namun, satu kali, Widya pernah di kasih tahu warga, bila Sinden ini
ada yang jaga.
katanya, Sinden ini dulu, sering di gunakan untuk mandi oleh dia. dia yang di bicarakan ini, tidak pernah disebut warga, namun yang mencurigakan dari kasus ini adalah, nama Sinden ini, adalah Sinden kembar.
Sinden kembar. Widya selalu mengulangi kalimat itu.
Sinden kembar, membuat Widya semakin penasaran
alasan kenapa pak Prabu memasukkan ini menjadi proker adalah, agar air sungai dapat di alirkan ke Sinden ini, sehingga warga tidak perlu lagi jauh-jauh mengambil air ke sungai yang tanahnya terjal, namun, seperti ada yang ganjil
Malam itu, Ayu mengumpulkan semua anak, perihal masalah yang mereka hadapi, hampir setengah warga yang membantu proker mereka tidak mau melanjutkan pekerjaanya. alasanya bermacam-macam, sibuk berkebun sampai badanya sakit semua.
dari semua anak yang punya usul, hanya Bima yang tidak seantusias yang lain.
di malam itu juga, Widya ingat yang di katakan Wahyu, setiap malam, Bima pergi ke luar rumah, entah apa yang di lakukanya.
Widya, sengaja begadang hanya untuk memastikan, dan ternyata benar, malam itu
Bima pergi ke luar rumah.
Widya masuk ke kamar Bima, di sana ada Wahyu sama Anto, yang pertama Widya lakukan, membangunkan Wahyu, meski enggan, Widya terus memaksanya, setelah Wahyu benar-benar terjaga, Widya memberitahu kalau Bima baru saja keluar.
Wahyu hanya menatap Widya keheranan,
“aku lak wes tau ngomong su” (aku kan sudah pernah bilang jing)
“lha ya, ayo di tutno, nang ndi arek iku” (lha iya, makanya, ayo kita ikuti, kemana anak itu)
“gawe opo? paling nang omahe prabu, ndandani tong bambu’ne” (buat apa, palingan dia ke rumah prabu, memperbaiki tong-
sampahnya yang dari bambu)


