<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>Kumpulan Pos Education &#8211; Story Cilacap.info</title>
	<atom:link href="https://story.cilacap.info/tag/education/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://story.cilacap.info</link>
	<description>Media Online Masa Kini, Akurat, Mengedepankan Etika</description>
	<lastBuildDate>Sat, 18 Jul 2026 21:25:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	
<image>
<url>https://img.cilacap.info/images/story/favicon-32x32.png</url><title>Kumpulan Pos Education &#8211; Story Cilacap.info</title>
<link>https://story.cilacap.info</link>
<width>32</width><height>32</height><description>Info Kisah Menarik</description>
</image>
	<item>
		<title>Kisah Kadipaten Penyarang Sidareja Cilacap</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-42358/kisah-kadipaten-penyarang-sidareja-cilacap</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Huda]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Dec 2021 18:05:42 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Cerita Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Cilacap]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Sidareja]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-42358/kisah-kadipaten-penyarang-sidareja-cilacap</guid>

					<description><![CDATA[CILACAP.INFO &#8211; Pada zaman dahulu di tanah Pasundan berdiri sebuah kerajaan besar yang bernama Kerajaan Pajajaran. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja bijaksana, Prabu Ciung Wanara namanya. Sang Prabu mempunyai seorang permaisuri yang cantik jelita.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Pada zaman dahulu di tanah Pasundan berdiri sebuah kerajaan besar yang bernama Kerajaan Pajajaran. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja bijaksana, Prabu Ciung Wanara namanya. Sang Prabu mempunyai seorang permaisuri yang cantik jelita.</p>
<p>Dari perkawinannya dengan Sang Permaisuri, Prabu Ciung Wanara dikaruniai tujuh orang anak, yaitu Punggung Kencana (Ling ga Hingwang), Lingga Wesi, Susuktunggal, Anggalarang, Siliwangi, Mundingwangi, dan Mundingmalati (Ranggasena).</p>
<p>Dari putra ketujuh, yaitu Mundingmalati atau Ranggasena, Sang Prabu dikaruniai empat orang cucu, yaitu Segarawangi, Wadas Malang, Gunung Sari, dan Sena Reja atau Hajar Sena. Selain itu, Prabu Ciung Wanara juga mempunyai saudara laki-laki atau adik yang mengabdi di Keraton Surakarta, bernama Arya Bangga.</p>
<p>Pada suatu hari, sang Prabu memerintahkan kepada putra ketujuhnya, yaitu Mundingmalati atau Ranggasena, supaya melakukan pengembaraan. Ranggasena dan keempat putranya dipercaya oleh sang Prabu untuk membuka sebuah kadipaten di tanah Jawa. Pada saat itu, di Kerajaan Pajajaran Ranggasena belum mempunyai jabatan apa pun. Prabu Ciung Wanara bermaksud agar kadipaten yang didirikan oleh Ranggasena nantinya dapat menjadi penghubung antara Pajajaran dan kerajaan lain di tanah Jawa.</p>
<p>&#8220;Ranggasena, Putraku, sudah saatnya engkau tunjukkan jati dirimu sebagai putra raja,&#8221; titah sang Prabu.</p>
<p>&#8220;Ampun, Ayahanda Prabu, apakah yang harus ananda perbuat untuk menunjukkan jatidiri ananda?&#8221; sembah Ranggasena.</p>
<p>&#8220;Mengembaralah, ajaklah keempat anakmu melangkah ke arah matahari terbit. Carilah tempat di tanah Jawa yang kamu anggap baik. Tinggallah di sana dan dirikan sebuah kadipaten. Ayah berharap kadipaten itu nanti dapat menjadi penghubung antara Pajajaran dan Kerajaan lain di Tanah Jawa.&#8221;</p>
<p>Tanpa banyak pertanyaan lagi Ranggasena bersedia menjalankan amanat sang Prabu. Ia harus rela meninggalkan istri tercintanya. Ia juga harus rela meninggalkan Ibu Permaisuri di Kerajaan Pajajaran. Sebenarnya, istrinya tidak merelakan Ranggasena membawa keempat putranya pergi mengembara.</p>
<p>Selain itu, sang istri juga khawatir jika Ranggasena mempunyai istri lagi di tempat pengembaraannya nanti. Namun, keberatan dan kekhawatiran sang istri itu tidak menggoyahkan niat Ranggasena untuk menjalankan perintah ayahandanya, Prabu Ciung Wanara. Dengan segala upaya, dia berusaha meyakinkan istrinya bahwa apa pun yang terjadi dia akan tetap setia.</p>
<p>Tiba waktunya berpisah, Pajajaran tidak seramai biasanya. Suasana sedih menyelimuti warga Kerajaan. Tiada senyum dan gurau terlontar. Tidak ada satu pun kata canda terlempar. Semua muka menunduk lesu. Hanya air mata yang berbicara, Pajajaran sedang berduka. Pajajaran bagai tubuh yang terkoyak oleh sejuta luka yang menganga, perih, pedih, dan menyakitkan. Saat itu, di Balairung Pajajaran, Ranggasena beserta keempat putranya sedang menghadap Prabu Ciung Wanara.</p>
<p>&#8220;Ayahanda Prabu, segala persiapan sudah ananda lakukan. Bekal pun sudah kami cukupkan. Izinkanlah Ananda beserta keempat cucu Ayahanda ini meninggalkan Kerajaan Pajajaran untuk memulai pengembaraan kami,&#8221; sembah Ranggasena pada Prabu Ciung Wanara.</p>
<p>&#8220;Ranggasena, kebulatan tekadmu menjalankan perintahku merupakan cermin jiwa kesatria pada dirimu. Aku tahu, semua ini memang berat. Berat meninggalkan Kerajaan tercinta, berat meninggalkan ayah-ibu, dan berat meninggalkan istrimu, tetapi langkah inilah yang akan menentukan masa depanmu. Oleh karena itu, jangan kamu ragu. Janganlah kota atau negara besar yang kautuju. Pergilah, belahlah hutan lebat dan sepi. Jadikan tempat itu bersemi. Langkahkan kakimu ke arah terbit matahari.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ananda siap melaksanakan, Ayahanda Prabu. Kami mohon diri berangkat mengembara.&#8221;</p>
<p>Tangis dan deraian air mata mengiring keberangkatan Ranggasena beserta keempat putranya. Setiap mata terus menatap sayu seakan-akan menahan dan tidak mau melepas mereka. Apalagi, mata wanita belahan jiwa. Mata itu terus berlinang, tidak pernah rela melepas mereka pergi mengembara. Namun, apa daya, ia tidak kuasa untuk menolak kehendak raja.</p>
<p>Dengan langkah mantap Ranggasena dan keempat putranya meninggalkan Kerajaan Pajajaran. Rasa sedih karena harus berpisah dengan orang-orang yang dicintainya sudah tidak tampak di raut wajah. Mereka melangkah sambil bersenda gurau seakan tidak ada beban pada diri mereka.</p>
<p>Dalam pengembaraan itu, mereka tidak lagi mengenakan pakaian kerajaan. Kegemerlapan pakaian Kerajaan Pajajaran sengaja ditanggalkan agar identitas mereka sebagai putra Raja Pajajaran tidak diketahui orang. Mereka menyamar sebagai orang desa dengan pakaian yang sangat sederhana.</p>
<p>Hari demi hari, waktu demi waktu, Ranggasena beserta keempat putranya terus melangkah. Jalan terjal mereka lalui, hutan rimba penuh onak dan duri mereka sibak, tetapi tidak juga ditemui tempat yang pas seperti kehendak ayahandanya. Mereka tidak pernah menyerah, mengeluh, atau putus asa. Bahkan, tidak pernah sedikit pun terlintas rasa ingin pulang ke Pajajaran.</p>
<p>Tanpa terasa, dua tahun telah berlalu. Selama itu pula mereka telah mengembara dari satu tempat ke tempat lainnya. Pada saat itu Ranggasena beserta keempat putranya sampai di tengah hutan yang penuh dengan pohon besar. Daun-daunnya yang rindang seakan menjadi atap sebuah alam yang terbuka. di sela-sela kerindangan daun dan ranting terdapat banyak sarang burung yang menandakan kebebasan hidup burung di sana.</p>
<p>Sementara itu, dibalik pohon banyak hewan berseliweran ke sana-kemari. Tampak sekali jika hutan itu masih asli dan belum dirambah orang. Belum ada manusia yang berani datang atau tinggal di tempat itu. Barangkali, Rangasena dan keempat putranyalah manusia pertama yang menginjakkan kaki di hutan itu.</p>
<p>Hari mulai gelap, terlebih lagi hutan di tempat Ranggasena dan putranya beristirahat sangat lebat, lengkaplah kegelapan menyelimuti tempat itu. Ranggasena kemudian memutuskan untuk tinggal di tempat itu.</p>
<p>&#8220;Anakku, sebentar lagi hari akan gelap. Sebaiknya kita segera mencari kayu dan dedaunan untuk membuat tempat berlindung malam ini,&#8221; kata Ranggasena kepada keempat putranya.</p>
<p>&#8220;Benar, Ayah, tampaknya tempat ini nyaman untuk beristirahat,&#8221; jawab putra tertuanya.</p>
<p>Tanpa banyak bicara, mereka lalu mencari kayu dan dedaunan untuk membuat rumah-rumahan. Dalam waktu singkat, rumah perlindungan sederhana telah berdiri di antara batang-batang pohon besar. Dengan menyilangkan batang kayu pada ranting pohon yang satu dengan yang lain, terbentuklah rumah pohon yang kuat untuk mereka berlima. Daun-daun yang terkumpul mereka susun sebagai atap dan dinding untuk menahan dinginnya udara. Tidak lupa, mereka juga membuat api unggun.</p>
<p>Selain untuk menghangatkan lingkungan, api itu juga digunakan sebagai penerangan supaya jika ada binatang buas yang mendekat dapat terlihat. Malam pun tiba. Kegelapan menyelimuti seluruh isi hutan. Keempat putranya sudah tidur di rumah panggung, tetapi Ranggasena belum juga pergi ke pembaringan. Dia masih duduk di dekat api unggun. Ranggasena tampak merenung, sesekali pandangan matanya disebarkan ke sekitar seakan-akan ada sesuatu yang direncanakannya.</p>
<p>&#8220;Apakah tempat ini yang dimaksudkan oleh Ayahanda Raja?’ katanya dalam hati.</p>
<p>&#8220;Jika memang ini yang dikehendaki, apa yang harus kulakukan dengan hutan selebat ini?&#8221;</p>
<p>Lama Ranggasena merenung, angan demi angan terus menggelayut, membebani setiap celah pikirnya. Semua kembali pada pertanyaan, langkah apa yang harus ia lakukan dengan tempat itu.</p>
<p>Sementara, tidak ada seorang pun yang tinggal menghuni tempat sesunyi dan sengeri itu. Renung demi renung dilaluinya, akhirnya rasa kantuk pun menghampiri. Mata tidak lagi mampu tersangga. Dengan langkah yang mulai lemas, ia naik ke rumah pohon menyusul keempat putranya yang telah terlelap. Irama malam dan nyanyian kesunyian di hutan itu pun mengayunnya dalam mimpi.</p>
<p>Suasana tenang di hutan itu membuat Ranggasena dan keempat putranya merasa nyaman. Mereka merasa betah tinggal di tempat itu. Apalagi bagi Ranggasena, ia meyakini bahwa tempat itu adalah tempat yang dimaksudkan oleh ayahandanya. Keyakinan itulah yang membuatnya bertahan. Sehari, dua hari, dan sampai berhari-hari mereka belum menemukan tanda-tanda adanya orang lain yang mau tinggal di tempat itu. Namun, ketika berjalan-jalan di sekitar hutan,
Ranggasena dan putranya dikejutkan oleh adanya sekelompok orang yang berada di tengah hutan.</p>
<p>&#8220;Siapa mereka? Hemm&#8230; tampaknya memang sudah ada orang yang terlebih dahulu tinggal di hutan ini,&#8221; guman Ranggasena dalam hati sambil melangkah menghampiri mereka.</p>
<p>&#8220;Salam, Ki Sanak,&#8221; sapa Ranggasena kepada mereka sambil menyalami satu per satu.</p>
<p>&#8220;Maaf, kami mengganggu. Perkenalkan nama saya Ranggasena dan ini keempat anak saya. Kami pengembara yang kebetulan sampai di tempat ini dan merasakan betapa tenteram dan asrinya hutan ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Selamat datang, Ki Ranggasena. Semoga berkah Tuhan menyertai pengembaraan Ki Rangga,&#8221; jawab seorang yang paling tua dalam kelompok itu.</p>
<p>&#8220;Terima kasih, Ki. Maaf, bagaimana kami harus menyebut Kiai?&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, ya, sampai lupa memperkenalkan diri. Saya Ngabei Ta ngerang. Mari, silakan singgah ke gubuk saya. Tidak enak kita berbincang sambil berdiri seperti ini,&#8221; Kiai Ngabei Tangerang mem persilakan.</p>
<p>Setelah mereka masuk dan duduk, Kiai Ngabei Tangerang melanjutkan ceritanya, &#8220;Oh, ya, kami ini adalah penduduk asli di hutan ini.</p>
<p>Kebetulan, saya yang paling tua dan dituakan oleh mereka. Mereka memanggil saya Kiai Ngabei Tangerang. Kami sudah cukup lama tinggal di Hutan Penyayangan ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hutan Penyayangan?&#8221; tanya Ranggasena.</p>
<p>&#8220;Ya, ya, itu sekadar nama yang saya buat untuk menyebut tempat ini. Nama itu saya pilih karena hutan ini banyak pohon besar dan rindang, banyak binatang yang tidak pernah saling bermusuhan, dan berbagai jenis burung yang hidup dan bersarang di sela ranting pepohonan. Hutan dan semua binatang itu hidup berdampingan tanpa ada permusuhan seakan hidup saling menyayangi. Oleh karena itulah, hutan ini saya namai Hutan Penyayangan.&#8221;</p>
<p>Kiai Ngabei Tangerang menerangkan dengan rinci semua keadaan di hutan itu. Dari tutur katanya tampak sekali bahwa sebenarnya dia bukan orang sembarangan. Sebenarnya, Kiai Ngabei Tangerang adalah seorang yang sudah tersohor ke mana-mana sebagai seorang ahli agama. Selain itu, dia juga dikenal sebagai seorang yang memiliki ilmu kesaktian. di hutan itu dia hidup bersama dengan dua orang anaknya, yaitu Tejalamat dan Megalamat.</p>
<p>Setelah mendengar penjelasan Kiai Ngabei Tangerang yang cukup rinci, Ranggasena mencoba menjelaskan kembali asal muasal mengapa mereka sampai di hutan itu. Akan tetapi, ia tidak menceritakan bahwa dirinya adalah putra Prabu Ciung Wanara, Raja Pajajaran. Hal itu ia lakukan agar Kiai Ngabei Tangerang tidak curiga pada mereka. Memang, sebagai orang tua dan berilmu, Kiai Ngabei Tangerang tidak menaruh curiga sedikit pun terhadap Ranggasena dan anak-anaknya.</p>
<p>Namun, tetap saja ada orang yang tidak suka atas kedatangan Ranggasena. Hal itu sesuai juga dengan cerita Kiai Ngabei Tangerang bahwa di Penyayangan masih ada perselisihan kecil karena perebutan lahan atau perbedaan pendapat. Ia sudah berusaha mencari cara agar mereka tidak saling bermusuhan, tetapi belum berhasil.</p>
<p>Kondisi penduduk seperti itu menggerakkan hati Ranggasena untuk membantu Kiai Ngabei Tangerang. Dalam hati ia bertekad untuk dapat menyatukan mereka. Oleh karena itu, ia memantapkan diri untuk tinggal di Hutan Penyayangan.</p>
<p>&#8220;Kiai, jika Kiai tidak keberatan, saya beserta anak-anak mohon diterima di tempat ini untuk membantu dan berguru kepada Kiai,&#8221; tutur Ranggasena kepada Kiai Ngabei Tangerang.</p>
<p>&#8220;Heheheh&#8230; Kalau membantu dan tinggal bersama, dengan senang hati saya menerima, tetapi untuk berguru, ilmu apa yang dapat saya berikan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya percaya, Kiai memiliki ilmu hidup dan kehidupan yang tidak kami miliki,&#8221; kata Ranggasena meyakinkan Kiai Ngabei Tangerang.</p>
<p>Melihat kesungguhan Ranggasena, Kiai Ngabei Tangerang akhirnya menyetujui dan menerima mereka. Bahkan, Kiai Ngabei Tangerang meminta mereka untuk tinggal bersama di gubuknya.</p>
<p>Waktu terus berlalu, tanpa terasa sudah bertahun-tahun Ranggasena dan anak-anaknya berguru pada Kiai Ngabei Tangerang. Selama itu pula mereka menerima ilmu agama, ilmu kebatinan, dan ilmu-ilmu lainnya. Ranggasena pun juga sudah mengerti dan memahami keadaan hutan dan karakter penduduk Penyayang. Rang gasena merasa sudah saatnya untuk mengemukakan niatnya mendirikan sebuah kadipaten di temapat itu kepada Kiai Ngabei Tangerang.</p>
<p>&#8220;Maaf, jika saya lancang, Kiai. Penduduk Penyayang makin lama makin banyak. Sekarang ini pun tampaknya sudah banyak. Jika Desa Penyayang ini dibiarkan terus begini seakan-akan tidak pernah berkembang dan maju,&#8221; kata Ranggasena kepada Kiai Ngabei Tangerang.</p>
<p>&#8220;Maksudmu bagaimana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya berpikir, sudah saatnya kita mengubah Desa Penyayang menjadi sebuah kadipaten, Kiai.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lalu, apa yang akan kamu lakukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika Kiai setuju, saya mohon izin menggerakkan warga untuk mewujudkan kadipaten itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Secara pribadi, aku setuju. Namun, hal itu tidak berarti dapat langsung dikerjakan. Semua itu harus dirembuk bersama seluruh warga.&#8221;</p>
<p>Saat itu, tanpa mereka sadari, ada sepasang mata dan telinga yang secara sembunyi-sembunyi mengintip dan mendengarkan pembicaraan itu. Mata dan telinga itu adalah milik seorang penduduk yang tidak suka terhadap Ranggasena. Secepat kilat dan tanpa bersuara ia meninggalkan tempat itu dan mengabarkan kepada sekelompok orang yang tidak suka terhadap Ranggasena. Ia menceritakan rencana Ranggasena dengan berbagai bumbu cerita agar orang-orang tidak menyetujui.</p>
<p>Orang-orang yang mendengarkan hasutan pengintai tadi lalu mencari cara dan siasat untuk menggagalkan rencana Ranggasena. Mereka berniat menghasut seluruh penduduk agar menolak usulan Ranggasena. Berbagai cara mereka lakukan dengan satu tujuan menggagalkan rencana Ranggasena. Jika perlu, ketika Ranggasena menyampaikan usulan rencananya rakyat sudah tahu dan semua menolaknya.</p>
<p>Saat yang dinanti-nantikan itu akhirnya tiba juga. Pada suatu hari, Kiai Ngabei Tangerang mengumpulkan penduduk Penyayang. Mereka duduk berkumpul di pelataran depan rumah sang Kiai. Sementara itu, Kiai Ngabei Tangerang diapit oleh Tejalamat dan Megalamat berdiri menghadapi mereka.</p>
<p>&#8220;Sedulur-sedulur, saya sengaja mengumpulkan kalian karena ada sesuatu yang penting yang harus kita bicarakan.&#8221; kata Kiai Ngabei Tangerang membuka pembicaraan.</p>
<p>Penduduk yang hadir semua diam. Mereka menunggu dengan rasa penasaran, sebenarnya apa yang akan disampaikan oleh sesepuh mereka itu. Mata mereka menatap tanpa berkedip seakan takut kehilangan gerak sang Kiai.</p>
<p>Kiai Ngabei Tangerang kemudian melanjutkan ucapannya, &#8220;Beberapa waktu yang lalu Ranggasena menghadap padaku dan menyampaikan rencananya. Meskipun menyetujuinya, aku belum dapat mengiyakan sebelum berbicara dengan kalian.&#8221;</p>
<p>&#8220;Rencananya apa, Kiai?&#8221; tanya salah seorang penduduk.</p>
<p>&#8220;Biarlah Ranggasena sendiri yang mengatakan supaya lebih jelas.&#8221;</p>
<p>Ranggasena lalu mengemukakan apa yang menjadi maksud dan rencananya, yaitu mengembangkan Penyayang menjadi sebuah kadipaten. Mendengar ucapan Ranggasena semua penduduk menggangguk-angguk. Namun, tiba-tiba mereka berteriak-teriak tidak setuju. Mereka berdalih bahwa Ranggasena bukan penduduk asli. Mereka curiga Ranggasena hanya akan merusak tatanan yang selama ini sudah berjalan dengan baik.</p>
<p>Hari itu suasana semakin memanas. Meskipun Ranggasena menjelaskan bahwa tujuannya adalah memajukan Penyayang, penduduk masih tetap pada pemikirannya. Semakin lama teriakan demi teriakan terlontar semakin ramai dan tidak ditemukan kata sepakat. Bahkan, ada penduduk yang justru menantang Ranggasena untuk beradu kekuatan.</p>
<p>Kiai Ngabei Tangerang mencoba mendinginkan suasana yang panas dan mulai tidak terkendali itu. Namun, upayanya sia-sia. Penduduk belum mau menerima. Mereka lebih senang jika yang membangun kadipaten adalah Kiai Ngabei Tangerang sendiri.</p>
<p>&#8220;Ya, ya, aku paham maksud kalian. Namun, perlu juga kalian pahami, aku sudah tidak muda lagi. Aku sudah terlalu tua untuk memimpin pembangunan sebuah kadipaten. Oleh karena itu, perlu dicari pemimpin yang muda, pandai, dan tegas seperti Ranggasena.&#8221;</p>
<p>Mendengar ucapan Kiai Ngabei Tangerang semua penduduk terdiam seribu bahasa. Mulut mereka membisu bagai terkunci. Mereka merasakan ucapan tulus itu keluar dari orang yang selama ini mereka hormati. Apalagi ketika sang Kiai menegaskan bahwa dia juga akan turut mewujudkan kadipaten itu, penduduk semakin yakin bahwa ucapan itu benar. Mereka semakin terbuka pikirannya. </p>
<p>Mereka juga menyadari bahwa sebenarnya Ranggasena tidak memiliki niat jahat, tetapi tulus untuk memajukan Penyayang. Yang terpenting lagi, seperti kata sang Kiai, bahwa mereka akan menjadi saksi berdirinya kadipaten di tempat itu. Akhirnya, satu demi satu mereka menyetujui rencana Ranggasena dan bersedia membantu membangun kadipaten. Ranggasena merasa lega karena pada akhirnya rencananya dapat diterima oleh penduduk. Bahkan, ada yang membuat hati Ranggasena sangat bergembira, yaitu penduduk bersedia membantunya membangun kadipaten.</p>
<p>Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, keesokan harinya Ranggasena, anak-anaknya, Kiai Ngabei Tangerang, dan para penduduk mulai bergotong-royong menyiapkan lahan untuk mendirikan kadipaten. Ada yang menebang pohon, mencari kayu yang cocok untuk bangunan. Ada yang membersihan rumput ilalang yang ada di tempat yang direncanakan. Ada pula yang membangun jalan agar pantas menjadi sebuah pusat pemerintahan. Semua bergerak bersama-sama, termasuk para wanita.</p>
<p>Jika pria bekerja di luar, para wanita bekerja di dapur, menyiapkan makanan untuk mereka. Melihat sikap bahu-membahu penduduk, Ranggasena dan Kiai Ngabei Tangerang merasa senang. Mereka merasa sudah tidak ada lagi yang curiga terhadap maksud Ranggasena.</p>
<p>Satu demi satu pekerjaan terselesaikan dengan gotong-royong. Kebersamaan itu telah menghasilkan wujud nyata. Ranggasena dan Kiai Ngabei Tangerang dan sebagian penduduk bertugas membangun pendapa dengan kayu dari hutan itu juga. Anak-anak Ranggasena pun mendapat tugas masing-masing. Salah satunya adalah membangun jalan kadipaten. Setiap hari, seakan tanpa lelah, mereka menjalankan tugas mereka sehingga pembangunan dapat terselesaikan dengan cepat.</p>
<p>Pendapa kadipaten telah berdiri megah. Rumah-rumah di sekitar pendapa itu pun sudah berdiri dan siap dihuni. Jalan-jalan juga sudah dapat dilalui. Semua terselesaikan dengan rapi dan lancar tanpa satu pun halangan. Boleh dikatakan sebuah kadipaten telah berdiri, tetapi pemerintahannya belum berjalan karena belum ada pimpinan yang tetap.</p>
<p>Suatu hari, Kiai Ngabei Tangerang, Ranggasena berserta anak-anaknya, dan penduduk berkumpul di pendapa. Mereka berembuk tentang nama yang baik dan pas untuk kadipaten yang mereka dirikan. Selain itu, mereka juga berembuk tentang siapa yang patut menjadi pimpinan, menjadi adipati. Rembukan itu berjalan dengan baik dan lancar. Rembukan dalam suasana kekeluargaan itu akhirnya menyepakati bahwa Ranggasenalah yang patut menjadi adipati. Untuk memberi nama kadipaten memang terjadi banyak pendapat. Ada yang mengusulkan namanya tetap Penyayang.</p>
<p>Namun, ada yang menyanggah bahwa nama itu sudah menjadi nama salah satu desa. Ranggasena kemudian angkat bicara. Ia mengusulkan kadipaten itu diberi nama penyarang. Nama itu ia ambil karena, ketika belum dibangun kadipaten dan masih berupa hutan, tempat itu banyak sarang burung dan hewan lainnya. Pertemuan itu akhirnya membuahkan kesepakatan tanpa ada pertentangan. Secara aklamasi mereka memutuskan nama kadipaten yang baru mereka bangun adalah Kadipaten Penyarang. Mereka juga sepakat mengangkat Ranggasena menjadi Adipati Penyarang.</p>
<p>Keesokan hari Ranggasena resmi menjabat sebagai adipati di Kadipaten Penyarang dengan gelar Adipati Ranggasena. Penobatannya sebagai adipati dilakukan oleh Sinuhun Keraton Surakarta. Pada saat itu seluruh penduduk terlihat bersuka cita. Sorak sorai menggema
di mana-mana. Pesta ala kadarnya mereka gelar sebagai luapan rasa bahagia. Diam-diam, ternyata sudah cukup lama Ranggasena jatuh cinta kepada putri Kiai Ngabei Tangerang yang bernama Tejalamat.</p>
<p>Oleh karena itu, setelah diangkat menjadi adipati, Ranggasena melamar Tejalamat agar bersedia menjadi pendamping hidupnya. Cinta tak bertepuk sebelah tangan, Tejalamat menerima lamaran itu dan bersedia menjadi istri Adipati Ranggasena. Kiai Ngabei Tangerang pun merestui niat suci Adipati Ranggasena mempersunting putrinya.</p>
<p>Setelah menjabat sebagai adipati, Adipati Ranggasena segera membentuk struktur organisasi pemerintahan. Hal itu ia lakukan agar jalannya pemerintahan di Kadipaten Penyarang dapat berjalan lancar. Ia menempatkan anak-anaknya pada posisi atau bagian yang penting dalam pemerintahan. Wadas Malang bertanggung jawab di bidang keagamaan, Gunung Sari bertanggung jawab di bidang keamanan, sedangkan Sena Reja atau Hajar Sena bertanggung jawab di bidang ekonomi. Banyak juga penduduk yang juga mendapat tanggung jawab dan kepercayaan untuk mengelola dan ikut memajukan Kadipaten Penyarang. Kiai Ngabei Tangerang, meskipun sudah tua, juga mendapat bagian. Ia diangkat menjadi penasihat karena sangat berjasa atas pendirian Kadipaten Penyarang dan pengangkatan Adipati Ranggasena. Namun sayang, belum lama memangku jabatan sebagai penasihat, Kiai Ngabei Tangerang meninggal dunia.</p>
<p>Untuk kelancaran pelaksanaan tanggung jawab, tidak semua putra Adipati Ranggasena tinggal di kadipaten. Wadas Malang dan Gunung Sari tinggal di wilayah kadipaten sebelah barat. Segara Wangi tinggal di wilayah kadipaten sebelah timur. Hanya Sena Reja atau Hajar Sena yang tetap tinggal di kadipaten untuk membantu ayahnya mengelola kadipaten. Sifat tidak pilih kasih Adipati Ranggasena terhadap putra dan penduduknya menjadikan Kadipaten Penyarang semakin maju dan berkembang.</p>
<p>Saat itu agama Islam sudah masuk ke Kadipaten Penyarang, tetapi penduduk belum dapat memelajari ajaran tersebut. Oleh karena itu, Adipati Ranggasena memerintah Wadas Lintang untuk mengupayakan penyebaran ajaran itu.</p>
<p>Gunung Sari ditugasi untuk menjaga keamanannya agar tidak terjadi gejolak dalam penyebaran agama dan utamanya menjaga ketenteraman dan ke tenangan masyarakat. Bidang ekonomi, termasuk pekerjaan warga Kadipaten Penyarang, ditugaskan kepada Sena Reja. Dialah yang mengatur semua kegiatan perekonomian. Selain itu, untuk memantau dan mengendalikan kegiatan penduduk sehari-hari, Segara Wangilah yang ditugasi.</p>
<p>Kemajuan Kadipaten Penyarang semakin terkenal. Lebih-lebih ketika Adipati Ranggasena memperkenalkan Kadipaten Pe nyarang ke Pusat Pemerintahan di Surakarta dan Pajajaran. Untuk membuktikan kemajuannya, Adipati Ranggasena mengirimkan kayu ke Pajajaran untuk membangun pendapa. Pada waktu itu belum ada kendaraan untuk mengangkut kayu dari Kadipaten Penyarang ke Pajajaran. Kayu-kayu itu dikirim dengan cara diseret menggunakan ikat pinggang oleh murid-murid Sunan Kalijaga. Hanya merekalah yang mampu melakukan karena memiliki kesaktian yang diajarkan oleh Sunan Kalijaga.</p>
<p>Kerja sama yang dilakukan Adipati Ranggasena dengan Pemerintah Keraton Surakarta dan Pajajaran menjadikan Kadipaten Penyarang semakin terkenal. Segala penjuru sudah mengetahui tentang keberadaan Kadipaten Penyarang dan Adipati Ranggasena, tentang penduduknya yang telah mendapat tempat tinggal yang layak dan hidup tenteram, serta tentang kemampuan penduduk mengolah dan mengelola hutan dengan baik. Namun, masih ada amanat yang belum terselesaikan oleh Ranggasena, yaitu membangun jalan yang menghubungkan wilayah Surakarta dan Pajajaran. Hal itu berarti bahwa Adipati Ranggasena baru menyelesaikan separuh amanat ayah andanya.</p>
<p>Membangun jalan bukanlah pekerjaan yang mudah. Adipati Ranggasena merasa tidak mampu mengerjakan sendiri. Dahulu selalu dibantu oleh Kiai Ngabei Tangerang, tetapi sekarang harus mencari bantuan orang lain karena Kiai Ngabei Tangerang telah tiada. Ilmu yang diajarkannya pun belum cukup untuk membangun jalan yang menghubungkan Surakarta dan Pajajaran. Dalam hal inilah kesabaran dan ilmunya diuji. Ia harus mencari cara agar jalan dapat dibangun dengan baik dan lancar.</p>
<p>Ia terus memikirkan hal itu sampai-sampai tidak tidur beberapa hari. Pada suatu malam, tanpa sengaja Adipati Ranggasena tertidur. Ia bermimpi bertemu dengan Kiai Ngabei Tangerang. </p>
<p>&#8220;Ranggasena, tugas yang harus kamu jalankan memang berat. Tidak mudah membuat jalan. Namun, kamu tidak perlu putus asa. Semua pasti ada jalan. Ada ilmu yang dapat digunakan, tetapi harus memiliki kesabaran dan pemikiran yang suci. Putramu dapat membantu menyelesaikan tugas itu.&#8221;</p>
<p>Adipati Ranggasena terkejut lalu terbangun dari tidurnya. Ia berusaha mengingat-ingat pesan Kiai Ngabei Tangerang dalam mimpinya.</p>
<p>&#8220;Pesan Kiai akan saya lakukan. Mohon restu, Kiai,&#8221; gumannya.</p>
<p>Keseokan hari Adipati Ranggasena mulai menjalankan apa yang dipesankan Kiai Ngabei Tagerang dalam mimpinya. Ia mulai membangun jalan ke arah barat, yang akan menghubungkan Kadipaten Penyarang dengan Pajajaran. Setiap hari ia menjalankan tugas itu dengan sabar. Ia tidak pernah marah kepada siapa saja yang membantunya. Yang lebih penting, meskipun putranya ikut membantu, ia tetap harus ikut serta melakukan dan memimpin pelaksanaan tugas tersebut.</p>
<p>Bertahun-tahun Adipati Ranggasena dibantu putra-putranya serta penduduk Kadipaten Penyarang bekerja tidak kenal lelah. Sedikit demi sedikit pembangunan jalan diselesaikan dengan lancar. Keberhasilan itu membuat hati mereka lega. Pekerjaan yang mereka pikir mustahil dilakukan itu telah dirampungkannya. Meskipun belum terlihat benar-benar rapi, jalan yang menghubungkan Kadipaten Penyarang dan Pajajaran itu sudah dapat dilewati dengan nyaman.</p>
<p>Setiap daerah yang dilalui jalan itu diberi nama dengan sebutan ci oleh Adipati Ranggasena, seperti Cipari, Cikangleles, Cikalong, Cinangsi, Cibenda, dan Ciloning. Kata ci memiliki makna ‘sumber air’.</p>
<p>Penamaan dengan sebutan ci tersebut dimaksudkan agar daerah yang diberi nama dengan kata itu tidak pernah kehabisan air.Pembangunan kadipaten dan jalan telah selesai dijalankan. Dengan demikian, amanat Prabu Ciung Wanara telah dipenuhi oleh Adipati Ranggasena. Namun, Adipati Ranggasena tidak berkeinginan kembali ke Pajajaran. Ia memilih menetap dan menyatu dengan penduduk Kadipaten Penyarang. Hal itu sudah menjadi tekadnya ketika diangkat sebagai adipati.</p>
<p>Ia tidak akan meninggalkan dan akan tetap menjadi bagian Kadipaten Penyarang. Tekad itu dibuktikannya dengan tetap menjadi Adipati sampai usianya senja. Kekuatan manusia ada batasnya. Karena usianya yang semakin tua, Adipati Ranggasena merasa tidak mampu lagi menjadi adipati. Oleh karena itu, ia menyerahkan tampuk pimpinan Kadipaten Penyarang kepada putra bungsunya, yaitu Sena Reja atau Hajar Sena. Ia menjadi adipati kedua di Kadipaten Penyarang dengan gelar Adipati Anom Ranggasena.</p>
<p>Seperti halnya ayahnya, penobatan Adipati Anom Ranggasena pun dikukuhkan oleh Sinuhun Keraton Surakarta. Entah beberapa waktu lamanya, setelah menyerahkan tampuk kekuasaan kepada putranya, Adipati Ranggasena meninggal dunia. Namun, sebelum meninggal ia berpesan kepada istri, anak, dan semua penduduk Kadipaten Penyarang.</p>
<p>&#8220;Anak dan cucuku semua, jika waktuku tiba, aku harus meninggalkan kalian semua. Tapi, jika kalian minta apa saja kepadaku, aku sanggup.&#8221;</p>
<p>Setelah berpesan seperti itu, Adipati Ranggasena menghembuskan napasnya yang terakhir. Ia lalu dimakamkan di wilayah Kadipaten </p>
<p>Penyarang yang disebut Cisagu. Kata cisagu berasal dari pesan Adipati Ranggasena yang &#8220;sanggup&#8221; memenuhi permintaan anak, cucu, dan penduduk semua. Kata sanggup dalam bahasa Jawa adalah saguh. Jadi, nama Cisagu berasal dari kata ci dan saguh. Selanjutnya, makam Adipati Ranggasena disebut Panembahan Cisagu. Sampai saat ini makam tersebut menjadi tempat ziarah yang terkenal dan banyak didatangi peziarah dari berbagai penjuru.</p>
<p><strong>Diceritakan oleh: Suryo Handono</p>
<p>Disadur dari Cerita Rakyat Cilacap Jawa Tengah.</p>
<p>Diterbitkan oleh Balai Bahasa Jawa Tengah Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan</strong> </p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/ilustrasi-Ranggasena-dan-Kiai-Ngabei-Tangerang-dan-para-penduduk-bergotong-royong-untuk-mendirikan-kadipaten-1200x675.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="675">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[ilustrasi Ranggasena dan Kiai Ngabei Tangerang dan para penduduk bergotong royong untuk mendirikan kadipaten]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/ilustrasi-Ranggasena-dan-Kiai-Ngabei-Tangerang-dan-para-penduduk-bergotong-royong-untuk-mendirikan-kadipaten-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[ilustrasi Ranggasena dan Kiai Ngabei Tangerang dan para penduduk bergotong royong untuk mendirikan kadipaten]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Kisah Haryo Leno Pendiri Sidareja Cilacap</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-18777/kisah-haryo-leno-pendiri-sidareja-cilacap</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 24 Oct 2019 17:15:15 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Cerita Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Sidareja]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-18777/kisah-haryo-leno-pendiri-sidareja-cilacap</guid>

					<description><![CDATA[CILACAP.INFO &#8211; Alkisah, Pasirluhur adalah sebuah kadipaten yang gemah ripah loh jinawi. Kadipaten tersebut dipimpin oleh seorang adipati yang arif bijaksana dan mengayomi rakyat. Beliau adalah Kanjeng Adipati Kadang Doho. Kanjeng Adipati mempunyai seorang putri yang cantik jelita, yaitu Dewi Ciptarasa.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Alkisah, Pasirluhur adalah sebuah kadipaten yang gemah ripah loh jinawi. Kadipaten tersebut dipimpin oleh seorang adipati yang arif bijaksana dan mengayomi rakyat. Beliau adalah Kanjeng Adipati Kadang Doho. Kanjeng Adipati mempunyai seorang putri yang cantik jelita, yaitu Dewi Ciptarasa.</p>
<p>Kecantikan Dewi Ciptarasa tidak hanya dikagumi di kadipatennya, tetapi juga terkenal hingga kadipaten-kadipaten di sekitarnya. Bahkan, telah sampai pula kabar kecantikannya tersebut hingga ke tanah Pajajaran. Nama Dewi Ciptarasa berasal dari kata cipta dan rasa yang memiliki arti ‘menggugah rasa’. Setiap orang yang melihat Dewi Ciptarasa akan tertarik kepadanya.</p>
<p>Dewi Ciptarasa memiliki kulit yang putih dan halus bagaikan pualam. Wajahnya cantik bagaikan bidadari. Rambutnya panjang, lebat, dan hitam berkilau. Alisnya sehitam arang kayu. Matanya jernih indah berseri. Bibirnya merah merona bagaikan buah ceri. Badannya anggun tinggi semampai. Tidak akan ada habisnya mengagumi kecantikan Dewi Ciptarasa. Semua keindahan ada padanya dan semuanya menyatu hingga terbentuklah kecantikan yang sempurna.</p>
<p>Salah satu putra Pajajaran yang bernama Banyakcatra atau Kamandaka datang ke Pasirluhur untuk membuktikan kecantikan Dewi Ciptarasa. Ia penasaran dengan kabar yang beredar. Ia ingin membuktikan kebenaran kabar itu. Benarkah sang Putri memiliki kecantikan bidadari khayalannya seperti yang diceritakan banyak orang? Ia pun berangkat mencari jawabannya. </p>
<p>Akhirnya, sampailah ia di Pasirluhur. Ia bertemu dengan orang yang dicarinya. Setelah menyaksikan kecantikan Dewi Ciptarasa, Banyakcatra percaya akan berita-berita yang didengar selama ini. Singkat cerita, mereka kemudian saling mengenal dan memiliki ketertarikan satu sama lain. Mereka pun saling jatuh hati dan akhirnya menikah. Pernikahan Dewi Ciptarasa dan Banyakcatra atau Kamandaka dikaruniai seorang putra yang tampan dan diberi nama Bajang Laut.</p>
<p>Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, Bajang Laut tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan gagah perkasa. Namun, sangat disayangkan, semenjak ia dilahirkan hingga menjadi dewasa ini Bajang Laut tidak pernah ke luar dari desanya. Karena hal itu, Bajang Laut memiliki keinginan untuk mengembara mencari ilmu dan pengalaman. Dengan keinginan yang sangat besar itu, Bajang Laut memberanikan diri menemui ayahnya. Setelah memantapkan diri, Bajang Laut menghadap ayahandanya.</p>
<p>&#8220;Wahai, anakku, ada apa engkau menghadapku?&#8221;</p>
<p>Bajang Laut pun menjawab, &#8220;Ampun beribu ampun, Rama. Saya mohon izin untuk pergi mengembara! Hamba ingin mencari ilmu dan pengalaman.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mengembara? Apa yang akan kau dapatkan dari mengembara?&#8221; tanya ayahnya.</p>
<p>&#8220;Saya bisa mendapat ilmu, Rama. </p>
<p>Setidaknya saya belajar hidup mandiri. Dengan pengalaman hidup di luar istana, saya berkeinginan menjadi orang yang berguna bagi banyak orang. Tidak hanya bergantung kepada apa yang telah diberikan Rama. Tolong, izinian saya pergi Rama,&#8221; Bajang Laut memohon agar keinginannya dikabulkan oleh ayahandanya.</p>
<p>Bajang Laut yang tumbuh menjadi pemuda tampan dan gagah meminta izin kepada ayahandanya untuk mengembara.</p>
<p>&#8220;Apakah kautahu hidup di luar sana sangat sulit. Akan ada banyak rintangan yang kauhadapi. Selama ini hidupmu selalu dilayani, sedangkan di luar kauharus melakukan semuanya sendiri. Apa kamu sanggup?&#8221;</p>
<p>&#8220;Itulah sebabnya, Rama. Hamba ingin belajar tentang hidup dan kehidupan. Saya ingin mencari pengalaman hidup mandiri. di luar sana adalah tempat yang tepat. Dengan hidup sendiri saya akan banyak belajar. Saya akan berusaha untuk mengatasinya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagus sekali keinginanmu itu, anakku. Jadi, sudah kaupikirkan masak-masak keputusanmu ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, Rama.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau memang itu sudah keputusan yang engkau ambil, Rama akan mengabulkannya. Rama hanya dapat memberikan nasihat karena sebelum ini engkau belum pernah ke luar dari desa ini. Rama minta engkau menjaga diri dan jangan sampai membuat malu keluarga ini!&#8221; nasihat ayahnya.
&#8220;Pergilah, anakku! Berhati-hatilah karena ada banyak rintangan yang akan kau hadapi di luar sana!&#8221; pesan ayahandanya sambil memberikan restunya.</p>
<p>Ayahandanya, Bajang Laut menghadap ibun- danya yang sedang berada di Tamansari. Ia ingin mengabarkan rencananya itu sekaligus meminta izin kepada ibundanya. Mendengar permintaan anaknya, ibundanya menangis dan terus membujuknya untuk membatalkan rencana itu. Ia khawatir terjadi apa-apa pada anak semata wayangnya.</p>
<p>Namun, rencana Bajang Laut sudah bulat. Ia kukuh dalam pendiriannya. Ia yakin kepergiannya itu akan membawa manfaat, yaitu menambah ilmu dan pengalaman hidup. Dengan berat hati sang ibunda akhirnya merelakan Bajang Laut pergi mengembara.</p>
<p>Persiapan pun dilakukan. Semua perlengkapan yang diperlukan selama perjalanan disediakan. Namun, Bajang Laut hanya memilih yang sekiranya sangat diperlukan dan mudah dibawanya mengembara agar tidak terlalu membebaninya.</p>
<p>Tibalah saatnya Bajang Laut untuk meninggalkan rumah. Ia memohon restu kepada kedua orang tuanya. Ia pergi mengikuti arah angin dan langkah kakinya. di awal perjalanan Bajang Laut merasa lancar dan belum bertemu dengan banyak rintangan.</p>
<p>Di tengah pengembaraannya, Bajang Laut bertemu dengan dua orang kakak beradik pengembara sakti.</p>
<p>&#8220;Wahai, Ki Sanak. Kalau boleh saya tahu siapa nama Ki Sanak dan hendak ke mana Ki Sanak berdua?&#8221; tanya Bajang Laut.
&#8220;Maaf, Ki Sanak. Saya Haryo Leno dan ini adik saya Joko Leno. Kami berdua dari sebuah padepokan dan ingin mengembara mencari pengalaman hidup,&#8221; sahut Haryo Leno.</p>
<p>Dalam pertemuan itu mereka saling berbagi cerita dan mene- mukan banyak kesamaan tentang prinsip dan pandangan hidup. Mereka bertiga mengembara bersama-sama. Suka dan duka selama perjalanan mereka rasakan bersama sehingga terbentuklah ikatan seperti saudara kandung. Rasa persaudaraan di antara mereka bertiga begitu erat sehingga perjalanan itu menjadi sangat menyenangkan. Mereka bertiga sangat menikmati perjalanan itu. Mereka berbahagia dan tertawa bersama di antara embusan angin, hijaunya dedaunan, hamparan sawah yang menghijau dan gunung yang menjulang, hewan-hewan yang berlarian dan terlihat jinak. Mereka menyatu bersama alam.</p>
<p>Ketika mereka sedang asyik menikmati pemandangan dan beristirahat, berkatalah Bajang Laut, &#8220;Wahai, kedua saudaraku. Aku berjanji kelak jika aku menduduki singgasana. Kalian berdua akan aku jadikan sebagai penggawa!&#8221;</p>
<p>Waktu pun berputar dengan cepat, Haryo Leno dan Joko Leno masih setia bersama dengan Bajang Laut. Janji Bajang Laut yang akan mengangkat Haryo Leno dan Joko Leno sebagai penggawa apabila Bajang Laut menduduki singgasana membuat Haryo Leno tetap bertahan. Namun, janji Bajang Laut tidak kunjung terlaksana sehingga muncullah niat Haryo Leno pergi meraih impiannya sendiri.</p>
<p>Ia pergi tanpa pamit kepada kedua saudaranya. yang dilakukannya bukan karena ia membenci Bajang Laut, tetapi ia ingin memiliki kehidupan yang lebih baik. Ia ingin mencari kehidupannya sendiri. Karena Haryo Leno berpikir apabila dirinya hanya menunggu Bajang Laut benar-benar menduduki singgasana, hal itu memerlukan waktu yang lama dan belum pasti.</p>
<p>Dengan demikian, Haryo Leno memu- tuskan membuka hutan untuk bercocok tanam. Sampailah Haryo Leno di hutan yang tanahnya rata dan subur. Haryo Leno mem- buka hutan tersebut dan menjadikannya tanah pertanian. Karena keuletan dan kegigihannya, semua tanaman yang ia tanam tumbuh dengan subur. Tanaman-tanaman tersebut menghasilkan buah dan sayuran yang segar sehingga Haryo Leno dapat memanen hasil jerih payahnya sendiri, tanpa bergantung kepada orang lain.</p>
<p>Haryo Leno beranggapan bahwa sebuah proses perjuangan yang dilakukan dengan bersungguh-sungguh akan membuahkan hasil sesuai perjuangannya. Kesabaran dan ketelitian ia tanamkan pada dirinya. Proses yang baik akan memperoleh hasil yang baik pula.</p>
<p>Di kala sang mentari masih mengintip, Haryo Leno memandangi tanaman yang begitu subur, timbullah rasa puas, bangga, dan kagum. Dia pun bergumam dalam hati, &#8220;Tempat ini betul-betul sida reja ‘jadi ramai’ atau sida makmur ‘jadi makmur’. Jika kelak tempat ini menjadi desa, aku akan memberinya nama Desa Sidareja!&#8221;.</p>
<p>Memandang hasil kerja kerasnya membuat hati Haryo Leno se- nang. Ia benar-benar bahagia karena tanamannya tumbuh dengan</p>
<p>subur dan sehat. Dengan tanaman itulah Haryo Leno dapat mencukupi kebutuhan hidupnya. Sementara itu, sejak kepergian Haryo Leno yang tanpa pamit, Joko Leno dan Bajang Laut terus mencari Haryo Leno. Mereka berdua berpencar mencari ke mana-mana hingga ke pelosok-pelosok desa. Mereka khawatir terjadi sesuatu pada Haryo Leno. Bajang Laut pergi ke arah barat, sedangkan Joko Leno pergi ke arah timur.</p>
<p>Berbulan- bulan mereka melakukan pencarian itu. Pada titik-titik mendekati keputusasaan, Joko Leno berhasil menemukan Haryo Leno.
Tidak selang beberapa lama Joko Leno mendatangi Haryo Leno dan bertanya alasan kakaknya pergi dengan tiba-tiba dan tanpa pamit kepada Bajang Laut. Bahkan, pamit kepada adiknya sendiri pun tidak. Haryo Leno bercerita tentang kepergiannya karena ia merasa rugi bila hanya mengandalkan janji dari Bajang Laut. Bahkan, ia berpikir entah kapan Bajang Laut akan menduduki singgasananya.</p>
<p>Sementara, waktu itu Bajang Laut jauh dari rumahnya dan hidup bersama dirinya. Haryo Leno merasa tidak enak kepada Bajang Laut apabila dirinya pergi berpamitan karena ia berpikir bahwa Bajang Laut mungkin akan mengira dirinya orang yang tidak sabaran dan tidak percaya kepadanya. Ia juga khawatir Bajang Laut tersinggung dengan keputusan dan tindakannya tersebut. Oleh karena itu, Haryo Leno memutuskan pergi tanpa pamit. Akan tetapi, Joko Leno malah berkata lain.</p>
<p>&#8220;Hanya alasan Kakang saja. Sesungguhnya Kakang ingin menyaingi Bajang Laut, kan? Ingin menjadi penguasa dan memiliki wilayah kekuasaan sendiri! Kakang juga tidak mengatakan apa pun kepadaku. Kakang ingin meraih sukses sendirian?&#8221;
Haryo Leno menjawab, &#8220;Tidak adikku, bukan begitu. Kamu salah mengerti dengan apa yang aku katakan padamu.</p>
<p>Percayalah Kakang pergi karena Kakang hanya ingin mewujudkan cita-cita Kakang untuk dapat hidup mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Kakang tidak ingin berutang budi kepada Bajang Laut. Semua itu kulakukan bukan untuk menyaingi kerajaannya. Kalau Kakang tetap menunggu diangkat menjadi penggawa, Kakang pasti tidak akan dapat menjadi seperti sekarang ini.&#8221;</p>
<p>Terjadilah selisih pendapat antara mereka. Mereka memiliki alasan masing-masing sehingga terjadilah pertempuran. Kesaktian keduanya berimbang, pertempuran pun terus berlangsung. Mereka saling mengejar, melukai, dan tidak ada yang mau mengalah. Mereka hanya memikirkan pendapat masing-masing dan merasa pendapat pribadi mereka yang paling benar.</p>
<p>Pertempuran dua saudara kandung itu pun semakin menjadi-jadi. Konflik yang memicu terjadinya pertempuran itu hanyalah ke- salahpahaman antara Haryo Leno dan Joko Leno yang telah membela Bajang Laut. Padahal, Bajang Laut sendiri tidak mengetahui bahwa kakak beradik yang ia janjikan untuk menjadi penggawa di singgasananya itu telah bertempur hendak bunuh-membunuh.</p>
<p>Pertempuran tersebut berlangsung berhari-hari. Suatu saat Haryo Leno hendak bersandar (bahasa Jawa, sende-sende) karena lelah melawan Joko Leno. Setiap kali ada tempat yang digunakan untuk pertempuran pasti sebagai peringataan digunakan sebagai nama sebuah desa ataupun tempat. Salah satunya tempat yang digunakan bersandar oleh Haryo Leno. Tempat itu sekarang menjadi desa yang diberi nama Sindeh, dari kata sende.</p>
<p>Pertempuran belum juga berhenti, mereka terus saling mengejar. Akhirnya, mereka pun berhenti di suatu tempat. Tempat perhentian itu menjadi nama sebuah desa yang disebut Karanggandul. Nama itu diambil karena Haryo Leno melihat di sekitar tempat itu banyak pohon pepaya, dalam bahasa Jawa disebut dengan gandul. Saat itu Haryo Leno naik ke gunung dan berhenti untuk melihat sekelilingnya.</p>
<p>Ia melihat jurang yang sangat curam, banyak bebatuan besar, dan dikelilingi rumput liar yang lebat. Siapa pun yang masuk atau terjatuh ke jurang tersebut pasti tidak akan terselamatkan. Ditemukan jasadnya pun belum tentu karena apabila terjatuh badannya akan hancur dan tidak berbentuk.</p>
<p>Tempat itu dinamakan Jurang Ngadeg karena pada saat itu Haryo Leno melihat jurang itu dalam posisi berdiri atau bahasa Jawa ngadeg. Karena kesaktian yang dimiliki, keduanya masih bertempur untuk mengalahkan satu sama lain. Mereka bersikeras mempertahankan kekuatan dan pendirian mereka. Haryo Leno tetap teguh tidak mau</p>
<p>kalah dan dikalahkan, begitu pula dengan Joko Leno. Pertempuran semakin sengit dan berlangsung lama. Pada akhirnya, mereka berdua tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah. Keduanya meninggal akibat pertempuran tersebut. Mereka berdua pun dimakamkan di tempat mereka bertempur.</p>
<p>Ibarat ungkapan dalam bahasa Jawa me- nang dadi areng, kalah dadi awu ‘menang menjadi arang, kalah menjadi abu’. Menang ataupun kalah dalam pertempuran tersebut akan berbuah sia-sia karena semuanya telah hancur berantakan. Hingga saat ini kita masih dapat mengunjungi makam Haryo Leno dan Joko Leno di Cilacap.</p>
<p><strong>Diceritakan oleh: Umi Farida</p>
<p>Disadur dari Cerita Rakyat Cilacap Jawa Tengah.</p>
<p>Diterbitkan oleh Balai Bahasa Jawa Tengah Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan</strong> </p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/ilustrasi-kisah-pendiri-Sidareja-Cilacap-Haryo-Leno-1200x675.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="675">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[ilustrasi kisah pendiri Sidareja Cilacap Haryo Leno]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/ilustrasi-kisah-pendiri-Sidareja-Cilacap-Haryo-Leno-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[ilustrasi kisah pendiri Sidareja Cilacap Haryo Leno]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Cerita Rakyat Bundhel Tlatah Maos Lor</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-17154/cerita-rakyat-bundhel-tlatah-maos-lor</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Huda]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 27 Aug 2019 19:04:07 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Cerita Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-17154/cerita-rakyat-bundhel-tlatah-maos-lor</guid>

					<description><![CDATA[CILACAP.INFO &#8211; Dahulu kala, di tepi Sungai Serayu wilayah Desa Maoslor, Kecamatan Maos, terdapat sebuah padepokan yang terkenal. Banyak orang dari berbagai daerah datang untuk menimba ilmu kebatinan maupun ilmu kanuragan. Padepokan itu dipimpin oleh seorang tokoh agama Islam yang terkenal dengan panggilan Mbah Platarklasa. Ada yang menyebutnya pula dengan nama Mbah Patrakusuma.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Dahulu kala, di tepi Sungai Serayu wilayah Desa Maoslor, Kecamatan Maos, terdapat sebuah padepokan yang terkenal. Banyak orang dari berbagai daerah datang untuk menimba ilmu kebatinan maupun ilmu kanuragan. Padepokan itu dipimpin oleh seorang tokoh agama Islam yang terkenal dengan panggilan Mbah Platarklasa. Ada yang menyebutnya pula dengan nama Mbah Patrakusuma.</p>
<p>Konon ceritanya, beliau adalah seorang utusan dari Kerajaan Mataram (Pasuruan, Jawa Tengah) bernama Pangeran Rogokerti, bersama saudara sepupunya Dewi Roh Esti yang pada waktu itu ditugaskan di tlatah kulon untuk menghimpun kekuatan, tidak lain untuk mengusir penjajah Belanda. Beliau datang ke rumah Wongso Dipuro, petani jahe penghuni awal tlatah Maoslor yang tinggal di Gang Gombong yang sekarang diganti nama Jalan Jambu.</p>
<p>Suatu malam mereka duduk-duduk di tempat yang tidak jauh dari Gang Gombong bersama tiga puluh lima orang sahabatnya untuk membicarakan tentang dituasi di Kerajaan Mataram yang porak poranda karena kekejaman penjajah Belanda. Tempat itu sering digunakan sebagai tempat musyawarah dan sebagai tempat istirahat di kala mereka lelah berputar mengelilingi desa.</p>
<p>Tempat itu akhirnya diberi nama Palinggihan yang artinya ‘tempat duduk’ sehingga sekarang sebagai nama dusun. Beliau merasa hidupnya lebih nyaman, rakyat sekitar pun merasa tenteram karena perlakuan Mbah Platarklasa yang arif dan bijaksana serta mempunyai kesaktian yang luar biasa.</p>
<p>Mbah Platarklasa merupakan pemilik bundhel berisi pusaka yang berkekuatan gaib berupa tombak, keris, sutra dua jenis, stambul, dan cincin. Bundhel tersebut diperoleh dengan keprihatinan dalam menjalani hidup, bertapa tanpa mengenal lelah, berpuasa hingga empat puluh dari empat puluh malam, baik puasa lahir maupun batin. Menjelang wafat, beliau berpesan kepada para cantriknya.</p>
<p>&#8220;Wahai para cantrik, tolong wasiat ini sampaikan kepada siapa pun yang menempati wilayah Maoslor dan sekitarnya. yang pertama, janganlah berani membuat atau memasang pagar jaro (bambu) menyamai pagar makam para leluhur! Kedua, jangan membuat rumah bentuk bale malang. Dan, yang terakhir, jangan membuat taman yang gemerlapan!&#8221;</p>
<p>Entah apa alasannya, yang jelas itulah pesan terakhir yang beliau sampaikan. Mbah Platarklasa pun wafat menghadap Sang Pencipta. Karena kearifan dan kelebihan yang dimiliki, makamnya terus dikunjungi para peziarah yang datang dari berbagai daerah. Bahkan, pernah seorang putri raja asli dari Bali bernama Dewi Siti Ghojari yang sudah lama menetap di Keraton Surakarta datang dengan mengendarai kereta kuda yang bernama Jaran Megantara. Dewi Siti Ghojari bermaksud untuk bersemadi mencari ketenangan diri. Tibatiba angin menyapu memorak-porandakan pohon-pohon di se kitar tempat duduk Dewi Siti Ghojari bersemedi. Lenyapnya suara gemuruh terdengar sayup-sayup suara gaib.</p>
<p>&#8220;Ngger, untuk sementara menetaplah di Palinggihan ini. Sucikan dirimu dengan puasa selama empat puluh hari empat puluh malam (ngebleng). Berputarlah mengelilingi desa sebanyak tujuh kali di malam Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon mulai pukul 00.00 dan jangan sekali-kali kaugunakan untuk kesombongan, hingga kaumenemukan kesempurnaan hidup!&#8221;</p>
<p>Dalam hati Dewi Siti Ghojari bertanya, &#8220;Suara apa itu? Apa yang terjadi?&#8221; Dengan rasa takut, gemetar hingga berdiri seluruh bulu kuduk, beliau bertahan untuk tidak beranjak dari tempat duduknya. Diyakininya pasti ini yang dinamakan wangsit. Lalu, bagaimana, apakah Siti Ghojari melaksanakan wangsit itu? Dewi Siti Ghojari seketika itu juga melaksanakan apa yang diwangsitkan oleh suara gaib.</p>
<p>Betapa terkejut Dewi Siti Ghojari setelah empat puluh hari berpuasa ngebleng, kembali datang suara gemuruh. Ia terperanjat dengan hadirnya benda aneh berupa bundhel sudah ada di ha dap annya.</p>
<p>Singkat cerita, bundhel tersebut menjadi benda gaib yang turuntemurun. Dipegang oleh keturunan di dalam keluarga. Sampai suatu saat, bundhel tersebut dipegang oleh keturunan ke-33, yaitu Ki Anwar. Peninggalan pusaka bundhel bertahun-tahun dirawat oleh Ki Anwar, penduduk Desa Maoslor. Menjelang ajal, Ki Anwar bermaksud mewariskan bundhel tersebut kepada anak-anaknya. Namun, bag aimana dengan anak-anak Ki Anwar? Adakah yang sanggup menerima ta waran orang tua mereka?</p>
<p>Ternyata, tidak seorang pun anak Ki Anwar mau menerima karena beranggapan bahwa benda tersebut mengandung aliran dinamisme. Sementara, putra-putra Ki Anwar tidak ingin akidahnya ternoda oleh kepercayaan dinamisme. Ki Anwar saat itu sangatlah bingung, sedih mengingat umur yang sudah tua.</p>
<p>&#8220;Kepada siapa bundhel ini akan kuserahkan?&#8221; dalam keadaan bingung datanglah seorang abdi dalem bernama Ki Abu Hasan, sepupu Ki Anwar yang sudah lama mengabdi.</p>
<p>&#8220;Kanjeng, jangan bersedih! Suatu saat pasti ada penerus yang mampu mewarisi. Percayalah padaku, Kanjeng! Pasrahkan saja kepada Sang Pencipta.&#8221;</p>
<p>&#8220;Terima kasih, Ki Abu. Perkataanmu telah membuat hatiku sedikit lega.&#8221;</p>
<p>Tidak sampai satu tahun apa yang disampaikan Ki Abu Hasan menjadi kenyataan. Bahkan, ternyata Ki Abu Hasan sendiri yang menerima wangsit tersebut melalui mimpi-mimpi Ki Anwar. Secara gaib pula bundhel sudah ada di senthong kecil tempat Ki Abu Hasan bersemadi. Sejak saat itu banyak orang berdatangan ke rumah Ki Abu Hasan. Beliau dianggap sebagai sesepuh atau orang pintar. Mereka datang untuk meminta bantuan berbagai macam kesulitan hidup Bahkan mengobati orang sakit.</p>
<p>Dengan hati tulus, dilayaninya orangorang tanpa mengharap imbalan apa pun. Tidak terasa empat puluh tahun sudah Ki Abu Hasan memegang amanah tersebut. Beliau ingin mewariskan kepada anaknya. Dipanggilnya anak tertua karena sudah menjadi kebiasaan turun-temurun bahwa pewaris bundhel adalah anak laki-laki yang paling tua.</p>
<p>&#8220;Anakku, Tuslam. Umurku sudah tua. Mungkin hidupku tidak akan lama lagi. Bapak percaya kau pasti dapat memegang bundhel warisan leluhurmu!&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak Bapa. Bukan saya orang yang tepat untuk menerima bundhel itu. Berikan saja kepada yang mampu merawat dan menjaganya.&#8221;</p>
<p>Mendengar kakak kandungnya tidak mau menerima, datanglah putra Abu Hasan yang bungsu, yaitu Ki Hadi Prayitno yang terkenal dengan panggilan Hadi Rame. Dengan lantang ia berkata, &#8221; Bapa, jika Kakang Tuslam tidak mau, saya siap melanjutkan jejak Bapa.&#8221;</p>
<p>Ki Abu Hasan masih menyangsikan putra bungsunya apakah mampu menjalankan amanah yang cukup berat. Apalagi dengan persyaratan yang tidak mudah. Mengingat usianya yang masih terlalu muda dikhawatirkan masih banyak memikirkan keduniawian. Oleh karena itu, Ki Abu Hasan masih memberi kesempatan kepada Ki Hadi Rame agar dipikirkan masak-masak.</p>
<p>Kemauan keras Ki Hadi Rame tidak dapat lagi dibendung. Beliau berpikir siapa lagi kalau bukan ia yang menerima. Kakak satu-satunya menolak dengan sangat tegas. Jangan sampai Bundhel Tlatah Maoslor lepas dari keluarga. Mulailah Ki Hadi Rame memenuhi seluruh persyaratan. Pada saat tapa yang dilakukan Ki Hadi Rame belum selesai, datanglah seorang pengembara dari Jawa Barat bernama Ki Slamet. Ki Slamet bertamu ke rumah Ki Abu Hasan dengan tujuan meminta bundhel warisan leluhur.</p>
<p>&#8220;Ki Abu Hasan, saya mendapat wangsit dari Mbah Platarklasa melalui mimpi. Sayalah yang berhak merawat bundhel melanjutkan tugas Ki Abu Hasan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa maksud perkataanmu, Slamet?&#8221; tanya Ki Abu Hasan.</p>
<p>&#8220;Apa masih kurang jelas ucapan saya? Saya minta Ki Abu Hasan menyerahkan bundhel itu sekarang juga kepada saya! Saya sudah terbiasa merawat pusaka, percayalah kepada saya!&#8221;
&#8220;Oh, itu maksudmu?&#8221;</p>
<p>Ki Abu Hasan masuk ke senthong tempatnya menyepi. Ia mengambil bundhel dan meletakkan di atas meja.</p>
<p>&#8220;Silakan diambil, silakan dibawa!&#8221;
&#8220;Baik, itu perkara mudah, Ki Abu!&#8221;
Sambil mengangkat bundhel yang ada di atas meja tepat di hadapan Ki Abu, Ki Slamet dengan pongahnya berucap, &#8220;Terima kasih, Ki Abu, hahaha&#8230; .&#8221;</p>
<p>Namun, apa yang terjadi. Jeritan histeris terdengar memekakkan telinga. Ki Slamet terlempar jauh. Ia mengerang kesakitan. Dengan langkah gontai dan rasa penasaran serta napasnya yang masih terengah-engah, Ki Slamet berusaha mendekat kembali untuk mengambil. Namun, apa yang terjadi. Kembali pertarungan terjadi antara Ki Slamet dan kekuatan gaib dari bundhel yang sangat dahsyat.</p>
<p>Ki Slamet terlempar ketika berusaha mengambil bundhel.</p>
<p>&#8220;Seett&#8230; sett ciiaattt, aahhh, panaas&#8230;!&#8221; Ki Slamet terlempar jauh. Bahkan, ia sempat menjadi tontonan masyarakat sekitar. Berkali-kali dicoba, ternyata menyentuh pun tidak sanggup, apalagi membawa dan memboyongnya. Setelah beberapa hari Ki Abu Hasan meninggal dunia. Isi dari bundhel sudah tidak lagi lengkap karena stambul dan cincin putih setelah dibuka hilang musnah tanpa bekas. Tidak seorang pun yang mengetahui di mana keberadaannya.</p>
<p>Bagaimana nasib Bundhel Tlatah Maoslor. Siapakah yang menjadi penerus Ki Abu Hasan? Berkat kegigihan untuk melaksanakan berbagai persyaratan sebagai penerus orang tuanya, akhirnya Ki Hadi Rame anak bungsu dari Ki Abu Hasan kesampaian juga untuk merawat bundhel tersebut hingga sekarang. Beliau tinggal di Dusun Palinggihan tepatnya di Jalan Sawo. Hal itu merupakan bukti bahwa pewaris Bundhel Tlatah Maoslor adalah orang yang benar-benar jujur, arif, bijaksana, dan rendah hati.</p>
<p>Sampai sekarang menjadi keyakinan masyarakat Maoslor dan sekitarnya untuk tetap memegang teguh wasiat Mbah Platarklasa dan merawat makamnya dengan baik serta menjadikannya sebagai tempat berziarah bagi masyarakat untuk mendapatkan berkah Allah SWT.</p>
<p style="text-align: right!">Diceritakan oleh: Tri Wahyuni</p>
<p style="text-align: right!">Disadur dari Cerita Rakyat Cilacap Jawa Tengah</p>
<p style="text-align: right!">Diterbitkan oleh Balai Bahasa Jawa Tengah Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured-1200x675.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="675">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[cilacap info featured]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[cilacap info featured]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Asal Usul Dusun Mertangga Jetis Nusawungu Cilacap</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-17036/asal-usul-dusun-mertangga-jetis-nusawungu-cilacap</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Huda]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 24 Aug 2019 06:30:50 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Nusawungu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-17036/asal-usul-dusun-mertangga-jetis-nusawungu-cilacap</guid>

					<description><![CDATA[CILACAP.INFO &#8211; Dusun Mertangga merupakan sebuah wilayah yang terletak di Desa Jetis, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah yang memiliki Destinasi Wisata Pantai dan Mangrove. Namun tak hanya itu, ternyata daerah ini juga memiliki cerita rakyat.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Dusun Mertangga merupakan sebuah wilayah yang terletak di Desa Jetis, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah yang memiliki Destinasi Wisata Pantai dan Mangrove. Namun tak hanya itu, ternyata daerah ini juga memiliki cerita rakyat.</p>
<p>Alkisah, Pada suatu waktu daerah di Jawa diguyur hujan yang sangat lebat. di antar badai dan petir terjadi sebuah peperangan sengit antara penjajah Belanda dan orang-orang pribumi. Pasukan pribumi dipimpin oleh Pangeran Diponegoro.</p>
<p>Puncaknya, pasukan Belanda mengerahkan kekuatan besar sebanyak 23.000 serdadu. Peperangan tersebut dinamakan Perang Diponegoro yang berlangsung sekitar lima tahunan, yakni pada kurun 1825 sampai dengan 1830.</p>
<p>Di tengah perang tersebut ada dua orang prajurit Diponegoro yang pergi melarikan diri dari peperangan. Namun, kepergian mereka diketahui oleh pasukan Belanda. Mereka berdua dikejar-kejar oleh pasukan Belanda.</p>
<p>Dua orang prajurit Diponegoro yang pada akhirnya diketahui namanya Suryonegoro dan Cokronegoro tersebut terus berlari ke arah barat dan berhenti di sebuah daerah untuk bersembunyi. Daerah tersebut bernama Ayah. Beruntunglah kakak beradik itu karena pengejaran prajurit Belanda tidak menemukan keberadaan mereka berdua.</p>
<p>Setelah keadaan dirasa sudah aman, mereka menjadikan daerah Ayah sebagai tempat tinggal mereka. Mereka mulai membangun Ayah sedikit demi sedikit dengan bergotong-royong bersama warga di wilayah Ayah tersebut.</p>
<p>Meskipun warga di wilayah Ayah tidak banyak, tetapi mereka semua giat bekerja. Dengan berjalannya waktu, Ayah menjadi daerah yang maju dan dikenal banyak orang.</p>
<p>Berita itu pun terdengar sampai di Kerajaan Mataram. Melihat keadaan tersebut, Suryonegoro berniat mendirikan Kadipaten Ayah.</p>
<p>Untuk mendirikan sebuah kadipaten tentunya harus mendapatkan restu dari Raja Mataram sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di Tanah Jawa. Oleh karena itu, Suryonegoro pergi ke Mataram untuk menghadap sang Raja, memohon restu hendak mendirikan Kadipaten Ayah.</p>
<p>&#8220;Ampun, Baginda Raja. Maksud kedatangan hamba ke sini adalah ingin memohon restu Paduka. Hamba hendak mendirikan sebuah kadipaten di wilayah Ayah&#8221;, pinta Suryonegoro dengan sembah hormat kepada raja Mataram.</p>
<p>Sang Raja yang memang sudah mengetahui maksud kedatangan Suryonegoro hanya membalas dengan senyuman khas berkharisma. Akhirnya, setelah diam beberapa saat beliau pun menjawab dengan suara yang sangat berwibawa.</p>
<p>&#8220;Baiklah, Suryonegoro. Aku izinian engkau untuk membangun Kadipaten Ayah,&#8221; jawab sang raja.</p>
<p>Kemudian, atas izin yang telah diberikan sang raja, akhirnya Ayah menjadi sebuah kadipaten yang dipimpin oleh Suryonegoro. Setelah menjadi adipati, Suryonegoro selalu menjalankan pemerintahan dengan baik. Setiap tiga puluh enam hari sekali di Kerajaan Mataram diadakan acara pisowanan agung. Suryonegoro pun selalu hadir dalam acara tersebut.</p>
<p>Namun, suatu ketika sudah beberapa kali acara pisowanan Adipati Suryonegoro tidak dapat hadir di Kerajaan Mataram. Entah berapa kali ia hanya mengutus adiknya, yakni Cokronegoro, untuk mewakili dirinya mengikuti acara pisowanan tersebut. Hal tersebut membuat sang raja menjadi sangat khawatir.</p>
<p>Raja bertanya kepada Cokronegoro.
&#8220;Mengapa sudah beberapa kali pisowanan Adipati Ayah tidak hadir di Kerajaan?&#8221; tanya sang raja.</p>
<p>Cokronegoro tidak mengemukakan alasan yang jelas akan ketidakhadiran sang kakak. Jawaban Cokronegoro ini semakin membuat sang raja menjadi khawatir.</p>
<p>&#8220;Sudahlah, pulanglah kau, Cokronegoro. Sampaikan pada kakakmu untuk menghadapku segera!&#8221;, perintah sang raja menyilakan Cokronegoro kembali ke Kadipaten Ayah.</p>
<p>Sesampainya di kadipaten, Cokronegoro menyampaikan pesan sang raja kepada Adipati Suryonegoro. Namun, sang adipati menjawab di luar dugaan Cokronegoro.</p>
<p>&#8220;Adi Cokronegoro, sampaikan saja kepada raja aku tidak akan pernah datang lagi ke Kerajaan&#8221;, ketusnya.</p>
<p>Cokronegoro terkesiap mendengar jawaban sang kakak. Ia menjadi sangat gundah dan resah, mengapa tiba-tiba sang kakak tidak mau lagi datang ke Kerajaan. Padahal ia sangat tahu kakaknya adalah sosok adipati yang sangat rajin, patuh, dan bertanggung jawab terhadap jabatan yang dipangkunya itu.</p>
<p>&#8220;Baik, Kakang Suryonegoro. Esok aku akan pergi lagi menghadap sang raja dan menyampaikan pesan kakang ini,&#8221; jawab Cokronegoro masih terliputi rasa gusar, tetapi tidak berani menanyakan alasannya apa.</p>
<p>Keesokan harinya, Cokronegoro berangkat ke Kerajaan dengan menunggangi kuda kesayangannya dan dikawal oleh beberapa prajurit pilihan. Sesampainya di Kerajaan Mataram ia diperkenankan menghadap sang raja.</p>
<p>&#8220;Ampun, Baginda raja. Hamba sudah menyampaikan pesan baginda kepada kakak hamba, Adipati Ayah, Kakang Suryonegoro&#8221;, lapor Cokronegoro sembari memberi salam takzim kepada sang raja.</p>
<p>&#8220;Lalu, mengapa ia tidak memenuhi perintahku, wahai Cokronegoro?&#8221; tanya sang raja dengan mengernyitkan dahinya.</p>
<p>&#8220;Ampun, Baginda. Kakak hamba tidak dapat hadir ke kerajaan. Beliau hanya menitipkan pesan bahwa beliau tidak akan pernah datang lagi ke Kerajaan,&#8221; jawab Cokronegoro dengan sedikit rasa takut dan gusar yang teramat sangat.</p>
<p>&#8220;Benarkah Suryonegoro berkata demikian?&#8221;, tanya sang raja mulai terlihat marah. Ia bangkit dari singgasananya.</p>
<p>Dengan suara bergetar, sang raja berkata dengan lantang, &#8220;Beraninya Suryonegoro melawan perintahku. Kalau begitu, pulangkah kau Cokronegoro. Sampaikan kepada kakakmu yang sombong itu, Aku memerintahnya datang ke sini dengan membawa sekotak wayang kulit. Kalau ia masih bersikukuh tidak mau hadir ke sini, ia akan aku berhentikan sebagai Adipati Ayah,&#8221; kata sang raja penuh amarah dengan menggeram.</p>
<p>Singkat cerita, Cokronegoro kembali ke Kadipaten Ayah dan menceritakan kejadian tersebut pada sang kakak. Ia pun menyampaikan amanat sang raja yang memerintahkan Suryonegoro menghadap membawa sekotak wayang kulit.</p>
<p>Cokronegoro masih bingung, untuk apa raja memerintahkan kakanya membawa sekotak wayang kulit. Apa hubungannya dengan pemanggilan kakaknya itu? Seribu tanya berkecamuk di dada dan kepala Cokronegoro.</p>
<p>Adipati Suryonegoro bergeming. Ia tidak melaksanakan perintah raja tersebut. Ia masih saja mengutus adiknya untuk datang ke Kerajaan dan mengantarkan sekotak wayang kulit yang diminta sang raja. Cokronegoro semakin bingung dengan sikap sang kakak.</p>
<p>Namun, didorong rasa hormat dan patuh terhadap sang kakak, Cokronegoro berangkat lagi ke Kerajaan Mataram dengan membawa sekotak wayang kulit permintaan sang raja.</p>
<p>&#8220;Apa? Ia masih tidak mau menghadapku? beraninya ia!&#8221; kata sang raja penuh amarah.</p>
<p>Sang raja lalu membuka kotak wayang kulit pesanannya. Setelah dibuka, sang raja terkejut karena ternyata isi kotak wayang tersebut hanyalah bahan pembuat wayang kulit, yakni welulang atau kulit sapi. Sang raja menjadi marah besar karena belia merasa Adipati Suryonegoro melecehkan perintahnya.</p>
<p>&#8220;Apa ini? Ini bukan wayang kulit pesananku. Mengapa hanya welulangnya saja. Beraninya kau Suryonegoro. Engkau telah berani melecehkan Raja Mataram! Sekarang juga engkau aku berhentikan sebagai Adipati Ayah&#8221; geram sang raja sembari mengayunkan welulang di tiang balairung Kerajaan Mataram.</p>
<p>Hadirin yang ada di tempat itu menghindar ketakutan melihat kemarahan sang raja. Setelah beberapa kali welulang disabetkan ke tiang, seketika itu welulang tersebut menjelma wayang kulit. Melihat keajaiban tersebut seisi Kerajaan terkejut.</p>
<p>&#8220;Apa yang terjadi? Mengapa semua berubah? Apa sebenarnya maumu, Suryonegoro?&#8221; teriak sang raja.</p>
<p>&#8220;Cokronegoro, pulanglah kau dan sampaikan pesanku pada kakakmu, Suryonegoro. Ia sudah aku perintahkan berhenti menjadi Adipati Ayah. Ia harus angkat kaki dari Kadipaten Ayah!,&#8221; kata Sang Raja pada Cokronegoro.</p>
<p>&#8220;Baik, Paduka!&#8221; sembah Cokronegoro sembari meninggalkan Kerajaan Mataram.</p>
<p>Singkat cerita, Suryonegoro pergi meninggalkan Kadipaten Ayah. Ia pergi ke arah barat ke seberang sungai. Ia menyembunyikan diri di daerah tetangga dan ingin menetap di daerah itu. Pada saat itu, daerah tersebut masih berupa hutan belantara di pesisir sungai. Tidak ada penduduk, hanya ada binatang-binatang hutan dan sungai yang menemani Suryonegoro.</p>
<p>Ada monyet, burung, harimau, ikan, dan katak. Mereka semua seakan bersahabat dengan Suryonegoro. Setelah beberapa hari tinggal di hutan Suryonegoro berniat untuk membuka hutan menjadi sebuah tempat tinggal. untuk mengawalinya ia menanam pohon asem sebagai tanda atau lambang dari lingsem, yang artinya ‘malu’.</p>
<p>Suryonegoro mulai membangun daerah itu menjadi sebuah tempat tinggal dan diketahui banyak orang di berbagai tempat. Lama-kelamaan daerah itu menjadi banyak penghuninya. Karena dianggap pandai oleh masyarakat setempat, Suryonegoro diangkat menjadi pimpinan daerah dan menamakan daerahnya itu dengan nama Mertangga yang artinya &#8216;tinggal di daerah tetangga&#8217;.</p>
<p>Berkat jasa Suryonegoro daerah tersebut menjadi ramai dan semakin maju. Letaknya strategis di pinggir sungai sehingga memudahkan transportasi rakyat. Selain itu, rakyat juga memanfaatkan sungai sebagai tempat mencaari nafk ah.</p>
<p>Masyarakat makin luas dan berkembang. Akhirnya, mereka menamakan daerahnya dengan nama Desa Jetis yang berasal dari kata mathis yang artinya ‘mathuk atau strategis’. Namun, di tengah pesatnya desa, Suryonegoro men inggal dunia dan dimakamkan di Desa Jetis, tepatnya di pinggir sungai. Hingga saat ini makam beliau masih dapat dilihat di daerah Jetis.</p>
<p><H2>Suryonegoro membuka hutan untuk membuat tempat tinggal.</H2></p>
<p>Untuk mengenang jasa-jasa beliau, masyarakat setempat mengadakan suatu kegiatan yang dinamakan sedekah bumi yang dilaksanakan di depan makam Suryonegoro setiap satu tahun sekali. Lebih tepatnya setiap selesai panen raya masyarakat Desa Jetis mengadakan sedekah bumi dengan menyembelih seekor kerbau.</p>
<p>Kemudian, pada malam harinya masyarakat mengadakan pertunjukan seni budaya daerah yang disebut lengger. Konon, pertunjukan tersebut harus lengger tidak boleh jenis seni yang lain. Acara ini dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat terhadap hasil bumi yang telah memberi kehidupan untuk mereka. Mereka mendapat sandang, pangan, dan papan.</p>
<p>Copyright: Cerita Rakyat Cilacap, Jawa Tengah. | Penerbit: Balai Bahasa Jawa Tengah | Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/Pantai-Jetis-Nusawungu-Cilacap-1200x675.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="675">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[Pantai Jetis Nusawungu Cilacap]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/Pantai-Jetis-Nusawungu-Cilacap-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[Pantai Jetis Nusawungu Cilacap]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Kisah Pulau Nusakambangan Cilacap</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-16958/kisah-pulau-nusakambangan-cilacap</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Huda]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 Aug 2019 17:13:23 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Cerita Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Nusakambangan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-16958/kisah-pulau-nusakambangan-cilacap</guid>

					<description><![CDATA[CILACAP.INFO &#8211; Pada zaman dahulu ada seorang raja sakti dari Jawa Timur yang bergelar Prabu Aji Pramosa. Ia memiliki watak keras kepala dan tidak mau tunduk kepada siapa pun. Apalagi kepada para hambanya, kepada raja-raja negara lain pun ia tidak mau mengalah. Pada waktu itu, di wilayah Kerajaan Prabu Aji Pramosa di Kediri tinggal seorang resi yang mahasakti, bernama Resi Kano atau Kiai Jamur.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Pada zaman dahulu ada seorang raja sakti dari Jawa Timur yang bergelar Prabu Aji Pramosa. Ia memiliki watak keras kepala dan tidak mau tunduk kepada siapa pun. Apalagi kepada para hambanya, kepada raja-raja negara lain pun ia tidak mau mengalah. Pada waktu itu, di wilayah Kerajaan Prabu Aji Pramosa di Kediri tinggal seorang resi yang mahasakti, bernama Resi Kano atau Kiai Jamur.</p>
<p>Prabu Aji Pramosa sudah mengetahui keberadaan Resi itu. Ia merasa sakit hati karena ada yang menandingi kesaktiannya. Ia menganggap resi itu sebagai musuh. Ia khawatir kalau resi itu justru akan mengancam kekuasaannya. Oleh karena itu, ia segera mengadakan rapat di istana untuk mencari jalan menenteramkan hatinya dengan dalih menyelamatkan Kerajaan. Pada rapat itu diputuskan bahwa Resi Kano harus diusir dari wilayah Kerajaan atau dibunuh.</p>
<p>&#8220;Para Penggawa, kalian tahu bahwa saat ini negeri kita terancam bahaya?&#8221; tanya Prabu Aji Pramosa.</p>
<p>&#8220;Ampun, Prabu. Hamba belum tahu, bahaya apa yang mengancam negeri kita?&#8221; sela salah seorang penggawa sambil mukanya men ampakkan kebingungan.</p>
<p>&#8220;Ya, ya, aku memaklumi jika kalian tidak menyadarinya. Sumber bahaya ini memang tidak tampak, tetapi pengaruhnya akan membahayakan. Ia adalah Resi Kano,&#8221; kata Prabu Aji Pramosa.
&#8220;Resi Kano?&#8221; ucap beberapa penggawa seakan tidak percaya.
&#8220;Ya, Resi Kano. Kelihatannya ia baik, tetapi tingkah laku dan pikirannya akan menggerogoti negeri kita. Oleh karena itu, ia harus diusir dari negeri kita. Jika perlu harus dibunuh,&#8221; seru Prabu Aji Pramosa.</p>
<p>Antara percaya dan tidak, para penggawa itu akhirnya sepakat untuk mengusir Resi Kano. Saat itu juga mereka menyusun cara ba gaimana melenyapkan Resi Kano dari negerinya. Sementara itu, Prabu Aji Pramosa tersenyum puas karena para penggawanya telah ter makan hasutannya. Ia senang karena keinginannya akan terwujud.</p>
<p>Berita tentang rencana pengusiran ataupun pembunuhan itu telah terdengar oleh sang Resi. Ia berketetapan hati untuk pergi meloloskan diri meninggalkan Kerajaan. Ia merasa dendam dan benci atas keserakahan dan kezaliman sang Raja. Kepergian Resi Kano tersebut segera juga diketahui oleh Prabu Aji Pramosa. Hal itu membuat Prabu Aji Pramosa semakin murka dan merasa tidak puas jika sang Resi belum mati. Untuk itu, sang Prabu memerintah para penggawanya untuk mengejar dan menangkapnya hidup-hidup. Resi itu dipersalahkan karena meninggalkan Kerajaan tanpa seizin raja.</p>
<p>Alkisah, sang Resi meninggalkan Kerajaan Kediri dengan perasaan sedih, benci, dan dendam kepada Prabu Aji Pramosa. Ia mengembara ke arah pantai selatan Pulau Jawa. Dengan menembus semak belukar, naik-turun gunung, dan tanpa mengenal lelah, akhirnya Resi Kano sampai di pantai selatan Pulau Jawa. Ia terus menyusuri pantai ke arah barat. Sampai di dekat Cilacap, Resi Kano memilih tempat yang sunyi dan sulit dijangkau manusia. Resi Kano kemudian bertapa di tempat itu. Ia mohon keadilan kepada Tuhan atas nasib yang dialaminya.</p>
<p>Berkat kegigihan dan usaha yang tiada henti, Prabu Aji Pramosa dan para Pungawa Kediri akhirnya berhasil menemukan tempat persembunyian sang Resi. Prabu Aji Pramosa segera menghunjamkan senjatanya ke tubuh sang Resi yang sedang bertapa. Namun, peristiwa yang luar biasa terjadi. Seketika itu raga Resi Kano lenyap. Seketika Nusakambangan itu pula terdengar suara gemuruh dan angin ribut yang membuat seluruh bulu kuduk Prabu Aji Pramosa dan para penggawanya berdiri. Namun, Prabu Aji Pamosa dapat mengatasi keadaan tersebut berkat mantra yang dimilikinya.</p>
<p>Setelah keadaan menjadi tenang kembali, muncullah seekor naga raksasa mendesis-desis seakan hendak menelan sang Prabu. Ked ahsyatan gerakan naga itu mengakibatkan ombak laut selatan semakin besar. Hal itu membuat penghuni lautan yang berupa penyu dan kura-kura bermunculan dan terdampar di sekitar Teluk Cilacap. Oleh karena itu, teluk tersebut kemudian disebut dengan nama Teluk Penyu.</p>
<p>Prabu Aji Pramosa keheranan melihat kejadian itu. Ia cepat mencari akal. Ia melepas anak panahnya dan tepat mengenai perut naga raksasa. Seketika itu pula matilah naga raksasa itu dan hanyut ditelan ombak laut selatan.</p>
<p>Sesaat kemudian, muncullah seorang putri cantik dari arah timur. Putri itu berlari-lari sambil memanggil-manggil Prabu Aji Pramosa, &#8220;Prabu Aji Pramosa, ketahuilah, aku ini adalah Dewi Wasowati. Aku berada di tempat ini karena dikutuk oleh yang Mahakuasa. Berkat jasamu aku telah kembali menjadi manusia. Sebagai balas budiku, akan aku persemBahkan kepada Paduka sebuah cangkok kembang Wijayakusuma. Cangkok kembang Wijayakusuma ini tidak mungkin Paduka temukan di alam biasa. Barang diapa memiliki cangkok ini, ia akan menurunkan raja-raja yang berkuasa di tanah Jawa. Sang Prabu, terimalah persembahanku ini.&#8221;</p>
<p>Demi mendengar ucapan putri itu, gembiralah hati sang Prabu. Hatinya berdebar-debar karena riangnya. Dengan aji mantranya, Prabu Aji Pramosa mengerahkan segala kemampuan dan kekuatannya untuk mengarungi samudra yang besar gelombangnya itu. Ia ingin segera dapat menemui Dewi Wasowati untuk menerima cangkok kembang Wijayakusuma.</p>
<p>Sewaktu menyerahkan kembang Wijayakusuma, Dewi Wasowati berpesan kepada sang Prabu, &#8220;Prabu Pramosa, engkau menjadi saksi, ketahuilah bahwa pegunungan dan karang ini terpisah dari Pulau Jawa. Karang ini akan kuberi nama nusa yang berarti pulau. Karena di pulau ini aku telah menyerahkan kembang Wijayakusuma, aku tamBahkan nama itu dengan kembangan. Suatu waktu nanti kuharap pulau ini akan disebut orang dengan nama Nusa Kembangan.&#8221;</p>
<p>Setelah cangkok kembang Wijayakusuma diserahkan kepada Prabu Aji Pramosa, seketika itu juga lenyaplah Dewi Wasowati. Prabu Aji Pramosa segera melompat ke atas karang yang terhampar di sana dan segera mengayuh dayung kembali ke pantai. Karena gugup dan kurang berhati-hati, cangkok Wijayakusuma yang digenggamnya terlepas dan hanyut ditelan ombak. Ia tidak menyadari bahwa cangkok yang digengamnya telah hilang. Ia baru menyadari setelah sampai di pantai. Ia sangat terkejut dan murung karena ia tidak beruntung membawa cangkok Wijayakusuma. Akhirnya. dengan tangan hampa ia pulang ke Kediri.</p>
<p>Tidak lama berselang, terbetik berita bahwa di atas karang Pulau Nusakambangan tumbuh sebatang pohon yang aneh dan ajaib. Prabu Aji Pramosa penasaran mendengar berita tersebut. Ia ingin mengetahui dari dekat kebenaran berita itu. Oleh karena itu, ia segera
Nusakambangan menuju Nusakambangan. Betapa terkejutnya beliau, ternyata pohon ajaib itu tiada lain adalah kembang Wijayakusuma yang pernah ia terima dari Dewi Wasowati. Daun pohon itu tampak berkilauan tertimpa sinar matahari serta halus bagaikan kain beludru. Selain itu, bunganya tampak gemerlapan.</p>
<p>Prabu Aji Pramosa tertegun melihat keajaiban kembang Wijayakusuma itu. Ia merasa menyesal karena teringat kata-kata Dewi Wasowati bahwa siapa yang mempunyai bunga Wijayakusuma tersebut akan menurunkan raja-raja Jawa. Namun, apa hendak dikata, nasi telah menjadi bubur, ia sadar bahwa semua itu telah ditakdirkan oleh penguasa dunia. Akhirnya, sang Prabu pulang kembali ke istana diikuti oleh para pengikutnya.</p>
<p style="text-align: right!;">Diceritakan oleh: Suryo Handono</p>
<p style="text-align: right!;">Disadur dari Cerita Rakyat Cilacap Jawa Tengah</p>
<p style="text-align: right!;">Diterbitkan oleh Balai Bahasa Jawa Tengah Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured-1200x675.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="675">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[cilacap info featured]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[cilacap info featured]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Bikin Merinding, Desa Sepatnunggal Majenang konon Dijaga Lelembut</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-15360/bikin-merinding-desa-sepatnunggal-majenang-konon-dijaga-lelembut</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Hasan Bahtiar]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Jun 2019 13:38:55 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Cerita Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Majenang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-15360/bikin-merinding-desa-sepatnunggal-majenang-konon-dijaga-lelembut</guid>

					<description><![CDATA[CILACAP.INFO &#8211; Istana Candi Kuning, Gunung Padang adalah tempat tinggal Ki Adeg Ciluhur, Adipati Majenang sekaligus putra mahkota Kerajaan Dayeuhluhur yang dipimpin oleh Prabu Gagak Ngampar. Prabu Gagak Ngampar merupakan saudara Prabu Niskala Wastu Kencana, Raja Galuh Wiwitan, yang wilayahnya membentang dari Sungai Pamanukan di barat hingga Gunung Ungaran di sebelah timur.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Istana Candi Kuning, Gunung Padang adalah tempat tinggal Ki Adeg Ciluhur, Adipati Majenang sekaligus putra mahkota Kerajaan Dayeuhluhur yang dipimpin oleh Prabu Gagak Ngampar. Prabu Gagak Ngampar merupakan saudara Prabu Niskala Wastu Kencana, Raja Galuh Wiwitan, yang wilayahnya membentang dari Sungai Pamanukan di barat hingga Gunung Ungaran di sebelah timur.</p>
<p>Dengan mata nanar berkilat perlambang semangat yang berkobar, seorang pemuda berseru, &#8220;Aku Panembahan Dalem Reksapati! Akan kupimpin prajuritku meluaskan wilayah atas perintah Panembahan Senapati! Ini untuk kejayaan Kerajaan Mataram di masa yang akan datang!&#8221;</p>
<p>Secepat kilat pemuda itu menghilang di bawah langit kelam Kadipaten Majenang. Langkah kaki membawanya ke arah matahari terbit, menembus hutan dalam kegelapan, menyibak semak dan pepohonan. Panembahan Dalem Reksapati menuju Leuweung Wates, hutan rimba di tengah Pegunungan Pembarisan yang belum pernah terjamah tangan manusia. Semburat warna jingga menyala sei ring kicauan burung nan memesona berpadu dengan gemericik air sea kan berirama.</p>
<p>Sayup-sayup terdengar senandung merdu suara seorang wanita. Tergerak hati Reksapati mencoba mendekati asal suara. Menyibak semak alang-alang. Terperanjat Reksapati ketika matanya melihat wajah rupawan nan menawan. Si gadis pun tidak kalah terkejutya melihat sosok pemuda muncul secara tiba-tiba di hadapannya.
&#8220;Duhai putri nan cantik jelita, engkaukah bidadari yang turun dari kayangan?&#8221; sapa Reksapati.
&#8220;Siapa Ki Sanak?&#8221;, tanya di gadis jelita itu.</p>
<p>Si gadis mundur teratur karena merasa tidak mengenal pemuda di hadapannya itu. Sejurus kemudian di gadis berlari lintang-pukang menyusuri tepian sungai. Sementara itu, Reksapati yang rupanya terlanjur jatuh hati diam-diam mengikuti arah laju di gadis.</p>
<p>Gadis yang bernama Ratna Kencana itu masuk ke dalam sebuah gubuk kecil di tepi hutan. Seorang wanita tua menyambutnya dengan pelukan dan usapan lembut di rambut sang putri yang dicintainya. Reksapati masih mengintai dibalik semak-semak. Kemudian, ia mencoba mendekati gubuk agar dapat melihat dengan jelas apa yang ada di dalamnya. Tampak seorang lelaki tua dengan mata terpejam duduk terlentang di dipan bambu panjang. Jemarinya memegang ce rutu hitam. Asap putih mengepul dari mulutnya membentuk bulatan-bulatan yang berputar-putar membumbung menyebar lalu menghilang. Tiba-tiba Reksapati dikejutkan oleh suara dan rasa sakit. Ia mengaduh, sebutir kerikil mengenai kepalanya.</p>
<p>&#8220;Hai, Anak Muda. Mengapa kau mengintip dari situ. Ayo, keluar! Jangan jadi pengecut!&#8221; bentak lelaki tua tersebut. Rupanya lelaki tua di dalam gubuk kecil itu bukanlah orang biasa. Ia tidak hanya me nyadari kedatangan seorang pemuda di gubuknya, tetap juga telah membuat Reksapati tidak dapat berlama-lama bersembunyi. Reksapati pun akhirnya ke luar dari tempat persembunyiannya. Ia berjalan mendekati lelaki tua sambil mengusap-usap kepalanya.</p>
<p>&#8220;Maaf, Pak Tua. Saya Reksapati. Saya membuntuti putri Anda yang cantik jelita. Sepertinya saya telah jatuh hati kepada putri Bapak. Saya ingin sekali mempersunting putri Bapak,&#8221; terang Reksapati kemudian.
&#8220;Enak saja engkau menyebutku Pak Tua, Anak Muda!&#8221; lelaki itu membuka mata, beranjak dari dipannya, menatap tajam mata Reksapati. Reksapati bergeming, balas menatap tajam sang lelaki tua. Menyelami tatapan tajam Reksapati, lelaki tua itu melihat kilatan api, pertanda bahwa Reksapati bukanlah manusia biasa, melainkan pemuda dengan kesaktian luar biasa. Dengan berat hati lelaki tua itu berkata.</p>
<p>&#8220;Aku Wangsakarta, Mata air Padontilu dan Leuweung Wates ini dalam penjagaanku. Ini adalah Dusun Larangan. Hanya aku, istriku, dan putriku yang menempati dusun ini. Tidak seorang pun berani memasuki dusun ini kecuali kami. Termasuk kau, Reksapati!&#8221; sentaknya tegas.</p>
<p>&#8220;Sebelum terjadi apa-apa denganmu, pergilah! Keluarlah dari Du sun Larangan ini!&#8221; tambahnya lagi.</p>
<p>&#8220;Tidak semudah itu, Ki Wangsakarta! Istana Candi Kuning Gunung Padang di Kadipaten Majenang telah luluh lantak. Aku yang menghancurkannya! Kalau hanya menguasai sebuah dusun, apa susahnya? Begitu juga untuk mempersunting putri cantikmu. Dengan kesaktian yang aku miliki, aku dapat melakukan apa pun yang aku mau!&#8221; timpal Reksapati dengan pongahnya. Ki Wangsakarta terdiam sejenak. Sejurus kemudia, ia memanggil putrinya, Ratna Kencana.</p>
<p>&#8220;Wahai, Anakku, Ratna Kencana, kemarilah cah ayu!&#8221; kata Ki Wangsakarta.
&#8220;Katakanlah kepada Ayah, bagaimana pendapatmu tentang pemuda ini?&#8221; lanjutnya.</p>
<p>Setelah terdiam beberapa saat, Ratna Kencana menjawab pertanyaan ayahandanya, &#8220;Ayahanda yang bijaksana. Aku kagum dengan keberaniannya. Tidak ada salahnya ayah menguji kesaktiannya. Untuk mengetahui apakah ia dapat menjaga aku, ayah, dan ibu. Atau mungkin ia dapat memberikan sesuatu untuk Dusun Larangan, Mata Air Padontilu dan Leuweung Wates. Ratna Kencana serahkan keputusan pada Ayahanda,&#8221; jawab Ratna Kencana.</p>
<p>&#8220;Baiklah, Reksapati. Akan kuizinian kau menikahi putriku dengan dua syarat. Pertama kau harus membuka hutan ini menjadi perkampungan sehingga dusun ini tidak lagi menjadi Dusun Larangan!&#8221; kata Ki Wangsakarta lagi.</p>
<p>&#8220;Kedua, apa pun permintaan Ratna Kencana padamu harus kauturuti meskipun berat kaulakukan. Jika melanggarnya, apa pun yang kau miliki termasuk kesaktianmu harus kau berikan kepadaku. Sanggupkah kau menerima tantanganku?&#8221; seru Ki Wangsakarta lagi.</p>
<p>&#8220;Itu bukanlah hal yang sulit bagiku, Ki! Aku yakin sanggup melaksanakan titah Aki!&#8221; jawab Reksapati mantap.</p>
<p>Suara petir menggelegar seiring dengan sumpah yang diucapkan Panembahan Dalem Reksapati. Ia mulai melaksanakan tugas pertamanya. Karena memiliki kesaktian yang luar biasa, ia berhasil mengubah hutan belantara menjadi sebuah kampung yang diberi nama Babakan yang bermakna ‘tahap-tahap’. Semakin lama, semakin banyak orang berdatangan untuk menetap di perkampungan tersebut. Seiring berjalannya waktu, daerah tersebut menjadi luas dengan para penduduk yang banyak. Panembahan Dalem Reksapati pun menikah dengan Ratna Kencana. Bahkan, Ratna Kencana tidak lama kemudian mengandung putra mereka yang pertama. Sangat besar kasih sayang Reksapati kepada istrinya. Apa pun yang diminta pasti akan diturutinya.</p>
<p>Panembahan Dalem Reksapati berhasil membuka sebuah hutan menjadi perkampungan yang diberi nama Babakan
sebagai syarat untuk mempersunting putri Wangsa Karta penguasa Desa Larangan.
Suatu hari, Ratna Kencana bermimpi. Dalam mimpinya ia mendengar suara gaib yang terus terngiang-ngiang dalam benaknya.</p>
<p>&#8220;Ratna Kencana, engkau, ayahmu, ibumu, dan jabang bayi dalam kandunganmu ada dalam kuasaku. Untuk keselamatan kalian, mintal ah pada suamimu untuk menangkap seekor ikan di Sungai Cibeng keng. Bakarlah ikan itu untuk dia makan. Dan, kamu harus menyaksikan suamimu memakan daging ikan itu hingga bersisa kepala dan duri saja!&#8221; Begitu terbangun, dengan wajah kebingungan Ratna memanggil suaminya.</p>
<p>&#8220;Kakanda, Kakanda, Kakanda, di mana engkau? Kakanda, di mana engkau? Kakanda, di mana engkau?&#8221; Berulang kali memanggil, tidak ada sahutan. Ratna ke luar dari pondoknya, memandang sekeliling berharap menemukan suaminya segera. Sadar suaminya tidak ada di sana, ia berjalan menyusuri perkampungan. Tidak sia-sia usahanya, ia pun menemukan suaminya sedang menebang kayu di pinggir hutan. Dengan senyum mengembang, ia hampiri Reksapati.</p>
<p>Mendengar suara langkah kaki, Reksapati berhenti dari pekerjaannya. Ia terkejut mendapati Ratna berdiri di hadapannya. Tangan kanannya menggenggam sebuah pancing yang pada mata kailnya telah tertancap seekor cacing yang sedang menggeliat, sedangkan tangan kirinya tidak berhenti mengelus perutnya.
&#8220;Adinda, Ratna, adakah sesuatu yang penting hingga kau mencariku sampai ke sini?&#8221; ujarnya heran.</p>
<p>&#8220;Ya, Kanda! Tangkaplah seekor ikan di Sungai Cibengkeng. Aku akan menemanimu, Kanda. Akan aku bakar ikan itu untuk kaumakan. Sisakan kepala dan durinya untukku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi, sejak tinggal di sini tidak pernah aku mendapati seekor ikan pun.&#8221;
&#8220;Ini keinginan di jabang bayi, Kanda!&#8221; Ratna merajuk sambil mengelus perutnya.
&#8220;Dan, ingatlah sumpah Kanda yang kedua pada ayahanda!&#8221; Ratna menambahkan.</p>
<p>Reksapati menyerah ketika diingatkan dengan sumpah. Ia pun menggandeng Ratna menuju tepi Sungai Cibengkeng. Mata kail ia lempar ke tengah sungai. Namun, tidak ada tanda-tanda seekor ikan pun menyambarnya. Berjam-jam mereka menanti. Karena kelelahan, Ratna Kencana tertidur di atas batu di samping suaminya. Hampir menyerah, Reksapati menggunakan kesaktiannya untuk menerawang apakah ada ikan.</p>
<p>&#8220;Kena, kau!&#8221; seru Reksapati kegirangan.
Dari kejauhan ibunda Ratna Kencana yang hendak turun ke sungai untuk mencuci baju terkejut mendapati Reksapati didampingi Ratna Kencana tengah memegangi pancing yang ada ikan berukuran besar. Wajah sang Ibu berubah menjadi pucat pasi. Ia menjatuhkan bakul berisi baju kotor yang hendak dicuci. Dalam suasana yang masih terang benderang, ia dikejutkan oleh suara petir yang menggelegar. Matanya berkaca-kaca, bibirnya bergetar bergumam.</p>
<p>&#8220;Duh, Gusti, lindungilah desa ini!&#8221; gumamnya dalam isak.
Tergopoh-gopoh sang Ibu pulang ke gubuknya. Ia berlari menghambur ke suaminya yang masih tertidur di dipan panjang. Suara gaduh dari langkah Nyi Wangsakarta membangunkan suaminya.
&#8220;Aki&#8230; Aki! Gawat, Kii&#8230; ikan&#8230; ikan&#8230; ikann&#8230;!&#8221;
&#8220;Ada apa, Nyi? Ada apa dengan ikan?&#8221; tanya Ki Wangsakarta kebingungan.</p>
<p>&#8220;Ikan di Sungai Cibengkeng, Ki. Ratna Kencana dan Reksapati mem ancing ikan itu. Entah apa yang akan mereka lakukan pada ikan itu, Aki&#8230;!&#8221; Wajah Nyi Wangsakarta tampak sangat gusar dan cemas.</p>
<p>Ki Wangsakarta terperanjat. Ia meloncat kuat dari dipan panjang kesayangannya. Ia berlari secepat kilat mencari putri semata wayangnya dan menantunya. Setibanya di tepi Sungai Cibengkeng ia terhenyak melihat putri dan menantunya duduk di atas batu besar dan menyantap ikan sepat berukuran besar yang telah dibakar di hadapan mereka. Melihat kedatangan Ki Wangsakarta, Ratna Kencana berteriak.</p>
<p>&#8220;Ayah, Ayah, Ayah! Kata Ayah tidak ada ikan di sungai ini. Lihat Ayah! Kanda Reksapati dapat menangkap ikan yang berukuran besar. Ikan sepat yang lincah, Ayah. Kami telah memakanya. Sayang, Ayah datang terlambat. Jadi, tidak dapat mencicipi ikan yang lezat ini, Ayah,&#8221; cerocos Ratna Kencana pada sang ayah yang masih tercenung melihat kejadian di hadapannya tersebut.</p>
<p>Ki Wangsakarta tidak menghiraukan perkataan Ratna Kencana. Ia berjalan pelan menghampiri Reksapati yang masih menikmati sisa-sisa ikan sepat bakar tersebut. Melihat ikan sepat yang hanya tinggal kepala dan durinya saja, Ki Wangsakarta terduduk lemas. Air matanya meleleh. Dengan suara parau dan bibir bergetar ia berujar.</p>
<p>&#8220;Anakku, Panembahan Dalem Reksapati. Ketahuilah bahwa ikan sepat itu adalah satu-satunya ikan yang menghuni Sungai Cibengkeng. Sungguh sangat terlarang bagi siapa pun menangkap, memindahkan, atau membunuh dan menyantapnya.</p>
<p>Ketahuilah bahwa kehidupan ikan sepat itu berarti kelangsungan hidup di Desa Babakan, Leuweung Wates dan Mata Air Padontilu. Kehidupan ikan berarti masa depan perkampungan. Kematian ikan berarti musibah dan bencana bagi perkampungan,&#8221; jelas Ki Wangsakarta tertunduk lesu.</p>
<p>Nyi Wangsakarta datang tergopoh-gopoh bersama puluhan warga Desa Babakan. Mendengar perkataan Ki Wangsakarta kepada Pa nembahan Dalem Reksapati membuat mereka semua menjadi keta kutan. Reksapati pun merasa sangat bingung dan merasa bersalah de ngan apa yang baru saja dilakukannya.</p>
<p>&#8220;Maaf, Ayahanda. Saya hanya menjalankan sumpahku yang kedua. Ratna Kencana memintaku untuk menangkap ikan di sungai ini dan menyantapnya. Saya benar-benar tidak tahu tentang ini semua. Maafk an saya, Ayah!&#8221; terang Reksapati gugup. Semua orang yang ada di tempat itu seketika diam seribu bahasa. Mereka terdiam mematung tidak mengerti harus berbuat apa. Mereka tenggelam dalam pi kirannya masing-masing. Suasana begitu mencekam dan hening. Dalam keheningan itu, tiba-tiba terdengar suara gaib menggema di sekeliling tempat mereka berdiri.</p>
<p>&#8220;Terkutuklah Ratna Kencana dan kalian semua! Bencana akan datang melanda! Terkutuklah Ratna Kencana dan kalian semua! Bencana akan datang melanda! Terkutuklah Ratna Kencana dan kalian semua! Bencana akan datang melanda!&#8221; suara itu berulangulang dan menggema membuat semua warga Desa Babakan diliputi ketakutan yang teramat sangat. Mereka panik dan resah. Apa sebenarnya yang telah terjadi. Ratna Kencana terperanjat, ia menangis sesenggukan. Menyesali permintaannya pada sang suami yang diturutinya dari mimpi.</p>
<p>&#8220;Kasihan warga desa ini. Mereka tidak tahu apa-apa tetapi harus menanggung bencana akibat kesalahanku&#8230; Andai saja waktu dapat diulang, mungkin dusun ini tetap menjadi Dusun Larangan. Tidak ada Desa Babakan. Tangis Nyi Wangsakarta pecah di tengah ke heningan.
Tiba-tiba kilat menyambar, petir menggelegar, terpaan angin yang kian kencang menimbulkan derak dahan pohon dan daun-daun bergesekan menambah suasana mencekam. Mega hitam menyelimuti langit di atas Leuweung Wates bagaikan memasuki masa kelam dan gelap.
&#8220;Apa yang dapat aku laukan, Ayahanda?&#8221; tanya Reksapati kemudian. Ia merasa harus melakukan sesuatu dengan kesaktiannya.</p>
<p>&#8220;Pengorbanan! Ada yang harus berkorban&#8230;!&#8221;
&#8220;Bukan! Bukan! Bukan! Ada yang harus dikorbankan! Kami yang akan berkorban. Jika kau sanggup membuat ikan yang kau makan hidup kembali, itulah masa depan perkampungan!&#8221;
Ki Wangsakarta menarik tangan istri dan putrinya. Berlari menjauh masuk ke hutan, lalu menghilang dalam kegelapan. Panembahan Dalem Reksapati mengerti, ia harus menghidupkan ikan sepat itu lagi. Ia berlutut di atas batu, mengerahkan kesaktiannya, men engadahkan tangan memohon perlindungan yang Maha Kuasa. Awan hitam berganti terang, angin berhenti bertiup kencang dan berubah menjadi sepoi-sepoi. Seketika, ikan sepat yang sudah ting gal kepala dan durinya saja dengan ajaib hidup lalu meloncat ke dalam Sungai Cibengkeng. Dan, ikan tersebut merupakan satusatunya (tunggal) yang dapat hidup setelah dimakan. Seiring dengan berjalannya waktu, daerah tersebut menjadi luas dengan penduduk yang banyak. Atas jasa Panembahan Dalem Reksapati, daerah yang dahulunya bernama Babakan diganti nama menjadi Sepatnunggal, berdasar pada kejadian luar biasa, yaitu ikan sepat satu-satunya yang ajaib.</p>
<p>Kini Sepatnunggal yang merupakan nama salah satu desa di Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, dikenal sebagai lokasi yang dilindungi oleh makhluk gaib atau jin. Dengan pusatnya di Kampung Larangan, Kampung Dana Warih, dan Kampung Wangen yang disangga oleh kampung-kampung lain, yaitu Kampung Babakan, Kam pung Leuwi Panjang, dan Kampung Kutangsa.</p>
<p>Kepercayaan penduduknya, bila pendatang berbuat jahat di daerah ini, ia tidak akan mampu ke luar dari desa dalam keadaan selamat. Dan, jika yang berbuat jahat atau mencemarkan nama baik desa adalah penduduk asli, disadari atau tidak ia akan &#8220;dijauhkan&#8221; atau &#8220;menjauh dengan sendirinya&#8221;.</p>
<p>Copyright: Cerita Rakyat.
Penerbit:
Balai Bahasa Jawa Tengah
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured-1200x675.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="675">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[cilacap info featured]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[cilacap info featured]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Legenda Bunga Wijayakusuma</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-15354/legenda-bunga-wijayakusuma</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Huda]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Jun 2019 05:36:19 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Cerita Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-15354/legenda-bunga-wijayakusuma</guid>

					<description><![CDATA[CILACAP.INFO &#8211; Pada suatu malam, Sri Susuhunan Surakarta bermimpi melihat seberkas sinar. Ia berusaha mengejar sinar itu. Namun, sinar itu mendadak menghilang tidak berbekas. Dalam mimpi berikutnya, Sri Susuhunan melihat kembali seberkas sinar itu dan ternyata datangnya dari setangkai bunga yang sangat indah. Bunga itu berwarna merah muda.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Pada suatu malam, Sri Susuhunan Surakarta bermimpi melihat seberkas sinar. Ia berusaha mengejar sinar itu. Namun, sinar itu mendadak menghilang tidak berbekas. Dalam mimpi berikutnya, Sri Susuhunan melihat kembali seberkas sinar itu dan ternyata datangnya dari setangkai bunga yang sangat indah. Bunga itu berwarna merah muda.</p>
<p>Dalam mimpinya itu, terdengar suara gaib yang mengatakan bahwa barang diapa dapat memiliki setangkai bunga Wijayakusuma maka semua keturunannya akan menjasi raja di Kasuhunan Surakarta.</p>
<p>Sri Susuhunan lalu menceritakan mimpinya itu kepada Adipati Rekso. Ia menyuruh Adipati Rekso untuk mencari orang yang men getahui ciri-ciri bunga Wijayakusuma itu. Adipati Rekso kebingungan mencari orang yang mengetahui ciri-ciri bunga Wijayakusuma. Ia berjalan dalam guyuran hujan.</p>
<p>Ia tidak meng hiraukan orang-orang di sekelilingnya yang menyapa dan mengajak untuk berteduh. Ia tetap saja berjalan hingga tanpa dirasakannya telah sampai ke rumahnya. Ketika ia hendak masuk ke pekarangan rumahnya, ia melihat orang tua yang sedang berteduh. Adipati Rekso memanggil orang tua tersebut untuk diajak berteduh di rumahnya. &#8220;Ki, mari berteduh di pendapa. Hujannya semakin deras. Ayo, mari, Ki!&#8221;</p>
<p>&#8220;Terima kasih, Jeng Adipati. Apakah hamba pantas berteduh di pendapa?&#8221;
&#8220;Ayolah, tidak perlu Ki Sanak berpikir seperti itu. Semua manusia itu sama. Mari, mari masuk.&#8221;
Mereka berdua lalu masuk ke pendapa. Mereka duduk sambil berbincang-bincang. Dari perbincangan itu, Adipati Rekso mengetahui bahwa orang tua tersebut bernama Kiai Surti. Ternyata, Kiai Surti itu orang yang sakti dan mengetahui ciri-ciri bunga Wijayakusuma.</p>
<p>Adipati Rekso kemudian membawa Kiai Surti menghadap kepada Sri Susuhunan di Kesultanan Surakarta. Dalam hatinya, Sri Susuhunan ragu apakah benar orang tua tersebut mengetahui tentang bunga Wijayakusuma yang diimpikan itu. Untuk menghilangkan rasa penasarannya, Sri Susuhunan bertanya kepada Kiai Surti tentang ciri-ciri bunga Wijayakusuma.</p>
<p>Kiai Surti menceritakan bahwa bunga Wijayakusuma itu ada hubungannya dengan Raja Ragola dan Dewi Rara Ayu. Raja Ragola adalah raja kecil yang memimpin di wilayah perbatasan dekat Pulau Jawa. Raja Ragola adalah raja yang sangat kejam. Kekejamannya tersebut tampak ketika Pendeta Janur dan pengikutnya dibunuh secara keji oleh Raja Ragola dan prajuritnya. Anehnya, mayat Pendeta Janur itu berubah menjadi seberkas sinar.</p>
<p>Seberkas sinar itu melesat kemudian menukik ke tengah laut. Raja Ragola mengejar seberkas sinar itu. Namun, sinar itu menghilang dan kemudian muncullah ular naga yang sangat besar. Raja Ragola berhasil membunuh naga tersebut. Naga tersebut berubah wujud menjadi putri yang cantik jelita. Putri tersebut bernama Dewi Rara Ayu. Ia merupakan penjaga bunga Wijayakusuma yang berada di Pulau Majeti.</p>
<p>Dewi Rara Ayu memberikan setangkai bunga Wijayakusuma kepada Raja Ragola. Setelah memberikan bunga Wijayakusuma Dewi Rara Ayu mendadak menghilang. Raja Ragola sangat senang karena memiliki bunga Wijayakusuma itu. Ia pulang ke kerajaannya dengan berjalan di atas gelombang air laut. di tengah laut pantai selatan Raja Ragola berjuang melawan ombak, angin, dan petir yang menggelegar.</p>
<p>Bunga Wijayakusuma yang ada ditangannya terlepas dan tertelan ombak sampai ke dasar lautan. Raja Ragola berusaha mencari bunga Wijayakusuma itu. Namun, ombak itu semakin lama semakin besar dan akhirnya Raja Ragola pun mati ditelan ombak yang menggulung dirinya.</p>
<p>Kiai Surti menutup ceritanya dengan menyimpulkan bahwa bunga Wijayakusuma itu berada di Pulau Majeti atau tepatnya berada di Pulau Nusakambangan yang berada di wilayah pantai selatan, termasuk wilayah Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah. Selanjutnya, Kiai Surti memberitahukan bahwa untuk berangkat ke Pulau Majeti itu harus membawa sesajen sebagai persembahan kepada makhluk halus penghuni Pulau Majeti yang menunggui bunga Wijayakusuma.</p>
<p>Sri Susuhunan Surakarta memerintah Ki Patih untuk mencari empat puluh prajurit yang gagah dan tangguh serta yang mengetahui seluk-beluk kelautan. Setelah terkumpul empat puluh orang prajurit pilihan, Sri Susuhunan menyuruh keempat puluh prajurit itu agar minta izin kepada keluarganya masing-masing dan memohon doanya serta meminta keluarganya untuk bersabar dan tabah serta mengiklaskan kepergiannya.</p>
<p>Rombongan prajurit yang dipimpin Ki Patih itu meminta restu lebih dulu kepada keluarga masing-masing sebelum berlayar mengarungi lautan. Sebelum pergi, mereka memanjatkan doa untuk keselamatan semua. Keempat puluh prajurit dan Ki Patih berangkat dengan menggunakan beberapa kapal layar. Mereka gembira dan semangat ketika mengarungi lautan. Ketika kapal-kapal layar yang mereka tumpangi hampir sampai di tempat tujuan, tiba-tiba ombak besar menghantam kapal-kapal mereka. Para prajurit dan Ki Patih berusaha sekuat tenaga mengendalikan kapal-kapalnya agar tidak oleng dan tenggelam. Sebagian prajurit mengeluarkan air yang masuk ke kapal dan berusaha menjaga keseimbangan kapal agar tidak tenggelam. Namun, ombak semakin besar dan disertai suara petir yang bergemuruh sehingga para prajurit itu kewalahan.</p>
<p>Akhirnya, tiga puluh enam prajurit mati diterjang ombak. Tubuh mereka hanyut ditelan ombak laut pantai selatan. Sisanya, empat prajurit dan Ki Patih terlempar ke pinggir pantai. Mereka tidak sadarkan diri. Ketika bangun dari pingsannya, mereka bingung tidak tahu berada di mana. Kemudian, Ki Patih mengajak keempat prajuritnya yang selamat itu untuk bersemadi dengan maksud agar diberi petunjuk oleh yang Mahagaib. Dengan sisa-sisa tenaganya, mereka bersemadi dengan khusuk sekali. Pada hari ketujuh semadinya, terdengar suara gaib yang memberitahukan bahwa tempat yang mereka singgahi itu adalah Pulau Majeti, tempat bunga Wijayak usuma berada.</p>
<p>Ki Patih dan keempat prajurit itu bersemadi lagi. Dalam semadinya itu datang godaan berupa ular naga yang sangat besar. Ular naga itu membuka mulutnya lebar-lebar hendak menyantap mereka. Dari mulut naga itu ke luar semburan api yang diarahkan kepada mereka. Mereka tetap saja konsentrasi tidak tergoda oleh godaan naga yang hendak memangsanya. Ular naga itu akhirnya seperti kepayahan sendiri. Gerakan-gerakan tubuhnya menjadi kendur. Usahanya untuk menggoda Ki Patih dan para penggawa itu gagal. Kemudian wujud ular naga itu menghilang tanpa meninggalkan jejak.</p>
<p>Malam itu semakin larut dan udara semakin dingin. Ki Patih dan keempat prajurit itu tiba-tiba mencium bau harum yang menyengat. Bau harum itu sangat menggoda kekhusukan semadinya. Semadi mereka itu berakhir secara bersamaan dan mereka membuka mata secara serempak. Mereka sangat takjub melihat bunga Wijayakusuma yang sedang mekar berada di depan mata mereka. Pancaran sinar yang ke luar dari bunga Wijayakusuma itu bertambah indah. Pancaran sinarnya sangat menakjubkan karena mereka belum pernah melihatnya.</p>
<p>Saat itu malam telah larut dan suasana semakin sepi. Hanya suara deburan ombak dan suara desiran angin yang terdengar. Suasana malam itu mendadak berubah, yang tadinya sangat dingin mendadak jadi hangat. Mungkin karena pancaran sinar bunga Wijayakusuma yang menyebabkan malam itu berbeda dengan malam lainnya. Biasanya, malam-malam di tepi pantai selatan terasa sepi dan dingin. Sekarang, saat bunga Wijayakusuma mekar dan memancarkan sinar, suasana menjadi terang benderang. Pada saat itu, bunga Wijayakusuma sedang mencapai puncak mekarnya. Bunga tersebut memancarkan sinar yang indah sehingga menerangi apa pun yang berada di sekelilingnya. Selain itu, bunga tersebut menebarkan keharuman yang semerbak ke sekelilingnya.</p>
<p>Ki Patih dan keempat prajurit itu sangat takjub melihat bunga Wijayakusuma yang sedang mekar.</p>
<p>Melihat keadaan seperti itu, Ki Patih dan para prajurit terpukau. Mereka tidak bosan-bosannya memandangi bunga Wijayakusuma yang sedang mekar itu. Namun, tiba-tiba bunga yang sedang mekar itu terlepas dari tangkainya dan jatuh tepat ke dalam mangkuk yang telah disediakan oleh Ki Patih. Sinarnya mendadak jadi berkurang, tetapi harumnya tetap semerbak. Akhirnya, bunga Wijayakusuma itu dapat dikuasai oleh Ki Patih dan keempat prajurit itu. Mereka berpelukan dan bercengkeraman karena terharu. Rasa lega menyelinap ke dalam hati mereka. Mereka bergumam bahwa untuk mendapatkan bunga Wijayakusuma itu harus ditebus dengan tiga puluh enam nyawa temannya. Ketiga puluh enam prajurit pilihan itu merupakan pahlawan yang telah berjuang mengemban tugas negara. Bunga Wijayakusuma itu telah meminta tumbal jiwa yang tidak sedikit. Tiga puluh enam jiwa prajurit teladan telah terenggut nyawanya dalam perburuan bunga Wijayakusuma itu.</p>
<p>Ki Patih kemudian mengajak keempat prajurit itu mempersiapkan diri untuk kembali ke Surakarta. Tidak lupa, Ki Patih membawa mangkuk yang berisi bunga Wijayakusuma itu. Ia membungkus bunga itu dengan kain. Ki Patih membawa bunga itu dengan hatihati. Keempat prajuritnya siap mengawal keamanan agar bunga Wijayakusuma dapat sampai di Kasuhunan Surakarta dengan selamat.</p>
<p>Sementara itu, di Kasuhunan Surakarta, Sri Susuhunan tampak gelisah dan resah. Setiap detik dirasanya bagaikan siksaan yang sangat menyakitkan. Wajahnya kadang-kadang memegang dan pandangannya seperti kosong. Sejak keberangkatan Ki Patih dan keempat puluh prajuritnya untuk mencari bunga Wijayakusuma, Sri Susuhunan selalu tegang. Ia merasa resah dan selalu gelisah menanti hasilnya. Dari hari ke hari Sri Susuhunan menanti dengan tidak sabar. Namun, ia tidak melupakan keluarga Ki Patih dan para prajuritnya. Hampir setiap hari ia berkeliling dan menjenguk serta memberikan harapan-harapan kepada keluarga yang ditinggalkan para utusannya itu agar selalu sabar dan tabah. Meskipun sebenarnya ia sendiri selalu gelisah dan resah.</p>
<p>Pada suatu hari, Adipati Rekso memberi tahu Sri Susuhunan bahwa ada berita tentang Ki Patih dan para prajuritnya. Dari berita itu dikabarkan bahwa hanya satu kapal layar yang kelihatan, sedangkan yang lainnya tidak tampak. Sri Susuhunan sangat terpukul mendengar berita itu. Ia merasa sedih karena banyak prajuritnya yang tidak kembali. Wajah Sri Susuhunan tampak pucat dan berlinang air mata. Ia memerintah Adipati Rekso menyiapkan penyambutan kedatangan Ki Patih dan keempat prajuritnya yang selamat itu. Sri Susuhunan juga menginstruksikan untuk mengundang keluarga korban dan masyarakat untuk menyambut kedatangan Ki Patih dan keempat prajurit yang selamat itu. Tidak lupa, para keluarga korban diberi santunan yang layak serta penghargaan setinggi-tingginya. Keluarga korban yang ditinggalkan juga diberi jaminan bagi kelangsungan hidupnya. Sri Susuhunan juga berusaha meyakinkan keluarga korban bahwa suami, ayah, atau anak yang telah menjadi korban itu adalah pahlawan karena telah berjuang demi kepentingan negara.</p>
<p>Sri Susuhunan duduk dan menengadahkan kedua tangannya untuk memohon kepada yang Mahakuasa agar bunga Wijayakusuma yang ditebus dengan banyak pengorbanan itu tidak menjadi sia-sia.</p>
<p>Sri Susuhunan mengharap semoga bunga itu menjadi dorongan bagi pelanjut dirinya dalam memimpin pemerintahan yang adil dan bijaksana dalam memimpin Kasuhunan Surakarta.</p>
<p>Copyright: Cerita Rakyat
Balai Bahasa Jawa Tengah
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured-1200x675.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="675">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[cilacap info featured]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[cilacap info featured]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Kisah Rawa Baya di Cipari</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-15341/kisah-rawa-baya-di-cipari</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Huda]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 26 Jun 2019 13:12:12 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Cerita Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Cipari]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-15341/kisah-rawa-baya-di-cipari</guid>

					<description><![CDATA[CILACAP.INFO &#8211; Kisah ini terjadi pada zaman dahulu ketika Indonesia masih dalam kekuasaan penjajah Belanda. Mereka sangat kejam kepada penduduk kampung, terutama pada laki-laki dewasa. Penjajah Belanda menerapkan kerja rodi yang menguras tenaga laki-laki dewasa.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Kisah ini terjadi pada zaman dahulu ketika Indonesia masih dalam kekuasaan penjajah Belanda. Mereka sangat kejam kepada penduduk kampung, terutama pada laki-laki dewasa. Penjajah Belanda menerapkan kerja rodi yang menguras tenaga laki-laki dewasa.</p>
<p>Penjajah Belanda tidak akan membiarkan mereka bebas tanpa pekerjaan. Siang dan malam tentara Belanda mengecek pekerjaan masyarakat. Apabila melihat ada orang yang mengganggur, mereka tidak segan-segan menyiksanya. Tentara Belanda selalu mengadakan patroli. Banyak warga kampung yang ingin bertandang ke kampung lain sekadar mencari bahan pangan atau pun menengok saudaranya dihantui rasa takut karena patroli tersebut.</p>
<p>Diceritakanlah pada saat itu ada sebuah kampung yang letaknya memanjang dari arah timur ke barat, luasnya kira-kira 2 km2 yang dihuni oleh 5-10 kepala keluarga saja. Kebanyakan anak-anak yang telah dewasa dipekerjakan di luar kampung. Sudah tentu hal ini membuat kampung itu sangatlah sepi. Terdapat rawa yang mengelilingi kampung. Tumbuhan lebat hidup subur di sekitar rawa hingga membuat rawa tampak rimbun dan menyeramkan.</p>
<p>Keberadaan rawa tersebut membuat kampung makin senyap sehingga perekonomian masyarakat tidak berkembang dengan baik karena hanya mengandalkan sektor pertanian. Ditambah lagi jalur lalu lintas untuk ke luar masuk kampung hanya ada satu jalan, yaitu melalui rawa tersebut.</p>
<p>Masyarakat merasa takut menyeberangi rawa ini sehingga kampung ini tidak banyak dikunjungi orang. Hanya orang-orang yang memiliki kepentingan yang memberanikan diri melewati rawa ini. di atasnya pun banyak terdapat teratai dan enceng gondok yang tumbuh. Suara-suara hewan liar dan embusan angin menghidupkan suasana yang sunyi dan sepi membuat orang-orang bergidik saat melewatinya.</p>
<p>Selain melewati rawa itu, sebenarnya masih ada jalan lain yang mungkin dapat digunakan. Namun, jalan itu hanya seperti jalan tikus yang sempit. Kanan kiri jalan sempit itu masih ditumbuhi semaksemak belukar yang sangat rimbun. Jika menuju ke arah timur, jalan tersebut akan sampai ke Kecamatan Sidareja. Jika ke arah barat, jalan itu akan sampai ke Desa Gayamsari, Kecamatan Wanareja. Sebelah utara dan selatan jalan itu hanyalah rawa-rawa dan persawahan yang masih bersemak dan ditumbuhi oleh tanaman liar.</p>
<p>Tidak hanya tanaman liar yang membuat jalan itu sangat menyeramkan, warga takut melewatinya karena di dalam semak-semak belukar itu masih banyak binatang buas, seperti: ular, biawak, babi hutan, musang, luwak, kelabang, dan lain sebagainya. Tak jarang binatang-binatang buas yang merasa terganggu menyerang orang yang melewatinya. Suara burung gagak sering terdengar menambah suasana sekitar jalan itu makin mencekam.</p>
<p>Air rawa di kampung tersebut sangatlah tenang. Rawa yang ditumbuhi tanaman air menambah rasa takut orang yang akan melewatinya. Namun, warga lebih memilih jalan ini untuk lalu lintas ke luar kampung dibandingkan dengan jalan tikus yang sempit dan bersemak karena lebih leluasa. di tengah-tengah rawa tersebut terdapat sebuah kedung. Kedung adalah lubang yang lebar dan dalam, seperti palung.</p>
<p>Penduduk desa tersebut menamakanya Kedung Jero, yang artinya lubang besar dan dalam. Nama ini diberikan untuk menggambarkan keadaan kedung itu. di samping itu, dimaksudkan juga untuk memberi peringatan kepada orang yang melewatinya.</p>
<p>Banyak cerita yang tersimpan dibalik Kedung Jero ini. Cerita ini telah banyak tersebar dan diketahui oleh masyarakat kampung. Konon lubang tersebut dihuni buaya-buaya. Terdapat sepasang buaya yang menyeramkan sehingga menambah takut dan miris mereka yang akan melewati rawa tersebut.</p>
<p>Buaya-buaya itu bukanlah buaya biasa. Apabila ada orang yang mengganggu buaya-buaya itu, kemalangan dapat mengganggu orang tersebut. Orang-orang yang melewati rawa tersebut sangat berhati-hati agar tidak mengganggu buaya-buaya itu.</p>
<p>Dikisahkan, pada suatu hari ada seorang penduduk yang bernama Kartanom akan bertandang ke rumah saudaranya yang berada di Desa Gayamsari. Kartanom ingin mengabarkan pada saudaranya yang ada di Gayamsari mengenai pernikahan putrinya. Karena dirasa sangat penting, ia ingin mengabarkannya secara langsung. Akan tetapi, hatinya merasa bimbang dan was-was memikirkan betapa sulitnya jalan untuk sampai ke Desa Gayamsari. Tentu saja Kartanom harus melewati rawa tersebut.</p>
<p>Desas-desus Kedung Jero telah sampai di telinganya dari obrolan-obrolan warga sekitar. Sebenarnya ia telah mengetahui jalan alternatif selain melewati rawa tersebut. Ia telah mendengar kabar itu pula dari tetangga-tetangganya. Kartanom bimbang harus memilih yang mana. Ia lalu meminta pertimbangan pada tetangga-tetangganya. Setelah mengetahui dan mempertimbangkan baik dan buruk keduanya, Kartanom memilih un tuk melewati jalur air, bukan jalur darat. Ia lalu mempersiapkan sarana transportasi guna melewati rawa itu.</p>
<p>Saat ia siapkan di atas rawa, aliran air rawa mulai memasuki sampannya. Beruntung hal ini segera ia ketahui. Ia lalu segera memperbaiki sampannya. Setelah beberapa hari memperbaiki, akhirnya sampannya tidak bocor seperti sebelumnya.</p>
<p>Dimulailah perjalanan Kartanom dengan sampannya. Sebelum itu, ia tampak ragu-ragu saat melangkahkan kaki menaiki sampan. Namun, semangatnya akan kabar gembira yang ingin ia sampaikan, meluluhkan rasa takutnya. Dengan tenang Kartanom mengayuh sampannya. Satu, dua dayungan ia ayunkan. Suasana sepi dan semilir angin merasukkan perasaan was-was kembali dalam hatinya. di balik ketenangannya dalam mengayuh, tersimpan gemuruh di hatinya.</p>
<p>Tekadnya hanya satu tujuan, yaitu ia ingin segera sampai dan bertemu dengan saudaranya. Selang beberapa lama Kartanom sudah mendekati Kedung Jero. Perasaan takut dan was-was semakin bergemuruh di hatinya. Betapa tidak, ia akan melewati kedung yang konon dihuni oleh buaya. Sampan pun terus berjalan perlahan mendekati tengah-tengah rawa hingga tepat di daerah Kedung Jero. Betapa kaget dan takutnya Kartanom ketika melihat dan mendengar dengan keras suara ceburan air.</p>
<p>Airpun berbuih diiringi suara &#8220;Oekoek&#8221;. Suara itu terus terdengar berulang-ulang. Kondisi mencekam ini membuat bulu kuduk Kartanom berdiri. Rasa takut luar biasa menyelimuti hati Kartanom. Ia gugup dan tangannya gemetar. Gemuruh dalam hatinya semakin kuat, tubuhnya menjadi gemetar. Sampan pun terombang-ambing.</p>
<p>Satu, dua buaya bermunculan. Buaya-buaya itu sibuk dengan ak tivitasnya tanpa menghiraukan kehadiran Kartanom. Banyaknya buaya yang muncul membuat nyali Kartanom semakin ciut. Belum hilang rasa kaget dan takutnya setelah melihat buaya-buaya itu, ia melihat sepasang buaya putih berada di antara buaya-buaya lain. Buaya putih itu sedang bersenda gurau dengan teman-temannya. Namun, sepasang buaya putih itu tiba-tiba bergerak mendekati sampan Kartanom yang bergerak perlahan mendekati Kedung Jero. Kartanom semakin pucat. Ia terpaku.</p>
<p>Angin bertiup kencang diiringi kepulan asap putih membumbung tinggi mengelilingi sepasang buaya putih itu. Kemudian, dari kepulan asap itu menjelmalah sepasang suami istri yang berpakaian selayaknya bangsawan. Kartono panik melihat hal ini. Ia semakin menggigil.</p>
<p>Lelaki berpakaian bangsawan itu mendekat ke Kartanom. Dengan ramah dan bijak, lelaki tersebut berkata.</p>
<p>&#8220;Hai manusia, jangan takut! Kami juga sepertimu yang tidak ingin diganggu dan mengganggu kalian. Namun, jika kalian para manusia mengganggu ketenangan kami, sudah tentu kami merasa terusik. Jangan heran bila kami para buaya akan menyerang jika merasa terganggu. Bahkan, mungkin akan ada yang menjadi korban. Kebetulan kau melewati daerah atau istana kami. Kami para buaya ingin mengajak damai pada kalian untuk saling menghormati dan menjaga wilayah masing-masing, terutama di rawa dan Kedung Jero ini.&#8221;</p>
<p>Kartanom tidak dapat berkata-kata. Kerongkongannya terasa kering, mulut pun terbungkam. Ia hanya dapat mengganggukkan kepala yang ia ayunkan dengan cepat karena rasa takutnya yang begitu besar. Lelaki berpakaian bangsawan itupun berkata lagi.</p>
<p>&#8220;Pergilah dengan tenang! Kami tidak akan menghalangi perjalananmu dan sampaikan pesan ini pada saudaramu yang lain!&#8221;
Kartanom pun menggangguk lagi dengan cepat. Mendengar pesan tersebut, rasa takut di hatinya perlahan menghilang. Ia menarik napas panjang dan mengembuskannya lagi hingga rasa was-wasnya mereda. Udara sejuk menenteramkan hatinya.</p>
<p>Sepasang suami istri berpakaian bangsawan itu pun kembali menjelma ke wujud semula, yaitu sepasang buaya putih. Dengan perlahan sepasang buaya putih itu kembali ke kawanannya di dekat Kedung Jero. Sepasang buaya putih itu disambut oleh kumpulan buaya-buaya itu. Ia lalu menyadari, bahwa ternyata sepasang buaya putih itu adalah raja dan ratu penghuni Kedung Jero.</p>
<p>Kartanom masih menyisakan rasa kaget dan heran di hatinya dengan kejadian tadi. Ia pun tersadar dan kembali mengayuh sampannya untuk melanjutkan perjalanan. Ia melewati kedung Jero tersebut dengan tenang walaupun banyak buaya di sana.</p>
<p>Akhirnya, Kartanom sampai ke tepi rawa dengan selamat. Bergegas Kartanom menambatkan sampannya, lalu berjalan menuju Desa Gayamsari tempat tinggal saudaranya. Kartanom disambut dengan ramah oleh saudaranya. Kehadiran Kartanom pasti membawa kabar penting. Sebelum mengabarkan tentang pernikahan putrinya, Kartanom menceritakan pengalaman yang baru saja dialaminya.</p>
<p>Saudara Kartanom pun merasa lega, Kartanom selamat sampai kediamannya. Selanjutnya, Kartanom kembali kepada tujuan awalnya, yakni menyampaikan kabar bahagia bahwa putrinya akan melangsungkan pernikahan.</p>
<p>Kartanom mengundang saudaranya agar dapat hadir dalam upacara pernikahan tersebut. Saudara Kartanom sangat bahagia mendengar berita ini dan menyanggupi datang. Kartanom menginap sehari di kediaman saudaranya. Setelah itu, ia pun kembali ke desanya.</p>
<p>Perjalanan keduanya melewati rawa, ia jalani dengan tenang hati tanpa rasa was-was lagi.
Ia juga mendapat dari cerita saudaranya di Gayamsari bahwa menurut penuturan warga kampung yang lain, mereka sering melihat buaya-buaya datang dan pergi dari Kedung Jero tersebut. Namun demikian, merekapun dapat hidup tenang tanpa was-was akan diserang oleh buaya karena mereka berprinsip tidak akan mengganggu ketenangan hidup buaya tersebut. Sampai saat ini tidak ada korban penyerangan buaya tersebut.</p>
<p>Setelah Indonesia merdeka, tokoh masyarakat kampung menamakan kampung tersebut dengan sebutan Rawa Baya karena asal usulnya adalah rawa yang dihuni oleh buaya. Sekarang buayanya sudah tidak terlihat lagi. Rawa tersebut sudah mulai menjadi daratan serta persawahan yang subur. Sementara, kampung yang dahulu sunyi senyap sekarang sudah berubah menjadi perumahan yang padat dan persawahan yang menjadi tumpuan perekonomian warga Rawa Baya tersebut. Kampung Rawa Baya berkembang dengan pesat dengan didirikannya sekolah-sekolah, baik negeri maupun swasta.</p>
<p>Musala-musala sudah didirikan. Jalan-jalan sudah diperbaiki dan diaspal. Semuanya menambah semarak kampung Rawa Baya.</p>
<p>Atas musyawarah desa dan tokoh masyarakat, kampung Rawa Baya diganti menjadi Dusun Sidadadi yang termasuk di wilayah Desa Mulyadadi, Kecamatan Cipari, Kabupaten Cilacap. Namun, daerah yang tadinya rawa dan yang terdapat Kedung Jero masih dikenal dengan sebutan Dukuh Rawa Baya sampai dengan sekarang.</p>
<p>Copyright: Cerita Rakyat
Balai Bahasa Jawa Tengah
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured-1200x675.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="675">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[cilacap info featured]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[cilacap info featured]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Asal Usul dan Kisah Gunung Srandil</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-15319/asal-usul-dan-kisah-gunung-srandil</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Huda]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 25 Jun 2019 07:37:52 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Cerita Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-15319/asal-usul-dan-kisah-gunung-srandil</guid>

					<description><![CDATA[CILACAP.INFO &#8211; Dahulu kala, di puncak Gunung Slamet ada seorang ksatria yang bertapa. Ksatria itu bernama Bima. Dia sangat perkasa, ibarat berotot kawat dan bertulang baja. Walaupun demikian, dia berwatak lugu dan jujur.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Dahulu kala, di puncak Gunung Slamet ada seorang ksatria yang bertapa. Ksatria itu bernama Bima. Dia sangat perkasa, ibarat berotot kawat dan bertulang baja. Walaupun demikian, dia berwatak lugu dan jujur.</p>
<p>Apa yang ada di hatinya akan dikeluarkan apa adanya, hijau dikatakan hijau, merah akan dikatakan merah. Namun, ada yang selalu disimpannya, yaitu amarah. Bima tidak mudah marah. Itulah satu-satunya yang dapat ia simpan dalam hatinya.</p>
<p>Suatu hari, ketika masa bertapanya baru saja selesai, dia kedatangan kakek tua bernama Ki Drona. Singkat cerita, Bima marah besar karena mendengar cerita dari Ki Drona bahwa dia adalah anak jadah, alias anak tidak punya bapak.</p>
<p>Sebenarnya, Bima sudah paham kalau Ki Drona itu pembual alias tukang bohong. Akan tetapi, mengapa Bima marah? Ya, karena Ki Drona terus menerus berbicara tanpa dapat dihentikan. Jadi, Bima marah karena sebel harus mendengar cerita yang menjelek-jelekan orang tuanya, terutama ibundanya. Baginya kehormatan Ibu harus dijaga dan dibela hingga titik darah penghabisan.</p>
<p>Bima diam, jantungnya bergemuruh, tangannya mengepal, otot-ototnya mulai mengencang, lalu dia berdiri menghampiri Ki Drona yang terus mengoceh bagai burung kelaparan.</p>
<p>&#8220;Hai, Ki Drona. Dapat berhenti bicara apa tidak?&#8221; gertak Bima.
Ki Drona yang mengenali Bima tidak pernah marah, santai menjawab sambil tertawa terkekeh-kekeh, &#8220;He he dikandani ra per-caya, diberi tahu kok tidak percaya kamu, Bima?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kamu itu cuma anak seorang ibu, bapakmu nggak jelas!&#8221;</p>
<p>Bima menggeram bagai harimau mau menerkam mangsanya, &#8220;Hemm dapat diam tidak, hai kakek jelek?&#8221;</p>
<p>Dasar Ki Drona, dia malah merasa senang dapat membuat Bima marah. Dia tertawa terkekeh-kekeh, &#8220;He he Bima, Bima&#8230;.&#8221;</p>
<p>Mendengar Ki Drona terus tertawa, kemarahan Bima yang sudah tertahan sekian lama, menggumpal bagai bola api yang diap meledak, dan benar saja, sambil menggertak, &#8220;Diam!&#8221; Dia menendang puncak Gunung Slamet yang berdiri kokoh di hadapannya.</p>
<p>&#8220;Braakk!&#8221; bersamaan itu terdengar suara gemuruh dan terpentallah sebagian puncak Gunung Slamet ke arah selatan.</p>
<p>Sementara itu, di Pedasong, sebuah desa kecil dekat Pantai Selatan, ada sebuah grumbul yang dikelilingi hutan nipah. di sana tinggal sebuah keluarga yang sangat sederhana, Ki Supa dan Ni Supa dengan beberapa anaknya.</p>
<p>Mereka hidup dari hasil bercocok tanam dan dari menangkap berbagai jenis ikan di bengawan Adiraja yang mengalir melewati dekat rumahnya.Walau demikian, keluarga Ki Supa sangat bahagia karena di antara mereka saling menyayangi dan bekerja sama satu sama lainnya.</p>
<p>Suatu hari saat fajar baru menyingsing di ufuk timur, Ni Supa membangunkan Ki Supa dengan suara pelan, &#8220;Ki, bangun Ki. Hari sudah pagi, temani Nini pergi ke sumur yuk,&#8221; sambil menjinjing cepon (semacam bakul yang terbuat dari anyaman bambu) berisi beras untuk dipususi (dicuci).</p>
<p>Ki Supa segera bangun, dan segera menemani Ni Supa yang akan pergi ke sumur, yang terletak agak jauh dari rumahnya. Tugas Ki Supa adalah menemani dan menimbakan air untuk mencuci beras. Mereka berjalan beriringan. Sungguh sebuah pemandangan dan kerja sama yang indah. Sambil menimba air, Ki Supa melantunkan tembang berbahasa Jawa tentunya.</p>
<p>Jago kluruk rame kapiarsi,
Lawa lawong luru pandhelikan,
Jrih kalawan ing semune,
Wetan bang sulakipun mertandhani yen bangun enjing&#8230;..</p>
<p>Di tengah-tengah keasyikan Ki Supa melantunkan tembang, tiba-tiba ada benda semacam batu raksasa melayang dan hampir jatuh menimpa mereka. Dengan spontan, Ki Supa berteriak, &#8220;Awas Nini!&#8221; Sambil tangannya mendorong Ni Supa, hingga terjatuh, dan beras yang ada di cepon pun wutah (tumpah).</p>
<p>Sementara itu, kaki Ki Supa menendang benda raksasa tersebut dengan sekuat tenaga sambil mengucap, &#8220;Duh Gusti!&#8221;</p>
<p>Benda semacam batu raksasa itu pecah menjadibeberapa bagian dan terpental ke arah selatan. Namun, ada pecahan batu sebesar kerbau yang tertinggal di dekat sumur Ki Supa. di kemudian hari, batu itu digunakan untuk batu nisan, tanda kuburan bagi Ki dan Ni Supa.</p>
<p>Karena Ki dan Ni Supa dianggap sebagai leluhur atau orang pertama yang trukah dan tinggal di tempat itu, kuburan tersebut kemudian dikenal orang dengan nama &#8220;Panembahan Waktu Kumpul&#8221;. Grumbul tempat Ki Supa tinggal diberi nama Grumbul Beras Wutah.</p>
<p>Bagaimana kelanjutan pecahan benda raksasa yang terpental ke arah selatan? Ternyata benda raksasa itu pecah menjadi empat bagian. yang terbesar, jatuh di pinggir laut selatan, di Desa Karangbenda. Benda itu jatuh menyerong dari selatan ke arah barat daya. Ketika benda itu jatuh, orang-orang yang tengah berkumpul, sedang memanen padi di sawah, berteriak, &#8220;Awas selok!&#8221; Selok maksudnya sela (bahasa jawa yang berarti ‘batu’).</p>
<p>Sekarang tempat tersebut dikenal orang dengan nama Gunung Selok.</p>
<p>Dua pecahan yang berukuran hampir sama, tetapi lebih kecil dari selok, jatuh secara bersebelahan berjajar di Desa Glempangpasir, sebelah timur Selok. yang satu dinamakan Gunung Kembar karena memang bentuk dan ukurannya hampir sama dengan gunung yang satunya, yakni Gunung Srandil.</p>
<p>Pecahan yang terakhir jatuh adalah pecahan yang paling kecil ukurannya. Pecahan itu jatuh di sebelah timur, tepat di samping gunung Selok. Karena bentuknya seperti tumpeng, nasi yang dibentuk seperti kerucut, biasanya untuk kenduri/selamatan, Pecahan itu diberi nama Gunung Tumpeng.</p>
<p>Dari keempat gunung, yang sebenarnya hanyalah bukit ini, yang paling terkenal adalah Gunung Srandil. Konon nama Srandil berasal dari kata Sranane Adil (bahasa Jawa) yang artinya ‘syaratnya harus adil’.</p>
<p>Dahulu ada seorang sesepuh yang suka bersemadi di atas bukit itu. Orang-orang memanggilnya Ki Ismoyo Jati. Beliau selalu mengatakan kata-kata, &#8220;Keinginan kalian akan terkabul, tapi sarananya adil!&#8221; Begitulah yang diujarkannya setiap mengakhiri nasihatnya kepada para peziarah. Jadi, bagi siapa pun orang yang percaya, yang datang ke Srandil untuk suatu permintaan, agar terkabul syaratnya dia harus berbuat adil, baik pada diri sendiri, pada orang lain, maupun pada Tuhan. Berawal dari situlah orang-orang akhirnya menyebut tempat itu dengan sebutan Srandil.</p>
<p>Pada sisi lain, ada yang mengatakan bahwa Srandil berasal dari kata sarana dan adil. yang dimaksudkan adalah tempat untuk meminta keadilan. Banyak orang dari berbagai daerah, yang merasa diperlakukan tidak adil dalam kehidupannya datang ke Srandil dengan membawa berbagai masalah untuk mencari jalan keluar. Ada yang datang untuk menenangkan jiwa, ada yang datang untuk minta jodoh, ada yang datang karena usahanya bangkrut, Bahkan ada yang datang minta kaya! Mereka datang dari berbagai kalangan dan agama.</p>
<p>Kata mereka, mereka tetap meminta pada Tuhan, tetapi entahlah. Itu urusan kepercayaan masing-masing.</p>
<p>Di Srandil terdapat beberapa tempat untuk bersemadi, baik di bawah maupun di atas bukit. Ada yang berupa gua-gua kecil, ada yang berujud pelataran, dan ada yang konon merupakan makam para leluhur. Untuk mengadakan persemadian dan sebagainya, biasanya akan dipandu oleh seorang juru kunci yang mereka pilih sendiri (karena jumlahnya banyak) dan dengan membawa sesaji.</p>
<p>Konon katanya, banyak para pejabat dan pengusaha yang datang ke Srandil. Mereka tentu datang dengan sedikit malu-malu, sehingga mereka datang dengan cara menyamar. Mengapa demikian? Ya, bag aimanapun kita hidup di negara yang punya agama, yang memerintahkan agar kita hanya menyembah dan hanya meminta pada Tuhan saja.</p>
<p>Namun, tidak dapat dipungkiri, mereka juga masih punya &#8220;naluri kejawen&#8221; yang percaya pada hal-hal seperti itu. Apakah mereka berhasil meraih keinginannya? Walahualam bisawab.</p>
<p>Sekarang, Srandil dan sekitarnya, yang terletak di Desa Glempangpasir, Kecamatan Adipala, dijadikan sebagai tempat wisata religi oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Cilacap.</p>
<p>Copyright: Cerita Rakyat.
Penerbit:
Balai Bahasa Jawa Tengah
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2017</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/Pintu-Masuk-Gunung-Srandil-Adipala-Cilacap-1200x675.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="675">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[Pintu Masuk Gunung Srandil Adipala Cilacap]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/Pintu-Masuk-Gunung-Srandil-Adipala-Cilacap-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[Pintu Masuk Gunung Srandil Adipala Cilacap]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Legenda Waduk Naga Wangsa Desa Kubangkangkung, Kecamatan Kawunganten</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-15295/legenda-waduk-naga-wangsa-desa-kubangkangkung-kecamatan-kawunganten</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Hasan Bahtiar]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Jun 2019 04:05:09 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Cerita Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-15295/legenda-waduk-naga-wangsa-desa-kubangkangkung-kecamatan-kawunganten</guid>

					<description><![CDATA[CILACAP.INFO &#8211; Desa Sawangan adalah desa yang sangat makmur. Desa ini merupakan bagian wilayah Jeruk Legi. Keamanan dan ketenteraman akan didapatkan bagi orang yang tinggal dan menetap di desa itu.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Desa Sawangan adalah desa yang sangat makmur. Desa ini merupakan bagian wilayah Jeruk Legi. Keamanan dan ketenteraman akan didapatkan bagi orang yang tinggal dan menetap di desa itu.</p>
<p>Karena letaknya di daerah dataran tinggi, Desa Sawangan menjelma menjadi desa yang sejuk dan tenang. Pesona pagi yang selalu dihiasi dengan kicauan burung, aroma tanah yang disiram dengan hujan yang turun semalam, serta hijaunya dedaunan mampu menenteramkan hati para penghuni desa itu.</p>
<p>Hitungan waktu ditandai oleh pesona alam. Pagi hari akan terdengar ayam jantan berkokok yang menandakan masyarakat Desa Sawangan harus bangun dan menjalankan aktivitas kesehariannya.</p>
<p>Tengah hari ditandai dengan bayangan badan yang tepat ada di bawah tu-buh manusia menandakan manusia harus menghentikan aktivitas bekerja untuk beristirahat sejenak. Senja hari ditandai dengan tenggelamnya matahari di ufuk barat menandakan manusia harus menghentikan aktivitas di luar rumah dan beristirahat di dalam untuk mempersiapkan diri beraktivitas di hari berikutnya.</p>
<p>Lokasi desa tersebut di dataran tinggi. Oleh karena itu, sistem cocok tanam yang digunakan di desa ini adalah sistem ladang berpindah. Bahkan, untuk membuka ladang yang baru, mereka harus dengan susah payah membuka hutan, yang istilah dalam bahasa Jawa babat alas, untuk menanam padi gaga ataupun palawija.</p>
<p>Konon kabarnya, desa tersebut pernah dikepalai oleh seorang demang yang bernama Demang Wangsa Nangga. Demang ini dikenal sebagai pemimpin yang sederhana, pekerja keras, dan selalu mengayomi rakyatnya.</p>
<p>Demang Wangsa mempunyai dua orang putra yang bernama Samun dan Samin. Meskipun beliau seorang demang, kehidupannya masih tetap sebagai petani seperti rakyatnya. Kedua putranya, yaitu Samun dan Samin, sangatlah rajin membantu ayahnya dalam bercocok tanam. Mereka tidak sombong.</p>
<p>Meskipun putra seorang demang, mereka tidak malu membantu ayahnya bercocok tanam dan selalu ramah tamah kepada orang lain.</p>
<p>Menjelang pergantian musim, Ki Demang memanggil dua anaknya.</p>
<p>&#8220;Samin dan Samun, sudah saatnya kita membuka ladang agar panen kita nanti menjadi berlimpah. Bapak rasa ladang kita sekarang ini tidak banyak hasil yang bisa didapat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya rasa memang seperti itu, Bapak. Tahun ini hasil panen kita sangat sedikit. Bukan begitu, di Samin?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, Bapak. Apa yang dikatakan oleh Kang Samun memang benar. Jika kita teruskan bersawah di ladang yang sekarang ini, bisa-bisa kita rugi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah. Karena kalian sudah setuju, mulai besok berangkatlah kalian ke hutan! Kalian amati wilayah mana yang sekiranya bagus untuk bersawah. Syukur-syukur jika tempat yang kalian temukan
tidak jauh dari mata air.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah Bapak, besok pagi-pagi sekali saya akan berangkat dengan Samin.&#8221;</p>
<p>Pagi-pagi buta Samun dan Samin berangkat ke hutan untuk mencari lahan bercocok tanam. Setelah setengah hari mereka berputar-putar menelusuri hutan, sampailah mereka pada tempat yang dirasa sangat bagus dan cocok untuk semua jenis tanaman pertanian. Tempat itu adalah hutan di daerah Kubangkangkung.</p>
<p>&#8220;Di Samin, aku rasa tempat ini adalah tempat terbaik dari tempat-tempat yang lainnya,&#8221; kata Samun kepada adiknya.</p>
<p>&#8220;Benar sekali Kang. Aku rasa tempat ini cocok untuk ditanami padi gaga.&#8221;</p>
<p>Setelah mereka menemukan tempat yang dianggap cocok untuk bercocok tanam maka mulailah mereka membuka hutan tersebut dengan cara membersihkan semak belukar.</p>
<p>Hari demi hari Samun dan Samin bekerja tanpa mengenal lelah, pagi berangkat sore pulang, Bahkan terkadang sampai larut malam mereka baru tiba di rumah. Suatu hari di saat mereka bekerja, tiba-tiba Samin melihat sebutir telur besar yang berada di semak-semak hutan tersebut.</p>
<p>&#8220;Kang&#8230; Kang&#8230; Kang Samun, ini benda apa, Kang? Kok seperti telur,&#8221; Samin berteriak-teriak memanggil kakaknya.</p>
<p>Dengan tergopoh-gopoh Samun berlari mendatangi adiknya yang kelihatan panik karena melihat sesuatu. Setelah sampai di dekat adiknya, Samun lalu memerhatikan benda itu.</p>
<p>&#8220;Itu kok seperti telur.&#8221;
&#8220;Ya Kang, itu memang seperti telur.&#8221;
&#8220;Ya sudah, ambillah. Telur itu menjadi milikmu karena kamu yang pertama kali menemukannya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi&#8230; aku tidak berani megambilnya, Kang. Aku takut. Aku takut kalau telur itu beracun. Setelah saya sentuh, saya keracunan lalu mati. Tidak, Kang, aku tidak berani,&#8221; sahut sang adik dengan muka yang ketakutan.</p>
<p>&#8220;Baiklah kalau begitu. Aku punya usul.&#8221;
&#8220;Apa itu, Kang?&#8221;
&#8220;Telur itu kamu yang menemukan, tapi aku yang ambil. Bagaimana kalau nanti telur itu kita bagi dua, setuju?&#8221;</p>
<p>&#8220;Setuju Kang, setelah sampai di rumah telur itu kita masak. Kita bagi empat, seperempat bagian untuk Bapak, seperempat untuk ibu, seperempat untuk Kang Samun, dan yang seperempatnya lagi untuk saya.&#8221;</p>
<p>Samun kemudian mengambil telur itu. Telur itu memang tidak seperti telur-telur biasa. Telur itu memiliki ukuran yang lebih besar dan memiliki cangkang yang sangat kuat.</p>
<p>&#8220;Coba aku lihat, Kang!&#8221; kata Samin setelah telur itu ada di tangan Samun.</p>
<p>&#8220;Ini seperti telur ular, Kang. Tapi, yang aneh, mengapa telur ular sebesar ini ya? Jangan-jangan ini telur ular naga, Kang. Apa tidak lebih baik kita tinggalkan aja, Kang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ach&#8230; kamu ini, Samin. Biarpun telur ular kalau sudah dimasak yang tetap enak.&#8221;</p>
<p>Lalu mereka pulang ke rumah dengan membawa telur itu. Sesampainya di rumah telur itu diperlihatkan kepada Ki Demang. Ki Demang keheranan. Baru kali ini dia melihat telur sebesar itu.</p>
<p>&#8220;Lumayan untuk lauk makan malam kita, Bapak,&#8221; kata Samun.
&#8220;Mengapa tidak kamu kembalikan saja, Samun? Kasihan yang punya telur pasti kebingungan mencarinya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jangan Bapak. Ini rezeki saya dan Samin, juga rezeki Bapak. Kita tidak usah susah-susah lagi mencari lauk untuk makan malam. Bukan begitu, Samin?&#8221;
&#8220;Eh&#8230; ya, Kang, tapi tidak ada salahnya jika kita menuruti perintah Bapak.&#8221;</p>
<p>Tanpa mempedulikan nasihat dari orang tua dan adiknya, Samun kemudian memasak telur yang ia temukan di hutan. Setelah matang dicicipnya telur itu.</p>
<p>&#8220;Wah&#8230; enak banget rasa telur ini. Daripada aku bagi-bagi dengan Bapak dan Samin, mendingan aku makan semua saja telur ini. Sayang kalau untuk dibagi karena rasa telur ini enak banget,&#8221; kata di Samun dalam hati.</p>
<p>Setelah melahap semua telur yang dimasaknya, Samun kembali ke ruang tengah rumahnya di tempat berkumpul seluruh keluarganya.</p>
<p>&#8220;Kang Samun, sudah kamu masak telur yang kita temukan tadi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak jadi aku masak, sesuai dengan anjuran Bapak dan anjuranmu, telur tadi aku buang,&#8221; jawab Samun berbohong.</p>
<p>&#8220;Och&#8230; baguslah kalau seperti itu, Samun. Nah, karena besok kalian masih harus membuka lahan itu, istirahatlah kalian. Tidur yang nyenyak agar besok pagi tubuh kalian kembali segar dan tenaga kalian pulih kembali,&#8221; tutur Ki Demang kepada anak-anaknya.</p>
<p>Keesokan harinya Samun dan Samin kembali melakukan rutinitasnya. Mereka kembali ke hutan dan membersihkan tanah yang
akan dijadikan ladang dari semak dan belukar.</p>
<p>Pada saat membersihkan semak dan belukar tiba-tiba tubuh Samun terasa sangat panas. Tenggorokannya seperti terbakar api. Lalu ia berlari meninggalkan Samin menuju ke waduk yang letaknya tidak jauh dari lahan yang akan mereka buka.</p>
<p>&#8220;Kang&#8230; Kang Samun&#8230; kamu mau ke mana?&#8221;</p>
<p>Samun tidak mempedulikan panggilan adiknya. Dia tetap berlari dan terus berlari menuju ke waduk untuk mendinginian tubuh dan tenggorokannya. Setelah sampai di tepi waduk, Samun langsung meng ambil air dan minum air waduk itu. Akan tetapi, keanehan terjadi setelah minum air waduk itu rasa panas yang dia alami tidak hilang, melainkan malah semakin menjadi-jadi.</p>
<p>&#8220;Lho mengapa tubuhku menjadi panas sekali? Padahal, aku sudah minum air untuk mendinginiannya.&#8221; Kembali Samun meminum air waduk itu. Namun, betapa terkejutnya Samun. Setelah ia minum beberapa teguk, ia melihat tubuhnya ke luar sisik.</p>
<p>Samun sangat ketakutan dengan perubahan yang terjadi pada tubuhnya. Iapun melihat wajahnya di dalam air waduk yang jernih itu. Betapa terkejutnya dia karena seluruh wajahnya sudah dipenuhi sisik.</p>
<p>&#8220;Hah&#8230; mengapa dapat seperti ini, mengapa wajah dan seluruh tubuhku dipenuhi dengan sisik seperti ini?&#8221; Samun sangat ketakutan dan panik melihat perubahan tubuhnya.</p>
<p>&#8220;Mengapa rasa panas ini tidak kunjung hilang, padahal aku sudah minum air sebanyak-banyaknya.&#8221;</p>
<p>Karena tidak kuat menahan rasa panas di tubuhnya, Samun lalu menceburkan diri ke dalam waduk. Pada saat itu juga tubuhnya berubah menjadi ular. Ular yang besar atau naga.</p>
<p>Setelah berubah menjadi ular, ia pun bersedih dan terus menangis meratapi nasibnya karena perbuatannya sendiri. Ia pun tidak dapat pulang ke rumah karena malu dengan keadaannya yang telah ber-
ubah wujud menjadi ular. Samin masih menunggu kakaknya di dalam hutan.</p>
<p>Dalam hati Samin bergumam, &#8220;Mengapa Kakang Samun meninggalkanku sendirian dengan pekerjaan yang berat seperti ini?
Mengapa dia pulang ke rumah tidak memberitahuku?&#8221;</p>
<p>Samin masih tetap menunggu kakaknya sambil mengerjakan hal yang biasa ia kerjakan. Sampai matahari condong ke arah Barat, Samun belum juga muncul.</p>
<p>Akhirnya, Samin mmemutuskan untuk pulang ke rumah. Samin mengira Samun pulang duluan meninggalkan dirinya di dalam hutan. Namun, begitu sampai di rumah, Samin tidak mendapati Samun di rumah.</p>
<p>Samin mengira Samun bermalam di hutan untuk mengerjakan pekerjaan yang di tinggalkannya. Muncul merasa bersalah dalam diri Samin karena telah meninggalkan kakaknya sendirian di dalam hutan.</p>
<p>Keesokan harinya Samin bergegas menuju ke hutan, tetapi sesampainya di hutan dia tidak menjumpai kakaknya. Dia terus
mencari kakaknya di dalam hutan. Akan tetapi, Samin tidak menemukan kakaknya.</p>
<p>Karena Samun sudah beberapa hari tidak pulang, Demang Wangsa meminta beberapa warga untuk membantunya mencari Samun. Samin dan beberapa warga pun pergi ke sana kemari mencari Samun yang menghilang. Setelah beberapa hari mencari dan tidak menemukan Samun, Samin dan beberapa warga pun merasa lelah. Mereka memutuskan untuk pulang.</p>
<p>Sampai di rumah ia pun mengatakan kepada ayahnya bahwa pencariannya tidak berhasil. Samin tidak menemukan Samun kakaknya.</p>
<p>Karena sudah berhari-hari Samun belum pulang juga, Demang Wangsa Nangga turun tangan sendiri untuk mencari anaknya yang raib entah ke mana. Ki Demang mengajak Samin untuk mencari Samun. Dalam pencariannya mereka menelusuri semak belukar, hutan, dan desa-desa Bahkan sampai di Padepokan Cililin, Rinjing Rumbah, dan Padepokan Damar Wulan.</p>
<p>Di tempat itu pun belum ada tanda-tanda Samun akan dapat ditemukan. Demang Wangsa dan anaknya Samin terus mencari dan mereka sampai di Padepokan Sereh. di tempat itu Demang Wangsa mendapat petunjuk bahwa ia harus mencari ke arah timur, di sana nanti akan menemukan sebuah waduk yang berada di tengah perkebunan karet.</p>
<p>Setelah mendapat petunjuk, Demang Wangsa dan Samin segera melanjutkan pencarian menuju ke arah timur. Betul setelah jauh berjalan ke arah timur, mereka pun sampai di perkebunan karet yang di tengahnya terdapat waduk. Mereka pun mendekati waduk tersebut.</p>
<p>Demang Wangsa dan Samin anaknya menuju pohon beringin yang berada di tepi waduk untuk istirahat sejenak melepaskan lelah. Saat istirahat Demang Wangsa Nangga merasa sangat haus, ia pun me-nuju waduk dan hendak meminum airnya.</p>
<p>Namun, pada saat Demang Wangsa menjulurkan tangan hendak mengambil air, betapa terkejutnya, karena tiba-tiba muncul seekor ular yang amat besar dari dalam waduk. Ular itu menangis sambil meminta tolong.</p>
<p>Ki Demang Wangsa keheranan campur takut, dalam hatinya berkata, &#8220;Kok ada ular dapat menangis dan berbicara?&#8221;
Demang Wangsa pun memberanikan diri untuk bertanya kepada ular tersebut, &#8220;Mengapa kamu menangis? Mengapa pula kamu minta tolong?&#8221;</p>
<p>Ular pun menjawab, &#8220;Maafkan saya, Bapak. Sebenarnya saya adalah Samun yang telah membohongi kalian semua. Aku tidak mem-
buang telur itu Bapak. Aku memasak dan memakan semua telur itu. Karena rasanya sangat nikmat, aku tidak berbagi dengan kalian sesuai dengan perjanjian dengan Samin. Karena keserakahanku aku berubah menjadi ular.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tolong saya, Bapak. Saya ingin menjadi manusia lagi. Saya ingin pulang berkumpul lagi dengan keluarga. Tapi, kalau begini tidak mungkin, aku malu tubuhku sudah berubah menjadi ular.&#8221;</p>
<p>Demang Wangsa berkata, &#8220;Maafkan juga Bapak, Nak. Bapak tidak dapat menolong. Mungkin ini sudah kehendak Dewata. Kamu yang sabar dan ikhlas menjalani, Nak.&#8221;</p>
<p>Demang Wangsa sangat bersedih melihat anaknya telah berubah menjadi ular. Begitu juga Samin, ia sangat sedih karena harus berpisah dengan saudara satu-satunya. Demang Wangsa pun berkata, bila nanti ada perubahan zaman, waduk ini saya beri nama &#8220;Waduk Naga Wangsa&#8221;.</p>
<p>Hingga saat ini Waduk Naga Wangsa masih dapat kita lihat. Letaknya di Desa Kubangkangkung sebelah kanan jalan Cilacap. Menurut beberapa warga, ular jelmaan dari Samun itu terkadang masih
menampakkan diri di sekitar waduk itu.</p>
<p>Copyright : Cerita Rakyat
Balai Bahasa Jawa Tengah, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Tahun 2017.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/ikon-waduk-kubangkung-1200x675.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="675">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[ikon waduk kubangkung]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/ikon-waduk-kubangkung-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[ikon waduk kubangkung]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
	</channel>
</rss>
