai hubungan yang sangat erat dengan ulama dan habaib yang dianggap oleh banyak orang telah mencapai derajat waliyullah.</p>
<p>Yakni seperti Habib Soleh bin Muhsin Al-Hamid (Tanggul, Jember), Habib Ahmad Bilfaqih (Yogyakarta), Habib Husein bin Hadi Al-Hamid (Brani, Probolinggo), KH Hasan Mangli (Magelang), Habib Hamid bin Yahya (Sokaraja, Banyumas) dan lain-lain. Diceritakan, saat Habib Soleh Tanggul pergi ke Pekalongan untuk menghadiri sebuah haul.</p>
<p>Selesai acara haul, Habib Soleh berkata kepada para jamaah,&#8221;Apakah kalian tahu, siapakah gerangan orang yang akan datang kemari? Dia adalah salah seorang pembesar kaum &#8216;arifin di tanah Jawa.&#8221; Tidak lama kemudian datanglah Syaik Abdul Malik dan jamaah pun terkejut melihatnya.</p>
<p>Hal yang sama juga dikatakan oleh Habib Husein bin Hadi Al-Hamid (Brani, Kraksaan, Probolinggo) bahwa ketika Syaikh Abdul Malik berkunjung ke rumahnya bersama rombongan, Habib Husein berkata, &#8220;Aku harus di pintu karena aku mau menyambut salah satu pembesar Wali Allah.&#8221;</p>
<p>Satu hal yang sering diungkapkan dalam berbagai kesempatan oleh murid kesayangan Mbah Malik yakni Habib Luthfi bin Aly bin Hasyim bin Yahya (Pekalongan) bahwa beliau memiliki ratusan guru ruhani, tapi yang &#8220;kemantil-kantil&#8221; di pelupuk mata beliau adalah Mbah Malik.</p>
<p>Tiga hal yang diwasiatkan kepada penerus Mbah Malik yaitu! jangan tinggalkan shalat, jangan tinggalkan al-qur&#8217;an dan jangan tinggalkan shalawat.</p>
<p>Disamping itu dalam berbagai kesempatan Mbah Malik sering menyampaikan pesan-pesannya kepada murid-murid dan cucu-cucu beliau untuk melakukan dua hal, yaitu pertama agar selalu membaca shalawat kepada Rasulullah SAW dan kedua agar sellau mencintai serta menghormati dzuriyyah (cucu-cucu) Rasulullah SAW.</p>
<p>Penerus Mbah Malik Mbah Malik adalah guru besar Thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah dan As-Syadziliyah Indonesia. Silsilah kemursyidan diserahkan kepada murid kesayangan beliau (Habib Muhammad Luthfi bin Aly bin Hasyim bin Yahya dan cucu beliau Abdul Qadir bin Lyas Noor).</p>
<p>Kalau kepadasang cucu hanya kemursyidan thariqah An-Naqsabandiyah al-Khalidiyahnya saja, namun kemursyidan kedua thariqah besar tersebut (Naqsyabandi dan Syadzili) diserahkan kepada muridnya yakni Habib Muhammad Luthfi bin Aly bin Hasyim bin Yahya. </p>
<p>Mbah Malik menurunkan seorang anak laki-laki dari Nyai Siti Warsiti yang lebih dikenal Mbah Johar (putri syaikh Abubakar bin H Yahya, kaliwedi, guru mbah Malik) yakni Ahmad Busyairi, namun meninggall dalam usia 36 tahun (1953). Sedang dari mbah Mrenek Maos Cilacap, tidak dikaruniai anak.</p>
<p>Dari perkawainannya dengan Nyai Siti Hasanah putri H Abdul Khalil (Kedung Paruk), ia menurunkan seorang putri yaitu Nyai Khairiyah. Sang putri tunggal ini Nyai Khairiyah menurunkan sembilan anak.</p>
<p>Dengan Kyai Anshor Sokaraja, satu orang putri yaitu Hj Siti Fauziyah dan dariKyai Ilyas Noor, delapan anak tiga laki-laki dan lima perempuan yaitu Hj Siti Faridah, KH Abdul Qadir, Siti Fatimah, Siti Rogayah, KH Sa&#8217;id, KH Muhammad Ilyas Noor, Hj Isti Rochati dan Nurul Mu&#8217;minah.</p>
<p>Tiga penerus Mbah Malik yang meneruskan amaliah Mbah Malik masing-masing yakni pertama, KH Abdul Qadir bin KH Ilyas Noor Subtil Malik lahir di Kedung Paruk 11 Oktober 1942 wafat pada hari Selasa 19 Maret 2002 (5 Muharam 1423 H dalamusia 60 tahun) dan dimakamkan di belakang Masjid Bahaa-ul-Haq wa Dhiyaa-uf-Dien. Ia memangku kemursyidan selama 22 tahun (1980-2002).</p>
<p>Penerus kedua yakni yakni KH Sa&#8217;id bin KH Ilyas Noor Subtil Malik lahir diKedung Paruk pada tanggal 15 April 1951 wafat pada hari kamis tanggal 3 Juli 2004 dalam usia 53 tahun dan dimakamkan di belakang Masjid Bahaa-ul-Haq wa Dhiyaa-uf-Dien.</p>
<p>Ia memangku kemursyidan selama 2 tahun (2002-2004). Selepas itu kemursyidan thariqah dari tahun 2004 sampai sekarang dipegang oleh KH Muhammad bin KH Ilyas Noor Subtil Malik.</p>
<p>Syaikh Abdul Malik wafat pada hari Kamis, 2 Jumadil Akhir 1400 H (17 April 1980) pada usia 99 tahun dan dimakamkan di belakang masjid Bahaaul-Haq wa Dhiyaa-ud-Dien, Kedung Paruk Purwokerto Banyumas dan memangku kemursyidan selama 68 tahun (1912-1980). (*)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2020/06/16/Syaikh-Abdul-Malik-al-Banyumasi-dan-Maulana-Habib-Luthfi.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[Syaikh Abdul Malik al Banyumasi dan Maulana Habib Luthfi]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2020/06/16/Syaikh-Abdul-Malik-al-Banyumasi-dan-Maulana-Habib-Luthfi-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[Syaikh Abdul Malik al Banyumasi dan Maulana Habib Luthfi]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
	</channel>
</rss>
