<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>Kumpulan Pos Cilacap &#8211; Story Cilacap.info</title>
	<atom:link href="https://story.cilacap.info/tag/cilacap/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://story.cilacap.info</link>
	<description>Media Online Masa Kini, Akurat, Mengedepankan Etika</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Jan 2024 01:23:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	
<image>
<url>https://img.cilacap.info/images/story/favicon-32x32.png</url><title>Kumpulan Pos Cilacap &#8211; Story Cilacap.info</title>
<link>https://story.cilacap.info</link>
<width>32</width><height>32</height><description>Info Kisah Menarik</description>
</image>
	<item>
		<title>Dibangun 2 Abad yang lalu, Ternyata Masjid Agung Darussalam Cilacap Dibuat oleh Keturunan Sunan Kalijaga</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-45672/dibangun-2-abad-yang-lalu-ternyata-masjid-agung-darussalam-cilacap-dibuat-oleh-keturunan-sunan-kalijaga</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Huda]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 12 Apr 2022 11:38:29 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Cilacap]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid Agung Darussalam]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-45672/dibangun-2-abad-yang-lalu-ternyata-masjid-agung-darussalam-cilacap-dibuat-oleh-keturunan-sunan-kalijaga</guid>

					<description><![CDATA[CILACAP.INFO &#8211; Masjid Agung Darussalam, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, penuh dengan jemaah, pada akhir pekan lalu. Mereka hendak melakukan Salat Isya dan Salat Tarawih berjemaah. Tua, muda, hingga anak-anak bersama menunaikan ibadah salat. Jemaah tersebar di lantai 1 dan 2 masjid.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Masjid Agung Darussalam, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, penuh dengan jemaah, pada akhir pekan lalu. Mereka hendak melakukan Salat Isya dan Salat Tarawih berjemaah. Tua, muda, hingga anak-anak bersama menunaikan ibadah salat. Jemaah tersebar di lantai 1 dan 2 masjid.</p>
<p>Suasana masjid terasa nyaman. Selain sirkulasi udara yang mendukung, juga arsitektur bangunan yang memesona. Hal itu seolah menambah khusyuk warga yang tengah mendirikan salat di masjid tua tersebut.</p>
<p>Ketua Takmir Masjid Agung Darussalam Cilacap KH Muslihun Ashari mengatakan, dari sejarah yang diketahuinya, masjid itu termasuk masjid tua.</p>
<p>&#8220;Sejarah dari mulut ke mulut, memang kurang lebih 2 abad lalu masjid ini didirikan,&#8221; kata Muslihun ditemui di Masjid Agung Darussalam Cilacap, baru-baru ini.</p>
<p>Muslihun juga memperlihatkan beduk kuno di masjid tersebut, kemudian memperlihatkan adanya tulisan yang tertera di badan beduk. Yaitu terdapat angka berbahasa Arab 1776. Dia menuturkan jika angka itu menunjukkan tahun awal pembuatan masjid yaitu tahun 1776 masehi.</p>
<p>Menilik sejarah pula, masjid didirikan oleh keturunan atau murid Sunan Kalijaga. Yaitu Kiai Kali Husen dan Kiai Kali Ibrahim. Para pendiri masjid itu membangun masjid ketika Cilacap belum menjadi Kabupaten seperti sekarang ini.</p>
<p>Tidak hanya itu, kata dia, Masjid Agung Darussalam juga memiliki keunikan yaitu jumlah tiang yang berbeda dengan masjid lainnya. Biasanya masjid memiliki empat tiang saka guru, tapi di Masjid Agung memiliki tiang yang lebih banyak.</p>
<p>&#8220;Di Masjid Agung Darussalam, tiang saka guru di masjid tidak seperti masjid lain yang hanya empat. di masjid ini, tiangnya ada 22, plus tiang yang ada di sekitar masjid. Jumlah total ada 36 tiang,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Tempat ibadah yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman, Desa Sidanegara, Kecamatan Cilacap, ini juga disebut sebagai bangunan cagar budaya. Mengingat usianya yang sudah dua abad. Meski telah beberapa kali direhab, namun tetap mempertahankan ciri khas masjid. Salah satunya tetap mempertahankan bentuk atap masjid, yang sekilas mirip dengan Masjid Agung Demak.</p>
<p>&#8220;Mungkin karena pendiri tak lepas dari cucu pendiri Masjid Kadilangu Demak (Sunan Kalijaga),&#8221; ucapnya.</p>
<p>Pada Ramadan ini, masjid tersebut selalu ramai dengan kegiatan. Mulai dari pengajian jelang waktu Magrib, pengajian jelang Salat Tarawih, tadarus, penyediaan takjil, dan kajian bakda Salat Subuh.</p>
<p>&#8220;Di Ramadan suci ini, kami mengajak masyarakat, mari makmurkan masjid,&#8221; tandasnya.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/Masjid-Agung-Darussalam-Cilacap.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[Masjid Agung Darussalam Cilacap]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/Masjid-Agung-Darussalam-Cilacap-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[Masjid Agung Darussalam Cilacap (Istimewa)]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Kisah Hutan Larangan di Dayeuhluhur Cilacap</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-42806/kisah-hutan-larangan-di-dayeuhluhur-cilacap</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Huda]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 29 Dec 2021 03:12:34 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Cilacap]]></category>
		<category><![CDATA[Dayeuhluhur]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-42806/kisah-hutan-larangan-di-dayeuhluhur-cilacap</guid>

					<description><![CDATA[CILACAP.INFO &#8211; di ujung kulon (barat) Kabupaten Cilacap terdapat kawasan hutan konservasi habibat satwa liar bernama hutan larangan. Hutan ini terletak di Desa Hanum Kecamatan Dayeuhluhur, atau di wilayah Cibeet.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; di ujung kulon (barat) Kabupaten Cilacap terdapat kawasan hutan konservasi habibat satwa liar bernama hutan larangan. Hutan ini terletak di Desa Hanum Kecamatan Dayeuhluhur, atau di wilayah Cibeet.</p>
<p>Kecamatan Dayeuhluhur ini keseluruhan masyarakatnya berbahasa sunda halus seperti di Ciamis. Areanya pun berbatasan dengan Kota Banjar dan Ciamis Jawa Barat di sebelah baratnya, sedangkan utaranya memasuki daerah Brebes.</p>
<p>Seperti halnya orang pasundan di jawa barat, di dayeuhluhur juga dalam hal keseniannya mirip di jawa barat. Seperti tari-tarian ronggeng, namun juga ada tarian berkolaborasi antara kesenian Sunda dan Banyumasan.</p>
<p>Ada banyak Komunitas Suku atau Adat di dayeuhluhur ini, seperti di desa Cijeruk ada komunitas adat bernama Tejakembang dll. Kecamatan adat Dayeuhlur ini memang kaya akan adat, budaya dan tradisi, selain itu banyak juga situs-situs kuno peninggalan pra sejarah.</p>
<h2>Kawasan Hutan Larangan di Dayeuhluhur Cilacap</h2>
<p>Layaknya Hutan Lindung, hutan ini selain dikeramatkan juga begitu indah dimana banyak pepohonan dan bunga-bunga liar yang tumbuh subur. Tak ayal jika hutan ini juga dihuni oleh satwa-satwa.</p>
<p>Kawasan Hutan Larangan tersebut menampung berbagai satwa langka seperti Rusa dan Macan Tutul serta aneka burung-burung dan juga terdapat monyet.</p>
<p>Hutan ini oleh masyarakat dayeuhluhur disakralkan dan dikeramatkan, memasuki area ini pantangan untuk meludah dan berlaku tidak sopan. Pasalnya di hutan larangan ini sudah banyak orang yang tersesat, apalagi orang yang berasal dari jauh.</p>
<p>Dari hutan larangan ini muncul sumber air yang airnya mengaliri beberapa sungai seperti Sungai Cibeet, Cikawalon dan Cidayeuh.</p>
<p>Di Cibeet Hanum memiliki seorang Juru kunci bernama Ceceng Rusmana.</p>
<h2>Tradisi Adat di Cibeet Hanum Dayeuhluhur</h2>
<p>Tak jauh dari tepi sungai Cibeet ini, di sana terdapat sejumlah makam-makam para tokoh atau sesepuh tradisional.</p>
<p>Beberapa di antaranya yaitu, Arya Sacanata atau Pangeran Salingsingan dimana makamnya terletak di Dusun Nombo, Desa Bingkeng.</p>
<p>Makam ini kerap diziarahi oleh komunitas adat yang mempunyai trah dari kerajaan Panjalu Ciamis. Sedangkan area sungainya disakralkan dan dianggap suci sehingga menjadi satu titik atau lokasi pengambilan air suci.</p>
<p>Pengambilan Air suci tersebut yakni suatu kegiatan rutinan setiap tahunnya yang dilakukan oleh komunitas adat panjalu. Yakni untuk mencuci Pusaka Panjalu atau disebut Ritual Nyangku yang digelar pada bulan suro.</p>
<p>Makam Keramat di Tejakembang Desa Cijeruk, pusara seorang pahlawan yang berasal dari Cianjur keturunan Panjalu Ciamis bernama Raden Haji Alit Prawatasari.</p>
<p>Tradisi budaya lainnya yakni &#8220;Babarit kupat&#8221; (&#8220;sedekah ketupat&#8221;) atau &#8220;babaritan&#8221;. Acara ini merupakan ritual tahunan adat Suku Sunda, dimana ritual atau acara tersebut dilaksanakan setiap tahun jelang awal bulan maulud. Yakni dilaksanakan pada hari, bulan, dan tempat yang sama.</p>
<p>Acara Sidekah Ketupat terbagi dua wilayah, untuk daerah Desa Cijeruk, acara dipusatkan di jembatan Sungai Cibeet. Sedangkan di Desa Kutaagung dilaksanakan di tapak batas desa dan di Desa Panulisan Barat di Sumanding Dusun Pendey.</p>
<p>Acara Sidekah Kupat tersebut merupakan bentuk syukur atas kesejahteraan desa atas kecukupan berupa makanan dan minuman. Selain itu guna memohon agar terbebas dari segala jenis bencana seperti gempa bumi, wabah penyakit, banjir, dan angin topan.</p>
<p>Hampir seluruh warga desa di Kecamatan Dayeuhluhur melaksanakan tradisi ini, dimana warga akan datang berduyun-duyun membawa makanan dalam bentuk ketupat. Kemudian ketupat itu digantungkan ke tiang yang sudah dipersiapkan oleh Kokolot Lembur (sesepuh kampung).</p>
<p>Dalam pelaksanaan ritual tersebut kokolot lembur bertugas memimpin ritual dan berdoa mohon keselamatan dan keberkahan. Doa dan keselamatan tidak hanya untuk semua warga desa setempat tapi juga untuk bangsa ini, negara Indonesia. </p>
<p>Setelah ritual doa selesai, ketupat yang digantungkan itu diambil dan dimakan di tempat bersama-sama. Hal itu seperti halnya lebaran hari raya dimana masyarakat bertemu, penuh guyub rukun, sedang sebagian ketupat lagi dibagikan ke masyarakat.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/Hutan-Larangan-di-Cibeet-Dayeuhluhur-Cilacap.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[Hutan Larangan di Cibeet Dayeuhluhur Cilacap]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/Hutan-Larangan-di-Cibeet-Dayeuhluhur-Cilacap-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[Hutan Larangan di Cibeet Dayeuhluhur Cilacap]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Kisah Kadipaten Penyarang Sidareja Cilacap</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-42358/kisah-kadipaten-penyarang-sidareja-cilacap</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Huda]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Dec 2021 18:05:42 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Cerita Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Cilacap]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Sidareja]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-42358/kisah-kadipaten-penyarang-sidareja-cilacap</guid>

					<description><![CDATA[CILACAP.INFO &#8211; Pada zaman dahulu di tanah Pasundan berdiri sebuah kerajaan besar yang bernama Kerajaan Pajajaran. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja bijaksana, Prabu Ciung Wanara namanya. Sang Prabu mempunyai seorang permaisuri yang cantik jelita.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Pada zaman dahulu di tanah Pasundan berdiri sebuah kerajaan besar yang bernama Kerajaan Pajajaran. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja bijaksana, Prabu Ciung Wanara namanya. Sang Prabu mempunyai seorang permaisuri yang cantik jelita.</p>
<p>Dari perkawinannya dengan Sang Permaisuri, Prabu Ciung Wanara dikaruniai tujuh orang anak, yaitu Punggung Kencana (Ling ga Hingwang), Lingga Wesi, Susuktunggal, Anggalarang, Siliwangi, Mundingwangi, dan Mundingmalati (Ranggasena).</p>
<p>Dari putra ketujuh, yaitu Mundingmalati atau Ranggasena, Sang Prabu dikaruniai empat orang cucu, yaitu Segarawangi, Wadas Malang, Gunung Sari, dan Sena Reja atau Hajar Sena. Selain itu, Prabu Ciung Wanara juga mempunyai saudara laki-laki atau adik yang mengabdi di Keraton Surakarta, bernama Arya Bangga.</p>
<p>Pada suatu hari, sang Prabu memerintahkan kepada putra ketujuhnya, yaitu Mundingmalati atau Ranggasena, supaya melakukan pengembaraan. Ranggasena dan keempat putranya dipercaya oleh sang Prabu untuk membuka sebuah kadipaten di tanah Jawa. Pada saat itu, di Kerajaan Pajajaran Ranggasena belum mempunyai jabatan apa pun. Prabu Ciung Wanara bermaksud agar kadipaten yang didirikan oleh Ranggasena nantinya dapat menjadi penghubung antara Pajajaran dan kerajaan lain di tanah Jawa.</p>
<p>&#8220;Ranggasena, Putraku, sudah saatnya engkau tunjukkan jati dirimu sebagai putra raja,&#8221; titah sang Prabu.</p>
<p>&#8220;Ampun, Ayahanda Prabu, apakah yang harus ananda perbuat untuk menunjukkan jatidiri ananda?&#8221; sembah Ranggasena.</p>
<p>&#8220;Mengembaralah, ajaklah keempat anakmu melangkah ke arah matahari terbit. Carilah tempat di tanah Jawa yang kamu anggap baik. Tinggallah di sana dan dirikan sebuah kadipaten. Ayah berharap kadipaten itu nanti dapat menjadi penghubung antara Pajajaran dan Kerajaan lain di Tanah Jawa.&#8221;</p>
<p>Tanpa banyak pertanyaan lagi Ranggasena bersedia menjalankan amanat sang Prabu. Ia harus rela meninggalkan istri tercintanya. Ia juga harus rela meninggalkan Ibu Permaisuri di Kerajaan Pajajaran. Sebenarnya, istrinya tidak merelakan Ranggasena membawa keempat putranya pergi mengembara.</p>
<p>Selain itu, sang istri juga khawatir jika Ranggasena mempunyai istri lagi di tempat pengembaraannya nanti. Namun, keberatan dan kekhawatiran sang istri itu tidak menggoyahkan niat Ranggasena untuk menjalankan perintah ayahandanya, Prabu Ciung Wanara. Dengan segala upaya, dia berusaha meyakinkan istrinya bahwa apa pun yang terjadi dia akan tetap setia.</p>
<p>Tiba waktunya berpisah, Pajajaran tidak seramai biasanya. Suasana sedih menyelimuti warga Kerajaan. Tiada senyum dan gurau terlontar. Tidak ada satu pun kata canda terlempar. Semua muka menunduk lesu. Hanya air mata yang berbicara, Pajajaran sedang berduka. Pajajaran bagai tubuh yang terkoyak oleh sejuta luka yang menganga, perih, pedih, dan menyakitkan. Saat itu, di Balairung Pajajaran, Ranggasena beserta keempat putranya sedang menghadap Prabu Ciung Wanara.</p>
<p>&#8220;Ayahanda Prabu, segala persiapan sudah ananda lakukan. Bekal pun sudah kami cukupkan. Izinkanlah Ananda beserta keempat cucu Ayahanda ini meninggalkan Kerajaan Pajajaran untuk memulai pengembaraan kami,&#8221; sembah Ranggasena pada Prabu Ciung Wanara.</p>
<p>&#8220;Ranggasena, kebulatan tekadmu menjalankan perintahku merupakan cermin jiwa kesatria pada dirimu. Aku tahu, semua ini memang berat. Berat meninggalkan Kerajaan tercinta, berat meninggalkan ayah-ibu, dan berat meninggalkan istrimu, tetapi langkah inilah yang akan menentukan masa depanmu. Oleh karena itu, jangan kamu ragu. Janganlah kota atau negara besar yang kautuju. Pergilah, belahlah hutan lebat dan sepi. Jadikan tempat itu bersemi. Langkahkan kakimu ke arah terbit matahari.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ananda siap melaksanakan, Ayahanda Prabu. Kami mohon diri berangkat mengembara.&#8221;</p>
<p>Tangis dan deraian air mata mengiring keberangkatan Ranggasena beserta keempat putranya. Setiap mata terus menatap sayu seakan-akan menahan dan tidak mau melepas mereka. Apalagi, mata wanita belahan jiwa. Mata itu terus berlinang, tidak pernah rela melepas mereka pergi mengembara. Namun, apa daya, ia tidak kuasa untuk menolak kehendak raja.</p>
<p>Dengan langkah mantap Ranggasena dan keempat putranya meninggalkan Kerajaan Pajajaran. Rasa sedih karena harus berpisah dengan orang-orang yang dicintainya sudah tidak tampak di raut wajah. Mereka melangkah sambil bersenda gurau seakan tidak ada beban pada diri mereka.</p>
<p>Dalam pengembaraan itu, mereka tidak lagi mengenakan pakaian kerajaan. Kegemerlapan pakaian Kerajaan Pajajaran sengaja ditanggalkan agar identitas mereka sebagai putra Raja Pajajaran tidak diketahui orang. Mereka menyamar sebagai orang desa dengan pakaian yang sangat sederhana.</p>
<p>Hari demi hari, waktu demi waktu, Ranggasena beserta keempat putranya terus melangkah. Jalan terjal mereka lalui, hutan rimba penuh onak dan duri mereka sibak, tetapi tidak juga ditemui tempat yang pas seperti kehendak ayahandanya. Mereka tidak pernah menyerah, mengeluh, atau putus asa. Bahkan, tidak pernah sedikit pun terlintas rasa ingin pulang ke Pajajaran.</p>
<p>Tanpa terasa, dua tahun telah berlalu. Selama itu pula mereka telah mengembara dari satu tempat ke tempat lainnya. Pada saat itu Ranggasena beserta keempat putranya sampai di tengah hutan yang penuh dengan pohon besar. Daun-daunnya yang rindang seakan menjadi atap sebuah alam yang terbuka. di sela-sela kerindangan daun dan ranting terdapat banyak sarang burung yang menandakan kebebasan hidup burung di sana.</p>
<p>Sementara itu, dibalik pohon banyak hewan berseliweran ke sana-kemari. Tampak sekali jika hutan itu masih asli dan belum dirambah orang. Belum ada manusia yang berani datang atau tinggal di tempat itu. Barangkali, Rangasena dan keempat putranyalah manusia pertama yang menginjakkan kaki di hutan itu.</p>
<p>Hari mulai gelap, terlebih lagi hutan di tempat Ranggasena dan putranya beristirahat sangat lebat, lengkaplah kegelapan menyelimuti tempat itu. Ranggasena kemudian memutuskan untuk tinggal di tempat itu.</p>
<p>&#8220;Anakku, sebentar lagi hari akan gelap. Sebaiknya kita segera mencari kayu dan dedaunan untuk membuat tempat berlindung malam ini,&#8221; kata Ranggasena kepada keempat putranya.</p>
<p>&#8220;Benar, Ayah, tampaknya tempat ini nyaman untuk beristirahat,&#8221; jawab putra tertuanya.</p>
<p>Tanpa banyak bicara, mereka lalu mencari kayu dan dedaunan untuk membuat rumah-rumahan. Dalam waktu singkat, rumah perlindungan sederhana telah berdiri di antara batang-batang pohon besar. Dengan menyilangkan batang kayu pada ranting pohon yang satu dengan yang lain, terbentuklah rumah pohon yang kuat untuk mereka berlima. Daun-daun yang terkumpul mereka susun sebagai atap dan dinding untuk menahan dinginnya udara. Tidak lupa, mereka juga membuat api unggun.</p>
<p>Selain untuk menghangatkan lingkungan, api itu juga digunakan sebagai penerangan supaya jika ada binatang buas yang mendekat dapat terlihat. Malam pun tiba. Kegelapan menyelimuti seluruh isi hutan. Keempat putranya sudah tidur di rumah panggung, tetapi Ranggasena belum juga pergi ke pembaringan. Dia masih duduk di dekat api unggun. Ranggasena tampak merenung, sesekali pandangan matanya disebarkan ke sekitar seakan-akan ada sesuatu yang direncanakannya.</p>
<p>&#8220;Apakah tempat ini yang dimaksudkan oleh Ayahanda Raja?’ katanya dalam hati.</p>
<p>&#8220;Jika memang ini yang dikehendaki, apa yang harus kulakukan dengan hutan selebat ini?&#8221;</p>
<p>Lama Ranggasena merenung, angan demi angan terus menggelayut, membebani setiap celah pikirnya. Semua kembali pada pertanyaan, langkah apa yang harus ia lakukan dengan tempat itu.</p>
<p>Sementara, tidak ada seorang pun yang tinggal menghuni tempat sesunyi dan sengeri itu. Renung demi renung dilaluinya, akhirnya rasa kantuk pun menghampiri. Mata tidak lagi mampu tersangga. Dengan langkah yang mulai lemas, ia naik ke rumah pohon menyusul keempat putranya yang telah terlelap. Irama malam dan nyanyian kesunyian di hutan itu pun mengayunnya dalam mimpi.</p>
<p>Suasana tenang di hutan itu membuat Ranggasena dan keempat putranya merasa nyaman. Mereka merasa betah tinggal di tempat itu. Apalagi bagi Ranggasena, ia meyakini bahwa tempat itu adalah tempat yang dimaksudkan oleh ayahandanya. Keyakinan itulah yang membuatnya bertahan. Sehari, dua hari, dan sampai berhari-hari mereka belum menemukan tanda-tanda adanya orang lain yang mau tinggal di tempat itu. Namun, ketika berjalan-jalan di sekitar hutan,
Ranggasena dan putranya dikejutkan oleh adanya sekelompok orang yang berada di tengah hutan.</p>
<p>&#8220;Siapa mereka? Hemm&#8230; tampaknya memang sudah ada orang yang terlebih dahulu tinggal di hutan ini,&#8221; guman Ranggasena dalam hati sambil melangkah menghampiri mereka.</p>
<p>&#8220;Salam, Ki Sanak,&#8221; sapa Ranggasena kepada mereka sambil menyalami satu per satu.</p>
<p>&#8220;Maaf, kami mengganggu. Perkenalkan nama saya Ranggasena dan ini keempat anak saya. Kami pengembara yang kebetulan sampai di tempat ini dan merasakan betapa tenteram dan asrinya hutan ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Selamat datang, Ki Ranggasena. Semoga berkah Tuhan menyertai pengembaraan Ki Rangga,&#8221; jawab seorang yang paling tua dalam kelompok itu.</p>
<p>&#8220;Terima kasih, Ki. Maaf, bagaimana kami harus menyebut Kiai?&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, ya, sampai lupa memperkenalkan diri. Saya Ngabei Ta ngerang. Mari, silakan singgah ke gubuk saya. Tidak enak kita berbincang sambil berdiri seperti ini,&#8221; Kiai Ngabei Tangerang mem persilakan.</p>
<p>Setelah mereka masuk dan duduk, Kiai Ngabei Tangerang melanjutkan ceritanya, &#8220;Oh, ya, kami ini adalah penduduk asli di hutan ini.</p>
<p>Kebetulan, saya yang paling tua dan dituakan oleh mereka. Mereka memanggil saya Kiai Ngabei Tangerang. Kami sudah cukup lama tinggal di Hutan Penyayangan ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hutan Penyayangan?&#8221; tanya Ranggasena.</p>
<p>&#8220;Ya, ya, itu sekadar nama yang saya buat untuk menyebut tempat ini. Nama itu saya pilih karena hutan ini banyak pohon besar dan rindang, banyak binatang yang tidak pernah saling bermusuhan, dan berbagai jenis burung yang hidup dan bersarang di sela ranting pepohonan. Hutan dan semua binatang itu hidup berdampingan tanpa ada permusuhan seakan hidup saling menyayangi. Oleh karena itulah, hutan ini saya namai Hutan Penyayangan.&#8221;</p>
<p>Kiai Ngabei Tangerang menerangkan dengan rinci semua keadaan di hutan itu. Dari tutur katanya tampak sekali bahwa sebenarnya dia bukan orang sembarangan. Sebenarnya, Kiai Ngabei Tangerang adalah seorang yang sudah tersohor ke mana-mana sebagai seorang ahli agama. Selain itu, dia juga dikenal sebagai seorang yang memiliki ilmu kesaktian. di hutan itu dia hidup bersama dengan dua orang anaknya, yaitu Tejalamat dan Megalamat.</p>
<p>Setelah mendengar penjelasan Kiai Ngabei Tangerang yang cukup rinci, Ranggasena mencoba menjelaskan kembali asal muasal mengapa mereka sampai di hutan itu. Akan tetapi, ia tidak menceritakan bahwa dirinya adalah putra Prabu Ciung Wanara, Raja Pajajaran. Hal itu ia lakukan agar Kiai Ngabei Tangerang tidak curiga pada mereka. Memang, sebagai orang tua dan berilmu, Kiai Ngabei Tangerang tidak menaruh curiga sedikit pun terhadap Ranggasena dan anak-anaknya.</p>
<p>Namun, tetap saja ada orang yang tidak suka atas kedatangan Ranggasena. Hal itu sesuai juga dengan cerita Kiai Ngabei Tangerang bahwa di Penyayangan masih ada perselisihan kecil karena perebutan lahan atau perbedaan pendapat. Ia sudah berusaha mencari cara agar mereka tidak saling bermusuhan, tetapi belum berhasil.</p>
<p>Kondisi penduduk seperti itu menggerakkan hati Ranggasena untuk membantu Kiai Ngabei Tangerang. Dalam hati ia bertekad untuk dapat menyatukan mereka. Oleh karena itu, ia memantapkan diri untuk tinggal di Hutan Penyayangan.</p>
<p>&#8220;Kiai, jika Kiai tidak keberatan, saya beserta anak-anak mohon diterima di tempat ini untuk membantu dan berguru kepada Kiai,&#8221; tutur Ranggasena kepada Kiai Ngabei Tangerang.</p>
<p>&#8220;Heheheh&#8230; Kalau membantu dan tinggal bersama, dengan senang hati saya menerima, tetapi untuk berguru, ilmu apa yang dapat saya berikan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya percaya, Kiai memiliki ilmu hidup dan kehidupan yang tidak kami miliki,&#8221; kata Ranggasena meyakinkan Kiai Ngabei Tangerang.</p>
<p>Melihat kesungguhan Ranggasena, Kiai Ngabei Tangerang akhirnya menyetujui dan menerima mereka. Bahkan, Kiai Ngabei Tangerang meminta mereka untuk tinggal bersama di gubuknya.</p>
<p>Waktu terus berlalu, tanpa terasa sudah bertahun-tahun Ranggasena dan anak-anaknya berguru pada Kiai Ngabei Tangerang. Selama itu pula mereka menerima ilmu agama, ilmu kebatinan, dan ilmu-ilmu lainnya. Ranggasena pun juga sudah mengerti dan memahami keadaan hutan dan karakter penduduk Penyayang. Rang gasena merasa sudah saatnya untuk mengemukakan niatnya mendirikan sebuah kadipaten di temapat itu kepada Kiai Ngabei Tangerang.</p>
<p>&#8220;Maaf, jika saya lancang, Kiai. Penduduk Penyayang makin lama makin banyak. Sekarang ini pun tampaknya sudah banyak. Jika Desa Penyayang ini dibiarkan terus begini seakan-akan tidak pernah berkembang dan maju,&#8221; kata Ranggasena kepada Kiai Ngabei Tangerang.</p>
<p>&#8220;Maksudmu bagaimana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya berpikir, sudah saatnya kita mengubah Desa Penyayang menjadi sebuah kadipaten, Kiai.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lalu, apa yang akan kamu lakukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika Kiai setuju, saya mohon izin menggerakkan warga untuk mewujudkan kadipaten itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Secara pribadi, aku setuju. Namun, hal itu tidak berarti dapat langsung dikerjakan. Semua itu harus dirembuk bersama seluruh warga.&#8221;</p>
<p>Saat itu, tanpa mereka sadari, ada sepasang mata dan telinga yang secara sembunyi-sembunyi mengintip dan mendengarkan pembicaraan itu. Mata dan telinga itu adalah milik seorang penduduk yang tidak suka terhadap Ranggasena. Secepat kilat dan tanpa bersuara ia meninggalkan tempat itu dan mengabarkan kepada sekelompok orang yang tidak suka terhadap Ranggasena. Ia menceritakan rencana Ranggasena dengan berbagai bumbu cerita agar orang-orang tidak menyetujui.</p>
<p>Orang-orang yang mendengarkan hasutan pengintai tadi lalu mencari cara dan siasat untuk menggagalkan rencana Ranggasena. Mereka berniat menghasut seluruh penduduk agar menolak usulan Ranggasena. Berbagai cara mereka lakukan dengan satu tujuan menggagalkan rencana Ranggasena. Jika perlu, ketika Ranggasena menyampaikan usulan rencananya rakyat sudah tahu dan semua menolaknya.</p>
<p>Saat yang dinanti-nantikan itu akhirnya tiba juga. Pada suatu hari, Kiai Ngabei Tangerang mengumpulkan penduduk Penyayang. Mereka duduk berkumpul di pelataran depan rumah sang Kiai. Sementara itu, Kiai Ngabei Tangerang diapit oleh Tejalamat dan Megalamat berdiri menghadapi mereka.</p>
<p>&#8220;Sedulur-sedulur, saya sengaja mengumpulkan kalian karena ada sesuatu yang penting yang harus kita bicarakan.&#8221; kata Kiai Ngabei Tangerang membuka pembicaraan.</p>
<p>Penduduk yang hadir semua diam. Mereka menunggu dengan rasa penasaran, sebenarnya apa yang akan disampaikan oleh sesepuh mereka itu. Mata mereka menatap tanpa berkedip seakan takut kehilangan gerak sang Kiai.</p>
<p>Kiai Ngabei Tangerang kemudian melanjutkan ucapannya, &#8220;Beberapa waktu yang lalu Ranggasena menghadap padaku dan menyampaikan rencananya. Meskipun menyetujuinya, aku belum dapat mengiyakan sebelum berbicara dengan kalian.&#8221;</p>
<p>&#8220;Rencananya apa, Kiai?&#8221; tanya salah seorang penduduk.</p>
<p>&#8220;Biarlah Ranggasena sendiri yang mengatakan supaya lebih jelas.&#8221;</p>
<p>Ranggasena lalu mengemukakan apa yang menjadi maksud dan rencananya, yaitu mengembangkan Penyayang menjadi sebuah kadipaten. Mendengar ucapan Ranggasena semua penduduk menggangguk-angguk. Namun, tiba-tiba mereka berteriak-teriak tidak setuju. Mereka berdalih bahwa Ranggasena bukan penduduk asli. Mereka curiga Ranggasena hanya akan merusak tatanan yang selama ini sudah berjalan dengan baik.</p>
<p>Hari itu suasana semakin memanas. Meskipun Ranggasena menjelaskan bahwa tujuannya adalah memajukan Penyayang, penduduk masih tetap pada pemikirannya. Semakin lama teriakan demi teriakan terlontar semakin ramai dan tidak ditemukan kata sepakat. Bahkan, ada penduduk yang justru menantang Ranggasena untuk beradu kekuatan.</p>
<p>Kiai Ngabei Tangerang mencoba mendinginkan suasana yang panas dan mulai tidak terkendali itu. Namun, upayanya sia-sia. Penduduk belum mau menerima. Mereka lebih senang jika yang membangun kadipaten adalah Kiai Ngabei Tangerang sendiri.</p>
<p>&#8220;Ya, ya, aku paham maksud kalian. Namun, perlu juga kalian pahami, aku sudah tidak muda lagi. Aku sudah terlalu tua untuk memimpin pembangunan sebuah kadipaten. Oleh karena itu, perlu dicari pemimpin yang muda, pandai, dan tegas seperti Ranggasena.&#8221;</p>
<p>Mendengar ucapan Kiai Ngabei Tangerang semua penduduk terdiam seribu bahasa. Mulut mereka membisu bagai terkunci. Mereka merasakan ucapan tulus itu keluar dari orang yang selama ini mereka hormati. Apalagi ketika sang Kiai menegaskan bahwa dia juga akan turut mewujudkan kadipaten itu, penduduk semakin yakin bahwa ucapan itu benar. Mereka semakin terbuka pikirannya. </p>
<p>Mereka juga menyadari bahwa sebenarnya Ranggasena tidak memiliki niat jahat, tetapi tulus untuk memajukan Penyayang. Yang terpenting lagi, seperti kata sang Kiai, bahwa mereka akan menjadi saksi berdirinya kadipaten di tempat itu. Akhirnya, satu demi satu mereka menyetujui rencana Ranggasena dan bersedia membantu membangun kadipaten. Ranggasena merasa lega karena pada akhirnya rencananya dapat diterima oleh penduduk. Bahkan, ada yang membuat hati Ranggasena sangat bergembira, yaitu penduduk bersedia membantunya membangun kadipaten.</p>
<p>Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, keesokan harinya Ranggasena, anak-anaknya, Kiai Ngabei Tangerang, dan para penduduk mulai bergotong-royong menyiapkan lahan untuk mendirikan kadipaten. Ada yang menebang pohon, mencari kayu yang cocok untuk bangunan. Ada yang membersihan rumput ilalang yang ada di tempat yang direncanakan. Ada pula yang membangun jalan agar pantas menjadi sebuah pusat pemerintahan. Semua bergerak bersama-sama, termasuk para wanita.</p>
<p>Jika pria bekerja di luar, para wanita bekerja di dapur, menyiapkan makanan untuk mereka. Melihat sikap bahu-membahu penduduk, Ranggasena dan Kiai Ngabei Tangerang merasa senang. Mereka merasa sudah tidak ada lagi yang curiga terhadap maksud Ranggasena.</p>
<p>Satu demi satu pekerjaan terselesaikan dengan gotong-royong. Kebersamaan itu telah menghasilkan wujud nyata. Ranggasena dan Kiai Ngabei Tangerang dan sebagian penduduk bertugas membangun pendapa dengan kayu dari hutan itu juga. Anak-anak Ranggasena pun mendapat tugas masing-masing. Salah satunya adalah membangun jalan kadipaten. Setiap hari, seakan tanpa lelah, mereka menjalankan tugas mereka sehingga pembangunan dapat terselesaikan dengan cepat.</p>
<p>Pendapa kadipaten telah berdiri megah. Rumah-rumah di sekitar pendapa itu pun sudah berdiri dan siap dihuni. Jalan-jalan juga sudah dapat dilalui. Semua terselesaikan dengan rapi dan lancar tanpa satu pun halangan. Boleh dikatakan sebuah kadipaten telah berdiri, tetapi pemerintahannya belum berjalan karena belum ada pimpinan yang tetap.</p>
<p>Suatu hari, Kiai Ngabei Tangerang, Ranggasena berserta anak-anaknya, dan penduduk berkumpul di pendapa. Mereka berembuk tentang nama yang baik dan pas untuk kadipaten yang mereka dirikan. Selain itu, mereka juga berembuk tentang siapa yang patut menjadi pimpinan, menjadi adipati. Rembukan itu berjalan dengan baik dan lancar. Rembukan dalam suasana kekeluargaan itu akhirnya menyepakati bahwa Ranggasenalah yang patut menjadi adipati. Untuk memberi nama kadipaten memang terjadi banyak pendapat. Ada yang mengusulkan namanya tetap Penyayang.</p>
<p>Namun, ada yang menyanggah bahwa nama itu sudah menjadi nama salah satu desa. Ranggasena kemudian angkat bicara. Ia mengusulkan kadipaten itu diberi nama penyarang. Nama itu ia ambil karena, ketika belum dibangun kadipaten dan masih berupa hutan, tempat itu banyak sarang burung dan hewan lainnya. Pertemuan itu akhirnya membuahkan kesepakatan tanpa ada pertentangan. Secara aklamasi mereka memutuskan nama kadipaten yang baru mereka bangun adalah Kadipaten Penyarang. Mereka juga sepakat mengangkat Ranggasena menjadi Adipati Penyarang.</p>
<p>Keesokan hari Ranggasena resmi menjabat sebagai adipati di Kadipaten Penyarang dengan gelar Adipati Ranggasena. Penobatannya sebagai adipati dilakukan oleh Sinuhun Keraton Surakarta. Pada saat itu seluruh penduduk terlihat bersuka cita. Sorak sorai menggema
di mana-mana. Pesta ala kadarnya mereka gelar sebagai luapan rasa bahagia. Diam-diam, ternyata sudah cukup lama Ranggasena jatuh cinta kepada putri Kiai Ngabei Tangerang yang bernama Tejalamat.</p>
<p>Oleh karena itu, setelah diangkat menjadi adipati, Ranggasena melamar Tejalamat agar bersedia menjadi pendamping hidupnya. Cinta tak bertepuk sebelah tangan, Tejalamat menerima lamaran itu dan bersedia menjadi istri Adipati Ranggasena. Kiai Ngabei Tangerang pun merestui niat suci Adipati Ranggasena mempersunting putrinya.</p>
<p>Setelah menjabat sebagai adipati, Adipati Ranggasena segera membentuk struktur organisasi pemerintahan. Hal itu ia lakukan agar jalannya pemerintahan di Kadipaten Penyarang dapat berjalan lancar. Ia menempatkan anak-anaknya pada posisi atau bagian yang penting dalam pemerintahan. Wadas Malang bertanggung jawab di bidang keagamaan, Gunung Sari bertanggung jawab di bidang keamanan, sedangkan Sena Reja atau Hajar Sena bertanggung jawab di bidang ekonomi. Banyak juga penduduk yang juga mendapat tanggung jawab dan kepercayaan untuk mengelola dan ikut memajukan Kadipaten Penyarang. Kiai Ngabei Tangerang, meskipun sudah tua, juga mendapat bagian. Ia diangkat menjadi penasihat karena sangat berjasa atas pendirian Kadipaten Penyarang dan pengangkatan Adipati Ranggasena. Namun sayang, belum lama memangku jabatan sebagai penasihat, Kiai Ngabei Tangerang meninggal dunia.</p>
<p>Untuk kelancaran pelaksanaan tanggung jawab, tidak semua putra Adipati Ranggasena tinggal di kadipaten. Wadas Malang dan Gunung Sari tinggal di wilayah kadipaten sebelah barat. Segara Wangi tinggal di wilayah kadipaten sebelah timur. Hanya Sena Reja atau Hajar Sena yang tetap tinggal di kadipaten untuk membantu ayahnya mengelola kadipaten. Sifat tidak pilih kasih Adipati Ranggasena terhadap putra dan penduduknya menjadikan Kadipaten Penyarang semakin maju dan berkembang.</p>
<p>Saat itu agama Islam sudah masuk ke Kadipaten Penyarang, tetapi penduduk belum dapat memelajari ajaran tersebut. Oleh karena itu, Adipati Ranggasena memerintah Wadas Lintang untuk mengupayakan penyebaran ajaran itu.</p>
<p>Gunung Sari ditugasi untuk menjaga keamanannya agar tidak terjadi gejolak dalam penyebaran agama dan utamanya menjaga ketenteraman dan ke tenangan masyarakat. Bidang ekonomi, termasuk pekerjaan warga Kadipaten Penyarang, ditugaskan kepada Sena Reja. Dialah yang mengatur semua kegiatan perekonomian. Selain itu, untuk memantau dan mengendalikan kegiatan penduduk sehari-hari, Segara Wangilah yang ditugasi.</p>
<p>Kemajuan Kadipaten Penyarang semakin terkenal. Lebih-lebih ketika Adipati Ranggasena memperkenalkan Kadipaten Pe nyarang ke Pusat Pemerintahan di Surakarta dan Pajajaran. Untuk membuktikan kemajuannya, Adipati Ranggasena mengirimkan kayu ke Pajajaran untuk membangun pendapa. Pada waktu itu belum ada kendaraan untuk mengangkut kayu dari Kadipaten Penyarang ke Pajajaran. Kayu-kayu itu dikirim dengan cara diseret menggunakan ikat pinggang oleh murid-murid Sunan Kalijaga. Hanya merekalah yang mampu melakukan karena memiliki kesaktian yang diajarkan oleh Sunan Kalijaga.</p>
<p>Kerja sama yang dilakukan Adipati Ranggasena dengan Pemerintah Keraton Surakarta dan Pajajaran menjadikan Kadipaten Penyarang semakin terkenal. Segala penjuru sudah mengetahui tentang keberadaan Kadipaten Penyarang dan Adipati Ranggasena, tentang penduduknya yang telah mendapat tempat tinggal yang layak dan hidup tenteram, serta tentang kemampuan penduduk mengolah dan mengelola hutan dengan baik. Namun, masih ada amanat yang belum terselesaikan oleh Ranggasena, yaitu membangun jalan yang menghubungkan wilayah Surakarta dan Pajajaran. Hal itu berarti bahwa Adipati Ranggasena baru menyelesaikan separuh amanat ayah andanya.</p>
<p>Membangun jalan bukanlah pekerjaan yang mudah. Adipati Ranggasena merasa tidak mampu mengerjakan sendiri. Dahulu selalu dibantu oleh Kiai Ngabei Tangerang, tetapi sekarang harus mencari bantuan orang lain karena Kiai Ngabei Tangerang telah tiada. Ilmu yang diajarkannya pun belum cukup untuk membangun jalan yang menghubungkan Surakarta dan Pajajaran. Dalam hal inilah kesabaran dan ilmunya diuji. Ia harus mencari cara agar jalan dapat dibangun dengan baik dan lancar.</p>
<p>Ia terus memikirkan hal itu sampai-sampai tidak tidur beberapa hari. Pada suatu malam, tanpa sengaja Adipati Ranggasena tertidur. Ia bermimpi bertemu dengan Kiai Ngabei Tangerang. </p>
<p>&#8220;Ranggasena, tugas yang harus kamu jalankan memang berat. Tidak mudah membuat jalan. Namun, kamu tidak perlu putus asa. Semua pasti ada jalan. Ada ilmu yang dapat digunakan, tetapi harus memiliki kesabaran dan pemikiran yang suci. Putramu dapat membantu menyelesaikan tugas itu.&#8221;</p>
<p>Adipati Ranggasena terkejut lalu terbangun dari tidurnya. Ia berusaha mengingat-ingat pesan Kiai Ngabei Tangerang dalam mimpinya.</p>
<p>&#8220;Pesan Kiai akan saya lakukan. Mohon restu, Kiai,&#8221; gumannya.</p>
<p>Keseokan hari Adipati Ranggasena mulai menjalankan apa yang dipesankan Kiai Ngabei Tagerang dalam mimpinya. Ia mulai membangun jalan ke arah barat, yang akan menghubungkan Kadipaten Penyarang dengan Pajajaran. Setiap hari ia menjalankan tugas itu dengan sabar. Ia tidak pernah marah kepada siapa saja yang membantunya. Yang lebih penting, meskipun putranya ikut membantu, ia tetap harus ikut serta melakukan dan memimpin pelaksanaan tugas tersebut.</p>
<p>Bertahun-tahun Adipati Ranggasena dibantu putra-putranya serta penduduk Kadipaten Penyarang bekerja tidak kenal lelah. Sedikit demi sedikit pembangunan jalan diselesaikan dengan lancar. Keberhasilan itu membuat hati mereka lega. Pekerjaan yang mereka pikir mustahil dilakukan itu telah dirampungkannya. Meskipun belum terlihat benar-benar rapi, jalan yang menghubungkan Kadipaten Penyarang dan Pajajaran itu sudah dapat dilewati dengan nyaman.</p>
<p>Setiap daerah yang dilalui jalan itu diberi nama dengan sebutan ci oleh Adipati Ranggasena, seperti Cipari, Cikangleles, Cikalong, Cinangsi, Cibenda, dan Ciloning. Kata ci memiliki makna ‘sumber air’.</p>
<p>Penamaan dengan sebutan ci tersebut dimaksudkan agar daerah yang diberi nama dengan kata itu tidak pernah kehabisan air.Pembangunan kadipaten dan jalan telah selesai dijalankan. Dengan demikian, amanat Prabu Ciung Wanara telah dipenuhi oleh Adipati Ranggasena. Namun, Adipati Ranggasena tidak berkeinginan kembali ke Pajajaran. Ia memilih menetap dan menyatu dengan penduduk Kadipaten Penyarang. Hal itu sudah menjadi tekadnya ketika diangkat sebagai adipati.</p>
<p>Ia tidak akan meninggalkan dan akan tetap menjadi bagian Kadipaten Penyarang. Tekad itu dibuktikannya dengan tetap menjadi Adipati sampai usianya senja. Kekuatan manusia ada batasnya. Karena usianya yang semakin tua, Adipati Ranggasena merasa tidak mampu lagi menjadi adipati. Oleh karena itu, ia menyerahkan tampuk pimpinan Kadipaten Penyarang kepada putra bungsunya, yaitu Sena Reja atau Hajar Sena. Ia menjadi adipati kedua di Kadipaten Penyarang dengan gelar Adipati Anom Ranggasena.</p>
<p>Seperti halnya ayahnya, penobatan Adipati Anom Ranggasena pun dikukuhkan oleh Sinuhun Keraton Surakarta. Entah beberapa waktu lamanya, setelah menyerahkan tampuk kekuasaan kepada putranya, Adipati Ranggasena meninggal dunia. Namun, sebelum meninggal ia berpesan kepada istri, anak, dan semua penduduk Kadipaten Penyarang.</p>
<p>&#8220;Anak dan cucuku semua, jika waktuku tiba, aku harus meninggalkan kalian semua. Tapi, jika kalian minta apa saja kepadaku, aku sanggup.&#8221;</p>
<p>Setelah berpesan seperti itu, Adipati Ranggasena menghembuskan napasnya yang terakhir. Ia lalu dimakamkan di wilayah Kadipaten </p>
<p>Penyarang yang disebut Cisagu. Kata cisagu berasal dari pesan Adipati Ranggasena yang &#8220;sanggup&#8221; memenuhi permintaan anak, cucu, dan penduduk semua. Kata sanggup dalam bahasa Jawa adalah saguh. Jadi, nama Cisagu berasal dari kata ci dan saguh. Selanjutnya, makam Adipati Ranggasena disebut Panembahan Cisagu. Sampai saat ini makam tersebut menjadi tempat ziarah yang terkenal dan banyak didatangi peziarah dari berbagai penjuru.</p>
<p><strong>Diceritakan oleh: Suryo Handono</p>
<p>Disadur dari Cerita Rakyat Cilacap Jawa Tengah.</p>
<p>Diterbitkan oleh Balai Bahasa Jawa Tengah Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/ilustrasi-Ranggasena-dan-Kiai-Ngabei-Tangerang-dan-para-penduduk-bergotong-royong-untuk-mendirikan-kadipaten.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[ilustrasi Ranggasena dan Kiai Ngabei Tangerang dan para penduduk bergotong royong untuk mendirikan kadipaten]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/ilustrasi-Ranggasena-dan-Kiai-Ngabei-Tangerang-dan-para-penduduk-bergotong-royong-untuk-mendirikan-kadipaten-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[ilustrasi Ranggasena dan Kiai Ngabei Tangerang dan para penduduk bergotong royong untuk mendirikan kadipaten]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Fenomena Banjir Jadi Berkah Buat Jasa Gerobak Motor, Tarifnya Wow</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-33868/fenomena-banjir-jadi-berkah-buat-jasa-gerobak-motor-tarifnya-wow</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 15 Dec 2020 08:23:20 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Banjir]]></category>
		<category><![CDATA[Cilacap]]></category>
		<category><![CDATA[Sidareja]]></category>
		<category><![CDATA[Unik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-33868/fenomena-banjir-jadi-berkah-buat-jasa-gerobak-motor-tarifnya-wow</guid>

					<description><![CDATA[CILACAP.INFO &#8211; Diguyur hujan lebat seharian, tak ayal jika berimbas Banjir disejumlah daerah di Cilacap, dan dari data yang dikeluarkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap, Minggu (13 Desember 2020) tercatat 11 Kecamatan di Cilacap terdampak banjir.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Diguyur hujan lebat seharian, tak ayal jika berimbas Banjir disejumlah daerah di Cilacap, dan dari data yang dikeluarkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap, Minggu (13 Desember 2020) tercatat 11 Kecamatan di Cilacap terdampak banjir.</p>
<p>Daerah terdampak banjir tersebut yaitu meliputi: Adipala, Bantarsari, Cipari, Gandrungmangu, Jeruklegi, Kampung Laut, Kedungreja, Kesugihan, Majenang dan Sidareja.</p>
<p>Seperti di Kecamatan Sidareja, wilayah ini adalah langganan Banjir setiap tahunnya kala musim hujan dan diguyur hujan dengan intensitas yang tinggi hingga seharian.</p>
<p>Banjir yang menjadi langganan tersebut dikarenakan Sidareja wilayahnya merupakan cekungan, namun sebagiannya adalah pegunungan dengan ditanami tumbuhan pinus.</p>
<p>Jika banjir, bahkan bisa menutupi jalur utama yang menghubungkan antar kecamatan dan provinsi, seperti ke Sidareja, Patimuan, begitu juga di Gandrungmangu yang juga langganan banjir, padahal jalur tersebut terbilang ramai dengan lalu lalang kendaraan, dan menuju Karangpucung, Pangandaran, atau ke arah Purwodadi, Ciamis dan Langensari, Kota banjar Jawa Barat.</p>
<p>Dijumpai di lampu merah Sidareja, terdapat fenomena unik dan menyita perhatian pengguna jalan yang menggunakan kendaraan, apalagi yang mengendarai sepeda motor.</p>
<p>Bagaimana tidak, pasalnya terlihat beberapa gerobak berjejeran dengan beberapa orang joki dan pendorongnya. Ternyata mereka adalah para penyedia jasa angkut motor dengan gerobak.</p>
<p>Dimana motor itu diletakan di atas gerobak dan kemudian dibawa oleh joki dan pendorongnya. Kala awak redaksi Cilacap.info melintas, meski tak sempat memfoto fenomena tersebut, namun dari penuturan penyedia jasa, mereka menawari jasa tersebut Rp20 ribu.</p>
<p>Untuk sekali angkutan, gerobak tersebut hanya bisa mengangkut 1 sepeda motor, dan bagi yang takut menerjang banjir mereka akan menggunakan jasa tersebut.</p>
<p>Akan tetapi jika datangnya dari arah Cipari atau Manganti dan yang tidak tahu kondisi banjir di Sidareja, meskipun menggunakan jasa tersebut, akan tetapi masih ada beberapa titik di depan nya sampai ke POM Bensin Wringinharjo Gandrungmangu yang tergenang banjir.</p>
<p>Manakala redaksi menelusuri wilayah tersebut, pengendara sepeda motor yang menggunakan jasa tersebut berujar, &#8220;Ternyata banjirnya tidak hanya di Lampu Merah.&#8221; Ujar salah seorang pengendara.</p>
<p>Namun demikian, Banjir menjadi berkah tersendiri bagi penyedia jasa angkut motor menggunakan gerobak.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/ilustrasi-jasa-gerobak-angkut-motor-saat-banjir.jpeg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="700"
				height="393">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[ilustrasi jasa gerobak angkut motor saat banjir]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/ilustrasi-jasa-gerobak-angkut-motor-saat-banjir-100x75.jpeg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[ilustrasi jasa gerobak angkut motor saat banjir (Istimewa www.motorplus-online.com)]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Asal Usul Dusun Sitinggil di Bantarsari Cilacap</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-33749/asal-usul-dusun-sitinggil-di-bantarsari-cilacap</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 10 Dec 2020 16:32:03 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Bantarsari]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Cilacap]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Sitinggil Rawajaya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-33749/asal-usul-dusun-sitinggil-di-bantarsari-cilacap</guid>

					<description><![CDATA[CILACAP.INFO &#8211; Pagi yang cerah menghiasi Dusun Combo. Ujung-ujung daun tampak butiran-butiran air yang siap untuk menjatuhkan diri dan menyatu dengan tanah yang ada di bawahnya. Bentangan kebun yang diisi dengan berbagai macam pohon buah menunjukkan bahwa masyarakat Dusun Combo memiliki kesibukkan keseharian menggarap kebun tersebut.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Pagi yang cerah menghiasi Dusun Combo. Ujung-ujung daun tampak butiran-butiran air yang siap untuk menjatuhkan diri dan menyatu dengan tanah yang ada di bawahnya. Bentangan kebun yang diisi dengan berbagai macam pohon buah menunjukkan bahwa masyarakat Dusun Combo memiliki kesibukkan keseharian menggarap kebun tersebut.</p>
<p>Suara kokok ayam jantan yang bersahut-sahutan menyongsong datangnya pagi menambah suasana tenteram dan damai Dusun Combo. Tampak di ujung jalan dusun sebuah rumah yang asri dan sederhana. di bagian depan rumah tampak balai-balai yang sering digunakan pemilik rumah untuk bersantai.</p>
<p>Di sebelah kanan tiang rumah tampak sebuah gentong berserta dengan siwur. Sepanjang jalan halaman rumah itu dihiasi dengan berbagai macam tanaman yang dapat dimanfaatkan oleh pemilik rumah.</p>
<p>Suara gemericik air yang mengaliri sawah yang ada di samping rumah semakin menambah keasrian dan keyamanan rumah itu. Rumah itu milik sepasang suami istri, yaitu Ki Cokro Pawiro dan istrinya yang bernama Suratmi. Sepasang suami istri ini memiliki kesibukkan menggarap kebun dan sawah yang ada di samping rumah.</p>
<p>Meskipun matahari masih malu-malu menunjukan muka, kesibukkan rumah itu sudah terlihat. Suratmi sibuk di dapur menyeduh kopi untuk Ki Cokro Pawiro. Sedangkan Ki Cokro Pawiro terlihat termenung di kursi dapur.</p>
<p>Kegelisahan Ki Cokro ditangkap oleh
Suratmi.</p>
<p>&#8220;Kang&#8230; Kang&#8230; Kang&#8230;,&#8221; panggil Suratmi.</p>
<p>&#8220;Kang&#8230;!!&#8221; Suratmi mengeraskan suaranya.</p>
<p>Ki Cokro gelagapan mendengarkan suara istrinya. Seketika lamunannya buyar, terbang meninggalkan isi kepalanya.</p>
<p>&#8220;Apa to&#8230; Mi&#8230; bikin kaget saja kamu ini,&#8221; jawab Ki Cokro.</p>
<p>&#8220;Pagi-pagi kok sudah melamun, apa yang kamu lamunkan, Kang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh&#8230; aku sedang memikirkan nasib kita Mi&#8230; mikir nasibku, nasibmu, dan nasib si jabang bayi yang ada di dalam perutmu itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lho&#8230; memangnya ada apa dengan nasib kita, Kang? Aku sudah bahagia hidup dengan kamu, Kang, apalagi dengan adanya si jabang bayi ini.</p>
<p>Aku merasa nasibku baik-baik saja menjadi istrimu. Kamu suami yang bertanggung jawab tidak pernah macam-macam, dan selalu membuat aku nyaman dan tenteram. Jadi aku pikir tidak ada yang kurang dengan nasibku ini, Kang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku ingin membuat nasib kita menjadi lebih baik lagi, Mi. Agar kelak anak turunan kita tidak pernah menderita dan kekurangan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku sudah bahagia dengan keadaan kita sekarang ini, Kang. Jadi, Kakang tidak perlu lagi melakukan sesuatu yang akan membuatku lebih bahagia. Sudah&#8230; ini kopinya diminum dulu, setelah itu kita pergi ke sawah.&#8221;</p>
<p>Hari berganti hari, minggu berganti minggu hingga usia kehamilan Suratmi sudah masuk bulan ketiga. Akan tetapi, Ki Cokro masih terganggu dengan keinginan yang pernah ia utarakan kepada istrinya.</p>
<p>Pada suatu senja Ki Cokro bersama istrinya duduk-duduk di bale rumahnya untuk melepaskan penat setelah seharian beraktivitas di kebun dan sawah. Sambil minum secangkir kopi dan menikmati sepotong ubi bakar, yang disuguhkan oleh istrinya yang sangat setia itu, Ki Cokro menyampaikan sesuatu pada istrinya.</p>
<p>&#8220;Suratmi, istriku sayang. Saya mau bicara, tapi saya mohon kamu jangan bersedih hati, karena ini semua merupakan tugas kehidupan yang harus saya jalani.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa masalah yang mau Kakang omongkan masih ada kaitannya dengan keinginan yang pernah Kakang sampaikan beberapa bulan yang lalu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Benar sekali istriku. Walaupun kamu sekarang sedang me-ngandung anak kita, izinkan saya pergi menuju ke suatu daerah di Cilacap sebelah barat.</p>
<p>Saya ingin membuka lahan di sana. Saya ingin kelak anak cucu kita tidak kekurangan satu hal apa pun.&#8221;</p>
<p>Dengan rasa haru dan berat hati, Suratmi menatap wajah suaminya, kemudian berkata, &#8220;Sebenarnya berat sekali aku harus berpisah denganmu, Kang. Apalagi usia kandunganku sekarang sudah tiga bulan.</p>
<p>Aku butuh kamu di sisiku, Kang, menemani aku menjalani hari-hari menunggu lahirnya si jabang bayi ini. Namun, demi cita-citamu yang mulia, aku rela melepas kepergianmu.</p>
<p>Doaku selalu menyertaimu, Kang, mudah-mudahan engkau selalu mendapat perlindungan dari yang Mahakuasa dan doakan aku juga agar selalu sehat dan dapat merawat anak kita jika sudah lahir kelak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jadi, kamu mengizinkan aku untuk menggapai apa yang menjadi harapanku, Mi? Benar, Mi, kamu ikhlas izinkan aku pergi?&#8221; jawab Ki Cokro.</p>
<p>&#8220;Ya, Kang, aku tidak mau melihat suamiku merenung setiap hari. Meskipun aku sedang mengandung anakmu, aku tidak mau menghalangi apa yang menjadi keinginanmu. Kamu sudah mem-berikan kebahagiaan untukku. Kini giliranku memberi kebahagiaan untukmu, Kang.&#8221;</p>
<p>Sambil kembali minum kopinya yang masih tersisa, Ki Cokro berkata, &#8220;Iya, Mi, terima kasih atas pengertianmu. Engkau seorang istri yang salihah. Aku pergi untuk hari depan kita yang lebih baik. Aku berpesan padamu, jika anak kita lahir laki-laki, maka berilah nama Sirad!&#8221;</p>
<p>&#8220;Baik, Kang, akan kuingat pesanmu itu. Kapan kamu akan ber-angkat Kang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Lebih cepat lebih bagus, jika kamu izinkan aku berangkat minggu depan.&#8221;</p>
<p>Satu minggu telah berlalu, pagi-pagi sekali setelah salat subuh bersama, Ki Cokro berpamitan pada Suratmi sambil memeluk dan mengelus-elus perut istrinya yang sedang hamil.</p>
<p>Suratmi pun tidak dapat menahan keharuannya. Dengan berlinang air mata ia berkata, &#8220;Pergilah, Kang. Hati-hatilah di jalan, doaku menyertaimu!&#8221;
&#8220;Ya Mi, terima kasih kamu sudah mau mengerti. Ingat pesanku untuk memberi nama anak kita Sirad!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya Kang, anak kita pasti akan aku beri nama Sirad, sesuai dengan keinginanmu.&#8221;</p>
<p>Bulan berganti bulan. Tidak terasa Ki Cokro telah meninggalkan rumah selama enam bulan. Ini berarti sudah saatnya Mbok Ratmi melahirkan si jabang bayi yang dikandungnya.</p>
<p>Dengan bantuan dukun beranak yang ada di desanya, Mbok Suratmi melahirkan seorang bayi laki-laki. Bayi laki-laki itu sangat sehat, montok, dan kulitnya putih.</p>
<p>Parasnya ganteng seperti paras Ki Cokro. Jika memandang paras si jabang bayi, Mbok Ratmi teringat kepada suaminya dan tanpa terasa airmatanya meleleh membasahi pipinya.</p>
<p>Jika rasa kangen kepada Ki Cokro begitu hebatnya, Mbok Ratmi hanya dapat memandangi wajah si jabang bayi, kemudian memeluknya erat-erat seolah-olah dia tidak mau dipisahkan dengan anaknya yang hadir di dunia ini sebagai tanda cinta dirinya dengan Ki Cokro.</p>
<p>Teringat dengan pesan suaminya, Mbok Ratmi memberi bayi itu nama Sirad. Waktu yang berlalu membuat Sirad tumbuh menjadi sosok pemuda yang ganteng dan gagah. Keprihatinan hidup yang ia jalani, karena ia hidup tanpa didampingi oleh sosok ayah, membuatnya menjadi seorang pemuda yang gigih, ulet, rajin bekerja, serta disegani oleh teman-temannya.</p>
<p>Sirad sangat menyayangi ibunya. Peran Ki Cokro digantikan oleh Sirad. Sirad bekerja keras menggarap kebun dan sawahnya untuk mencukupi kebutuhan hidup Ibu dan dirinya. Satu hal yang masih menjadi teka-teki dan pertanyaan yang sangat besar di dalam dirinya adalah masalah ayahnya.</p>
<p>Mengapa ayahnya meninggkan dia dan ibunya?</p>
<p>&#8220;Suatu waktu nanti aku akan bertanya tentang bapakku kepada simbok. Mengapa bapak tega meninggalkan aku dan simbok.&#8221;</p>
<p>Senja itu terlihat sangat indah. Perlahan namun pasti sang pemberi cahaya di siang hari akan meninggalkan dusun. Seiring dengan kepergian sang surya, perlahan langit yang cerah diganti dengan gelapnya senja.</p>
<p>Peran itu kemudian akan digantikan oleh bulan dan bintang. Sambil menikmati singkong rebus, Sirad memberanikan dirinya untuk bertanya kepada simboknya perihal bapaknya.</p>
<p>&#8220;Mbok, sampai hari ini aku belum pernah melihat wajah bapakku. di mimpi pun aku tidak pernah&#8221; ucap Sirad.</p>
<p>Mbok Suratmi terkejut dengan pertanyaan anak semata wayangnya itu. Diletakkannya singkong rebus yang hampir saja masuk ke dalam mulutnya.</p>
<p>Dengan penuh kasih sayang Mbok Suratmi menatap wajah anaknya, matanya tampak berkaca-kaca. Mbok Ratmi berusaha untuk menahan agar air mata tidak meninggalkan pelupuk matanya.</p>
<p>Namun, kekuatan alam lebih kuat dari perintah Mbok Ratmi. Air mata itu tetap jatuh satu demi satu membasahi pipinya. Rasa kangen kepada suaminya yang sekian puluh tahun meninggalkan dirinya muncul kembali mengaduk-aduk rasa yang telah berhasil ia pendam.</p>
<p>&#8220;Mengapa Simbok menangis? Jika pertanyaanku ini membuat Simbok sedih saya minta maaf Mbok. Simbok tidak perlu menjawab pertanyaanku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya, Le. Pertanyaanmu itu mengingatkan simbok kepada ba-pakmu. Simbok sudah berusaha untuk bersabar dan menunggu kepulangan bapakmu. Namun, sampai saat ini bapakmu tidak pernah kembali ke kita.&#8221;</p>
<p>&#8220;Memang bapak ke mana, Mbok? Bukannya bapakku sudah meninggal, seperti yang diucapkan oleh kawan-kawan bermainku dulu, Mbok?&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa yang diomongkan oleh kawan-kawanmu itu tidak benar, Le&#8230; . Karena sekarang kamu sudah dewasa, sudah saatnya Simbok bercerita tentang bapakmu,&#8221; jawab mbok Suratmi sambil mengusap air mata yang semakin gencar menghinggapi pipinya.</p>
<p>Akhirnya, Mbok Suratmi menceritakan tentang kepergian suami-nya yang mengembara ketika Sirad masih dalam kandungannya.</p>
<p>Senja hari itu menjadi saksi terkuaknya misteri yang puluhan tahun menghinggapi dan mengganggu pikiran Sirad.</p>
<p>&#8220;Bapakmu sampai sekarang masih hidup. Dia bernama Cokro Pawiro. Ketika kamu masih dalam kandungan, ia pamit pergi ke wilayah Cilacap bagian barat untuk mencapai cita-citanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa cita-cita Bapak, Mbok? Mengapa hanya karena cita-cita bapak tega meninggalkan kita?&#8221; tanya Sirad lagi.</p>
<p>&#8220;Bapakmu punya cita-cita yang luhur, Le. Ia ingin membahagiakan kita. Untuk itulah bapakmu pergi dan membuka lahan di daerah sana,&#8221; sambung Mbok Suratmi lagi.</p>
<p>Setelah mendengar penjelasan ibunya tentang bapaknya, dalam hati Sirad muncul sebuah keinginan. Sirad ingin bertemu dengan bapaknya. Sirad memohon kepada Mbok Suratmi untuk pergi ke daerah Cilacap bagian Barat menyusul ayahnya.</p>
<p>&#8220;Baiklah, Le. Besok kita akan menyusul dan mencari bapakmu,&#8221;</p>
<p>Mbok Suratmi tidak tega menolak permintaan anaknya dan se-benarnya ia sendiri juga sangat ingin berjumpa dengan suaminya, yaitu Ki Cokro. Tanpa disadari, ternyata sudah sembilan belas tahun ia berpisah dengan suaminya, Ki Cokro.</p>
<p>Keesokan harinya Mbok Suratmi dan Sirad berkemas-kemas. Tidak lupa Mbok Suratmi mempersiapkan bekal untuk perjalanan mereka. Mbok Suratmi membungkus beberapa pakaian dan makanan.</p>
<p>Setelah perbekalan dirasakan cukup akhirnya kedua orang itu berangkat menuju Cilacap Barat. Tempat yang dituju adalah Desa Bantarsari. Menurut kabar berita yang diterima oleh Mbok Suratmi. Ki Cokro telah berhasil membuka lahan di daerah itu.</p>
<p>Karena keuletan, kerja keras, dan keramahannya, Ki Cokro dikenal oleh masyarakat sehingga Mbok Suratmi dan Sirad tidak mengalami kesulitan untuk menemukan kediaman Ki Cokro.</p>
<p>Rumah ki Cokro tidak pernah sepi. Setiap saat orang bisa datang ke sana. Ada yang datang untuk membahas pekerjaan, menanyakan tentang teknik membuka lahan baru, bahkan ada juga yang hanya sekadar ngobrol tak tentu arah hanya untuk mengisi waktu luang.</p>
<p>Suatu sore di rumah Ki Cokro Pawiro terlihat ia sedang bercakap-cakap dengan dua orang temannya, Ki Kartapusaka dan Ki Yasasuwita. Mereka membahas tentang pekerjaan membuka lahan.</p>
<p>Aktivitas obrolan tersebut terhenti karena kedatangan seorang perempuan paruh baya dengan seorang anak laki-laki. Setelah melihat kedua orang itu, Ki Cokro sangat terkejut. Serasa ditimpa oleh beban yang beratnya ratusan ton. Tanpa diminta, perempuan itu memperkenalkan dirinya kepada Ki Cokro.</p>
<p>&#8220;Kakang, aku Suratmi dan anak laki-laki yang aku bawa Ini Sirad, anakmu, Kang!&#8221; kata Mbok Suratmi sambil menangis terharu.</p>
<p>&#8220;Astaghfi rullah&#8230; ya Allah&#8230; benar ini kamu Suratmi, istriku yang dulu aku tinggalkan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya Kakang&#8230; aku Suratmi, Kang&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan anak laki-laki ini anak kita yang kamu kandung dulu&#8230; Ya Allah&#8230; terima kasih ya Allah&#8230; akhirnya Kau pertemukan lagi aku dengan keluarga yang aku sayangi ini. Sini Le&#8230; aku ingin me-melukmu.&#8221;</p>
<p>Ki Cokro dan Sirad berpelukan. Ketiga orang itu bertangis-tangisan karena rasa haru yang sangat dalam. Setelah sekian puluh tahun terpisah akhirnya dapat berkumpul kembali. Melihat peristiwa yang mengharukan itu, Ki Kartapusaka dan Ki Yasasuwita mendekat.</p>
<p>&#8220;Apakah ini anakmu yang sering engkau ceritakan, Kang Cokro, yang kamu tinggal waktu masih berada dalam kandungan istrimu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul, Kang Karta,&#8221; jawab Ki Cokro sambil menghapus air matanya.</p>
<p>&#8220;Wah&#8230; ganteng tenan. Gagah, siapa namamu, Le?&#8221; tanya Ki Yasasuwita.</p>
<p>&#8220;Sejak masih dalam kandungan ia sudah kuberi nama Sirad, Kang. Aku pesankan ke istriku jika kelak si jabang bayi lahir dan berjenis kelamin laki-laki, harus diberi nama Sirad&#8221;</p>
<p>Ki Cokro yang menjawab dengan terbata-bata sambil mengusap air mata. &#8220;Maafkan bapakmu, Le&#8230; sembilan belas tahun engkau ku-tinggalkan, baru sekarang kita bertemu,&#8221; sambungnya lagi sambil memeluk kembali Sirad. </p>
<p>Tidak ada yang mampu dilakukan oleh Sirad selain menuruti gerakan tubuh bapaknya yang menariknya ke dalam pelukan. Sirad tidak mampu berkata-kata, keharuan menyelimuti hatinya.</p>
<p>Sosok yang tadi berdiri dan sekarang memeluknya adalah bapaknya, figur yang selama ini dia idam-idamkan. Seseorang yang selama sekian puluh tahun ingin dilihat wajahnya. Tiba-tiba orang itu sekarang berdiri di depannya, dan bahkan memeluk dirinya. Sebuah anugerah yang luar biasa manisnya dari Allah.</p>
<p>&#8220;Alhamdulillah&#8230; terima kasih ya Allah&#8230; berkat kebesaran-Mu akhirnya aku dapat bertemu dan melihat wajahnya setelah sekian puluh tahun,&#8221; gumam Sirad dalam hati.</p>
<p>Sejak saat itu, Ki Cokro dan Mbok Suratmi bersepakat untuk tidak saling meninggalkan. Ki Cokro meminta kepada Mbok Ratmi dan Sirad untuk tinggal di rumahnya. Sejak saat itu Sirad tinggal bersama kedua orang tuanya.</p>
<p>Meskipun hidup serba kecukupan dan penuh dengan harta benda, Sirad tidak berubah. Ia tetap menjadi sosok yang ulet dan suka bekerja keras. Sirad rajin membantu ayahnya bekerja di kebun.</p>
<p>Sifat ayahnya yang sabar, bijaksana, dan pandai bergaul menurunkepadanya. Hal itu membuat Sirad disukai oleh warga di sekitar rumahnya. Ia ringan tangan. Siapa pun yang datang dan meminta bantuan, Sirad dengan senang hati dan ikhlas akan membantu. Ia juga terkenal sebagai pemuda yang pemberani dan tegas.</p>
<p>Ia bukan pemuda yang malas. Hal itulah yang membuat Sirad mendapatkan kepercayaan dari masyarakat desa untuk menjadi bayan pada saat bayan di dusun itu meninggal. Dusun itu bernama Dusun Jakatawa. Sebuah dusun yang wilayahnya terpisah oleh bentangan rel kereta api.</p>
<p>Pagi yang tenang dan hening pecah oleh teriakan seorang warga memanggil nama Bayan Sirad di depan rumah.</p>
<p>&#8220;Ki&#8230; Ki Bayan Sirad&#8230; Ki&#8230; Ki Bayan Sirad&#8230;!!&#8221; teriak orang itu.</p>
<p>Bayan Sirad ke luar dari rumahnya dan menghampiri orang tersebut.</p>
<p>&#8220;Tenang, Kang&#8230; tenang&#8230; ada apa ini, Kang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Gawat Ki&#8230; Gawat&#8230; Ki Bayan, ada orang bertengkar, Ki. Mereka sudah saling hunus golok, cepat dilerai Ki&#8230; Jika tidak, akan terjadi pertumpahan darah di dusun kita ini,&#8221; lapor orang itu.</p>
<p>&#8220;Astaghfirullah&#8230; ada masalah apa, Kang?&#8221; tanya Bayan Sirad.</p>
<p>&#8220;Kurang tahu, Ki. Mereka tidak ada yang mau mengalah!&#8221; jawab orang itu.</p>
<p>&#8220;Kalau begitu, antarkan saya ke tempat kedua orang itu bertengar, sekarang !!&#8221;
&#8220;Baik Ki&#8230; .&#8221;</p>
<p>Bergegas Bayan Sirad mengikuti warganya menuju ke arah sebelah barat desa. Setelah beberapa menit berjalan, benar saja, di sebuah perkebunan pisang terlihat dua orang sedang berhadapan dan saling menghunus golok.</p>
<p>Muka kedua orang itu merah padam tanda amarah. Mereka sedang berdebat, tapi tidak jelas apa yang diperdebatkan. Hanya samar-samar suara mereka dapat terdengar oleh Bayan Sirad. Setelah jarak antara Sirad dengan kedua orang itu sudah dekat, Bayan Sirad berusaha untuk melerai pertengkaran itu.</p>
<p>&#8220;Ada apa, Kang? Kok sampean berdua bertengkar, pakai meng-hunus golok? Jika ada masalah dipecahkan dengan kepala dingin, bukan dengan emosi,&#8221; tanya Bayan Sirad.</p>
<p>Kedua orang itu berebut untuk berbicara terebih dahulu sehingga suasana semakin memanas karena masing-masing ingin didengar dan ingin mendapatkan kebenaran. Lalu Sirad meminta salah satu dari orang itu untuk berbicara dan meminta yang satunya diam dulu agar Sirad tahu dan paham duduk persoalannya.</p>
<p>&#8220;Ini, Ki Bayan. Pohon pisang Kang Parto roboh ke kebunku. Padahal, kebunku ini baru saja aku tanami kacang. Lihat ini, tanaman kacangku berantakan tidak karuan karena ditimpa oleh pohon pisang. Lha&#8230; aku nggak mau rugi, kuambil saja buah pisangnya sebagai ganti rugi,&#8221; kata Kang Sirin.</p>
<p>&#8220;Lha, itu &#8216;kan namanya maling, Ki Bayan. Mengambil barang orang tanpa izin yang punya &#8216;kan namanya maling. Maling &#8216;kan harus dihajar!&#8221;</p>
<p>Kang Parto mengangkat golok yang ada di tangannya siap untuk diayunkan.</p>
<p>&#8220;Sabar&#8230; sabar&#8230; sabar, Kang! Tidak semua masalah dapat di selesaikan dengan adu otot. Masalah itu tidak dapat diselesaikan dengan amarah, Kang! Tidak akan selesai. Salah-salah bukannya me-nyelesaikan masalah justru akan membuat masalah semakin ber-kepanjangan,&#8221; teriak Sirad sambil membentangkan tangan di antara kedua orang yang sedang dilanda emosi.</p>
<p>&#8220;Sabar&#8230; sabar bagaimana, Ki Bayan. Lha, saya rugi Ki Bayan. Lihatlah pisangku diambil Kang Sirin!&#8221; tukas Kang Parto.</p>
<p>&#8220;Saya juga rugi, tanaman kacangku belum berbuah, sudah rusak tertimpa pohon pisangmu!&#8221; sahut Kang Sirin.</p>
<p>&#8220;Begini saja, Kang Sirin. Buah pisang Kang Parto dikembalikan saja dan Kang Parto memberi benih kacang kepada Kang Sirin sebagai ganti tanaman kacangnya yang rusak karena tertimpa oleh pohon pisang yang roboh. Kang Parto dapat pisangnya kembali dan Kang Sirin dapat ganti rugi tanaman kacangnya yang rusak. Jadi, tidak ada yang dirugikan dan tidak ada yang diuntungkan. Bagaimana?&#8221; tanya
Bayan Sirad.</p>
<p>Kedua orang itu berpandangan, kemudian menggangguk-angguk tanda menyetujui usulan Bayan Sirad. Bayan Sirad tersenyum.</p>
<p>&#8220;Ya sudah, Kang. Masalah sudah selesai! Daripada bertengkar lebih baik untuk bekerja bukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Inggih, Ki Bayan. Terima kasih nasihatnya!&#8221; kata Kang Parto.</p>
<p>Kedua orang itu bersalaman kemudian meninggalkan tempat ter-sebut. Ki Bayan Sirad lega hatinya menyaksikan hal tersebut. Dia telah berhasil mencegah terjadinya pertumpahan darah.</p>
<p>Dengan tersenyum, ditinggalkannya tempat itu menuju kembali ke rumahnya. Suatu ketika Mbah Candra yang menjadi kepala dusun atau bahu di Jakatawa sakit.</p>
<p>Mbah Candra sudah sangat lama menjadi Bahu Jakatawa. Usianya sudah sangat tua. Akhirnya, disepakati untuk mencari pengganti Mbah Candra sebagai Bahu Jakatawa. Ketika musyawarah di Balai Dusun Jakatawa, beberapa orang diusulkan termasuk Bayan Sirad.</p>
<p>&#8220;Saya usul, Bayan Sirad jadi pengganti Mbah Candra,&#8221; kata Senthu.</p>
<p>&#8220;Saya setuju!&#8221; sahut Ki Kartareja.</p>
<p>&#8220;Betul, saya juga setuju!&#8221; sabung Ki Ardamenawi.</p>
<p>Karena banyak yang mendukung Sirad, akhirnya ia terpilih menjadi Kepala Dusun atau Bahu Jakatawa. Pada waktu itu pusat pemerintahan Dusun Jakatawa berada di sebelah utara jalur kereta api, sedangkan rumah Bahu Sirad di sebelah selatan rel, tidak jauh dari rawa-rawa yang biasa disebut Rawakeling.</p>
<p>Masyarakat percaya bahwa Rawakeling merupakan daerah yang wingit. di dekat Rawakeling terdapat gumuk atau tanah yang lebih tinggi dari daerah sekitarnya. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, ada dua ekor hewan sakti yang tinggal di sana. Yaitu seekor menjangan rawa dan seekor banteng yang bertanda putih di dahinya.</p>
<p>Beberapa orang pernah melihat menjangan berbulu abu-abu itu melintas di gumuk, bahkan ada seorang pemburu mencoba menembaknya berkali-kali, tetapi tak satu pun peluru yang menembus tubuhnya. Peluru itu hanya berjatuhan saja.</p>
<p>Ketika Bahu Sirad sedang berjalan-jalan, ia bertemu beberapa warga.</p>
<p>&#8220;Dari mana, Kang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Dari gumuk sana, Ki Bahu, saking Siti Hinggil,&#8221; jawab orang itu.</p>
<p>&#8220;Lha, sampean mau ke mana, Yu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya mau menyebar kacang ke gumuk sana, wonten Siti Hinggil,&#8221; kata wanita itu sambil menunjuk daerah Rawakeling.</p>
<p>Karena seringnya warga menyebut tempat itu Siti Hinggil, Bahu Sirad mem-punyai rencana mengganti nama Dusun Jakatawa menjadi Sitinggil.</p>
<p>Bahu Sirad menyampaikan rencana tersebut kepada Senthu.</p>
<p>&#8220;Kang Senthu, saya punya rencana untuk mengganti nama Dusun Jakatawa menjadi Dusun Sitinggil,&#8221; kata Bahu Sirad.</p>
<p>&#8220;Mengapa diganti nama Sitinggil, Ki Bahu?&#8221; tanya Senthu.</p>
<p>&#8220;Karena di tempat ini terdapat gumuk yang oleh orang-orang disebut Siti Hinggil,&#8221; jawab Bahu Sirad.</p>
<p>Beberapa hari kemudian Bahu Sirad mengumpulkan warganya untuk membicarakan masalah tersebut. Dalam musyawarah tersebut diperoleh kesepakatan untuk mengganti nama daerah Jakatawa se-belah selatan rel menjadi Sitinggil.</p>
<p>Cerita Rakyat Cilacap ini diceritakan kembali oleh Ery Agus Kurnianto.</p>
<p>Penerbit:
Balai Bahasa Jawa Tengah
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/Lokasi-Pasar-Sitinggil-Rawajaya-Banatarsari-Cilacap.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="700"
				height="393">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[Lokasi Pasar Sitinggil Rawajaya Banatarsari Cilacap]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/Lokasi-Pasar-Sitinggil-Rawajaya-Banatarsari-Cilacap-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[Lokasi Pasar Sitinggil Rawajaya Banatarsari Cilacap]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Mengenal Mom Blogger asal Cilacap Lina Sophy yang Mulai Ngeblog Tahun 2008</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-32993/mengenal-mom-blogger-asal-cilacap-lina-sophy-yang-mulai-ngeblog-tahun-2008</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 28 Oct 2020 17:16:04 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Blogger]]></category>
		<category><![CDATA[Blogger Cilacap]]></category>
		<category><![CDATA[Cilacap]]></category>
		<category><![CDATA[Jeruklegi]]></category>
		<category><![CDATA[KBC]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas Blogger]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-32993/mengenal-mom-blogger-asal-cilacap-lina-sophy-yang-mulai-ngeblog-tahun-2008</guid>

					<description><![CDATA[CILACAPSTORY &#8211; Tidak terasa bahwa Hari Blogger Nasional telah menginjak 13 tahun tepat pada 27 Oktober 2020 kemarin. Adapun hari blogger nasional ditetapkan pada tanggal dan bulan yang sama kala itu tahun 2007.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>CILACAPSTORY</strong> &#8211; Tidak terasa bahwa Hari Blogger Nasional telah menginjak 13 tahun tepat pada 27 Oktober 2020 kemarin. Adapun hari blogger nasional ditetapkan pada tanggal dan bulan yang sama kala itu tahun 2007.</p>
<p>Siapa yang menetapkan Hari Blogger Nasional itu? ternyata adalah Muhammad Nuh. Kala itu ia menjabat sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (RI).</p>
<p>Mengingat momentum hari blogger nasional, Cilacap.info jadi teringat seorang female blogger yang hingga sekarang masih suka menulis di Blognya.</p>
<p>Admin biasanya panggil mbak satu ini, Mbak Lina, nama panjangnya yakni Lina Sophy, salah satu mom atau emak-emak blogger asal Cilacap, Jawa Tengah (Jateng). Tepatnya ia tinggal di Jeruklegi.</p>
<p>Ketika dikonfirmasi terkait awal mula mbak satu ini mulai ngeblog yakni pada tahun 2008, dimana kala itu dia ngeblog di Multiply dan mempunyai akun Friendster.</p>
<p>&#8220;Aku jaman kuliah 2008 jaman Friendster. Ngeblog di multiply terus di Kompasiana. Pernah ikut juga komunitas kompiasianer jogja, namanya Canting Jogja.&#8221; Katanya.</p>
<p>Mbak Lina juga membagikan kisahnya mana kala ia dapat apresiasi saat mengikuti event Asean Blogger. &#8220;Aku ngeblog dapat apresiasi pertama di event Asean blogger, menang nulis di sana, ketemu banyak teman dari komunitas lain seperti KEB (kumpulan emak Blogger).&#8221; Imbuhnya menceritakan momen ia menang menulis dari blog.</p>
<p>Meski demikian ternyata mba ini juga sempat vakum dan sama sekali tidak menyentuh dunia blogger. Kemudian pada tahun 2018 ia membuat blog dengan platform WordPress. Adapun alamat webnya yakni <strong>linatussophy.com</strong>.</p>
<p>&#8220;2013-2018 aku vakum. Tapi akhir 2018 aku mulai ngeblog lagi dengan langsung beli domain. Niatnya biar fokus nulis lagi.&#8221; Jelasnya.</p>
<p>Mbak lina ini di Cilacap merupakan anggota komunitas blogger Cilacap disingkat KBC, yang meski telah menginjak 40 tahun usianya, namun ia kerap menulis di blognya. Bahkan jika ada event blogger, mbak lina juga bersemangat untuk hadir.</p>
<p>Pasalnya kata dia, dirinya ingin mengetahui dunia blog tidak hanya sebatas bisa menulis, melainkan juga ingin mengetahui cara Optimasi seperti pemahaman tentang SEO (Search Engine Optimization) dan juga Performa Website.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/Lina-Shopy-Mom-Blogger.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="720"
				height="714">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[Lina Shopy Mom Blogger]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/Lina-Shopy-Mom-Blogger-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[Lina Shopy Mom Blogger]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Viral, Mbak Jilbab asal Cilacap ini Dapat Bule dan Mualaf</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-32038/viral-mbak-jilbab-asal-cilacap-ini-dapat-bule-dan-mualaf</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 06 Sep 2020 10:48:25 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Cilacap]]></category>
		<category><![CDATA[Dapet Bule]]></category>
		<category><![CDATA[Viral]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-32038/viral-mbak-jilbab-asal-cilacap-ini-dapat-bule-dan-mualaf</guid>

					<description><![CDATA[KEPO-LUR, CILACAP.INFO &#8211;  &#8211; Aduh-aduh, rona bahagia ditunjukkan mbak-mbak berjilbab asal Cilacap Jawa Tengah (jateng). Bagaimana enggak, soalnya mbak yang tampil mengenakan jilbab satu ini dapat jodoh Bule.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KEPO-LUR, <a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; </strong> &#8211; Aduh-aduh, rona bahagia ditunjukkan mbak-mbak berjilbab asal Cilacap Jawa Tengah (jateng). Bagaimana enggak, soalnya mbak yang tampil mengenakan jilbab satu ini dapat jodoh Bule.</p>
<p>Adapun wanita yang tengah viral ini bernama Lussy, sedangkan pria bule yang kini telah menikahinya itu bernama Richard yang berasal dari Amerika Serikat (AS).</p>
<p>Dari keterangan Lussy, bahwa bagaimana ia bisa dapet pria bule dan mualaf yakni berawal dari jejaring sosial media Facebook.</p>
<p>Dirinya di facebook menjalin pertemanan sekira kurang lebih 7 (tujuh) tahun dan menjalin komunikasi dengan bule asal AS itu.</p>
<p>Setelah lama menjalani komunikasi, Richard atau yang kerap dijuluki Mas&#8217;e itu pada akhirnya melabuhkan dirinya ke indonesia pada bulan April 2019.</p>
<p>Tak sampai disitu, keseriusan bule itu untuk menikahi Lussy akhirnya resmi dilaksanakan pada Juni 2019 dengan seizin orang tua Lussy.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[cilacap info featured]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[cilacap info featured]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Kerajaan Dayeuhluhur Cikal Bakal Kabupaten Cilacap</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-23744/kerajaan-dayeuhluhur-cikal-bakal-kabupaten-cilacap</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Mar 2020 12:52:27 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Cerita Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Cilacap]]></category>
		<category><![CDATA[Dayeuhluhur]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-23744/kerajaan-dayeuhluhur-cikal-bakal-kabupaten-cilacap</guid>

					<description><![CDATA[Suara seruling mengiringi semilir angin membuat hawa terasa sejuk. Daun-daun yang menghampar hijau di lembah dan tebing di sela perbukitan bergoyang pelan seakan mengikuti nada. Sungai kecil mengalir di sebelah sungai Cijolang, yang menjadi tanda saksi alam yang menjadi ciri khas Pasundan dengan ditandai bahasa sehari-hari, adat, kesenian, budaya, dan bentuk rumah, yang semuanya bercorak Pasundan.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Suara seruling mengiringi semilir angin membuat hawa terasa sejuk. Daun-daun yang menghampar hijau di lembah dan tebing di sela perbukitan bergoyang pelan seakan mengikuti nada. Sungai kecil mengalir di sebelah sungai Cijolang, yang menjadi tanda saksi alam yang menjadi ciri khas Pasundan dengan ditandai bahasa sehari-hari, adat, kesenian, budaya, dan bentuk rumah, yang semuanya bercorak Pasundan.</p>
<p>Di tepi Sungai Cijolang berdiri patung pahlawan Pangeran Di-ponegoro yang sedang menunggang kuda dan mengacungkan senjata keris dengan gagahnya. Ini menandakan bahwa leluhur kita ikut berjuang mempertahankan bumi yang dicintainya bersama Pangeran Diponegoro. Inilah gambaran keadaan alam Dayeuhluhur yang ter-letak di dataran tinggi sesuai dengan asal-usul nama Dayeuhluhur.</p>
<p>Dayeuhluhur diambil dari dua kata dayeuh yang berarti ‘kota’ atau ‘tempat’ dan luhur yang berarti ‘tinggi’. Daerah ini merupakan tempat berkumpulnya orang-orang dengan kekuatan atau kesaktian yang tinggi pada zaman dahulu serta tempat bertapa atau berlatih ilmu kanuragan.</p>
<p>Zaman dahulu di wilayah Dayeuhluhur Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, berdiri Kerajaan Kawali yang dipimpin oleh Prabu Niskala Wastu Kencana. Raja ini memiliki dua orang istri. Istri pertama me-lahirkan seorang putra dengan nama Prabu Siliwangi dan istri kedua melahirkan putra bernama Prabu Dewa Niskala. Prabu Niskala Wastu Kencana mempunyai adik sepupu yang mempunyai putra bernama Gagak Ngampar. Gagak Ngampar tinggal bersama Prabu Niskala Wastu Kencana.</p>
<p>Pada suatu pagi yang cerah Prabu Niskala Wastu Kencana se-dang bersantai di Tamansari dengan didampingi istri-istri yang di-kasihinya. Mereka sedang menghibur Paduka Raja yang terlihat sedang bermuram durja. Salah seorang istrinya bertanya.</p>
<p>&#8220;Kanda Prabu, mengapa sepertinya hari ini Kanda bermuram durja. Ada apa gerangan, Kanda? Adakah yang tidak berkenan di hati Kanda mengenai Dinda, Tuanku Prabu?&#8221; tanya sang istri kepada Raja.</p>
<p>&#8220;Oh, tidak, Dinda. Adinda begitu baik kepada Kanda dan Dinda begitu menyayangi putra-putra Kanda,&#8221; jawab Raja kepada istrinya.</p>
<p>&#8220;Kalau begitu, apa gerangan yang Kakanda Prabu pikirkan? Mo-hon Kakanda Prabu berkenan menyampaikan segala sesuatu kepada hamba, mungkin hamba dapat membantu Kanda Prabu,&#8221; lanjut sang Istri.</p>
<p>&#8220;Oh, terima kasih, Dinda. Dinda sudah begitu perhatian kepada Kakanda.&#8221;</p>
<p>Prabu Niskala Wastu Kencana berkata dengan lirih, &#8220;Begini, Dinda Ratu. Usiaku sudah lanjut, Kanda sudah tidak mampu lagi memimpin kerajaan ini. Nah, untuk itu aku wariskan tahtaku kepada kedua putraku. Sebelah barat untuk Prabu Siliwangi dan sebelah timur untuk Dewa Niskala. Akan tetapi, aku masih memikirkan Gagak Ngampar yang menginginkan tahta Kerajaan Kawali. Aku ingin tidak ada perpecahan di antara mereka,&#8221; Prabu Niskala Wastu Kencana menyampaikan kegundahannya.</p>
<p>Niskala Wastu Kencana menghela napas panjang berusaha me-ngeluarkan beban yang ada dalam hati dan pikirannya.</p>
<p>&#8220;Oh begitu, Kanda Prabu?&#8221; Kedua permaisuri serempak men-jawab.</p>
<p>Semua hening dengan pikirannya masing-masing. Tiba-tiba se-orang permaisuri berkata, &#8220;Begini, Kanda Prabu. Menurut hamba, untuk menghindari perpecahan serta pertumpahan darah, sebaiknya Gagak Ngampar harus mencari sendiri daerah untuk dijadikan ke-rajaan, tetapi beri ia petunjuk dan bantuan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagus sekali usulmu, Dinda. Sekarang suruh pengawal untuk memanggil Gagak Ngampar agar menghadapku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baik, Kanda,&#8221; jawab para permaisuri.</p>
<p>Permaisuri pun menyuruh salah satu pengawal untuk memanggil Gagak Ngampar yang saat itu sedang berlatih bela diri.
&#8220;Gagak Ngampar, Baginda menyuruhmu menghadap sekarang,&#8221; kata pengawal kepada Gagak Ngampar.</p>
<p>&#8220;Sekarang?&#8221; tanya Gagak Ngampar.</p>
<p>&#8220;Ya, sekarang juga. Baginda sudah menunggumu,&#8221; tegas sang pe-ngawal.</p>
<p>&#8220;Baiklah, aku akan segera menghadap,&#8221; dengan patuh Gagak Ngampar pun langsung bersiap-siap untuk menghadap.</p>
<p>Selang beberapa saat Gagak Ngampar sudah berada di hadapan Baginda Prabu.</p>
<p>&#8220;Daulat, Tuanku Prabu, ada apa gerangan Baginda memanggil hamba?&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, anakku, Gagak Ngampar. Ananda hari ini dipanggil karena suatu alasan. Aku memintamu memperluas wilayah kerajaan. Kamu harus pergi ke sebelah timur Sungai Cijolang. Dirikanlah sebuah kerajaan di sana!&#8221; perintah sang Raja.</p>
<p>&#8220;Baik, daulat Tuanku Prabu! Hamba akan melaksanakan perintah Prabu sebaik-baiknya.&#8221;</p>
<p>Pada hari yang telah ditentukan, Gagak Ngampar dilepas oleh Prabu Niskala Wastu Kencana. Ia pergi disertai pengawal dan prajurit dengan membawa perbekalan secukupnya. Tidak lupa pengasuh Gagak Ngampar yang lucu pun ikut bersama tuannya. Pengasuh yang sangat sayang dan setia itu adalah Mamang Lengser. Berangkatlah Gagak Ngampar dengan iringan doa dari seisi Keraton Kawali.</p>
<p>Selama perjalanan Mamang Lengser selalu menghibur tuannya dengan melenggak-lenggokkan badannya sambil bersenandung. Ma-mang Lengser tidak dapat diam. Ia terus saja berbicara.</p>
<p>&#8220;Mamang tahu tidak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tahu apa, Den?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, kalau Mamang teh jelek pisan, pendek, perut buncit, muka hitam, hidung pesek, suka ngupil, pipinya bengkak, hehehe,&#8221; gurau Gagak Ngampar kepada Mamang Lengser.</p>
<p>Mamang Lengser menangis sejadi-jadinya, duduk di tanah sambil memukuli badannya sendiri.</p>
<p>&#8220;Ah, Aden mah ngejek ke Mamang, Aden mah nakal!&#8221; Mamang Lengser merajuk.</p>
<p>Turun dari kudanya, Gagak Ngampar mendekati Mamang Lengser sambil tersenyum.</p>
<p>&#8220;Aduh tobat, Mamang Lengser. Saya tidak akan mengejek Ma-mang Lengser lagi!&#8221;</p>
<p>&#8220;Alasan Aden mah, sok ngejek terus ka Mamang.&#8221; Hubungan ke-duanya memang sangat akrab sehingga sering bercanda.</p>
<p>&#8220;Betul, Mang. Betul tobat saya mah sakit. Sakit banget ini kaki saya diduduki Mamang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ampun, Den, ampun. Mamang tidak tahu. Mamang siap men-dapat hukuman dari Aden.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jangan, begitu, Mamang. Ayo berdiri! Berdiri! Sekarang kita bersuten, nanti yang menang digendong!&#8221;</p>
<p>&#8220;Horeeeee, aku menang!&#8221; Gagak Ngampar berteriak dengan se-nangnya.</p>
<p>&#8220;Hah, Mamang kalah, Den,&#8221; gumam Mamang Lengser sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.</p>
<p>Mamang Lengser pun menggendong tuannya yang sangat di-sayanginya itu sambil bernyanyi. Tidak terasa sampailah mereka di suatu bukit yang letaknya strategis untuk dijadikan istana. Pada puncak bukit ini terdapat dataran yang cukup luas diapit oleh mata air dilindungi tebing curam untuk memudahkan pengawasan wilayah permukiman penduduk.</p>
<p>Sambil beristirahat Raden Gagak Ngampar berkata, &#8220;Wahai Para pengikutku, mulai hari ini kita tinggal di sini. Kita beri nama daerah ini Dayeuhluhur karena letaknya yang berada di dataran tinggi. Setuju semua?&#8221;</p>
<p>Semua serempak menjawab, &#8220;Setuju!&#8221;</p>
<p>Sejak saat itu dinobatkanlah Gagak Nsgampar sebagai raja per-tama di Kerajaan Dayeuhluhur. Pada waktu penobatan Mamang Lengser memulainya sambil berkomat-kamit, &#8220;reup angin reureuh heula di dieu rek aya beja jep sora jempe heula di dieu rek upacara.&#8221; Kalimat itu berarti ‘angin dari timur dan barat berhenti dulu di sini, di Keraton Salangkuning, Kerajaan Dayeuhluhur, mau diadakan penobatan Raja Gagak Ngampar’.</p>
<p>Gagak Ngampar dinobatkan menjadi Raja Kerajaan Dayeuhluhur.</p>
<p>Lalu mahkota sederhana dipakaikan pada kepala Gagak Ngampar. Mamang lengser membacakan janji Raja Gagak Ngampar yang disebut Rineksa Panca Satya. Rineksa Panca Satya merupakan lima dasar falsafah pedoman kehidupan masyarakat.</p>
<p>Satya pertama, Andika kudu ragragna kalakay di walungan Ci-jolang nepi ka walungan gede artinya ‘raja harus memiliki pemikiran yang luas dan menyeluruh serta bersikap adil dan bijaksana’.</p>
<p>Satya kedua, Andika ulah tangga ka gunung tapi kudu tungkul ka laut jeung sing jadi sigara kahirupan artinya ‘raja tidak boleh som-bong, tetapi semestinya rendah hati dan berkenan menampung se-gala permasalahan orang lain serta mau memberikan bantuan selagi masih menjalani kehidupan’.</p>
<p>Satya ketiga, Andika ulah ngaleutikeun hate batur komo ngani bisi mantak sial artinya ‘raja tidak boleh menyepelekan atau menghina orang lain, hendaknya kita memperlakukan orang dengan baik’.</p>
<p>Satya keempat, Andika kudu sare bari nyaring jeun nyaring bari sare artinya ‘raja tidak boleh terlena oleh suatu keadaan. Ia harus se-lalu waspada dan bersiap siaga’.</p>
<p>Satya kelima, Lemah cae jeung saeusina alam ieu teh getih jeung nyawa nadika anu kudu dipusti-pusti jeung diagungkeun artinya ‘raja harus mencintai, menghargai, serta merawat tanah airnya sendiri’.</p>
<p>Setelah menjasi raja, Gagak Ngampar segera membangun keraja-annya. Kerajaan yang semula hanya memiliki rakyat pengawalnya saja sekarang sudah mulai berkembang. Orang-orang dari sekitar Dayeuhluhur banyak yang datang dan akhirnya bermukim disitu.</p>
<p>Raja pada saat itu masih lajang sehingga ia bermaksud mencari istri sebagai pendamping hidupnya. Pada suatu waktu Prabu Gagak Ngampar sedang berburu di hutan. Prabu Gagak kehabisan perbekalan karena direbut kawanan monyet. Karena keasyikan berburu, ia juga terpisah dari pengawalnya. Ia memutuskan beristirahat di bawah po-hon. Selagi beristirahat, bertemulah ia dengan seorang gadis cantik. Sang Prabu menyapa gadis itu. Ia heran mengapa gadis itu berada di hutan seorang diri karena ia tidak melihat ayah si gadis.</p>
<p>&#8220;Kamu siapa dan sedang apa berada di hutan sendirian?&#8221; tanya Prabu Gagak Ngampar.
Gadis desa itu pun menjawab, &#8220;Saya sedang membantu ayah saya mencari kayu. Saya tidak sendiri, ayah saya di sebelah sana.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, begitu,&#8221; Prabu Gagak Ngampar agak takjub melihat kecan-tikan dan kelembutan gadis itu.
&#8220;Mengapa Anda berada di hutan?&#8221; sang gadis balik bertanya ke-pada Prabu Gagak Ngampar. Gadis itu tidak tahu bahwa yang di ha-dapannya adalah Prabu Gagak Ngampar yang berburu dengan pa-kaian biasa.</p>
<p>&#8220;Saya sedang berburu, tetapi saya kehabisan perbekalan karena dicuri kawanan monyet tadi dan saya kelaparan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, begitu. Saya membawa bekal, tetapi hanya bekal nasi sayur seadanya. Kalau Anda berkenan, silakan ambillah!&#8221; tawar si gadis sambil menyodorkan bekalnya kepada Prabu Gagak Ngampar. Sang Prabu terkesima dengan kebaikan gadis itu.
&#8220;Kalau ini kumakan, lalu kamu makan apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Rumah saya tidak jauh dari hutan ini. Kalau lapar, saya dapat segera pulang dan makan di rumah. Silakan ambillah,&#8221; jawab si gadis. Prabu Gagak Ngampar pun menerima dan dengan lahap memakan perbekalan gadis itu.</p>
<p>&#8220;Terima kasih kamu sudah menolongku,&#8221; ujar Prabu Gagak Ngampar.
Kebaikan gadis desa tersebut menjadi awal perkenalan mereka. Selama perjalanan kembali ke Kerajaan Prabu Gagak Ngampar terkenang terus dengan kecantikan, kelembutan, dan kebaikan gadis itu. Ketika sampai di Kerajaan pun, ia terus melamun dan tersenyum mengingat gadis itu. Mamang Lengser terheran-heran. Ia bertanya dalam hati mengapa rajanya bersikap seperti itu. Tidak dapat me-nahan diri, ia pun bertanya kepada Raja.
&#8220;Wahai, anakku Prabu Gagak. Ada apakah gerangan mengapa sikapmu aneh seperti itu sejak pulang dari berburu?&#8221; tanya Mamang Lengser.</p>
<p>&#8220;Hemm, apanya yang aneh, Mang?&#8221; Prabu Gagak merasa gugup dan malu ketahuan oleh Mamang Lengser. Ia berusaha menyem-bunyikannya.</p>
<p>&#8220;Mamang tahu, Den. Mamang kan sangat mengenal, Aden. Jadi Aden tidak dapat membohongi Mamang,&#8221; kejar si Mamang agar Prabu Gagak menyampaikan perasaannya.</p>
<p>&#8220;Mamang, aku tadi bertemu dengan seorang gadis,&#8221; jawab Prabu Gagak dengan malu-malu.</p>
<p>&#8220;Wah, bagus sekali itu, Den. Aden memang harus segera menikah.</p>
<p>Lalu siapakah gadis itu?&#8221; tanya Mamang.</p>
<p>&#8220;Itulah, Mang. Aku lupa menanyakan namanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah, pasti orangnya cantik sampai si Aden lupa menanyakan namanya,&#8221; gurau Mamang Lengser. Prabu Gagak semakin terlihat malu.</p>
<p>&#8220;Dia tidak hanya cantik, tetapi juga baik hati dan lemah lembut.&#8221; &#8220;Besok kita cari gadis itu, Den.&#8221;</p>
<p>Keesokan harinya sang Prabu ditemani Mamang Lengser mencari rumah gadis tersebut. Mereka bertanya kepada orang-orang yang ditemui dengan menjelaskan ciri-ciri gadis itu. Setelah agak lama mencari, akhirnya mereka berhasil menemukan rumah sang gadis. Sang gadis sedang menyapu halaman rumahnya ketika mereka sampai di tempat itu.</p>
<p>&#8220;Permisi,&#8221; sapa Prabu Gagak kepada sang gadis.</p>
<p>Terkejut sang gadis dengan kedatangan Prabu. Dalam hatinya sangat ketakutan jika dirinya atau ayahnya telah melakukan kesalahan yang membuat sang Prabu murka sehingga mendatangi rumahnya. Ia tidak mengenali bahwa sang Prabu adalah laki-laki yang ditemuinya di hutan. Sebab, penampilan Prabu Gagak pada saat berburu berbeda sekali dengan saat ini.
&#8220;Ya, Paduka Prabu,&#8221; hormat sang gadis dengan lirih.</p>
<p>&#8220;Jangan takut, saya ke sini hanya ingin bertemu ayahmu,&#8221; kata sang Prabu kepada gadis itu. Sang gadis semakin khawatir jika ayahnya telah melakukan kesalahan. Akan tetapi, ia pun mempersilakan sang Prabu masuk ke rumahnya.</p>
<p>&#8220;Oh, mari silakan masuk, Paduka. Saya akan memanggilkan ayah saya,&#8221; diliputi perasaan takut, ia pun masuk ke dalam rumah dan me-manggil ayahnya.</p>
<p>Selang beberapa menit, ayah sang gadis ke luar menemui mereka.</p>
<p>&#8220;Daulat, Tuanku Paduka. Mohon maaf, Paduka Prabu, sekiranya hamba boleh tahu apa yang sebenarnya terjadi? Mungkinkah hamba atau anak hamba melakukan kesalahan kepada Paduka sehingga Paduka repot-repot menemui kami?&#8221; dengan lirih ayah sang gadis bertutur kepada Prabu Gagak.</p>
<p>&#8220;Jangan kaget. Jangan takut. Kedatangan saya ke sini adalah untuk mempersunting anak Bapak,&#8221; Prabu Gagak langsung menyatakan maksud kedatangannya. Terkejut dengan apa yang didengarnya, ayah sang gadis terdiam dan merasa khawatir.</p>
<p>&#8220;Ampun beribu ampun, Paduka, hamba mohon maaf jika putri hamba melakukan kesalahan. Mohon ampunilah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak-tidak, saya ke sini hanya ingin menyampaikan perihal tersebut. Tidak ada kesalahan apa pun yang dilakukan putrimu. Saya menyukai putrimu dan saya ingin mempersuntingnya,&#8221; Prabu Gagak menegaskan keinginannya.</p>
<p>Sang Ayah belum percaya dengan apa yang didengarnya. Sang gadis yang mendengar pembicaraan tersebut dari balik dinding pun terkesiap dengan apa yang telah didengarnya. Dalam hatinya berkata dia hanyalah seorang gadis desa biasa, bukanlah anak saudagar yang kaya raya, bukan pula keturunan bangsawan ataupun raja. Namun, mengapa Paduka Prabu ingin mempersunting dirinya? Sang gadis kebingungan dengan permintaan Paduka Prabu.</p>
<p>&#8220;Jadi, sudikah Bapak menerima saya sebagai menantu? Panggillah putrimu dan tolong tanyakan apakah ia bersedia menjadi istriku!&#8221; sang Prabu menanti jawaban mereka.</p>
<p>&#8220;Tapi, Paduka, kami hanyalah rakyat jelata.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lalu mengapa? Apakah salah? Saya menginginkanmu menjadi istriku jika kamu bersedia. Sekarang jawablah!&#8221; tegas Paduka Prabu.</p>
<p>Seakan tidak percaya sang gadis pun sekonyong-konyong meng-angguk, menyanggupi keinginan sang Prabu. Beberapa hari kemu-dian, diadakanlah prosesi pernikahan di Kerajaan.</p>
<p>Setelah beberapa tahun menikah, mereka dikaruniai dua orang anak perempuan yang mereka beri nama Candi Kuning dan Candi Laras. Keduanya sangat disayangi oleh sang Prabu. Tahun demi tahun berganti. Kedua anak itu pun sudah tumbuh menjadi remaja. Selama itu pula Prabu Gagak Ngampar memerintah dengan adil dan bijaksana.</p>
<p>Setelah meninggal, Prabu Gagak Ngampar digantikan oleh Ar-sagati, yaitu putra Candi Kuning. Arsagati menjasi raja kedua. Se-peninggal Arsagati diangkatlah putranya, yaitu Raksagati yang men-jasi raja ketiga.</p>
<p>Pada zaman pemerintahan Prabu Raksagati kerajaan ini menganut agama Hindu. Sementara itu, Kesultanan Cirebon menganut agama Islam. Sultan Cirebon ingin mengembangkan wilayahnya sekaligus syiar agama hingga ke Kerajaan Dayeuhluhur. Oleh karena itu, di-utuslah Suradika yang sakti mandraguna ke Kerajaan Dayeuhluhur untuk mengadu kesaktian. Berangkatlah Suradika ke Kerajaan Da-yeuhluhur. Dengan kesaktiannya Suradika dalam sekejap sudah sampailah di depan istana Raja Raksagati.</p>
<p>Setelah Suradika mendapat izin dari penjaga istana, menghadaplah Suradika kepada Raja Raksagati. Ia menyampaikan salam kemudian berkata, &#8220;Prabu Raksagati, kedatangan hamba tidak memberi kabar sebelumnya hamba mohon maaf dan hatur salam dari Sultan Cirebon kepada Tuanku Raja!&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya terima salam sembah dari rajamu, sekarang apa tujuanmu ke kerajaanku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ampun, Tuanku. Hamba diutus untuk menyebarkan agama Islam. Jika Paduka tidak berkenan, kami menantang Paduka untuk mengadu kesaktian.&#8221;
&#8220;Saya terima tantanganmu!&#8221;</p>
<p>Penggawa Kerajaan pun sudah siap mengumpulkan rakyat untuk menyaksikan adu kesaktian itu.</p>
<p>&#8220;Rakyat Kerajaan Dayeuhluhur, berkumpulah sekarang, mari kita saksikan adu kesaktian antara raja kita dengan Suradika dari Cirebon!&#8221;
Di halaman istana Kerajaan gegap gempita orang-orang menyak-sikan adu kesaktian itu. Seorang penggawa berwara, &#8220;Para pembesar istana serta rakyat Kerajaan Dayeuhluhur, mari kita lihat adu ke-saktian. yang pertama adalah lomba makan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tuanku Raja Prabu Raksagati makan dengan daging kambing!&#8221; &#8220;Suradika makan dengan lauk daging ayam!&#8221;</p>
<p>&#8220;Siap!&#8221; serempak keduanya menjawab.</p>
<p>Waktu Penggawa Kerajaan memberikan aba-aba, terjadilah ke-anehan. Daging ayam dalam hidangan mengeluarkan suara berkokok, sedang daging kambing yang akan dimakan Raja Raksagati bersuara kambing, maka bersoraklah penonton.</p>
<p>&#8220;Hore, hebat, hebat!&#8221; teriak penonton.</p>
<p>&#8220;Hadirin adu kekuatan pertama seimbang,&#8221; teriak Mamang Lengser.</p>
<p>&#8220;Sekarang adu kesaktian kedua, memasang bubu (perangkap ikan) di halaman istana yang tidak ada airnya!&#8221;</p>
<p>Semua penonton terperangah. Tiba-tiba suatu keajaiban terjadi, di halaman istana yang tidak berair itu, bubu sang Prabu penuh ikan. Semua penonton bersorak, &#8220;Hidup Prabu, hidup Prabu!&#8221; sedang girang-girangnya penonton, tiba-tiba ada lagi keajaiban. Bubu Suradika berhasil menangkap putri sang Prabu. Penggawa sampai menganga mulutnya melihat keajaiban bubu Suradika sambil meloncat loncat, &#8220;Hidup Suradika, hidup Suradika!&#8221;</p>
<p>Dengan kejadian itu sang Prabu menyatakan diri kalah. &#8220;Aku mengakui kekalahanku, Suradika!&#8221;</p>
<p>&#8220;Sekarang sebagai imbalannya, nikahilah putriku yang terkena bubumu itu!&#8221;</p>
<p>Akhirnya, Suradika diangkat menjadi pejabat Kerajaan Dayeuh-luhur. Beberapa saat kemudian, Raja Raksagati mangkat digantikan putranya, Adipati Raksapraja menjasi raja keempat. Dalam me-laksanakan roda pemerintahan, Adipati Raksapraja terkenal sangat adil, arif, dan bijaksana serta mampu menjadi anutan dan pengayom masyarakatnya. Tidak mengherankan apabila masyarakatnya sendiri sangat patuh dan taat serta menghormati sang Adipati.</p>
<p>Keberhasilan Adipati Raksapraja dalam mengatur roda peme-rintahannya tidak terlepas dari pengalaman falsafah leluhurnya yang selalu dipegang teguh, yaitu Rineksa Panca Satya. Falsafah tersebut tidak hanya diamalkan, tetapi benar-benar berdampak kepada kesejahteraan negeri, sifat kerukunan, kegotongroyongan, dan tolong-menolong yang merupakan gambaran kehidupan masyarakat Dayeuhluhur sehari-hari.</p>
<p>Pengaruh Kerajaan Mataram sangat besar di Kerajaan Dayeuh-luhur. Terbukti dengan masuknya Adipati Raksapraja menganut agama Islam. Semakin hari kekuasaan Mataram semakin terasa dan untuk melicinkan jalan tersebut, Kerajaan Mataram melalui Kiai Gendeng Mataram memberikan seorang putri yang cantik jelita untuk diperistri oleh Adipati Raksapraja. Dari perkawinan itu lahirlah bayi laki-laki yang bernama Wirapraja. Kelak kemudian hari Wirapraja diangkat menjadi Adipati di Dayeuhluhur dengan gelar Adipati Wirapraja. Raja Raksapraja mengetahui bahwa permaisurinya adalah mantan selir Sultan Mataram. Wirapraja juga bukanlah anak kandungnya karena waktu itu permaisuri sudah hamil 5 bulan. Namun, sudah terlanjur Wirapraja tetap menggantikan Raksapraja sebagai raja kelima.</p>
<p>Pada suatu pagi yang cerah terdengar suara telapak kaki kuda, datanglah seseorang dari Mataram menghadap Adipati Wirapraja.</p>
<p>&#8220;Adipati yang hamba hormati. Kami diperintahkan Sultan Mataram untuk memperluas pengaruh Mataram ke daerah barat, khususnya Ciancang Ciamis, dengan maksud agar daerah itu takluk terhadap Mataram dan mempertahankan wilayah kita dari Kompeni Belanda.&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya terima maksud kedatangan Adipati untuk bergabung ber-sama pasukan kami dari Dayeuhluhur. Mudah-mudahan Ciancang Ciamis tidak dapat direbut oleh pihak Belanda.&#8221;</p>
<p>Dipersiapkanlah semua perlengkapan perang. Kegagalan me-nangkap pasukan Diponegoro dan menumpas pemberontakan di Mataram menimbulkan kemarahan pihak Belanda. Akibatnya, Be-landa secara membabi buta melakukan pembakaran desa-desa, menganiaya anak-anak, berbuat tercela terhadap perempuan, dan membunuh para tawanan. Dengan menyaksikan kejadian itu, pa-sukan Mataram dan prajurit Dayeuhluhur sangat geram terhadap kelakuan Belanda.</p>
<p>&#8220;Mari kita bersatu untuk memperkuat perlawanan kita kepada Belanda! Kita satukan kekuatan kita dan mari kita berjuang sampai titik darah penghabisan. Kita namai pasukan kita dengan nama Gerombolan Wetan. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, hidup pejuang kita, hidup!&#8221; begitu teriak semangat pejuang kita.</p>
<p>Pada hari yang sudah ditentukan, bersiaplah semua prajurit dengan segala perlengkapan perang untuk segera berangkat. Adi-pati Wirapraja memimpin pasukan sendiri. Keesokan harinya se-mua pasukan gabungan berangkat menuju Ciancang Ciamis, dan terjadilah pertempuran berhari-hari. Bunyi gemerincing senjata beradu keris dan tombak semakin riuh. Perkelahian satu lawan satu antara serdadu Belanda dan pasukan Gerombolan Wetan makin memuncak. Satu persatu pasukan Gerombolan Wetan tewas karena para pejuang hanya bersenjata keris dan tombak, sedangkan Belanda menggunakan senjata modern. Dengan demikian, banyak korban di pihak kita, tetapi pejuang kita masih pantang menyerah. Mereka mempertaruhkan nyawanya untuk memenangi peperangan.</p>
<p>Ketika peperangan berlangsung, tiba-tiba terdengar teriakan komandan serdadu Belanda, &#8220;Hei, kalian para ekstremis. Kalian me-nyerah saja, pemimpinmu telah tertembak! Mengapa kalian diam saja? Ayo menyerahlah kalau kalian orang punya mulut.&#8221;</p>
<p>Alangkah terkejutnya para pejuang mendengar teriakan itu. Mereka tidak menyangka Adipati Wirapraja telah gugur. Sesaat para pejuang terpukau. Akan tetapi, keheningan hanya berjalan sebentar saja. Para pejuang kembali bersemangat. Kehendak untuk menebus jiwa pemimpin merajai hati mereka.</p>
<p>&#8220;Ayo bangkit! Maju terus! Kita berjuang sampai titik penghabisan.</p>
<p>Allahu Akbar, Allahu Akbar,&#8221; teriak para pejuang Adipati Wirapraja.</p>
<p>Daerah pertempuran berpindah ke sebelah timur Ciancang Ciamis. Mayat bergelimpangan di sisi sungai. Pasukan yang masih hidup mundur karena tidak mungkin dapat melanjutkan lagi perlawanannya. Namun, para pejuang tidak patah semangat. Bahkan, kejadian itu menambah rasa benci kepada Belanda. Semangat baru untuk mempertahankan negara tercinta ini timbul lebih hebat dari yang sudah-sudah.</p>
<p>Malam bertambah pekat, hujan mulai turun dengan derasnya sehingga serdadu Belanda tidak meneruskan perlawanannya ter-hadap pasukan kita. Pasukan kembali ke Kerajaan Dayeuhluhur.</p>
<p>Sepeninggal Adipati Wirapraja Raja Dayeuhluhur digantikan oleh Wiradika I (raja keenam). Wiradika I mangkat dilanjutkan oleh Wiradika II. Selanjutnya, Wiradika II dilanjutkan oleh Wiradika III dengan gelar Raden Tumenggung Prawiranegara. Beliau aktif dalam perang Diponegoro. Dengan wafatnya Adipati Wirapraja, perjuangannya diteruskan oleh cucunya, yaitu Raden Tumenggung Prawiranegara.</p>
<p>Para pejuang pada waktu itu tidak patah semangat. Bersama Tumenggung Prawiranegara, mereka ikut berjuang dengan pasukan Diponegoro. Hal itu diketahui oleh Belanda sehingga Belanda mengadakan patroli ke desa-desa untuk mencari Tumenggung Prawiranegara.</p>
<p>Pada suatu hari datanglah pasukan Belanda, sebagian mengendarai kuda, sebagian lagi mengendarai mobil baja. Mereka menyusuri jalan-jalan kecil di perdesaan lengkap dengan persenjataan. Para serdadu Belanda membakar rumah penduduk, lalu menangkap anak dan perempuan. Suasana desa menjadi kalang kabut. Para serdadu Belanda dengan semena-mena menyiksa para penduduk yang tidak berdosa dan dikumpulkan di suatu tempat. Dengan hilir mudik pemimpin Belanda marah-marah karena yang mereka cari tidak ada.</p>
<p>&#8220;Hei kamu pemberontak! Tunjukkan di mana pemimpinmu!&#8221; bentak pemimpin Belanda sambil memukulkan senjata ke kepala penduduk itu.
&#8220;Ampun, saya tidak tahu,&#8221; teriak penduduk dengan takutnya. &#8220;Kamu bohong!&#8221;</p>
<p>&#8220;Hei pemberontak, keluarlah! Menyerahlah Prawiranegara, tem-pat ini sudah saya kepung. Kalau tidak mau menyerah, tawanan ini akan saya tembak!&#8221;
Melihat kejadian itu, Tumenggung Prawiranegara sangat geram, kemudian dia ke luar dari persembunyiannya.</p>
<p>&#8220;Hei Penjajah, kamu sangat kejam dan licik! Kamu pengecut, kamu jadikan orang-orang yang tidak berdosa sebagai tawanan. Sekarang lepaskan penduduk yang tidak berdosa itu dan tangkaplah aku!&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagus, kamu orang berani menampakkan diri!&#8221; kata pemimpin Belanda dengan tertawa terbahak-bahak. Tidak melewatkan ke-sempatan itu, secepat kilat para penjajah menangkap Tumenggung Prawiranegara. Lalu, beliau diasingkan ke Padang, Sumatera Barat, pada tahun 1831 sampai meninggal.</p>
<p>Sejak saat itu Kerajaan atau Kadipaten Dayeuhluhur bubar dan wilayahnya diubah atas keputusan Belanda menjadi wilayah Ka-bupaten Cilacap. Berdasarkan besluit Gubernur Jenderal Belanda Nomor 21, tertanggal 21 Maret 1856 sampai sekarang wilayah Ka-bupaten Cilacap ini adalah 2/3 wilayah Kadipaten Dayeuhluhur.</p>
<p>Itulah tadi sekelumit cerita tentang perjuangan nenek moyang kita untuk mempertahankan daerah Dayeuhluhur untuk Negara Indonesia.</p>
<p style="text-align: right!">Oleh : Umi Farida</p>
<p style="text-align: right!">Disadur dari Cerita Rakyat Cilacap, Penerbit: Balai Bahasa Jawa Tengah Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2017</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/alam-dayeuhluhur-cilacap.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="700"
				height="393">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[alam dayeuhluhur cilacap]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/alam-dayeuhluhur-cilacap-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[alam dayeuhluhur cilacap]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Kisah Alas Kubangkangkung Kawunganten Cilacap Dulu Mitosnya Angker kini Ramai Dilalui</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-21330/kisah-alas-kubangkangkung-kawunganten-cilacap-dulu-mitosnya-angker-kini-ramai-dilalui</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 08 Jan 2020 03:18:19 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Cilacap]]></category>
		<category><![CDATA[Kawunganten]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Misteri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-21330/kisah-alas-kubangkangkung-kawunganten-cilacap-dulu-mitosnya-angker-kini-ramai-dilalui</guid>

					<description><![CDATA[Alas Kubangkangkung Kawunganten Cilacap Dulu Mitosnya Angker kini Ramai Dilalui]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Alas Kubangkangkung Kawunganten Cilacap Dulu Mitosnya Angker kini Ramai Dilalui</p>
<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; di Banyuwangi ada alas roban bernama alas purwo yang konon pusat berkumpulnya makhluk astral, namun di Cilacap menurut cerita juga ada. Namanya alas Kubangkangkung masuknya wilayah Kecamatan Kawunganten Kabupaten Cilacap Jawa Tengah.</p>
<p>Alas Kubangkangkung adalah hutan yang ditumbuhi pepohonan jati, di sini juga terdapat jalan besar yang amat vital. Dimana jalan tersebut adalah jalan antar Provinsi yang mana akses jalannya bisa menuju ke Pangandaran, Ciamis, Kota Banjar Jawa Barat dan juga ke timur bisa menuju Wangon Banyumas Jawa Tengah.</p>
<p>Alas Kubangkangkung ini memang memiliki mitos yang angker, selain itu di jalan tersebut juga terdapat Hutan Jati yang panjang. Apabila pada malam hari melaluinya, suasana begitu mencekam dan menyeramkan. Hampir tidak dijumpai rumah-rumah para penduduk di sekitar jalan tersebut.</p>
<p>Kisah horor dan mistis diarea tersebut pun sudah ada dari sejak lama hingga sampai saat ini. Kawasan hutan memang tergolong tempat kegemaran para makhluk-makhluk astral menurut cerita. Konon menurut cerita dari pengendara yang melintas di area tersebut, ada yang pernah diganggu atau hanya sekedar ditampakan sosok lelembut ke pengendara yang melaluinya.</p>
<p>Diarea tersebut memang tidak dijumpai rumah, namun dijumpai para pedagang atau penjual gorengan dan air degan (Kelapa Muda).</p>
<p>Jika siang hari, para pengendara juga banyak yang berhenti sembari beristirahat diarea sekitar.</p>
<h2>Kisah Pengendara Melalaui Alas Kubangkangkung Kawunganten: Bocor Berkali-kali</h2>
<p>Kisah ini dialami oleh Dewi Anggraeni, wanita kelahiran Majenang yang bersuamikan orang Sitinggil Bantarsari dan kini menetap di Solo, Jawa Tengah. Ia mulai menceritakan kejadian aneh yang ia rasakan saat melewati alas robannya Cilacap itu.</p>
<p>Di malam yang sama di jalan yang sama, ban sepeda motor yang dikendarai oleh suaminya bocor sampai 3 kali hingga ia dan suaminya menangis.</p>
<p>&#8220;Saat itu tahun 1997, dimana saya dan suami saya pergi ke rumah sakit di Cilacap dan untuk melaluinya harus melewati alas Kubangkangkung. Saat itu malam hari sekitar pukul 22.00 WIB, kejadian aneh dialami oleh saya dan suami, dimana ban sepeda motor kami bocor 3 kali di tempat yang sama. Pada akhirnya kami berjalan sembari menuntun sepeda motor mencari tukang tambal ban dan mengetuk pintu.&#8221; Kata dia.</p>
<p>Masih menurutnya, saat sampai tempat tambal ban, si tukang tambalnya mengatakan apabila melalui alas kubangkangkung ini harus permisi atau setidaknya membunyikan tlakson.</p>
<p>&#8220;Saya dan Suami sampai nangis-nangis waktu itu, sebab bocor sampai tiga kali. Menurut tukang tambalnya, jika lewat alas kubangkangkung harus permisi. Sesampainya di rumah, kejadian janggal inipun diceritakan kepada mertua, kata mertua hal itu kerjaan hantu sundel bolong.&#8221; Imbuhnya mengisahkan kejadian yang dialaminya kepada Cilacap.info.</p>
<p>Keangkeran Jalan Hutan Kawunganten tidak hanya sebatas gangguan makhluk halus. Issu Begal di alas Kubangkangkung Kawunganten ini juga menghantui para pengendara terutama yang mengendarai kendaraan seorang diri pada malam hari. Memang jalan tersebut jika malam hari begitu sepi.</p>
<h2>Misteri Alas Kubangkangkung yang setiap Musim Kemarau Selalu Kebakaran</h2>
<p>Setiap musim kemarau, hutan atau alas kubangkangkung Kawunganten kerap terjadi kebakaran hutan, tak hanya 1-2 kali namun lebih dari itu.</p>
<p>Ada yang mengatakan hal tersebut disebabkan oleh pengguna jalan yang membuang putung/batang rokok sembarang yang masih terdapat bara api. Sehingga hal itu menyebabkan daun-daun yang jatuh dan mengering menjadi terbakar yang akhirnya meluas.</p>
<p>Kebakaran hutan ini cukup janggal kata salah seorang warga, karena dirinya kurang percaya apabila hal itu terbakar karena sumbu rokok.</p>
<p>&#8220;Rokok sulit membakar daun kering, tapi jika terkena kapas saya percaya, tapi kan nggak ada pohon kapas di area tersebut.&#8221; Ujarnya menceritakan.</p>
<p>Namun salah satu orang lainnya justru mengatakan jika hasil pembakaran itu bisa menjadi pupuk dan tanaman akan menjadi subur.</p>
<h2>Kebakaran Alas Kubangkangkung asapnya mengganggu pengguna jalan yang melintas</h2>
<p>Alas kubangkangkung merupakan jalur vital bisa menuju lintas Kecamatan, Kabupaten, atau Provinsi.</p>
<p>Kawunganten ke Barat : Gandrungmangu, Sidareja, Patimuan, Kedungreja, Cipari, Karangpucung, Majenang, Wanareja, Dayeuhluhur.</p>
<p>Kawunganten ke Timur : Jeruklegi, Kesugihan, Maos, Cilacap Selatan, Cilacap Utara, Cilacap Tengah, Sampang, Adipala, Kroya, Binangun. Dan atau ke Kampung Laut.</p>
<p>Lintas Kabupaten : Kearah timur ada Adipala Wangon Banyumas, dan bisa menuju jalan utara pantura Brebes, Tegal, Cirebon.</p>
<p>Lintas Provinsi : Pangandaran via Sidareja &#8211; Patimuan, Tasikmalaya, Ciamis, Kota Banjar via Sidareja &#8211; Kedungreja.</p>
<p>Sehingga apabila kebakaran, asap yang ditimbulkan akan berdampak sangat mengganggu bagi pengguna jalan yang melintas di jalan ini.</p>
<h2>Di Kubangkangkung Kawunganten Cilacap ini mempunyai Cerita Rakyat, yakni Legenda Naga Wangsa</h2>
<p>Konon dahulu ada seseorang yang berubah menjadi naga saat mencari kayu bakar di hutan kubangkangkung setelah menemukan sebuah telur berukuran besar.</p>
<p>Telur itu kemudian dibawa ke rumah, niatnya akan dimasak dan disantap bersama saudara dan ayahnya.</p>
<p>Namun, ayahnya meminta agar telur tersebut dikembalikan ke tempat asalnya, tapi telur tersebut bukannya dikembalikan malah disantap seorang diri.</p>
<p>Setelah memakan telur tersebut, ia kemudian menjadi naga dan bertempat di sebuah waduk bernama waduk Kubangkangkung.</p>
<p>Sang ayah khawatir, karena sang anak tak kunjung pulang, ia kemudian menyuruh anaknya yang satu lagi untuk mencari saudaranya di hutan. Namun setelah dilakukan pencarian mengelilingi hutan tidak berhasil bertemu saudaranya.</p>
<p>Akhirnya sang ayah pun memanggil orang pintar, orang pintar tersebut kemudian menemukan seekor naga sedang menangis di waduk itu yang ternyata adalah jelmaan dari anaknya.</p>
<p>Saat itu ayahnya merasa sedih mengetahui anaknya telah berubah menjadi Ular Naga dan sang naga itu kemudian meminta maaf karena tak menuruti perkataan ayahnya dan juga serakah memakan telur itu sendiri.</p>
<p>Namun meskipun telah meminta maaf kepada sang ayah, tidak membuatnya berubah seperti sediakala yakni menjadi manusia kembali.</p>
<h2>Alas Kubangkung Kawunganten Punya Kisah Angker Namun Memiliki Wisata yang ramai Dikunjungi</h2>
<p>Meski mitosnya dahulu terkesan Angker di Kubangkangkung Kawunganten, namun di sini di tengah alas (hutan) ini terdapat Obyek Wisata. Nama wisata tersebut adalah Waduk Kubangkangkung. Danau atau waduk ini juga tidak pernah kering meski pada musim kemarau.</p>
<p>Padahal diketahui, bahwasanya kawunganten sendiri adalah Kecamatan yang jadi langganan kekurangan sumber air bersih jika kemarau tiba. Namun ajaibnya danau Kubangkangkung malah tidak mengering.</p>
<p>Danau atau Waduk Kubangkangkung itu memiliki sebuah ikon bunga atau kembang dari Kangkung. Konon katanya nama Desa di Kecamatan Kawunganten ini dahulu adalah Kubangan yang ditumbuhi pohon-pohon Kangkung sehingga sampai sekarang dikenal dengan nama Kubangkangkung.</p>
<p>Waduk Kubangkangkung ini adalah salah satu destinasi wisata di Kabupaten Cilacap yang di dalamnya terdapat berbagai fasilitas. Ada tempat bermain anak seperti mandi Bola, Spot Selfi di sebuah jembatan dengan tulisan Love (cinta). Ada kereta-keretaan, bebek-bebekan air. Terdapat WC Umum (Toilet), Mushola. Selain itu danaunya juga bisa untuk memancing ikan.</p>
<p>Namanya Koebangkangkoeng, namun lebih mudahnya orang-orang menyebutnya Kubangkangkung. Jika menilik namanya yakni Koebangkangkoeng seperti nama pada jaman dulu atau doeloe. Usut punya usut ternyata memang sudah ada sejak lama yakni pada jaman kolonial belanda sudah dibangun. Berdasarkan sumber sejarah, Waduk yang dibuat pada kala itu digunakan untuk pengumpulan dan penyimpanan air bersih.</p>
<p>Tarif memasuki Destinasi Wisata Kubangkangkung di Kecamatan Kawunganten Cilacap ini dikenakan biaya Rp. 10.000 per orang dan sudah termasuk kendaraan sepeda motor.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2020/01/20/penampakan-jalan-di-alas-kubangkangkung-kawunganten-cilacap.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[penampakan jalan di alas kubangkangkung kawunganten cilacap]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2020/01/20/penampakan-jalan-di-alas-kubangkangkung-kawunganten-cilacap-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[penampakan jalan di alas kubangkangkung kawunganten cilacap]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Sekilas Wisata Kuliner dan Kecamatan di Cilacap</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-16877/sekilas-wisata-kuliner-dan-kecamatan-di-cilacap</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Huda]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 Aug 2019 07:31:06 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Cilacap]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-16877/sekilas-wisata-kuliner-dan-kecamatan-di-cilacap</guid>

					<description><![CDATA[Sekilas Wisata Kuliner dan Kecamatan di Cilacap. Cilacap adalah Kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Tengah dan merupakan Kabupaten yang terluas di jateng. di sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Banyumas dan Kebumen.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sekilas Wisata Kuliner dan Kecamatan di Cilacap. Cilacap adalah Kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Tengah dan merupakan Kabupaten yang terluas di jateng. di sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Banyumas dan Kebumen.</p>
<p>Di sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Pangandaran Jawa Barat. di sebelah barat berbatasan dengan Kota Banjar dan Kecamatan Lakbok Ciamis Jawa Barat dengan batasnya adalah Sungai Citanduy. di sebelah Utara berbatasan dengan Brebes, Bumiayu.</p>
<p><H2>Wisata di Cilacap</H2></p>
<p>Cilacap memiliki sejumlah potensi wisata yang mengagumkan, di sini ada Kemit Forest Education di Kecamatan Sidareja dan Hutan Mangrove yang terletak di Kampung Laut. Serta Pulau Momongan di Nusawungu, ketiganya adalah wisata dengan Nuansa Hutan. Ada juga Hutan Payau dan Wisata Karang Banar.</p>
<p>Cilacap juga memiliki wisata air seperti Kubangkangkung di Kawunganten dan Danau Bojong Rongga di Kedungreja.</p>
<p>Di Wilayah bagian Barat masih mengandalkan Curug sebagai Wisata Alam. Diantara Curug yang terkenal yakni Curug Cimandaway yang berada di Kecamatan Dayeuhluhur dan Merupakan Curug Tertinggi di Kabupaten ini. Selain itu ada Curug Bandung yang terletak di Kecamatan Wanareja, Curug Manik di Kecamatan Majenang. Ada juga Bukit Panorama Ketapang Indah dan Cidayeuh Canyon di Dayeuhluhur.</p>
<p>Wisata Lautnya juga tak kalah bagusnya. Wisata laut ini meliputi Pantai Widarapayung di Binangun, Pantai Jetis di Nusawungu, Pantai Teluk Penyu. Pantai Permisan (Pantai Kopassus TNI) yang berada di dekat Pulau NUSAKAMBANGAN Pantai Sodong, Pantai Pesisir Kutawaru.</p>
<p>Ada juga Bendungan Manganti di perbatasan Cilacap Jawa Tengah dengan Ciamis, dan Kota Banjar Jawa Barat. Taman Bunga Tali Asmoro, Pantai Cemara Sewu, Masjid Batu Taman Hati. Benteng Pendem, Gunung Selok, Srandil, Bukit Ketapang Indah Dayeuhluhur.</p>
<p><H2>Kuliner Cilacap</H2></p>
<p>Dari kulinernya yang terkenal adalah Brekecek, Rempeyek Yutuk, Mendoan juga jadi primadona tidak hanya di Banyumas.</p>
<p><H2>Cilacap Memiliki 24 Kecamatan</H2> yang di antaranya!</p>
<p>Adipala, Bantarsari, Binangun, Cilacap Selatan, Cilacap Tengah, Cilacap Utara, Cimanggu, Cipari, Dayeuhluhur, Gandrungmangu, Jeruklegi, Kampung Laut, Karangpucung, Kawunganten, Kedungreja, Kesugihan, Kroya, Majenang, Maos, Nusawungu, Patimuan, Sampang, Sidareja, Wanareja.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[cilacap info featured]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[cilacap info featured]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
	</channel>
</rss>
