<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>Kumpulan Pos Cerita Rakyat &#8211; Story Cilacap.info</title>
	<atom:link href="https://story.cilacap.info/tag/cerita-rakyat/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://story.cilacap.info</link>
	<description>Media Online Masa Kini, Akurat, Mengedepankan Etika</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Jan 2024 01:28:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	
<image>
<url>https://img.cilacap.info/images/story/favicon-32x32.png</url><title>Kumpulan Pos Cerita Rakyat &#8211; Story Cilacap.info</title>
<link>https://story.cilacap.info</link>
<width>32</width><height>32</height><description>Info Kisah Menarik</description>
</image>
	<item>
		<title>Kisah Kadipaten Penyarang Sidareja Cilacap</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-42358/kisah-kadipaten-penyarang-sidareja-cilacap</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Huda]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Dec 2021 18:05:42 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Cerita Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Cilacap]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Sidareja]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-42358/kisah-kadipaten-penyarang-sidareja-cilacap</guid>

					<description><![CDATA[ aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Pada zaman dahulu di tanah Pasundan berdiri sebuah kerajaan besar yang bernama Kerajaan Pajajaran. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja bijaksana, Prabu Ciung Wanara namanya. Sang Prabu mempunyai seorang permaisuri yang cantik jelita.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Pada zaman dahulu di tanah Pasundan berdiri sebuah kerajaan besar yang bernama Kerajaan Pajajaran. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja bijaksana, Prabu Ciung Wanara namanya. Sang Prabu mempunyai seorang permaisuri yang cantik jelita.</p>
<p>Dari perkawinannya dengan Sang Permaisuri, Prabu Ciung Wanara dikaruniai tujuh orang anak, yaitu Punggung Kencana (Ling ga Hingwang), Lingga Wesi, Susuktunggal, Anggalarang, Siliwangi, Mundingwangi, dan Mundingmalati (Ranggasena).</p>
<p>Dari putra ketujuh, yaitu Mundingmalati atau Ranggasena, Sang Prabu dikaruniai empat orang cucu, yaitu Segarawangi, Wadas Malang, Gunung Sari, dan Sena Reja atau Hajar Sena. Selain itu, Prabu Ciung Wanara juga mempunyai saudara laki-laki atau adik yang mengabdi di Keraton Surakarta, bernama Arya Bangga.</p>
<p>Pada suatu hari, sang Prabu memerintahkan kepada putra ketujuhnya, yaitu Mundingmalati atau Ranggasena, supaya melakukan pengembaraan. Ranggasena dan keempat putranya dipercaya oleh sang Prabu untuk membuka sebuah kadipaten di tanah Jawa. Pada saat itu, di Kerajaan Pajajaran Ranggasena belum mempunyai jabatan apa pun. Prabu Ciung Wanara bermaksud agar kadipaten yang didirikan oleh Ranggasena nantinya dapat menjadi penghubung antara Pajajaran dan kerajaan lain di tanah Jawa.</p>
<p>&#8220;Ranggasena, Putraku, sudah saatnya engkau tunjukkan jati dirimu sebagai putra raja,&#8221; titah sang Prabu.</p>
<p>&#8220;Ampun, Ayahanda Prabu, apakah yang harus ananda perbuat untuk menunjukkan jatidiri ananda?&#8221; sembah Ranggasena.</p>
<p>&#8220;Mengembaralah, ajaklah keempat anakmu melangkah ke arah matahari terbit. Carilah tempat di tanah Jawa yang kamu anggap baik. Tinggallah di sana dan dirikan sebuah kadipaten. Ayah berharap kadipaten itu nanti dapat menjadi penghubung antara Pajajaran dan Kerajaan lain di Tanah Jawa.&#8221;</p>
<p>Tanpa banyak pertanyaan lagi Ranggasena bersedia menjalankan amanat sang Prabu. Ia harus rela meninggalkan istri tercintanya. Ia juga harus rela meninggalkan Ibu Permaisuri di Kerajaan Pajajaran. Sebenarnya, istrinya tidak merelakan Ranggasena membawa keempat putranya pergi mengembara.</p>
<p>Selain itu, sang istri juga khawatir jika Ranggasena mempunyai istri lagi di tempat pengembaraannya nanti. Namun, keberatan dan kekhawatiran sang istri itu tidak menggoyahkan niat Ranggasena untuk menjalankan perintah ayahandanya, Prabu Ciung Wanara. Dengan segala upaya, dia berusaha meyakinkan istrinya bahwa apa pun yang terjadi dia akan tetap setia.</p>
<p>Tiba waktunya berpisah, Pajajaran tidak seramai biasanya. Suasana sedih menyelimuti warga Kerajaan. Tiada senyum dan gurau terlontar. Tidak ada satu pun kata canda terlempar. Semua muka menunduk lesu. Hanya air mata yang berbicara, Pajajaran sedang berduka. Pajajaran bagai tubuh yang terkoyak oleh sejuta luka yang menganga, perih, pedih, dan menyakitkan. Saat itu, di Balairung Pajajaran, Ranggasena beserta keempat putranya sedang menghadap Prabu Ciung Wanara.</p>
<p>&#8220;Ayahanda Prabu, segala persiapan sudah ananda lakukan. Bekal pun sudah kami cukupkan. Izinkanlah Ananda beserta keempat cucu Ayahanda ini meninggalkan Kerajaan Pajajaran untuk memulai pengembaraan kami,&#8221; sembah Ranggasena pada Prabu Ciung Wanara.</p>
<p>&#8220;Ranggasena, kebulatan tekadmu menjalankan perintahku merupakan cermin jiwa kesatria pada dirimu. Aku tahu, semua ini memang berat. Berat meninggalkan Kerajaan tercinta, berat meninggalkan ayah-ibu, dan berat meninggalkan istrimu, tetapi langkah inilah yang akan menentukan masa depanmu. Oleh karena itu, jangan kamu ragu. Janganlah kota atau negara besar yang kautuju. Pergilah, belahlah hutan lebat dan sepi. Jadikan tempat itu bersemi. Langkahkan kakimu ke arah terbit matahari.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ananda siap melaksanakan, Ayahanda Prabu. Kami mohon diri berangkat mengembara.&#8221;</p>
<p>Tangis dan deraian air mata mengiring keberangkatan Ranggasena beserta keempat putranya. Setiap mata terus menatap sayu seakan-akan menahan dan tidak mau melepas mereka. Apalagi, mata wanita belahan jiwa. Mata itu terus berlinang, tidak pernah rela melepas mereka pergi mengembara. Namun, apa daya, ia tidak kuasa untuk menolak kehendak raja.</p>
<p>Dengan langkah mantap Ranggasena dan keempat putranya meninggalkan Kerajaan Pajajaran. Rasa sedih karena harus berpisah dengan orang-orang yang dicintainya sudah tidak tampak di raut wajah. Mereka melangkah sambil bersenda gurau seakan tidak ada beban pada diri mereka.</p>
<p>Dalam pengembaraan itu, mereka tidak lagi mengenakan pakaian kerajaan. Kegemerlapan pakaian Kerajaan Pajajaran sengaja ditanggalkan agar identitas mereka sebagai putra Raja Pajajaran tidak diketahui orang. Mereka menyamar sebagai orang desa dengan pakaian yang sangat sederhana.</p>
<p>Hari demi hari, waktu demi waktu, Ranggasena beserta keempat putranya terus melangkah. Jalan terjal mereka lalui, hutan rimba penuh onak dan duri mereka sibak, tetapi tidak juga ditemui tempat yang pas seperti kehendak ayahandanya. Mereka tidak pernah menyerah, mengeluh, atau putus asa. Bahkan, tidak pernah sedikit pun terlintas rasa ingin pulang ke Pajajaran.</p>
<p>Tanpa terasa, dua tahun telah berlalu. Selama itu pula mereka telah mengembara dari satu tempat ke tempat lainnya. Pada saat itu Ranggasena beserta keempat putranya sampai di tengah hutan yang penuh dengan pohon besar. Daun-daunnya yang rindang seakan menjadi atap sebuah alam yang terbuka. di sela-sela kerindangan daun dan ranting terdapat banyak sarang burung yang menandakan kebebasan hidup burung di sana.</p>
<p>Sementara itu, dibalik pohon banyak hewan berseliweran ke sana-kemari. Tampak sekali jika hutan itu masih asli dan belum dirambah orang. Belum ada manusia yang berani datang atau tinggal di tempat itu. Barangkali, Rangasena dan keempat putranyalah manusia pertama yang menginjakkan kaki di hutan itu.</p>
<p>Hari mulai gelap, terlebih lagi hutan di tempat Ranggasena dan putranya beristirahat sangat lebat, lengkaplah kegelapan menyelimuti tempat itu. Ranggasena kemudian memutuskan untuk tinggal di tempat itu.</p>
<p>&#8220;Anakku, sebentar lagi hari akan gelap. Sebaiknya kita segera mencari kayu dan dedaunan untuk membuat tempat berlindung malam ini,&#8221; kata Ranggasena kepada keempat putranya.</p>
<p>&#8220;Benar, Ayah, tampaknya tempat ini nyaman untuk beristirahat,&#8221; jawab putra tertuanya.</p>
<p>Tanpa banyak bicara, mereka lalu mencari kayu dan dedaunan untuk membuat rumah-rumahan. Dalam waktu singkat, rumah perlindungan sederhana telah berdiri di antara batang-batang pohon besar. Dengan menyilangkan batang kayu pada ranting pohon yang satu dengan yang lain, terbentuklah rumah pohon yang kuat untuk mereka berlima. Daun-daun yang terkumpul mereka susun sebagai atap dan dinding untuk menahan dinginnya udara. Tidak lupa, mereka juga membuat api unggun.</p>
<p>Selain untuk menghangatkan lingkungan, api itu juga digunakan sebagai penerangan supaya jika ada binatang buas yang mendekat dapat terlihat. Malam pun tiba. Kegelapan menyelimuti seluruh isi hutan. Keempat putranya sudah tidur di rumah panggung, tetapi Ranggasena belum juga pergi ke pembaringan. Dia masih duduk di dekat api unggun. Ranggasena tampak merenung, sesekali pandangan matanya disebarkan ke sekitar seakan-akan ada sesuatu yang direncanakannya.</p>
<p>&#8220;Apakah tempat ini yang dimaksudkan oleh Ayahanda Raja?’ katanya dalam hati.</p>
<p>&#8220;Jika memang ini yang dikehendaki, apa yang harus kulakukan dengan hutan selebat ini?&#8221;</p>
<p>Lama Ranggasena merenung, angan demi angan terus menggelayut, membebani setiap celah pikirnya. Semua kembali pada pertanyaan, langkah apa yang harus ia lakukan dengan tempat itu.</p>
<p>Sementara, tidak ada seorang pun yang tinggal menghuni tempat sesunyi dan sengeri itu. Renung demi renung dilaluinya, akhirnya rasa kantuk pun menghampiri. Mata tidak lagi mampu tersangga. Dengan langkah yang mulai lemas, ia naik ke rumah pohon menyusul keempat putranya yang telah terlelap. Irama malam dan nyanyian kesunyian di hutan itu pun mengayunnya dalam mimpi.</p>
<p>Suasana tenang di hutan itu membuat Ranggasena dan keempat putranya merasa nyaman. Mereka merasa betah tinggal di tempat itu. Apalagi bagi Ranggasena, ia meyakini bahwa tempat itu adalah tempat yang dimaksudkan oleh ayahandanya. Keyakinan itulah yang membuatnya bertahan. Sehari, dua hari, dan sampai berhari-hari mereka belum menemukan tanda-tanda adanya orang lain yang mau tinggal di tempat itu. Namun, ketika berjalan-jalan di sekitar hutan,
Ranggasena dan putranya dikejutkan oleh adanya sekelompok orang yang berada di tengah hutan.</p>
<p>&#8220;Siapa mereka? Hemm&#8230; tampaknya memang sudah ada orang yang terlebih dahulu tinggal di hutan ini,&#8221; guman Ranggasena dalam hati sambil melangkah menghampiri mereka.</p>
<p>&#8220;Salam, Ki Sanak,&#8221; sapa Ranggasena kepada mereka sambil menyalami satu per satu.</p>
<p>&#8220;Maaf, kami mengganggu. Perkenalkan nama saya Ranggasena dan ini keempat anak saya. Kami pengembara yang kebetulan sampai di tempat ini dan merasakan betapa tenteram dan asrinya hutan ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Selamat datang, Ki Ranggasena. Semoga berkah Tuhan menyertai pengembaraan Ki Rangga,&#8221; jawab seorang yang paling tua dalam kelompok itu.</p>
<p>&#8220;Terima kasih, Ki. Maaf, bagaimana kami harus menyebut Kiai?&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, ya, sampai lupa memperkenalkan diri. Saya Ngabei Ta ngerang. Mari, silakan singgah ke gubuk saya. Tidak enak kita berbincang sambil berdiri seperti ini,&#8221; Kiai Ngabei Tangerang mem persilakan.</p>
<p>Setelah mereka masuk dan duduk, Kiai Ngabei Tangerang melanjutkan ceritanya, &#8220;Oh, ya, kami ini adalah penduduk asli di hutan ini.</p>
<p>Kebetulan, saya yang paling tua dan dituakan oleh mereka. Mereka memanggil saya Kiai Ngabei Tangerang. Kami sudah cukup lama tinggal di Hutan Penyayangan ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hutan Penyayangan?&#8221; tanya Ranggasena.</p>
<p>&#8220;Ya, ya, itu sekadar nama yang saya buat untuk menyebut tempat ini. Nama itu saya pilih karena hutan ini banyak pohon besar dan rindang, banyak binatang yang tidak pernah saling bermusuhan, dan berbagai jenis burung yang hidup dan bersarang di sela ranting pepohonan. Hutan dan semua binatang itu hidup berdampingan tanpa ada permusuhan seakan hidup saling menyayangi. Oleh karena itulah, hutan ini saya namai Hutan Penyayangan.&#8221;</p>
<p>Kiai Ngabei Tangerang menerangkan dengan rinci semua keadaan di hutan itu. Dari tutur katanya tampak sekali bahwa sebenarnya dia bukan orang sembarangan. Sebenarnya, Kiai Ngabei Tangerang adalah seorang yang sudah tersohor ke mana-mana sebagai seorang ahli agama. Selain itu, dia juga dikenal sebagai seorang yang memiliki ilmu kesaktian. di hutan itu dia hidup bersama dengan dua orang anaknya, yaitu Tejalamat dan Megalamat.</p>
<p>Setelah mendengar penjelasan Kiai Ngabei Tangerang yang cukup rinci, Ranggasena mencoba menjelaskan kembali asal muasal mengapa mereka sampai di hutan itu. Akan tetapi, ia tidak menceritakan bahwa dirinya adalah putra Prabu Ciung Wanara, Raja Pajajaran. Hal itu ia lakukan agar Kiai Ngabei Tangerang tidak curiga pada mereka. Memang, sebagai orang tua dan berilmu, Kiai Ngabei Tangerang tidak menaruh curiga sedikit pun terhadap Ranggasena dan anak-anaknya.</p>
<p>Namun, tetap saja ada orang yang tidak suka atas kedatangan Ranggasena. Hal itu sesuai juga dengan cerita Kiai Ngabei Tangerang bahwa di Penyayangan masih ada perselisihan kecil karena perebutan lahan atau perbedaan pendapat. Ia sudah berusaha mencari cara agar mereka tidak saling bermusuhan, tetapi belum berhasil.</p>
<p>Kondisi penduduk seperti itu menggerakkan hati Ranggasena untuk membantu Kiai Ngabei Tangerang. Dalam hati ia bertekad untuk dapat menyatukan mereka. Oleh karena itu, ia memantapkan diri untuk tinggal di Hutan Penyayangan.</p>
<p>&#8220;Kiai, jika Kiai tidak keberatan, saya beserta anak-anak mohon diterima di tempat ini untuk membantu dan berguru kepada Kiai,&#8221; tutur Ranggasena kepada Kiai Ngabei Tangerang.</p>
<p>&#8220;Heheheh&#8230; Kalau membantu dan tinggal bersama, dengan senang hati saya menerima, tetapi untuk berguru, ilmu apa yang dapat saya berikan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya percaya, Kiai memiliki ilmu hidup dan kehidupan yang tidak kami miliki,&#8221; kata Ranggasena meyakinkan Kiai Ngabei Tangerang.</p>
<p>Melihat kesungguhan Ranggasena, Kiai Ngabei Tangerang akhirnya menyetujui dan menerima mereka. Bahkan, Kiai Ngabei Tangerang meminta mereka untuk tinggal bersama di gubuknya.</p>
<p>Waktu terus berlalu, tanpa terasa sudah bertahun-tahun Ranggasena dan anak-anaknya berguru pada Kiai Ngabei Tangerang. Selama itu pula mereka menerima ilmu agama, ilmu kebatinan, dan ilmu-ilmu lainnya. Ranggasena pun juga sudah mengerti dan memahami keadaan hutan dan karakter penduduk Penyayang. Rang gasena merasa sudah saatnya untuk mengemukakan niatnya mendirikan sebuah kadipaten di temapat itu kepada Kiai Ngabei Tangerang.</p>
<p>&#8220;Maaf, jika saya lancang, Kiai. Penduduk Penyayang makin lama makin banyak. Sekarang ini pun tampaknya sudah banyak. Jika Desa Penyayang ini dibiarkan terus begini seakan-akan tidak pernah berkembang dan maju,&#8221; kata Ranggasena kepada Kiai Ngabei Tangerang.</p>
<p>&#8220;Maksudmu bagaimana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya berpikir, sudah saatnya kita mengubah Desa Penyayang menjadi sebuah kadipaten, Kiai.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lalu, apa yang akan kamu lakukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika Kiai setuju, saya mohon izin menggerakkan warga untuk mewujudkan kadipaten itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Secara pribadi, aku setuju. Namun, hal itu tidak berarti dapat langsung dikerjakan. Semua itu harus dirembuk bersama seluruh warga.&#8221;</p>
<p>Saat itu, tanpa mereka sadari, ada sepasang mata dan telinga yang secara sembunyi-sembunyi mengintip dan mendengarkan pembicaraan itu. Mata dan telinga itu adalah milik seorang penduduk yang tidak suka terhadap Ranggasena. Secepat kilat dan tanpa bersuara ia meninggalkan tempat itu dan mengabarkan kepada sekelompok orang yang tidak suka terhadap Ranggasena. Ia menceritakan rencana Ranggasena dengan berbagai bumbu cerita agar orang-orang tidak menyetujui.</p>
<p>Orang-orang yang mendengarkan hasutan pengintai tadi lalu mencari cara dan siasat untuk menggagalkan rencana Ranggasena. Mereka berniat menghasut seluruh penduduk agar menolak usulan Ranggasena. Berbagai cara mereka lakukan dengan satu tujuan menggagalkan rencana Ranggasena. Jika perlu, ketika Ranggasena menyampaikan usulan rencananya rakyat sudah tahu dan semua menolaknya.</p>
<p>Saat yang dinanti-nantikan itu akhirnya tiba juga. Pada suatu hari, Kiai Ngabei Tangerang mengumpulkan penduduk Penyayang. Mereka duduk berkumpul di pelataran depan rumah sang Kiai. Sementara itu, Kiai Ngabei Tangerang diapit oleh Tejalamat dan Megalamat berdiri menghadapi mereka.</p>
<p>&#8220;Sedulur-sedulur, saya sengaja mengumpulkan kalian karena ada sesuatu yang penting yang harus kita bicarakan.&#8221; kata Kiai Ngabei Tangerang membuka pembicaraan.</p>
<p>Penduduk yang hadir semua diam. Mereka menunggu dengan rasa penasaran, sebenarnya apa yang akan disampaikan oleh sesepuh mereka itu. Mata mereka menatap tanpa berkedip seakan takut kehilangan gerak sang Kiai.</p>
<p>Kiai Ngabei Tangerang kemudian melanjutkan ucapannya, &#8220;Beberapa waktu yang lalu Ranggasena menghadap padaku dan menyampaikan rencananya. Meskipun menyetujuinya, aku belum dapat mengiyakan sebelum berbicara dengan kalian.&#8221;</p>
<p>&#8220;Rencananya apa, Kiai?&#8221; tanya salah seorang penduduk.</p>
<p>&#8220;Biarlah Ranggasena sendiri yang mengatakan supaya lebih jelas.&#8221;</p>
<p>Ranggasena lalu mengemukakan apa yang menjadi maksud dan rencananya, yaitu mengembangkan Penyayang menjadi sebuah kadipaten. Mendengar ucapan Ranggasena semua penduduk menggangguk-angguk. Namun, tiba-tiba mereka berteriak-teriak tidak setuju. Mereka berdalih bahwa Ranggasena bukan penduduk asli. Mereka curiga Ranggasena hanya akan merusak tatanan yang selama ini sudah berjalan dengan baik.</p>
<p>Hari itu suasana semakin memanas. Meskipun Ranggasena menjelaskan bahwa tujuannya adalah memajukan Penyayang, penduduk masih tetap pada pemikirannya. Semakin lama teriakan demi teriakan terlontar semakin ramai dan tidak ditemukan kata sepakat. Bahkan, ada penduduk yang justru menantang Ranggasena untuk beradu kekuatan.</p>
<p>Kiai Ngabei Tangerang mencoba mendinginkan suasana yang panas dan mulai tidak terkendali itu. Namun, upayanya sia-sia. Penduduk belum mau menerima. Mereka lebih senang jika yang membangun kadipaten adalah Kiai Ngabei Tangerang sendiri.</p>
<p>&#8220;Ya, ya, aku paham maksud kalian. Namun, perlu juga kalian pahami, aku sudah tidak muda lagi. Aku sudah terlalu tua untuk memimpin pembangunan sebuah kadipaten. Oleh karena itu, perlu dicari pemimpin yang muda, pandai, dan tegas seperti Ranggasena.&#8221;</p>
<p>Mendengar ucapan Kiai Ngabei Tangerang semua penduduk terdiam seribu bahasa. Mulut mereka membisu bagai terkunci. Mereka merasakan ucapan tulus itu keluar dari orang yang selama ini mereka hormati. Apalagi ketika sang Kiai menegaskan bahwa dia juga akan turut mewujudkan kadipaten itu, penduduk semakin yakin bahwa ucapan itu benar. Mereka semakin terbuka pikirannya. </p>
<p>Mereka juga menyadari bahwa sebenarnya Ranggasena tidak memiliki niat jahat, tetapi tulus untuk memajukan Penyayang. Yang terpenting lagi, seperti kata sang Kiai, bahwa mereka akan menjadi saksi berdirinya kadipaten di tempat itu. Akhirnya, satu demi satu mereka menyetujui rencana Ranggasena dan bersedia membantu membangun kadipaten. Ranggasena merasa lega karena pada akhirnya rencananya dapat diterima oleh penduduk. Bahkan, ada yang membuat hati Ranggasena sangat bergembira, yaitu penduduk bersedia membantunya membangun kadipaten.</p>
<p>Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, keesokan harinya Ranggasena, anak-anaknya, Kiai Ngabei Tangerang, dan para penduduk mulai bergotong-royong menyiapkan lahan untuk mendirikan kadipaten. Ada yang menebang pohon, mencari kayu yang cocok untuk bangunan. Ada yang membersihan rumput ilalang yang ada di tempat yang direncanakan. Ada pula yang membangun jalan agar pantas menjadi sebuah pusat pemerintahan. Semua bergerak bersama-sama, termasuk para wanita.</p>
<p>Jika pria bekerja di luar, para wanita bekerja di dapur, menyiapkan makanan untuk mereka. Melihat sikap bahu-membahu penduduk, Ranggasena dan Kiai Ngabei Tangerang merasa senang. Mereka merasa sudah tidak ada lagi yang curiga terhadap maksud Ranggasena.</p>
<p>Satu demi satu pekerjaan terselesaikan dengan gotong-royong. Kebersamaan itu telah menghasilkan wujud nyata. Ranggasena dan Kiai Ngabei Tangerang dan sebagian penduduk bertugas membangun pendapa dengan kayu dari hutan itu juga. Anak-anak Ranggasena pun mendapat tugas masing-masing. Salah satunya adalah membangun jalan kadipaten. Setiap hari, seakan tanpa lelah, mereka menjalankan tugas mereka sehingga pembangunan dapat terselesaikan dengan cepat.</p>
<p>Pendapa kadipaten telah berdiri megah. Rumah-rumah di sekitar pendapa itu pun sudah berdiri dan siap dihuni. Jalan-jalan juga sudah dapat dilalui. Semua terselesaikan dengan rapi dan lancar tanpa satu pun halangan. Boleh dikatakan sebuah kadipaten telah berdiri, tetapi pemerintahannya belum berjalan karena belum ada pimpinan yang tetap.</p>
<p>Suatu hari, Kiai Ngabei Tangerang, Ranggasena berserta anak-anaknya, dan penduduk berkumpul di pendapa. Mereka berembuk tentang nama yang baik dan pas untuk kadipaten yang mereka dirikan. Selain itu, mereka juga berembuk tentang siapa yang patut menjadi pimpinan, menjadi adipati. Rembukan itu berjalan dengan baik dan lancar. Rembukan dalam suasana kekeluargaan itu akhirnya menyepakati bahwa Ranggasenalah yang patut menjadi adipati. Untuk memberi nama kadipaten memang terjadi banyak pendapat. Ada yang mengusulkan namanya tetap Penyayang.</p>
<p>Namun, ada yang menyanggah bahwa nama itu sudah menjadi nama salah satu desa. Ranggasena kemudian angkat bicara. Ia mengusulkan kadipaten itu diberi nama penyarang. Nama itu ia ambil karena, ketika belum dibangun kadipaten dan masih berupa hutan, tempat itu banyak sarang burung dan hewan lainnya. Pertemuan itu akhirnya membuahkan kesepakatan tanpa ada pertentangan. Secara aklamasi mereka memutuskan nama kadipaten yang baru mereka bangun adalah Kadipaten Penyarang. Mereka juga sepakat mengangkat Ranggasena menjadi Adipati Penyarang.</p>
<p>Keesokan hari Ranggasena resmi menjabat sebagai adipati di Kadipaten Penyarang dengan gelar Adipati Ranggasena. Penobatannya sebagai adipati dilakukan oleh Sinuhun Keraton Surakarta. Pada saat itu seluruh penduduk terlihat bersuka cita. Sorak sorai menggema
di mana-mana. Pesta ala kadarnya mereka gelar sebagai luapan rasa bahagia. Diam-diam, ternyata sudah cukup lama Ranggasena jatuh cinta kepada putri Kiai Ngabei Tangerang yang bernama Tejalamat.</p>
<p>Oleh karena itu, setelah diangkat menjadi adipati, Ranggasena melamar Tejalamat agar bersedia menjadi pendamping hidupnya. Cinta tak bertepuk sebelah tangan, Tejalamat menerima lamaran itu dan bersedia menjadi istri Adipati Ranggasena. Kiai Ngabei Tangerang pun merestui niat suci Adipati Ranggasena mempersunting putrinya.</p>
<p>Setelah menjabat sebagai adipati, Adipati Ranggasena segera membentuk struktur organisasi pemerintahan. Hal itu ia lakukan agar jalannya pemerintahan di Kadipaten Penyarang dapat berjalan lancar. Ia menempatkan anak-anaknya pada posisi atau bagian yang penting dalam pemerintahan. Wadas Malang bertanggung jawab di bidang keagamaan, Gunung Sari bertanggung jawab di bidang keamanan, sedangkan Sena Reja atau Hajar Sena bertanggung jawab di bidang ekonomi. Banyak juga penduduk yang juga mendapat tanggung jawab dan kepercayaan untuk mengelola dan ikut memajukan Kadipaten Penyarang. Kiai Ngabei Tangerang, meskipun sudah tua, juga mendapat bagian. Ia diangkat menjadi penasihat karena sangat berjasa atas pendirian Kadipaten Penyarang dan pengangkatan Adipati Ranggasena. Namun sayang, belum lama memangku jabatan sebagai penasihat, Kiai Ngabei Tangerang meninggal dunia.</p>
<p>Untuk kelancaran pelaksanaan tanggung jawab, tidak semua putra Adipati Ranggasena tinggal di kadipaten. Wadas Malang dan Gunung Sari tinggal di wilayah kadipaten sebelah barat. Segara Wangi tinggal di wilayah kadipaten sebelah timur. Hanya Sena Reja atau Hajar Sena yang tetap tinggal di kadipaten untuk membantu ayahnya mengelola kadipaten. Sifat tidak pilih kasih Adipati Ranggasena terhadap putra dan penduduknya menjadikan Kadipaten Penyarang semakin maju dan berkembang.</p>
<p>Saat itu agama Islam sudah masuk ke Kadipaten Penyarang, tetapi penduduk belum dapat memelajari ajaran tersebut. Oleh karena itu, Adipati Ranggasena memerintah Wadas Lintang untuk mengupayakan penyebaran ajaran itu.</p>
<p>Gunung Sari ditugasi untuk menjaga keamanannya agar tidak terjadi gejolak dalam penyebaran agama dan utamanya menjaga ketenteraman dan ke tenangan masyarakat. Bidang ekonomi, termasuk pekerjaan warga Kadipaten Penyarang, ditugaskan kepada Sena Reja. Dialah yang mengatur semua kegiatan perekonomian. Selain itu, untuk memantau dan mengendalikan kegiatan penduduk sehari-hari, Segara Wangilah yang ditugasi.</p>
<p>Kemajuan Kadipaten Penyarang semakin terkenal. Lebih-lebih ketika Adipati Ranggasena memperkenalkan Kadipaten Pe nyarang ke Pusat Pemerintahan di Surakarta dan Pajajaran. Untuk membuktikan kemajuannya, Adipati Ranggasena mengirimkan kayu ke Pajajaran untuk membangun pendapa. Pada waktu itu belum ada kendaraan untuk mengangkut kayu dari Kadipaten Penyarang ke Pajajaran. Kayu-kayu itu dikirim dengan cara diseret menggunakan ikat pinggang oleh murid-murid Sunan Kalijaga. Hanya merekalah yang mampu melakukan karena memiliki kesaktian yang diajarkan oleh Sunan Kalijaga.</p>
<p>Kerja sama yang dilakukan Adipati Ranggasena dengan Pemerintah Keraton Surakarta dan Pajajaran menjadikan Kadipaten Penyarang semakin terkenal. Segala penjuru sudah mengetahui tentang keberadaan Kadipaten Penyarang dan Adipati Ranggasena, tentang penduduknya yang telah mendapat tempat tinggal yang layak dan hidup tenteram, serta tentang kemampuan penduduk mengolah dan mengelola hutan dengan baik. Namun, masih ada amanat yang belum terselesaikan oleh Ranggasena, yaitu membangun jalan yang menghubungkan wilayah Surakarta dan Pajajaran. Hal itu berarti bahwa Adipati Ranggasena baru menyelesaikan separuh amanat ayah andanya.</p>
<p>Membangun jalan bukanlah pekerjaan yang mudah. Adipati Ranggasena merasa tidak mampu mengerjakan sendiri. Dahulu selalu dibantu oleh Kiai Ngabei Tangerang, tetapi sekarang harus mencari bantuan orang lain karena Kiai Ngabei Tangerang telah tiada. Ilmu yang diajarkannya pun belum cukup untuk membangun jalan yang menghubungkan Surakarta dan Pajajaran. Dalam hal inilah kesabaran dan ilmunya diuji. Ia harus mencari cara agar jalan dapat dibangun dengan baik dan lancar.</p>
<p>Ia terus memikirkan hal itu sampai-sampai tidak tidur beberapa hari. Pada suatu malam, tanpa sengaja Adipati Ranggasena tertidur. Ia bermimpi bertemu dengan Kiai Ngabei Tangerang. </p>
<p>&#8220;Ranggasena, tugas yang harus kamu jalankan memang berat. Tidak mudah membuat jalan. Namun, kamu tidak perlu putus asa. Semua pasti ada jalan. Ada ilmu yang dapat digunakan, tetapi harus memiliki kesabaran dan pemikiran yang suci. Putramu dapat membantu menyelesaikan tugas itu.&#8221;</p>
<p>Adipati Ranggasena terkejut lalu terbangun dari tidurnya. Ia berusaha mengingat-ingat pesan Kiai Ngabei Tangerang dalam mimpinya.</p>
<p>&#8220;Pesan Kiai akan saya lakukan. Mohon restu, Kiai,&#8221; gumannya.</p>
<p>Keseokan hari Adipati Ranggasena mulai menjalankan apa yang dipesankan Kiai Ngabei Tagerang dalam mimpinya. Ia mulai membangun jalan ke arah barat, yang akan menghubungkan Kadipaten Penyarang dengan Pajajaran. Setiap hari ia menjalankan tugas itu dengan sabar. Ia tidak pernah marah kepada siapa saja yang membantunya. Yang lebih penting, meskipun putranya ikut membantu, ia tetap harus ikut serta melakukan dan memimpin pelaksanaan tugas tersebut.</p>
<p>Bertahun-tahun Adipati Ranggasena dibantu putra-putranya serta penduduk Kadipaten Penyarang bekerja tidak kenal lelah. Sedikit demi sedikit pembangunan jalan diselesaikan dengan lancar. Keberhasilan itu membuat hati mereka lega. Pekerjaan yang mereka pikir mustahil dilakukan itu telah dirampungkannya. Meskipun belum terlihat benar-benar rapi, jalan yang menghubungkan Kadipaten Penyarang dan Pajajaran itu sudah dapat dilewati dengan nyaman.</p>
<p>Setiap daerah yang dilalui jalan itu diberi nama dengan sebutan ci oleh Adipati Ranggasena, seperti Cipari, Cikangleles, Cikalong, Cinangsi, Cibenda, dan Ciloning. Kata ci memiliki makna ‘sumber air’.</p>
<p>Penamaan dengan sebutan ci tersebut dimaksudkan agar daerah yang diberi nama dengan kata itu tidak pernah kehabisan air.Pembangunan kadipaten dan jalan telah selesai dijalankan. Dengan demikian, amanat Prabu Ciung Wanara telah dipenuhi oleh Adipati Ranggasena. Namun, Adipati Ranggasena tidak berkeinginan kembali ke Pajajaran. Ia memilih menetap dan menyatu dengan penduduk Kadipaten Penyarang. Hal itu sudah menjadi tekadnya ketika diangkat sebagai adipati.</p>
<p>Ia tidak akan meninggalkan dan akan tetap menjadi bagian Kadipaten Penyarang. Tekad itu dibuktikannya dengan tetap menjadi Adipati sampai usianya senja. Kekuatan manusia ada batasnya. Karena usianya yang semakin tua, Adipati Ranggasena merasa tidak mampu lagi menjadi adipati. Oleh karena itu, ia menyerahkan tampuk pimpinan Kadipaten Penyarang kepada putra bungsunya, yaitu Sena Reja atau Hajar Sena. Ia menjadi adipati kedua di Kadipaten Penyarang dengan gelar Adipati Anom Ranggasena.</p>
<p>Seperti halnya ayahnya, penobatan Adipati Anom Ranggasena pun dikukuhkan oleh Sinuhun Keraton Surakarta. Entah beberapa waktu lamanya, setelah menyerahkan tampuk kekuasaan kepada putranya, Adipati Ranggasena meninggal dunia. Namun, sebelum meninggal ia berpesan kepada istri, anak, dan semua penduduk Kadipaten Penyarang.</p>
<p>&#8220;Anak dan cucuku semua, jika waktuku tiba, aku harus meninggalkan kalian semua. Tapi, jika kalian minta apa saja kepadaku, aku sanggup.&#8221;</p>
<p>Setelah berpesan seperti itu, Adipati Ranggasena menghembuskan napasnya yang terakhir. Ia lalu dimakamkan di wilayah Kadipaten </p>
<p>Penyarang yang disebut Cisagu. Kata cisagu berasal dari pesan Adipati Ranggasena yang &#8220;sanggup&#8221; memenuhi permintaan anak, cucu, dan penduduk semua. Kata sanggup dalam bahasa Jawa adalah saguh. Jadi, nama Cisagu berasal dari kata ci dan saguh. Selanjutnya, makam Adipati Ranggasena disebut Panembahan Cisagu. Sampai saat ini makam tersebut menjadi tempat ziarah yang terkenal dan banyak didatangi peziarah dari berbagai penjuru.</p>
<p><strong>Diceritakan oleh: Suryo Handono</p>
<p>Disadur dari Cerita Rakyat Cilacap Jawa Tengah.</p>
<p>Diterbitkan oleh Balai Bahasa Jawa Tengah Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/ilustrasi-Ranggasena-dan-Kiai-Ngabei-Tangerang-dan-para-penduduk-bergotong-royong-untuk-mendirikan-kadipaten.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[ilustrasi Ranggasena dan Kiai Ngabei Tangerang dan para penduduk bergotong royong untuk mendirikan kadipaten]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/ilustrasi-Ranggasena-dan-Kiai-Ngabei-Tangerang-dan-para-penduduk-bergotong-royong-untuk-mendirikan-kadipaten-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[ilustrasi Ranggasena dan Kiai Ngabei Tangerang dan para penduduk bergotong royong untuk mendirikan kadipaten]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Asal Usul Dusun Sitinggil di Bantarsari Cilacap</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-33749/asal-usul-dusun-sitinggil-di-bantarsari-cilacap</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 10 Dec 2020 16:32:03 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Bantarsari]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Cilacap]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Sitinggil Rawajaya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-33749/asal-usul-dusun-sitinggil-di-bantarsari-cilacap</guid>

					<description><![CDATA[ aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Pagi yang cerah menghiasi Dusun Combo. Ujung-ujung daun tampak butiran-butiran air yang siap untuk menjatuhkan diri dan menyatu dengan tanah yang ada di bawahnya. Bentangan kebun yang diisi dengan berbagai macam pohon buah menunjukkan bahwa masyarakat Dusun Combo memiliki kesibukkan keseharian menggarap kebun tersebut.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Pagi yang cerah menghiasi Dusun Combo. Ujung-ujung daun tampak butiran-butiran air yang siap untuk menjatuhkan diri dan menyatu dengan tanah yang ada di bawahnya. Bentangan kebun yang diisi dengan berbagai macam pohon buah menunjukkan bahwa masyarakat Dusun Combo memiliki kesibukkan keseharian menggarap kebun tersebut.</p>
<p>Suara kokok ayam jantan yang bersahut-sahutan menyongsong datangnya pagi menambah suasana tenteram dan damai Dusun Combo. Tampak di ujung jalan dusun sebuah rumah yang asri dan sederhana. di bagian depan rumah tampak balai-balai yang sering digunakan pemilik rumah untuk bersantai.</p>
<p>Di sebelah kanan tiang rumah tampak sebuah gentong berserta dengan siwur. Sepanjang jalan halaman rumah itu dihiasi dengan berbagai macam tanaman yang dapat dimanfaatkan oleh pemilik rumah.</p>
<p>Suara gemericik air yang mengaliri sawah yang ada di samping rumah semakin menambah keasrian dan keyamanan rumah itu. Rumah itu milik sepasang suami istri, yaitu Ki Cokro Pawiro dan istrinya yang bernama Suratmi. Sepasang suami istri ini memiliki kesibukkan menggarap kebun dan sawah yang ada di samping rumah.</p>
<p>Meskipun matahari masih malu-malu menunjukan muka, kesibukkan rumah itu sudah terlihat. Suratmi sibuk di dapur menyeduh kopi untuk Ki Cokro Pawiro. Sedangkan Ki Cokro Pawiro terlihat termenung di kursi dapur.</p>
<p>Kegelisahan Ki Cokro ditangkap oleh
Suratmi.</p>
<p>&#8220;Kang&#8230; Kang&#8230; Kang&#8230;,&#8221; panggil Suratmi.</p>
<p>&#8220;Kang&#8230;!!&#8221; Suratmi mengeraskan suaranya.</p>
<p>Ki Cokro gelagapan mendengarkan suara istrinya. Seketika lamunannya buyar, terbang meninggalkan isi kepalanya.</p>
<p>&#8220;Apa to&#8230; Mi&#8230; bikin kaget saja kamu ini,&#8221; jawab Ki Cokro.</p>
<p>&#8220;Pagi-pagi kok sudah melamun, apa yang kamu lamunkan, Kang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh&#8230; aku sedang memikirkan nasib kita Mi&#8230; mikir nasibku, nasibmu, dan nasib si jabang bayi yang ada di dalam perutmu itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lho&#8230; memangnya ada apa dengan nasib kita, Kang? Aku sudah bahagia hidup dengan kamu, Kang, apalagi dengan adanya si jabang bayi ini.</p>
<p>Aku merasa nasibku baik-baik saja menjadi istrimu. Kamu suami yang bertanggung jawab tidak pernah macam-macam, dan selalu membuat aku nyaman dan tenteram. Jadi aku pikir tidak ada yang kurang dengan nasibku ini, Kang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku ingin membuat nasib kita menjadi lebih baik lagi, Mi. Agar kelak anak turunan kita tidak pernah menderita dan kekurangan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku sudah bahagia dengan keadaan kita sekarang ini, Kang. Jadi, Kakang tidak perlu lagi melakukan sesuatu yang akan membuatku lebih bahagia. Sudah&#8230; ini kopinya diminum dulu, setelah itu kita pergi ke sawah.&#8221;</p>
<p>Hari berganti hari, minggu berganti minggu hingga usia kehamilan Suratmi sudah masuk bulan ketiga. Akan tetapi, Ki Cokro masih terganggu dengan keinginan yang pernah ia utarakan kepada istrinya.</p>
<p>Pada suatu senja Ki Cokro bersama istrinya duduk-duduk di bale rumahnya untuk melepaskan penat setelah seharian beraktivitas di kebun dan sawah. Sambil minum secangkir kopi dan menikmati sepotong ubi bakar, yang disuguhkan oleh istrinya yang sangat setia itu, Ki Cokro menyampaikan sesuatu pada istrinya.</p>
<p>&#8220;Suratmi, istriku sayang. Saya mau bicara, tapi saya mohon kamu jangan bersedih hati, karena ini semua merupakan tugas kehidupan yang harus saya jalani.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa masalah yang mau Kakang omongkan masih ada kaitannya dengan keinginan yang pernah Kakang sampaikan beberapa bulan yang lalu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Benar sekali istriku. Walaupun kamu sekarang sedang me-ngandung anak kita, izinkan saya pergi menuju ke suatu daerah di Cilacap sebelah barat.</p>
<p>Saya ingin membuka lahan di sana. Saya ingin kelak anak cucu kita tidak kekurangan satu hal apa pun.&#8221;</p>
<p>Dengan rasa haru dan berat hati, Suratmi menatap wajah suaminya, kemudian berkata, &#8220;Sebenarnya berat sekali aku harus berpisah denganmu, Kang. Apalagi usia kandunganku sekarang sudah tiga bulan.</p>
<p>Aku butuh kamu di sisiku, Kang, menemani aku menjalani hari-hari menunggu lahirnya si jabang bayi ini. Namun, demi cita-citamu yang mulia, aku rela melepas kepergianmu.</p>
<p>Doaku selalu menyertaimu, Kang, mudah-mudahan engkau selalu mendapat perlindungan dari yang Mahakuasa dan doakan aku juga agar selalu sehat dan dapat merawat anak kita jika sudah lahir kelak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jadi, kamu mengizinkan aku untuk menggapai apa yang menjadi harapanku, Mi? Benar, Mi, kamu ikhlas izinkan aku pergi?&#8221; jawab Ki Cokro.</p>
<p>&#8220;Ya, Kang, aku tidak mau melihat suamiku merenung setiap hari. Meskipun aku sedang mengandung anakmu, aku tidak mau menghalangi apa yang menjadi keinginanmu. Kamu sudah mem-berikan kebahagiaan untukku. Kini giliranku memberi kebahagiaan untukmu, Kang.&#8221;</p>
<p>Sambil kembali minum kopinya yang masih tersisa, Ki Cokro berkata, &#8220;Iya, Mi, terima kasih atas pengertianmu. Engkau seorang istri yang salihah. Aku pergi untuk hari depan kita yang lebih baik. Aku berpesan padamu, jika anak kita lahir laki-laki, maka berilah nama Sirad!&#8221;</p>
<p>&#8220;Baik, Kang, akan kuingat pesanmu itu. Kapan kamu akan ber-angkat Kang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Lebih cepat lebih bagus, jika kamu izinkan aku berangkat minggu depan.&#8221;</p>
<p>Satu minggu telah berlalu, pagi-pagi sekali setelah salat subuh bersama, Ki Cokro berpamitan pada Suratmi sambil memeluk dan mengelus-elus perut istrinya yang sedang hamil.</p>
<p>Suratmi pun tidak dapat menahan keharuannya. Dengan berlinang air mata ia berkata, &#8220;Pergilah, Kang. Hati-hatilah di jalan, doaku menyertaimu!&#8221;
&#8220;Ya Mi, terima kasih kamu sudah mau mengerti. Ingat pesanku untuk memberi nama anak kita Sirad!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya Kang, anak kita pasti akan aku beri nama Sirad, sesuai dengan keinginanmu.&#8221;</p>
<p>Bulan berganti bulan. Tidak terasa Ki Cokro telah meninggalkan rumah selama enam bulan. Ini berarti sudah saatnya Mbok Ratmi melahirkan si jabang bayi yang dikandungnya.</p>
<p>Dengan bantuan dukun beranak yang ada di desanya, Mbok Suratmi melahirkan seorang bayi laki-laki. Bayi laki-laki itu sangat sehat, montok, dan kulitnya putih.</p>
<p>Parasnya ganteng seperti paras Ki Cokro. Jika memandang paras si jabang bayi, Mbok Ratmi teringat kepada suaminya dan tanpa terasa airmatanya meleleh membasahi pipinya.</p>
<p>Jika rasa kangen kepada Ki Cokro begitu hebatnya, Mbok Ratmi hanya dapat memandangi wajah si jabang bayi, kemudian memeluknya erat-erat seolah-olah dia tidak mau dipisahkan dengan anaknya yang hadir di dunia ini sebagai tanda cinta dirinya dengan Ki Cokro.</p>
<p>Teringat dengan pesan suaminya, Mbok Ratmi memberi bayi itu nama Sirad. Waktu yang berlalu membuat Sirad tumbuh menjadi sosok pemuda yang ganteng dan gagah. Keprihatinan hidup yang ia jalani, karena ia hidup tanpa didampingi oleh sosok ayah, membuatnya menjadi seorang pemuda yang gigih, ulet, rajin bekerja, serta disegani oleh teman-temannya.</p>
<p>Sirad sangat menyayangi ibunya. Peran Ki Cokro digantikan oleh Sirad. Sirad bekerja keras menggarap kebun dan sawahnya untuk mencukupi kebutuhan hidup Ibu dan dirinya. Satu hal yang masih menjadi teka-teki dan pertanyaan yang sangat besar di dalam dirinya adalah masalah ayahnya.</p>
<p>Mengapa ayahnya meninggkan dia dan ibunya?</p>
<p>&#8220;Suatu waktu nanti aku akan bertanya tentang bapakku kepada simbok. Mengapa bapak tega meninggalkan aku dan simbok.&#8221;</p>
<p>Senja itu terlihat sangat indah. Perlahan namun pasti sang pemberi cahaya di siang hari akan meninggalkan dusun. Seiring dengan kepergian sang surya, perlahan langit yang cerah diganti dengan gelapnya senja.</p>
<p>Peran itu kemudian akan digantikan oleh bulan dan bintang. Sambil menikmati singkong rebus, Sirad memberanikan dirinya untuk bertanya kepada simboknya perihal bapaknya.</p>
<p>&#8220;Mbok, sampai hari ini aku belum pernah melihat wajah bapakku. di mimpi pun aku tidak pernah&#8221; ucap Sirad.</p>
<p>Mbok Suratmi terkejut dengan pertanyaan anak semata wayangnya itu. Diletakkannya singkong rebus yang hampir saja masuk ke dalam mulutnya.</p>
<p>Dengan penuh kasih sayang Mbok Suratmi menatap wajah anaknya, matanya tampak berkaca-kaca. Mbok Ratmi berusaha untuk menahan agar air mata tidak meninggalkan pelupuk matanya.</p>
<p>Namun, kekuatan alam lebih kuat dari perintah Mbok Ratmi. Air mata itu tetap jatuh satu demi satu membasahi pipinya. Rasa kangen kepada suaminya yang sekian puluh tahun meninggalkan dirinya muncul kembali mengaduk-aduk rasa yang telah berhasil ia pendam.</p>
<p>&#8220;Mengapa Simbok menangis? Jika pertanyaanku ini membuat Simbok sedih saya minta maaf Mbok. Simbok tidak perlu menjawab pertanyaanku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya, Le. Pertanyaanmu itu mengingatkan simbok kepada ba-pakmu. Simbok sudah berusaha untuk bersabar dan menunggu kepulangan bapakmu. Namun, sampai saat ini bapakmu tidak pernah kembali ke kita.&#8221;</p>
<p>&#8220;Memang bapak ke mana, Mbok? Bukannya bapakku sudah meninggal, seperti yang diucapkan oleh kawan-kawan bermainku dulu, Mbok?&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa yang diomongkan oleh kawan-kawanmu itu tidak benar, Le&#8230; . Karena sekarang kamu sudah dewasa, sudah saatnya Simbok bercerita tentang bapakmu,&#8221; jawab mbok Suratmi sambil mengusap air mata yang semakin gencar menghinggapi pipinya.</p>
<p>Akhirnya, Mbok Suratmi menceritakan tentang kepergian suami-nya yang mengembara ketika Sirad masih dalam kandungannya.</p>
<p>Senja hari itu menjadi saksi terkuaknya misteri yang puluhan tahun menghinggapi dan mengganggu pikiran Sirad.</p>
<p>&#8220;Bapakmu sampai sekarang masih hidup. Dia bernama Cokro Pawiro. Ketika kamu masih dalam kandungan, ia pamit pergi ke wilayah Cilacap bagian barat untuk mencapai cita-citanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa cita-cita Bapak, Mbok? Mengapa hanya karena cita-cita bapak tega meninggalkan kita?&#8221; tanya Sirad lagi.</p>
<p>&#8220;Bapakmu punya cita-cita yang luhur, Le. Ia ingin membahagiakan kita. Untuk itulah bapakmu pergi dan membuka lahan di daerah sana,&#8221; sambung Mbok Suratmi lagi.</p>
<p>Setelah mendengar penjelasan ibunya tentang bapaknya, dalam hati Sirad muncul sebuah keinginan. Sirad ingin bertemu dengan bapaknya. Sirad memohon kepada Mbok Suratmi untuk pergi ke daerah Cilacap bagian Barat menyusul ayahnya.</p>
<p>&#8220;Baiklah, Le. Besok kita akan menyusul dan mencari bapakmu,&#8221;</p>
<p>Mbok Suratmi tidak tega menolak permintaan anaknya dan se-benarnya ia sendiri juga sangat ingin berjumpa dengan suaminya, yaitu Ki Cokro. Tanpa disadari, ternyata sudah sembilan belas tahun ia berpisah dengan suaminya, Ki Cokro.</p>
<p>Keesokan harinya Mbok Suratmi dan Sirad berkemas-kemas. Tidak lupa Mbok Suratmi mempersiapkan bekal untuk perjalanan mereka. Mbok Suratmi membungkus beberapa pakaian dan makanan.</p>
<p>Setelah perbekalan dirasakan cukup akhirnya kedua orang itu berangkat menuju Cilacap Barat. Tempat yang dituju adalah Desa Bantarsari. Menurut kabar berita yang diterima oleh Mbok Suratmi. Ki Cokro telah berhasil membuka lahan di daerah itu.</p>
<p>Karena keuletan, kerja keras, dan keramahannya, Ki Cokro dikenal oleh masyarakat sehingga Mbok Suratmi dan Sirad tidak mengalami kesulitan untuk menemukan kediaman Ki Cokro.</p>
<p>Rumah ki Cokro tidak pernah sepi. Setiap saat orang bisa datang ke sana. Ada yang datang untuk membahas pekerjaan, menanyakan tentang teknik membuka lahan baru, bahkan ada juga yang hanya sekadar ngobrol tak tentu arah hanya untuk mengisi waktu luang.</p>
<p>Suatu sore di rumah Ki Cokro Pawiro terlihat ia sedang bercakap-cakap dengan dua orang temannya, Ki Kartapusaka dan Ki Yasasuwita. Mereka membahas tentang pekerjaan membuka lahan.</p>
<p>Aktivitas obrolan tersebut terhenti karena kedatangan seorang perempuan paruh baya dengan seorang anak laki-laki. Setelah melihat kedua orang itu, Ki Cokro sangat terkejut. Serasa ditimpa oleh beban yang beratnya ratusan ton. Tanpa diminta, perempuan itu memperkenalkan dirinya kepada Ki Cokro.</p>
<p>&#8220;Kakang, aku Suratmi dan anak laki-laki yang aku bawa Ini Sirad, anakmu, Kang!&#8221; kata Mbok Suratmi sambil menangis terharu.</p>
<p>&#8220;Astaghfi rullah&#8230; ya Allah&#8230; benar ini kamu Suratmi, istriku yang dulu aku tinggalkan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya Kakang&#8230; aku Suratmi, Kang&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan anak laki-laki ini anak kita yang kamu kandung dulu&#8230; Ya Allah&#8230; terima kasih ya Allah&#8230; akhirnya Kau pertemukan lagi aku dengan keluarga yang aku sayangi ini. Sini Le&#8230; aku ingin me-melukmu.&#8221;</p>
<p>Ki Cokro dan Sirad berpelukan. Ketiga orang itu bertangis-tangisan karena rasa haru yang sangat dalam. Setelah sekian puluh tahun terpisah akhirnya dapat berkumpul kembali. Melihat peristiwa yang mengharukan itu, Ki Kartapusaka dan Ki Yasasuwita mendekat.</p>
<p>&#8220;Apakah ini anakmu yang sering engkau ceritakan, Kang Cokro, yang kamu tinggal waktu masih berada dalam kandungan istrimu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul, Kang Karta,&#8221; jawab Ki Cokro sambil menghapus air matanya.</p>
<p>&#8220;Wah&#8230; ganteng tenan. Gagah, siapa namamu, Le?&#8221; tanya Ki Yasasuwita.</p>
<p>&#8220;Sejak masih dalam kandungan ia sudah kuberi nama Sirad, Kang. Aku pesankan ke istriku jika kelak si jabang bayi lahir dan berjenis kelamin laki-laki, harus diberi nama Sirad&#8221;</p>
<p>Ki Cokro yang menjawab dengan terbata-bata sambil mengusap air mata. &#8220;Maafkan bapakmu, Le&#8230; sembilan belas tahun engkau ku-tinggalkan, baru sekarang kita bertemu,&#8221; sambungnya lagi sambil memeluk kembali Sirad. </p>
<p>Tidak ada yang mampu dilakukan oleh Sirad selain menuruti gerakan tubuh bapaknya yang menariknya ke dalam pelukan. Sirad tidak mampu berkata-kata, keharuan menyelimuti hatinya.</p>
<p>Sosok yang tadi berdiri dan sekarang memeluknya adalah bapaknya, figur yang selama ini dia idam-idamkan. Seseorang yang selama sekian puluh tahun ingin dilihat wajahnya. Tiba-tiba orang itu sekarang berdiri di depannya, dan bahkan memeluk dirinya. Sebuah anugerah yang luar biasa manisnya dari Allah.</p>
<p>&#8220;Alhamdulillah&#8230; terima kasih ya Allah&#8230; berkat kebesaran-Mu akhirnya aku dapat bertemu dan melihat wajahnya setelah sekian puluh tahun,&#8221; gumam Sirad dalam hati.</p>
<p>Sejak saat itu, Ki Cokro dan Mbok Suratmi bersepakat untuk tidak saling meninggalkan. Ki Cokro meminta kepada Mbok Ratmi dan Sirad untuk tinggal di rumahnya. Sejak saat itu Sirad tinggal bersama kedua orang tuanya.</p>
<p>Meskipun hidup serba kecukupan dan penuh dengan harta benda, Sirad tidak berubah. Ia tetap menjadi sosok yang ulet dan suka bekerja keras. Sirad rajin membantu ayahnya bekerja di kebun.</p>
<p>Sifat ayahnya yang sabar, bijaksana, dan pandai bergaul menurunkepadanya. Hal itu membuat Sirad disukai oleh warga di sekitar rumahnya. Ia ringan tangan. Siapa pun yang datang dan meminta bantuan, Sirad dengan senang hati dan ikhlas akan membantu. Ia juga terkenal sebagai pemuda yang pemberani dan tegas.</p>
<p>Ia bukan pemuda yang malas. Hal itulah yang membuat Sirad mendapatkan kepercayaan dari masyarakat desa untuk menjadi bayan pada saat bayan di dusun itu meninggal. Dusun itu bernama Dusun Jakatawa. Sebuah dusun yang wilayahnya terpisah oleh bentangan rel kereta api.</p>
<p>Pagi yang tenang dan hening pecah oleh teriakan seorang warga memanggil nama Bayan Sirad di depan rumah.</p>
<p>&#8220;Ki&#8230; Ki Bayan Sirad&#8230; Ki&#8230; Ki Bayan Sirad&#8230;!!&#8221; teriak orang itu.</p>
<p>Bayan Sirad ke luar dari rumahnya dan menghampiri orang tersebut.</p>
<p>&#8220;Tenang, Kang&#8230; tenang&#8230; ada apa ini, Kang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Gawat Ki&#8230; Gawat&#8230; Ki Bayan, ada orang bertengkar, Ki. Mereka sudah saling hunus golok, cepat dilerai Ki&#8230; Jika tidak, akan terjadi pertumpahan darah di dusun kita ini,&#8221; lapor orang itu.</p>
<p>&#8220;Astaghfirullah&#8230; ada masalah apa, Kang?&#8221; tanya Bayan Sirad.</p>
<p>&#8220;Kurang tahu, Ki. Mereka tidak ada yang mau mengalah!&#8221; jawab orang itu.</p>
<p>&#8220;Kalau begitu, antarkan saya ke tempat kedua orang itu bertengar, sekarang !!&#8221;
&#8220;Baik Ki&#8230; .&#8221;</p>
<p>Bergegas Bayan Sirad mengikuti warganya menuju ke arah sebelah barat desa. Setelah beberapa menit berjalan, benar saja, di sebuah perkebunan pisang terlihat dua orang sedang berhadapan dan saling menghunus golok.</p>
<p>Muka kedua orang itu merah padam tanda amarah. Mereka sedang berdebat, tapi tidak jelas apa yang diperdebatkan. Hanya samar-samar suara mereka dapat terdengar oleh Bayan Sirad. Setelah jarak antara Sirad dengan kedua orang itu sudah dekat, Bayan Sirad berusaha untuk melerai pertengkaran itu.</p>
<p>&#8220;Ada apa, Kang? Kok sampean berdua bertengkar, pakai meng-hunus golok? Jika ada masalah dipecahkan dengan kepala dingin, bukan dengan emosi,&#8221; tanya Bayan Sirad.</p>
<p>Kedua orang itu berebut untuk berbicara terebih dahulu sehingga suasana semakin memanas karena masing-masing ingin didengar dan ingin mendapatkan kebenaran. Lalu Sirad meminta salah satu dari orang itu untuk berbicara dan meminta yang satunya diam dulu agar Sirad tahu dan paham duduk persoalannya.</p>
<p>&#8220;Ini, Ki Bayan. Pohon pisang Kang Parto roboh ke kebunku. Padahal, kebunku ini baru saja aku tanami kacang. Lihat ini, tanaman kacangku berantakan tidak karuan karena ditimpa oleh pohon pisang. Lha&#8230; aku nggak mau rugi, kuambil saja buah pisangnya sebagai ganti rugi,&#8221; kata Kang Sirin.</p>
<p>&#8220;Lha, itu &#8216;kan namanya maling, Ki Bayan. Mengambil barang orang tanpa izin yang punya &#8216;kan namanya maling. Maling &#8216;kan harus dihajar!&#8221;</p>
<p>Kang Parto mengangkat golok yang ada di tangannya siap untuk diayunkan.</p>
<p>&#8220;Sabar&#8230; sabar&#8230; sabar, Kang! Tidak semua masalah dapat di selesaikan dengan adu otot. Masalah itu tidak dapat diselesaikan dengan amarah, Kang! Tidak akan selesai. Salah-salah bukannya me-nyelesaikan masalah justru akan membuat masalah semakin ber-kepanjangan,&#8221; teriak Sirad sambil membentangkan tangan di antara kedua orang yang sedang dilanda emosi.</p>
<p>&#8220;Sabar&#8230; sabar bagaimana, Ki Bayan. Lha, saya rugi Ki Bayan. Lihatlah pisangku diambil Kang Sirin!&#8221; tukas Kang Parto.</p>
<p>&#8220;Saya juga rugi, tanaman kacangku belum berbuah, sudah rusak tertimpa pohon pisangmu!&#8221; sahut Kang Sirin.</p>
<p>&#8220;Begini saja, Kang Sirin. Buah pisang Kang Parto dikembalikan saja dan Kang Parto memberi benih kacang kepada Kang Sirin sebagai ganti tanaman kacangnya yang rusak karena tertimpa oleh pohon pisang yang roboh. Kang Parto dapat pisangnya kembali dan Kang Sirin dapat ganti rugi tanaman kacangnya yang rusak. Jadi, tidak ada yang dirugikan dan tidak ada yang diuntungkan. Bagaimana?&#8221; tanya
Bayan Sirad.</p>
<p>Kedua orang itu berpandangan, kemudian menggangguk-angguk tanda menyetujui usulan Bayan Sirad. Bayan Sirad tersenyum.</p>
<p>&#8220;Ya sudah, Kang. Masalah sudah selesai! Daripada bertengkar lebih baik untuk bekerja bukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Inggih, Ki Bayan. Terima kasih nasihatnya!&#8221; kata Kang Parto.</p>
<p>Kedua orang itu bersalaman kemudian meninggalkan tempat ter-sebut. Ki Bayan Sirad lega hatinya menyaksikan hal tersebut. Dia telah berhasil mencegah terjadinya pertumpahan darah.</p>
<p>Dengan tersenyum, ditinggalkannya tempat itu menuju kembali ke rumahnya. Suatu ketika Mbah Candra yang menjadi kepala dusun atau bahu di Jakatawa sakit.</p>
<p>Mbah Candra sudah sangat lama menjadi Bahu Jakatawa. Usianya sudah sangat tua. Akhirnya, disepakati untuk mencari pengganti Mbah Candra sebagai Bahu Jakatawa. Ketika musyawarah di Balai Dusun Jakatawa, beberapa orang diusulkan termasuk Bayan Sirad.</p>
<p>&#8220;Saya usul, Bayan Sirad jadi pengganti Mbah Candra,&#8221; kata Senthu.</p>
<p>&#8220;Saya setuju!&#8221; sahut Ki Kartareja.</p>
<p>&#8220;Betul, saya juga setuju!&#8221; sabung Ki Ardamenawi.</p>
<p>Karena banyak yang mendukung Sirad, akhirnya ia terpilih menjadi Kepala Dusun atau Bahu Jakatawa. Pada waktu itu pusat pemerintahan Dusun Jakatawa berada di sebelah utara jalur kereta api, sedangkan rumah Bahu Sirad di sebelah selatan rel, tidak jauh dari rawa-rawa yang biasa disebut Rawakeling.</p>
<p>Masyarakat percaya bahwa Rawakeling merupakan daerah yang wingit. di dekat Rawakeling terdapat gumuk atau tanah yang lebih tinggi dari daerah sekitarnya. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, ada dua ekor hewan sakti yang tinggal di sana. Yaitu seekor menjangan rawa dan seekor banteng yang bertanda putih di dahinya.</p>
<p>Beberapa orang pernah melihat menjangan berbulu abu-abu itu melintas di gumuk, bahkan ada seorang pemburu mencoba menembaknya berkali-kali, tetapi tak satu pun peluru yang menembus tubuhnya. Peluru itu hanya berjatuhan saja.</p>
<p>Ketika Bahu Sirad sedang berjalan-jalan, ia bertemu beberapa warga.</p>
<p>&#8220;Dari mana, Kang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Dari gumuk sana, Ki Bahu, saking Siti Hinggil,&#8221; jawab orang itu.</p>
<p>&#8220;Lha, sampean mau ke mana, Yu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya mau menyebar kacang ke gumuk sana, wonten Siti Hinggil,&#8221; kata wanita itu sambil menunjuk daerah Rawakeling.</p>
<p>Karena seringnya warga menyebut tempat itu Siti Hinggil, Bahu Sirad mem-punyai rencana mengganti nama Dusun Jakatawa menjadi Sitinggil.</p>
<p>Bahu Sirad menyampaikan rencana tersebut kepada Senthu.</p>
<p>&#8220;Kang Senthu, saya punya rencana untuk mengganti nama Dusun Jakatawa menjadi Dusun Sitinggil,&#8221; kata Bahu Sirad.</p>
<p>&#8220;Mengapa diganti nama Sitinggil, Ki Bahu?&#8221; tanya Senthu.</p>
<p>&#8220;Karena di tempat ini terdapat gumuk yang oleh orang-orang disebut Siti Hinggil,&#8221; jawab Bahu Sirad.</p>
<p>Beberapa hari kemudian Bahu Sirad mengumpulkan warganya untuk membicarakan masalah tersebut. Dalam musyawarah tersebut diperoleh kesepakatan untuk mengganti nama daerah Jakatawa se-belah selatan rel menjadi Sitinggil.</p>
<p>Cerita Rakyat Cilacap ini diceritakan kembali oleh Ery Agus Kurnianto.</p>
<p>Penerbit:
Balai Bahasa Jawa Tengah
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/Lokasi-Pasar-Sitinggil-Rawajaya-Banatarsari-Cilacap.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="700"
				height="393">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[Lokasi Pasar Sitinggil Rawajaya Banatarsari Cilacap]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/Lokasi-Pasar-Sitinggil-Rawajaya-Banatarsari-Cilacap-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[Lokasi Pasar Sitinggil Rawajaya Banatarsari Cilacap]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Asal Mula Desa Kesugihan</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-24134/asal-mula-desa-kesugihan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Mar 2020 09:09:25 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Cerita Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Kesugihan]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-24134/asal-mula-desa-kesugihan</guid>

					<description><![CDATA[ aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Keberlimangan harta, kedudukan, dan kenikmatan dunia sering menjadi ukuran kepuasan hidup seseorang di dunia. Namun, hal itu belum tentu berlaku pada semua orang. Ada orang yang puas dengan kedudukan dan kekayaannya.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Keberlimangan harta, kedudukan, dan kenikmatan dunia sering menjadi ukuran kepuasan hidup seseorang di dunia. Namun, hal itu belum tentu berlaku pada semua orang. Ada orang yang puas dengan kedudukan dan kekayaannya.</p>
<p>Ada juga orang yang merasa bahwa kedudukan dan kekayaan itu tiada artinya dan tidak membuatnya puas. Ketidakpuasan itu disebabkan oleh tujuan atau motivasi hidup masing-masing individu.</p>
<p>Keadaan seperti itu juga terjadi pada diri seorang raja di Kerajaan Keling yang bergelar Prabu Bawana Keling. Takhtanya sebagai raja, kekayaannya yang berlimpah, dan segala kenikmatan yang tersedia baginya tidak pernah membuatnya bahagia.</p>
<p>Ketidakbahagiaan Prabu Bawana Keling itu lebih disebabkan oleh belum ditemukannya arti hidup dan makna kehidupan yang sesungguhnya. Dari ilmu agama yang dipelajarinya, ia tidak menemukannya. Dalam kedudukannya sebagai raja, arti hidup dan makna kehidupan tidak juga diperolehnya.</p>
<p>Pada suatu hari Prabu Bawana Keling, yang karena ketidakpuasan dalam hidup dan ingin mencari arti hidup dan makna kehidupan yang sesungguhnya, memutuskan untuk meninggalkan semua gemerlap dunia yang dimilikinya. Ia berniat mengembara untuk mendapatkan apa yang selama ini tidak diperolehnya.</p>
<p>&#8220;Hemm, apalah gunanya hidup jika tak mengetahui arti hidup ini,&#8221; kata Prabu Bawana Keling dalam hati.</p>
<p>Prabu Bawana Keling lalu menyerahkan takhta kerajaan kepada anaknya dan membagi-bagikan hartanya kepada rakyat Kerajaan Keling. Dia memutuskan untuk mengelilingi Pulau Jawa. Diam-diam dia meninggalkan Kerajaan seorang diri.</p>
<p>Dia melangkah dan terus melangkah seakan-akan tidak pernah merasa lelah. Bukit dan gunung dia daki, lembah ngarai dia telusuri, hutan lebat dia masuki. Tidak jarang halangan merintang, binatang buas menghadang, tetapi dia pantang menyerah. Semua rintangan dilaluinya tanpa kebimbangan atau ketakutan.</p>
<p>Hari demi hari dilalui, waktu demi waktu dijalani dengan me-langkah dan melangkahkan kaki untuk mencari tempat yang dapat mengungkap arti kehidupan. Tanpa terasa sampailah Prabu Bawana Keling di Gunung Selok. di tempat itu dia merasakan suasana yang tenang dan nyaman untuk beristirahat dan Bahkan mungkin bertapa.</p>
<p>Dia lalu mencari tempat untuk melepaskan lelah. Setelah beberapa lama mencari, Sang Prabu mendapati sebuah batu lebar dengan penampang atas rata. Dia lalu menggunakan batu itu untuk tidur melepaskan lelah.</p>
<p>Batu yang digunakan untuk tidur oleh Prabu Ba-wana Keling itu kemudian dinamakan kanendran yang memiliki makna ‘tempat tidur raja’ (nendra: ‘tidur’, nalendra: ‘ratu/raja’).</p>
<p>Entah berapa lama Prabu Bawana Keling tertidur. Dia sangat merasa nyaman berbaring di atas batu tersebut. Ketika terbangun dia merasa lapar. Seakan tanpa disadari, Sang Prabu berguman.</p>
<p>&#8220;Hemm&#8230; tangi turu kaya kiye kok kencot, patute nek mangan tumpeng bosok karo ngombe degan klapa ijo, enak banget&#8221;. ‘Hemm&#8230; bangun tidur seperti ini kok lapar, alangkah enaknya jika makan tumpeng bosok (tupeng mogana) dan minum kelapa hijau muda, enak sekali.’</p>
<p>Ucapan Prabu Bawana Keling itu terdengar oleh seorang laki-laki separuh baya yang sedang mencari rumput. Zaman dulu lain dengan zaman sekarang. Zaman dahulu, ucapan seorang pertapa pasti diperhatikan oleh orang yang mendengarnya. Demikian pula laki-laki pencari rumput itu, ketika mendengar ucapan Prabu Bawana Keling, si pencari rumput langsung pulang.</p>
<p>Rumah si pencari rumput berada di grumbul (kampung) sebelah barat Sungai Serayu. Sesampainya di rumah, ia berkata pada istrinya.</p>
<p>&#8220;Yung, Yung, jagone disembeleh, karo beras sing paling maen. Siki gawea tumpeng bosok, aku tek ngepet degan klapa ijo.&#8221; ‘Bu, Bu, Sem-belihlah ayam jago, dan beras yang paling baik. Sekarang buatlah tumpeng bosok, aku hendak memetik kelapa hijau muda.’</p>
<p>Yang dimaksud tumpeng bosok adalah tumpeng yang di dalamnya diisi dengan daging ayam Jawa, srundeng, dan lainnya. Sekarang, kebanyakan orang mengenal tumpeng bosok dengan nama tumpeng mogana.</p>
<p>Disebut tumpeng bosok karena di dalam tumpeng tersebut berisi aneka lauk, yang bila tumpeng itu disentuh dengan sendok/ centong akan mudah terurai gunungan tumpengnya dan langsung bercampur antara nasi tumpeng dan isi lauknya.</p>
<p>Singkat cerita, si istri pencari rumput itu langsung mengerjakan membuat tumpeng sesuai apa yang diminta oleh suaminya. Setelah selesai membuat tumpeng dan memetik kelapa muda, si pencari rumput dan istrinya lalu menuju Gunung Selok untuk memper-semBahkan tumpengnya kepada sang pertapa, yang tidak lain atau sesungguhnya adalah Prabu Bawana Keling.</p>
<p>Menerima persembahan itu, Prabu Bawana Keling agak kaget dan bertanya, &#8220;Eh&#8230; deneng slirane ngerti nek aku lagi kepengin tumpeng bosok karo degan klapa ijo?&#8221; ‘Ehh&#8230; kok kalian mengetahui jika aku sedang menginginkan tumpeng bosok dan kelapa muda hijau?’</p>
<p>Lalu si pencari rumput menjawab, &#8220;Inggih Sang Sutapa. Nalika</p>
<p>Sampeyan dalem ngendika, kula wonten sak ngandhaping sela kumalasa punika.&#8221; ‘Iya, Sang Pertapa. Ketika Anda berkata tentang itu, saya berada di bawah batu yang rata dan luas itu’.</p>
<p>Sambil menggangguk-anggukan kepala, Prabu Bawana Keling menjawab, &#8220;Oh&#8230; ya, matur nuwun banget ya. Tumpeng bosok kie tak tampa, jeneng pulung dhaharan ingsun. Lan, wakul, rinjing, lan pla-tokan degan iki, aja pati-pati dibukak sakdurunge tekan umah.&#8221; ‘Oh&#8230; ya, terima kasih sekali. Tumpeng bosok ini saya terima, ini namanya rezeki (garis makanan) saya. Dan, wakul (tempat nasi), rinjing (tempat beragam bahan makanan/makanan), dan belahan kelapa muda ini, jangan sampai dibuka sebelum kalian sampai di rumah.</p>
<p>Dengan segera si pencari rumput dan istrinya menjawab, &#8220;Inggih Sang Sutapa, ngestokaken dhawuh.&#8221; ‘Iya Tuan Pertapa, siap laksanakan perintah’.</p>
<p>Seketika itu, mata mereka terbelalak, mulut mereka ternganga tidak dapat berucap, ternyata di dalam wakul, rinjing, dan kelapa muda yang terbelah itu berisi emas dan berlian.</p>
<p>Karena hari menjelang malam, si pencari rumput dan istrinya itu segera pulang. Sesampainya di rumah, kedua orang pencari rumput itu penasaran dengan pesan sang pertapa. Mereka segera membuka wakul, rinjing, dan kelapa muda yang terbelah.</p>
<p>Seketika itu, mata mereka terbelalak, mulut mereka ternganga tidak dapat berucap, ternyata di dalam wakul, rinjing, dan kelapa muda yang terbelah itu berisi emas picis raja brana (emas dan berlian). Seketika itu pula, pencari rumput dan juga istrinya menjadi kaya raya. Orang-orang kemudian menyebutnya dengan nama Kaki Sugih dan Nini Sugih. Sebutan itu diberikan karena mereka berawal dari sepasang suami-istri tukang ngarit (pencari rumput) yang tiba-tiba menjadi kaya raya.</p>
<p>Oleh karena itu, grumbul atau desa tempat tinggal Kaki Sugih dan Nini Sugih dinamakan Desa Kesugihan. Dalam bahasa Jawa, sugih berarti ‘kaya’.</p>
<p>Setelah kejadian itu, setiap ada orang dari sekitar Gunung Selok hendak bepergian, Kaki Sugih dan Nini Sugih menyediakan tempat singgah karena mengimplementasikan keberuntungannya yang ber-asal dari kawasan Gunung Selok. Atas jasa Kaki Sugih, sang pertapa yang tidak lain adalah Prabu Bawana Keling raja Kerajaan Keling dapat memakan tumpeng bosok (mogana).</p>
<p>Oleh karena itu, Sang Prabu Bawana Keling bersabda bahwa kelak pada saatnya desa yang kau tinggali itu akan kedapatan pandhita yang tersohor. Dalam hal ini, kiai dan dalang juga termasuk kategori pandhita (seseorang yang mengajarkan akhlak/budi pekerti). Setelah meninggal, Kaki Sugih dan Nini Sugih dimakamkan di pemakaman umum Desa Kesugihan, tepatnya pemakaman depan penyulingan PDAM.</p>
<p style="text-align: right!">Diceritakan oleh: Suryo Handono</p>
<p style="text-align: right!">Disadur dari Cerita Rakyat Cilacap Jawa Tengah</p>
<p style="text-align: right!">Diterbitkan oleh Balai Bahasa Jawa Tengah Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/desa-kesugihan-kidul-terdapat-sungai-serayu.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="700"
				height="393">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[desa kesugihan kidul terdapat sungai serayu]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/desa-kesugihan-kidul-terdapat-sungai-serayu-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[desa kesugihan kidul terdapat sungai serayu]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Kisah Nyi Blorong Putri Jelita dari Segara Kidul</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-24013/nyi-blorong-putri-jelita-dari-segara-kidul</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 20 Mar 2020 13:00:18 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Cerita Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Nyi Blorong]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-24013/nyi-blorong-putri-jelita-dari-segara-kidul</guid>

					<description><![CDATA[ aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Konon, di dasar Laut Selatan atau sering disebut sebagai Se-gara Kidul berdirilah sebuah keraton siluman. Keraton ter-sebut dipimpin oleh Sinuwun Kanjeng Ratu Kidul. Ratu Kidul dikisahkan sebagai putri yang sangat cantik jelita.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Konon, di dasar Laut Selatan atau sering disebut sebagai Se-gara Kidul berdirilah sebuah keraton siluman. Keraton ter-sebut dipimpin oleh Sinuwun Kanjeng Ratu Kidul. Ratu Kidul dikisahkan sebagai putri yang sangat cantik jelita.</p>
<p>Suatu hari, Kanjeng Ratu Kidul sedang duduk di singgasananya. di hadapannya duduk seorang mahapatih Sapu Jagad dan Senopati Sapuregel. Mereka sedang membicarakan keamanan dan ketenteraman wilayah Keraton Kidul. Tiba-tiba datanglah seorang raja dari dasar Laut Jawa menghadap sang ratu.</p>
<p>&#8220;Paduka yang Mulia Ratu Kidul nan arif dan bijaksana. Hamba Prabu Dewa Mungkar, Raja dari dasar Laut Jawa. Hamba menghadap Ratu dengan maksud untuk melamar putri Paduka, Nyai Blorong&#8221;
Mendengar pernyataan Prabu Dewa Mungkar tersebut, Ratu Kidul memanggil putrinya, Nyi Blorong.</p>
<p>&#8220;Blorong, putriku. Ini ada tamu raja dari Laut Jawa yang datang untuk melamarmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kakang Dewa Mungkar, mohon maaf kepada Kakang Prabu Dewa Mungkar. Saya tidak dapat menerima lamaran Kakang karena saya sudah memiliki seorang kekasih. Putra Adipati Limbangan yang bernama Teja Arum,&#8221; jawab Nyi Blorong sambil menunduk.</p>
<p>&#8220;Nyi Blorong yang saya cintai. yang namanya suka bukan berarti Nyai sudah menjadi istri laki-laki itu. Nyi Blorong masih dalam keadaan yang bebas. Masih ada kesempatan bagi saya memiliki Adinda,&#8221; tukas Sang Prabu Dewa Mungkar.</p>
<p>&#8220;Mohon maaf, Kakang. Bagi saya, cinta ini telah terpatri dalam untuk Kakang Teja Arum. Saya tidak dapat menerima cinta Kakang Prabu. Maaf, Kakang,&#8221; balas Nyi Blorong.</p>
<p>Prabu Dewa Mungkar sangat kecewa dengan kenyataan itu. La-marannya ditolak oleh pujaan hatinya karena adanya laki-laki lain dicintai oleh pujaannya tersebut. Dengan geram ia berniat mencari laki-laki yang bernama Teja Arum itu. Ia hendak membunuh Teja Arum agar tidak ada lagi penghalang cintanya kepada Nyi Blorong. Akhirnya, Prabu Dewa Mungkar pergi menuju dasar laut Sunda untuk membunuh Teja Arum.</p>
<p>Singkat cerita, Prabu Dewa Mungkar berhasil membunuh Teja Arum. Ia pun kembali ke dasar laut selatan untuk menemui Nyi Blorong, pujaan hatinya.
&#8220;Nyi, Blorong pujaan hatiku. Sekarang terimalah lamaranku karena kekasihmu telah kuhabisi, hahahaha&#8221; kata Prabu Dewa Mungkar.</p>
<p>&#8220;Aku tidak percaya, Kakang Prabu. Mana mayat Kakang Teja Arum?&#8221; jawab Nyi Blorong dingin menutupi keterkejutannya.</p>
<p>&#8220;Baik, kalau itu yang Dinda inginkan. Segera akan kubawa mayat Teja Arum ke hadapanmu agar kau percaya dan mau menikah de-nganku!&#8221; jawab Prabu Dewa Mungkar sambil berlalu.</p>
<p>Sementara itu, di Laut Selat Sunda, kematian Teja Arum mening-galkan duka yang amat mendalam bagi keluarganya dan abdimya yang bernama Ki Cekruk Truna.
&#8220;Pangeran Teja Arum, mengapa kau pergi secepat ini?&#8221; isak Ki Cekruk Truna.</p>
<p>Tiba-tiba datang sesosok iblis mendatangi mereka. Ki Cekruk Truna terkejut dengan kedatangan iblis yang tidak dikenalnya itu.</p>
<p>&#8220;Kau&#8230; kau si&#8230; siapa? Beraninya masuk ke sini tanpa izin dahulu? Siapa kau sebenarnya?&#8221; gagap Ki Cekruk tergagu.
&#8220;Hahahahahaha&#8230; kau tanya siapa aku? Buka telingamu lebar-lebar supaya dapat mendengar dengan baik. Aku Buntung Seta. Aku adalah demit dari Karang Bolong. Aku akan bantu kau menghidup-kan kembali ndaramu, Pangeran Teja Arum, hahahaha&#8230;,&#8221; jawab sang iblis bernama Buntung Seta itu.</p>
<p>Singkat cerita, mayat Teja Arum dibawa oleh Buntung Seta. Se-telah itu, Prabu Dewa Mungkar datang. Terkejutlah ia karena mayat Teja Arum sudah tidak ada di tempat ketika ia membunuhnya. Ternyata Buntung Seta adalah Ratu Pantai Selatan yang menyamar. Ia yang menghidupkan Teja Arum sehingga membuat Nyi Blorong bersuka cita. Pada sisi lain, Prabu Dewa Mungkar belajar ajian lebur sekethi yang dapat membuat apa pun menjadi hancur berkeping-keping. Setelah cukup menguasai, ia menuju ke dasar Laut Selatan untuk membunuh Teja Arum kembali.</p>
<p>Terjadilah pertarungan sengit antara keduanya. Prabu Dewa Mungkar menggunakan ajian Lebur Sekethi, sedangkan Teja Arum menggunakan ajian Gelap Ngampar. Prabu Dewa Mungkar dapat dirobohkan oleh Teja Arum. Tubuhnya hangus terbakar tidak ber-sisa sedikit pun. Teja Arum pun sempat terkena ajian Prabu Dewa Mungkar yang membuat wajahnya menjadi rusak dan menjijikkan. Hal ini membuat Nyi Blorong jijik dengannya.</p>
<p>&#8220;Kakang Teja Arum. Jika engkau ingin wajah tampanmu kembali lagi, kakang harus bertapa selama 100 tahun di dasar Selat Bali,&#8221; kata Nyi Blorong menasihati kekasihnya itu.</p>
<p>Hal itu dimaknai oleh Teja Arum sebagai penolakan cinta Nyi Blorong. Teja Arum sangat kecewa. Ia melangkah pergi meninggalkan Nyi Blorong. Speninggal Teja Arum keanehan terjadi. Tubuh Nyi Blorong berubah bersisik seperti ular. Itulah kutukan Teja Arum yang merasa dikhianati oleh Nyi Blorong.</p>
<p style="text-align: right!">Diceritakan oleh: Tri Wahyuni</p>
<p style="text-align: right!">Disadur dari Cerita Rakyat Cilacap Jawa Tengah</p>
<p style="text-align: right!">Diterbitkan oleh Balai Bahasa Jawa Tengah Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/ilustrasi-model-Nyi-Blorong.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[ilustrasi model Nyi Blorong]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/ilustrasi-model-Nyi-Blorong-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[ilustrasi model Nyi Blorong]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Kisah Asal Mula Sungai Serayu</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-23924/asal-mula-sungai-serayu</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2020 14:41:47 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Cerita Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Sungai Serayu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-23924/asal-mula-sungai-serayu</guid>

					<description><![CDATA[ aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Alkisah, di Jawa Tengah terdapat sebuah sungai yang mengalir dari hulu Pegunungan Dieng hingga bermuara di Laut Selatan yang letaknya tidak jauh dari Gunung Srandil tepatnya Bedhahan Winong.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Alkisah, di Jawa Tengah terdapat sebuah sungai yang mengalir dari hulu Pegunungan Dieng hingga bermuara di Laut Selatan yang letaknya tidak jauh dari Gunung Srandil tepatnya Bedhahan Winong.</p>
<p>Konon, dahulu di wilayah itu ada sebuah kerajaan yang dipimpin oleh Prabu Dewanata. Prabu Dewanata me-mimpin dengan sangat arif dan bijaksana. Ia memiliki dua orang istri. Salah satu istrinya bernama Dewi Kunthi. Pernikahan sang prabu dengan Dewi Kunthi Nalibrata menghasilkan lima orang putra yang sering disebut dengan Pandawa Lima.</p>
<p>Salah satu putra sang Prabu dari pernikahan tersebut adalah Bima atau lebih dikenal dengan nama Werkudara. Bima adalah seorang senopati penegak Pandawa, bersifat jujur, gagah berani, berkemauan keras, tidak mudah ditundukkan.</p>
<p>Bima juga dikenal memiliki tekad yang keras, jika ia memiliki keinginan harus tercapai. Tidak seorang pun dapat mengurungkan niatnya. Jiwa dan hatinya telah menyatu dengan watak dan sifatnya yang tegas. Ia dikenal dengan semboyan &#8220;Rawe-rawe rantas, malang-malang putung&#8221; yang berarti ‘tidak gentar dengan apa pun, semua penghalang akan dimusnahkan’.</p>
<p>Suatu ketika Pandawa Lima mendapat perintah dari sang ayah, yakni membangun sebuah candi yang akan digunakan sebagai tempat pemujaan di dataran tinggi Dieng. Kelima saudara yang ter-diri atas si sulung Puntadewa, Bima si kuat dan tegas, si tengah gagah perkasa Arjuna, serta si kembar Nakula dan Sadewa memiliki tekad baja untuk melaksakan titah ayahanda mereka tersebut.</p>
<p>Mereka melakukan perjalanan yang sangat jauh melewati daerah yang tidak mudah, terjal, licin, dan hutan belantara yang belum terjamah manusia. Namun, sudah menjadi tekad Pandawa sehingga hal ini bukanlah suatu halangan bagi mereka.</p>
<p>Di tengah perjalanan, tiba-tiba Bima berkata, &#8220;Wahai saudara-saudaraku, mohon berhentilah sejenak. Aku sudah tidak tahan,&#8221; kata Bima dengan muka gugup seperti menahan sesuatu. Saudara Bima yang lain terlihat kebingungan.</p>
<p>&#8220;Tidak tahan mengapa, Adik Bima?&#8221; tanya Puntadewa menanyai dengan suaranya yang lembut berwibawa.</p>
<p>&#8220;Kakang Bima, ada apa? Kau baik-baik saja kan?&#8221; tanya Arjuna menghampiri saudaranya yang berbadan tegap dan tinggi tersebut.</p>
<p>&#8220;Ssstt&#8230;! Tenanglah saudara-saudaraku. Aku baik-baik saja,&#8221; balas Bima dengan memberi isyarat pada saudara-saudaranya. Nakula dan Sadewa yang juga bingung hanya saling bertatapan tidak tahu harus berkata apa.</p>
<p>Bima tersenyum kecut dan mengangkat tangannya sebagai tanda isyarat. Bima segera menghambur ke arah semak-semak dan berdiri dibalik pohon. Tidak lama kemudian terdengar suaranya dari balik pohon tersebut.</p>
<p>&#8220;Aaahh, lega rasanya. Saudara-saudaraku, mari kita lanjutkan perjalanan,&#8221; kata Bima dengan senyum lebar. Saudara-saudara Bima hanya tersenyum melihat kelakuan Bima tersebut. Konon, air seni Bima tersebut menjelma menjadi aliran sungai yang cukup deras alirannya.</p>
<p>Tidak berapa lama berjalan tibalah mereka di sebuah desa. Na-mun anehnya, suasana di desa tersebut sangat mencekam. Seluruh penduduknya tidak ada yang berani ke luar rumah. Semua rumah penduduk tertutup rapat. Tidak terlihat aktivitas layaknya sebuah kehidupan desa yang tenteram. Pandawa heran dan penasaran dengan apa yang terjadi di desa yang belum mereka ketahui namanya tersebut.</p>
<p>&#8220;Apa gerangan yang terjadi?&#8221; Puntadewa atau Yudistira membu-yarkan keheningan.</p>
<p>&#8220;Kita coba mencari tahu saja dari penduduk, Kakang!&#8221; sergah Arjuna.</p>
<p>&#8220;Tetapi, tidak ada satu pun pintu rumah penduduk yang terbuka.</p>
<p>Kita hendak bertanya pada siapa, Adi?&#8221; lanjut Puntadewa gusar.</p>
<p>Mereka berlima terus berjalan menyusuri lorong desa yang sepi senyap itu. Mereka merasakan aroma anyir di mana-mana. Setelah beberapa lama mereka dihinggapi rasa penasaran dan gusar, sampailah mereka di sebuah gubuk yang pintunya terbuka sedikit. Dengan hati-hati Puntadewa selaku pemimpin Pandawa mengucapkan salam di depan pintu gubuk tersebut.</p>
<p>&#8220;Sampurasun, apakah ada orang di dalam?&#8221; tanyanya sopan dan lembut. Tidak ada jawaban dari gubuk tersebut. Puntadewa pun mengulangi salamnya. Bima yang sedari masuk wilayah tersebut sudah penasaran merasa sangat tidak sabar.</p>
<p>Ia hendak masuk ke dalam gubuk untuk mencari tahu apakah ada penduduk yang da-pat memberikan keterangan tentang keadaan desa yang sangat men-cekam tersebut. Ketidaksabaran Bima tersebut segera dicegah oleh Puntadewa dan Arjuna.</p>
<p>&#8220;Sabarlah, Adik Bima. Ayahanda dan ibunda mendidik kita untuk tahu adan sopan santun. Bukan begitu caranya bertamu. Aku mohon jagalah sikapmu!&#8221; cegah Puntadewa dengan penuh kewibawaan.
&#8220;Iya, Kakang Bima. Kita coba mengucap salam dahulu. Siapa tahu penghuni gubuk ini tidak mendengar,&#8221; tukas Arjuna dengan senyum mengembang menenangkan sang kakak yang tampak sudah tidak sabar tersebut.</p>
<p>Sementara itu, Nakula dan Sadewa hanya berdiri santun. Puntadewa mengulangi lagi salamnya untuk kali ketiga. Tidak berapa lama muncullah seorang lelaki renta dari arah belakang gubuk tersebut.</p>
<p>&#8220;Ada apa, Ki Sanak? Siapa kalian? Apakah kalian utusan Bakasura?&#8221; tanya lelaki itu dengan wajah ketakutan.</p>
<p>&#8220;Tenang, Ki. Kami datang dengan maksud yang baik. Perkenalkan, kami Pandawa. Putra Prabu Dewanata. Saya Puntadewa, mereka ini adik saya Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa,&#8221; jawab Puntadewa de-ngan tenang sembari memperkenalkan diri pada penghuni gubuk tersebut.</p>
<p>&#8220;Mau apa kalian datang ke desa ini? Desa ini hampir mati, Anak Muda. Bakasura menghabisi hampir seluruh penduduk desa. Ia sa-ngat tamak dan tidak berperikemanusiaan. Bahkan, kemarin ia su-dah memakan kepala desa kami. Pergilah kalian, pergilah sebelum Bakasuran memangsa kalian juga!&#8221; jelas lelaki tua tersebut.</p>
<p>&#8220;Aki, mohon maaf. Bolehkah saya tahu siapa Bakasura itu? Me-ngapa ia memangsa seluruh penduduk desa? Apa yang sebenarnya terjadi, Ki?&#8221; cecar Arjuna didorong oleh rasa penasaran yang teramat sangat.</p>
<p>&#8220;Anak Muda, masuklah dahulu ke gubukku. Aku khawatir Ba-kasura datang dan tiba-tiba menyergap kita semua di sini,&#8221; ajak lelaki tua tersebut mempersilakan para tamunya masuk ke gubuknya.</p>
<p>&#8220;Terima kasih, Ki. Ayo adik-adikku, kita masuk!&#8221; ajak Puntadewa kepada adik-adiknya.</p>
<p>Lelaki tua itu menggelar sebuah tikar lusuh dan mempersilakan para tamunya duduk di atasnya. Ia menghidangkan sebuah kendi berisi air dan sepiring makanan kepada para tamunya tersebut.</p>
<p>&#8220;Anak Muda, silakan dinikmati. Mohon maaf, saya hanya memiliki makanan itu. Maklumlah, sudah hampir setengah bulan saya tidak bekerja karena takut termangsa oleh Bakasura,&#8221; terang sang lelaki tua dengan wajah sendu penuh kegundahan.</p>
<p>&#8220;Terima kasih, Ki. ini sudah lebih dari cukup. Keramahan dan penerimaan Aki sudah sangat menyamankan kami,&#8221; jawab Punta-dewa dengan senyuman khasnya yang penuh kharisma.</p>
<p>&#8220;Mohon maaf, Aki. Sebenarnya siapakah Bakasura itu?&#8221; tanya Arjuna sudah mulai tidak sabar.</p>
<p>&#8220;Anak Muda, Bakasura adalah sosok raksasa penguasa Hutan Kalimalang. Ia sangat kejam dan tamak,&#8221; jawab lelaki tua itu mulai menjelaskan.</p>
<p>&#8220;Lalu, mengapa ia memangsa seluruh penduduk desa ini, Ki? Apakah ada perselisihan antara penduduk desa dengan Bakasura?&#8221; tanya Bima dengan mengernyitkan dahinya tanda keingintahuan yang tinggi.</p>
<p>&#8220;Sebenarnya ini adalah sebuah kesalahpahaman, Anak Muda. Tepat satu purnama yang lalu, penduduk desa ini merayakan merti desa. Suasana pesta begitu gempita karena banyak atraksi dan per-sembahan yang kami lakukan untuk memuja dewata.</p>
<p>Namun, kami melupakan satu hal. Kami tidak memberikan persembahan berupa lembu betina kepada Bakasura. Kealpaan kami ini membuatnya marah dan akhirnya ia bersumpah hendak menghabisi kami semua satu per satu,&#8221; beber sang lelaki tua dengan menunduk.</p>
<p>&#8220;Lalu, mengapa kalian tidak lari atau ke luar meninggalkan desa ini? Mengapa kalian masih di sini menunggu giliran untuk di-mangsa?&#8221; cecar Bima dengan nada geram.</p>
<p>&#8220;Sabar, adikku. Biarkan Aki ini menjelaskan dengan tenang agar kita tahu duduk persoalan yang terjadi di desa ini!&#8221; sergah Puntadewa menepuk pundak sang adik yang tampak tidak sabar.</p>
<p>&#8220;Bakasura bukanlah raksasa sembarangan, Anak Muda! Ia me-miliki kesaktian yang luar biasa. Ia memagari desa ini dengan ke-kuatannya. Siapa saja yang berani melanggar batas gaib yang ia pa-sang akan mati secara mengenaskan. Kami tidak punya pilihan, Anak Muda!&#8221; terang lelaki tua itu dengan terbata-bata menahan isak yang mulai menjalar.</p>
<p>&#8220;Istri dan kedua anakku sudah menjadi korban pagar gaib itu. Mereka terbakar dan terlilit ular api. Entah, bagaimana nasib kami yang tersisa di sini?&#8221; tangis sang lelaki mulai pecah mengingat ke-luarganya yang telah menjadi korban dari kemarahan Bakasura sang raksasa tamak.</p>
<p>&#8220;Aki, kami turut prihatin dengan kejadian yang menimpa ke-luargamu dan seluruh penduduk desa ini. Namun, aku yakin pasti ada cara untuk menghentikan kekejaman Bakasura, Ki. Kami mohon Aki tidak putus asa dengan pertolongan dari Sang Hyang Widi Wasa,&#8221; tukas Arjuna dengan tersenyum yang tersungging terlihat sangat tampan dan memesona.</p>
<p>Ketika sedang berbincang-bincang, tiba-tiba terdengar suara dentuman semacam langkah kaki besar yang mengguncangkan bumi. Sang lelaki tua spontan berteriak dan menghambur di bawah kolong dipan.</p>
<p>&#8220;Ayo Anak Muda, sembunyi. Itu Bakasura. Ia pasti akan memangsa kitaaa&#8230; Lekas sembunyiiii&#8230;,&#8221; teriak lelaki tua mencoba memperingati Pandawa akan kedatangan Bakasura, raksasa tamak yang sedang diceritakan tersebut.</p>
<p>Sesaat dentuman suara langkah kaki besar dan goncangan terhenti lalu terdengar suara serak yang menggelegar se-olah memecahkan gendang telinga manusia normal.</p>
<p>&#8220;Hahahahaha&#8230; Hai, penduduk Ekacakra, hari ini ada berapa gerobak makanan buatku?&#8221; tanya Bakasura dengan suara meng-gelegar dan suara tertawa yang memekakkan telinga. &#8220;Daging siapa lagi yang akan kalian persemBahkan kepadaku? hahahahaha&#8230;,&#8221; lan-jutnya sambil terus tertawa membahana.</p>
<p>Melihat kejadian itu para Pandawa menjadi geram. Mereka ke luar dari gubuk sang lelaki tua dan menghadapi sang raksasa yang tampak sangat lapar. Bima segera maju turun tangan menghadapi hal tersebut.</p>
<p>Dengan suara lantang ia menantang sang raksasa yang tamak itu. &#8220;Hai, Bakasura, hari ini ada segerobak makanan buatmu. Ma-kanlah dagingku sebagai santapanmu!&#8221; tentang Bima tanpa sedikit pun merasa jeri.</p>
<p>Puntadewa dan saudara-saudara Bima yang lain tersentak kaget mendengar tantangan Bima kepada Bakasura itu. Namun, mereka tetap yakin Bima akan mampu mengalahkan raksasa tersebut.</p>
<p>&#8220;Oohh, siapa kau?&#8221; bentak raksasa yang ternyata bermuka bu-ruk itu.&#8221; Beruntung sekali aku hari ini. Makanan begitu banyak dan daging sebesar kamu, hahahaha,&#8221; tukasnya dengan tawa lebar mem-bahana.</p>
<p>&#8220;Aku sudah tidak sabar lagi menyantap dagingmu yang pasti lezat itu.&#8221;</p>
<p>Dengan membawa segerobak makanan bekal para Pandawa, Bima memamerkan kepada Bakasura. Kemudian Bima menghampiri Bakasura.</p>
<p>&#8220;Hai, Bakasura, mari makan&#8230; hahaha,&#8221; ledek Bima sambil me-nyantap segerobak makanan bekalnya dengan lahap. Bakasura sangat marah melihat kelakuan Bima. Ia naik darah, matanya melotot tajam, giginya menggerutuk, tangannya mengepal geram.</p>
<p>&#8220;Kurang ajar, kau manusia hina, apa maksudmu?&#8221; geramnya marah sembari menyerang Bima membabi buta. Pertarungan se-ngit pun terjadi antara Bakasura dan Bima. Bima menangkis se-rangan Bakasura dengan gesit. Ia juga mengayun-ayunkan gada sakti rujakpala, pusaka andalannya untuk melawan Bakasura yang ber-tubuh kuat itu.</p>
<p>Pertarungan sengit pun terjadi antara Bakasura dan Bima.</p>
<p>&#8220;Makhluk serakah kau, Bakasura! kau harus mati!&#8221; teriak Bima. Dengan satu ayunan gada sakti itu tubuh Bakasura tersungkur menghunjam bumi. Tubuhnya yang besar itu hancur berkeping-keping. Kemenangan Bima ini tidak mengherankan para Pandawa yang lain.</p>
<p>Mereka sangat mengenal kepiawaian Bima dalam hal menggunakan pusaka tersebut. Setelah itu keajaiban terjadi. Suasana yang tadinya redup mencekam berangsur menjadi terang dan cerah. Rupanya pengaruh kekuatan pagar ghaib yang ditanam Bakasura mulai sirna.</p>
<p>Singkat cerita, semenjak itu penduduk Desa Ekacakara pun kem-bali hidup tenang dan tenteram. Keluarga Pandawa pun melanjutkan perjalanan melewati aliran sungai yang merupakan jelmaan dari air seni Bima.</p>
<p>Akhirnya, sampailah mereka di suatu tempat. di tempat tersebut tinggallah beberapa penduduk. Keseharian mereka memanfaatkan air sungai untuk mencuci, mencuci beras, mandi, dan lain-lain.</p>
<p>Pada suatu hari, ada seorang gadis jelita penduduk desa tersebut sedang mencuci di sungai itu. Konon, namanya adalah Dewi Drupadi. Ia tampak sudah selesai mencuci baju di sungai itu. Cucian yang sudah bersih diletakkan di pinggir sungai, sedangkan Dewi Drupadi kembali ke sungai untuk mandi.</p>
<p>Ia mandi dengan sangat asyiknya. Ia berenang ke sana kemari menikmati kesejukan air dan keindahan pemandangan sambil sesekali bermain riak air sungai. Suara ketipak air yang dimainkan sang dewi itu clung plak clung clung clung plak clung clung clung plak clung clung clung clung.</p>
<p>Dari kejauhan Bima mendengar suara ketipak air tersebut. Se-mentara, saudaranya yang lain beristirahat di bawah pohon yang rindang. Bima mendengar harmonisasi suara indah yang diciptakan ketipak tersebut bak alunan nada yang menawan.</p>
<p>Bima mencari sumber suara yang menggelitik indra pendengarannya tersebut. Tidak sadar ia telah agak jauh meninggalkan keempat saudaranya yang sedang beristirahat. Ia berjalan mengendap-endap mendekati sumber suara, makin lama, makin dekat, dan makin jelas. Bima ter-kesiap dan terpana dengan pemandangan di depannya. Tampak oleh-nya sesosok gadis beraut menawan dan molek.</p>
<p>&#8220;Siapa gerangan perempuan yang cantik itu? Putri kayangankah?&#8221; gumam Bima.</p>
<p>&#8220;Cantik sekali, anugerah Sang Dewata,&#8221; lanjutnya. Sesekali Bima memukulkan tangan di kedua pipinya. &#8220;Apakah aku sedang ber-mimpi?&#8221; tukasnya.</p>
<p>&#8220;Ah, tidak, ini nyata,&#8221; lanjutnya lagi. &#8220;Sira ayu tenan,&#8221; desisnya da-lam kekaguman. Berkali-kali Bima mengucapkan kalimat itu sehingga suaranya terdengar oleh sang dewi yang masih asyik bermain ketipak air di sungai berair jernih itu.</p>
<p>&#8220;Siapa di sana? Siapa Ki Sanak? Siapa Ki Sanak?&#8221; tanya sang Dewi mulai gusar dan berenang menjauh dari sosok Bima yang berjalan mendekatinya.</p>
<p>&#8220;Jangan coba-coba mengganggu saya, beraninya Ki Sanak meng-intip saya, pergi!&#8221; hardik Dewi Drupadi sambil terus berenang ke tengah sungai.</p>
<p>&#8220;Jangan takut, Adinda. Perkenalkanlah, aku Bima!&#8221; teriak Bima lantang berusaha mengejar sang Dewi yang terlihat begitu gugup dan takut.</p>
<p>&#8220;Toloong&#8230; toloong,&#8221; teriak sang Dewi tidak menghiraukan te-riakan Bima. Ia berteriak minta tolong sambil terus berenang ke tengah sungai. Tiba-tiba saja tubuhnya tenggelam, rupanya tengah sungai itu dalam sekali.</p>
<p>&#8220;Haapp&#8230; haappp, tooo&#8230; loong&#8221;, teriak sang Dewi yang mulai tenggelam. Sayup-sayup suara minta tolong dari Dewi Drupadi menghilang seiring tenggelamnya tubuhnya. Melihat kejadian itu Bima segera menceburkan diri ke sungai mencoba menolong sang Dewi yang tenggelam. Namun, usaha Bima gagal.</p>
<p>&#8220;Duhai, Adinda&#8230; di manakah engkau kini&#8230; sira ayu, sira ayu&#8230;,&#8221; isak Bima menyesali perbuatannya. Ia terus menangis dan mende-siskan kata sira ayu. Sejak saat itu masyarakat di sekitar sungai me-namai sungai tersebut Serayu. Serayu berasal dari desisan kata Bima sira ayu yang bermakna ‘kamu cantik’.</p>
<p style="text-align: right!">Diceritakan oleh: Tri Wahyuni</p>
<p style="text-align: right!">Disadur dari Cerita Rakyat Cilacap Jawa Tengah</p>
<p style="text-align: right!">Diterbitkan oleh Balai Bahasa Jawa Tengah Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/desa-kesugihan-kidul-terdapat-sungai-serayu.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="700"
				height="393">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[desa kesugihan kidul terdapat sungai serayu]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/desa-kesugihan-kidul-terdapat-sungai-serayu-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[desa kesugihan kidul terdapat sungai serayu]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Kerajaan Dayeuhluhur Cikal Bakal Kabupaten Cilacap</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-23744/kerajaan-dayeuhluhur-cikal-bakal-kabupaten-cilacap</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Mar 2020 12:52:27 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Cerita Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Cilacap]]></category>
		<category><![CDATA[Dayeuhluhur]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-23744/kerajaan-dayeuhluhur-cikal-bakal-kabupaten-cilacap</guid>

					<description><![CDATA[Suara seruling mengiringi semilir angin membuat hawa terasa sejuk. Daun-daun yang menghampar hijau di lembah dan tebing di sela perbukitan bergoyang pelan seakan mengikuti nada. Sungai kecil mengalir di sebelah sungai Cijolang, yang menjadi tanda saksi alam yang menjadi ciri khas Pasundan dengan ditandai bahasa sehari-hari, adat, kesenian, budaya, dan bentuk rumah, yang semuanya bercorak Pasundan.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Suara seruling mengiringi semilir angin membuat hawa terasa sejuk. Daun-daun yang menghampar hijau di lembah dan tebing di sela perbukitan bergoyang pelan seakan mengikuti nada. Sungai kecil mengalir di sebelah sungai Cijolang, yang menjadi tanda saksi alam yang menjadi ciri khas Pasundan dengan ditandai bahasa sehari-hari, adat, kesenian, budaya, dan bentuk rumah, yang semuanya bercorak Pasundan.</p>
<p>Di tepi Sungai Cijolang berdiri patung pahlawan Pangeran Di-ponegoro yang sedang menunggang kuda dan mengacungkan senjata keris dengan gagahnya. Ini menandakan bahwa leluhur kita ikut berjuang mempertahankan bumi yang dicintainya bersama Pangeran Diponegoro. Inilah gambaran keadaan alam Dayeuhluhur yang ter-letak di dataran tinggi sesuai dengan asal-usul nama Dayeuhluhur.</p>
<p>Dayeuhluhur diambil dari dua kata dayeuh yang berarti ‘kota’ atau ‘tempat’ dan luhur yang berarti ‘tinggi’. Daerah ini merupakan tempat berkumpulnya orang-orang dengan kekuatan atau kesaktian yang tinggi pada zaman dahulu serta tempat bertapa atau berlatih ilmu kanuragan.</p>
<p>Zaman dahulu di wilayah Dayeuhluhur Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, berdiri Kerajaan Kawali yang dipimpin oleh Prabu Niskala Wastu Kencana. Raja ini memiliki dua orang istri. Istri pertama me-lahirkan seorang putra dengan nama Prabu Siliwangi dan istri kedua melahirkan putra bernama Prabu Dewa Niskala. Prabu Niskala Wastu Kencana mempunyai adik sepupu yang mempunyai putra bernama Gagak Ngampar. Gagak Ngampar tinggal bersama Prabu Niskala Wastu Kencana.</p>
<p>Pada suatu pagi yang cerah Prabu Niskala Wastu Kencana se-dang bersantai di Tamansari dengan didampingi istri-istri yang di-kasihinya. Mereka sedang menghibur Paduka Raja yang terlihat sedang bermuram durja. Salah seorang istrinya bertanya.</p>
<p>&#8220;Kanda Prabu, mengapa sepertinya hari ini Kanda bermuram durja. Ada apa gerangan, Kanda? Adakah yang tidak berkenan di hati Kanda mengenai Dinda, Tuanku Prabu?&#8221; tanya sang istri kepada Raja.</p>
<p>&#8220;Oh, tidak, Dinda. Adinda begitu baik kepada Kanda dan Dinda begitu menyayangi putra-putra Kanda,&#8221; jawab Raja kepada istrinya.</p>
<p>&#8220;Kalau begitu, apa gerangan yang Kakanda Prabu pikirkan? Mo-hon Kakanda Prabu berkenan menyampaikan segala sesuatu kepada hamba, mungkin hamba dapat membantu Kanda Prabu,&#8221; lanjut sang Istri.</p>
<p>&#8220;Oh, terima kasih, Dinda. Dinda sudah begitu perhatian kepada Kakanda.&#8221;</p>
<p>Prabu Niskala Wastu Kencana berkata dengan lirih, &#8220;Begini, Dinda Ratu. Usiaku sudah lanjut, Kanda sudah tidak mampu lagi memimpin kerajaan ini. Nah, untuk itu aku wariskan tahtaku kepada kedua putraku. Sebelah barat untuk Prabu Siliwangi dan sebelah timur untuk Dewa Niskala. Akan tetapi, aku masih memikirkan Gagak Ngampar yang menginginkan tahta Kerajaan Kawali. Aku ingin tidak ada perpecahan di antara mereka,&#8221; Prabu Niskala Wastu Kencana menyampaikan kegundahannya.</p>
<p>Niskala Wastu Kencana menghela napas panjang berusaha me-ngeluarkan beban yang ada dalam hati dan pikirannya.</p>
<p>&#8220;Oh begitu, Kanda Prabu?&#8221; Kedua permaisuri serempak men-jawab.</p>
<p>Semua hening dengan pikirannya masing-masing. Tiba-tiba se-orang permaisuri berkata, &#8220;Begini, Kanda Prabu. Menurut hamba, untuk menghindari perpecahan serta pertumpahan darah, sebaiknya Gagak Ngampar harus mencari sendiri daerah untuk dijadikan ke-rajaan, tetapi beri ia petunjuk dan bantuan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagus sekali usulmu, Dinda. Sekarang suruh pengawal untuk memanggil Gagak Ngampar agar menghadapku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baik, Kanda,&#8221; jawab para permaisuri.</p>
<p>Permaisuri pun menyuruh salah satu pengawal untuk memanggil Gagak Ngampar yang saat itu sedang berlatih bela diri.
&#8220;Gagak Ngampar, Baginda menyuruhmu menghadap sekarang,&#8221; kata pengawal kepada Gagak Ngampar.</p>
<p>&#8220;Sekarang?&#8221; tanya Gagak Ngampar.</p>
<p>&#8220;Ya, sekarang juga. Baginda sudah menunggumu,&#8221; tegas sang pe-ngawal.</p>
<p>&#8220;Baiklah, aku akan segera menghadap,&#8221; dengan patuh Gagak Ngampar pun langsung bersiap-siap untuk menghadap.</p>
<p>Selang beberapa saat Gagak Ngampar sudah berada di hadapan Baginda Prabu.</p>
<p>&#8220;Daulat, Tuanku Prabu, ada apa gerangan Baginda memanggil hamba?&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, anakku, Gagak Ngampar. Ananda hari ini dipanggil karena suatu alasan. Aku memintamu memperluas wilayah kerajaan. Kamu harus pergi ke sebelah timur Sungai Cijolang. Dirikanlah sebuah kerajaan di sana!&#8221; perintah sang Raja.</p>
<p>&#8220;Baik, daulat Tuanku Prabu! Hamba akan melaksanakan perintah Prabu sebaik-baiknya.&#8221;</p>
<p>Pada hari yang telah ditentukan, Gagak Ngampar dilepas oleh Prabu Niskala Wastu Kencana. Ia pergi disertai pengawal dan prajurit dengan membawa perbekalan secukupnya. Tidak lupa pengasuh Gagak Ngampar yang lucu pun ikut bersama tuannya. Pengasuh yang sangat sayang dan setia itu adalah Mamang Lengser. Berangkatlah Gagak Ngampar dengan iringan doa dari seisi Keraton Kawali.</p>
<p>Selama perjalanan Mamang Lengser selalu menghibur tuannya dengan melenggak-lenggokkan badannya sambil bersenandung. Ma-mang Lengser tidak dapat diam. Ia terus saja berbicara.</p>
<p>&#8220;Mamang tahu tidak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tahu apa, Den?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, kalau Mamang teh jelek pisan, pendek, perut buncit, muka hitam, hidung pesek, suka ngupil, pipinya bengkak, hehehe,&#8221; gurau Gagak Ngampar kepada Mamang Lengser.</p>
<p>Mamang Lengser menangis sejadi-jadinya, duduk di tanah sambil memukuli badannya sendiri.</p>
<p>&#8220;Ah, Aden mah ngejek ke Mamang, Aden mah nakal!&#8221; Mamang Lengser merajuk.</p>
<p>Turun dari kudanya, Gagak Ngampar mendekati Mamang Lengser sambil tersenyum.</p>
<p>&#8220;Aduh tobat, Mamang Lengser. Saya tidak akan mengejek Ma-mang Lengser lagi!&#8221;</p>
<p>&#8220;Alasan Aden mah, sok ngejek terus ka Mamang.&#8221; Hubungan ke-duanya memang sangat akrab sehingga sering bercanda.</p>
<p>&#8220;Betul, Mang. Betul tobat saya mah sakit. Sakit banget ini kaki saya diduduki Mamang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ampun, Den, ampun. Mamang tidak tahu. Mamang siap men-dapat hukuman dari Aden.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jangan, begitu, Mamang. Ayo berdiri! Berdiri! Sekarang kita bersuten, nanti yang menang digendong!&#8221;</p>
<p>&#8220;Horeeeee, aku menang!&#8221; Gagak Ngampar berteriak dengan se-nangnya.</p>
<p>&#8220;Hah, Mamang kalah, Den,&#8221; gumam Mamang Lengser sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.</p>
<p>Mamang Lengser pun menggendong tuannya yang sangat di-sayanginya itu sambil bernyanyi. Tidak terasa sampailah mereka di suatu bukit yang letaknya strategis untuk dijadikan istana. Pada puncak bukit ini terdapat dataran yang cukup luas diapit oleh mata air dilindungi tebing curam untuk memudahkan pengawasan wilayah permukiman penduduk.</p>
<p>Sambil beristirahat Raden Gagak Ngampar berkata, &#8220;Wahai Para pengikutku, mulai hari ini kita tinggal di sini. Kita beri nama daerah ini Dayeuhluhur karena letaknya yang berada di dataran tinggi. Setuju semua?&#8221;</p>
<p>Semua serempak menjawab, &#8220;Setuju!&#8221;</p>
<p>Sejak saat itu dinobatkanlah Gagak Nsgampar sebagai raja per-tama di Kerajaan Dayeuhluhur. Pada waktu penobatan Mamang Lengser memulainya sambil berkomat-kamit, &#8220;reup angin reureuh heula di dieu rek aya beja jep sora jempe heula di dieu rek upacara.&#8221; Kalimat itu berarti ‘angin dari timur dan barat berhenti dulu di sini, di Keraton Salangkuning, Kerajaan Dayeuhluhur, mau diadakan penobatan Raja Gagak Ngampar’.</p>
<p>Gagak Ngampar dinobatkan menjadi Raja Kerajaan Dayeuhluhur.</p>
<p>Lalu mahkota sederhana dipakaikan pada kepala Gagak Ngampar. Mamang lengser membacakan janji Raja Gagak Ngampar yang disebut Rineksa Panca Satya. Rineksa Panca Satya merupakan lima dasar falsafah pedoman kehidupan masyarakat.</p>
<p>Satya pertama, Andika kudu ragragna kalakay di walungan Ci-jolang nepi ka walungan gede artinya ‘raja harus memiliki pemikiran yang luas dan menyeluruh serta bersikap adil dan bijaksana’.</p>
<p>Satya kedua, Andika ulah tangga ka gunung tapi kudu tungkul ka laut jeung sing jadi sigara kahirupan artinya ‘raja tidak boleh som-bong, tetapi semestinya rendah hati dan berkenan menampung se-gala permasalahan orang lain serta mau memberikan bantuan selagi masih menjalani kehidupan’.</p>
<p>Satya ketiga, Andika ulah ngaleutikeun hate batur komo ngani bisi mantak sial artinya ‘raja tidak boleh menyepelekan atau menghina orang lain, hendaknya kita memperlakukan orang dengan baik’.</p>
<p>Satya keempat, Andika kudu sare bari nyaring jeun nyaring bari sare artinya ‘raja tidak boleh terlena oleh suatu keadaan. Ia harus se-lalu waspada dan bersiap siaga’.</p>
<p>Satya kelima, Lemah cae jeung saeusina alam ieu teh getih jeung nyawa nadika anu kudu dipusti-pusti jeung diagungkeun artinya ‘raja harus mencintai, menghargai, serta merawat tanah airnya sendiri’.</p>
<p>Setelah menjasi raja, Gagak Ngampar segera membangun keraja-annya. Kerajaan yang semula hanya memiliki rakyat pengawalnya saja sekarang sudah mulai berkembang. Orang-orang dari sekitar Dayeuhluhur banyak yang datang dan akhirnya bermukim disitu.</p>
<p>Raja pada saat itu masih lajang sehingga ia bermaksud mencari istri sebagai pendamping hidupnya. Pada suatu waktu Prabu Gagak Ngampar sedang berburu di hutan. Prabu Gagak kehabisan perbekalan karena direbut kawanan monyet. Karena keasyikan berburu, ia juga terpisah dari pengawalnya. Ia memutuskan beristirahat di bawah po-hon. Selagi beristirahat, bertemulah ia dengan seorang gadis cantik. Sang Prabu menyapa gadis itu. Ia heran mengapa gadis itu berada di hutan seorang diri karena ia tidak melihat ayah si gadis.</p>
<p>&#8220;Kamu siapa dan sedang apa berada di hutan sendirian?&#8221; tanya Prabu Gagak Ngampar.
Gadis desa itu pun menjawab, &#8220;Saya sedang membantu ayah saya mencari kayu. Saya tidak sendiri, ayah saya di sebelah sana.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, begitu,&#8221; Prabu Gagak Ngampar agak takjub melihat kecan-tikan dan kelembutan gadis itu.
&#8220;Mengapa Anda berada di hutan?&#8221; sang gadis balik bertanya ke-pada Prabu Gagak Ngampar. Gadis itu tidak tahu bahwa yang di ha-dapannya adalah Prabu Gagak Ngampar yang berburu dengan pa-kaian biasa.</p>
<p>&#8220;Saya sedang berburu, tetapi saya kehabisan perbekalan karena dicuri kawanan monyet tadi dan saya kelaparan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, begitu. Saya membawa bekal, tetapi hanya bekal nasi sayur seadanya. Kalau Anda berkenan, silakan ambillah!&#8221; tawar si gadis sambil menyodorkan bekalnya kepada Prabu Gagak Ngampar. Sang Prabu terkesima dengan kebaikan gadis itu.
&#8220;Kalau ini kumakan, lalu kamu makan apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Rumah saya tidak jauh dari hutan ini. Kalau lapar, saya dapat segera pulang dan makan di rumah. Silakan ambillah,&#8221; jawab si gadis. Prabu Gagak Ngampar pun menerima dan dengan lahap memakan perbekalan gadis itu.</p>
<p>&#8220;Terima kasih kamu sudah menolongku,&#8221; ujar Prabu Gagak Ngampar.
Kebaikan gadis desa tersebut menjadi awal perkenalan mereka. Selama perjalanan kembali ke Kerajaan Prabu Gagak Ngampar terkenang terus dengan kecantikan, kelembutan, dan kebaikan gadis itu. Ketika sampai di Kerajaan pun, ia terus melamun dan tersenyum mengingat gadis itu. Mamang Lengser terheran-heran. Ia bertanya dalam hati mengapa rajanya bersikap seperti itu. Tidak dapat me-nahan diri, ia pun bertanya kepada Raja.
&#8220;Wahai, anakku Prabu Gagak. Ada apakah gerangan mengapa sikapmu aneh seperti itu sejak pulang dari berburu?&#8221; tanya Mamang Lengser.</p>
<p>&#8220;Hemm, apanya yang aneh, Mang?&#8221; Prabu Gagak merasa gugup dan malu ketahuan oleh Mamang Lengser. Ia berusaha menyem-bunyikannya.</p>
<p>&#8220;Mamang tahu, Den. Mamang kan sangat mengenal, Aden. Jadi Aden tidak dapat membohongi Mamang,&#8221; kejar si Mamang agar Prabu Gagak menyampaikan perasaannya.</p>
<p>&#8220;Mamang, aku tadi bertemu dengan seorang gadis,&#8221; jawab Prabu Gagak dengan malu-malu.</p>
<p>&#8220;Wah, bagus sekali itu, Den. Aden memang harus segera menikah.</p>
<p>Lalu siapakah gadis itu?&#8221; tanya Mamang.</p>
<p>&#8220;Itulah, Mang. Aku lupa menanyakan namanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah, pasti orangnya cantik sampai si Aden lupa menanyakan namanya,&#8221; gurau Mamang Lengser. Prabu Gagak semakin terlihat malu.</p>
<p>&#8220;Dia tidak hanya cantik, tetapi juga baik hati dan lemah lembut.&#8221; &#8220;Besok kita cari gadis itu, Den.&#8221;</p>
<p>Keesokan harinya sang Prabu ditemani Mamang Lengser mencari rumah gadis tersebut. Mereka bertanya kepada orang-orang yang ditemui dengan menjelaskan ciri-ciri gadis itu. Setelah agak lama mencari, akhirnya mereka berhasil menemukan rumah sang gadis. Sang gadis sedang menyapu halaman rumahnya ketika mereka sampai di tempat itu.</p>
<p>&#8220;Permisi,&#8221; sapa Prabu Gagak kepada sang gadis.</p>
<p>Terkejut sang gadis dengan kedatangan Prabu. Dalam hatinya sangat ketakutan jika dirinya atau ayahnya telah melakukan kesalahan yang membuat sang Prabu murka sehingga mendatangi rumahnya. Ia tidak mengenali bahwa sang Prabu adalah laki-laki yang ditemuinya di hutan. Sebab, penampilan Prabu Gagak pada saat berburu berbeda sekali dengan saat ini.
&#8220;Ya, Paduka Prabu,&#8221; hormat sang gadis dengan lirih.</p>
<p>&#8220;Jangan takut, saya ke sini hanya ingin bertemu ayahmu,&#8221; kata sang Prabu kepada gadis itu. Sang gadis semakin khawatir jika ayahnya telah melakukan kesalahan. Akan tetapi, ia pun mempersilakan sang Prabu masuk ke rumahnya.</p>
<p>&#8220;Oh, mari silakan masuk, Paduka. Saya akan memanggilkan ayah saya,&#8221; diliputi perasaan takut, ia pun masuk ke dalam rumah dan me-manggil ayahnya.</p>
<p>Selang beberapa menit, ayah sang gadis ke luar menemui mereka.</p>
<p>&#8220;Daulat, Tuanku Paduka. Mohon maaf, Paduka Prabu, sekiranya hamba boleh tahu apa yang sebenarnya terjadi? Mungkinkah hamba atau anak hamba melakukan kesalahan kepada Paduka sehingga Paduka repot-repot menemui kami?&#8221; dengan lirih ayah sang gadis bertutur kepada Prabu Gagak.</p>
<p>&#8220;Jangan kaget. Jangan takut. Kedatangan saya ke sini adalah untuk mempersunting anak Bapak,&#8221; Prabu Gagak langsung menyatakan maksud kedatangannya. Terkejut dengan apa yang didengarnya, ayah sang gadis terdiam dan merasa khawatir.</p>
<p>&#8220;Ampun beribu ampun, Paduka, hamba mohon maaf jika putri hamba melakukan kesalahan. Mohon ampunilah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak-tidak, saya ke sini hanya ingin menyampaikan perihal tersebut. Tidak ada kesalahan apa pun yang dilakukan putrimu. Saya menyukai putrimu dan saya ingin mempersuntingnya,&#8221; Prabu Gagak menegaskan keinginannya.</p>
<p>Sang Ayah belum percaya dengan apa yang didengarnya. Sang gadis yang mendengar pembicaraan tersebut dari balik dinding pun terkesiap dengan apa yang telah didengarnya. Dalam hatinya berkata dia hanyalah seorang gadis desa biasa, bukanlah anak saudagar yang kaya raya, bukan pula keturunan bangsawan ataupun raja. Namun, mengapa Paduka Prabu ingin mempersunting dirinya? Sang gadis kebingungan dengan permintaan Paduka Prabu.</p>
<p>&#8220;Jadi, sudikah Bapak menerima saya sebagai menantu? Panggillah putrimu dan tolong tanyakan apakah ia bersedia menjadi istriku!&#8221; sang Prabu menanti jawaban mereka.</p>
<p>&#8220;Tapi, Paduka, kami hanyalah rakyat jelata.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lalu mengapa? Apakah salah? Saya menginginkanmu menjadi istriku jika kamu bersedia. Sekarang jawablah!&#8221; tegas Paduka Prabu.</p>
<p>Seakan tidak percaya sang gadis pun sekonyong-konyong meng-angguk, menyanggupi keinginan sang Prabu. Beberapa hari kemu-dian, diadakanlah prosesi pernikahan di Kerajaan.</p>
<p>Setelah beberapa tahun menikah, mereka dikaruniai dua orang anak perempuan yang mereka beri nama Candi Kuning dan Candi Laras. Keduanya sangat disayangi oleh sang Prabu. Tahun demi tahun berganti. Kedua anak itu pun sudah tumbuh menjadi remaja. Selama itu pula Prabu Gagak Ngampar memerintah dengan adil dan bijaksana.</p>
<p>Setelah meninggal, Prabu Gagak Ngampar digantikan oleh Ar-sagati, yaitu putra Candi Kuning. Arsagati menjasi raja kedua. Se-peninggal Arsagati diangkatlah putranya, yaitu Raksagati yang men-jasi raja ketiga.</p>
<p>Pada zaman pemerintahan Prabu Raksagati kerajaan ini menganut agama Hindu. Sementara itu, Kesultanan Cirebon menganut agama Islam. Sultan Cirebon ingin mengembangkan wilayahnya sekaligus syiar agama hingga ke Kerajaan Dayeuhluhur. Oleh karena itu, di-utuslah Suradika yang sakti mandraguna ke Kerajaan Dayeuhluhur untuk mengadu kesaktian. Berangkatlah Suradika ke Kerajaan Da-yeuhluhur. Dengan kesaktiannya Suradika dalam sekejap sudah sampailah di depan istana Raja Raksagati.</p>
<p>Setelah Suradika mendapat izin dari penjaga istana, menghadaplah Suradika kepada Raja Raksagati. Ia menyampaikan salam kemudian berkata, &#8220;Prabu Raksagati, kedatangan hamba tidak memberi kabar sebelumnya hamba mohon maaf dan hatur salam dari Sultan Cirebon kepada Tuanku Raja!&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya terima salam sembah dari rajamu, sekarang apa tujuanmu ke kerajaanku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ampun, Tuanku. Hamba diutus untuk menyebarkan agama Islam. Jika Paduka tidak berkenan, kami menantang Paduka untuk mengadu kesaktian.&#8221;
&#8220;Saya terima tantanganmu!&#8221;</p>
<p>Penggawa Kerajaan pun sudah siap mengumpulkan rakyat untuk menyaksikan adu kesaktian itu.</p>
<p>&#8220;Rakyat Kerajaan Dayeuhluhur, berkumpulah sekarang, mari kita saksikan adu kesaktian antara raja kita dengan Suradika dari Cirebon!&#8221;
Di halaman istana Kerajaan gegap gempita orang-orang menyak-sikan adu kesaktian itu. Seorang penggawa berwara, &#8220;Para pembesar istana serta rakyat Kerajaan Dayeuhluhur, mari kita lihat adu ke-saktian. yang pertama adalah lomba makan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tuanku Raja Prabu Raksagati makan dengan daging kambing!&#8221; &#8220;Suradika makan dengan lauk daging ayam!&#8221;</p>
<p>&#8220;Siap!&#8221; serempak keduanya menjawab.</p>
<p>Waktu Penggawa Kerajaan memberikan aba-aba, terjadilah ke-anehan. Daging ayam dalam hidangan mengeluarkan suara berkokok, sedang daging kambing yang akan dimakan Raja Raksagati bersuara kambing, maka bersoraklah penonton.</p>
<p>&#8220;Hore, hebat, hebat!&#8221; teriak penonton.</p>
<p>&#8220;Hadirin adu kekuatan pertama seimbang,&#8221; teriak Mamang Lengser.</p>
<p>&#8220;Sekarang adu kesaktian kedua, memasang bubu (perangkap ikan) di halaman istana yang tidak ada airnya!&#8221;</p>
<p>Semua penonton terperangah. Tiba-tiba suatu keajaiban terjadi, di halaman istana yang tidak berair itu, bubu sang Prabu penuh ikan. Semua penonton bersorak, &#8220;Hidup Prabu, hidup Prabu!&#8221; sedang girang-girangnya penonton, tiba-tiba ada lagi keajaiban. Bubu Suradika berhasil menangkap putri sang Prabu. Penggawa sampai menganga mulutnya melihat keajaiban bubu Suradika sambil meloncat loncat, &#8220;Hidup Suradika, hidup Suradika!&#8221;</p>
<p>Dengan kejadian itu sang Prabu menyatakan diri kalah. &#8220;Aku mengakui kekalahanku, Suradika!&#8221;</p>
<p>&#8220;Sekarang sebagai imbalannya, nikahilah putriku yang terkena bubumu itu!&#8221;</p>
<p>Akhirnya, Suradika diangkat menjadi pejabat Kerajaan Dayeuh-luhur. Beberapa saat kemudian, Raja Raksagati mangkat digantikan putranya, Adipati Raksapraja menjasi raja keempat. Dalam me-laksanakan roda pemerintahan, Adipati Raksapraja terkenal sangat adil, arif, dan bijaksana serta mampu menjadi anutan dan pengayom masyarakatnya. Tidak mengherankan apabila masyarakatnya sendiri sangat patuh dan taat serta menghormati sang Adipati.</p>
<p>Keberhasilan Adipati Raksapraja dalam mengatur roda peme-rintahannya tidak terlepas dari pengalaman falsafah leluhurnya yang selalu dipegang teguh, yaitu Rineksa Panca Satya. Falsafah tersebut tidak hanya diamalkan, tetapi benar-benar berdampak kepada kesejahteraan negeri, sifat kerukunan, kegotongroyongan, dan tolong-menolong yang merupakan gambaran kehidupan masyarakat Dayeuhluhur sehari-hari.</p>
<p>Pengaruh Kerajaan Mataram sangat besar di Kerajaan Dayeuh-luhur. Terbukti dengan masuknya Adipati Raksapraja menganut agama Islam. Semakin hari kekuasaan Mataram semakin terasa dan untuk melicinkan jalan tersebut, Kerajaan Mataram melalui Kiai Gendeng Mataram memberikan seorang putri yang cantik jelita untuk diperistri oleh Adipati Raksapraja. Dari perkawinan itu lahirlah bayi laki-laki yang bernama Wirapraja. Kelak kemudian hari Wirapraja diangkat menjadi Adipati di Dayeuhluhur dengan gelar Adipati Wirapraja. Raja Raksapraja mengetahui bahwa permaisurinya adalah mantan selir Sultan Mataram. Wirapraja juga bukanlah anak kandungnya karena waktu itu permaisuri sudah hamil 5 bulan. Namun, sudah terlanjur Wirapraja tetap menggantikan Raksapraja sebagai raja kelima.</p>
<p>Pada suatu pagi yang cerah terdengar suara telapak kaki kuda, datanglah seseorang dari Mataram menghadap Adipati Wirapraja.</p>
<p>&#8220;Adipati yang hamba hormati. Kami diperintahkan Sultan Mataram untuk memperluas pengaruh Mataram ke daerah barat, khususnya Ciancang Ciamis, dengan maksud agar daerah itu takluk terhadap Mataram dan mempertahankan wilayah kita dari Kompeni Belanda.&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya terima maksud kedatangan Adipati untuk bergabung ber-sama pasukan kami dari Dayeuhluhur. Mudah-mudahan Ciancang Ciamis tidak dapat direbut oleh pihak Belanda.&#8221;</p>
<p>Dipersiapkanlah semua perlengkapan perang. Kegagalan me-nangkap pasukan Diponegoro dan menumpas pemberontakan di Mataram menimbulkan kemarahan pihak Belanda. Akibatnya, Be-landa secara membabi buta melakukan pembakaran desa-desa, menganiaya anak-anak, berbuat tercela terhadap perempuan, dan membunuh para tawanan. Dengan menyaksikan kejadian itu, pa-sukan Mataram dan prajurit Dayeuhluhur sangat geram terhadap kelakuan Belanda.</p>
<p>&#8220;Mari kita bersatu untuk memperkuat perlawanan kita kepada Belanda! Kita satukan kekuatan kita dan mari kita berjuang sampai titik darah penghabisan. Kita namai pasukan kita dengan nama Gerombolan Wetan. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, hidup pejuang kita, hidup!&#8221; begitu teriak semangat pejuang kita.</p>
<p>Pada hari yang sudah ditentukan, bersiaplah semua prajurit dengan segala perlengkapan perang untuk segera berangkat. Adi-pati Wirapraja memimpin pasukan sendiri. Keesokan harinya se-mua pasukan gabungan berangkat menuju Ciancang Ciamis, dan terjadilah pertempuran berhari-hari. Bunyi gemerincing senjata beradu keris dan tombak semakin riuh. Perkelahian satu lawan satu antara serdadu Belanda dan pasukan Gerombolan Wetan makin memuncak. Satu persatu pasukan Gerombolan Wetan tewas karena para pejuang hanya bersenjata keris dan tombak, sedangkan Belanda menggunakan senjata modern. Dengan demikian, banyak korban di pihak kita, tetapi pejuang kita masih pantang menyerah. Mereka mempertaruhkan nyawanya untuk memenangi peperangan.</p>
<p>Ketika peperangan berlangsung, tiba-tiba terdengar teriakan komandan serdadu Belanda, &#8220;Hei, kalian para ekstremis. Kalian me-nyerah saja, pemimpinmu telah tertembak! Mengapa kalian diam saja? Ayo menyerahlah kalau kalian orang punya mulut.&#8221;</p>
<p>Alangkah terkejutnya para pejuang mendengar teriakan itu. Mereka tidak menyangka Adipati Wirapraja telah gugur. Sesaat para pejuang terpukau. Akan tetapi, keheningan hanya berjalan sebentar saja. Para pejuang kembali bersemangat. Kehendak untuk menebus jiwa pemimpin merajai hati mereka.</p>
<p>&#8220;Ayo bangkit! Maju terus! Kita berjuang sampai titik penghabisan.</p>
<p>Allahu Akbar, Allahu Akbar,&#8221; teriak para pejuang Adipati Wirapraja.</p>
<p>Daerah pertempuran berpindah ke sebelah timur Ciancang Ciamis. Mayat bergelimpangan di sisi sungai. Pasukan yang masih hidup mundur karena tidak mungkin dapat melanjutkan lagi perlawanannya. Namun, para pejuang tidak patah semangat. Bahkan, kejadian itu menambah rasa benci kepada Belanda. Semangat baru untuk mempertahankan negara tercinta ini timbul lebih hebat dari yang sudah-sudah.</p>
<p>Malam bertambah pekat, hujan mulai turun dengan derasnya sehingga serdadu Belanda tidak meneruskan perlawanannya ter-hadap pasukan kita. Pasukan kembali ke Kerajaan Dayeuhluhur.</p>
<p>Sepeninggal Adipati Wirapraja Raja Dayeuhluhur digantikan oleh Wiradika I (raja keenam). Wiradika I mangkat dilanjutkan oleh Wiradika II. Selanjutnya, Wiradika II dilanjutkan oleh Wiradika III dengan gelar Raden Tumenggung Prawiranegara. Beliau aktif dalam perang Diponegoro. Dengan wafatnya Adipati Wirapraja, perjuangannya diteruskan oleh cucunya, yaitu Raden Tumenggung Prawiranegara.</p>
<p>Para pejuang pada waktu itu tidak patah semangat. Bersama Tumenggung Prawiranegara, mereka ikut berjuang dengan pasukan Diponegoro. Hal itu diketahui oleh Belanda sehingga Belanda mengadakan patroli ke desa-desa untuk mencari Tumenggung Prawiranegara.</p>
<p>Pada suatu hari datanglah pasukan Belanda, sebagian mengendarai kuda, sebagian lagi mengendarai mobil baja. Mereka menyusuri jalan-jalan kecil di perdesaan lengkap dengan persenjataan. Para serdadu Belanda membakar rumah penduduk, lalu menangkap anak dan perempuan. Suasana desa menjadi kalang kabut. Para serdadu Belanda dengan semena-mena menyiksa para penduduk yang tidak berdosa dan dikumpulkan di suatu tempat. Dengan hilir mudik pemimpin Belanda marah-marah karena yang mereka cari tidak ada.</p>
<p>&#8220;Hei kamu pemberontak! Tunjukkan di mana pemimpinmu!&#8221; bentak pemimpin Belanda sambil memukulkan senjata ke kepala penduduk itu.
&#8220;Ampun, saya tidak tahu,&#8221; teriak penduduk dengan takutnya. &#8220;Kamu bohong!&#8221;</p>
<p>&#8220;Hei pemberontak, keluarlah! Menyerahlah Prawiranegara, tem-pat ini sudah saya kepung. Kalau tidak mau menyerah, tawanan ini akan saya tembak!&#8221;
Melihat kejadian itu, Tumenggung Prawiranegara sangat geram, kemudian dia ke luar dari persembunyiannya.</p>
<p>&#8220;Hei Penjajah, kamu sangat kejam dan licik! Kamu pengecut, kamu jadikan orang-orang yang tidak berdosa sebagai tawanan. Sekarang lepaskan penduduk yang tidak berdosa itu dan tangkaplah aku!&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagus, kamu orang berani menampakkan diri!&#8221; kata pemimpin Belanda dengan tertawa terbahak-bahak. Tidak melewatkan ke-sempatan itu, secepat kilat para penjajah menangkap Tumenggung Prawiranegara. Lalu, beliau diasingkan ke Padang, Sumatera Barat, pada tahun 1831 sampai meninggal.</p>
<p>Sejak saat itu Kerajaan atau Kadipaten Dayeuhluhur bubar dan wilayahnya diubah atas keputusan Belanda menjadi wilayah Ka-bupaten Cilacap. Berdasarkan besluit Gubernur Jenderal Belanda Nomor 21, tertanggal 21 Maret 1856 sampai sekarang wilayah Ka-bupaten Cilacap ini adalah 2/3 wilayah Kadipaten Dayeuhluhur.</p>
<p>Itulah tadi sekelumit cerita tentang perjuangan nenek moyang kita untuk mempertahankan daerah Dayeuhluhur untuk Negara Indonesia.</p>
<p style="text-align: right!">Oleh : Umi Farida</p>
<p style="text-align: right!">Disadur dari Cerita Rakyat Cilacap, Penerbit: Balai Bahasa Jawa Tengah Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2017</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/alam-dayeuhluhur-cilacap.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="700"
				height="393">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[alam dayeuhluhur cilacap]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/alam-dayeuhluhur-cilacap-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[alam dayeuhluhur cilacap]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Kisah Ular Lembu, Misteri Melegenda di Kalimantan</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-20883/kisah-ular-lembu-misteri-melegenda-di-kalimantan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 20 Dec 2019 08:36:18 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Cerita Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Misteri]]></category>
		<category><![CDATA[Ular Lembu]]></category>
		<category><![CDATA[Video]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-20883/kisah-ular-lembu-misteri-melegenda-di-kalimantan</guid>

					<description><![CDATA[ aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Ular Lembu, penghuni dan penunggu sungai di wilayah pulau kalimantan yang melegenda. Ular ini bukanlah ular biasa, namun ular ini berukuran besar, Bahkan saking besarnya, ular ini mampu menjebol bendungan.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Ular Lembu, penghuni dan penunggu sungai di wilayah pulau kalimantan yang melegenda. Ular ini bukanlah ular biasa, namun ular ini berukuran besar, Bahkan saking besarnya, ular ini mampu menjebol bendungan.</p>
<p>Seperti halnya orang jawa, orang kalimantan juga menamai hewan Sapi dengan nama Lembu, lalu adakah hubungannya Ular dengan Lembu?</p>
<p>Dinamakan ular lembu dikarenakan kepalanya menyerupai kepala Lembu (Sapi), namun badannya seperti ular.</p>
<p>Kisah melegenda terkait angkernya sungai-sungai besar dikalimantan seperti salah satunya ular lembu ini, bagi masyarakat sana, cerita ini adalah cerita rakyat yang sudah ada sejak turun temurun.</p>
<p>Namun tak menampik, jika hal tersebut oleh sebagian orang, dianggap hanyalah mitos dan tahayul belaka, sekali lagi <a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; hanya berbagi kisah dan cerita rakyat.</p>
<p>Mitos ular lembu ini pernah membuat masyarakat di Kalimantan tepatnya di desa Sebulu Ilir Kabupaten Kutai, Kartanegara, Kalimantan Timur gempar.</p>
<p>Pasalnya, Ular Lembu ini muncul di sebuah sungai dan seperti mengamuk, akibatnya waktu itu yang pada tanggal 28 Agustus 2011, satu rumah yang berada dekat aliran sungai itupun menjadi korban ngerinya Ular Lembu satu ini.</p>
<p>Hal ini, <a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; ulas dari Cuplikan kanal video yang publish saat youtube belum seperti sekarang, yaitu publish di tahun 2011 dan video tersebut berdurasi 13 menit 49 detik.</p>
<p>Video tersebut di publikasi oleh akun youtube bernama Jeery Sarimole. Dalam unggahannya, dia juga memberikan sedikit deskripsi singkat bahwa.</p>
<p>Ular lembu merupakan cerita mitologi di Indonesia, salah satunya di Kalimantan. Film ini direkam dengan kamera ponsel saat longsor melanda desa Sebulu Kukar Kaltim, Agustus 2011 lalu. Longsor yang mengakibatkan rubuhnya beberapa rumah di desa Sebulu di pinggir sungai Mahakam ini dipercaya masyarakat Sebulu akibat ulah ular lembu, yang salah satunya terekam dalam video amatir ini.</p>
<p>Namun ketika <a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; telusuri, salah satu blogger menjelaskan dengan detail bahwa video tersebut hanyalah dugaan saja.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[cilacap info featured]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[cilacap info featured]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Kisah Lembu Andini di Gunung Jambu Wanareja Cilacap yang Konon Angker</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-19244/kisah-lembu-andini-gunung-jambu-angker-di-wanareja-cilacap</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Huda]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Nov 2019 22:13:03 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Cerita Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Wanareja]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-19244/kisah-lembu-andini-gunung-jambu-angker-di-wanareja-cilacap</guid>

					<description><![CDATA[ aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Alkisah, di Pulau Jawa, tepatnya di dalam wilayah kerajaan yang terletak di ujung timur telatah Galuh Pakuan atau Pajajaran, hiduplah seorang raja yang sangat arief dan bijaksana. Raja itu bernama Prabu Aji Kusuma. Ia mempunyai permasuri bernama Roro Ayu Pinasih dan putra mahkota bernama Lembu Andini. ]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Alkisah, di Pulau Jawa, tepatnya di dalam wilayah kerajaan yang terletak di ujung timur telatah Galuh Pakuan atau Pajajaran, hiduplah seorang raja yang sangat arief dan bijaksana. Raja itu bernama Prabu Aji Kusuma. Ia mempunyai permasuri bernama Roro Ayu Pinasih dan putra mahkota bernama Lembu Andini. </p>
<p>Kerajaan yang dipimpinnya bernama Pasir Loka. Raja Aji Kusuma sangat dicintai oleh rakyatnya. Selain arif dan bijaksana, Raja itu memiliki paras yang tampan dan perilaku yang baik. Dia juga memiliki ilmu kanuragan yang tinggi. Dia dikenal sebagai raja yang bijak dan selalu berperilaku adil. Oleh karena itu, ia berhasil membawa negeri yang dipimpinnya menjadi negeri yang makmur gemah ripah loh jinawi.</p>
<p>Rakyatnya hidup dalam keadaan serba kecukupan. Kemiskinan tidak akan dijumpai di negeri ini. Sebuah negeri yang memikirkan kesejahteraan rakyat. Hasil kerja sang raja yang memiliki pemikiran bahwa kekuatan sebuah negeri salah satu pilarnya adalah kesejahteraan rakyatnya.</p>
<h2>Legenda Gunung Jambu: Lembu Andini Mencari Air Abadi</h2>
<p>Raja Aji Kusuma dapat dikatakan sebagai sosok yang sempurna sebagai seorang pemimpin. Ia akan turun tangan secara langsung jika ada salah satu rakyatnya memerlukan bantuan dalam memecahkan persoalan yang dihadapi. Ia juga dikenal sebagai raja yang derma- wan dan selalu akan mengulurkan tangan bagi siapa saja yang mem- butuhkan bantuannya. </p>
<p>Kebahagiaan selalu mewarnai kehidupan keluarga dan rakyatnya. Keadaan yang demikian tiba-tiba berubah menjadi duka bagi seluruh keluarga Kerajaan dan seluruh rakyat Pasir Loka. Permaisuri jatuh sakit. Kondisinya dari hari ke hari makin memburuk. Seluruh ahli pengobatan, baik yang berasal dari Pasir Loka maupun dari kerajaan tetangga, sudah diundang untuk mengobati sang permaisuri. Akan tetapi, semuanya tidak mengubah keadaan. Sang permaisuri tetap terbaring di tempat tidur dengan derita sakit yang tak kunjung sembuh.</p>
<p>&#8220;Aku harus bagaimana lagi, Patih? Semua tabib dan ahli peng- obatan sudah aku datangkan dari seluruh pelosok negeri untuk mengobati permaisuri, tapi apa hasilnya? Istriku tetap terbaring tak berdaya dengan sakit yang dideritanya,&#8221; ucap sang Raja kepada Patih.</p>
<p>&#8220;Ampun&#8230; Mohon seribu ampun, Paduka. Keadaan permisuri memang belum membaik, tapi kita harus tetap berusaha untuk me- nyembuhkannya. Segala cara harus kita lakukan untuk mecari jalan ke luar dari persoalan ini. Kita tidak boleh putus asa,&#8221; ujar sang patih.</p>
<p>&#8220;Benar, Ayahanda, kita jangan berputus asa, masih ada harapan untuk kesembuhan ibunda, asalkan kita tetap berusaha dan selalu meminta petunjuk kepada Sang Hyang Widi. Untuk itu, izinian hamba melakukan tapa brata guna mendapatkan petunjuk dari-Nya,&#8221; Lembu Andini mencoba untuk menguatkan hati ayahandanya.</p>
<p>Prabu Aji Kusuma dan Lembu Andini melakukan tapa brata, meminta petunjuk dari Sang Hyang Widi untuk kesembuhan sang permaisuri. Bahkan, seluruh rakyat Kerajaan Pasir Loka berdoa me- mohon kepada Sang Hyang Widi untuk kesembuhan permaisuri. Kabar sakitnya sang permaisuri Kerajaan Pasir Loka sampai di tanah seberang. Seorang tabib yang bernama Sokra sengaja datang ke Kerajaan Pasir Loka untuk memeriksa sang permaisuri.</p>
<h2>Kisah Lembu Andini Gunung Jambu Wanareja</h2>
<p>&#8220;Ampun&#8230; Beribu ampun, Paduka. Nama saya Sokra. Saya sengaja menghadap Paduka untuk meminta izin memeriksa permaisuri. Saya mendengar kabar bahwa sang Permaisuri sakit keras dan tak kunjung datang obat yang mampu menyembuhkannya.&#8221;</p>
<p>Sang Raja menyambut Sokra dengan sukacita. Sokra diizinian untuk memeriksa Permaisuri. &#8220;Sokra, aku terima niat baikmu ini. Patih antarkan Sokra ke kamar permaisuri, biarkan dia memeriksa permaisuri. Siapa tahu dialah jawaban atas doa-doaku selama ini.&#8221;</p>
<p>Setelah melakukan pemeriksaan terhadap permaisuri secara teliti, Sokra menghadap raja dan melaporkan hasil pemeriksaannya. Sokra mengatakan bahwa sakit yang diderita permaisuri bukanlah penyakit biasa. Tidak akan pernah ada obat yang mampu menyembuhkannya kecuali air yang disediakan oleh alam, yaitu air abadi yang terletak di tepi Sungai Citanduy arah ke sebelah timur Jawa Barat.</p>
<p>Untuk mendapatkan air tersebut bukanlah hal mudah, mengingat air itu dijaga oleh jin yang memiliki kesaktian luar biasa. Sebelum sampai ke tempat itu, seseorang yang ingin mengambil air abadi juga harus melewati tempat-tempat yang tidak semua orang diizinian lewat, kecuali jika orang tersebut mampu mengalahkan jin penunggu tempat tersebut.</p>
<p>Mendengar penjelasan Sokra, wajah sang Raja kembali berseri. Terbesit sebuah harapan untuk kesembuhan istri tercinta. Namun, persoalannya adalah siapa yang akan diutus ke sana untuk mengambil air abadi. Siapakah di antara perwira dan panglima perangnya yang memiliki kesaktian untuk menghadapi kesaktian jin-jin yang diutarakan oleh Sokra, terutama Jin penunggu Air Abadi.</p>
<p>Tanpa menunggu waktu lama, Raja mengumpulkan seluruh perwira dan panglima perangnya. Raja menceritakan tentang air suci yang mampu menyembuhkan permaisuri dari sakitnya selama ini. Raja juga menceritakan tentang jin-jin yang harus dihadapi untuk sampai di tepian Sungai Citanduy. Kemudian, raja menawarkan kepada panglima perang dan perwira yang ada di kerajaannya. Sebelum ada yang menyanggupi titah raja tiba-tiba Lembu Andini menyatakan sanggup untuk mengemban titah raja.</p>
<h2>Legenda Gunung Jambu: Lembu Andini Mencari Air Abadi</h2>
<p>&#8220;Ampun beribu ampun, Ayahanda, ananda sanggup untuk meng- emban tugas ini.&#8221;
&#8220;Tapi ini terlalu berbahaya bagimu putraku. Kamu harus me- lakukan perjalanan yang sangat jauh dengan berbagai rintangan dan hambatan yang diap menghadangmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Demi ibunda, ananda sanggup menghadapi itu semua meskipun harus meregang nyawa. Izinian ananda menjalankan bakti sebagai seorang anak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah jika itu sudah menjadi tekadmu. Bawalah pasukan untuk menemanimu selama perjalanan agar keselamatanmu lebih terjamin.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sekali lagi ampun beribu ampun, Ayahanda, Bukannya ananda menentang perintah Ayahanda. Ananda tidak akan membawa pasukan karena justru akan menarik perhatian orang. Biarkanlah ananda berangkat dengan ditemani Cekur dan Sabini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah kalau seperti itu yang kamu mau. Semoga Sang Hyang Widi menjaga perjalananmu sehingga kamu dapat sampai di sungai Citanduy dan mengambil air abadi untuk ibumu.&#8221;</p>
<p>Setelah memohon doa restu pada Raja dan Ratu, Lembu Andini berangkat dengan ditemani dua orang cantrik yang bernama Cekur dan Sabini. Perjalanan berat dan berbahaya mereka jalani. Mereka harus melintasi hutan belantara, ngarai, Bahkan gunung yang semua dihuni oleh jin dan hewan buas. Namun, semua itu tidak menyurutkan langkah Lembu Andini. Niat dan tekadnya sudah bulat harus membawa air abadi itu untuk kesembuhan ibundanya.</p>
<p>Perbekalan Lembu Andini dan cantriknya sudah semakin menipis dan Lembu Andini sampailah ke daerah Bantarmanggu (di daerah Kecamatan Wanareja). di Bantarmanggu Lembu Andini dan kedua cantriknya beristirahat beberapa hari sambil mencari informasi letak keberadaan air abadi yang ada di daerah selatan Wanareja. di samping itu, mereka juga mencari tambahan bekal. Setelah beberapa hari beristirahat, mereka melanjutkan perjalanan menuju arah selatan.</p>
<p>Setelah menempuh perjalanan selama beberapa hari sampailah mereka di Gunung Tunggul Buta (daerah Meluwung) yang terkenal angker dan wingit.</p>
<h2>Cerita Rakyat Gunung Jambu di Cilongkrang Wanareja</h2>
<p>Gunung itu dihuni oleh jin bernama Blaka Suta. Ia terkenal bengis dan kejam juga sakti mandraguna. &#8220;Raden, kalau tidak salah perhitungan dan melihat ciri-ciri tempat ini, kita telah sampai di telatah Gunung Tunggul Buta,&#8221; kata Cekur.</p>
<p>&#8220;Benar sekali, Paman, berarti tidak lama lagi kita akan sampai di tempat tujuan kita. Jika berjalan lebih cepat, besok pagi kita sudah akan ke luar dari telatah ini.&#8221;</p>
<p>Baru saja Lembu Andini selesai berujar, langit menjadi gelap karena awan. Udara di sekitar menjadi lebih dingin dan suasana sangat mencekam. Angin tiba-tiba bertiup kencang menebarkan aroma yang sangat anyir dan membuat perut menjadi mual. Cekur dan Sabini sangat ketakutan melihat perubahan alam yang terjadi secara tiba-tiba. Langkah ketiga orang itu terhenti ketika terdengar tawa menggelegar yang membuat bulu kuduk berdiri. Lembu Andini berbisik kepada kedua cantriknya.</p>
<p>&#8220;Waspadalah, Paman, dan jangan jauh-jauh dariku.&#8221; Suara tawa itu semakin menggelegar dan menyakitkan telinga. &#8220;Ha&#8230; ha&#8230; ha&#8230; ha&#8230; ha&#8230; siapa kalian cecunguk yang berani
memasuki wilayah Blaka Suta tanpa seizin Blaka Suta. Perkenalkan diri
kalian dan utarakan maksud kalian masuk ke wilayah kekuasaanku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Perkenalkan, saya Lembu Andini dan kedua orang ini adalah cantrikku. Saya dari Pasir Loka hendak ke Sungai Citanduy mengambil air abadi.&#8221;
&#8220;Huaha&#8230; ha&#8230; ha&#8230; ha&#8230; Lembu Andini dari Pasir Loka, putra Raja Aji Kusuma? Berani sekali kamu hendak mengambil air abadi. Aku sarankan, kembali saja kamu, Lembu Andini, ke Pasir Loka karena tidak ada seorang pun yang aku izinian melewati wilayah kekuasaanku ini, kecuali jika dia sudah bosan hidup. Hahahaha&#8230; hahaha. &#8221;</p>
<p>&#8220;Saya tidak mau menabur permusuhan dengan kamu, Blaka Suta. Oleh karena itu, izinian saya lewat. Apa pun risikonya, saya siap menghadapinya. Demi baktiku kepada orang tuaku, aku siap ke- hilangan nyawaku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hahahaha&#8230; hahaha.Sudah siap untuk mati rupanya?&#8221;</p>
<h2>Legenda Gunung Jambu: Lembu Andini Mencari Air Abadi</h2>
<p>Setelah Blaka Suta berkata seperti itu, tiba-tiba muncul gulungan asap hitam pekat yang sangat tebal. Asap itu makin lama makin menipis dan muncullah sosok jin raksasa yang sangat menakutkan. Tangan kanan raksasa itu memegang gada berduri yang sangat mengerikan. Tangan kiri memegang tombak tak berujung. </p>
<p>Wajah jin raksasa itu sangat menyeramkan. Mata sebelah kiri berlubang, hanya hitam pekat yang tampak dari depan. Mata sebelah kanan menatap nanar ke arah Lembu Andini dan kedua cantriknya. Telinga raksasa itu besar meruncing ke atas. Tubuhnya dipenuhi bulu-bulu kasar berwarna hitam pekat. Hal yang paling mengerikan adalah kalung yang dipakai oleh jin raksasa itu. Kalung tersebut dibuat dari tengkorak manusia yang berhasil dibunuhnya.</p>
<p>Karena telatah itu adalah satu-satunya jalan yang harus dilewati untuk sampai di Sungai Cintanduy, pertempuran pun tidak dapat dihindari. Pertarungan itu berlangsung sangat sengit, banyak pohon yang tumbang akibat begitu dahsyatnya kekuatan kedua makhluk yang sedang bertempur. Lembu Andini dengan gesitnya melompat ke kanan, ke kiri, ke atas, dan sesekali ke bawah untuk mendapatkan peluang melancarkan serangan mautnya. Pukulan gada raksasa juga tidak kalah dahsyat.</p>
<p>Hembusan angin yang dimunculkan dari ayunan gada itu mampu menumbangkan beberapa pohon di sekitarnya. Tombak tak berujung menohok pada bagian-bagian tubuh Lembun Andini yang mematikan. Pertarungan itu berlangsung cukup lama, hingga suatu saat Lembu Andini memiliki kesempatan untuk me- lancarkan ajiannya ke bagian ulu hati sang Jin raksasa Blaka Sutha. Blaka Sutha meraung kesakitan.</p>
<p>Suaranya sangat mengerikan. Tidak berapa lama, Blaka Sutha terhempas ke bumi tubuhnya ter- kapar tak berdaya. Tanpa membuang kesempatan Lembu Andini langsung melompat naik ke arah leher sang Raksasa dan siap untuk melancarkan pukulan yang mampu meruntuhkan gunung dan membut kering air danau. Keanehan terjadi, meskipun ukuran tubuh Lembu Andini hanya sebesar Ibu jari Blaka Sutha, Blaka Sutha tidak mampu bangkit. Seolah-olah dia ditimpa oleh ratusan gunung yang membuatnya tidak mampu berdiri.</p>
<p>&#8220;Ampun&#8230; ampun wahai Lembu Andini, putra Prabu Aji Kusuma dari Pasir Loka. Aku mengaku kalah. Ampunilah aku yang tidak berdaya ini. Aku bersedia mengabdikan diri kepadamu karena kamu begitu sakti. Baru kamulah makhluk dari alam manusia yang mampu mengalahkanku.&#8221;</p>
<h2>Kisah Lembu Andini dan Arca di Gunung Jambu Wanareja</h2>
<p>Lembu Andini melancarkan ajiannya ke bagian ulu hati jin raksasa Blaka Sutha sehingga jin itu pun meraung kesakitan.</p>
<p>Mendengar erangan Blaka Sutha, Lembu Andini mengurungkan niatnya untuk membunuh Blaka Sutha. Masih tetap dalam posisi siaga Lembu Andini berkata.
&#8220;Baiklah&#8230; pada dasarnya aku tidak memiliki niat untuk ber- musuhan, bertarung, dan membunuhmu. Aku akan mengampuni nyawamu, tapi dengan satu syarat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah, Lembu Andini, apa pun syaratmu akan aku turuti.&#8221; &#8220;Blaka Sutha, mulai detik ini, kamu tidak boleh mengganggu manusia atau apa pun yang akan melewati wilayahmu ini, meskipun
itu tanpa seizinmu. Apa kau sanggup memenuhi permintaanku ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya sanggup, Lembu Andini. Saya tidak akan pernah meng- ganggu lagi makhluk hidup yang akan melewati telatah ini. Jika kamu izinian, saya ingin mengikuti kamu. Saya mau melayani kamu,
Lembu Andini.&#8221;</p>
<p>Setelah kesepakatan disetujui oleh kedua belah pihak, Lembu Andini lalu melompat turun dari leher sang raksasa. Secara tiba-tiba tubuh Blaka Sutha Lenyap dari pandangan.</p>
<h2>Legenda Gunung Jambu: Lembu Andini Mencari Air Abadi</h2>
<p>Berubah menjadi kabut hitam pekat yang lama kelamaan menipis dan hilang dari pandangan. Mereka bertiga dan ditemani oleh Blaka Sutha melanjutkan per- jalanan hingga sampailah mereka di sebuah gunung yang menawan dan berbentuk aneh. Gunung tersebut jika dilihat dari arah timur (Cipari) dan dari arah utara (Cimanggu tepatnya Genteng) bentuk- nya menyerupai kelir wayang, sehingga oleh Lembu Andini diberi nama Gunung Kelir. </p>
<p>Gunung itu terletak di area perkebunan PTPN IX Kawung, tepatnya di daerah Cilongkrang sebelah utara. Setelah berbulan-bulan perjalanan, sampailah Lembu Andini dan cantriknya di Gunung Jambu. Sesuai dengan petunjuk Blaka Sutha, Lembu Andini melakukan semadi untuk meminta petunjuk pada Sang Hyang Widhi di mana letak air abadi itu. Hari pertama sampai dengan hari ke lima dalam semadinya, Lembu Andini didatangi oleh makhluk-makhluk yang sangat menyeramkan. </p>
<p>Pada hari keenam, Lembu Andini didatangi perempuan-perempuan cantik. Perempuan- perempuan itu menggoda Lembu Andini dengan menebarkan aroma wewangian yang mampu mengganggu kaum laki-laki. Niatan tulus dan rasa bakti kepada orang tualah yang membuat Lembu Andini mampu melewati semua godaan dalam semadinya. Pada hari ketujuh, hari terakhir semadinya, Lembu Andini didatangi oleh seorang putri cantik bernama Dewi Roro Ambarwati. Dewi Roro Ambarwati bertanya pada Lembu Andini,</p>
<p>&#8220;Ki Sanak, aku perhatikan semadi kamu begitu sempurna bagi seorang manusia. Kamu telah berhasil mengalahkan seluruh nafsu yang ada dalam dirimu. Dari semua yang kamu lakukan pasti kamu memiliki tujuan. Apa maksud dan tujuan Ki Sanak ke sini?&#8221;</p>
<p>Lembu Andini menjawab, &#8220;Putri, saya Lembu Andini dari Pasir Loka. Kedatangan saya ke sini karena diutus oleh ayahanda Prabu Aji Kusumo dari Galuh Pakuan supaya mencari air abadi di daerah ini untuk mengobati bunda ratu yang sedang sakit. Rasa bakti kepada ibukulah yang membantuku mendapat restu dari Sang Hyang Widhi untuk dapat melalui semua halangan dan rintangan selama perjalananku menuju ke sini&#8221;</p>
<h2>Legenda Gunung Jambu: Lembu Andini Mencari Air Abadi</h2>
<p>Putri menjawab, &#8221; Niatanmu sangat mulia, Lembu Andini. Selain memiliki paras yang tampan, hatimu juga bersih dan mulia. Saya mau menolong mencari air abadi itu, tetapi ada syarat yang harus kamu penuhi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apakah itu, sang Putri.&#8221;
&#8220;Kamu harus bersedia mengambil saya menjadi istri dan bersedia tinggal di gunung ini. Karena hanya itu satu-satunya pilihan yang terbaik untuk mendapat air abadi itu. Jika kamu menolak syarat ini, kamu tidak akan pernah dapat mendapatkan air abadi itu!&#8221;
&#8220;Baiklah, Putri. Jika memang itu yang harus aku lakukan, demi baktiku kepada ibuku, aku mau melakukannya. Namun, sebelumnya izinian aku untuk pulang terlebih dahulu mengantarkan air abadi ke ibuku. Setelah ibuku sembuh dan pulih seperti sediakala, aku akan memenuhi janjiku kepadamu.&#8221;</p>
<p>Setelah kedua makhluk yang berlainan alam ini bersepakat, putri mengajak Lembu Andini mengambil air abadi di suatu tempat bernama Cikoek, yaitu sebuah mata air yang tidak jauh dari Gunung Jambu tersebut. Setelah mendapatkan air abadi tersebut, Lembu Andini pulang ke Keraton Pasir Loka dan memberikan air itu pada sang bunda untuk diminum. Atas ridho Hyang Widhi ratu berangsur sembuh.</p>
<p>Dengan kesembuhan sang ratu seluruh Keraton Pasir Loka bersukacita, mereka mengadakan pesta pora selama tujuh hari tujuh malam. Keramaian itu diisi dengan berbagai pertunjukan. Setelah yakin kalau ibundanya telah pulih seperti sediakala, Lembu Andini menghadap ayahanda dan ibundanya dan menceritakan panjang lebar kisah pada saat mencari air abadi itu.</p>
<p>Dengan berat hati raja dan ratu Pasir Loka melepas kepergian putra mahkotanya pergi memenuhi janjinya pada sang putri. Lembu Andini benar-benar menjadi suami Dewi Roro Ambarwati. Dengan kesaktiannya, Dewi Roro Ambarwati membawa sukma Lembu Andini dan dua cantriknya masuk ke dalam gunung tersebut.</p>
<p>Sampai sekarang masih ada petilasan di Gunung Jambu (Jambu Raya di daerah Cilongkrang berbatasan dengan Desa Purwosari).</p>
<h2>Legenda Gunung Jambu: Lembu Andini Mencari Air Abadi</h2>
<p>Patung berbentuk sapi yang menghadap ke barat penjelmaan Lembu Andini dan dua cantriknya berbentuk alu dan lesung. Dan, tempat moksa mereka bertiga terdapat batu hitam yang bulat, yang menurut mitos dapat terangkat oleh seseorang yang jika berkeinginan akan terkabul. Jika batu tersebut letaknya dipindah, keesokan harinya akan kembali ke tempat semula dengan sendirinya.</p>
<p>Tempat air abadi itu sampai sekarang masih ada yang terkenal dengan nama Cikoek yang masih terkenal angker dan wingit. Konon, masih terlihat beberapa hewan buas seperti harimau yang kadang terlihat oleh penduduk sedang minum di mata air tersebut. Menurut penduduk setempat di daerah Gunung Jambu tersebut ada sebuah candi yang belum digali.</p>
<p><strong>Sumber: Cerita Rakyat Balai Bahasa Jawa Tengah Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2017.</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/ilustrasi-lembu-andini.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[ilustrasi lembu andini]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/ilustrasi-lembu-andini-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[ilustrasi lembu andini]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Kisah Makam Kiai di Wanareja Cilacap Beralih Fungsi Jadi Tempat Pesugihan</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-18852/kisah-makam-kiai-di-wanareja-cilacap-beralih-fungsi-jadi-tempat-pesugihan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 29 Oct 2019 12:31:58 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Cerita Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Wanareja]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-18852/kisah-makam-kiai-di-wanareja-cilacap-beralih-fungsi-jadi-tempat-pesugihan</guid>

					<description><![CDATA[ aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; di sebuah dusun bernama Panyingkiran Desa Limbangan yang dekat dengan perbatasan Desa Malabar Kecamatan Wanareja terdapat pemakaman umum.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; di sebuah dusun bernama Panyingkiran Desa Limbangan yang dekat dengan perbatasan Desa Malabar Kecamatan Wanareja terdapat pemakaman umum.</p>
<p>Salah satu dipemakaman itu terdapat makam seorang kiai yang telah berjuang menyiarkan agama islam di wilayah Kecamatan Wanareja Kabupaten Cilacap, yaitu mbah surandika.</p>
<p>Hal itu dikisahkan seorang warga asal Malabar Wanareja Cilacap yang juga berprofesi sebagai seorang guru.</p>
<p>Menurutnya, mbah surandika adalah kiai yang menyiarkan islam di wilayah tersebut. Namun beberapa tahun terakhir hingga kini malah terkenal sebagai tempat keramat yang digunakan untuk mencari pesugihan.</p>
<p>Banyak warga dari daerah lain berdatangan, ada yang datang dari Kota Banjar, dari Ciamis dan juga ada yang dari Tasikmalaya.</p>
<p>Mereka rela datang jauh-jauh ke Malabar Wanareja Cilacap hanya untuk mencari kekayaan dengan bertapa dimakam mbah surandika. Bahkan mereka rela menginap agar tercapai hajatnya dalam mencari kekayaan.</p>
<p>Cerita yang dikatakan seorang guru asal malabar ini, bahwa mbah surandika adalah kiai semasa hidupnya ini cukup menarik untuk dicari tau kebenarannya.</p>
<p>Apabila hal itu benar, maka makam beliau bisa jadi tempat ziarah seperti makam para kiai kebanyakan.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[cilacap info featured]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[cilacap info featured]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Kisah Haryo Leno Pendiri Sidareja Cilacap</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-18777/kisah-haryo-leno-pendiri-sidareja-cilacap</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 24 Oct 2019 17:15:15 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Cerita Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Sidareja]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-18777/kisah-haryo-leno-pendiri-sidareja-cilacap</guid>

					<description><![CDATA[ aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Alkisah, Pasirluhur adalah sebuah kadipaten yang gemah ripah loh jinawi. Kadipaten tersebut dipimpin oleh seorang adipati yang arif bijaksana dan mengayomi rakyat. Beliau adalah Kanjeng Adipati Kadang Doho. Kanjeng Adipati mempunyai seorang putri yang cantik jelita, yaitu Dewi Ciptarasa.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Alkisah, Pasirluhur adalah sebuah kadipaten yang gemah ripah loh jinawi. Kadipaten tersebut dipimpin oleh seorang adipati yang arif bijaksana dan mengayomi rakyat. Beliau adalah Kanjeng Adipati Kadang Doho. Kanjeng Adipati mempunyai seorang putri yang cantik jelita, yaitu Dewi Ciptarasa.</p>
<p>Kecantikan Dewi Ciptarasa tidak hanya dikagumi di kadipatennya, tetapi juga terkenal hingga kadipaten-kadipaten di sekitarnya. Bahkan, telah sampai pula kabar kecantikannya tersebut hingga ke tanah Pajajaran. Nama Dewi Ciptarasa berasal dari kata cipta dan rasa yang memiliki arti ‘menggugah rasa’. Setiap orang yang melihat Dewi Ciptarasa akan tertarik kepadanya.</p>
<p>Dewi Ciptarasa memiliki kulit yang putih dan halus bagaikan pualam. Wajahnya cantik bagaikan bidadari. Rambutnya panjang, lebat, dan hitam berkilau. Alisnya sehitam arang kayu. Matanya jernih indah berseri. Bibirnya merah merona bagaikan buah ceri. Badannya anggun tinggi semampai. Tidak akan ada habisnya mengagumi kecantikan Dewi Ciptarasa. Semua keindahan ada padanya dan semuanya menyatu hingga terbentuklah kecantikan yang sempurna.</p>
<p>Salah satu putra Pajajaran yang bernama Banyakcatra atau Kamandaka datang ke Pasirluhur untuk membuktikan kecantikan Dewi Ciptarasa. Ia penasaran dengan kabar yang beredar. Ia ingin membuktikan kebenaran kabar itu. Benarkah sang Putri memiliki kecantikan bidadari khayalannya seperti yang diceritakan banyak orang? Ia pun berangkat mencari jawabannya. </p>
<p>Akhirnya, sampailah ia di Pasirluhur. Ia bertemu dengan orang yang dicarinya. Setelah menyaksikan kecantikan Dewi Ciptarasa, Banyakcatra percaya akan berita-berita yang didengar selama ini. Singkat cerita, mereka kemudian saling mengenal dan memiliki ketertarikan satu sama lain. Mereka pun saling jatuh hati dan akhirnya menikah. Pernikahan Dewi Ciptarasa dan Banyakcatra atau Kamandaka dikaruniai seorang putra yang tampan dan diberi nama Bajang Laut.</p>
<p>Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, Bajang Laut tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan gagah perkasa. Namun, sangat disayangkan, semenjak ia dilahirkan hingga menjadi dewasa ini Bajang Laut tidak pernah ke luar dari desanya. Karena hal itu, Bajang Laut memiliki keinginan untuk mengembara mencari ilmu dan pengalaman. Dengan keinginan yang sangat besar itu, Bajang Laut memberanikan diri menemui ayahnya. Setelah memantapkan diri, Bajang Laut menghadap ayahandanya.</p>
<p>&#8220;Wahai, anakku, ada apa engkau menghadapku?&#8221;</p>
<p>Bajang Laut pun menjawab, &#8220;Ampun beribu ampun, Rama. Saya mohon izin untuk pergi mengembara! Hamba ingin mencari ilmu dan pengalaman.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mengembara? Apa yang akan kau dapatkan dari mengembara?&#8221; tanya ayahnya.</p>
<p>&#8220;Saya bisa mendapat ilmu, Rama. </p>
<p>Setidaknya saya belajar hidup mandiri. Dengan pengalaman hidup di luar istana, saya berkeinginan menjadi orang yang berguna bagi banyak orang. Tidak hanya bergantung kepada apa yang telah diberikan Rama. Tolong, izinian saya pergi Rama,&#8221; Bajang Laut memohon agar keinginannya dikabulkan oleh ayahandanya.</p>
<p>Bajang Laut yang tumbuh menjadi pemuda tampan dan gagah meminta izin kepada ayahandanya untuk mengembara.</p>
<p>&#8220;Apakah kautahu hidup di luar sana sangat sulit. Akan ada banyak rintangan yang kauhadapi. Selama ini hidupmu selalu dilayani, sedangkan di luar kauharus melakukan semuanya sendiri. Apa kamu sanggup?&#8221;</p>
<p>&#8220;Itulah sebabnya, Rama. Hamba ingin belajar tentang hidup dan kehidupan. Saya ingin mencari pengalaman hidup mandiri. di luar sana adalah tempat yang tepat. Dengan hidup sendiri saya akan banyak belajar. Saya akan berusaha untuk mengatasinya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagus sekali keinginanmu itu, anakku. Jadi, sudah kaupikirkan masak-masak keputusanmu ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, Rama.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau memang itu sudah keputusan yang engkau ambil, Rama akan mengabulkannya. Rama hanya dapat memberikan nasihat karena sebelum ini engkau belum pernah ke luar dari desa ini. Rama minta engkau menjaga diri dan jangan sampai membuat malu keluarga ini!&#8221; nasihat ayahnya.
&#8220;Pergilah, anakku! Berhati-hatilah karena ada banyak rintangan yang akan kau hadapi di luar sana!&#8221; pesan ayahandanya sambil memberikan restunya.</p>
<p>Ayahandanya, Bajang Laut menghadap ibun- danya yang sedang berada di Tamansari. Ia ingin mengabarkan rencananya itu sekaligus meminta izin kepada ibundanya. Mendengar permintaan anaknya, ibundanya menangis dan terus membujuknya untuk membatalkan rencana itu. Ia khawatir terjadi apa-apa pada anak semata wayangnya.</p>
<p>Namun, rencana Bajang Laut sudah bulat. Ia kukuh dalam pendiriannya. Ia yakin kepergiannya itu akan membawa manfaat, yaitu menambah ilmu dan pengalaman hidup. Dengan berat hati sang ibunda akhirnya merelakan Bajang Laut pergi mengembara.</p>
<p>Persiapan pun dilakukan. Semua perlengkapan yang diperlukan selama perjalanan disediakan. Namun, Bajang Laut hanya memilih yang sekiranya sangat diperlukan dan mudah dibawanya mengembara agar tidak terlalu membebaninya.</p>
<p>Tibalah saatnya Bajang Laut untuk meninggalkan rumah. Ia memohon restu kepada kedua orang tuanya. Ia pergi mengikuti arah angin dan langkah kakinya. di awal perjalanan Bajang Laut merasa lancar dan belum bertemu dengan banyak rintangan.</p>
<p>Di tengah pengembaraannya, Bajang Laut bertemu dengan dua orang kakak beradik pengembara sakti.</p>
<p>&#8220;Wahai, Ki Sanak. Kalau boleh saya tahu siapa nama Ki Sanak dan hendak ke mana Ki Sanak berdua?&#8221; tanya Bajang Laut.
&#8220;Maaf, Ki Sanak. Saya Haryo Leno dan ini adik saya Joko Leno. Kami berdua dari sebuah padepokan dan ingin mengembara mencari pengalaman hidup,&#8221; sahut Haryo Leno.</p>
<p>Dalam pertemuan itu mereka saling berbagi cerita dan mene- mukan banyak kesamaan tentang prinsip dan pandangan hidup. Mereka bertiga mengembara bersama-sama. Suka dan duka selama perjalanan mereka rasakan bersama sehingga terbentuklah ikatan seperti saudara kandung. Rasa persaudaraan di antara mereka bertiga begitu erat sehingga perjalanan itu menjadi sangat menyenangkan. Mereka bertiga sangat menikmati perjalanan itu. Mereka berbahagia dan tertawa bersama di antara embusan angin, hijaunya dedaunan, hamparan sawah yang menghijau dan gunung yang menjulang, hewan-hewan yang berlarian dan terlihat jinak. Mereka menyatu bersama alam.</p>
<p>Ketika mereka sedang asyik menikmati pemandangan dan beristirahat, berkatalah Bajang Laut, &#8220;Wahai, kedua saudaraku. Aku berjanji kelak jika aku menduduki singgasana. Kalian berdua akan aku jadikan sebagai penggawa!&#8221;</p>
<p>Waktu pun berputar dengan cepat, Haryo Leno dan Joko Leno masih setia bersama dengan Bajang Laut. Janji Bajang Laut yang akan mengangkat Haryo Leno dan Joko Leno sebagai penggawa apabila Bajang Laut menduduki singgasana membuat Haryo Leno tetap bertahan. Namun, janji Bajang Laut tidak kunjung terlaksana sehingga muncullah niat Haryo Leno pergi meraih impiannya sendiri.</p>
<p>Ia pergi tanpa pamit kepada kedua saudaranya. yang dilakukannya bukan karena ia membenci Bajang Laut, tetapi ia ingin memiliki kehidupan yang lebih baik. Ia ingin mencari kehidupannya sendiri. Karena Haryo Leno berpikir apabila dirinya hanya menunggu Bajang Laut benar-benar menduduki singgasana, hal itu memerlukan waktu yang lama dan belum pasti.</p>
<p>Dengan demikian, Haryo Leno memu- tuskan membuka hutan untuk bercocok tanam. Sampailah Haryo Leno di hutan yang tanahnya rata dan subur. Haryo Leno mem- buka hutan tersebut dan menjadikannya tanah pertanian. Karena keuletan dan kegigihannya, semua tanaman yang ia tanam tumbuh dengan subur. Tanaman-tanaman tersebut menghasilkan buah dan sayuran yang segar sehingga Haryo Leno dapat memanen hasil jerih payahnya sendiri, tanpa bergantung kepada orang lain.</p>
<p>Haryo Leno beranggapan bahwa sebuah proses perjuangan yang dilakukan dengan bersungguh-sungguh akan membuahkan hasil sesuai perjuangannya. Kesabaran dan ketelitian ia tanamkan pada dirinya. Proses yang baik akan memperoleh hasil yang baik pula.</p>
<p>Di kala sang mentari masih mengintip, Haryo Leno memandangi tanaman yang begitu subur, timbullah rasa puas, bangga, dan kagum. Dia pun bergumam dalam hati, &#8220;Tempat ini betul-betul sida reja ‘jadi ramai’ atau sida makmur ‘jadi makmur’. Jika kelak tempat ini menjadi desa, aku akan memberinya nama Desa Sidareja!&#8221;.</p>
<p>Memandang hasil kerja kerasnya membuat hati Haryo Leno se- nang. Ia benar-benar bahagia karena tanamannya tumbuh dengan</p>
<p>subur dan sehat. Dengan tanaman itulah Haryo Leno dapat mencukupi kebutuhan hidupnya. Sementara itu, sejak kepergian Haryo Leno yang tanpa pamit, Joko Leno dan Bajang Laut terus mencari Haryo Leno. Mereka berdua berpencar mencari ke mana-mana hingga ke pelosok-pelosok desa. Mereka khawatir terjadi sesuatu pada Haryo Leno. Bajang Laut pergi ke arah barat, sedangkan Joko Leno pergi ke arah timur.</p>
<p>Berbulan- bulan mereka melakukan pencarian itu. Pada titik-titik mendekati keputusasaan, Joko Leno berhasil menemukan Haryo Leno.
Tidak selang beberapa lama Joko Leno mendatangi Haryo Leno dan bertanya alasan kakaknya pergi dengan tiba-tiba dan tanpa pamit kepada Bajang Laut. Bahkan, pamit kepada adiknya sendiri pun tidak. Haryo Leno bercerita tentang kepergiannya karena ia merasa rugi bila hanya mengandalkan janji dari Bajang Laut. Bahkan, ia berpikir entah kapan Bajang Laut akan menduduki singgasananya.</p>
<p>Sementara, waktu itu Bajang Laut jauh dari rumahnya dan hidup bersama dirinya. Haryo Leno merasa tidak enak kepada Bajang Laut apabila dirinya pergi berpamitan karena ia berpikir bahwa Bajang Laut mungkin akan mengira dirinya orang yang tidak sabaran dan tidak percaya kepadanya. Ia juga khawatir Bajang Laut tersinggung dengan keputusan dan tindakannya tersebut. Oleh karena itu, Haryo Leno memutuskan pergi tanpa pamit. Akan tetapi, Joko Leno malah berkata lain.</p>
<p>&#8220;Hanya alasan Kakang saja. Sesungguhnya Kakang ingin menyaingi Bajang Laut, kan? Ingin menjadi penguasa dan memiliki wilayah kekuasaan sendiri! Kakang juga tidak mengatakan apa pun kepadaku. Kakang ingin meraih sukses sendirian?&#8221;
Haryo Leno menjawab, &#8220;Tidak adikku, bukan begitu. Kamu salah mengerti dengan apa yang aku katakan padamu.</p>
<p>Percayalah Kakang pergi karena Kakang hanya ingin mewujudkan cita-cita Kakang untuk dapat hidup mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Kakang tidak ingin berutang budi kepada Bajang Laut. Semua itu kulakukan bukan untuk menyaingi kerajaannya. Kalau Kakang tetap menunggu diangkat menjadi penggawa, Kakang pasti tidak akan dapat menjadi seperti sekarang ini.&#8221;</p>
<p>Terjadilah selisih pendapat antara mereka. Mereka memiliki alasan masing-masing sehingga terjadilah pertempuran. Kesaktian keduanya berimbang, pertempuran pun terus berlangsung. Mereka saling mengejar, melukai, dan tidak ada yang mau mengalah. Mereka hanya memikirkan pendapat masing-masing dan merasa pendapat pribadi mereka yang paling benar.</p>
<p>Pertempuran dua saudara kandung itu pun semakin menjadi-jadi. Konflik yang memicu terjadinya pertempuran itu hanyalah ke- salahpahaman antara Haryo Leno dan Joko Leno yang telah membela Bajang Laut. Padahal, Bajang Laut sendiri tidak mengetahui bahwa kakak beradik yang ia janjikan untuk menjadi penggawa di singgasananya itu telah bertempur hendak bunuh-membunuh.</p>
<p>Pertempuran tersebut berlangsung berhari-hari. Suatu saat Haryo Leno hendak bersandar (bahasa Jawa, sende-sende) karena lelah melawan Joko Leno. Setiap kali ada tempat yang digunakan untuk pertempuran pasti sebagai peringataan digunakan sebagai nama sebuah desa ataupun tempat. Salah satunya tempat yang digunakan bersandar oleh Haryo Leno. Tempat itu sekarang menjadi desa yang diberi nama Sindeh, dari kata sende.</p>
<p>Pertempuran belum juga berhenti, mereka terus saling mengejar. Akhirnya, mereka pun berhenti di suatu tempat. Tempat perhentian itu menjadi nama sebuah desa yang disebut Karanggandul. Nama itu diambil karena Haryo Leno melihat di sekitar tempat itu banyak pohon pepaya, dalam bahasa Jawa disebut dengan gandul. Saat itu Haryo Leno naik ke gunung dan berhenti untuk melihat sekelilingnya.</p>
<p>Ia melihat jurang yang sangat curam, banyak bebatuan besar, dan dikelilingi rumput liar yang lebat. Siapa pun yang masuk atau terjatuh ke jurang tersebut pasti tidak akan terselamatkan. Ditemukan jasadnya pun belum tentu karena apabila terjatuh badannya akan hancur dan tidak berbentuk.</p>
<p>Tempat itu dinamakan Jurang Ngadeg karena pada saat itu Haryo Leno melihat jurang itu dalam posisi berdiri atau bahasa Jawa ngadeg. Karena kesaktian yang dimiliki, keduanya masih bertempur untuk mengalahkan satu sama lain. Mereka bersikeras mempertahankan kekuatan dan pendirian mereka. Haryo Leno tetap teguh tidak mau</p>
<p>kalah dan dikalahkan, begitu pula dengan Joko Leno. Pertempuran semakin sengit dan berlangsung lama. Pada akhirnya, mereka berdua tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah. Keduanya meninggal akibat pertempuran tersebut. Mereka berdua pun dimakamkan di tempat mereka bertempur.</p>
<p>Ibarat ungkapan dalam bahasa Jawa me- nang dadi areng, kalah dadi awu ‘menang menjadi arang, kalah menjadi abu’. Menang ataupun kalah dalam pertempuran tersebut akan berbuah sia-sia karena semuanya telah hancur berantakan. Hingga saat ini kita masih dapat mengunjungi makam Haryo Leno dan Joko Leno di Cilacap.</p>
<p><strong>Diceritakan oleh: Umi Farida</p>
<p>Disadur dari Cerita Rakyat Cilacap Jawa Tengah.</p>
<p>Diterbitkan oleh Balai Bahasa Jawa Tengah Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/ilustrasi-kisah-pendiri-Sidareja-Cilacap-Haryo-Leno.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[ilustrasi kisah pendiri Sidareja Cilacap Haryo Leno]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/ilustrasi-kisah-pendiri-Sidareja-Cilacap-Haryo-Leno-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[ilustrasi kisah pendiri Sidareja Cilacap Haryo Leno]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
	</channel>
</rss>
