<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>Kumpulan Pos Kisah &#8211; Story Cilacap.info</title>
	<atom:link href="https://story.cilacap.info/tag/kisah/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://story.cilacap.info</link>
	<description>Media Online Masa Kini, Akurat, Mengedepankan Etika</description>
	<lastBuildDate>Mon, 04 Sep 2023 15:27:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	
<image>
<url>https://img.cilacap.info/images/story/favicon-32x32.png</url><title>Kumpulan Pos Kisah &#8211; Story Cilacap.info</title>
<link>https://story.cilacap.info</link>
<width>32</width><height>32</height><description>Info Kisah Menarik</description>
</image>
	<item>
		<title>Habib Ahmad Bafaqih, Wali Allah Penuh Karomah Dari Tempel Jogja</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-53305/habib-ahmad-bafaqih-wali-allah-penuh-karomah-dari-tempel-jogja</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 May 2023 08:58:25 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Habaib]]></category>
		<category><![CDATA[Jogja]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-53305/habib-ahmad-bafaqih-wali-allah-penuh-karomah-dari-tempel-jogja</guid>

					<description><![CDATA[YOGYAKARTA,  aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Edisi Selasa, 09 Mei 2023, Bagi masyarakat di Tempel, Sleman, Habib Ahmad bin Ali Bafaqih begitu dikenal. Bahkan saat haulnya di minggu terakhir bulan Syawal dipastikan selalu ramai didatangi ribuan warga dan peziarah.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>YOGYAKARTA</strong>, <a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Edisi Selasa, 09 Mei 2023, Bagi masyarakat di Tempel, Sleman, Habib Ahmad bin Ali Bafaqih begitu dikenal. Bahkan saat haulnya di minggu terakhir bulan Syawal dipastikan selalu ramai didatangi ribuan warga dan peziarah.</p>
<p>Habib Ahmad Bafaqih adalah putra dari Habib Ali Bafaqih. Dia dikenal sebagai sosok yang tegas. Beliau terlahir dengan keadaan cacat. Dengan keterbatasan fisiknya ini Ahmad Bafaqih sering kali mengalami cacian dan hinaan dari orang-orang sekitarnya.</p>
<p>Hebatnya semua cacian dan hinaan itu dia terima dengan sabar, Ahmad Bafaqih tak pernah membalas cacian itu. Meski dengan keterbatasan fisik maupun kekurangan harta, dia selalu sabar.</p>
<p>Di masa mudanya Ahmad Bafaqih pernah berjualan kecil-kecilan seperti berjualan korek api walaupun hasilnya tidak menguntungkan. </p>
<p>Kondisi kekurangan fisik maupun cobaan lainnya seperti kekurangan harta membuat Ahmad Bafaqih selalu berserah diri kepada Allah SWT. </p>
<p>Konon dengan kesabaran, dan kesucian hati, dia dianugerahi ilmu ladunni. Menurut cerita Ilmu tersebut didapatnya saat sedang berdiam diri di salah satu masjid di Yogyakarta. </p>
<p>Banyak pejabat hingga artis turut mengambil keberkahan beliau. Salah satunya adalah Wakil Presiden RI H Adam Malik yang kemudian membuatkan kubah makam untuk Habib Ahmad Tempel dan ayahandanya.</p>
<p>Banyak cerita yang menyebut karamah beliau. Salah satu kisah yang beredar adalah beliau tahu berita terbaru padahal tak membaca koran, mendengarkan radio ataupun menonton televisi.</p>
<p>Beliau juga dikatakan telihat berhaji di Mekkah padahal beliau saat itu tak pergi kemana-mana.</p>
<p>Selain itu banyak orang yang sakit menjadi sembuh dengan izin Allah melalui karamah Habib Ahmad Tempel. Salah satu cerita yang beredar adalah saat Adam Malik diberitakan sakit.</p>
<p>Oleh tim medis kepresidenan dan tim medis dari luar negeri menyatakan bahwa beliau mengidap suatu penyakit yang sulit disembuhkan. </p>
<p>Kemudian keluarga Adam Malik mengundang Habib Ahmad Bafaqih ke Jakarta bersama Habib Muhammad menantu beliau. Usai Adam Malik dirajah oleh Habib Ahmad Bafaqih, penyakit Adam Malik sembuh total. </p>
<p>Kini dakwah Habib Ahmad Bafaqih Tempel diteruskan di antaranya oleh putra beliau, Habib Umar bin Ahmad Bafaqih (Sokaraja), Habib Ali bin Ahmad Bafaqih (Jogjakarta), kemudian oleh habib Muhammad Hamid Bafaqih (menantu dan juru kunci makam), Habib Husein bin Abdullah Assegaf (Sedayu, Jogja) dan Habib Zein Magelang.</p>
<p>Sedangkan di Kalsel, murid beliau yang terkenal adalah Guru Haji Asmuni (Guru Danau).</p>
<p>Diantara ijazah wirid dari Habib Ahmad Tempel adalah, &#8220;Jika kita ada hajat khusus hendaklah membaca Allahumma shalli ‘ala sayyidina muhammadin wa ‘ala aali sayyidina muhammad,&#8221; sebanyak 124 kali bisa dicicil maksimal dalam jangka 40 hari.</p>
<p>Habib Ahmad Tempel sebenarnya wafat pada bulan Sya’ban. Sedangkan haul Ahad terakhir bulan Syawwal adalah haul ayahandanya, yakni Habib Ali bin Ahmad Bafaqih.</p>
<p>Karena haul Ahad terakhir bulan Syawwal sudah berlangsung sejak jaman Habib Ahmad Tempel hidup, maka waktu haul ini tetap dipertahankan di Kemusuh.</p>
<p>Acara puncak haul beliau sendiri terdiri dari 2 sesi, malam Ahad ziarah kubra dan tahlil sedangkan Ahad Shubuh Maulid Nabi SAW. (***)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2023/05/09/Habib-Ahmad-Bafaqih-Tempel-Jogja.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[Habib Ahmad Bafaqih Tempel Jogja]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2023/05/09/Habib-Ahmad-Bafaqih-Tempel-Jogja-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[Habib Ahmad Bafaqih Tempel Jogja]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Redaktur GMNU Cyber Team: Joko Tingkir adalah Wali Allah dan Keturunan Rasulullah</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-49349/redaktur-gmnu-cyber-team-joko-tingkir-adalah-wali-allah-dan-keturunan-rasulullah</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Huda]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Aug 2022 02:24:26 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Jaka Tingkir]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-49349/redaktur-gmnu-cyber-team-joko-tingkir-adalah-wali-allah-dan-keturunan-rasulullah</guid>

					<description><![CDATA[ aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Redaktur GMNU Cyber Team sekaligus founder Cilacap.info, Bahtiar menyoroti sebuah lagu dangdut yang tengah viral yang dalam judul dan isinya terdapat nama Joko Tingkir.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Redaktur GMNU Cyber Team sekaligus founder Cilacap.info, Bahtiar menyoroti sebuah lagu dangdut yang tengah viral yang dalam judul dan isinya terdapat nama Joko Tingkir.</p>
<p>Pegiat Media Sosial yang diminta untuk mengelola laman Islampers.com sebagai laman Official GMNU, terlihat Bahtiar mempublish nasab Joko Tingkir.</p>
<p>Saat dikonfirmasi, Bahtiar mengatakan bahwa lagu dangdut berjudul &#8220;Joko Tingkir Ngombe Dawet&#8221; ini memang kerap distel oleh anak-anak muda dan mudah dijumpai serta didengar di mana-mana.</p>
<p>&#8220;Saya manut ulama saja lah, jika ada Ulama NU dan Masyarakat menyatakan keberatan dengan lagu yang membawa-bawa nama Joko Tingkir, saya sebagai warga Nahdliyin tentu akan ikut beliau-beliau (Ulama) dan Masyarakat, adapun jika Masyarakat dan Ulama keberatan, itu artinya masyarakat dan Ulama sangat menghormati sosok Joko Tingkir, karena Joko Tingkir ini bukanlah orang sembarangan, Beliau adalah Wali Allah, sehingga nama beliau sangat sakral dan harus dimuliakan.&#8221; Kata Bahtiar.</p>
<p>Ia menceritakan bahwa Joko Tingkir bukanlah tokoh fiksi yang hanya diceritakan dalam sebuah buku kisah-kisah dan film-film, melainkan Beliau ini Sosok yang nyata dan merupakan Ulama dan Cucu Rasulullah SAW.</p>
<p>&#8220;Joko Tingkir ini tokoh nyata, bukan tokoh fiksi yang kemudian difilmkan, beliau merupakan Ulama dan keturunan Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi Wasallam yang juga diketahui bahwa Beliau adalah murid dari Kanjeng Sunan Kalijaga. Beliau memiliki 40 Karomah.&#8221; Kata Bahtiar.</p>
<p>Bahtiar menjelaskan ia mengetahui berdasarkan apa yang dikatakan oleh KH Abdurrahman Wahid dalam syiir Sigro Milir dalam suatu tayangan youtube yang dipublish pada tahun 2003 saat Beliau (Gus Dur) berceramah dalam acara Maulid Nabi di Gresik Jawa Timur.</p>
<p>&#8220;Saya melihat dalam salah satu kanal di Youtube yang terdapat konten ceramah Almaghfurlah Gus Dur yang tengah menceritakan Joko Tingkir. Jadi, Beliau Almaghfurlah Kiai Haji Abdurrahman Wahid pernah mengatakan tentang isi daripada Syiir Sigro Milir, bahwa menurut Beliau dalam syiir tersebut sebetulnya menceritakan tentang Sultan Hadiwijaya atau Joko Tingkir asal Pajang yang memiliki 40 kesaktian.&#8221; Kata Bahtiar.</p>
<p>Sedangkan, masih lanjut dia, Kesaktian yang dimaksud Gus Dur ini bisa dikatakan dengan Karomah, namun Karomah Wali Allah tidak mungkin diceritakan oleh dirinya sendiri. </p>
<p>&#8220;Kesaktian yang dimiliki oleh orang soleh seperti Raden Joko Tingkir ini biasa disebut oleh masyarakat di Indonesia dengan Karomah. Seorang Wali Allah juga tidak akan mungkin menceritakan tentang Karomahnya sendiri sebab itu merupakan sifat ujub yang justru dijauhi oleh seorang Wali Allah. Akan tetapi karomah itu bisa diketahui oleh orang lain yang kemudian menjadi saksi dan diceritakan kepada Masyarakat. Buktinya kan ada, yang menceritakan kisah karomah Joko Tingkir justru orang lain seperti yang terdapat dalam syiir Sigro Milir.&#8221; Terang Bahtiar.</p>
<p>Sementara terkait orang sakti yang ngaku-ngaku wali di era teknologi, Bahtiar mengatakan jangan dipercaya.</p>
<p>&#8220;Orang yang membicarakan di mana-mana di internet bahwa dirinya memiliki karomah yang diberikan Tuhan, pamer akrobat kebal meski entah itu benar atau tidak, itu jelas bukan wali tapi orang cari cuan untuk memperkaya diri.&#8221; Ujar Bahtiar.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/08/13/joko-tingkir-by-topo-pinterest.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[joko tingkir by topo pinterest]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/08/13/joko-tingkir-by-topo-pinterest-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[joko tingkir by topo pinterest]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Syekh Nahrawi Al-Banyumasi, Mursyid Tarekat Syadziliyah asal Purbalingga</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-49066/syekh-nahrawi-al-banyumasi-mursyid-tarekat-syadziliyah-dan-pengarang-kitab-di-hijaz-asal-purbalingga</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Aji Setiawan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 Jul 2022 11:52:26 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Purbalingga]]></category>
		<category><![CDATA[Syekh Nahrowi al-Banyumasi]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-49066/syekh-nahrawi-al-banyumasi-mursyid-tarekat-syadziliyah-dan-pengarang-kitab-di-hijaz-asal-purbalingga</guid>

					<description><![CDATA[PURBALINGGA,  aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Syekh Nahrawi Al-Banyumasi, Beliau adalah Mursyd Tarekat Syadziliyah dan Pengarang Kitab di Hijaz yang berasal dari Purbalingga.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PURBALINGGA</strong>, <a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Syekh Nahrawi Al-Banyumasi, Beliau adalah Mursyd Tarekat Syadziliyah dan Pengarang Kitab di Hijaz yang berasal dari Purbalingga.</p>
<p>Syekh Nahrawi Al-Banyumasi adalah seorang ulama asal Indonesia yang sangat mahsyur di tanah Arab. Beliau lahir di Purbalingga pada tahun 1860. Nama aslinya adalah Kiai Mukhtarom.</p>
<p>Kemudian tafa’ulan kepada gurunya sehingga namanya menjadi Nahrawi. Nama lengkap beliau adalah &#8220;Ahmad Nahrawi Mukhtarom bin Imam Raja Al-Banyumasi Al-Jawi&#8221;.</p>
<p>Biografinya terdapat di kitab A’lamul Makiyyin yang ditulis oleh Syekh Abdullah Muallimi. Ada di entri nomor 1431 halaman 964,&#8221; ujar penulis buku Mahakarya Islam Nusantara itu.</p>
<p>Syekh Nahrawi wafat pada tahun 1926 pada usia 86 tahun dan dimakamkan Ma’la di Makkah. Meski demikian kiprah dakwahnya di tanah air tidak pernah terputus. Dakwah terus bersambung dilanjutkan keluarganya di Purbalingga.</p>
<p>Masa kecil Nahrowi dilewatinya dengan belajar Al-Qur’an dan ilmu agama kepada ayahnya, Kyai Haji Harja Muhammad yang juga dikenal dengan Imam Masjid Darussalam Purbalingga.</p>
<p>Syekh Nahrawi dan saudaranya, Kyai Haji Abu ‘Ammar melanjutkan pembelajaran di Makkah. Saat itu, usia Syekh Nahrawi baru 10 tahun.</p>
<p>Namun, Syekh Nahrawi telah memperoleh surat izin mengajar di Masjidil Haram karena ketekunannya dalam mencari ilmu. Beliau bahkan sempat menjadi seorang hakim agung.</p>
<p>Saat itu juga Makkah menjadi pusat peradaban ilmu dengan guru-guru ulama yang sangat mumpuni seperti Syekh Muhammad al-Maqri a-Mishri al-Makki, Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasballah, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, mufti madzab Syafi’iyah di Makkah, Syekh Ahmad An-Nahrawi al-Mishri al-Makki,  Sayyid Muhammad Shalih al-Zawawi al-Makki, salah seorang guru di Masjid Nabawi dan lain-lain.</p>
<p>Sejak itu, Syekh Nahrawi tidak kembali ke Nusantara. Beliau memilih berkarier di Makkah dan guru yang ulung. Berbeda dengan sang kakak, Abu ‘Ammar. Ia pulang ke tanah air dan menjadi Imam Masjid Agung Purbalingga.</p>
<p>Kyai Haji Abu ‘Ammar  pulang dari Makkah langsung menghidupkan dan memakmurkan Masjid Agung Purbalingga. Masjid tersebut merupakan peninggalan Mbah Abu ‘Ammar dan keluarganya. Sebab, tanah wakaf itu atas nama Kyai Haji Hardja Muhammad yang tidak lain adalah ayah Mbah Abu ‘Ammar .</p>
<p>Kyai Haji Abu ‘Ammar  juga dikenal dengan kelapangan dan luwes dalam bergaul. Hal itu dibuktikan dengan kedekatan Mbah Abu ‘Ammar  dengan tokoh lintas organisasi, seperti Kyai Haji Hasyim Asy’ari (NU) dan Kiai Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) pernah datang dan berdiskusi di Masjid Kauman semasa Mbah Abu ‘Ammar.</p>
<p>Bahkan Syekh Syurkati, pendiri Al Irsyad Al Islamiyah dari Makkah dikabarkan juga pernah bertandang. Kyai Haji Abu ‘Ammar  adalah seorang intelektual muslim yang sangat disegani tidak saja pada regional Banyumas akan tetapi juga nasional.</p>
<p>Kancah KH. Abu ‘Ammar di tingkat nasional bisa ditelusur ketika berteman akrab dengan seorang hakim Belanda yang sangat terkenal yaitu Prof. Terrhar.</p>
<p>Diskusi yang intens Kyai Haji Abu ‘Ammar  ini dengan Terrhar ini kemudian memunculkan perlunya sebuah peradilan bagi kaum inderland tersendiri yang terpisah dengan landrat yang ada ketika itu.</p>
<p>Peradilan ini hanya diberlakukan buat kaum inderlands yang berhubungan dengan hukum-hukum perdata (Begerlijc Wetbook). Sektor yang diurus oleh peradilan ini meliputi pernikahan, perceraian, hukum waris. Peradilan ini kemudian dikenal dengan Pengadilan Agama.</p>
<p>Peradilan agama ini telah berkembang sekarang sampai keseluruh persada nusantara. Dalam sejarah peradilan di Indonesia, pengadilan agama ini telah menjadi salah satu dari empat peradilan di Indonesia.</p>
<p>Pengadilan Agama telah sama kedudukannya dengan pengadilan umum serta di bawah satu atap Mahkamah Agung. Bahkan kewenangan Pengadilan Agama kini telah meluas tidak saja hal-hal yang berkenaan dengan hukum Perdata tapi juga menerima sengketa pidana yang bersifat syariah.</p>
<p><strong>Menjadi Guru di Makkah</strong></p>
<p>Sementara Syekh Ahmad Nahrowi Mukhtarom Al Banyumasi tidak mau pulang ke tanah Jawa. Bahkan oleh Pemerintah Saudi Syekh Ahmad Nahrowi Mukhtarom diangkat menjadi guru mengajar santri dari berbagai Negara.</p>
<p>Beliau Banyak mempunyai murid dan bahkan menjadi hakim agung di Arab Saudi (lihat; Islam transformasi; Azyumardi Azra; Gramedia; 1997).</p>
<p>Tidak satupun pengarang kitab di Haromain; Makkah-Madinah, terutama ulama-ulama yang berasal dariIndonesia yang berani mencetak kitabnya sebelum ada pengesahan dari Syekh Ahmad Nahrowi Mukhtarom Al Banyumasi.</p>
<p>Sehingga bisa dipastikan waktu Syekh Ahmad Nahrowi Mukhtarom al Banyumasi ini habis untuk mengkoreksi, mengedit dan mentahshih ratusan kitab karya ulama-ulama Nusantara yang pada waktu itu terkenal sangat produktif menulis karya.</p>
<p>Seperti Syekh Mahfudz Al Tremasi, Syekh Soleh Darat, Syekh  Nawawi Al-Bantani, Syekh Kholil Al Bangkalani, Syekh Junaid Al Batawi  dan lain-lain. Syekh Nahrowi iabaratnya adalah editor handal dari kitab-kitab klasik ulama-ulama Nusantara pada masa itu.</p>
<p>Syekh Nahrawi banyak mengoreksi ratusan kitab karya ulama-ulama Nusantara seperti Syekh Mahfudz Al Tremasi dan Syekh Nawawi Al Bantani.</p>
<p>Kala itu, para pengarang kitab, terutama yang berasal dari Indonesia, enggan mencetak karyanya sebelum diberi rekomendasi atau taqrizh oleh Syekh Nahrawi.</p>
<p>Beberapa karya tersebut adalah Fathul Majid Syarh Jauharatut Tauhid karya Syekh Husain bin Umar Palembang dan fatwa Al-Ajwibatul Makkiyah ‘alal As’ilatil Jawiyyah oleh Syekh Abdullah bin Abdurrahman Siraj.</p>
<p>Nah, menurut Syekh Nahrawi, kitab yang ditulis Syekh Abdullah berisi jawaban atas beragam persoalan di Nusantara seperti tradisi tahlil, mauludan, dan ziarah kubur.</p>
<p>pada Juli 2017 lalu, Komunitas Pegon di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Tengah menemukan karya tulis Syekh Nahrawi. Karya tersebut ditemukan saat mereka memeriksa kardus-kardus berisi kitab peninggalan Kiai Faqih Cemoro.</p>
<p>Kitab sepanjang delapan halaman itu merupakan catatan atau taqliq dari Risalah Iti’arat karya Syekh Ahmad bin Zaini Dahlan Al-Makki, seorang mufti Mekah yang menjadi guru Syekh Nahrawi.</p>
<p><strong>Menjadi Mursyid Thariqah</strong></p>
<p>Selain mengasas kitab, Syekh Ahmad Nahrowi juga menjadi Mursyid Thariqah Syadziliyah. Thariqah Syadziliyah muncul secara Besar-besaran di tanah Jawa baru di abad 19 ketika para santri Jawa yang sebelumnya berbondong-bondong belajar di Makkah dan Madinah pulang ke tanah air</p>
<p>Generasi awal adalah KH. Idris, pendiri Pesantren Jamsaren, Solo, yang mendapatkan ijazah kemursyidannya dari Syekh Muhammad Shalih, seorang mufti Madzhab Hanafi di Makkah.</p>
<p>Sementara guru-guru mursyid Syadziliyyah Jawa yang lain belajar pada generasi sesudah Syekh Shalih, yakni Syekh Ahmad Nahrawi Mukhtarom yang seangkatan dengan Kyai Idris Jamsaren saat berguru kepada Syekh Muhammad Shalih.</p>
<p>Ulama-ulama Jawa yang berguru thariqah Syekh Nahrowi antara lain KH. Muhammad Dalhar Watucongol, Muntilan, dan Kiai Siroj, Payaman, Magelang; KH. Ahmad Ngadirejo, Klaten; Kiai Abdullah bin Abdul Muthalib, Kaliwungu, Kendal; dan Syekh Abdul Malik, Kedungparuk Mersi, Purwokerto, Banyumas.</p>
<p>Dari Mbah Dalhar, ijazah kemursyidan itu turun kepada putranya KH. Ahmad Abdul Haqq (Mbah Mad Watucongol), Abuya Dimyathi (Cidahu, Pandeglang) dan Kiai Iskandar (Salatiga).</p>
<p>Perlu diketahui, Thariqah Syadziliyyah adalah thariqah yang didirikan oleh Syekh Abu al-Hasan Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar Asy-Syadzili Al Hasany, ulama kelahiran Ghamarah.</p>
<p>Yakni sebuah kampung di wilayah al-Maghrib al-Aqsha yang sekarang dikenal dengan Maroko. Beliau lahir pada tahun 593 H (1197 M) dan wafat di Humaitsara, Mesir pada tahun 656 H (1258M)</p>
<p>Beliau adalah seorang sufi pengembara yang mengajarkan bersungguh-sungguh dalam berdzikir dan berfikir di setiap waktu, tempat dan keadaan untuk mencapai fana’ (ketiadaan diri di hadapan Allah).</p>
<p>Beliau juga mengajarkan bersikap zuhud pada dunia dan iqbal (perasaan hadir di hadapan Allah). Beliau mewasiatkan agar para muridnya membaca kitab Ihya’ Ulumuddin dan kitab Qutul Qulub.</p>
<p>Peringatan Haul Syekh Ahmad Nahrowi berlangsung meriah. Puluhan ribu orang tumpah ruah di Alun-Alun Purbalingga, Sabtu (26/6) malam melepas kerinduan atas kehadiran Maulana Habib Luthfi bin Yahya dalam gelaran Haul Akbar Syech Nahrowi Muhtarom Al Banyumasi.</p>
<p>Haul ini digelar kali pertama untuk mengenalkan kembali bahwa Purbalingga pernah melahirkan ulama besar bertaraf internasional, Sayyid Syekh Ahmad Nahrowi Muhtarom Al-Banyumasi Al Makky.</p>
<p>la asal Purbalingga dan hijrah ke Makkah. Kiprahnya sebagai guru para santri dari berbagai negara, sempat menjadi hakim agung dan korektor kitab-kitab yane ditulis para ulama</p>
<p>&#8220;Umat Islam di Indonesia khususnya Purbalingga punya kebanggaan yang luar biasa. Karena Purbalingga telah melahirkan Syekh Nahrowi mewarnai keintelektualannya, keilmuannya dan seorang guru thoriqoh yang tinggal di Masjidil Haram,&#8221; katanya.</p>
<p>Rangkaian haul sendiri sudah berlangsung sejak jumat, dengan Karnaval seni dan dialog kebangsaan di Hotel Braling.</p>
<p>Puncak acara dengan tabligh Akbar dengan menghadirkan Habib Luthfy dan dimeriahkan penampilan Musthafa (Band Debu)(***)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/07/17/Maulana-Habib-Luthfi-saat-menghadiri-Haul-Syekh-Nahrawi-al-Banyumasi.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[Maulana Habib Luthfi saat menghadiri Haul Syekh Nahrawi al Banyumasi]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/07/17/Maulana-Habib-Luthfi-saat-menghadiri-Haul-Syekh-Nahrawi-al-Banyumasi-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[Maulana Habib Luthfi saat menghadiri Haul Syekh Nahrawi al Banyumasi]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Kisah Raja Brawijaya V buat mimpi buruk Warga Cepu Naik Gunung Lawu</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-48021/kisah-raja-brawijaya-v-buat-mimpi-buruk-warga-cepu-naik-gunung-lawu</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Hasan Bahtiar]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Jun 2022 16:37:31 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Brawijaya V]]></category>
		<category><![CDATA[Cepu]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung Lawu]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Mitos]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-48021/kisah-raja-brawijaya-v-buat-mimpi-buruk-warga-cepu-naik-gunung-lawu</guid>

					<description><![CDATA[ aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; di balik keindahan Gunung Lawu yang merupakan Gunung yang berbatasan antara Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur ternyata menyimpan berbagai mitos dan misteri.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; di balik keindahan Gunung Lawu yang merupakan Gunung yang berbatasan antara Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur ternyata menyimpan berbagai mitos dan misteri.</p>
<p>Diketahui Gunung Lawu adalah Gunung yang meliputi Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah dan Kabupaten Ngawi, Kabupaten Magetan di Jawa Timur.</p>
<p>Selain terkenal akan keindahannya, dan jadi tujuan pendakian bagi yang menyukainya, Gunung ini disebut Gunung Angker yang di dalamnya terdapat Pasar Ghaib dan tuah yang masih dipercaya oleh sebagian masyarakat seperti warga Cepu.</p>
<p>Tak hanya itu, di Gunung ini terdapat Arca atau Candi yang diyakini bekas peninggalan Prabu Brawijaya V yang konon diceritakan Beliau Moksa di Gunung Lawu ini.</p>
<p>Adapun Prabu Brawijaya V, adalah salah satu Raja terakhir pada jaman kerajaan Majapahit yang memiliki ilmu kanuragan tinggi.</p>
<p>Nama lengkapnya adalah Girindrawardhana Dyah Ranawijaya yang memiliki kekuasan di Majapahit dan menjadi Raja sejak tahun 1474 — 1498.</p>
<p>Terkait kisah tentang Prabu Brawijaya V, banyak kisah mengenai sang Prabu yang diungkap dalam Babad Tanah Jawa, bahkan beliau ada kaitannya dengan para Walisongo generasi kedua.</p>
<p>Sebab anak-anak dan cucu sang Prabu ada yang dipersunting oleh ulama yang tergabung dengan Walisongo. Tak hanya itu, anak keturunan sang Prabu juga merupakan pangeran berpangaruh atas perkembangan dan penyebaran islam di tanah jawa, yakni Raden Patah.</p>
<p>Bahkan Raden Mas Said atau Kanjeng Sunan Kalijaga disebut ada keterikatan dengan Prabu Brawijaya V, sebab Sunan Kalijaga menikahi Cucu dari sang Prabu.</p>
<p>Tak hanya keterikatan keluarga, Sunan Kalijaga juga diceritakan punya andil membuat sang Prabu menjadi seorang mualaf atas perintah Raden Patah yang merupakan anak dari Sang Prabu.</p>
<p>Karena sebelumnya sang Raden telah gagal membujuk ayahandanya menjadi mualaf, begitu juga anak-anak prabu lainnya. Bahkan menantu sang Prabu, yakni Sunan Ampel juga tak mampu membuat sang Prabu menjadi mualaf.</p>
<p>Tak hanya itu, Syekh Maulana Malik Ibrahim yang didampingi Raja Cermain juga gagal, ulama Bukhara yakni Syekh Jamaluddin Jumadil Kubra juga gagal membujuk sang Prabu.</p>
<p>Konon ada sebab yang membuat Raja Brawijaya V bersikukuh dengan pendiriannya yakni adanya dua penasihat ghaib yang cukup kuat yang berusaha menghalang-halangi Prabu Brawijaya V agar tidak masuk Islam, mereka adalah Sabda Palon dan Naya Genggong.</p>
<p>Akan tetapi kedua panasihat ghaib itu tak bisa berkutik dihadapan Sunan Kalijaga yang memiliki Karomah luar biasa.</p>
<p>Sunan Kalijaga akhirnya dapat menuntun sang Prabu untuk mengucapkan dua kalimat syahadat dan membuat sang Prabu Masuk Islam.</p>
<p>Sebelum itu Sang Prabu berkata pada Sunan Kalijaga sebelum menjadi muslim ia ingin dicukur rambutnya terlebih dahulu.</p>
<p>Sang Sunan mengetahui kesaktian sang Prabu, sehingga beliau berkata pada sang Prabu, bahwa tak akan sanggup dan tak akan mempan sekalipun dipotong oleh sang Sunan jika tidak ada kemantapan dan benar-benar ikhlas mantap ingin memeluk islam.</p>
<p>Sang Prabu berkata bahwa ia benar-benar mantap dan ikhlas lahir maupun bathin, sehingga rambut sang Prabu pun berhasil dipotong oleh Sunan Kalijaga.</p>
<p>Sementara dua penasihat Ghaib sang Prabu pun pergi, namun saat pergi mereka mengucapkan sumpah dan berjanji akan kembali lagi dalam beberapa ratus tahun lagi.</p>
<p>Sunan Kalijaga dan Raden Patah pun mendengar suara ghaib yang menyatakan sumpahnya tersebut.</p>
<p>Sementara kisah Prabu Brawijaya dalam versi berbeda menyebutkan jika sang Prabu mengasingkan diri di Puncak Gunung Lawu karena ia tahu bahwa kerajaan Majapahit akan runtuh.</p>
<p>Dalam pengasingan itu beliau dikejar oleh rombongan pasukan Adipati Cepu karena ia melewati perbatasan Cepu. Sementara Adipata Cepu mengetahui bahwa Majapahit memusuhi Cepu. Mengetahui adanya kabar bahwa Prabu Brawijaya V menuju ke Lereng Gunung Lawu lantas Adipati Cepu dan prajuritnya mengejarnya dalam keadaan hidup atau mati.</p>
<p>Namun rombongan Adipati Cepu tidak berhasil menangkap Sang Prabu, dan Sang Prabu yang kesal atas pengejaran rombongan Adipata Cepu kemudian mengeluarkan Sumpah.</p>
<p>Adapun sumpah dari Prabu Brawijaya V dikutip dari berbagai sumber adalah sebagai berikut:</p>
<p>&#8220;Jika ada orang-orang dari daerah Cepu atau dari keturunan langsung Adipati Cepu naik ke Gunung Lawu, maka nasibnya akan celaka atau mati di Gunung Lawu.&#8221;</p>
<p>Bahkan sumpah dari Prabu Brawijaya V tersebut masih diyakini oleh warga Cepu, sehingga pantangan bagi warga Cepu naik ke Gunung Lawu hingga sampai era atau zaman sekarang ini.</p>
<p>Akan tetapi ada kisah dalam versi lain yang menyebut jika Adipati Cepu bukan mengejar Prabu Brawijaya V, akan tetapi mengejar Raden Gugur yang hendak menemui ayahnya di puncak Gunung Lawu.</p>
<p>Mereka akhirnya bertempur dan tidak menyisahkan prajurit, Raden Gugur pun tewas dalam pertempuran di Gunung Lawu.</p>
<p>Sementara Adipati Cepu selamat, sedangkan di pihak Prabu Brawijaya V yang selamat adalah Wongso Menggolo dan Dipo Menggolo.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/06/15/Gunung-Lawu.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[Gunung Lawu]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/06/15/Gunung-Lawu-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[Gunung Lawu (Foto: Karanganyarkab.go.id)]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Kisah Hutan Larangan di Dayeuhluhur Cilacap</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-42806/kisah-hutan-larangan-di-dayeuhluhur-cilacap</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Huda]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 29 Dec 2021 03:12:34 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Cilacap]]></category>
		<category><![CDATA[Dayeuhluhur]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-42806/kisah-hutan-larangan-di-dayeuhluhur-cilacap</guid>

					<description><![CDATA[ aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; di ujung kulon (barat) Kabupaten Cilacap terdapat kawasan hutan konservasi habibat satwa liar bernama hutan larangan. Hutan ini terletak di Desa Hanum Kecamatan Dayeuhluhur, atau di wilayah Cibeet.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; di ujung kulon (barat) Kabupaten Cilacap terdapat kawasan hutan konservasi habibat satwa liar bernama hutan larangan. Hutan ini terletak di Desa Hanum Kecamatan Dayeuhluhur, atau di wilayah Cibeet.</p>
<p>Kecamatan Dayeuhluhur ini keseluruhan masyarakatnya berbahasa sunda halus seperti di Ciamis. Areanya pun berbatasan dengan Kota Banjar dan Ciamis Jawa Barat di sebelah baratnya, sedangkan utaranya memasuki daerah Brebes.</p>
<p>Seperti halnya orang pasundan di jawa barat, di dayeuhluhur juga dalam hal keseniannya mirip di jawa barat. Seperti tari-tarian ronggeng, namun juga ada tarian berkolaborasi antara kesenian Sunda dan Banyumasan.</p>
<p>Ada banyak Komunitas Suku atau Adat di dayeuhluhur ini, seperti di desa Cijeruk ada komunitas adat bernama Tejakembang dll. Kecamatan adat Dayeuhlur ini memang kaya akan adat, budaya dan tradisi, selain itu banyak juga situs-situs kuno peninggalan pra sejarah.</p>
<h2>Kawasan Hutan Larangan di Dayeuhluhur Cilacap</h2>
<p>Layaknya Hutan Lindung, hutan ini selain dikeramatkan juga begitu indah dimana banyak pepohonan dan bunga-bunga liar yang tumbuh subur. Tak ayal jika hutan ini juga dihuni oleh satwa-satwa.</p>
<p>Kawasan Hutan Larangan tersebut menampung berbagai satwa langka seperti Rusa dan Macan Tutul serta aneka burung-burung dan juga terdapat monyet.</p>
<p>Hutan ini oleh masyarakat dayeuhluhur disakralkan dan dikeramatkan, memasuki area ini pantangan untuk meludah dan berlaku tidak sopan. Pasalnya di hutan larangan ini sudah banyak orang yang tersesat, apalagi orang yang berasal dari jauh.</p>
<p>Dari hutan larangan ini muncul sumber air yang airnya mengaliri beberapa sungai seperti Sungai Cibeet, Cikawalon dan Cidayeuh.</p>
<p>Di Cibeet Hanum memiliki seorang Juru kunci bernama Ceceng Rusmana.</p>
<h2>Tradisi Adat di Cibeet Hanum Dayeuhluhur</h2>
<p>Tak jauh dari tepi sungai Cibeet ini, di sana terdapat sejumlah makam-makam para tokoh atau sesepuh tradisional.</p>
<p>Beberapa di antaranya yaitu, Arya Sacanata atau Pangeran Salingsingan dimana makamnya terletak di Dusun Nombo, Desa Bingkeng.</p>
<p>Makam ini kerap diziarahi oleh komunitas adat yang mempunyai trah dari kerajaan Panjalu Ciamis. Sedangkan area sungainya disakralkan dan dianggap suci sehingga menjadi satu titik atau lokasi pengambilan air suci.</p>
<p>Pengambilan Air suci tersebut yakni suatu kegiatan rutinan setiap tahunnya yang dilakukan oleh komunitas adat panjalu. Yakni untuk mencuci Pusaka Panjalu atau disebut Ritual Nyangku yang digelar pada bulan suro.</p>
<p>Makam Keramat di Tejakembang Desa Cijeruk, pusara seorang pahlawan yang berasal dari Cianjur keturunan Panjalu Ciamis bernama Raden Haji Alit Prawatasari.</p>
<p>Tradisi budaya lainnya yakni &#8220;Babarit kupat&#8221; (&#8220;sedekah ketupat&#8221;) atau &#8220;babaritan&#8221;. Acara ini merupakan ritual tahunan adat Suku Sunda, dimana ritual atau acara tersebut dilaksanakan setiap tahun jelang awal bulan maulud. Yakni dilaksanakan pada hari, bulan, dan tempat yang sama.</p>
<p>Acara Sidekah Ketupat terbagi dua wilayah, untuk daerah Desa Cijeruk, acara dipusatkan di jembatan Sungai Cibeet. Sedangkan di Desa Kutaagung dilaksanakan di tapak batas desa dan di Desa Panulisan Barat di Sumanding Dusun Pendey.</p>
<p>Acara Sidekah Kupat tersebut merupakan bentuk syukur atas kesejahteraan desa atas kecukupan berupa makanan dan minuman. Selain itu guna memohon agar terbebas dari segala jenis bencana seperti gempa bumi, wabah penyakit, banjir, dan angin topan.</p>
<p>Hampir seluruh warga desa di Kecamatan Dayeuhluhur melaksanakan tradisi ini, dimana warga akan datang berduyun-duyun membawa makanan dalam bentuk ketupat. Kemudian ketupat itu digantungkan ke tiang yang sudah dipersiapkan oleh Kokolot Lembur (sesepuh kampung).</p>
<p>Dalam pelaksanaan ritual tersebut kokolot lembur bertugas memimpin ritual dan berdoa mohon keselamatan dan keberkahan. Doa dan keselamatan tidak hanya untuk semua warga desa setempat tapi juga untuk bangsa ini, negara Indonesia. </p>
<p>Setelah ritual doa selesai, ketupat yang digantungkan itu diambil dan dimakan di tempat bersama-sama. Hal itu seperti halnya lebaran hari raya dimana masyarakat bertemu, penuh guyub rukun, sedang sebagian ketupat lagi dibagikan ke masyarakat.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/Hutan-Larangan-di-Cibeet-Dayeuhluhur-Cilacap.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[Hutan Larangan di Cibeet Dayeuhluhur Cilacap]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/Hutan-Larangan-di-Cibeet-Dayeuhluhur-Cilacap-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[Hutan Larangan di Cibeet Dayeuhluhur Cilacap]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Kisah Dibalik Viralnya Satu Kios Utuh Saat Kebakaran di Pasar Kroya Cilacap, Pemilik Gemar Bersedekah</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-42769/kisah-dibalik-viralnya-satu-kios-utuh-saat-kebakaran-di-pasar-kroya-cilacap-pemilik-gemar-bersedekah</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Huda]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Dec 2021 06:46:12 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Berita Cilacap]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Kroya]]></category>
		<category><![CDATA[Pasar Kroya]]></category>
		<category><![CDATA[Video]]></category>
		<category><![CDATA[Viral]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-42769/kisah-dibalik-viralnya-satu-kios-utuh-saat-kebakaran-di-pasar-kroya-cilacap-pemilik-gemar-bersedekah</guid>

					<description><![CDATA[ aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; &#8220;Ajaib&#8221; Demikian tulisan di berbagai media sosial yang tengah ramai dan viral dalam menanggapi fenemona satu kios utuh tidak terbakar di Pasar Kroya Cilacap.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; &#8220;Ajaib&#8221; Demikian tulisan di berbagai media sosial yang tengah ramai dan viral dalam menanggapi fenemona satu kios utuh tidak terbakar di Pasar Kroya Cilacap.</p>
<p>Kisah fenomena yang menurut waraganet di luar akal manusia itu bermula setelah terjadinya peristiwa Kebakaran pada Kamis, 23 Desember 2021 sore di Pasar yang di dalamnya terdapat 500&#8217;an Kios.</p>
<p>Dimana kejadian kebakaran pada hari itu hampir membuat semua kios-kios itu tak terisa di lalap si jago merah. Namun dari sekian kios terdapat suatu fenomena yang diyakini Ajaib pada salah satu kios.</p>
<p>Pasalnya satu kios yang terdapat di Lantai dua itu, nyaris tak tersentuh api, sehingga barang-barang yang ada di dalam kios tersebut utuh.</p>
<p>Pasca kebakaran, salah seorang ibu-ibu yang mengaku sering berbelanja ke kios tersebut tak henti-hentinya berucap &#8220;Ya Allah, Ya Allah.&#8221; lantaran takjub sembari merekam kios tersebut.</p>
<p>Tampak juga dalam videonya seseorang pria sedang mengeluarkan Sosis dari dalam Freezer.</p>
<p>Ketika di keluarakan, ternyata sosis-sosis itu masih dingin dan masih dalam keadaan beku, bahkan di dalam freezer masih terdapat gumpalan es.</p>
<p>Ditelusuri Tim <a href="https://story.cilacap.info">Story Cilacap.info</a>, ternyata satu ruko yang utuh tersebut adalah milik Bapak Marsono yang merupakan seorang yang gemar bersedekah dan beramal, suka berbagi kepada orang yang kekurangan dan menyantuni yatim piatu.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/tangkapan-layar-video-satu-ruko-barang-jualannya-utuh-dalam-peristiwa-kebakaran-di-Pasar-Kroya-Cilacap.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1920"
				height="1080">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[tangkapan layar video satu ruko barang jualannya utuh dalam peristiwa kebakaran di Pasar Kroya Cilacap]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/tangkapan-layar-video-satu-ruko-barang-jualannya-utuh-dalam-peristiwa-kebakaran-di-Pasar-Kroya-Cilacap-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[tangkapan layar video satu ruko barang jualannya utuh dalam peristiwa kebakaran di Pasar Kroya Cilacap]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Kisah Kadipaten Penyarang Sidareja Cilacap</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-42358/kisah-kadipaten-penyarang-sidareja-cilacap</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Huda]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Dec 2021 18:05:42 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Cerita Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Cilacap]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Sidareja]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-42358/kisah-kadipaten-penyarang-sidareja-cilacap</guid>

					<description><![CDATA[ aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Pada zaman dahulu di tanah Pasundan berdiri sebuah kerajaan besar yang bernama Kerajaan Pajajaran. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja bijaksana, Prabu Ciung Wanara namanya. Sang Prabu mempunyai seorang permaisuri yang cantik jelita.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Pada zaman dahulu di tanah Pasundan berdiri sebuah kerajaan besar yang bernama Kerajaan Pajajaran. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja bijaksana, Prabu Ciung Wanara namanya. Sang Prabu mempunyai seorang permaisuri yang cantik jelita.</p>
<p>Dari perkawinannya dengan Sang Permaisuri, Prabu Ciung Wanara dikaruniai tujuh orang anak, yaitu Punggung Kencana (Ling ga Hingwang), Lingga Wesi, Susuktunggal, Anggalarang, Siliwangi, Mundingwangi, dan Mundingmalati (Ranggasena).</p>
<p>Dari putra ketujuh, yaitu Mundingmalati atau Ranggasena, Sang Prabu dikaruniai empat orang cucu, yaitu Segarawangi, Wadas Malang, Gunung Sari, dan Sena Reja atau Hajar Sena. Selain itu, Prabu Ciung Wanara juga mempunyai saudara laki-laki atau adik yang mengabdi di Keraton Surakarta, bernama Arya Bangga.</p>
<p>Pada suatu hari, sang Prabu memerintahkan kepada putra ketujuhnya, yaitu Mundingmalati atau Ranggasena, supaya melakukan pengembaraan. Ranggasena dan keempat putranya dipercaya oleh sang Prabu untuk membuka sebuah kadipaten di tanah Jawa. Pada saat itu, di Kerajaan Pajajaran Ranggasena belum mempunyai jabatan apa pun. Prabu Ciung Wanara bermaksud agar kadipaten yang didirikan oleh Ranggasena nantinya dapat menjadi penghubung antara Pajajaran dan kerajaan lain di tanah Jawa.</p>
<p>&#8220;Ranggasena, Putraku, sudah saatnya engkau tunjukkan jati dirimu sebagai putra raja,&#8221; titah sang Prabu.</p>
<p>&#8220;Ampun, Ayahanda Prabu, apakah yang harus ananda perbuat untuk menunjukkan jatidiri ananda?&#8221; sembah Ranggasena.</p>
<p>&#8220;Mengembaralah, ajaklah keempat anakmu melangkah ke arah matahari terbit. Carilah tempat di tanah Jawa yang kamu anggap baik. Tinggallah di sana dan dirikan sebuah kadipaten. Ayah berharap kadipaten itu nanti dapat menjadi penghubung antara Pajajaran dan Kerajaan lain di Tanah Jawa.&#8221;</p>
<p>Tanpa banyak pertanyaan lagi Ranggasena bersedia menjalankan amanat sang Prabu. Ia harus rela meninggalkan istri tercintanya. Ia juga harus rela meninggalkan Ibu Permaisuri di Kerajaan Pajajaran. Sebenarnya, istrinya tidak merelakan Ranggasena membawa keempat putranya pergi mengembara.</p>
<p>Selain itu, sang istri juga khawatir jika Ranggasena mempunyai istri lagi di tempat pengembaraannya nanti. Namun, keberatan dan kekhawatiran sang istri itu tidak menggoyahkan niat Ranggasena untuk menjalankan perintah ayahandanya, Prabu Ciung Wanara. Dengan segala upaya, dia berusaha meyakinkan istrinya bahwa apa pun yang terjadi dia akan tetap setia.</p>
<p>Tiba waktunya berpisah, Pajajaran tidak seramai biasanya. Suasana sedih menyelimuti warga Kerajaan. Tiada senyum dan gurau terlontar. Tidak ada satu pun kata canda terlempar. Semua muka menunduk lesu. Hanya air mata yang berbicara, Pajajaran sedang berduka. Pajajaran bagai tubuh yang terkoyak oleh sejuta luka yang menganga, perih, pedih, dan menyakitkan. Saat itu, di Balairung Pajajaran, Ranggasena beserta keempat putranya sedang menghadap Prabu Ciung Wanara.</p>
<p>&#8220;Ayahanda Prabu, segala persiapan sudah ananda lakukan. Bekal pun sudah kami cukupkan. Izinkanlah Ananda beserta keempat cucu Ayahanda ini meninggalkan Kerajaan Pajajaran untuk memulai pengembaraan kami,&#8221; sembah Ranggasena pada Prabu Ciung Wanara.</p>
<p>&#8220;Ranggasena, kebulatan tekadmu menjalankan perintahku merupakan cermin jiwa kesatria pada dirimu. Aku tahu, semua ini memang berat. Berat meninggalkan Kerajaan tercinta, berat meninggalkan ayah-ibu, dan berat meninggalkan istrimu, tetapi langkah inilah yang akan menentukan masa depanmu. Oleh karena itu, jangan kamu ragu. Janganlah kota atau negara besar yang kautuju. Pergilah, belahlah hutan lebat dan sepi. Jadikan tempat itu bersemi. Langkahkan kakimu ke arah terbit matahari.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ananda siap melaksanakan, Ayahanda Prabu. Kami mohon diri berangkat mengembara.&#8221;</p>
<p>Tangis dan deraian air mata mengiring keberangkatan Ranggasena beserta keempat putranya. Setiap mata terus menatap sayu seakan-akan menahan dan tidak mau melepas mereka. Apalagi, mata wanita belahan jiwa. Mata itu terus berlinang, tidak pernah rela melepas mereka pergi mengembara. Namun, apa daya, ia tidak kuasa untuk menolak kehendak raja.</p>
<p>Dengan langkah mantap Ranggasena dan keempat putranya meninggalkan Kerajaan Pajajaran. Rasa sedih karena harus berpisah dengan orang-orang yang dicintainya sudah tidak tampak di raut wajah. Mereka melangkah sambil bersenda gurau seakan tidak ada beban pada diri mereka.</p>
<p>Dalam pengembaraan itu, mereka tidak lagi mengenakan pakaian kerajaan. Kegemerlapan pakaian Kerajaan Pajajaran sengaja ditanggalkan agar identitas mereka sebagai putra Raja Pajajaran tidak diketahui orang. Mereka menyamar sebagai orang desa dengan pakaian yang sangat sederhana.</p>
<p>Hari demi hari, waktu demi waktu, Ranggasena beserta keempat putranya terus melangkah. Jalan terjal mereka lalui, hutan rimba penuh onak dan duri mereka sibak, tetapi tidak juga ditemui tempat yang pas seperti kehendak ayahandanya. Mereka tidak pernah menyerah, mengeluh, atau putus asa. Bahkan, tidak pernah sedikit pun terlintas rasa ingin pulang ke Pajajaran.</p>
<p>Tanpa terasa, dua tahun telah berlalu. Selama itu pula mereka telah mengembara dari satu tempat ke tempat lainnya. Pada saat itu Ranggasena beserta keempat putranya sampai di tengah hutan yang penuh dengan pohon besar. Daun-daunnya yang rindang seakan menjadi atap sebuah alam yang terbuka. di sela-sela kerindangan daun dan ranting terdapat banyak sarang burung yang menandakan kebebasan hidup burung di sana.</p>
<p>Sementara itu, dibalik pohon banyak hewan berseliweran ke sana-kemari. Tampak sekali jika hutan itu masih asli dan belum dirambah orang. Belum ada manusia yang berani datang atau tinggal di tempat itu. Barangkali, Rangasena dan keempat putranyalah manusia pertama yang menginjakkan kaki di hutan itu.</p>
<p>Hari mulai gelap, terlebih lagi hutan di tempat Ranggasena dan putranya beristirahat sangat lebat, lengkaplah kegelapan menyelimuti tempat itu. Ranggasena kemudian memutuskan untuk tinggal di tempat itu.</p>
<p>&#8220;Anakku, sebentar lagi hari akan gelap. Sebaiknya kita segera mencari kayu dan dedaunan untuk membuat tempat berlindung malam ini,&#8221; kata Ranggasena kepada keempat putranya.</p>
<p>&#8220;Benar, Ayah, tampaknya tempat ini nyaman untuk beristirahat,&#8221; jawab putra tertuanya.</p>
<p>Tanpa banyak bicara, mereka lalu mencari kayu dan dedaunan untuk membuat rumah-rumahan. Dalam waktu singkat, rumah perlindungan sederhana telah berdiri di antara batang-batang pohon besar. Dengan menyilangkan batang kayu pada ranting pohon yang satu dengan yang lain, terbentuklah rumah pohon yang kuat untuk mereka berlima. Daun-daun yang terkumpul mereka susun sebagai atap dan dinding untuk menahan dinginnya udara. Tidak lupa, mereka juga membuat api unggun.</p>
<p>Selain untuk menghangatkan lingkungan, api itu juga digunakan sebagai penerangan supaya jika ada binatang buas yang mendekat dapat terlihat. Malam pun tiba. Kegelapan menyelimuti seluruh isi hutan. Keempat putranya sudah tidur di rumah panggung, tetapi Ranggasena belum juga pergi ke pembaringan. Dia masih duduk di dekat api unggun. Ranggasena tampak merenung, sesekali pandangan matanya disebarkan ke sekitar seakan-akan ada sesuatu yang direncanakannya.</p>
<p>&#8220;Apakah tempat ini yang dimaksudkan oleh Ayahanda Raja?’ katanya dalam hati.</p>
<p>&#8220;Jika memang ini yang dikehendaki, apa yang harus kulakukan dengan hutan selebat ini?&#8221;</p>
<p>Lama Ranggasena merenung, angan demi angan terus menggelayut, membebani setiap celah pikirnya. Semua kembali pada pertanyaan, langkah apa yang harus ia lakukan dengan tempat itu.</p>
<p>Sementara, tidak ada seorang pun yang tinggal menghuni tempat sesunyi dan sengeri itu. Renung demi renung dilaluinya, akhirnya rasa kantuk pun menghampiri. Mata tidak lagi mampu tersangga. Dengan langkah yang mulai lemas, ia naik ke rumah pohon menyusul keempat putranya yang telah terlelap. Irama malam dan nyanyian kesunyian di hutan itu pun mengayunnya dalam mimpi.</p>
<p>Suasana tenang di hutan itu membuat Ranggasena dan keempat putranya merasa nyaman. Mereka merasa betah tinggal di tempat itu. Apalagi bagi Ranggasena, ia meyakini bahwa tempat itu adalah tempat yang dimaksudkan oleh ayahandanya. Keyakinan itulah yang membuatnya bertahan. Sehari, dua hari, dan sampai berhari-hari mereka belum menemukan tanda-tanda adanya orang lain yang mau tinggal di tempat itu. Namun, ketika berjalan-jalan di sekitar hutan,
Ranggasena dan putranya dikejutkan oleh adanya sekelompok orang yang berada di tengah hutan.</p>
<p>&#8220;Siapa mereka? Hemm&#8230; tampaknya memang sudah ada orang yang terlebih dahulu tinggal di hutan ini,&#8221; guman Ranggasena dalam hati sambil melangkah menghampiri mereka.</p>
<p>&#8220;Salam, Ki Sanak,&#8221; sapa Ranggasena kepada mereka sambil menyalami satu per satu.</p>
<p>&#8220;Maaf, kami mengganggu. Perkenalkan nama saya Ranggasena dan ini keempat anak saya. Kami pengembara yang kebetulan sampai di tempat ini dan merasakan betapa tenteram dan asrinya hutan ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Selamat datang, Ki Ranggasena. Semoga berkah Tuhan menyertai pengembaraan Ki Rangga,&#8221; jawab seorang yang paling tua dalam kelompok itu.</p>
<p>&#8220;Terima kasih, Ki. Maaf, bagaimana kami harus menyebut Kiai?&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, ya, sampai lupa memperkenalkan diri. Saya Ngabei Ta ngerang. Mari, silakan singgah ke gubuk saya. Tidak enak kita berbincang sambil berdiri seperti ini,&#8221; Kiai Ngabei Tangerang mem persilakan.</p>
<p>Setelah mereka masuk dan duduk, Kiai Ngabei Tangerang melanjutkan ceritanya, &#8220;Oh, ya, kami ini adalah penduduk asli di hutan ini.</p>
<p>Kebetulan, saya yang paling tua dan dituakan oleh mereka. Mereka memanggil saya Kiai Ngabei Tangerang. Kami sudah cukup lama tinggal di Hutan Penyayangan ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hutan Penyayangan?&#8221; tanya Ranggasena.</p>
<p>&#8220;Ya, ya, itu sekadar nama yang saya buat untuk menyebut tempat ini. Nama itu saya pilih karena hutan ini banyak pohon besar dan rindang, banyak binatang yang tidak pernah saling bermusuhan, dan berbagai jenis burung yang hidup dan bersarang di sela ranting pepohonan. Hutan dan semua binatang itu hidup berdampingan tanpa ada permusuhan seakan hidup saling menyayangi. Oleh karena itulah, hutan ini saya namai Hutan Penyayangan.&#8221;</p>
<p>Kiai Ngabei Tangerang menerangkan dengan rinci semua keadaan di hutan itu. Dari tutur katanya tampak sekali bahwa sebenarnya dia bukan orang sembarangan. Sebenarnya, Kiai Ngabei Tangerang adalah seorang yang sudah tersohor ke mana-mana sebagai seorang ahli agama. Selain itu, dia juga dikenal sebagai seorang yang memiliki ilmu kesaktian. di hutan itu dia hidup bersama dengan dua orang anaknya, yaitu Tejalamat dan Megalamat.</p>
<p>Setelah mendengar penjelasan Kiai Ngabei Tangerang yang cukup rinci, Ranggasena mencoba menjelaskan kembali asal muasal mengapa mereka sampai di hutan itu. Akan tetapi, ia tidak menceritakan bahwa dirinya adalah putra Prabu Ciung Wanara, Raja Pajajaran. Hal itu ia lakukan agar Kiai Ngabei Tangerang tidak curiga pada mereka. Memang, sebagai orang tua dan berilmu, Kiai Ngabei Tangerang tidak menaruh curiga sedikit pun terhadap Ranggasena dan anak-anaknya.</p>
<p>Namun, tetap saja ada orang yang tidak suka atas kedatangan Ranggasena. Hal itu sesuai juga dengan cerita Kiai Ngabei Tangerang bahwa di Penyayangan masih ada perselisihan kecil karena perebutan lahan atau perbedaan pendapat. Ia sudah berusaha mencari cara agar mereka tidak saling bermusuhan, tetapi belum berhasil.</p>
<p>Kondisi penduduk seperti itu menggerakkan hati Ranggasena untuk membantu Kiai Ngabei Tangerang. Dalam hati ia bertekad untuk dapat menyatukan mereka. Oleh karena itu, ia memantapkan diri untuk tinggal di Hutan Penyayangan.</p>
<p>&#8220;Kiai, jika Kiai tidak keberatan, saya beserta anak-anak mohon diterima di tempat ini untuk membantu dan berguru kepada Kiai,&#8221; tutur Ranggasena kepada Kiai Ngabei Tangerang.</p>
<p>&#8220;Heheheh&#8230; Kalau membantu dan tinggal bersama, dengan senang hati saya menerima, tetapi untuk berguru, ilmu apa yang dapat saya berikan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya percaya, Kiai memiliki ilmu hidup dan kehidupan yang tidak kami miliki,&#8221; kata Ranggasena meyakinkan Kiai Ngabei Tangerang.</p>
<p>Melihat kesungguhan Ranggasena, Kiai Ngabei Tangerang akhirnya menyetujui dan menerima mereka. Bahkan, Kiai Ngabei Tangerang meminta mereka untuk tinggal bersama di gubuknya.</p>
<p>Waktu terus berlalu, tanpa terasa sudah bertahun-tahun Ranggasena dan anak-anaknya berguru pada Kiai Ngabei Tangerang. Selama itu pula mereka menerima ilmu agama, ilmu kebatinan, dan ilmu-ilmu lainnya. Ranggasena pun juga sudah mengerti dan memahami keadaan hutan dan karakter penduduk Penyayang. Rang gasena merasa sudah saatnya untuk mengemukakan niatnya mendirikan sebuah kadipaten di temapat itu kepada Kiai Ngabei Tangerang.</p>
<p>&#8220;Maaf, jika saya lancang, Kiai. Penduduk Penyayang makin lama makin banyak. Sekarang ini pun tampaknya sudah banyak. Jika Desa Penyayang ini dibiarkan terus begini seakan-akan tidak pernah berkembang dan maju,&#8221; kata Ranggasena kepada Kiai Ngabei Tangerang.</p>
<p>&#8220;Maksudmu bagaimana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya berpikir, sudah saatnya kita mengubah Desa Penyayang menjadi sebuah kadipaten, Kiai.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lalu, apa yang akan kamu lakukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika Kiai setuju, saya mohon izin menggerakkan warga untuk mewujudkan kadipaten itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Secara pribadi, aku setuju. Namun, hal itu tidak berarti dapat langsung dikerjakan. Semua itu harus dirembuk bersama seluruh warga.&#8221;</p>
<p>Saat itu, tanpa mereka sadari, ada sepasang mata dan telinga yang secara sembunyi-sembunyi mengintip dan mendengarkan pembicaraan itu. Mata dan telinga itu adalah milik seorang penduduk yang tidak suka terhadap Ranggasena. Secepat kilat dan tanpa bersuara ia meninggalkan tempat itu dan mengabarkan kepada sekelompok orang yang tidak suka terhadap Ranggasena. Ia menceritakan rencana Ranggasena dengan berbagai bumbu cerita agar orang-orang tidak menyetujui.</p>
<p>Orang-orang yang mendengarkan hasutan pengintai tadi lalu mencari cara dan siasat untuk menggagalkan rencana Ranggasena. Mereka berniat menghasut seluruh penduduk agar menolak usulan Ranggasena. Berbagai cara mereka lakukan dengan satu tujuan menggagalkan rencana Ranggasena. Jika perlu, ketika Ranggasena menyampaikan usulan rencananya rakyat sudah tahu dan semua menolaknya.</p>
<p>Saat yang dinanti-nantikan itu akhirnya tiba juga. Pada suatu hari, Kiai Ngabei Tangerang mengumpulkan penduduk Penyayang. Mereka duduk berkumpul di pelataran depan rumah sang Kiai. Sementara itu, Kiai Ngabei Tangerang diapit oleh Tejalamat dan Megalamat berdiri menghadapi mereka.</p>
<p>&#8220;Sedulur-sedulur, saya sengaja mengumpulkan kalian karena ada sesuatu yang penting yang harus kita bicarakan.&#8221; kata Kiai Ngabei Tangerang membuka pembicaraan.</p>
<p>Penduduk yang hadir semua diam. Mereka menunggu dengan rasa penasaran, sebenarnya apa yang akan disampaikan oleh sesepuh mereka itu. Mata mereka menatap tanpa berkedip seakan takut kehilangan gerak sang Kiai.</p>
<p>Kiai Ngabei Tangerang kemudian melanjutkan ucapannya, &#8220;Beberapa waktu yang lalu Ranggasena menghadap padaku dan menyampaikan rencananya. Meskipun menyetujuinya, aku belum dapat mengiyakan sebelum berbicara dengan kalian.&#8221;</p>
<p>&#8220;Rencananya apa, Kiai?&#8221; tanya salah seorang penduduk.</p>
<p>&#8220;Biarlah Ranggasena sendiri yang mengatakan supaya lebih jelas.&#8221;</p>
<p>Ranggasena lalu mengemukakan apa yang menjadi maksud dan rencananya, yaitu mengembangkan Penyayang menjadi sebuah kadipaten. Mendengar ucapan Ranggasena semua penduduk menggangguk-angguk. Namun, tiba-tiba mereka berteriak-teriak tidak setuju. Mereka berdalih bahwa Ranggasena bukan penduduk asli. Mereka curiga Ranggasena hanya akan merusak tatanan yang selama ini sudah berjalan dengan baik.</p>
<p>Hari itu suasana semakin memanas. Meskipun Ranggasena menjelaskan bahwa tujuannya adalah memajukan Penyayang, penduduk masih tetap pada pemikirannya. Semakin lama teriakan demi teriakan terlontar semakin ramai dan tidak ditemukan kata sepakat. Bahkan, ada penduduk yang justru menantang Ranggasena untuk beradu kekuatan.</p>
<p>Kiai Ngabei Tangerang mencoba mendinginkan suasana yang panas dan mulai tidak terkendali itu. Namun, upayanya sia-sia. Penduduk belum mau menerima. Mereka lebih senang jika yang membangun kadipaten adalah Kiai Ngabei Tangerang sendiri.</p>
<p>&#8220;Ya, ya, aku paham maksud kalian. Namun, perlu juga kalian pahami, aku sudah tidak muda lagi. Aku sudah terlalu tua untuk memimpin pembangunan sebuah kadipaten. Oleh karena itu, perlu dicari pemimpin yang muda, pandai, dan tegas seperti Ranggasena.&#8221;</p>
<p>Mendengar ucapan Kiai Ngabei Tangerang semua penduduk terdiam seribu bahasa. Mulut mereka membisu bagai terkunci. Mereka merasakan ucapan tulus itu keluar dari orang yang selama ini mereka hormati. Apalagi ketika sang Kiai menegaskan bahwa dia juga akan turut mewujudkan kadipaten itu, penduduk semakin yakin bahwa ucapan itu benar. Mereka semakin terbuka pikirannya. </p>
<p>Mereka juga menyadari bahwa sebenarnya Ranggasena tidak memiliki niat jahat, tetapi tulus untuk memajukan Penyayang. Yang terpenting lagi, seperti kata sang Kiai, bahwa mereka akan menjadi saksi berdirinya kadipaten di tempat itu. Akhirnya, satu demi satu mereka menyetujui rencana Ranggasena dan bersedia membantu membangun kadipaten. Ranggasena merasa lega karena pada akhirnya rencananya dapat diterima oleh penduduk. Bahkan, ada yang membuat hati Ranggasena sangat bergembira, yaitu penduduk bersedia membantunya membangun kadipaten.</p>
<p>Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, keesokan harinya Ranggasena, anak-anaknya, Kiai Ngabei Tangerang, dan para penduduk mulai bergotong-royong menyiapkan lahan untuk mendirikan kadipaten. Ada yang menebang pohon, mencari kayu yang cocok untuk bangunan. Ada yang membersihan rumput ilalang yang ada di tempat yang direncanakan. Ada pula yang membangun jalan agar pantas menjadi sebuah pusat pemerintahan. Semua bergerak bersama-sama, termasuk para wanita.</p>
<p>Jika pria bekerja di luar, para wanita bekerja di dapur, menyiapkan makanan untuk mereka. Melihat sikap bahu-membahu penduduk, Ranggasena dan Kiai Ngabei Tangerang merasa senang. Mereka merasa sudah tidak ada lagi yang curiga terhadap maksud Ranggasena.</p>
<p>Satu demi satu pekerjaan terselesaikan dengan gotong-royong. Kebersamaan itu telah menghasilkan wujud nyata. Ranggasena dan Kiai Ngabei Tangerang dan sebagian penduduk bertugas membangun pendapa dengan kayu dari hutan itu juga. Anak-anak Ranggasena pun mendapat tugas masing-masing. Salah satunya adalah membangun jalan kadipaten. Setiap hari, seakan tanpa lelah, mereka menjalankan tugas mereka sehingga pembangunan dapat terselesaikan dengan cepat.</p>
<p>Pendapa kadipaten telah berdiri megah. Rumah-rumah di sekitar pendapa itu pun sudah berdiri dan siap dihuni. Jalan-jalan juga sudah dapat dilalui. Semua terselesaikan dengan rapi dan lancar tanpa satu pun halangan. Boleh dikatakan sebuah kadipaten telah berdiri, tetapi pemerintahannya belum berjalan karena belum ada pimpinan yang tetap.</p>
<p>Suatu hari, Kiai Ngabei Tangerang, Ranggasena berserta anak-anaknya, dan penduduk berkumpul di pendapa. Mereka berembuk tentang nama yang baik dan pas untuk kadipaten yang mereka dirikan. Selain itu, mereka juga berembuk tentang siapa yang patut menjadi pimpinan, menjadi adipati. Rembukan itu berjalan dengan baik dan lancar. Rembukan dalam suasana kekeluargaan itu akhirnya menyepakati bahwa Ranggasenalah yang patut menjadi adipati. Untuk memberi nama kadipaten memang terjadi banyak pendapat. Ada yang mengusulkan namanya tetap Penyayang.</p>
<p>Namun, ada yang menyanggah bahwa nama itu sudah menjadi nama salah satu desa. Ranggasena kemudian angkat bicara. Ia mengusulkan kadipaten itu diberi nama penyarang. Nama itu ia ambil karena, ketika belum dibangun kadipaten dan masih berupa hutan, tempat itu banyak sarang burung dan hewan lainnya. Pertemuan itu akhirnya membuahkan kesepakatan tanpa ada pertentangan. Secara aklamasi mereka memutuskan nama kadipaten yang baru mereka bangun adalah Kadipaten Penyarang. Mereka juga sepakat mengangkat Ranggasena menjadi Adipati Penyarang.</p>
<p>Keesokan hari Ranggasena resmi menjabat sebagai adipati di Kadipaten Penyarang dengan gelar Adipati Ranggasena. Penobatannya sebagai adipati dilakukan oleh Sinuhun Keraton Surakarta. Pada saat itu seluruh penduduk terlihat bersuka cita. Sorak sorai menggema
di mana-mana. Pesta ala kadarnya mereka gelar sebagai luapan rasa bahagia. Diam-diam, ternyata sudah cukup lama Ranggasena jatuh cinta kepada putri Kiai Ngabei Tangerang yang bernama Tejalamat.</p>
<p>Oleh karena itu, setelah diangkat menjadi adipati, Ranggasena melamar Tejalamat agar bersedia menjadi pendamping hidupnya. Cinta tak bertepuk sebelah tangan, Tejalamat menerima lamaran itu dan bersedia menjadi istri Adipati Ranggasena. Kiai Ngabei Tangerang pun merestui niat suci Adipati Ranggasena mempersunting putrinya.</p>
<p>Setelah menjabat sebagai adipati, Adipati Ranggasena segera membentuk struktur organisasi pemerintahan. Hal itu ia lakukan agar jalannya pemerintahan di Kadipaten Penyarang dapat berjalan lancar. Ia menempatkan anak-anaknya pada posisi atau bagian yang penting dalam pemerintahan. Wadas Malang bertanggung jawab di bidang keagamaan, Gunung Sari bertanggung jawab di bidang keamanan, sedangkan Sena Reja atau Hajar Sena bertanggung jawab di bidang ekonomi. Banyak juga penduduk yang juga mendapat tanggung jawab dan kepercayaan untuk mengelola dan ikut memajukan Kadipaten Penyarang. Kiai Ngabei Tangerang, meskipun sudah tua, juga mendapat bagian. Ia diangkat menjadi penasihat karena sangat berjasa atas pendirian Kadipaten Penyarang dan pengangkatan Adipati Ranggasena. Namun sayang, belum lama memangku jabatan sebagai penasihat, Kiai Ngabei Tangerang meninggal dunia.</p>
<p>Untuk kelancaran pelaksanaan tanggung jawab, tidak semua putra Adipati Ranggasena tinggal di kadipaten. Wadas Malang dan Gunung Sari tinggal di wilayah kadipaten sebelah barat. Segara Wangi tinggal di wilayah kadipaten sebelah timur. Hanya Sena Reja atau Hajar Sena yang tetap tinggal di kadipaten untuk membantu ayahnya mengelola kadipaten. Sifat tidak pilih kasih Adipati Ranggasena terhadap putra dan penduduknya menjadikan Kadipaten Penyarang semakin maju dan berkembang.</p>
<p>Saat itu agama Islam sudah masuk ke Kadipaten Penyarang, tetapi penduduk belum dapat memelajari ajaran tersebut. Oleh karena itu, Adipati Ranggasena memerintah Wadas Lintang untuk mengupayakan penyebaran ajaran itu.</p>
<p>Gunung Sari ditugasi untuk menjaga keamanannya agar tidak terjadi gejolak dalam penyebaran agama dan utamanya menjaga ketenteraman dan ke tenangan masyarakat. Bidang ekonomi, termasuk pekerjaan warga Kadipaten Penyarang, ditugaskan kepada Sena Reja. Dialah yang mengatur semua kegiatan perekonomian. Selain itu, untuk memantau dan mengendalikan kegiatan penduduk sehari-hari, Segara Wangilah yang ditugasi.</p>
<p>Kemajuan Kadipaten Penyarang semakin terkenal. Lebih-lebih ketika Adipati Ranggasena memperkenalkan Kadipaten Pe nyarang ke Pusat Pemerintahan di Surakarta dan Pajajaran. Untuk membuktikan kemajuannya, Adipati Ranggasena mengirimkan kayu ke Pajajaran untuk membangun pendapa. Pada waktu itu belum ada kendaraan untuk mengangkut kayu dari Kadipaten Penyarang ke Pajajaran. Kayu-kayu itu dikirim dengan cara diseret menggunakan ikat pinggang oleh murid-murid Sunan Kalijaga. Hanya merekalah yang mampu melakukan karena memiliki kesaktian yang diajarkan oleh Sunan Kalijaga.</p>
<p>Kerja sama yang dilakukan Adipati Ranggasena dengan Pemerintah Keraton Surakarta dan Pajajaran menjadikan Kadipaten Penyarang semakin terkenal. Segala penjuru sudah mengetahui tentang keberadaan Kadipaten Penyarang dan Adipati Ranggasena, tentang penduduknya yang telah mendapat tempat tinggal yang layak dan hidup tenteram, serta tentang kemampuan penduduk mengolah dan mengelola hutan dengan baik. Namun, masih ada amanat yang belum terselesaikan oleh Ranggasena, yaitu membangun jalan yang menghubungkan wilayah Surakarta dan Pajajaran. Hal itu berarti bahwa Adipati Ranggasena baru menyelesaikan separuh amanat ayah andanya.</p>
<p>Membangun jalan bukanlah pekerjaan yang mudah. Adipati Ranggasena merasa tidak mampu mengerjakan sendiri. Dahulu selalu dibantu oleh Kiai Ngabei Tangerang, tetapi sekarang harus mencari bantuan orang lain karena Kiai Ngabei Tangerang telah tiada. Ilmu yang diajarkannya pun belum cukup untuk membangun jalan yang menghubungkan Surakarta dan Pajajaran. Dalam hal inilah kesabaran dan ilmunya diuji. Ia harus mencari cara agar jalan dapat dibangun dengan baik dan lancar.</p>
<p>Ia terus memikirkan hal itu sampai-sampai tidak tidur beberapa hari. Pada suatu malam, tanpa sengaja Adipati Ranggasena tertidur. Ia bermimpi bertemu dengan Kiai Ngabei Tangerang. </p>
<p>&#8220;Ranggasena, tugas yang harus kamu jalankan memang berat. Tidak mudah membuat jalan. Namun, kamu tidak perlu putus asa. Semua pasti ada jalan. Ada ilmu yang dapat digunakan, tetapi harus memiliki kesabaran dan pemikiran yang suci. Putramu dapat membantu menyelesaikan tugas itu.&#8221;</p>
<p>Adipati Ranggasena terkejut lalu terbangun dari tidurnya. Ia berusaha mengingat-ingat pesan Kiai Ngabei Tangerang dalam mimpinya.</p>
<p>&#8220;Pesan Kiai akan saya lakukan. Mohon restu, Kiai,&#8221; gumannya.</p>
<p>Keseokan hari Adipati Ranggasena mulai menjalankan apa yang dipesankan Kiai Ngabei Tagerang dalam mimpinya. Ia mulai membangun jalan ke arah barat, yang akan menghubungkan Kadipaten Penyarang dengan Pajajaran. Setiap hari ia menjalankan tugas itu dengan sabar. Ia tidak pernah marah kepada siapa saja yang membantunya. Yang lebih penting, meskipun putranya ikut membantu, ia tetap harus ikut serta melakukan dan memimpin pelaksanaan tugas tersebut.</p>
<p>Bertahun-tahun Adipati Ranggasena dibantu putra-putranya serta penduduk Kadipaten Penyarang bekerja tidak kenal lelah. Sedikit demi sedikit pembangunan jalan diselesaikan dengan lancar. Keberhasilan itu membuat hati mereka lega. Pekerjaan yang mereka pikir mustahil dilakukan itu telah dirampungkannya. Meskipun belum terlihat benar-benar rapi, jalan yang menghubungkan Kadipaten Penyarang dan Pajajaran itu sudah dapat dilewati dengan nyaman.</p>
<p>Setiap daerah yang dilalui jalan itu diberi nama dengan sebutan ci oleh Adipati Ranggasena, seperti Cipari, Cikangleles, Cikalong, Cinangsi, Cibenda, dan Ciloning. Kata ci memiliki makna ‘sumber air’.</p>
<p>Penamaan dengan sebutan ci tersebut dimaksudkan agar daerah yang diberi nama dengan kata itu tidak pernah kehabisan air.Pembangunan kadipaten dan jalan telah selesai dijalankan. Dengan demikian, amanat Prabu Ciung Wanara telah dipenuhi oleh Adipati Ranggasena. Namun, Adipati Ranggasena tidak berkeinginan kembali ke Pajajaran. Ia memilih menetap dan menyatu dengan penduduk Kadipaten Penyarang. Hal itu sudah menjadi tekadnya ketika diangkat sebagai adipati.</p>
<p>Ia tidak akan meninggalkan dan akan tetap menjadi bagian Kadipaten Penyarang. Tekad itu dibuktikannya dengan tetap menjadi Adipati sampai usianya senja. Kekuatan manusia ada batasnya. Karena usianya yang semakin tua, Adipati Ranggasena merasa tidak mampu lagi menjadi adipati. Oleh karena itu, ia menyerahkan tampuk pimpinan Kadipaten Penyarang kepada putra bungsunya, yaitu Sena Reja atau Hajar Sena. Ia menjadi adipati kedua di Kadipaten Penyarang dengan gelar Adipati Anom Ranggasena.</p>
<p>Seperti halnya ayahnya, penobatan Adipati Anom Ranggasena pun dikukuhkan oleh Sinuhun Keraton Surakarta. Entah beberapa waktu lamanya, setelah menyerahkan tampuk kekuasaan kepada putranya, Adipati Ranggasena meninggal dunia. Namun, sebelum meninggal ia berpesan kepada istri, anak, dan semua penduduk Kadipaten Penyarang.</p>
<p>&#8220;Anak dan cucuku semua, jika waktuku tiba, aku harus meninggalkan kalian semua. Tapi, jika kalian minta apa saja kepadaku, aku sanggup.&#8221;</p>
<p>Setelah berpesan seperti itu, Adipati Ranggasena menghembuskan napasnya yang terakhir. Ia lalu dimakamkan di wilayah Kadipaten </p>
<p>Penyarang yang disebut Cisagu. Kata cisagu berasal dari pesan Adipati Ranggasena yang &#8220;sanggup&#8221; memenuhi permintaan anak, cucu, dan penduduk semua. Kata sanggup dalam bahasa Jawa adalah saguh. Jadi, nama Cisagu berasal dari kata ci dan saguh. Selanjutnya, makam Adipati Ranggasena disebut Panembahan Cisagu. Sampai saat ini makam tersebut menjadi tempat ziarah yang terkenal dan banyak didatangi peziarah dari berbagai penjuru.</p>
<p><strong>Diceritakan oleh: Suryo Handono</p>
<p>Disadur dari Cerita Rakyat Cilacap Jawa Tengah.</p>
<p>Diterbitkan oleh Balai Bahasa Jawa Tengah Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/ilustrasi-Ranggasena-dan-Kiai-Ngabei-Tangerang-dan-para-penduduk-bergotong-royong-untuk-mendirikan-kadipaten.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[ilustrasi Ranggasena dan Kiai Ngabei Tangerang dan para penduduk bergotong royong untuk mendirikan kadipaten]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/ilustrasi-Ranggasena-dan-Kiai-Ngabei-Tangerang-dan-para-penduduk-bergotong-royong-untuk-mendirikan-kadipaten-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[ilustrasi Ranggasena dan Kiai Ngabei Tangerang dan para penduduk bergotong royong untuk mendirikan kadipaten]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Asal Usul Dusun Sitinggil di Bantarsari Cilacap</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-33749/asal-usul-dusun-sitinggil-di-bantarsari-cilacap</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 10 Dec 2020 16:32:03 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Bantarsari]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Cilacap]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Sitinggil Rawajaya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-33749/asal-usul-dusun-sitinggil-di-bantarsari-cilacap</guid>

					<description><![CDATA[ aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Pagi yang cerah menghiasi Dusun Combo. Ujung-ujung daun tampak butiran-butiran air yang siap untuk menjatuhkan diri dan menyatu dengan tanah yang ada di bawahnya. Bentangan kebun yang diisi dengan berbagai macam pohon buah menunjukkan bahwa masyarakat Dusun Combo memiliki kesibukkan keseharian menggarap kebun tersebut.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Pagi yang cerah menghiasi Dusun Combo. Ujung-ujung daun tampak butiran-butiran air yang siap untuk menjatuhkan diri dan menyatu dengan tanah yang ada di bawahnya. Bentangan kebun yang diisi dengan berbagai macam pohon buah menunjukkan bahwa masyarakat Dusun Combo memiliki kesibukkan keseharian menggarap kebun tersebut.</p>
<p>Suara kokok ayam jantan yang bersahut-sahutan menyongsong datangnya pagi menambah suasana tenteram dan damai Dusun Combo. Tampak di ujung jalan dusun sebuah rumah yang asri dan sederhana. di bagian depan rumah tampak balai-balai yang sering digunakan pemilik rumah untuk bersantai.</p>
<p>Di sebelah kanan tiang rumah tampak sebuah gentong berserta dengan siwur. Sepanjang jalan halaman rumah itu dihiasi dengan berbagai macam tanaman yang dapat dimanfaatkan oleh pemilik rumah.</p>
<p>Suara gemericik air yang mengaliri sawah yang ada di samping rumah semakin menambah keasrian dan keyamanan rumah itu. Rumah itu milik sepasang suami istri, yaitu Ki Cokro Pawiro dan istrinya yang bernama Suratmi. Sepasang suami istri ini memiliki kesibukkan menggarap kebun dan sawah yang ada di samping rumah.</p>
<p>Meskipun matahari masih malu-malu menunjukan muka, kesibukkan rumah itu sudah terlihat. Suratmi sibuk di dapur menyeduh kopi untuk Ki Cokro Pawiro. Sedangkan Ki Cokro Pawiro terlihat termenung di kursi dapur.</p>
<p>Kegelisahan Ki Cokro ditangkap oleh
Suratmi.</p>
<p>&#8220;Kang&#8230; Kang&#8230; Kang&#8230;,&#8221; panggil Suratmi.</p>
<p>&#8220;Kang&#8230;!!&#8221; Suratmi mengeraskan suaranya.</p>
<p>Ki Cokro gelagapan mendengarkan suara istrinya. Seketika lamunannya buyar, terbang meninggalkan isi kepalanya.</p>
<p>&#8220;Apa to&#8230; Mi&#8230; bikin kaget saja kamu ini,&#8221; jawab Ki Cokro.</p>
<p>&#8220;Pagi-pagi kok sudah melamun, apa yang kamu lamunkan, Kang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh&#8230; aku sedang memikirkan nasib kita Mi&#8230; mikir nasibku, nasibmu, dan nasib si jabang bayi yang ada di dalam perutmu itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lho&#8230; memangnya ada apa dengan nasib kita, Kang? Aku sudah bahagia hidup dengan kamu, Kang, apalagi dengan adanya si jabang bayi ini.</p>
<p>Aku merasa nasibku baik-baik saja menjadi istrimu. Kamu suami yang bertanggung jawab tidak pernah macam-macam, dan selalu membuat aku nyaman dan tenteram. Jadi aku pikir tidak ada yang kurang dengan nasibku ini, Kang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku ingin membuat nasib kita menjadi lebih baik lagi, Mi. Agar kelak anak turunan kita tidak pernah menderita dan kekurangan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku sudah bahagia dengan keadaan kita sekarang ini, Kang. Jadi, Kakang tidak perlu lagi melakukan sesuatu yang akan membuatku lebih bahagia. Sudah&#8230; ini kopinya diminum dulu, setelah itu kita pergi ke sawah.&#8221;</p>
<p>Hari berganti hari, minggu berganti minggu hingga usia kehamilan Suratmi sudah masuk bulan ketiga. Akan tetapi, Ki Cokro masih terganggu dengan keinginan yang pernah ia utarakan kepada istrinya.</p>
<p>Pada suatu senja Ki Cokro bersama istrinya duduk-duduk di bale rumahnya untuk melepaskan penat setelah seharian beraktivitas di kebun dan sawah. Sambil minum secangkir kopi dan menikmati sepotong ubi bakar, yang disuguhkan oleh istrinya yang sangat setia itu, Ki Cokro menyampaikan sesuatu pada istrinya.</p>
<p>&#8220;Suratmi, istriku sayang. Saya mau bicara, tapi saya mohon kamu jangan bersedih hati, karena ini semua merupakan tugas kehidupan yang harus saya jalani.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa masalah yang mau Kakang omongkan masih ada kaitannya dengan keinginan yang pernah Kakang sampaikan beberapa bulan yang lalu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Benar sekali istriku. Walaupun kamu sekarang sedang me-ngandung anak kita, izinkan saya pergi menuju ke suatu daerah di Cilacap sebelah barat.</p>
<p>Saya ingin membuka lahan di sana. Saya ingin kelak anak cucu kita tidak kekurangan satu hal apa pun.&#8221;</p>
<p>Dengan rasa haru dan berat hati, Suratmi menatap wajah suaminya, kemudian berkata, &#8220;Sebenarnya berat sekali aku harus berpisah denganmu, Kang. Apalagi usia kandunganku sekarang sudah tiga bulan.</p>
<p>Aku butuh kamu di sisiku, Kang, menemani aku menjalani hari-hari menunggu lahirnya si jabang bayi ini. Namun, demi cita-citamu yang mulia, aku rela melepas kepergianmu.</p>
<p>Doaku selalu menyertaimu, Kang, mudah-mudahan engkau selalu mendapat perlindungan dari yang Mahakuasa dan doakan aku juga agar selalu sehat dan dapat merawat anak kita jika sudah lahir kelak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jadi, kamu mengizinkan aku untuk menggapai apa yang menjadi harapanku, Mi? Benar, Mi, kamu ikhlas izinkan aku pergi?&#8221; jawab Ki Cokro.</p>
<p>&#8220;Ya, Kang, aku tidak mau melihat suamiku merenung setiap hari. Meskipun aku sedang mengandung anakmu, aku tidak mau menghalangi apa yang menjadi keinginanmu. Kamu sudah mem-berikan kebahagiaan untukku. Kini giliranku memberi kebahagiaan untukmu, Kang.&#8221;</p>
<p>Sambil kembali minum kopinya yang masih tersisa, Ki Cokro berkata, &#8220;Iya, Mi, terima kasih atas pengertianmu. Engkau seorang istri yang salihah. Aku pergi untuk hari depan kita yang lebih baik. Aku berpesan padamu, jika anak kita lahir laki-laki, maka berilah nama Sirad!&#8221;</p>
<p>&#8220;Baik, Kang, akan kuingat pesanmu itu. Kapan kamu akan ber-angkat Kang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Lebih cepat lebih bagus, jika kamu izinkan aku berangkat minggu depan.&#8221;</p>
<p>Satu minggu telah berlalu, pagi-pagi sekali setelah salat subuh bersama, Ki Cokro berpamitan pada Suratmi sambil memeluk dan mengelus-elus perut istrinya yang sedang hamil.</p>
<p>Suratmi pun tidak dapat menahan keharuannya. Dengan berlinang air mata ia berkata, &#8220;Pergilah, Kang. Hati-hatilah di jalan, doaku menyertaimu!&#8221;
&#8220;Ya Mi, terima kasih kamu sudah mau mengerti. Ingat pesanku untuk memberi nama anak kita Sirad!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya Kang, anak kita pasti akan aku beri nama Sirad, sesuai dengan keinginanmu.&#8221;</p>
<p>Bulan berganti bulan. Tidak terasa Ki Cokro telah meninggalkan rumah selama enam bulan. Ini berarti sudah saatnya Mbok Ratmi melahirkan si jabang bayi yang dikandungnya.</p>
<p>Dengan bantuan dukun beranak yang ada di desanya, Mbok Suratmi melahirkan seorang bayi laki-laki. Bayi laki-laki itu sangat sehat, montok, dan kulitnya putih.</p>
<p>Parasnya ganteng seperti paras Ki Cokro. Jika memandang paras si jabang bayi, Mbok Ratmi teringat kepada suaminya dan tanpa terasa airmatanya meleleh membasahi pipinya.</p>
<p>Jika rasa kangen kepada Ki Cokro begitu hebatnya, Mbok Ratmi hanya dapat memandangi wajah si jabang bayi, kemudian memeluknya erat-erat seolah-olah dia tidak mau dipisahkan dengan anaknya yang hadir di dunia ini sebagai tanda cinta dirinya dengan Ki Cokro.</p>
<p>Teringat dengan pesan suaminya, Mbok Ratmi memberi bayi itu nama Sirad. Waktu yang berlalu membuat Sirad tumbuh menjadi sosok pemuda yang ganteng dan gagah. Keprihatinan hidup yang ia jalani, karena ia hidup tanpa didampingi oleh sosok ayah, membuatnya menjadi seorang pemuda yang gigih, ulet, rajin bekerja, serta disegani oleh teman-temannya.</p>
<p>Sirad sangat menyayangi ibunya. Peran Ki Cokro digantikan oleh Sirad. Sirad bekerja keras menggarap kebun dan sawahnya untuk mencukupi kebutuhan hidup Ibu dan dirinya. Satu hal yang masih menjadi teka-teki dan pertanyaan yang sangat besar di dalam dirinya adalah masalah ayahnya.</p>
<p>Mengapa ayahnya meninggkan dia dan ibunya?</p>
<p>&#8220;Suatu waktu nanti aku akan bertanya tentang bapakku kepada simbok. Mengapa bapak tega meninggalkan aku dan simbok.&#8221;</p>
<p>Senja itu terlihat sangat indah. Perlahan namun pasti sang pemberi cahaya di siang hari akan meninggalkan dusun. Seiring dengan kepergian sang surya, perlahan langit yang cerah diganti dengan gelapnya senja.</p>
<p>Peran itu kemudian akan digantikan oleh bulan dan bintang. Sambil menikmati singkong rebus, Sirad memberanikan dirinya untuk bertanya kepada simboknya perihal bapaknya.</p>
<p>&#8220;Mbok, sampai hari ini aku belum pernah melihat wajah bapakku. di mimpi pun aku tidak pernah&#8221; ucap Sirad.</p>
<p>Mbok Suratmi terkejut dengan pertanyaan anak semata wayangnya itu. Diletakkannya singkong rebus yang hampir saja masuk ke dalam mulutnya.</p>
<p>Dengan penuh kasih sayang Mbok Suratmi menatap wajah anaknya, matanya tampak berkaca-kaca. Mbok Ratmi berusaha untuk menahan agar air mata tidak meninggalkan pelupuk matanya.</p>
<p>Namun, kekuatan alam lebih kuat dari perintah Mbok Ratmi. Air mata itu tetap jatuh satu demi satu membasahi pipinya. Rasa kangen kepada suaminya yang sekian puluh tahun meninggalkan dirinya muncul kembali mengaduk-aduk rasa yang telah berhasil ia pendam.</p>
<p>&#8220;Mengapa Simbok menangis? Jika pertanyaanku ini membuat Simbok sedih saya minta maaf Mbok. Simbok tidak perlu menjawab pertanyaanku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya, Le. Pertanyaanmu itu mengingatkan simbok kepada ba-pakmu. Simbok sudah berusaha untuk bersabar dan menunggu kepulangan bapakmu. Namun, sampai saat ini bapakmu tidak pernah kembali ke kita.&#8221;</p>
<p>&#8220;Memang bapak ke mana, Mbok? Bukannya bapakku sudah meninggal, seperti yang diucapkan oleh kawan-kawan bermainku dulu, Mbok?&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa yang diomongkan oleh kawan-kawanmu itu tidak benar, Le&#8230; . Karena sekarang kamu sudah dewasa, sudah saatnya Simbok bercerita tentang bapakmu,&#8221; jawab mbok Suratmi sambil mengusap air mata yang semakin gencar menghinggapi pipinya.</p>
<p>Akhirnya, Mbok Suratmi menceritakan tentang kepergian suami-nya yang mengembara ketika Sirad masih dalam kandungannya.</p>
<p>Senja hari itu menjadi saksi terkuaknya misteri yang puluhan tahun menghinggapi dan mengganggu pikiran Sirad.</p>
<p>&#8220;Bapakmu sampai sekarang masih hidup. Dia bernama Cokro Pawiro. Ketika kamu masih dalam kandungan, ia pamit pergi ke wilayah Cilacap bagian barat untuk mencapai cita-citanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa cita-cita Bapak, Mbok? Mengapa hanya karena cita-cita bapak tega meninggalkan kita?&#8221; tanya Sirad lagi.</p>
<p>&#8220;Bapakmu punya cita-cita yang luhur, Le. Ia ingin membahagiakan kita. Untuk itulah bapakmu pergi dan membuka lahan di daerah sana,&#8221; sambung Mbok Suratmi lagi.</p>
<p>Setelah mendengar penjelasan ibunya tentang bapaknya, dalam hati Sirad muncul sebuah keinginan. Sirad ingin bertemu dengan bapaknya. Sirad memohon kepada Mbok Suratmi untuk pergi ke daerah Cilacap bagian Barat menyusul ayahnya.</p>
<p>&#8220;Baiklah, Le. Besok kita akan menyusul dan mencari bapakmu,&#8221;</p>
<p>Mbok Suratmi tidak tega menolak permintaan anaknya dan se-benarnya ia sendiri juga sangat ingin berjumpa dengan suaminya, yaitu Ki Cokro. Tanpa disadari, ternyata sudah sembilan belas tahun ia berpisah dengan suaminya, Ki Cokro.</p>
<p>Keesokan harinya Mbok Suratmi dan Sirad berkemas-kemas. Tidak lupa Mbok Suratmi mempersiapkan bekal untuk perjalanan mereka. Mbok Suratmi membungkus beberapa pakaian dan makanan.</p>
<p>Setelah perbekalan dirasakan cukup akhirnya kedua orang itu berangkat menuju Cilacap Barat. Tempat yang dituju adalah Desa Bantarsari. Menurut kabar berita yang diterima oleh Mbok Suratmi. Ki Cokro telah berhasil membuka lahan di daerah itu.</p>
<p>Karena keuletan, kerja keras, dan keramahannya, Ki Cokro dikenal oleh masyarakat sehingga Mbok Suratmi dan Sirad tidak mengalami kesulitan untuk menemukan kediaman Ki Cokro.</p>
<p>Rumah ki Cokro tidak pernah sepi. Setiap saat orang bisa datang ke sana. Ada yang datang untuk membahas pekerjaan, menanyakan tentang teknik membuka lahan baru, bahkan ada juga yang hanya sekadar ngobrol tak tentu arah hanya untuk mengisi waktu luang.</p>
<p>Suatu sore di rumah Ki Cokro Pawiro terlihat ia sedang bercakap-cakap dengan dua orang temannya, Ki Kartapusaka dan Ki Yasasuwita. Mereka membahas tentang pekerjaan membuka lahan.</p>
<p>Aktivitas obrolan tersebut terhenti karena kedatangan seorang perempuan paruh baya dengan seorang anak laki-laki. Setelah melihat kedua orang itu, Ki Cokro sangat terkejut. Serasa ditimpa oleh beban yang beratnya ratusan ton. Tanpa diminta, perempuan itu memperkenalkan dirinya kepada Ki Cokro.</p>
<p>&#8220;Kakang, aku Suratmi dan anak laki-laki yang aku bawa Ini Sirad, anakmu, Kang!&#8221; kata Mbok Suratmi sambil menangis terharu.</p>
<p>&#8220;Astaghfi rullah&#8230; ya Allah&#8230; benar ini kamu Suratmi, istriku yang dulu aku tinggalkan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya Kakang&#8230; aku Suratmi, Kang&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan anak laki-laki ini anak kita yang kamu kandung dulu&#8230; Ya Allah&#8230; terima kasih ya Allah&#8230; akhirnya Kau pertemukan lagi aku dengan keluarga yang aku sayangi ini. Sini Le&#8230; aku ingin me-melukmu.&#8221;</p>
<p>Ki Cokro dan Sirad berpelukan. Ketiga orang itu bertangis-tangisan karena rasa haru yang sangat dalam. Setelah sekian puluh tahun terpisah akhirnya dapat berkumpul kembali. Melihat peristiwa yang mengharukan itu, Ki Kartapusaka dan Ki Yasasuwita mendekat.</p>
<p>&#8220;Apakah ini anakmu yang sering engkau ceritakan, Kang Cokro, yang kamu tinggal waktu masih berada dalam kandungan istrimu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul, Kang Karta,&#8221; jawab Ki Cokro sambil menghapus air matanya.</p>
<p>&#8220;Wah&#8230; ganteng tenan. Gagah, siapa namamu, Le?&#8221; tanya Ki Yasasuwita.</p>
<p>&#8220;Sejak masih dalam kandungan ia sudah kuberi nama Sirad, Kang. Aku pesankan ke istriku jika kelak si jabang bayi lahir dan berjenis kelamin laki-laki, harus diberi nama Sirad&#8221;</p>
<p>Ki Cokro yang menjawab dengan terbata-bata sambil mengusap air mata. &#8220;Maafkan bapakmu, Le&#8230; sembilan belas tahun engkau ku-tinggalkan, baru sekarang kita bertemu,&#8221; sambungnya lagi sambil memeluk kembali Sirad. </p>
<p>Tidak ada yang mampu dilakukan oleh Sirad selain menuruti gerakan tubuh bapaknya yang menariknya ke dalam pelukan. Sirad tidak mampu berkata-kata, keharuan menyelimuti hatinya.</p>
<p>Sosok yang tadi berdiri dan sekarang memeluknya adalah bapaknya, figur yang selama ini dia idam-idamkan. Seseorang yang selama sekian puluh tahun ingin dilihat wajahnya. Tiba-tiba orang itu sekarang berdiri di depannya, dan bahkan memeluk dirinya. Sebuah anugerah yang luar biasa manisnya dari Allah.</p>
<p>&#8220;Alhamdulillah&#8230; terima kasih ya Allah&#8230; berkat kebesaran-Mu akhirnya aku dapat bertemu dan melihat wajahnya setelah sekian puluh tahun,&#8221; gumam Sirad dalam hati.</p>
<p>Sejak saat itu, Ki Cokro dan Mbok Suratmi bersepakat untuk tidak saling meninggalkan. Ki Cokro meminta kepada Mbok Ratmi dan Sirad untuk tinggal di rumahnya. Sejak saat itu Sirad tinggal bersama kedua orang tuanya.</p>
<p>Meskipun hidup serba kecukupan dan penuh dengan harta benda, Sirad tidak berubah. Ia tetap menjadi sosok yang ulet dan suka bekerja keras. Sirad rajin membantu ayahnya bekerja di kebun.</p>
<p>Sifat ayahnya yang sabar, bijaksana, dan pandai bergaul menurunkepadanya. Hal itu membuat Sirad disukai oleh warga di sekitar rumahnya. Ia ringan tangan. Siapa pun yang datang dan meminta bantuan, Sirad dengan senang hati dan ikhlas akan membantu. Ia juga terkenal sebagai pemuda yang pemberani dan tegas.</p>
<p>Ia bukan pemuda yang malas. Hal itulah yang membuat Sirad mendapatkan kepercayaan dari masyarakat desa untuk menjadi bayan pada saat bayan di dusun itu meninggal. Dusun itu bernama Dusun Jakatawa. Sebuah dusun yang wilayahnya terpisah oleh bentangan rel kereta api.</p>
<p>Pagi yang tenang dan hening pecah oleh teriakan seorang warga memanggil nama Bayan Sirad di depan rumah.</p>
<p>&#8220;Ki&#8230; Ki Bayan Sirad&#8230; Ki&#8230; Ki Bayan Sirad&#8230;!!&#8221; teriak orang itu.</p>
<p>Bayan Sirad ke luar dari rumahnya dan menghampiri orang tersebut.</p>
<p>&#8220;Tenang, Kang&#8230; tenang&#8230; ada apa ini, Kang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Gawat Ki&#8230; Gawat&#8230; Ki Bayan, ada orang bertengkar, Ki. Mereka sudah saling hunus golok, cepat dilerai Ki&#8230; Jika tidak, akan terjadi pertumpahan darah di dusun kita ini,&#8221; lapor orang itu.</p>
<p>&#8220;Astaghfirullah&#8230; ada masalah apa, Kang?&#8221; tanya Bayan Sirad.</p>
<p>&#8220;Kurang tahu, Ki. Mereka tidak ada yang mau mengalah!&#8221; jawab orang itu.</p>
<p>&#8220;Kalau begitu, antarkan saya ke tempat kedua orang itu bertengar, sekarang !!&#8221;
&#8220;Baik Ki&#8230; .&#8221;</p>
<p>Bergegas Bayan Sirad mengikuti warganya menuju ke arah sebelah barat desa. Setelah beberapa menit berjalan, benar saja, di sebuah perkebunan pisang terlihat dua orang sedang berhadapan dan saling menghunus golok.</p>
<p>Muka kedua orang itu merah padam tanda amarah. Mereka sedang berdebat, tapi tidak jelas apa yang diperdebatkan. Hanya samar-samar suara mereka dapat terdengar oleh Bayan Sirad. Setelah jarak antara Sirad dengan kedua orang itu sudah dekat, Bayan Sirad berusaha untuk melerai pertengkaran itu.</p>
<p>&#8220;Ada apa, Kang? Kok sampean berdua bertengkar, pakai meng-hunus golok? Jika ada masalah dipecahkan dengan kepala dingin, bukan dengan emosi,&#8221; tanya Bayan Sirad.</p>
<p>Kedua orang itu berebut untuk berbicara terebih dahulu sehingga suasana semakin memanas karena masing-masing ingin didengar dan ingin mendapatkan kebenaran. Lalu Sirad meminta salah satu dari orang itu untuk berbicara dan meminta yang satunya diam dulu agar Sirad tahu dan paham duduk persoalannya.</p>
<p>&#8220;Ini, Ki Bayan. Pohon pisang Kang Parto roboh ke kebunku. Padahal, kebunku ini baru saja aku tanami kacang. Lihat ini, tanaman kacangku berantakan tidak karuan karena ditimpa oleh pohon pisang. Lha&#8230; aku nggak mau rugi, kuambil saja buah pisangnya sebagai ganti rugi,&#8221; kata Kang Sirin.</p>
<p>&#8220;Lha, itu &#8216;kan namanya maling, Ki Bayan. Mengambil barang orang tanpa izin yang punya &#8216;kan namanya maling. Maling &#8216;kan harus dihajar!&#8221;</p>
<p>Kang Parto mengangkat golok yang ada di tangannya siap untuk diayunkan.</p>
<p>&#8220;Sabar&#8230; sabar&#8230; sabar, Kang! Tidak semua masalah dapat di selesaikan dengan adu otot. Masalah itu tidak dapat diselesaikan dengan amarah, Kang! Tidak akan selesai. Salah-salah bukannya me-nyelesaikan masalah justru akan membuat masalah semakin ber-kepanjangan,&#8221; teriak Sirad sambil membentangkan tangan di antara kedua orang yang sedang dilanda emosi.</p>
<p>&#8220;Sabar&#8230; sabar bagaimana, Ki Bayan. Lha, saya rugi Ki Bayan. Lihatlah pisangku diambil Kang Sirin!&#8221; tukas Kang Parto.</p>
<p>&#8220;Saya juga rugi, tanaman kacangku belum berbuah, sudah rusak tertimpa pohon pisangmu!&#8221; sahut Kang Sirin.</p>
<p>&#8220;Begini saja, Kang Sirin. Buah pisang Kang Parto dikembalikan saja dan Kang Parto memberi benih kacang kepada Kang Sirin sebagai ganti tanaman kacangnya yang rusak karena tertimpa oleh pohon pisang yang roboh. Kang Parto dapat pisangnya kembali dan Kang Sirin dapat ganti rugi tanaman kacangnya yang rusak. Jadi, tidak ada yang dirugikan dan tidak ada yang diuntungkan. Bagaimana?&#8221; tanya
Bayan Sirad.</p>
<p>Kedua orang itu berpandangan, kemudian menggangguk-angguk tanda menyetujui usulan Bayan Sirad. Bayan Sirad tersenyum.</p>
<p>&#8220;Ya sudah, Kang. Masalah sudah selesai! Daripada bertengkar lebih baik untuk bekerja bukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Inggih, Ki Bayan. Terima kasih nasihatnya!&#8221; kata Kang Parto.</p>
<p>Kedua orang itu bersalaman kemudian meninggalkan tempat ter-sebut. Ki Bayan Sirad lega hatinya menyaksikan hal tersebut. Dia telah berhasil mencegah terjadinya pertumpahan darah.</p>
<p>Dengan tersenyum, ditinggalkannya tempat itu menuju kembali ke rumahnya. Suatu ketika Mbah Candra yang menjadi kepala dusun atau bahu di Jakatawa sakit.</p>
<p>Mbah Candra sudah sangat lama menjadi Bahu Jakatawa. Usianya sudah sangat tua. Akhirnya, disepakati untuk mencari pengganti Mbah Candra sebagai Bahu Jakatawa. Ketika musyawarah di Balai Dusun Jakatawa, beberapa orang diusulkan termasuk Bayan Sirad.</p>
<p>&#8220;Saya usul, Bayan Sirad jadi pengganti Mbah Candra,&#8221; kata Senthu.</p>
<p>&#8220;Saya setuju!&#8221; sahut Ki Kartareja.</p>
<p>&#8220;Betul, saya juga setuju!&#8221; sabung Ki Ardamenawi.</p>
<p>Karena banyak yang mendukung Sirad, akhirnya ia terpilih menjadi Kepala Dusun atau Bahu Jakatawa. Pada waktu itu pusat pemerintahan Dusun Jakatawa berada di sebelah utara jalur kereta api, sedangkan rumah Bahu Sirad di sebelah selatan rel, tidak jauh dari rawa-rawa yang biasa disebut Rawakeling.</p>
<p>Masyarakat percaya bahwa Rawakeling merupakan daerah yang wingit. di dekat Rawakeling terdapat gumuk atau tanah yang lebih tinggi dari daerah sekitarnya. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, ada dua ekor hewan sakti yang tinggal di sana. Yaitu seekor menjangan rawa dan seekor banteng yang bertanda putih di dahinya.</p>
<p>Beberapa orang pernah melihat menjangan berbulu abu-abu itu melintas di gumuk, bahkan ada seorang pemburu mencoba menembaknya berkali-kali, tetapi tak satu pun peluru yang menembus tubuhnya. Peluru itu hanya berjatuhan saja.</p>
<p>Ketika Bahu Sirad sedang berjalan-jalan, ia bertemu beberapa warga.</p>
<p>&#8220;Dari mana, Kang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Dari gumuk sana, Ki Bahu, saking Siti Hinggil,&#8221; jawab orang itu.</p>
<p>&#8220;Lha, sampean mau ke mana, Yu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya mau menyebar kacang ke gumuk sana, wonten Siti Hinggil,&#8221; kata wanita itu sambil menunjuk daerah Rawakeling.</p>
<p>Karena seringnya warga menyebut tempat itu Siti Hinggil, Bahu Sirad mem-punyai rencana mengganti nama Dusun Jakatawa menjadi Sitinggil.</p>
<p>Bahu Sirad menyampaikan rencana tersebut kepada Senthu.</p>
<p>&#8220;Kang Senthu, saya punya rencana untuk mengganti nama Dusun Jakatawa menjadi Dusun Sitinggil,&#8221; kata Bahu Sirad.</p>
<p>&#8220;Mengapa diganti nama Sitinggil, Ki Bahu?&#8221; tanya Senthu.</p>
<p>&#8220;Karena di tempat ini terdapat gumuk yang oleh orang-orang disebut Siti Hinggil,&#8221; jawab Bahu Sirad.</p>
<p>Beberapa hari kemudian Bahu Sirad mengumpulkan warganya untuk membicarakan masalah tersebut. Dalam musyawarah tersebut diperoleh kesepakatan untuk mengganti nama daerah Jakatawa se-belah selatan rel menjadi Sitinggil.</p>
<p>Cerita Rakyat Cilacap ini diceritakan kembali oleh Ery Agus Kurnianto.</p>
<p>Penerbit:
Balai Bahasa Jawa Tengah
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/Lokasi-Pasar-Sitinggil-Rawajaya-Banatarsari-Cilacap.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="700"
				height="393">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[Lokasi Pasar Sitinggil Rawajaya Banatarsari Cilacap]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/Lokasi-Pasar-Sitinggil-Rawajaya-Banatarsari-Cilacap-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[Lokasi Pasar Sitinggil Rawajaya Banatarsari Cilacap]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Viral Baru-Baru ini, Kisah Lengkap Full Chapter Pengalaman Angker Mendaki Gunung Slamet Via Dukuh Liwung</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-32251/viral-baru-baru-ini-kisah-lengkap-full-chapter-pengalaman-angker-mendaki-gunung-slamet-via-dukuh-liwung</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Sep 2020 18:54:30 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Banyumas]]></category>
		<category><![CDATA[Brebes]]></category>
		<category><![CDATA[Horor]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Mistis]]></category>
		<category><![CDATA[Pekalongan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendakian Gunung]]></category>
		<category><![CDATA[Tegal]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-32251/viral-baru-baru-ini-kisah-lengkap-full-chapter-pengalaman-angker-mendaki-gunung-slamet-via-dukuh-liwung</guid>

					<description><![CDATA[ aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Warga di Banyumas, Purbalingga, Tegal, Brebes dan Pemalang pasti mengenal Gunung Slamet, ya meskipun ada yang memang belum pernah muncak ke gunung tersebut.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Warga di Banyumas, Purbalingga, Tegal, Brebes dan Pemalang pasti mengenal Gunung Slamet, ya meskipun ada yang memang belum pernah muncak ke gunung tersebut.</p>
<p>Diketahui bahwa, gunung satu ini adalah gunung tertinggi di Jawa Tengah yang memiliki ketinggian 3428 mdpl (meter di atas permukaan laut) dan salah satu gunung yang statusnya masih aktif.</p>
<p>Gunung ini jika cuaca dalam kondisi cerah, bisa terlihat dari ujung paling barat Cilacap, yakni dari Dayeuhluhur.</p>
<p>Banyak cerita rakyat melegenda tentang gunung satu ini, dan juga dikenal gunung yang angker.</p>
<p>Beberapa pengalaman pendaki yang pernah mendaki gunung ini pun pernah membagikan pengalaman seramnya, seperti yang kami jumpai di Forum Kaskus.</p>
<p>Namun baru-baru ini, kami juga menjumpai artikel yang tengah viral di lini masa media sosial dan juga ada di Web / Blog, terkait cerita pengalaman pendakian Gunung Slamet.</p>
<p>Dalam hal ini, Cilacap.info mengambil sebuah cerita yang lebih dulu ada dan banyak diperbincangkan.</p>
<p>Dalam hal ini, Cilacap.info melalui story.cilacap.info mengambil kisah dari Facebook yang diunggah oleh Fanpage &#8220;Echdemomania Adventure&#8221; juga lengkap dengan Part dan Authornya sebagai bentuk penghargaan akan karya tulis dan Hak Cipta.</p>
<h2>Selamat di Gunung Slamet
(Angkernya jalur Dukuh Liwung)
PART 1</h2>
<p>Saya Nina, ini kisah kami, saya dan beberapa rekan yang kebetulan dulunya adalah teman satu kantor, kecuali Asep. Kisah ini di awali ketika kami berencana menghabiskan libur akhir tahun, untuk sejenak melepas kejenuhan dari rutinitas pekerjaan yang mulai membuat kami bosan, terutama menghadapi kemacetan Ibu kota.</p>
<p>Waktu itu Desember 2015, tiba lah hari dimana kami memutuskan untuk mendaki gunung Slamet yang merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah. Rencana awal kami akan naik melalui pintu masuk pemandian air panas Gucci, tapi entah kenapa, pagi itu, ketika kami sampai, mobil elf yang kami tumpangi diminta untuk berputar arah, yang kami sendiri tidak tahu diarahkan kemana.</p>
<p>Setelah berputar, dan bertanya sana sini, kami diarahkan ke sebuah desa, desa yang menurut saya cukup rapih namun terkesan sepi, karena sepanjang jalan, kami hanya menemui beberapa penduduk desa saja.</p>
<p>Sampai lah kami di ujung jalan desa ini, kami memarkirkan mobil yang kami sewa, di sebuah tanah lapang yang sepertinya sebuah kebun milik warga. Kami sempat kebingungan, karena ketika kami turun kami tidak melihat pos pendaftaran seperti yang terdapat pada jalur resmi pada umumnya. yang terlihat hanya rumah-rumah penduduk saja, yang sepi seperti tak berpenghuni. Sempat beberapa lama kami hanya terdiam karena tidak tahu harus kemana, tidak ada orang atau penduduk desa yang bisa kami tanya. </p>
<p>Sopir yang mengantar kami pun bingung, karena sepertinya ini juga kali pertama mereka mengantar pendakian lewat jalur ini. Setelah mencoba mencari-cari informasi, syukurlah tak berapa lama, kami langsung diarahkan ke sebuah rumah yang tidak jauh dari tempat kami memarkirkan mobil, kami langsung bergegas mengemasi barang-barang.</p>
<p>Tibalah kami di sebuah rumah berwarna biru muda yang sudah samar warna cat nya, &#8220;Dukuh Liwung&#8221; itu pertama kali yang kami baca, sebuah papan nama tertancap di atas atap depan rumah ini. Jujur saya pribadi tidak mengenal jalur ini, maklum saya ini bukan pendaki professional, hanya hobi menikmati alam. Panji, teman kami yang pertama kali memberitahukan kami, bahwa jalur yang akan kami lewati ini adalah Jalur Pendakian Legenda, dimana Soe Hok Gie menempuh jalur yang sama ketika mendaki gunung ini. Mungkin Panji pun baru mencarinya di google mengenai jalur ini. </p>
<p>Akhirnya kami dipersilahkan masuk ke sebuah rumah yang ternyata milik Juru Kunci Gunung ini. Panggil saja si Mbah, sosok lelaki tua, kurus namun terlihat masih sangat sehat di usianya yang pastinya sudah tidak muda lagi. Beliau duduk bersila di atas lantai rumah yang masih berbalut acian semen halus khas rumah desa. Dengan senyum nya si mbah menyambut kedatangan kami, yang hanya satu-satunya tamu di rumah ini pada hari itu..</p>
<p>Kami ber 7, 5 laki-laki dan 2 perempuan, saya dan teman saya Widi. Setelah dipersilahkan masuk, dan kami bersalaman dengan si Mbah, kami pun turut duduk bersila bersama si Mbah yang mulai melemparkan pertanyaan pada kami satu persatu dari mana kami berasal. Setelah berkenalan, si Mbah langsung bercerita pengalaman pengalaman beliau selama menjadi penjaga gunung ini. Terutama pengalaman dalam menolong pendaki-pendaki nakal nan sompral yang banyak tersesat Bahkan hilang di gunung ini.</p>
<p>Deg-degan tapi kami tetap menyimak cerita demi cerita yang dituturkan si Mbah. Mulai dari yang hilang berhari-hari sampai yang tidak bisa diselamatkan. Kami tau tujuan beliau menceritakan itu semua bukan untuk menakuti-nakuti kami, tapi untuk dijadikan pelajaran, agar tidak berlaku seenaknya di gunung ini, atau di tempat lain dimanapun kami berada. </p>
<p>Sekilas pasti terlihat ketakutan diwajah kami yang tidak menyangka bahwa kami akan melewati jalur ini, tau namanya saja tidak, ah ga pernah kepikiran kami benar-benar seperti disesatkan. Tapi si mbah coba menenangkan namun suaranya terdengar berat, sehingga kami tahu, bahwa sejujurnya jalur ini memang angker untuk dilewati.</p>
<p>Setelah cerita panjang lebar, dan meneguk teh hangat yang disediakan oleh istri si mbah,dan suasana sudah mencair dari cerita-cerita horror yang dituturkan sebelumnya, pertanyaan terakhir si mbah adalah siapa di antara saya dan Widi yang sedang Haid? Atau waktu haid nya sudah dekat?, sempat saling lirik, namun Alhamdulillah saya baru selesai masa itu, tapi tidak dengan Widi, sepertinya dia akan haid dalam waktu dekat. </p>
<p>Si Mbah lalu memberikan kami sebuah bungkusan berbalut kain putih, berisikan kemenyan. Kami sempat bingung, lalu si Mbah menjelaskan bahwa, kalau di atas nanti salah satu di antara kami datang bulan, mohon jangan ikut muncak, agar berdiam diri saja ditenda, dan sebelum turun, kami diperintahkan untuk membakar kemenyan tersebut dan meraupkan asap nya ke wajah kami masing-masing, bukan hanya saya dan Widi, tapi kami ber tujuh. Tujuannya adalah agar kami tidak disesatkan oleh penghuni gunung ini, ketika perjalanan pulang nanti. Saling curi pandang tak terelakkan dari wajah kami, tapi kami pun tidak mungkin menolaknya. Akhirnya kami memutuskan tetap membawa bungkusan kain putih itu bersama kami menaiki gunung ini.</p>
<h2>Selamat di Gunung Slamet
(Angkernya jalur Dukuh Liwung)
PART 2</h2>
<p>Waktu sudah menunjukkan sore hari, kami pun bergegas mengemasi barang kami untuk melakukan pendakian. Nantinya kami akan ditemani oleh Pak Sakri penduduk asli Desa ini dan masih satu keluarga dengan si Mbah. Sebelumnya kami sebenarnya tidak berniat memakai jasa porter atau sejenisnya, karena kami tidak pernah melakukan itu dipendakian-pendakian kami sebelumnya, namun dari cerita si Mbah, si mbah menyarankan agar kami ditemani anaknya minimal sampai Pos 2, karena jalur ini masih jarang dilewati dan banyak sekali jalur bercabang yang bisa membuat kami bingung dan bisa jadi membuat kami tersesat. Akhirnya kami setuju, karena kami pun tidak mau ambil resiko jika yang dikatakan si mbah adalah benar adanya. </p>
<p>Akhirnya setelah selesai berkemas dan berpamitan pada si Mbah dan keluarganya, seperti biasa tidak lupa pula kami memanjatkan doa mohon keselamatan kepada Allah SWT untuk pendakian kami kali ini, setelahnya barulah kami mulai menapaki jalur pendakian legenda ini. </p>
<p>Awal perjalanan kami disambut kebun-kebun warga, yang tertata rapih khas pedesaan. Melalui tanah lapang dimana ada tugu batas desa ini di sana. Lalu kami disambut kebun Karet yang pohonnya menjulang tinggi berjejer rapih seolah mengucapkan selamat datang pada kami semua.</p>
<p>Selepas melewati kebun karet, kembali kami menemui perkebunan warga, dan di sanalah kami menemui Pak Sakri untuk pertama kali nya. Pak Sakri seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, usianya mungkin kurang lebih 40 tahun, tubuhnya kurus namun berotot khas penduduk desa yang suka bekerja keras. Pekerjaan hari-hari beliau adalah berkebun, sama seperti penduduk lain desa ini.</p>
<p>Setelah berkenalan dan berbincang sebentar, kami menunggu Pak Sakri bersiap-siap. Pak Sakri sebenarnya bukan porter yang seharusnya menemani kami, tapi anak Mbah yang satunya yang mengantarkan kami bertemu Pak Sakri ini lah yang seharusnya menemani kami sampai Pos 2, namun karena satu dan lain hal, akhirnya Pak Sakri menggantikan posisinya.</p>
<p>***
Perjalanan dimulai kembali dengan Pak Sakri membuka pembatas kebun yang terbuat dari pagar bambu agar kami bisa melewati jalur pendakian ini. Dengan ini jelas mamastikan bahwa jalur ini bukan jalur pendakian umum biasa, namun hanya orang-orang tertentu yang tau keberadaan jalur ini saja yang melewatinya. </p>
<p>Awal memasuki jalur ini kami disambut oleh pohon-pohon besar nan tinggi dengan akar2 besar bergelantung di sana sini menjadi pemandangan alam yang asri namun kesan angker tak bisa dipungkiri. Jalur ini lebih terlihat seperti hutan rimba daripada jalur pendakian gunung pada umumnya. Jalan setapaknya sudah banyak tertutup pepohonan dan agak licin tanda jarang dilewati.</p>
<p>Namun karena hari masih sore dan matahari bersinar dengan cantiknya menembus celah-celah pepohonan yang kian gagah tertancap di setiap sudut hutan ini, tetap menyajikan pemandangan yang indah dimata kami.</p>
<p>Tidak terasa, sejuknya udara, indahnya pemandangan itu, mengantarkan kami yang tanpa sadar sudah sampai di Pos pertama jalur pendakian ini, ada sedikit tanah lapang di sana. Kami memutuskan untuk beristirahat sejenak menikmati segarnya udara dan sejuknya cuaca sore itu.</p>
<p>Disela-sela istirahat, Saya dan Widi menggunakan kesempatan itu untuk buang air kecil, seperti biasa kami pun mencari celah dibalik pepohonan, dan tidak lupa untuk bilang permisi karena bagaimanapun kami adalah tamu di tempat ini.</p>
<p>Setelah menemukan tempat yang pas, saya dan Widi berjaga bergantian. Saya lebih dulu baru Widi. Teman kami yang lain pun turut melakukan hal yang sama, istirahat sejenak sambil mencari celah pohon untuk buang air kecil. Panji salah satunya, awalnya tidak ada yang aneh dengan kegiatan kami, karena hal ini umum dilakukan para pendaki lain. Namun sungguh kami tidak pernah menyangka, istirahat pertama kami ini lah ternyata awal mula yang menyebabkan kejadian kejadian aneh nan mistis selama pendakian kami, dimulai&#8230;</p>
<h2>Selamat di Gunung Slamet
(Angkernya jalur Dukuh Liwung)
PART 3</h2>
<p>Selepas membersihkan diri setelah buang air kecil, kami duduk-duduk di batang pohon mati, di bawah bedeng non permanen yang terbuat dari batang pohon kecil dan plastik putih yang sudah lusuh dan bolong di sana sini, buatan pendaki terdahulu sepertinya. Terlihat ada bekas bakar-bakaran yang menyisakan warna hangus ditanah dengan beberapa sampah kecil yang terlihat sudah sangat lama ditinggalkan di sana. </p>
<p>Ketika kami sedang asik beristirahat seraya meluruskan kaki kami, mengendorkan otot yang tegang, kami disibukkan dengan banyaknya pacet atau lintah yang menempel pada kaki kami, tidak cuma dikaki tapi juga dipunggung teman kami, syukurlah saya tidak kebagian dalam drama ini. </p>
<p>Gelak tawa tak terelakan melihat tingkah sesama team kami yang kegelian melihat lintah menempel ditubuh mereka. Mereka memutar-mutarkan badan seraya mencari dimana lagi lintah-lintah itu menempel, ada yang masih kecil ada yang sudah menjadi sangat gemuk tanda lintah itu sudah cukup lama berada di sana dan menghisap banyak darah.</p>
<p>Ketika ingin melanjutkan perjalanan, sayup-sayup terdengar adzan maghrib berkumandang. Akhirnya kami memutuskan menunda perjalanan kami sejenak dan melanjutkan setelah adzan maghrib selesai. </p>
<p>***</p>
<p>Perjalanan menuju POS 2 pun dimulai, masih dengan pemandangan yang sama, pohon-pohon besar dengan akar-akar yang kekar tertancap gagah di hutan belantara ini. Sekilas mirip hutan di pinggiran sungai Amazon atau atau di film Anaconda, benar-benar liar. Ukuran batang pohonnya mungkin cukup jika dipeluk oleh dua orang dewasa atau Bahkan lebih. </p>
<p>Hari sudah mulai gelap, tidak ada yang aneh dengan perjalanan kami sejauh ini, sampai pada suatu titk, Panji teman kami mengeluh sakit pada kaki kanan nya. </p>
<p>&#8220;Break!, brenti dulu, kaki gue sakit&#8221;. Ucapnya.
&#8220;Kenapa Nji?&#8221; tanyaku.
&#8220;Ga tau tiba-tiba sakit banget&#8221;.
&#8220;Yaudah istirahat dulu nanti baru kita lanjut lagi&#8221;. Seru teman yang lainnya. </p>
<p>Kami beristirahat dijalur, karena memang tidak ada tanah lapang di sana, hanya jalur setapak yang ditumbuhi pepohonan lebat. Sambil berdiri kami mencoba mengatur nafas masing-masing, berharap sakit kaki Panji cepat mereda. </p>
<p>Panji berusaha menenangkan kaki nya, yang seolah tiba-tiba mogok tidak mau berjalan. Dibantu oleh Bang Epps dan rekan lainnya. Setelah memastikan bahwa kaki Panji baik-baik saja, dan istirahat cukup, kami memutuskan melanjutkan perjalanan, namun dengan tempo yang lebih lambat. </p>
<p>Seiring berjalan makin lama kaki Panji makin terasa sakit dan berat, hingga akhirnya memaksa kami harus berhenti kembali, padahal baru beberapa saat berjalan. Kali ini Pak Sakri coba membalurkan cream peregang otot pada kaki Panji, yang sebelumnya pun sudah dilakukan teman kami yang lain, namun seperti tidak ada hasilnya. Kaki Panji tetap terasa sakit.</p>
<p>Dengan pertimbangan hari yang kian gelap, dan persediaan Headlamp beberapa dari kami tiba-tiba tidak berfungsi, padahal sebelumnya baik-baik saja, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Waktu menunjukkan pukul 8 malam, itu artinya kurang lebih 4 jam sudah kami berjalan, waktu yang cukup lama dengan jarak yang belum seberapa ini. </p>
<p>Kami bergegas melanjutkan perjalanan menuju Pos 2, dimana di sana terdapat tanah lapang, jadi kami bisa beristirahat dengan lebih leluasa. Namun, tidak lama, lagi-lagi Panji berhenti, sepertinya, kaki kanannya sudah benar-benar tidak bisa diajak berdamai. &#8220;Break! Tolong berhenti!&#8221;. Seru Panji lagi. Saya dan Widi karena wanita berjalan di tengah, Usep dan Asep berjalan paling depan, dan langsung menghentikan langkah kami. Kami kembali beristirahat dijalur, namun kali ini saya memilih duduk sambil meluruskan kaki, begitu juga dengan teman-teman yang lain, hanya Panji yang masih berdiri dengan memegangi batang pohon yang digunakan untuk membantu nya berjalan.</p>
<p>&#8220;Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh,,&#8221;. Tiba-tiba suara Panji terdengar. Kami semua terdiam. &#8220;Nama saya Panji,,&#8221;. Lanjutnya. &#8220;Saya mohon maaf kalau mungkin ada salah kata dan perbuatan saya, kalau tadi saya buang air kecil tidak bilang permisi, saya mohon maaf, saya tidak ada maksud apapun, saya tidak ada maksud mengganggu atau bersikap kurang sopan, saya mohon maaf.&#8221; Ujarnya.</p>
<p>Kami terkejut dengan ucapan Panji tersebut, yang tiba-tiba saja meminta maaf pada entah siapa. Semua mendengarkan dengan wajah bertanya-tanya, namun tidak bisa pula diklarifikasi dalam keadaan sekarang. Akhirnya tak butuh waktu lama, setelah mengucapkan kata-kata itu, kaki Panji tiba-tiba saja pulih, tidak terasa sakit sedikit pun. &#8220;Ga tau kenapa, kaki gue sekarang tiba-tiba gak sakit lagi, gak berat lagi,&#8221;. Jelas Panji. Saling pandang antara kami dengan wajah penuh tanya tentu saja tak ter elakkan lagi. Antara lega karena artinya kami bisa melanjutkan perjalanan namun juga bingung, apa yang terjadi sebenarnya. </p>
<p>Dengan hati yang masih penuh tanya, kami pun melanjutkan perjalanan, kejadian barusan mengingatkan kami pada cerita-cerita Mbah Kuncen. ‘Ah sudahlah semoga tidak semengerikan itu’. Ucap saya dalam hati. Insyallah tujuan kami baik, tidak ingin merusak apalagi bersikap tidak sopan di gunung ini. </p>
<p>Langkah kami sekarang lebih cepat, karena Panji sudah bisa berjalan normal. Sembuhnya kaki Panji tadi mudah-mudahan menjadi akhir rintangan perjalanan ini, dan dimudahkan untuk perjalanan selanjutnya sampai kami pulang ke rumah masing-masing dengan sehat dan selamat, itu doa saya. Namun pengkabulan doa, memang tidak secepat itu. Kejadian demi kejadian aneh yang kami alami selepas perjalanan dari istirahat barusan, datang silih berganti. Kini di tengah perjalanan menuju Pos berikutnya, kami kembali disambut oleh penunggu lain gunung ini.</p>
<h2>Selamat di Gunung Slamet
(Angkernya jalur Dukuh Liwung)
PART 4</h2>
<p>Hari semakin gelap, hawa dingin mulai menyeruak masuk ke dalam sela-sela jaket kami. Cahaya bulan redup, terhalang rimbunnya Pohon yang seolah-olah mengamati kami sejak awal. Syukurlah, ternyata kami telah sampai di Pos dua, ada sedikit tanah lapang, kami bisa beristirahat lebih leluasa sekarang, meluruskan kaki, dan mengeluarkan camilan dari dalam tas kami.</p>
<p>Namun karena hari sudah semakin gelap, Pak Sakri meminta kami agar tidak berlama-lama di Pos ini. Entahlah, nada suaranya lebih seperti ingin mengatakan bahwa memang tidak baik berlama-lama di Pos ini. Tapi saya tidak menghiraukan itu, dan tidak pula ingin bertanya lebih jauh, karena hari memang sudah sangat gelap, dan tubuh ini pun sudah minta istirahat, jadi yang terbaik memang kami harus bergegas melanjutkan perjalanan agar dapat segera sampai di Pos 3 dan bermalam di sana.</p>
<p>Perjalanan pun dimulai kembali, Asep dan Usep masih bertahan di posisi depan, diikuti oleh Widi dan saya, lalu Fahmi, Bang Epps, dan Panji. Jalur yang kami lalui masih sama, jalan setapak yang hampir tak terlihat karena dipenuhi tumbuhan liar.</p>
<p>‘WukWukWuk’ terdengar seperti suara burung, namun tidak ada yang melintas di atas kami, suaranya sangat dekat dan jelas. Dengan santai saya bertanya ke pada Pak Sakri. &#8220;Burung apa Pak&#8221;?. Tanya ku. &#8220;Ssst..udah jangan di dengerin, jangan lihat-lihat keatas&#8221; Jawab Pak Sakri pelan. Mendengar jawaban itu justru malah membuat kami semakin penasaran. &#8220;Emang apa Pak?.&#8221; Tanya teman kami yang lain. &#8220;Gak apa-apa&#8221;. Jawab Pak Sakri singkat. Sejenak kami terdiam, hawa mistis kini lebih terasa menyelimuti setiap sudut hutan ini. Kami merasa ada kehadiran makhluk lain di sini, dan kami sadar sejak tadi kami tidak sendiri.</p>
<p>&#8220;Wukwukwuk&#8221;.. bunyi itu terdengar lagi. Kali ini Pak Sakri berpindah posisi dari belakang ke depan. Kini tinggal Bang Eps dan Panji berada paling belakang saling bergantian. &#8220;Saya pindah ke depan.&#8221; Ujarnya, sambil bergegas jalan ke depan, Bang Epss dan Panji sudah pasti ber uji nyali di belakang sana. &#8220;Kenapa Pak?.&#8221; Tanya ku. &#8220;Ga apa-apa&#8221; jawabnya. &#8220;Sudah lanjut jalan, jangan berhenti, biar cepat sampai Pos 3 kita bisa cepet bangun tenda di sana, terus tidur.&#8221; Sambung Pak Sakri. </p>
<p>Tapi karena kami penasaran, dan pastinya sangat ingin tau ada apa sebenarnya, kami sedikit memaksa Pak Sakri untuk memberitahu suara apa itu. Dengan nada suara yang seolah-olah dibuat agar terdengar biasa, Pak Sakri akhirnya memberi tahu kami suara apa itu sebenarnya. &#8220;Itu adalah suara Kuntilanak lelaki, biasanya merupakan demit jejadian dari manusia-manusia penganut ilmu hitam.&#8221; Ujarnya. &#8220;Hah? yang bener Pak?&#8221;. Tanya ku. &#8220;Iya tapi jangan takut, baca-baca doa aja, pikiran jangan kosong insyaallah ga diganggu.&#8221; Jawab Pak Sakri menenangkan. </p>
<p>Disinilah saya baru tahu, bahwa kuntilanak itu ada laki-laki dan ada juga yang perempuan, kuntilanak laki-laki katanya lebih jahat dari pada yang perempuan, tapi apapun itu tetap saja, bagi saya mereka menyeramkan. </p>
<p>Kuntilanak itu kini mengikuti sepanjang perjalanan kami, walau saya tidak melihatnya, tapi saya dapat merasakan bahwa kuntilanak tersebut mengamati kami sejak tadi. Entah kesalahan apalagi yang kami perbuat kali ini, sehingga harus diikuti makhluk jadi-jadian seperti ini.</p>
<p>Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, kami belum juga sampai di Pos 3, perjalanan terasa sangat lambat, padahal kami terhitung jarang sekali berhenti semenjak kaki Panji sudah kembali pulih tadi. Suara kuntilanak itu timbul dan tenggelam, tapi pasti ada disekililing kami, mengiringi perjalanan kami disepanjang malam ini.</p>
<p>Tiba di sebuah tanah lapang yang tidak begitu besar, sudah tertancap dua tenda di sana. Ini pasti Pos 3, akhirnya kami menemui pendaki lain di gunung ini, dimana semenjak awal perjalanan, tidak ada satu pun pendaki lain bepapasan dengan kami.</p>
<p>&#8220;Alhamdulillaahh..sampai juga.&#8221; Ucap teman-teman kami seraya meluruskan kaki yang sejak tadiminta berhenti. Tidak terasa hampir 8 jam perjalanan kami hanya dari basecamp sampai di Pos 3 ini. Jalur yang kami lewati sebenarnya tidak terlalu terjal, tapi tidak pula landai, hanya saja terlalu penuh semak belukar.</p>
<p>Dua tenda yang sudah terpasang milik pendaki lain ini, terlihat begitu sepi, tanda penghuni di dalamnya sudah beristirahat dalam lelap. Namun ada yang ganjil dengan dua tenda ini, terdengar suara lantunan ayat suci Al-Quran dari dalam tenda, mungkin berasal dari salah satu Hp milik pendaki di dalamnya. </p>
<p>Suara riuh kami, mungkin membangunkan salah satu penghuni tenda tersebut. Samar-samar saya mendengar Panji dan rekan lainnya yang sudah sampai lebih dulu, berbincang dengan pendaki itu. &#8220;Ada yang kesurupan tadi, temennya yang perempuan&#8221;. Jelas Panji seraya berjalan kearah kami, dimana Saya, Fahmi dan Widi baru saja tiba di Pos ini &#8220;Kapan?.&#8221; Tanya ku.
&#8220;Barusan katanya, sebelum kita datang.&#8221; Jelas nya. </p>
<p>Oh..itulah sebabnya mengapa mereka membunyikan lantunan ayat suci Al-Quran dari dalam tenda. Tapi sepengalaman kami, hal itu hanya akan membuat penghuni lain di sini makin marah, karena mereka terasa ditantang, dan diusik keberadaannya. </p>
<p>Tak lama, kami bergegas mencari lahan bagian datar yang kira-kira dapat kami jadikan tempat bermalam, namun karena terlalu sempit dan hanya menyisakan tanah kosong sedikit yang posisi nya agak miring, terpaksa kami membangun tenda di sana. </p>
<p>Setelah 2 tenda terpasang rapih, Pak Sakri yang sejak tadi berdiri disamping tempat kami mendirikan tenda, mengamati ke arah pohon tepat dari mana arah kami datang tadi. &#8220;Masih ada ya Pak?&#8221;. Tanya Panji. Panji dan Bang Eps terlihat bolak-balik berkerumun mendekati Pak Sakri. &#8220;Itu dipohon itu, lagi liatin kesini.&#8221; Jawab Pak Sakri santai sambil meniupkan asap rokoknya. &#8220;Apaan sih Nji?,&#8221; tanya ku. &#8220;Kuntilanak!&#8221; Jawabnya singkat. Tidak mau memperpanjang pembicaraan saya langsung menenggelamkan diri bergabung dengan Widi yang sedang memanaskan air, bersama Fahmi, Asep dan Usep serta Bang Eps yang sejak tadi mondar mandir tidak jelas. </p>
<p>&#8220;Tuh masih ada Kuntilanak nya, tuh bunyinya masih kedengeran.&#8221; Ucap Panji seraya mendatangi kami semua, bunyi wukwukwuk kembali terdengar. Kami hanya saling curi pandang, tidak bisa banyak komentar, takut salah ucap, malah bisa jadi sasaran. Sudahlah jangan dihiraukan, pikirku. Lalu kami melanjutkan memanaskan air, dan menyiapkan beberapa gelas untuk menyeduh kopi dan teh.</p>
<p>Setelah selesai memanaskan air dan membuat teh dan kopi untuk sedikit menghangatkan badan, kami melakukan Sholat isya dan meng qada sholat maghrib. Setelahnya kami bergegas masuk ke tenda, beristirahat, karena kami harus melanjutkan perjalanan kembali esok pagi. </p>
<p>Ketika saya dan yang lain sudah berada di dalam tenda, Pak Sakri dan Panji sepertinya masih berbincang di luar. Entah apa yang mereka bicarakan, sepertinya pembahasan menganai Kaki Panji yang terasa sakit tadi. Ternyata menurut Pak Sakri, kaki Panji ditumpangi tiga makhluk halus penunggu tempat dimana Panji buang air kecil. </p>
<p>Akhirnya kami pun terlelap dalam dingin dan gelap nya malam gunung ini. Bintang tidak lagi tampak, tertutup gelapnya malam dan rimbunnya pohon hutan ini. Malam ini, kami semua beristirahat, di bawah redupnya cahaya bulan. di dalam keremangan tenda, dengan tetap ditemani sosok jadi jadian, yang sejak tadi seolah enggan pergi meninggalkan kami sendirian di hutan ini. Mereka tetap setia mengamati dari balik pohon, tempat mereka bersembunyi..</p>
<h2>Selamat di Gunung Slamet
(Angkernya jalur Dukuh Liwung)
PART 5</h2>
<p>&#8220;Emang lo ga bilang permisi?&#8221; tanya ku pada Panji pagi itu. Kini hari telah berganti, cahaya bulan yang redup semalam sudah berubah menjadi terangnya sinar matahari. Sosok jadi jadian pun entah kemana, mungkin kini mereka telah pergi. &#8220;Enggak sih Na, tapi gua udah bilang Asslamualaikum.&#8221; Mendengar jawaban itu saya pun bingung, harus berkomentar apa. Sejenak saya berpikir, ‘iya, apa salahnya, kan sudah mengucap salam’. Tapi mungkin memang tetap dianggap tidak sopan, ibaratnya kita main ke rumah orang lain, hanya mengucap salam, lalu pergi ke kamar mandi tanpa bilang permisi, pastinya sangat tidak sopan. Tapi sudahlah, semoga hal ini tidak terulang lagi, dan bisa jadi pembelajaran kami kedepannya.</p>
<p>Setelah sarapan dan memastikan perbekalan air yang cukup, kami mulai berkemas untuk melanjutkan perjalanan. Pendaki lain yang semalam bersama kami, sudah lebih dulu melanjutkan pendakian mereka. </p>
<p>&#8220;Okeghhh.. siap ya? ber doa dulu, semoga disehat selamatkan perjalanan kita dipendakian kali ini, kita bisa kembali ke rumah masing-masing dalam keadaan sehat wal’afiat tanpa kekurangan suatu apapun, ber doa dimulai.&#8221; Ucap Fahmi memimpin doa pagi ini. &#8220;Aamiin!&#8221; seru kami, seraya benar-benar memohon perlindungan Allah SWT.</p>
<p>Kami pun memulai kembali pendakian ini. Kali ini jalurnya sedikit berbeda kami tidak lagi melewati hutan belantara, dengan pohon-pohon besar menjulang tinggi dan akar-akar yang saling berkait di ujungnya. Jalur yang kami lewati sekarang sedikit menurun, landai namun tidak lama menanjak kembali. Tidak ada yang aneh dalam perjalanan kami pagi ini, cuaca cerah, matahari bersinar dengan indahnya menembus celah-celah daun yang kini sudah tidak terlalu rapat. Ya, sepertinya kami telah lepas dari hutan rimba, kini jalur yang kami lewati sudah terlihat normal seperti jalur pendakian pada umumnya.</p>
<p>Pendakian dari Pos 3 ke Pos 4 berjalan lancar, begitu pun sampai Pos 5. Sesekali kami menjumpai kelompok pendaki lain, tidak banyak memang, tidak sesering seperti pendakian-pendakian kami sebelumnya, yang setiap saat pasti saja berpapasan dengan pendaki lain, Bahkan bisa juga sampai terjadi kemacetan. </p>
<p>Entah kenapa, kami baru bertemu dengan mereka selepas dari Pos tiga ini, sedangkan dari basecamp sampai Pos tiga tidak ada satupun pendaki lain yang kami temui, kecuali di tempat kami bermalam. Singkat cerita, ternyata jalur dari Pos tiga sampai atas merupakan titik pertemuan dari beberapa jalur lain. Saya lupa pastinya jalur apa saja itu, yang pasti para pendaki lain itu, berasal dari sana.</p>
<p>Pak Sakri, yang semula dijadwalkan hanya akan menemani kami sampai Pos dua, tentu saja tidak kami ijinkan pulang. Mengingat kejadian-kejadian yang kami alami, kami sudah pasti membutuhkan beliau untuk menemani kami kembali sampai kami turun dari gunung ini. </p>
<p>***</p>
<p>Tibalah kami di Pos Bayangan. Sebuah tanah datar yang tidak terlalu luas, ada beberapa pohon yang dapat kita gunakan untuk bersandar. Pos bayangan ini adalah Pos sebelum kami benar-benar sampai di Pos terakhir jalur ini, yaitu Pos 5. Ketika kami sampai ada beberapa pendaki lain yang juga sedang istirahat di sana. </p>
<p>Seperti sudah saling mengerti ketika kami datang dan memberi salam, mereka bergegas bersiap melanjutkan pendakian mereka. Mungkin mereka paham, bahwa tempat ini terlalu sempit jika dihuni kami semua secara bersamaan, jika dirasa cukup waktu mereka beristirahat, maka mereka akan memberikan kesempatan pada pendaki lain untuk bergantian. </p>
<p>Kami langsung mengambil posisi masing-masing, ada yang bersandar di pohon, ada yang bersandar di carriel tanpa melepasnya. &#8220;Aaaahhhhhh.&#8221; Seru kami hampir kompak, sambil meregangkan otot-otot punggung dan kaki yang pastinya sudah bekerja paling keras sejak awal pendakian ini. </p>
<p>Makanan-makanan kecil pun kami keluarkan. Madu berbentuk stik agar mudah dihisap, dan sedikit coklat dan roti untuk mengganjal perut kami yang mulai keroncongan. Ah seandainya kami punya cukup waktu, ingin rasa nya mengeluarkan nesting dan memasak Mie Instan. Tapi sudah lah, Pos 5 yang merupakan pos terakhir jalur ini, sepertinya sudah tidak jauh lagi. Lagi pula hari sudah mulai sore, langit terlihat agak mendung, sepertinya akan turun hujan, lebih baik bergegas agar kami segera sampai atas sebelum hujan benar-benar turun. </p>
<p>Setelah istirahat dirasa cukup, dan tak lupa meneguk sedikit air untuk melepas dahaga, kami melanjutkan perjalanan ini. Baru saja memulai perjalanan, Panji tiba-tiba saja tersungkur. Tapi kali ini bukan karena mahkluk ghaib atau sejenisnya, sepertinya Panji memang kelelahan. &#8220;Hayati lelah Bang!&#8221; ucapnya seraya bangkit dari jatuhnya. Gelak tawa pecah seketika, bukan karena kami tak simpati tapi memang jatuhnya lucu sekali. Fahmi dan Bang Epps membantunya berdiri, karena bobot tubuh Panji yang besar, membuat mereka harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk menariknya.</p>
<p>Akhirnya, sekitar pukul tiga sore, kami sampai di Pos terakhir. Kami akan bermalam di sini, untuk selanjutnya, menaiki puncak esok pagi. Sudah ada dua tenda di sana, tenda pendaki lain yang pastinya sudah lebih dahulu sampai di tempat ini. </p>
<p>Tidak pakai istirahat, kami langsung berbagi tugas. Ada yang mendirikan tenda, ada yang menyiapkan bahan makanan untuk kami makan sore ini. Setelah tenda terpasang, nesting dikeluarkan, bahan masakan disiapkan, kami pun mulai memasak. Sayur Sop yang sudah dibersihkan dari rumah dibungkus rapih dengan plastik pembungkus sehingga masih sangat segar ketika dimasak untuk kami makan, telor balado, ikan asin dan bakwan menjadi hidangan kami sore ini. Hhmmm..lezat, apalagi dinikmati diketinggian setelah aktivitas yang sangat menguras tenaga.</p>
<p>Kalau ada yang tanya, kenapa tidak ada Mie Instan?. Tentu saja ada, tapi itu pilihan terakhir jika kami kehabisan bahan makanan, dan hanya memiliki sedikit waktu untuk memasak. Kadang kami berprinsip, pemenuhan gizi saat pendakian itu jauh lebih penting, walaupun makan Mie Instan hangat diketinggian yang dingin ini tentu saja sangat nikmat.</p>
<p>Saya, Widi dan Bang Epps kebagian memasak sore ini. yang lain menggunakan waktu istirahatnya sambil menikmati indahnya pemandangan dari atas sini. Fahmi dan Usep berfoto-foto di Goa yang berada tidak jauh dari tenda kami. Pak Sakri tentu saja sedang menikmati me-time nya dengan bersandar sambil ditemani rokok favoritenya.</p>
<p>Tidak terasa, waktu menunjukkan pukul 5 sore, makanan pun sudah terhidang dan siap disantap. Seperti biasa dalam hitungan menit makanan sudah raib tak tersisa, tangan-tangan lapar bagai anacconda bergerak cepat, siap memangsa musuh nya, langsung masuk ke dalam perut mereka.</p>
<p>&#8220;Alhamdulillaaahh.. kenyang!.&#8221; Kata yang pastinya terucap dari mulut kami semua. Momen makan bersama ini merupakan salah satu saat yang paling nikmat ketika kita melakukan pendakian. Sesi makan pun usai, kini waktunya kami bersiap untuk melaksanakan Sholat maghrib. Cuaca yang semula mendung, kini tampak kembali normal, langit mulai memerah, matahari hampir kembali ke peraduannya. </p>
<p>Sambil menunggu waktu maghrib tiba, Fahmi menunjukkan hasil foto-foto yang diambilnya bersama Usep tadi. Tidak ada yang tampak aneh di awal, sampai suatu foto yang sedikit mencuri perhatian kami. Dalam foto terlihat seperti wanita berambut panjang, namun samar-samar dan wajahnya nya pun tidak kelihatan. Padahal foto itu diambil fahmi di dalam goa yang tentu saja tidak ada siapa-siapa di sana. Tidak mau memperpanjang situasi mengingat kami masih berada di gunung ini, akhirnya kami memutuskan untuk mengabaikan foto itu.</p>
<p>Waktu maghrib pun tiba, kami masuk ke tenda bersiap-siap menunaikan sholat. Usai menunaikan sholat maghrib, sambil menunggu waktu isya kami membuat kopi dan teh untuk menghangatkan tubuh kami dari dinginnya malam yang mulai menusuk-nusuk sampai ke tulang. </p>
<p>Setelah menunaikan sholat isya, dan membersihkan diri dari sisa-sisa keringat hari ini, kami mencoba menikmati indahnya malam ini. Langit mulai gelap, bintang mulai menampakkan kecantikannya, namun keindahan itu tidak bisa lama kami nikmati. Angin dingin yang menembus jaket tebal kami, memaksa kami untuk segera mencari kehangatan di dalam tenda. </p>
<p>Widi tiba-tiba saja berbisik. &#8220;Mpok, kayaknya gua dapet dah.&#8221; Ucapnya. &#8220;Hah! Serius? Coba cek!&#8221; jawab ku. Kami bergegas ke dalam tenda.&#8221;Bener Mpok.&#8221; Deg hati ini mencelos seketika. Melihat wajah Widi, hati nya pasti kacau, karena artinya Ia tidak dapat ikut mendaki puncak besok pagi, padahal Ia sudah sejauh ini. &#8220;Yaudah ga apa-apa, bawa pembalut kan?&#8221; tanya ku. Widi meng angguk lesu, terlihat kecewa dan panik terpancar dari wajah nya.</p>
<p>Perbincangan kami sepertinya terdengar sampai tenda sebelah, terdengar riuh mereka berkata. &#8220;Hah, Widi dapet? Terus bagaimana?.&#8221; Entah lah, selain Widi tidak bisa ikut mendaki puncak, bagaimana yang mereka maksud pasti tentang bungkusan putih berisi kemenyan yang diberikan si Mbah sesaat sebelum kami mendaki gunung ini.</p>
<p>Dengan Widi mendapatkan haid hari pertamanya di atas sini, itu artinya kami harus melakukan ritual bakar kemenyan yang diperintahkan si Mbah sebelum kami kembali turun ke Bawah. Namun tentu saja hati kami tidak semudah itu menerimanya, karena kami semua tahu perbuatan itu bertentangan dengan tauhid. Kini kami dihadapkan pada pilihan, apakah kami harus membakarnya dan melakukan ritual tersebut atau ada cara lain agar kami tetap selamat saat kembali turun dari gunung ini…</p>
<h2>Selamat di Gunung Slamet
(Angkernya jalur Dukuh Liwung)
PART 6</h2>
<p>Hari berganti, kini saat yang kami tunggu-tunggu tiba. Pukul 5.30 pagi, selesai menunaikan sholat subuh, kami bersiap untuk mendaki puncak gunung ini. Menurut informasi kurang lebih 1.5 jam, kami akan tiba di atas, itu artinya sekitar jam 7 pagi. Sengaja kami tidak mendaki lebih awal, karena tidak mengejar sun rise pada pendakian kali ini, mungkin karena tubuh yang terlalu lelah, dan kejadian-kejadian yang cukup memecah konsentrasi kami, sehingga kami memutuskan mendaki dengan lebih santai.</p>
<p>Setelah bersiap dan membawa perbekalan air yang cukup, Saya, Fahmi, Panji, Bang Epps, Asep dan Usep memulai pendakian ini. Hanya Widi yang terpaksa harus tinggal di tenda, walau dengan berat hati, tapi tidak ada jalan lain, Widi harus ikhlas menerimanya. Untung lah dia tidak sendiri, ada Pak Sakri yang menemani.</p>
<p>Pendakian dimulai, dengan jalur yang kini nyaris tanpa pepohonan. Batu-batu besar menemani kami di awal pendakian puncak pagi ini. Kami masih bisa dengan lincah mendaki karena batu itu memudahkan pijakan kami. Namun tidak berlangsung lama, jalur berubah menjadi hamparan pasir batu yang nyaris sulit dijadikan pijakan. Apalagi dengan kemiringan hampir 45 derajat</p>
<p>Dua langkah naik, satu langkah kami merosot turun, mirip jalur di Mahameru. Sesekali kami harus menghindar dari bebatuan yang berjatuhan dari atas. Dari perkiraan jam 7 pagi kami sampai, ternyata jam 8.30 pagi kami baru tiba. 3 jam total perjalanan kami sampai atas, maklum lah lagi-lagi karena kami ini pendaki amatir. </p>
<p>Akhirnya, kaki kami menapak diujung jalur pendakian puncak ini. Sorak soray dan teriakan syukur kami, menggema seketika di atas puncak gunung tertinggi Jawa Tengah ini.
 &#8220;Alhamdulillaaahhhhhhhhhhhhhhhhh…Ya Allah, Puncaaaakkkkk!!..&#8221; Teriak kami, seraya melakukan sujud syukur atas nikmat yang luar biasa ini. Tidak ada yang lebih nikmat bagi seorang pendaki selain dapat meraih puncak dalam keadaan sehat dan selamat. Puncak memang bukan segalanya, tapi meraih puncak sudah pasti menjadi tujuan utama para pendaki seperti kami.</p>
<p>Rasa lelah hilang seketika, semua halang rintang yang kami hadapi selama pendakian ini, terbayar sudah oleh pemandangan yang terhampar indah di depan mata kami. Setelah mengatur nafas sejenak, kami langsung berfoto, untuk mengabadikan keindahan alam dari ketinggian ini. Sekarang awan bukan hanya ada di atas kami, tapi juga di bawah pandangan kami. Salah satu hikmah mendaki puncak adalah kita dapat melihat betapa luas bumi ini, betapa agungnya kekuasaan Tuhan. Kita manusia hanya buih kecil yang bukan apa-apa, tidak ada yang patut kita sombongkan.</p>
<p>Puncak yang kami daki ini sebernarnya bukan lah puncak utama gunung ini, melainkan masih ada satu puncak lagi yang dapat kami jangkau dengan menyusuri pinggir kawah ini. Walau demikian, kami tetap bersyukur sudah sampai sejauh ini. Kami sebenarnya bisa saja melanjutkan ke puncak utama, namun mengingat hari sudah siang, dan teman kami Widi menunggu di bawah, kami memutuskan cukup sampai di sini.</p>
<p>Setelah kurang lebih satu jam kami berada di sini, kini kami harus segera turun, karena asap belerang dari kawah gunung ini sewaktu-waktu dapat meracuni kami. Dengan tenaga yang tersisa, kaki-kaki ini mulai melangkah turun, tak lebih mudah dari perjalan naik tadi. Kami harus kembali menghadapi hamparan pasir berbatu yang kini dapat membuat kami tergelincir jika tidak hati-hati. </p>
<p>Kami memilih berseluncur di awal langkah menuruni puncak gunung ini, lalu dilanjutkan dengan melangkah perlahan. Sakit pada kaki tak bisa dihindarkan lagi, karena kami harus menahan bobot tubuh kami disetiap langkah yang kami ambil agar tidak merosot terlalu jauh. Perlahan namun pasti, kami akhirnya tiba di pos 5 tempat kami mendirikan tenda.</p>
<p>&#8220;Alhamdulilllaahh..&#8221; Ucap kami seraya berjalan dengan tubuh yang tengah gontai kehabisan tenaga. Teriknya matahari membuat lelah kami berlipat ganda, namun tak membuat kami hilang semangat. Waktu menunjukkan pukul 11 siang, tentu saja perut kami sudah keroncongan. Untunglah ada Widi yang sudah siap menyambut kami dengan hidangan makan siang. </p>
<p>&#8220;Haii gaess!!..gimana-gimana?’’ Seru Widi antusias menyambut kedatangan kami. Dari suaranya saya tau, bahwa dirinya pun berharap jadi bagian dari pendakian puncak tadi. &#8220;Ayo-ayo, istirahat dulu.&#8221; Sambungnya seraya mempersilahkan kami duduk di bawah flysheet di depan tenda. Setelah mengambil nafas, sedikit mereBahkan diri dan meluruskan kaki, melepas alas kaki yang seakan kini penuh duri, dan setelah membersihkan sisa-sisa kotoran yang menempel, kami langsung menyantap hidangan makan siang yang sudah memanggil-manggil sejak tadi.</p>
<p>Telor dadar, Bakwan dan Mie Goreng menu makan siang kami hari ini. Sambil makan Widi bercerita bahwa sepeninggal kami tadi, ada pendaki lain yang datang, dan mengira Widi adalah tukang bakwan. Dengan sedikit kesal Widi berkata &#8220;Iya, masa gua dikira tukang bakwan, gara-gara pas mereka sampe, gua lagi goreng bakwan, udah langsung pada bilang enak nih, beli-beli, gitu.&#8221; Ucapnya. Hahaha..lucu, mungkin karena Widi bersama Pak Sakri makanya disangka mereka, Widi adalah penduduk asli desa ini. Sudah tidak bisa ikut naik ke puncak, eh disangka jualan bakwan hihi..</p>
<p>Singkat cerita, sambil menikmati makan siang kami saling bercerita tentang pengalaman di atas puncak tadi. Kami tidak terlalu gamblang menceritakannya, karena Widi pasti iri mendengarnya, biarlah nanti kami ceritakan semua setelah turun dari sini. Selesai makan, kami segera berkemas, waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang. Tapi kini cuaca tidak terlalu panas, akan turun hujan sepertinya. </p>
<p>Tenda dilipat, nesting dikemas, sepatu kembali dipakai, semua telah siap, kini saatnya kami turun dari gunung ini, menapaki jalur yang sama yang kami lalui ketika awal pendakian ini. </p>
<p>Namun sebelum turun, kami kembali teringat tentang kemenyan itu. Bisik-bisik di antara kami, dan lewat pandangan mata yang seolah saling bertanya, bagaimana nasib kemenyan itu. &#8220;Itu bagaimana?&#8221;. Tanya ku pelan, Fahmi menoleh ke yang lain. Panji kembali menoleh ke Pak Sakri. Syukurlah Pak Sakri seolah mengerti gelagat kami, bahwa kami berat melakukannya. &#8220;Yaudah kalian Sholat kan? Dirumah sholat juga kan?&#8221; Tanya nya. &#8220;Iya Pak sholat dong Pak, Insya Allah.&#8221; Jawab kami bangga. &#8220;Yaudah sini, saya pegang saja kemenyan nya, ga usah dibakar, berdoa saja, mohon perlindungan Allah, supaya sehat selamat sampai di rumah.&#8221; &#8220;Aaamiinn..&#8221; Aaahhh..Lega rasanya mendengar perkataan Pak Sakri tersebut, akhirnya kami tidak perlu melakukan ritual yang bertentangan dengan ajaran Agama kami itu. Kini kemenyan itu sudah berpindah tangan, dari tangan kami ke tangan Pak Sakri.</p>
<p>Akhirnya di bawah redupnya sinar matahari, kami memulai perjalanan turun. Kami berjalan satu persatu, Usep, Asep kembali di depan, disambung Widi, Saya, Fahmi, Bang Epss, Panji dan Pak Sakri sebagai Sweeper. Awal perjalanan dari Pos 5 ternyata tidak berjalan lancar, kaki saya sedikit cedera akibat turun dari puncak tadi, sepatu jebol mengakibatkan hampir keseluruhan jari kaki saya berdenyut hebat. Sakittt.. sekali rasanya ketika dipakai berjalan dan bersentuhan dengan ujung sepatu. Untung lah saya bersama suami dipendakian ini, Fahmi harus rela bersabar menunggu saya yang berjalan amat perlahan, sedangkan yang lain, sudah lebih dulu menunggu di depan.</p>
<p>&#8220;Ga apapa, jalan duluan aja, seru kami!&#8221;. Saya masih berusaha berjalan sambil menahan sakit, namun karena ujung-ujung jari ini sepertinya bengkak maka akhirnya saya memutuskan untuk melepas sepatu dan menggantinya dengan sandal. </p>
<p>Usai memakai sandal, dengan tetap mengenakan kaos kaki, kini saya bisa kembali berjalan dengan lancar. Kini posisi saya di depan, paling depan, diikuti oleh Widi, Usep, Asep, Panji, Bang Epss, Fahmi dan Pak Sakri. Setengah berlari saya menuruni jalur ini dengan cepat, Bahkan cukup cepat untuk membuat mereka yang di belakang berlari sampai ngos-ngosan. </p>
<p>&#8220;Stop, jangan cepet-cepat napa Na, ngacir baee!&#8221; Seru Panji. &#8220;tau nih, mentang-mentang kaki udah kagak sakit.&#8221; Sambung Bang Epps. Baiklah saya menghentikan langkah, tapi dengan saya ngebut tadi itu membuat kami tidak terasa sudah sampai di Pos 3. Waktu masih sore, langit belum gelap, kami sepertinya bisa sampai basecamp sebelum jam 8 malam. </p>
<p>Setelah istirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan kembali. Kini perjalanan dari Pos 3 menuju Pos 2, itu artinya kami telah kembali memasuki hutan belantara. Pohon-pohon besar itu kini seolah menyambut kedatangan kami kembali. Jalur yang semula normal kini mulai dipenuhi semak belukar. Langit, mulai tertutup rimbun nya pepohonan. Waktu menunjukkan pukul 4 Sore, namun lebih gelap dari biasanya, kami harus bergegas agar bisa sampai bawah sebelum larut malam.</p>
<p>***</p>
<p>Hari mulai gelap, cahaya matahari kini berganti dengan keremangan cahaya dari headlamp yang kami pakai. Entah sekarang jam berapa, sepertinya hampir jam 7 malam, kami belum juga sampai di Pos 2. Jalur terasa sangat panjang. </p>
<p>Sejak langit mulai gelap, kami berjalan hampir tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, kecuali kata break dan lanjut. Malam cukup hening, kegelapan kian pekat karena cahaya bulan tertutup rimbunnya pepohonan. Namun keheningan malam itu tiba-tiba saja terpecahkan oleh suara Pak Sakri. &#8220;Pergi sana, jangan ikut-ikut!&#8221; Seru nya. Mendengar itu, Saya hanya saling pandang dan berbisik kecil dengan Widi dan Fahmi yang kebetulan berada di depan dan belakang saya. &#8220;Ada apa?&#8221; Bisik ku. Widi dan Fahmi hanya menggelang.</p>
<p>&#8220;Pergi, saya ga takut! Jangan ganggu-ganggu!&#8221; Ucap Pak Sakri lagi, kini sedikit berteriak. Sikap Pak Sakri ini membuat saya sedikit panik, ada apa lagi ini?. Pak Sakri berbicara, dengan entah siapa. Apakah kami akan kembali diganggu oleh mereka yang tak terlihat? Entahlah saya tak ingin memikirkan nya. Ini bukan kali pertama kami diganggu makhluk ghaib di pendakian kali ini, namun tetap saja tidak lantas menjadikan kami berani menghadapi mereka. </p>
<p>Akhirnya kami memilih diam, tanpa banyak bertanya, berjalan sambil menundukkan kepala sepertinya hal yang tepat untuk kami lakukan. Jam 7 malam, kami tiba di Pos 2. Masih dengan sedikit bicara kami beristirahat sejenak, meneguk air minum dan memakan beberapa makanan ringan untuk mengganjal perut yang mulai keroncongan. </p>
<p>&#8220;Jangan liat ke belakang.&#8221; Ucap Panji tiba-tiba kepada saya dan Fahmi yang duduk tepat dihadapannya. &#8220;Kenapa Nji?&#8221; Bisik ku penasaran. &#8220;Kunti Na.&#8221; Jelasnya. Innalillahi lagi-lagi si Kunti, entah laki-laki atau perempuan, saya tidak mau mengetahuinya lebih dalam, cukup tau saja. </p>
<p>Sekilas, bayangan-bayangan gelap memang seperti memberi tanda bahwa mereka mengamati kami dari jarak yang cukup dekat. Saya mencoba menenggelamkan diri di bahu suami, agar tidak melihat mereka yang sedang kami bicarakan. Hutan ini benar-benar tidak menyajikan pemandangan lain, selain suasana mistis dan kegelapan.</p>
<p>Kini malam kian terasa mencekam. Dengan kembali terjadinya kejadian-kejadian aneh barusan, Pak Sakri yang berbicara sendiri, dan munculnya Kuntilanak di Pos 2 ini, kini kami sadar, perjalanan kami kedepan, sudah pasti tidak sendiri lagi. Ada mereka yang tidak terlihat akan mengawasi dan menemani kami di sepanjang perjalanan turun malam ini. Entah makhluk apa lagi yang akan kami hadapi di depan, kami hanya mampu berdoa dalam hati, agar Allah menjaga kami dari kemisteriusan malam ini..</p>
<h2>Selamat di Gunung Slamet
(Angkernya jalur Dukuh Liwung)
PART 7 (END)</h2>
<p>Kuntilanak itu sepertinya terus mengamati kami, namun seperti tidak ingin ambil pusing, kami tidak menghiraukannya. Biarlah selama makhluk itu diam saja, kami sepertinya tidak perlu khawatir. Kurang dari 10 menit kami berada di Pos ini. Pak Sakri meminta kami bergegas karena perjalanan masih jauh. Kembali menapaki jalur, masih dengan posisi yang sama, Asep, Usep Widi, Saya, Fahmi, Bang Epps dan Panji Serta Pak Sakri berada di posisi paling belakang. Tak berapa lama Pak Sakri lagi-lagi berbiacara sendiri, kali ini, saya melihat kepanikan diwajahnya. &#8220;Sana!, tuh ambil tuh, saya ga butuh!.&#8221; Ucap Pak Sakri seraya melemparkan sesuatu. Kini saya tidak ingin banyak bertanya, pura-pura tidak tahu seperti nya tindakan paling bijak saat ini. </p>
<p>&#8220;Ga usah ikut-ikut, tuh ambil sana, saya ga butuh!&#8221; Seru nya lagi. Pak Sakri terlihat marah pada seseorang namun lagi-lagi entah siapa. Walau terlihat marah, raut khawatir tak terelakkan dari wajahnya. &#8220;Ambil tuh kemenyan! kemenyan begitu doang aja.&#8221; Tambahnya sambil kembali melemparkan sesuatu. Kami tidak bertanya, namun sepertinya Pak Sakri paham bahwa kami ingin tahu, ada apa sebenarnya. Kenapa dari sebelum Pos 2 sampai kami melewatinya, Pak Sakri bertingkah seperti ini?. &#8220;Itu, ngikutin, gara-gara kemenyan saya bawa pulang.&#8221; Jelasnya. Entah makhluk apa yang dimaksud Pak Sakri yang mengikuti kami saat ini, yang pasti setelah mendengar itu, kini doa-doa tak putus dari mulut kami. </p>
<p>Tak berapa lama, setelah Pak Sakri reda dari amarah dan lemparan kemenyan, kini Pak Sakri kembali disibukkan oleh makhluk lain. &#8220;Saya pindah ke depan!&#8221; Ucapnya tiba-tiba. Spontan raut wajah panik terlihat dari wajah Panji dan Bang Epps karena artinya sekarang mereka lah yang berada di posisi paling belakang. &#8220;Ada anak kecil di atas tas Widi.&#8221; Bisik Panji. Sedikit tercengang, saya berjalan tepat di belakang Widi tapi saya tidak melihat siapa-siapa di sana, entahlah kini saya sendiri bingung, perasaan seperti apa yang saya rasakan, panik mungkin tapi selama makhluk itu tak terlihat saya sepertinya masih cukup tenang. </p>
<p>Pak Sakri berlalu ke depan, dengan membawa sebatang pohon kecil yang digunakan untuk menopang sekaligus membuka jalan, karena memang jalur ini sangat penuh dengan semak belukar. Perpindahan posisi Pak Sakri bertujuan untuk menjaga agar sesuatu hal tidak terjadi pada Widi yang kini sedang dalam keadaan Haid yang memang sangat disukai oleh para mahkluk ghaib.</p>
<p>Kami berjalan, kini tanpa bicara sedikit pun, kecuali ada hal yang benar-benar penting. Bayang-bayang sosok anak kecil yang berada di atas tas Widi, tidak saya hiraukan lagi. Gelapnya malam ini, membuat keadaan kian mencakam. Jalur yang kami lalui masih sama, jalan setapak, yang kanan kirinya penuh pepohonan dan semak belukar. </p>
<p>di tengah keheningan, tiba-tiba saya mendengar suara gemerisik dari semak-semak. Ternyata benar, ada sesuatu di sana. Makhluk kerdil mirip Smeagol di film Lord of The Rings melompat –lompat di samping kami. Ia asik melompat ke kanan dan ke kiri bermain-main di semak-semak yang seolah menjadi area bermain baginya.</p>
<p>Makhluk apa lagi ini?? Gumam ku dalam hati. Kini mata ku tak sanggup lagi melihat kedepan, hanya menunduk dan melihat langkah kaki ini saja yang bisa saya lakukan. Namun, mata manusia biasa ini tetap saja dapat melihat makhluk kerdil itu, sesekali makhluk itu berhenti tepat di pinggir jalur yang pastinya akan kami lewati. Mata ini terpejam ketika sosok kerdil itu terlihat mematung menunggu kedatangan kami. Doa tak putus dari mulut ini seraya memohon keselamatan dan perlindungan dari Allah SWT. Pikiran saya berkecamuk, bagaimana kalau makhluk kerdil itu, tiba-tiba saja melompat kepada kami? atau menarik lengan ini ketika melintas dihadapannya? Jarak saya dengan makhluk kerdil tersebut tidak lebih dari satu jengkal.</p>
<p>Saya melewatinya, syukurlah tidak terjadi apa-apa, makhluk itu tetap terdiam di sana, dan kembali melompat di semak-semak. Seperti tidak mau pergi makhluk kerdil itu terus membuntuti kami hingga pada suatu titik kami terhenti. ‘kHihihihihihihi’…Sebuah suara mengagetkan kami, terdengar sangat jelas, dekat sekali seperti ada dihadapan kami. </p>
<p>Kami menengadah, mencari sumber suara itu, namun hanya kekosongan yang kami dapat. Bisik-bisik di antara kami, &#8220;Suara apa itu?&#8221; Usep mendengarnya seperti suara domba, namun terdengar juga seperti suara ringkik kuda sedangkan saya sendiri mengira itu tawa kuntilanak. Sejenak kami saling pandang, kami tahu, kami memiliki pertanyaan yang sama. Makhluk apalagi yang kami hadapi sekarang?. Manusia kerdil yang tadi mengikuti kami, sudah tidak ada lagi, kini kami dihadapkan oleh makhluk ghaib yang lain.</p>
<p>Tak sadar kami terpaku cukup lama, Usep menyadarkan kami, dengan teriakannya, memberi tahu, di depan kami adalah pos 1. &#8220;Gaeesssss.. di depan Pos 1!&#8221; Mendengar itu kami bergegas, sambil tetap membawa sekelumit pertanyaan dalam hati, tentang apa yang terjadi di sini, namun tahan, kami masih di sini, tunggu sampai kami menjauh dari tempat ini.</p>
<p>Tanah lapang yang tidak begitu luas, terhampar samar dihadapan kami. Lagi-lagi karena gelapnya malam, semua tak terlihat dengan jelas. Duduk dan menunduk sambil sedikit mengatur napas, kami beristirahat dengan sedikit rasa was was. Syukurlah, ini sudah pos 1 itu artinya tidak lama lagi kami akan sampai. </p>
<p>&#8220;Kita lewat jalur lain aja, jangan lewat jalur yang pas naik, bahaya kalau udah malam gini, takut licin, habis hujan.&#8221; Ucap Pak Sakri. Memang ketika naik kemarin kami menyebrangi sebuah sungai kecil penuh batu berlumut, jelas menanda kan jarang sekali ada orang yang melintas. Kami yang tidak tahu apa-apa langsung meng iya kan, yang penting kami selamat.</p>
<p>Perjalanan dilanjutkan, jalur yang kami lewati kini memiliki pepohonan yang lebih kecil namun tetap menjulang tinggi. Jalannya cukup besar tidak setapak lagi seperti jalur-jalur sebelumnya. Letak pepohonan nya tidak begitu rapat, cukup berjarak antara satu dan lainnya. Waktu menunjukkan pukul 8 malam, masih cukup sore sebenarnya, namun tidak berlaku di tempat seperti ini, tetap sepi dan mencekam.</p>
<p>Sedikit rasa lega terasa dihati kami, ketika kami mendengar suara musik dikejauhan, samar-samar namun pasti kami semua mendengarnya. &#8220;Lah ada suara dangdutan, berarti kita udah di bawah ya, udah deket ke desa kali, apa ada yang hajatan?&#8221; Tanya ku. Entah apa yang ada dipikiran saya sampai bisa menyimpulkan seperti itu. yang lain pun seperti meng Amin kan nya. &#8220;Iya, di bawah udah desa kali ya, makanya kedengeran sampe sini.&#8221;Jawab yang lain. &#8220;Berarti sebentar lagi kita sampai dong, Alhamdulillah..&#8221; Suara kami terdengar sumringah, itu artinya kami akan segera lepas dari cengkraman jalur ini, namun tidak dengan Pak Sakri yang sejak tadi hanya terdiam mendengarkan kami.</p>
<p>Tiga jam sudah kami berjalan tanpa beristirahat, kini waktu menunjukkan pukul 10 malam, terlepas 2 jam sudah sejak kami mendengar suara musik tadi. Namun tidak ada tanda-tanda sedikit pun kami akan sampai di sebuah desa, atau perkebunan milik warga. Kami justru seperti kembali masuk hutan. Pohon-pohon tinggi kembali menyapa, kali ini dengan semak belukar yang tingginya melebihi kepala kami. Rasa lelah kian berlipat, tak ada tempat untuk beristirahat. Kaki ini sangat lelah, Fahmi Panji mulai merasakan sakit pada kaki nya, untung lah saya tidak, kaki ini masih bisa berjalan dengan baik. </p>
<p>Kami harus sedikit meperlambat langkah kami, namun Pak Sakri meminta kami untuk bergegas karena hari sudah semakin larut. Headlamp hanya beberapa yang menyalanya, makin memperlambat langkah kami. Saya harus menuntun Fahmi yang kakinya kian terasa sakit, begitu juga dengan Bang Epps yang kini harus menuntun Panji. Semak-semak ini sempat membingungkan, jalur tidak terlihat dengan jelas. Untung lah Pak Sakri sepertinya sudah hapal dengan jalur ini. </p>
<p>&#8220;Puter balik!&#8221; Seru Pak Sakri. Owh tidak, ternyata Pak Sakri pun tidak begitu mengenal jalur ini, pikir saya. &#8220;Kurang ajar, orang disasar-sasarin.&#8221; Ucap Pak Sakri kesal. &#8220;Harusnya lewat sini, kurang ajar itu setan.&#8221; Gerutunya. Ya, ternyata makluk-makhluk ghaib tersebut belum puas mengganggu kami. Jalur yang tadinya satu kini menjadi dua dan kami mengambil jalur yang salah, untunglah Pak Sakri segera menyadarinya.</p>
<p>Kami kembali masuk hutan, kembali menapaki jalan setapak, tiba-tiba Asep dan Usep menghentikan langkahnya, hampir saja kami bertabrakan karna saya tidak melihat mereka berhenti, maklum sepanjang perjalanan, sejak kejadian-kejadian tadi, saya tidak berani melihat kedepan, hanya berani menundukan kepala dan sesekali menengok ke belakang untuk membantu Fahmi berjalan.</p>
<p>&#8220;Ada apa, kok berhenti.&#8221; Tanya Panji dan Bang Epps bersamaan. &#8220;Ga tau.&#8221; Jawab ku. &#8220;Sep ada apa?.&#8221; Tanya ku kini pada Usep. Usep, Asep, dan Widi hanya menggeleng sambil melemparkan pandang ke arah Pak Sakri. Pak Sakri terlihat mendatangi sebuah pohon. Bukan pohon besar, hanya pohon berukuran sedang, yang dikelilingi semak belukar dan tumbuhan lain disekelilingnya, sama layaknya pohon lain di hutan ini.</p>
<p>&#8220;Kulonuwon, kulo bade izin, niki kulo damel sekeluarga kulo saking Jakarta. Tolong ijinkan lewat, sampean boten nopo-nopo kok, sampean boten enten maksud nopo-nopo, sampean tensih dolanan, tolong boten diganggu.&#8221; </p>
<p>&#8220;(Permisi, kami ini cuma numpang lewat, tolong jangan diganggu, ini semua masih keluarga dari Jakarta, mereka kesini gak ada maksud apa-apa, cuma sedang main saja. Tolong diijinkan lewat, jangan diganggu).&#8221; Ucap Pak Sakri pada Pohon itu. Kami hanya tertegun melihatnya. Saya pribadi ini kali pertama menyaksikan kejadian seperti ini. Seseorang berbicara kepada sebuah pohon, hal yang sangat aneh untuk kami.</p>
<p>Pembicaraan berlangsung cukup lama, sepertinya sang penghuni tidak dengan mudahnya mengijinkan kami ke luar dari hutan ini. Setelah kurang lebih 10 menit, dan dalam ketegangan ini kami pergunakan juga, sebagai waktu untuk kami mengatur nafas. Akhirnya Pak Sakri meminta kami melanjutkan perjalanan. Sepertinya, sang penunggu pohon telah mengijinkan kami untuk pergi dari sini. Dengan kembali mengatur barisan, kami bergegas kembali menapaki jalur ini. Dalam hati ingin sekali menoleh ke arah pohon yang diajak bicara tadi, namun hati ini tak seberani keinginan, lebih baik menunduk saja, dan segera berlalu dari tempat ini.</p>
<p>Sejak kejadian barusan, kini perjalanan kami berlangsung normal, semua lancar tanpa hambatan. Jalur terlihat jelas, dan tidak butuh waktu berjam jam kami sudah sampai di perkebunan milik warga. Kami ambruk terduduk sambil mengucap syukur &#8220;Alhamdulilllaaaahhhhhhh ya Allaaahhh,, akhirnyaaaaaa…&#8221; teriak kami seraya melabuhkan tubuh ini di sisa lahan sempit, dipinggir kebun ini. Sampai nya kami di sini, seperti kami baru kembali ke kehidupan nyata. Seperti kembali menemukan peradaban manusia, dimana sepanjang malam tadi kami seperti berputar-putar entah dimana.</p>
<p>Cukup lama kami terdiam, terduduk di perkebunan bawang milik warga. Tenaga kami sungguh terkuras habis. Kini waktu menunjukkan pukul 1 pagi. Itu artinya 5 jam perjalanan turun kami dari pos 1, padahal hanya butuh waktu 1-2 jam perjalanan normal. </p>
<p>Kami meluruskan kaki-kaki ini, sambil bertumpu di carrier masing-masing. Sambil sedikit bercanda membicarakan tentang kejadian malam ini. Namun tak banyak yang kami utarakan, karena kami sadar, kami masih di sini, dekat dengan tempat mereka berdiam diri.</p>
<p>Akhirnya dengan tenaga yang tersisa, kami kembali melanjutkan perjalanan. Rumah Pak Sakri yang menjadi tujuan akhir kami, masih berjarak cukup jauh dari sini, kami masih harus melewati sawah, dan kebun karet milik warga. Panji dan Fahmi yang sudah sangat kelelahan serta sakit dikaki nya yang kian menjadi, sempat tidak mau berjalan lagi. Namun kami tidak mungkin bermalam di sini. Dengan sedikit memaksa akhirnya mereka mau berjalan kembali, Panji dan Fahmi di papah oleh Bang Epps Serta Asep dan Usep, dibantu oleh Pak Sakri yang kini membawa carrier Panji. </p>
<p>Pukul 1.30 pagi, setelah melewati gang-gang sempit akhirnya kami sampai di rumah Pak Sakri. </p>
<p>Legaaaa rasanya, senyum sumringah terpancar dari wajah kami. Ya Allah rasanya seperti menemukan mata air di tengah gurun pasir. Kini kami bisa berseka membersihkan diri, lalu istirahat tidur nyenyak malam ini…</p>
<p>EPILOG</p>
<p>Ke esokan pagi nya, pagi-pagi sekali kami sudah dijemput oleh mobil Pick Up yang akan membawa kami ke tempat pemandian air panas Guci, dimana lewat jalur ini lah seharusnya kami mendaki kemarin. </p>
<p>Setelah berbincang-bincang dan mengucapkan terima kasih kepada Pak Sakri dan keluarga yang sudah banyak berjasa menolong kami dipendakian kali ini, kami Pamit. Tidak lupa kami mengabadikan pertemuan kami dengan Pak Sakri dan keluarga, karena bersama beliau lah kami memiliki momen mendaki gunung yang luar biasa. </p>
<p>Setelah berpamitan, sekitar jam 7 pagi kami berangkat. Sesampainya di tempat pemandian, kami langsung memilih tempat untuk kami membenamkan diri di air hangat, mengendurkan otot-otot yang tegang dan meghilangkan rasa lelah.</p>
<p>Usai berendam, kami memanjakan perut, dengan menyantap sate ayam dan sate kambing muda di sebuah rumah makan sederhana. Disinilah kami sedikit bercerita, mengulang kisah-kisah di atas gunung sana. Sambil bercerita, kami pun mengambil beberapa gambar di tempat ini. Usai berfoto-foto, kami teringat foto aneh yang tertangkap oleh kamera Fahmi ketika di Goa. Kami ingin memastikan sekali lagi, sosok apakah yang ada di dalam foto tersebut. Namun berkali-kali kami mencarinya, foto itu sudah tidak ada, hilang dengan sendirinya. Mengetahui itu, kami hanya saling pandang tanpa memperpanjang pembicaraan.</p>
<p>Usai memanjakan diri, kini tiba saatnya kami kembali ke rumah masing-masing. Elf yang kemarin mengantar kami, kini sudah kembali terparkir di sini untuk mengantar kami pulang. Disepanjang perjalanan, ketika kami rasa sudah cukup jauh dari kaki gunung Slamet. Kami baru berani bercerita tentang apa yang dialami oleh diri kami masing-masing secara gamblang. Bahwa sebernarnya, Panji melihat ada 3 orang anak kecil bertengger di atas tas ransel Widi karena Widi membawa pembalut bekas pakai nya. Selain itu, ternyata hanya Saya, Widi dan Fahmi yang melihat makhluk kerdil itu melompat-lompat disemak-semak dan berdiri dipinggir jalur, Bang Epps hanya mendengar suaranya saja tanpa bisa melihatnya.
Ketika di rumah makan, Usep, Asep, Widi dan Panji, telinganya terasa panas ketika membicarakan sosok anak kecil di tas Widi sambil melihat-lihat foto yang hilang dikamera</p>
<p>Suara music yang kami dengar di atas, bukannya suara music dari rumah warga, namun merupakan gending gamelan yang jika saya baca itu merupakan tanda bahaya bahwa kami bisa saja masuk ke alam lain. Namun lagi-lagi Alhamdulillah kami selamat, berkat lindungan dari Allah SWT pemilik alam semesta beserta isi nya.</p>
<p>Itu lah sekelumit kisah kami, Gunung slamet via jalur Dukuh Liwung, memberikan kesan tersendiri pada pendakian kami kali ini. Semoga apa yang terjadi pada kami dapat dijadikan pembelajaran dan ada hikmah yang bisa diambil</p>
<p>Kurang lebih nya saya sebagai penulis dan mewakili rekan-rekan saya, mohon maaf dan terima kasih sudah membaca kisah ini..</p>
<p>__TAMAT__</p>
<p>Author: Nina Fitriana</p>
<p>Part Sebelumnya:</p>
<p>Part 6</p>
<p>Part 5</p>
<p>Part 4</p>
<p>Part 3</p>
<p>Part 2</p>
<p>Part 1</p>
<p>Diunggah dalam fanpage Echdemomania Adventure</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/foto-saat-pendakian-gunung-slamet-via-dukuh-liwung.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1080"
				height="720">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[foto saat pendakian gunung slamet via dukuh liwung]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/foto-saat-pendakian-gunung-slamet-via-dukuh-liwung-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[foto saat pendakian gunung slamet via dukuh liwung]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Orang Tua Dahulu Bilang, Punya Tanah Tanami Singkong, Ini Fakta Uniknya?</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-32211/orang-tua-dahulu-bilang-punya-tanah-tanami-singkong-ini-fakta-uniknya</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 19 Sep 2020 20:17:34 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Singkong]]></category>
		<category><![CDATA[Unik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-32211/orang-tua-dahulu-bilang-punya-tanah-tanami-singkong-ini-fakta-uniknya</guid>

					<description><![CDATA[ aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Fakta unik cerita orang tua jaman dulu bukanlah hal yang kuno, buktinya banyak pesan yang baik dan ada benarnya. Sehingga hal ini juga patut ditiru dan menjadi edukasi bagi semua orang.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Fakta unik cerita orang tua jaman dulu bukanlah hal yang kuno, buktinya banyak pesan yang baik dan ada benarnya. Sehingga hal ini juga patut ditiru dan menjadi edukasi bagi semua orang.</p>
<p>Cilacap, daerah ini wilayahnya diliputi perkebunan dan banyak terdapat lahan yang dimiliki oleh penduduknya.</p>
<p>Bagi masyarakat yang tinggal di pedesaan yang penduduknya diwarisi tanah dari orang tua mereka, lahan tersebut bisa dimanfaatkan untuk sumber kehidupan dan Bahkan ekonomi.</p>
<p>Orang-orang tua kerap bercerita, bahwa orang tua jaman dahulu berpesan agar lahan yang dimiliki, untuk dimanfaatkan dengan ditanami pohon, sayuran atau palawija.</p>
<p>Satu hal terkait hal di atas, dan ada poin yang sangat positif, bahwa ada cerita yang unik, dimana orang tua jaman dahulu, juga berpesan untuk menanam pohon singkong setelah kebun ditanami Pepohonan seperti Jati.</p>
<p>Jika pohon seperti Jati, Albiah dan lainnya memang pohon yang tidak bisa ditebang dalam waktu singkat, melainkan dalam jangka waktu yang cukup lama.</p>
<p>Namun, pohon itu nantinya bisa dimanfaatkan untuk membuat Rumah, sehingga tidak perlu membelinya.</p>
<p>Lalu bagaimana dengan menanam Singkong atau Ketela menurut orang tua dulu?</p>
<p>Jadi, ketela ini bisa ditanam di lahan yang masih kosong dan nantinya bisa dimanfaatkan untuk bahan olahan atau dikonsumsi sendiri Bahkan bisa jadi sumber ekonomi.</p>
<p>Diketahui, berdasarkan cerita yang di peroleh, bahwa singkong ini bisa dijadikan berbagai makanan atau kuliner. Tak hanya itu, Bahkan daunnya pun bisa dimanfaatkan untuk dikonsumsi menjadi sayur.</p>
<p>Memang benar, singkong atau ubi kayu, umbi akar ini merupakan jenis tanaman spesial, dan jika dihitung, makanan yang berasal dari singkong, sangat banyak sekali.</p>
<p>Hal ini yang mendasari orang tua dahulu mengatakan kepada anak-anaknya untuk menanam singkong di kebun.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[cilacap info featured]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[cilacap info featured]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
	</channel>
</rss>
