<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>Kumpulan Pos Kawunganten &#8211; Story Cilacap.info</title>
	<atom:link href="https://story.cilacap.info/tag/kawunganten/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://story.cilacap.info</link>
	<description>Media Online Masa Kini, Akurat, Mengedepankan Etika</description>
	<lastBuildDate>Sun, 12 Jul 2026 22:26:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	
<image>
<url>https://img.cilacap.info/images/story/favicon-32x32.png</url><title>Kumpulan Pos Kawunganten &#8211; Story Cilacap.info</title>
<link>https://story.cilacap.info</link>
<width>32</width><height>32</height><description>Info Kisah Menarik</description>
</image>
	<item>
		<title>Kisah Alas Kubangkangkung Kawunganten Cilacap yang Konon Angker</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-21330/kisah-alas-kubangkangkung-kawunganten-cilacap-dulu-mitosnya-angker-kini-ramai-dilalui</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 08 Jan 2020 03:18:19 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Cilacap]]></category>
		<category><![CDATA[Kawunganten]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Misteri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-21330/kisah-alas-kubangkangkung-kawunganten-cilacap-dulu-mitosnya-angker-kini-ramai-dilalui</guid>

					<description><![CDATA[Alas Kubangkangkung Kawunganten Cilacap Dulu Mitosnya Angker kini Ramai Dilalui]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Alas Kubangkangkung Kawunganten Cilacap Dulu Mitosnya Angker kini Ramai Dilalui</p>
<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; di Banyuwangi ada alas roban bernama alas purwo yang konon pusat berkumpulnya makhluk astral, namun di Cilacap menurut cerita juga ada. Namanya alas Kubangkangkung masuknya wilayah Kecamatan Kawunganten Kabupaten Cilacap Jawa Tengah.</p>
<p>Alas Kubangkangkung adalah hutan yang ditumbuhi pepohonan jati, di sini juga terdapat jalan besar yang amat vital. Dimana jalan tersebut adalah jalan antar Provinsi yang mana akses jalannya bisa menuju ke Pangandaran, Ciamis, Kota Banjar Jawa Barat dan juga ke timur bisa menuju Wangon Banyumas Jawa Tengah.</p>
<p>Alas Kubangkangkung ini memang memiliki mitos yang angker, selain itu di jalan tersebut juga terdapat Hutan Jati yang panjang. Apabila pada malam hari melaluinya, suasana begitu mencekam dan menyeramkan. Hampir tidak dijumpai rumah-rumah para penduduk di sekitar jalan tersebut.</p>
<p>Kisah horor dan mistis diarea tersebut pun sudah ada dari sejak lama hingga sampai saat ini. Kawasan hutan memang tergolong tempat kegemaran para makhluk-makhluk astral menurut cerita. Konon menurut cerita dari pengendara yang melintas di area tersebut, ada yang pernah diganggu atau hanya sekedar ditampakan sosok lelembut ke pengendara yang melaluinya.</p>
<p>Diarea tersebut memang tidak dijumpai rumah, namun dijumpai para pedagang atau penjual gorengan dan air degan (Kelapa Muda).</p>
<p>Jika siang hari, para pengendara juga banyak yang berhenti sembari beristirahat diarea sekitar.</p>
<h2>Kisah Pengendara Melalaui Alas Kubangkangkung Kawunganten: Bocor Berkali-kali</h2>
<p>Kisah ini dialami oleh Dewi Anggraeni, wanita kelahiran Majenang yang bersuamikan orang Sitinggil Bantarsari dan kini menetap di Solo, Jawa Tengah. Ia mulai menceritakan kejadian aneh yang ia rasakan saat melewati alas robannya Cilacap itu.</p>
<p>Di malam yang sama di jalan yang sama, ban sepeda motor yang dikendarai oleh suaminya bocor sampai 3 kali hingga ia dan suaminya menangis.</p>
<p>&#8220;Saat itu tahun 1997, dimana saya dan suami saya pergi ke rumah sakit di Cilacap dan untuk melaluinya harus melewati alas Kubangkangkung. Saat itu malam hari sekitar pukul 22.00 WIB, kejadian aneh dialami oleh saya dan suami, dimana ban sepeda motor kami bocor 3 kali di tempat yang sama. Pada akhirnya kami berjalan sembari menuntun sepeda motor mencari tukang tambal ban dan mengetuk pintu.&#8221; Kata dia.</p>
<p>Masih menurutnya, saat sampai tempat tambal ban, si tukang tambalnya mengatakan apabila melalui alas kubangkangkung ini harus permisi atau setidaknya membunyikan tlakson.</p>
<p>&#8220;Saya dan Suami sampai nangis-nangis waktu itu, sebab bocor sampai tiga kali. Menurut tukang tambalnya, jika lewat alas kubangkangkung harus permisi. Sesampainya di rumah, kejadian janggal inipun diceritakan kepada mertua, kata mertua hal itu kerjaan hantu sundel bolong.&#8221; Imbuhnya mengisahkan kejadian yang dialaminya kepada Cilacap.info.</p>
<p>Keangkeran Jalan Hutan Kawunganten tidak hanya sebatas gangguan makhluk halus. Issu Begal di alas Kubangkangkung Kawunganten ini juga menghantui para pengendara terutama yang mengendarai kendaraan seorang diri pada malam hari. Memang jalan tersebut jika malam hari begitu sepi.</p>
<h2>Misteri Alas Kubangkangkung yang setiap Musim Kemarau Selalu Kebakaran</h2>
<p>Setiap musim kemarau, hutan atau alas kubangkangkung Kawunganten kerap terjadi kebakaran hutan, tak hanya 1-2 kali namun lebih dari itu.</p>
<p>Ada yang mengatakan hal tersebut disebabkan oleh pengguna jalan yang membuang putung/batang rokok sembarang yang masih terdapat bara api. Sehingga hal itu menyebabkan daun-daun yang jatuh dan mengering menjadi terbakar yang akhirnya meluas.</p>
<p>Kebakaran hutan ini cukup janggal kata salah seorang warga, karena dirinya kurang percaya apabila hal itu terbakar karena sumbu rokok.</p>
<p>&#8220;Rokok sulit membakar daun kering, tapi jika terkena kapas saya percaya, tapi kan nggak ada pohon kapas di area tersebut.&#8221; Ujarnya menceritakan.</p>
<p>Namun salah satu orang lainnya justru mengatakan jika hasil pembakaran itu bisa menjadi pupuk dan tanaman akan menjadi subur.</p>
<h2>Kebakaran Alas Kubangkangkung asapnya mengganggu pengguna jalan yang melintas</h2>
<p>Alas kubangkangkung merupakan jalur vital bisa menuju lintas Kecamatan, Kabupaten, atau Provinsi.</p>
<p>Kawunganten ke Barat : Gandrungmangu, Sidareja, Patimuan, Kedungreja, Cipari, Karangpucung, Majenang, Wanareja, Dayeuhluhur.</p>
<p>Kawunganten ke Timur : Jeruklegi, Kesugihan, Maos, Cilacap Selatan, Cilacap Utara, Cilacap Tengah, Sampang, Adipala, Kroya, Binangun. Dan atau ke Kampung Laut.</p>
<p>Lintas Kabupaten : Kearah timur ada Adipala Wangon Banyumas, dan bisa menuju jalan utara pantura Brebes, Tegal, Cirebon.</p>
<p>Lintas Provinsi : Pangandaran via Sidareja &#8211; Patimuan, Tasikmalaya, Ciamis, Kota Banjar via Sidareja &#8211; Kedungreja.</p>
<p>Sehingga apabila kebakaran, asap yang ditimbulkan akan berdampak sangat mengganggu bagi pengguna jalan yang melintas di jalan ini.</p>
<h2>Di Kubangkangkung Kawunganten Cilacap ini mempunyai Cerita Rakyat, yakni Legenda Naga Wangsa</h2>
<p>Konon dahulu ada seseorang yang berubah menjadi naga saat mencari kayu bakar di hutan kubangkangkung setelah menemukan sebuah telur berukuran besar.</p>
<p>Telur itu kemudian dibawa ke rumah, niatnya akan dimasak dan disantap bersama saudara dan ayahnya.</p>
<p>Namun, ayahnya meminta agar telur tersebut dikembalikan ke tempat asalnya, tapi telur tersebut bukannya dikembalikan malah disantap seorang diri.</p>
<p>Setelah memakan telur tersebut, ia kemudian menjadi naga dan bertempat di sebuah waduk bernama waduk Kubangkangkung.</p>
<p>Sang ayah khawatir, karena sang anak tak kunjung pulang, ia kemudian menyuruh anaknya yang satu lagi untuk mencari saudaranya di hutan. Namun setelah dilakukan pencarian mengelilingi hutan tidak berhasil bertemu saudaranya.</p>
<p>Akhirnya sang ayah pun memanggil orang pintar, orang pintar tersebut kemudian menemukan seekor naga sedang menangis di waduk itu yang ternyata adalah jelmaan dari anaknya.</p>
<p>Saat itu ayahnya merasa sedih mengetahui anaknya telah berubah menjadi Ular Naga dan sang naga itu kemudian meminta maaf karena tak menuruti perkataan ayahnya dan juga serakah memakan telur itu sendiri.</p>
<p>Namun meskipun telah meminta maaf kepada sang ayah, tidak membuatnya berubah seperti sediakala yakni menjadi manusia kembali.</p>
<h2>Alas Kubangkung Kawunganten Punya Kisah Angker Namun Memiliki Wisata yang ramai Dikunjungi</h2>
<p>Meski mitosnya dahulu terkesan Angker di Kubangkangkung Kawunganten, namun di sini di tengah alas (hutan) ini terdapat Obyek Wisata. Nama wisata tersebut adalah Waduk Kubangkangkung. Danau atau waduk ini juga tidak pernah kering meski pada musim kemarau.</p>
<p>Padahal diketahui, bahwasanya kawunganten sendiri adalah Kecamatan yang jadi langganan kekurangan sumber air bersih jika kemarau tiba. Namun ajaibnya danau Kubangkangkung malah tidak mengering.</p>
<p>Danau atau Waduk Kubangkangkung itu memiliki sebuah ikon bunga atau kembang dari Kangkung. Konon katanya nama Desa di Kecamatan Kawunganten ini dahulu adalah Kubangan yang ditumbuhi pohon-pohon Kangkung sehingga sampai sekarang dikenal dengan nama Kubangkangkung.</p>
<p>Waduk Kubangkangkung ini adalah salah satu destinasi wisata di Kabupaten Cilacap yang di dalamnya terdapat berbagai fasilitas. Ada tempat bermain anak seperti mandi Bola, Spot Selfi di sebuah jembatan dengan tulisan Love (cinta). Ada kereta-keretaan, bebek-bebekan air. Terdapat WC Umum (Toilet), Mushola. Selain itu danaunya juga bisa untuk memancing ikan.</p>
<p>Namanya Koebangkangkoeng, namun lebih mudahnya orang-orang menyebutnya Kubangkangkung. Jika menilik namanya yakni Koebangkangkoeng seperti nama pada jaman dulu atau doeloe. Usut punya usut ternyata memang sudah ada sejak lama yakni pada jaman kolonial belanda sudah dibangun. Berdasarkan sumber sejarah, Waduk yang dibuat pada kala itu digunakan untuk pengumpulan dan penyimpanan air bersih.</p>
<p>Tarif memasuki Destinasi Wisata Kubangkangkung di Kecamatan Kawunganten Cilacap ini dikenakan biaya Rp. 10.000 per orang dan sudah termasuk kendaraan sepeda motor.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2020/01/20/penampakan-jalan-di-alas-kubangkangkung-kawunganten-cilacap-1200x675.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="675">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[penampakan jalan di alas kubangkangkung kawunganten cilacap]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2020/01/20/penampakan-jalan-di-alas-kubangkangkung-kawunganten-cilacap-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[penampakan jalan di alas kubangkangkung kawunganten cilacap]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Mengenal Syaikh Mas&#8217;ud asal Kawunganten Cilacap</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-17195/mengenal-syaikh-masud-asal-kawunganten-cilacap</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Jurnalisme Warga]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 29 Aug 2019 01:20:57 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Kawunganten]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-17195/mengenal-syaikh-masud-asal-kawunganten-cilacap</guid>

					<description><![CDATA[CILACAP.INFO &#8211; Tak banyak Kiai di Indonesia yang mendapatkan gelar &#8220;Syaikh&#8221;. Gus Mus-sebagaimana disampaikan ulang oleh Kiai Husein Muhammad (2015).]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Tak banyak Kiai di Indonesia yang mendapatkan gelar &#8220;Syaikh&#8221;. Gus Mus-sebagaimana disampaikan ulang oleh Kiai Husein Muhammad (2015).</p>
<p>Beliau kiai Husein Pernah menyampaikan kepada publik dalam sebuah seminar bahwa sebutan Syaikh hanya disandang oleh dua orang kiai, yaitu Syaikh Duki (Masduqi) Lasem, kiai ahli ushul fikih dan satunya aku sudah lupa.</p>
<p>Mungkin, yang dimaksud Gus Mus dalam kutipan di atas memang tengah mengecualikan beberapa ulama Indonesia yang sudah masyhur bergelar Syaikh. Seperti Syaikh Ihsan Jampes Kediri, Syaikh Mahfudz At-Termasi Pacitan, ataupun ulama Indonesia yang datang belakangan dan berkiprah di Timur Tengah. Seperti Syaikh Yasin Padang (Allahu Yarhamhum).</p>
<p>Pertanyaannya kemudian adalah siapa Syaikh -selain Syaikh Masduqi- yang tidak sempat disebutkan oleh Kiai Husein di atas?. Saya menduga Syaikh yang namanya tidak disebutkan oleh Kiai Husein tersebut adalah Syekh Mas’ud Kawunganten Cilacap.</p>
<p>Dugaan ini didasarkan pada artikel Gus Dur yang pernah diterbitkan di majalah Tempo tanggal 18 September 1982. Dalam artikel yang diberi judul Syekh Mas’ud Memburu Kitab ini, Gus Dur mengulas sosok Kiai Mas’ud yang memiliki pengetahuan mendalam dalam disiplin ilmu Ushul Fiqh beserta kaidahnya.</p>
<p>&#8220;Dua perangkat yang harus dikuasai dengan baik oleh seorang ahli hukum Islam yang sehingga ia layak disebut seorang &#8220;Syaikh&#8221;.&#8221; Tandas Gus Dur.</p>
<p>Syaikh Mas’ud, masih menurut Gus Dur- adalah kiai yang berhasil &#8220;menyelamatkan&#8221; naskah Mahahijul Imdad. Sebuah karya Syaih Ihsan Jampes yang berisi tentang komentar atas kitab Irsyadul Ibad.</p>
<h2>Mengenal Syaikh Mas’ud</h2>
<p>Syekh Mas’ud lahir di Kawunganten Cilacap dari pasangan Muhyidin dan Sangadah pada tahun 1923. Ia anak kedua dari sembilan bersaudara. Ayahnya adalah seorang guru ngaji di masyarakat yang bekerja sebagai buruh tani.</p>
<p>Syekh Mas’ud adalah seorang tipikal kiai yang sederhana. Meskipun dikenal memiliki kecapakan dan keahlian yang luar biasa, penampilannya sangat sederhana. Dalam hal ini, Gus Dur (1982) mengungkapkan:</p>
<p>Orangnya sederhana. Dalam pergaulan sangat bersikap rendah hati kepada orang lain, Bahkan kepada yang lebih muda umurnya sekalipun. Suaranya tidak pernah dikeraskan. Penampilannya adalah penampilan kiai ‘kampung’ yang tidak ada ‘kegagahan’nya sedikit pun.</p>
<h2>Pendidikan Syaikh Mas&#8217;ud Kawunganten Cilacap</h2>
<p>Pendidikan agamanya dimulai dari ayahnya sendiri. Kemudian saat usianya menginjak umur sepuluh tahun ia dikirim oleh ayahnya untuk belajar kepada Kiai Hanafi di Desa Sarwadadi yang lokasinya tidak jauh dari tempat tinggalnya.</p>
<p>Di bawah asuhan Kiai Hanafi ia belajar al-Quran dan menamatkannya di tahun 1936. Kemudian tanpa sepengetahuan ayahnya, ia melanjutkan belajarnya ke Mojosari Kebumen. di bawah bimbingan Kiai Ahmad, Mas’ud memperdalam ilmu gramatikalnya hingga menghafal dan memahami kitab Alfiyyah Ibn Malik.</p>
<p>Setelah belajar selama empat tahun di Kebumen, Mas’ud merasa semakin dahaga dalam mempelajari ilmu agama. Pada tahun 1940 ia melanjutkan pengembaraannya ke pesantren Al-Ihsan Jampes dan belajar langsung di bawah asuhan Syekh Ihsan Jampes. di sini ia belajar selama tujuh tahun dan memfokuskan diri untuk lebih memperdalam pengetahuannya di bidang ilmu fikih.</p>
<p>Dari Pesantren al-Ihsan Jampes, tepatnya pada tahun 1947, ia melanjutkan pendidikannya ke pesantren Darul Hikam Bendo Pare Kediri. Sebuah pesantren &#8220;keramat&#8221; yang melahirkan sejumlah Kiai-Kiai besar di seantero Jawa.</p>
<p>Sebut saja Mbah Sahal Mahfudz (Rais Aam PBNU 1999-2014), Abuya Dimyathi Banten, Syekh Mahmud Bode Cirebon, dan Kiai-Kiai besar lainnya. di Pesantren Bendo ini, Syekh Mas’ud selama sepuluh tahun mempelajari lebih dalam tentang disiplin ilmu fikih beserta kaidah-kaidahnya.</p>
<p>Selain belajar dipesantren-pesantren yang telah disebutkan di atas, Syekh Mas’ud tercatat belajar ke sejumlah pesantren dan Kiai besar lainnya di tanah Jawa. Seperti kepada KH. Zubair bin Dahlan (ayahanda Mbah Maimun Zubair) Al-Anwar Sarang Rembang, Syaikh Masduqi Lasem (ayah mertua KH. Taufiq Pekalongan dan KH. Miftakhul Akhyar wakil Rais Aam PBNU 2015-2020), KH. Wahid Hasyim Tebu Ireng Jombang, KH. Ahmad Syu’aib Sarang Rembang, hingga belajar kepada Syaikh Ismail Zain Yaman dan Syaikh Yasin Padang. (Islami.co)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured-1200x675.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="675">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[cilacap info featured]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[cilacap info featured]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Kisah Waduk Kubangkangkung yang Tak Pernah Kering</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-16604/kisah-waduk-kubangkangkung-yang-tak-pernah-kering</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Hasan Bahtiar]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 09 Aug 2019 17:29:39 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Kawunganten]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Waduk Kubangkangkung]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-16604/kisah-waduk-kubangkangkung-yang-tak-pernah-kering</guid>

					<description><![CDATA[CILACAP.INFO &#8211; Jalan-jalan ke kota Cilacap melalui jalur Alternatif Cikangleuleus Wanareja, Cipari, Sidareja, Gandrungmangu dari arah barat. Nanti akan dijumpai sebuah jalan menanjak dan agak menikung yang didamping disi-sisi jalannya adalah Pepohonan berjenis Karet. ]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Jalan-jalan ke kota Cilacap melalui jalur Alternatif Cikangleuleus Wanareja, Cipari, Sidareja, Gandrungmangu dari arah barat. Nanti akan dijumpai sebuah jalan menanjak dan agak menikung yang didamping disi-sisi jalannya adalah Pepohonan berjenis Karet. </p>
<p>Di lokasi tersebut menuju jeruklegi atau sebaliknya memang terkenal dengan Hutan Karet yang panjang. Apabila pada malam hari melaluinya, suasana begitu mencekam dan menyeramkan. Hampir tidak dijumpai rumah-rumah para penduduk di sekitar jalan tersebut. Melainkan hanya ada orang-orang yang menjual Kelapa Muda. </p>
<p>Kisah horor dan mistis diarea tersebut pun sudah ada dari sejak lama hingga sampai saat ini. Kawasan hutan memang tergolong tempat kegemaran para makhluk-makhluk astral. Konon menurut cerita dari pengendara yang melintas di area tersebut, ada yang pernah diganggu atau hanya sekedar ditampakan sosok lelembut ke pengendara yang melaluinya.</p>
<p>Keangkeran Jalan Hutan Kawunganten tidak hanya sebatas gangguan makhluk halus. Issu Begal di kawasan ini juga menghantui para pengendara terutama yang mengendarai kendaraan seorang diri pada malam hari. Memang jalan tersebut jika malam hari begitu sepi.</p>
<p><H2>Waduk Kubangkangkung Kawunganten Airnya tak Pernah Kering</H2></p>
<p>Meski terkesan angker dan dipenuhi hutan. Ternyata di sebuah Jalan Kawung Kecamatan Kawunganten Kabupaten Cilacap terdapat sebuah Waduk atau Danau yang airnya tidak kering meski pada musim kemarau. </p>
<p>Diketahui, kawunganten sendiri adalah Kecamatan yang jadi langganan kekurangan sumber air bersih jika kemarau tiba. Namun ajaibnya danau bernama Kubangkangkung malah tidak mengering. </p>
<p>Danau atau Waduk Kubangkangkung itu memiliki sebuah ikon bunga atau kembang dari kangkung. Konon katanya nama desa di kecamatan kawunganten ini dahulu adalah kubangan yang ditumbuhi pohon-pohon kangkung sehingga sampai sekarang dikenal dengan nama Kubangkangkung. </p>
<p>Waduk Kubangkangkung ini adalah destinasi wisata di Kabupaten Cilacap yang di dalamnya terdapat berbagai fasilitas. Ada tempat bermain anak seperti mandi Bola, Spot Selfi di sebuah jembatan dengan tulisan Love. ada kereta-keretaan, bebek-bebekan air. Terdapat WC Umum (Toilet), Mushola. Selain itu danaunya juga bisa untuk memancing ikan. </p>
<p>Namanya Koebangkangkoeng namun mudahnya kubangkangkung. Seperti nama pada jaman dulu atau doeloe. Usut punya usut ternyata memang sudah ada sejak lama yakni pada jaman kolonial belanda sudah dibangun. Waduk yang dibuat pada kala itu digunakan untuk pengumpulan dan penyimpanan air bersih. </p>
<p>Tarif memasuki Destinasi Wisata Kubangkangkung di Kecamatan Kawunganten Cilacap ini dikenakan biaya Rp. 10.000 per orang dan sudah termasuk kendaraan sepeda motor.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/ikon-waduk-kubangkung-1200x675.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="675">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[ikon waduk kubangkung]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/ikon-waduk-kubangkung-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[ikon waduk kubangkung]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
	</channel>
</rss>
