Bima menggandeng Widya, menyuruhnya masuk rumah, “awakmu pegel kan” (kamu pasti capek kan)
tidak beberapa lama, Wahyu sudah datang, ia masuk ke rumah
tanpa membuang2 waktu, alih-alih ia istirahat, Wahyu dengan suara menggebu-gebu bercerita kalau baru saja mengalami kejadian tidak mengenakan atas insiden motor, sampai dibantu, orang kampung, tidak lupa, ia bercerita tentang penari yang ia temui, kecantikanya, ia ceritakan semua
bukan sambutan yang Wahyu dapat, tapi tatapan kebingungan lah yang pertama Wahyu lihat.
“ra onok Deso maneh nang kene” (tidak ada desa lagi di sini) kata Bima, Wahyu yang mendengar itu tidak terima.
“eroh tekan ndi awakmu” (tau darimana kamu)
“aku wes sering nang kota yu,”
(aku sudah sering ke Kota Yu) “Prokerku onok hubungane ambek program hasil alam, dadi sering melu nang kota mabek wong-kene” (Prokerku berhubungan sama program hasil alam, jadi sering ikut ke kota sama orang dini) “sampe sak iki, aku rong eroh onok deso maneh nang kene”
(sampai sekarang, aku belum nemuin satu lagi kampung di dekat sini)
“ngomong opo, mbujuk” (bicara apa, nipu) kata Wahyu geram.
“Mas” kata Nur, “pancen ra onok Deso maneh nang kene, kan wes tau dibahas” (Mas, memang gak ada lagi desa di sini, kan sudah pernah dibahas dulu)
“koen kabeh nek ra percoyo, tak dudui bukti, nek aku ketemu wong deso liane” (kalian kalau gak percaya tak kasih bukti kalau ada desa lain di sekitar sini)
Widya yang sedari tadi diam, tiba-tiba di tarik oleh Wahyu. “takono ambek Widya nek ra percoyo”
(tanya sama Widya kalau tidak percaya)
Widya masih diam, lama, sementara yang lain menunggu Widya berbicara, hal yang membuat Widya bingung adalah, kopi.
Tampilkan Semua

