<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>Kumpulan Pos Majenang &#8211; Story Cilacap.info</title>
	<atom:link href="https://story.cilacap.info/tag/majenang/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://story.cilacap.info</link>
	<description>Media Online Masa Kini, Akurat, Mengedepankan Etika</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Jan 2024 01:26:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	
<image>
<url>https://img.cilacap.info/images/story/favicon-32x32.png</url><title>Kumpulan Pos Majenang &#8211; Story Cilacap.info</title>
<link>https://story.cilacap.info</link>
<width>32</width><height>32</height><description>Info Kisah Menarik</description>
</image>
	<item>
		<title>Pernah Viral Tentang Makam Bupati Majenang</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-23772/pernah-viral-tentang-makam-bupati-majenang</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Mar 2020 01:17:07 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Majenang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-23772/pernah-viral-tentang-makam-bupati-majenang</guid>

					<description><![CDATA[ aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Pada tahun lalu pernah viral terkait sebuah makam di Karanglewas Banyumas dengan bertuliskan &#8220;Boepati Majenang&#8221; di salah satu batu nisan.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Pada tahun lalu pernah viral terkait sebuah makam di Karanglewas Banyumas dengan bertuliskan &#8220;Boepati Majenang&#8221; di salah satu batu nisan.</p>
<p>Lantas pada saat itu warga yang ada di Cilacap bagian barat menjadi heboh dan hal itu menjadi viral di linimasa media sosial.</p>
<p>Hal itu bermula dari unggahan status yang disertai Foto oleh akun bernama Samesco Sandang Majenang atau nama aslinya Slamet Riyadi.</p>
<p>Akun Samesco Sandang Majenang atau Slamet Riyadi dalam unggahannya, &#8220;Kapan kapan ziarah kesana yuk..! makam R TUMENGGUNG PAWIRO NEGORO BUPATI MAJENANG, terletak di Pasir Lor, Karanglewas, Banyumas,&#8221; tulisnya.</p>
<p>Penulis Status, Slamet Riyadi juga mengatakan bahwa status tersebut sebetulnya sudah lama ia unggah di facebook.</p>
<p>&#8220;Saya pernah mengunggahnya juga sekitar 3 tahun lalu, namun saya teringat kembali, jadi saya unggah ulang di facebook, Saya juga menemukan hal ini berawal dari internet.&#8221; Terangnya.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[cilacap info featured]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[cilacap info featured]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Menilik Kisah dan Riwayat Syaikh Sufyan Tsauri Cigaru Majenang</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-19212/menilik-kisah-dan-riwayat-syaikh-sufyan-tsauri-cigaru-majenang</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 07 Nov 2019 16:30:45 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Majenang]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-19212/menilik-kisah-dan-riwayat-syaikh-sufyan-tsauri-cigaru-majenang</guid>

					<description><![CDATA[Nama besar Syekh Sufyan Tsauri diabadikan untuk nama Sekolah Tinggi Agama Islam Sufyan Tsauri (STAIS) Majenang, yang didirikan pada tahun 2008. STAIS berdiri kokoh di tengah Pondok Pesantren Pembangunan Cigaru, Majenang. Siapa Syekh Sufyan Tsauri? Bagaimana peranannya dalam pengembangan agama Islam di Cilacap, hususnya di daerah Majenang? Bagaimana pula kisah perjuangannya melawan penjajah demi kemerdekaan Republik Indonesia? Biografi Ulama berikut ini mengisahkan secara singkat Syekh Sufyan Tsauri.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Nama besar Syekh Sufyan Tsauri diabadikan untuk nama Sekolah Tinggi Agama Islam Sufyan Tsauri (STAIS) Majenang, yang didirikan pada tahun 2008. STAIS berdiri kokoh di tengah Pondok Pesantren Pembangunan Cigaru, Majenang. Siapa Syekh Sufyan Tsauri? Bagaimana peranannya dalam pengembangan agama Islam di Cilacap, hususnya di daerah Majenang? Bagaimana pula kisah perjuangannya melawan penjajah demi kemerdekaan Republik Indonesia? Biografi Ulama berikut ini mengisahkan secara singkat Syekh Sufyan Tsauri.</p>
<p>Muhammad Sufyan Tsauri lahir pada 1 Muharram 1316/22 Mei 1898, putera K. Abdulghoni, penduduk Desa Banjarreja, Kecamatan Nusawungu Kabupaten Cilacap. Pada usia dua tahun, Syekh Sufyan Tsauri dibawa pindah oleh Orang Tuanya ke Desa Limbangan Kecamatan Wanareja, Kabupaten Cilacap. Tidak selang beberapa lama ibunya meninggal dunia yang kemudian disusul dengan meninggalnya sang Ayah.</p>
<p>Sepeninggal kedua orang tuanya, Syekh Sufyan Tsauri diasuh oleh bibinya hingga mencapai usia 11 tahun. Dalam usia ini Syekh Sufyan Tsauri harus pindah asuhan yang selanjutnya diasuh oleh K. Bakri dan dibawa ke desa tempat kelahirannya (Banjareja). di sana ia mulai di didik dengan ilmu keagamaan. Untuk pertama kalinya ia dikirim ke Pondok Pesantren Tritih, Cilacap. Dalam usia 15 Tahun ia meneruskan pelajarannya ke pondok Pesantren Lirap Kebumen untuk belajar selama enam tahun di bawah asuhan kyai lbrabim.</p>
<p>Atas prakarsa Kyai Ibrahim Syekh Sufyan Tsauri melanjutkan pelajarannya ketingkat yang lebih tinggi menuju Pondok Pesantren Tremas, Pacitan, Jawa Timur. Sebelumnya, Syekh Sufyan Tsauri singgah terlebih dahulu di Pesantren Jamsaren Solo, untuk belajar selama dua bulan. Setibanya di Pondok Pesantren Tremas yang pada waktu diasuh oleh Kyai Muhamad Dimyati Syekh Sufyan Tsauri menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya untuk mendapatkan Ilmu yang diperlukan, selama 6 (enam) tahun lamanya.</p>
<p>Setelah 6 (enam) tahun di Pesantren Tremas, Syekh Sufyan Tsauri pulang ke Limbangan Wanareja tempat dimana ia dibesarkan. Syekh Sufyan Tsauri muda sudah bercita-cita ingin menyumbangkan Ilmunya kepada masyarakat, mengembangkan karier keilmuan sebagai seorang muballigh penganjur Islam.</p>
<p>Pada saat itu, di Cigaru, Majenang, Cilacap, sudah berdiri sebuah Pondok Pesantren yang diasuh Kyai. H. Abdulmadjid. Seiring usianya yang sudahlanjut, KH. Abdul Madjid mencari seorang pengganti sampai kemudian menemukan pemuda Sufyan Tsauri di Desa Limbangan Wanareja, dan memintanya untuk mencurahkan tenaga dan Ilmunya dengan mengajar di pondok Pesantren Cigaru. Tawaran itu diterima dan Syekh Sufyan Tsauri mulai mengajar di pondok Pesantren Cigaru.</p>
<p>Sufyahn Tsauri muda kemudian dijodohkan dengan Siti Marchamah, puteri dari K. Abdul Majdid. Setelah pernikahan berlangsung, Syekh Sufyan Tsauri kembali menuju Pondok Pesantren Tremas di Pacitan untuk memperdalam Ilmu Pengetahuan Islam selama 3 (tiga) tahun. Setelah itu Syekh Sufyan Tsauri kembali ke Cigaru dan mengabdikan Ilmunya dengan sepenuh hati. Pada tahun 1927, Syekh Sufyan Tsauri berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan Ibadah Haji.</p>
<p>Ketika pertama kali Syekh Sufyan Tsauri memasuki Pondok Pesantren Cigaru, kondisinya masih sangat sederhana. Masjid dan Pondok masih beratap alang-alang. Santrinya masih sedikit. Berkat ketekunan Syekh Sufyan Tsauri, santrinya bertambah banyak. Pada tahun 1935, jumlah santri mencapai 880 orang yang berasal dari dalam dan luar negeri seperti Singapura dan Malaysia. Syekh Sufyan Tsauri mengajarkan Kitab Tafsir, Hadits, Fiqh, Aqoid dan Tasawuf serta Ilmu Alat lainnya.</p>
<p>Untuk ukuran kondisi Pondok Pesantren di era Pendudukan Penjajah, Keberadaan Pesantren Cigaru termasuk berkembang pesat dan semakin dirasakan manfaatnya oleh Masyarakat Majenang khususnya. Hal itu terjadi sampai dengan peristiwa pendudukan Jepang. Pada saat itu, Syekh Sufyan Tsauri merasa perlu untuk terjun, bersama para santrinya, untuk berjuang mmempertahankan kemerdekaan Indonesia. Syekh Sufyan Tsauri pun turun mempelopori Perjuangan untuk memimpin Umat Islam Majenang dalam melawan Penjajah.</p>
<p>Pada awal tahun 1945 dibentuklah pasukan Hizbullah yang terdiri dari para pemuda Islam yang patriotik. Dalam pembentukan ini, putra-putra Majenang tidak ketinggalan ikut andil. Dan atas restu dari Syekh Sufyan Tsauri berangkatlah enam orang pemuda Majenang untuk mengikuti latihan Hizbullah, me’reka ialah: Syaefurrahman Suwandi, Habin Adnan, Ahmad Ghozali, A. Muhdzier, Loekman Daroni dan Soehari.</p>
<p>Keenam orang tersebut adalah santri-santri Syekh Sufyan Tsauri. S. Suwandi mendapat latihan di Cisarua Bogor selama tiga bulan, sedang lima orang lainnya berangkat pada giliran yang kedua dan dilatih di Dai Dan Peta Kroya Cilacap di bawah asuhan Jenderal Soedirman yang pada waktu itu menjabat Dai Dan Cho PETA Kroya. Setelah peristiwa pemberontakan Peta melawan Jepang di Gumilir Cilacap yang dipimpin oleh Kusaeri, Mursidik dlan Sardjono, maka tempat latihan dipindah ke Dai Dan Peta Sumpyuh. Baru saja berlangsung dua bulan latihar dibubarkan pada tanggal 15 Agustus 1945, karena Jepang kalah perang melawan sekutu.</p>
<p>Pada tanggal 7 Nopember berlangsung Mu’tamar Urnat Islam Seluruh Indonesia di Yogyakarta yang kemudian melahirkan partai Masyumi dan telah mengambil keputusan antara lain: &#8220;Bahwa Umat Islam fardlu ‘ain melakukan perang total, jihad fisabilillah untuk membela Negara dan Agama&#8221;. Untuk melaksanakan Keputusan tersebut harus dibentuk barisan yang kuat yang dapat menghimpun tenaga pemuda (yang ber umur 35 kebawah) dan orang tua (yang ber-umur 35 tahun keatas) dengan cara meningkatkan dan memperbesar pasukan Hizbullah yang telah ada ditambah dengan barisan Sabilillah.</p>
<p>Seruan Jihad yang dikumandangkan dari medan Mu’tamar itu menggema keseluruh pelosok Tanah Air dan sampailah seruan Jihad itu ke Majenang yang didengari oleh para Ulama dan santri-santri di pondok pesantren khususnya dan Umat Islam umumnya. Demi seruan jihad itu maka Syekh Sufyan Tsauri tampil menyampaikan seruan jihad itu kepada para santrinya dan kaum Muslimin.</p>
<p>Syekh Sufyan Tsauri memberikan fatwa mengenai pergolakan tanah air terutama sekitar seruan Jihad yang telah diputuskan oleh Mu’tamar Umat Islam tersebut. Menurut fatwanya, bahwa! &#8220;berjuang membela Agama, hak milik dan tanah air dari perkosaan dan kedzaliman adalah Jihad, sedang hukumnya adalah fardu ‘ain dan jika gugur adalah syahid sebab Agama dan hukum Islam tidak mungkin berjalan ditanah Jajahan&#8221;.</p>
<p>Fatwa Syekh Sufyan Tsauri ini dikumandangkan keseluruh distrik Majenang. Dalam merealisasikan fatwanya itu Syekh Sufyan Tsauri bertemu dengan dua orang tokoh masyarakat di Majenang yakni K. Moch. Basyir sebagai tokoh politik dan S. Suwandi sebagai tokoh yang bergerak dalam kemiliteran. Partai Masyumi yang berkembang di Majennag saatitu semamin kuat dengasn kepemimpinan Syekh Sufyan Tsauri sebagai Ketua Syuriah. Masyumi kemudian mampu menggerakkan potensi Umat Islam untuk berjihad dengan terbentuknya barisan Hizbullah dan Sabilillah di wilayah Majenang. Semangat jihad berkobar-kobar serta menjiwai perikehidupan masyarakat Islam di Majenang.</p>
<p>Pada bulan Nopember 1945 berangkatlah dua kompi Hizbullah dari Majenang ke Cilacap untul latihan kemiliteran. Sekembalinya dari Cilacap mereka menyelenggarakan latihan kepada para pemuda dan santri yang dipusatkan Pondok Pesantren Cigaru secara bergelombang. Sekitar buIan Nopember 1945 dimana situasi bertambah gawat karena tentara Belanda menduduki beberapa kota di Jawa Tengah, Semarang dan Ambarawa.</p>
<p>Kejadian ini sempat menarik perhatian kalangan pemuda Majenang tumbuh dengan kuat dihati mereka keinginan untuk ikut berangkat ke garis ter depan melawan Belanda. Bantuan sukarela berdatangan dan mereka dikirim untuk merebut kembali Ambarawa. Bulan Desember 1945 dari Majenang berangkat dua kompi Hizbullah dan Sabilillah di bawah pimpinan Suwandi selaku Komandan dengan didampingi Syekh Sufyan Tsauri sebagai penasehat.</p>
<p>Pada tangal 1 Agustus 1945 pasukan Hizbullah dan Sabilillah dari Majenang yang berkekuatan dua kompi pasukan berangkat ke Bandung Selatan dan bermarkas di Kiangroke Wilayah Banjaran. Syekh Sufyan Tsauri tidak ketinggalan. Turun dari kereta api di Cicalengka, pasukan berjalan menuju garis depan, dalam perjalanan di daerah Majalengka pasukan mendapat serangan udara. Berkat lindungan Allah dalam serangan ini tak seorangpun dari Hizbullah dan Sabilillah yang menjadi korban, hanya dua orang dari Lasykar Wanita Indonesia (Lasywi) tewas terkena ledakan.</p>
<p>Setelah lima belas hari berada di garis depan, pasukan diperintahkan untuk kembali ke pangkalan. Pasukan bertahan di daerah pegunungan yang terlet disebelah utara kota Majenang, untuk memudahkan kordinasi, maka sepakatlah di antara para pasukan yang ada untuk bermarkas di Tembongraja Wilayah Kec. Salem, terletak di tengah tengah Pegunungan Kendeng Kabupaten Brebes. di tempat yang baru Syekh Sufyan Tsauri memimpin kembali pasukannya dan pasukan Hizbullah senantiasa melancarkan aksi-aksi gerilya terhadap Belanda. Keadaan ini berlangsung hingga penanda tangan Persetujuan Renville dan disusul dengan perintah untuk kembalike daerah Republik.</p>
<p>Pada tanggal 4 Februari 1948 berangkatlah 1 pasuan Hizbullah untuk memenuhi perintah Hijrah ke daerah Republik di Banjarnegara. Syekh Sufyan Tsauri yang sejak lama mengidap penyakit sesak nafas, mendengar persetujuan Renville yang disusul dengan perintah hijrah, penyakitnya bertambah parah. Syekh Sufyan Tsauri berujar &#8220;Lebih baik mati dari pada bertemu dengan penjajah&#8221;.</p>
<p>Syekh Sufyan Tsauri merasa sangat berat berpisah dengan anak buahnya yang dicintaianya, yang selama ini berjuang dengan penuh semangat kepahlawanan berada dalam penderitaan bersama serta merasa senasib sepenanggungan. Oleh karena keadaan kesehatan yang tidak memungkinian, Syekh Sufyan Tsauri menyertai pasukannya untuk hijrah ke Daerah Republik, disarankan untuk pulang kembali ke Cigaru.</p>
<p>Pada awal Pebruari 1948, Hari Senin tanggal 22 Rabiulawal, dalam suasana yang sedih dan pilu, berangkatlah tandu yang membawa Syekh Sufyan Tsauri menigalkan Markas Pertahanannya setelah berbulan bulan menunaikan tugas suci di pengungsian sebagai mujahid yang tiada kenal menyerah.</p>
<p>Udara dipagi hari yang sejuk mengiringi geraknya tandu yang berjalan melalui celah-celah pepohonan besar dihutan belantara gunungan Kendeng. Syekh Sufyan Tsauri duduk dengan khusyu atas tandunya. Syekh Sufyan Tsauri berserah diri tawakal kepada Allah dengan tiada henti hentinya mengucapkan kalimah Thayyibah. Sementara itu penyakit yang menyerangnya semakin bertambah berat Syekh Sufyan Tsauri mengajak beristirahat sewaktu tiba di muka Surau Gunungjaya. Dengan nafas yang terengah-engah dan suara yang terputus putus, terdengarlah pesan Syekh Sufyan Tsauri yang terakhir: &#8220;anak-anakku, teruskanlah perjuanganmu, amar ma’ruf nahi munkar, dan usirlah kaum Penjajah&#8221;.</p>
<p>Selang beberapa lama, menyusul kemudian ucapan yang terakhir sekali dari Syekh Sufyan Tsauri: &#8220;Laa ilaaha Illallah&#8221;…. dan sampailah beliau menemui ajalnya untuk kembali ke Rahmatullah &#8220;Innaa lillaahi Wainna Ilaihi Raji’un&#8221;….. Syekh Sufyan Tsauri meninggalkan dunia setelah menyelesaikan tugasnya sebagai penganjur Islam dan pejuang kemerdekaaan yang hanya mendambakan Keluruhan Islam dan kemerdekaan Tanah Air.</p>
<p>Syekh Sufyan Tsauri wafat dalam usia 50 tahun dengan meninggalkan seorang istri dan 8 anak. Jenazahnya dibaringkan untuk kemudian dibawa ke Cigaru. Sekitar pukul 16.00, jenazah tiba dan esok harinya dimakamkan disebelah utara Pondok Pesantren Cigaru. (Kang Nawar)</p>
<p>Sumber : Perjalanan Pondok Pesantren Cigaru Majenang, Team Penyusun Buku Kenang-Kenangan REUNI ke-II Pesantren Cigaru Tahun 1980</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[cilacap info featured]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[cilacap info featured]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Kisah Sumber Air Dekat Ponpes Miftahul Huda Cigaru Majenang Cilacap</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-18768/kisah-sumber-air-dekat-ponpes-miftahul-huda-cigaru-majenang-cilacap</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 24 Oct 2019 13:37:39 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Majenang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-18768/kisah-sumber-air-dekat-ponpes-miftahul-huda-cigaru-majenang-cilacap</guid>

					<description><![CDATA[ aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Kisah sumber air di dekat pondok pesantren (Ponpes) miftahul huda cigaru, Majenang, Cilacap yang tak pernah kering meski musim kemarau.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Kisah sumber air di dekat pondok pesantren (Ponpes) miftahul huda cigaru, Majenang, Cilacap yang tak pernah kering meski musim kemarau.</p>
<p>Menurut sejarahnya, bahwasanya dahulu, sumber air tersebut pernah kering, namun masyaikh Pondok Pesantren tersebut kemudian bermimpi.</p>
<p>Dalam mimpinya itu, beliau mendapatkan pesan agar alam yang berada disekeliling Ponpes tersebut dilestarikan. Karenanya juga maka alam berupa pepohonan yang berada di atas ponpes tersebut dijaga kealamiannya dan tidak boleh ditebang.</p>
<p>Sumber mata air pun kini kembali mengalir ke bak penampungan. Airnya digunakan untuk keperluan para santri dan santriwati juga sekolah dan masyarakat sekitar. Bahkan hingga kini, apabila ada pohon yang tumbang maka dibiarkan begitu saja </p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[cilacap info featured]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[cilacap info featured]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Situs Keramat Gunung Padang Salebu Majenang</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-18039/situs-keramat-gunung-padang-salebu-majenang</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Huda]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 13 Oct 2019 17:52:16 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung Padang Majenang]]></category>
		<category><![CDATA[Majenang]]></category>
		<category><![CDATA[Situs Keramat]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Religi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-18039/situs-keramat-gunung-padang-salebu-majenang</guid>

					<description><![CDATA[ aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Tidak banyak orang tau megenai situs bersejarah satu ini yang terdapat di Cilacap Jawa Tengah. Yakni Situs Gunung padang yang Lokasinya berada di Desa Salebu Kecamatan Majenang.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Tidak banyak orang tau megenai situs bersejarah satu ini yang terdapat di Cilacap Jawa Tengah. Yakni Situs Gunung padang yang Lokasinya berada di Desa Salebu Kecamatan Majenang.</p>
<p>Situs satu ini merupakan bukti peninggalan sejarah masa lampau dengan adanya bebatuan seperti arca di Gunung Padang.</p>
<p>Tempat ini juga dikeramatan serta seperti tempat-tempat keramat lainnya yang dijaga oleh Kuncen (Red: Juru Kunci).</p>
<p>Banyak orang dari berbagai daerah yang datang ke situs Gunung Padang untuk meminta suatu hajat, tidak hanya orang biasa yang datang meminta suatu hajat di sini. Seorang calon kepala desa juga pernah kedapatan datang kesini, mungkin maksudnya agar menang pilihan.</p>
<p>Situs ini boleh dikatakan cukup angker dan dikeramatkan, Lokasinya pun terbilang mistis dan horor, karena selain banyak pohon-pohon besar juga terdapat semak belukar.</p>
<p>Menurut warga sekitar, ternyata ada juga yang datang untuk melakukan laku lampuh seperti bersemedi di Gunung Padang entah untuk tujuan dan hajat apa.</p>
<p>Bahkan menurut salah seorang warga sekitar, ada seorang atlet tinju kenamaan di Indonesia yang datang melakukan spritual di sana.</p>
<p>Selain daripapada itu, di Gunung Padang Salebu Majenang juga terdapat makam tua yang dikeramatkan. Masyarakat sekitar mengatakan bahwa makam itu adalah makam Ki Hajar Sakti yang merupakan masih trah raja pajajaran.</p>
<p>Gunung Padang Sendiri kabarnya sedang direncanakan untuk Proyek Pembangunan oleh Pemerintah Desa Salebu. Adapun Tujuan dari pembangunan tersebut yaitu agar menjadi Obyek Wisata dan menjadi daya tarik para wisatawan.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[cilacap info featured]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[cilacap info featured]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Kisah Kesolidan Banser Majenang Cilacap dan Purworejo</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-16725/kisah-kesolidan-banser-majenang-cilacap-dan-purworejo</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Hasan Bahtiar]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 14 Aug 2019 13:37:14 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Banser]]></category>
		<category><![CDATA[Majenang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-16725/kisah-kesolidan-banser-majenang-cilacap-dan-purworejo</guid>

					<description><![CDATA[ aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama (Banser NU) tidak hanya solid mengawal para kiai dan menjaga keutuhan NKRI. Akan tetapi juga solid dalam berbagai hal.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama (Banser NU) tidak hanya solid mengawal para kiai dan menjaga keutuhan NKRI. Akan tetapi juga solid dalam berbagai hal.</p>
<p>Sebagai tentara NU, meski kerap kali ada tanggapan bahwasanya ada perbedaan antara banser satu dan lainnya, namun faktanya hal tersebut tidaklah benar. Karena sejatinya Banser itu pasti satu komando dan tidak ada kata banser Garis Lurus dan Banser Liberal. yang ada hanya Banser Nahdlatul Ulama.</p>
<p>Membahas mengenai Tentara NU satu ini, <a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; ingin mengisahkan fakta tentang kosolidan antara Banser Majenang Cilacap dengan Banser Purworejo.</p>
<p><H2>Solidnya Banser Majenang Cilacap dengan Banser Purworejo</H2></p>
<p>Kisah kesolidan Banser NU ini bermula dari insiden kecelakaan beruntun yang terjadi di Jalan Kutoarjo Purworejo pada Senin 12 Agustus 2019 kemarin.</p>
<p>Ceritanya sebuah Minibus Suzuki APV yang dikemudikan Saeful Aziz (23) warga asal Mulyasari Kecamatan Majenang melaju hendak ke bandara Adi Sucipto Yogyakarta mengantar saudaranya untuk terbang ke hongkong jadi TKI. Namun saat di perjalanan tepatnya di Jalan Kutoarjo, sebuah Truk merk Hino tiba-tiba saja melaju dari arah timur hendak menyalip kendaraan yang ada di depannya.</p>
<p>Namun truk tersebut memakan jalur berlawanan, yang pada saat bersamaan melaju Minibus Suzuki APV yang dikemudikan Saeful Aziz.</p>
<p>Saeful Aziz yang mengemudikan mobil APV itupun lantas terkejut dan berusaha menghindari laju truk tersebut, truk itu menyerempet mobil APV.</p>
<p>Aziz pada saat itu terpaksa banting stir ke sisi kanan, namun saat bersamaan juga melaju Bus Sumber Alam. Sehingga kecelakaan beruntun pada Senin pagi itu tidak bisa dihindarkan.</p>
<p>Dalam insiden dan peristiwa tersebut, 1 penumpang Suzuki APV meninggal dunia yang tidak lain ayah dari Saeful Aziz yakni Mat Kosim (57) warga Cigobang Majenang. Mat Kosim diketahui duduk di bangku sebelah kiri dari sang anak yang juga menjadi sopir.</p>
<p>Nasib nahas menimpa Mat Kosim. Ayahnya meninggal dunia namun anaknya Saeful Aziz justru ditahan oleh jajaran kepolisian Purworejo.</p>
<p>Sudah ditahan, ia pun tidak melihat sang ayah disemayamkan. Saeful Aziz merasa tak bersalah karena pada saat itu ia mengendarai mobilnya dengan benar. Sang Ibu pun menangis, sudah kehilangan Suami, sang anak malah ditahan.</p>
<p>Maka ibunda Saeful Aziz mengadukan hal itu kepada Komandan Banser NU Majenang Haji Mukhtar atau akrab disebut Haji Utar.</p>
<p>Mengetahui hal tersebut, Haji Utar kemudian berkoordinasi dengan Banser Purworejo untuk membantu menyelesaikan perkara tersebut.</p>
<p>Kedua Banser dari 2 daerah ini sekaligus membuktikan bahwa Banser Nahdlatul Ulama itu solid.</p>
<p><H2>Tanggapan Gusdurian Majenang</H2></p>
<p>Melihat kompaknya Banser NU, Haji Murtadlo selaku Ketua Gus Durian Majenang dan juga Banser Senior X-26 Majenang Cilacap mengatakan. Saya salut akan kesolidan Banser NU. Inilah bukti bahwa Banser itu satu, satu Komando.</p>
<p>&#8220;Bukan masalah kasus yang sedang terjadi, akan tetapi saya sangat salut dengan kesolidan banser NU. Inilah Barisan Ansor Serbaguna, bukan hanya mengawal kiai dan menjaga keutuhan NKRI, tapi juga dalam ranah sosial lainnya, Banser hadir siap sedia membantu,&#8221; Ucap Haji Murtadlo.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[cilacap info featured]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[cilacap info featured]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Bikin Merinding, Desa Sepatnunggal Majenang konon Dijaga Lelembut</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-15360/bikin-merinding-desa-sepatnunggal-majenang-konon-dijaga-lelembut</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Hasan Bahtiar]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Jun 2019 13:38:55 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Cerita Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Majenang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-15360/bikin-merinding-desa-sepatnunggal-majenang-konon-dijaga-lelembut</guid>

					<description><![CDATA[Istana Candi Kuning, Gunung Padang adalah tempat tinggal Ki Adeg Ciluhur, Adipati Majenang sekaligus putra mahkota Kerajaan Dayeuhluhur yang dipimpin oleh Prabu Gagak Ngampar. Prabu Gagak Ngampar merupakan saudara Prabu Niskala Wastu Kencana, Raja Galuh Wiwitan, yang wilayahnya membentang dari Sungai Pamanukan di barat hingga Gunung Ungaran di sebelah timur.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Istana Candi Kuning, Gunung Padang adalah tempat tinggal Ki Adeg Ciluhur, Adipati Majenang sekaligus putra mahkota Kerajaan Dayeuhluhur yang dipimpin oleh Prabu Gagak Ngampar. Prabu Gagak Ngampar merupakan saudara Prabu Niskala Wastu Kencana, Raja Galuh Wiwitan, yang wilayahnya membentang dari Sungai Pamanukan di barat hingga Gunung Ungaran di sebelah timur.</p>
<p>Dengan mata nanar berkilat perlambang semangat yang berkobar, seorang pemuda berseru, &#8220;Aku Panembahan Dalem Reksapati! Akan kupimpin prajuritku meluaskan wilayah atas perintah Panembahan Senapati! Ini untuk kejayaan Kerajaan Mataram di masa yang akan datang!&#8221;</p>
<p>Secepat kilat pemuda itu menghilang di bawah langit kelam Kadipaten Majenang. Langkah kaki membawanya ke arah matahari terbit, menembus hutan dalam kegelapan, menyibak semak dan pepohonan. Panembahan Dalem Reksapati menuju Leuweung Wates, hutan rimba di tengah Pegunungan Pembarisan yang belum pernah terjamah tangan manusia. Semburat warna jingga menyala sei ring kicauan burung nan memesona berpadu dengan gemericik air sea kan berirama.</p>
<p>Sayup-sayup terdengar senandung merdu suara seorang wanita. Tergerak hati Reksapati mencoba mendekati asal suara. Menyibak semak alang-alang. Terperanjat Reksapati ketika matanya melihat wajah rupawan nan menawan. Si gadis pun tidak kalah terkejutya melihat sosok pemuda muncul secara tiba-tiba di hadapannya.
&#8220;Duhai putri nan cantik jelita, engkaukah bidadari yang turun dari kayangan?&#8221; sapa Reksapati.
&#8220;Siapa Ki Sanak?&#8221;, tanya di gadis jelita itu.</p>
<p>Si gadis mundur teratur karena merasa tidak mengenal pemuda di hadapannya itu. Sejurus kemudian di gadis berlari lintang-pukang menyusuri tepian sungai. Sementara itu, Reksapati yang rupanya terlanjur jatuh hati diam-diam mengikuti arah laju di gadis.</p>
<p>Gadis yang bernama Ratna Kencana itu masuk ke dalam sebuah gubuk kecil di tepi hutan. Seorang wanita tua menyambutnya dengan pelukan dan usapan lembut di rambut sang putri yang dicintainya. Reksapati masih mengintai dibalik semak-semak. Kemudian, ia mencoba mendekati gubuk agar dapat melihat dengan jelas apa yang ada di dalamnya. Tampak seorang lelaki tua dengan mata terpejam duduk terlentang di dipan bambu panjang. Jemarinya memegang ce rutu hitam. Asap putih mengepul dari mulutnya membentuk bulatan-bulatan yang berputar-putar membumbung menyebar lalu menghilang. Tiba-tiba Reksapati dikejutkan oleh suara dan rasa sakit. Ia mengaduh, sebutir kerikil mengenai kepalanya.</p>
<p>&#8220;Hai, Anak Muda. Mengapa kau mengintip dari situ. Ayo, keluar! Jangan jadi pengecut!&#8221; bentak lelaki tua tersebut. Rupanya lelaki tua di dalam gubuk kecil itu bukanlah orang biasa. Ia tidak hanya me nyadari kedatangan seorang pemuda di gubuknya, tetap juga telah membuat Reksapati tidak dapat berlama-lama bersembunyi. Reksapati pun akhirnya ke luar dari tempat persembunyiannya. Ia berjalan mendekati lelaki tua sambil mengusap-usap kepalanya.</p>
<p>&#8220;Maaf, Pak Tua. Saya Reksapati. Saya membuntuti putri Anda yang cantik jelita. Sepertinya saya telah jatuh hati kepada putri Bapak. Saya ingin sekali mempersunting putri Bapak,&#8221; terang Reksapati kemudian.
&#8220;Enak saja engkau menyebutku Pak Tua, Anak Muda!&#8221; lelaki itu membuka mata, beranjak dari dipannya, menatap tajam mata Reksapati. Reksapati bergeming, balas menatap tajam sang lelaki tua. Menyelami tatapan tajam Reksapati, lelaki tua itu melihat kilatan api, pertanda bahwa Reksapati bukanlah manusia biasa, melainkan pemuda dengan kesaktian luar biasa. Dengan berat hati lelaki tua itu berkata.</p>
<p>&#8220;Aku Wangsakarta, Mata air Padontilu dan Leuweung Wates ini dalam penjagaanku. Ini adalah Dusun Larangan. Hanya aku, istriku, dan putriku yang menempati dusun ini. Tidak seorang pun berani memasuki dusun ini kecuali kami. Termasuk kau, Reksapati!&#8221; sentaknya tegas.</p>
<p>&#8220;Sebelum terjadi apa-apa denganmu, pergilah! Keluarlah dari Du sun Larangan ini!&#8221; tambahnya lagi.</p>
<p>&#8220;Tidak semudah itu, Ki Wangsakarta! Istana Candi Kuning Gunung Padang di Kadipaten Majenang telah luluh lantak. Aku yang menghancurkannya! Kalau hanya menguasai sebuah dusun, apa susahnya? Begitu juga untuk mempersunting putri cantikmu. Dengan kesaktian yang aku miliki, aku dapat melakukan apa pun yang aku mau!&#8221; timpal Reksapati dengan pongahnya. Ki Wangsakarta terdiam sejenak. Sejurus kemudia, ia memanggil putrinya, Ratna Kencana.</p>
<p>&#8220;Wahai, Anakku, Ratna Kencana, kemarilah cah ayu!&#8221; kata Ki Wangsakarta.
&#8220;Katakanlah kepada Ayah, bagaimana pendapatmu tentang pemuda ini?&#8221; lanjutnya.</p>
<p>Setelah terdiam beberapa saat, Ratna Kencana menjawab pertanyaan ayahandanya, &#8220;Ayahanda yang bijaksana. Aku kagum dengan keberaniannya. Tidak ada salahnya ayah menguji kesaktiannya. Untuk mengetahui apakah ia dapat menjaga aku, ayah, dan ibu. Atau mungkin ia dapat memberikan sesuatu untuk Dusun Larangan, Mata Air Padontilu dan Leuweung Wates. Ratna Kencana serahkan keputusan pada Ayahanda,&#8221; jawab Ratna Kencana.</p>
<p>&#8220;Baiklah, Reksapati. Akan kuizinian kau menikahi putriku dengan dua syarat. Pertama kau harus membuka hutan ini menjadi perkampungan sehingga dusun ini tidak lagi menjadi Dusun Larangan!&#8221; kata Ki Wangsakarta lagi.</p>
<p>&#8220;Kedua, apa pun permintaan Ratna Kencana padamu harus kauturuti meskipun berat kaulakukan. Jika melanggarnya, apa pun yang kau miliki termasuk kesaktianmu harus kau berikan kepadaku. Sanggupkah kau menerima tantanganku?&#8221; seru Ki Wangsakarta lagi.</p>
<p>&#8220;Itu bukanlah hal yang sulit bagiku, Ki! Aku yakin sanggup melaksanakan titah Aki!&#8221; jawab Reksapati mantap.</p>
<p>Suara petir menggelegar seiring dengan sumpah yang diucapkan Panembahan Dalem Reksapati. Ia mulai melaksanakan tugas pertamanya. Karena memiliki kesaktian yang luar biasa, ia berhasil mengubah hutan belantara menjadi sebuah kampung yang diberi nama Babakan yang bermakna ‘tahap-tahap’. Semakin lama, semakin banyak orang berdatangan untuk menetap di perkampungan tersebut. Seiring berjalannya waktu, daerah tersebut menjadi luas dengan para penduduk yang banyak. Panembahan Dalem Reksapati pun menikah dengan Ratna Kencana. Bahkan, Ratna Kencana tidak lama kemudian mengandung putra mereka yang pertama. Sangat besar kasih sayang Reksapati kepada istrinya. Apa pun yang diminta pasti akan diturutinya.</p>
<p>Panembahan Dalem Reksapati berhasil membuka sebuah hutan menjadi perkampungan yang diberi nama Babakan
sebagai syarat untuk mempersunting putri Wangsa Karta penguasa Desa Larangan.
Suatu hari, Ratna Kencana bermimpi. Dalam mimpinya ia mendengar suara gaib yang terus terngiang-ngiang dalam benaknya.</p>
<p>&#8220;Ratna Kencana, engkau, ayahmu, ibumu, dan jabang bayi dalam kandunganmu ada dalam kuasaku. Untuk keselamatan kalian, mintal ah pada suamimu untuk menangkap seekor ikan di Sungai Cibeng keng. Bakarlah ikan itu untuk dia makan. Dan, kamu harus menyaksikan suamimu memakan daging ikan itu hingga bersisa kepala dan duri saja!&#8221; Begitu terbangun, dengan wajah kebingungan Ratna memanggil suaminya.</p>
<p>&#8220;Kakanda, Kakanda, Kakanda, di mana engkau? Kakanda, di mana engkau? Kakanda, di mana engkau?&#8221; Berulang kali memanggil, tidak ada sahutan. Ratna ke luar dari pondoknya, memandang sekeliling berharap menemukan suaminya segera. Sadar suaminya tidak ada di sana, ia berjalan menyusuri perkampungan. Tidak sia-sia usahanya, ia pun menemukan suaminya sedang menebang kayu di pinggir hutan. Dengan senyum mengembang, ia hampiri Reksapati.</p>
<p>Mendengar suara langkah kaki, Reksapati berhenti dari pekerjaannya. Ia terkejut mendapati Ratna berdiri di hadapannya. Tangan kanannya menggenggam sebuah pancing yang pada mata kailnya telah tertancap seekor cacing yang sedang menggeliat, sedangkan tangan kirinya tidak berhenti mengelus perutnya.
&#8220;Adinda, Ratna, adakah sesuatu yang penting hingga kau mencariku sampai ke sini?&#8221; ujarnya heran.</p>
<p>&#8220;Ya, Kanda! Tangkaplah seekor ikan di Sungai Cibengkeng. Aku akan menemanimu, Kanda. Akan aku bakar ikan itu untuk kaumakan. Sisakan kepala dan durinya untukku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi, sejak tinggal di sini tidak pernah aku mendapati seekor ikan pun.&#8221;
&#8220;Ini keinginan di jabang bayi, Kanda!&#8221; Ratna merajuk sambil mengelus perutnya.
&#8220;Dan, ingatlah sumpah Kanda yang kedua pada ayahanda!&#8221; Ratna menambahkan.</p>
<p>Reksapati menyerah ketika diingatkan dengan sumpah. Ia pun menggandeng Ratna menuju tepi Sungai Cibengkeng. Mata kail ia lempar ke tengah sungai. Namun, tidak ada tanda-tanda seekor ikan pun menyambarnya. Berjam-jam mereka menanti. Karena kelelahan, Ratna Kencana tertidur di atas batu di samping suaminya. Hampir menyerah, Reksapati menggunakan kesaktiannya untuk menerawang apakah ada ikan.</p>
<p>&#8220;Kena, kau!&#8221; seru Reksapati kegirangan.
Dari kejauhan ibunda Ratna Kencana yang hendak turun ke sungai untuk mencuci baju terkejut mendapati Reksapati didampingi Ratna Kencana tengah memegangi pancing yang ada ikan berukuran besar. Wajah sang Ibu berubah menjadi pucat pasi. Ia menjatuhkan bakul berisi baju kotor yang hendak dicuci. Dalam suasana yang masih terang benderang, ia dikejutkan oleh suara petir yang menggelegar. Matanya berkaca-kaca, bibirnya bergetar bergumam.</p>
<p>&#8220;Duh, Gusti, lindungilah desa ini!&#8221; gumamnya dalam isak.
Tergopoh-gopoh sang Ibu pulang ke gubuknya. Ia berlari menghambur ke suaminya yang masih tertidur di dipan panjang. Suara gaduh dari langkah Nyi Wangsakarta membangunkan suaminya.
&#8220;Aki&#8230; Aki! Gawat, Kii&#8230; ikan&#8230; ikan&#8230; ikann&#8230;!&#8221;
&#8220;Ada apa, Nyi? Ada apa dengan ikan?&#8221; tanya Ki Wangsakarta kebingungan.</p>
<p>&#8220;Ikan di Sungai Cibengkeng, Ki. Ratna Kencana dan Reksapati mem ancing ikan itu. Entah apa yang akan mereka lakukan pada ikan itu, Aki&#8230;!&#8221; Wajah Nyi Wangsakarta tampak sangat gusar dan cemas.</p>
<p>Ki Wangsakarta terperanjat. Ia meloncat kuat dari dipan panjang kesayangannya. Ia berlari secepat kilat mencari putri semata wayangnya dan menantunya. Setibanya di tepi Sungai Cibengkeng ia terhenyak melihat putri dan menantunya duduk di atas batu besar dan menyantap ikan sepat berukuran besar yang telah dibakar di hadapan mereka. Melihat kedatangan Ki Wangsakarta, Ratna Kencana berteriak.</p>
<p>&#8220;Ayah, Ayah, Ayah! Kata Ayah tidak ada ikan di sungai ini. Lihat Ayah! Kanda Reksapati dapat menangkap ikan yang berukuran besar. Ikan sepat yang lincah, Ayah. Kami telah memakanya. Sayang, Ayah datang terlambat. Jadi, tidak dapat mencicipi ikan yang lezat ini, Ayah,&#8221; cerocos Ratna Kencana pada sang ayah yang masih tercenung melihat kejadian di hadapannya tersebut.</p>
<p>Ki Wangsakarta tidak menghiraukan perkataan Ratna Kencana. Ia berjalan pelan menghampiri Reksapati yang masih menikmati sisa-sisa ikan sepat bakar tersebut. Melihat ikan sepat yang hanya tinggal kepala dan durinya saja, Ki Wangsakarta terduduk lemas. Air matanya meleleh. Dengan suara parau dan bibir bergetar ia berujar.</p>
<p>&#8220;Anakku, Panembahan Dalem Reksapati. Ketahuilah bahwa ikan sepat itu adalah satu-satunya ikan yang menghuni Sungai Cibengkeng. Sungguh sangat terlarang bagi siapa pun menangkap, memindahkan, atau membunuh dan menyantapnya.</p>
<p>Ketahuilah bahwa kehidupan ikan sepat itu berarti kelangsungan hidup di Desa Babakan, Leuweung Wates dan Mata Air Padontilu. Kehidupan ikan berarti masa depan perkampungan. Kematian ikan berarti musibah dan bencana bagi perkampungan,&#8221; jelas Ki Wangsakarta tertunduk lesu.</p>
<p>Nyi Wangsakarta datang tergopoh-gopoh bersama puluhan warga Desa Babakan. Mendengar perkataan Ki Wangsakarta kepada Pa nembahan Dalem Reksapati membuat mereka semua menjadi keta kutan. Reksapati pun merasa sangat bingung dan merasa bersalah de ngan apa yang baru saja dilakukannya.</p>
<p>&#8220;Maaf, Ayahanda. Saya hanya menjalankan sumpahku yang kedua. Ratna Kencana memintaku untuk menangkap ikan di sungai ini dan menyantapnya. Saya benar-benar tidak tahu tentang ini semua. Maafk an saya, Ayah!&#8221; terang Reksapati gugup. Semua orang yang ada di tempat itu seketika diam seribu bahasa. Mereka terdiam mematung tidak mengerti harus berbuat apa. Mereka tenggelam dalam pi kirannya masing-masing. Suasana begitu mencekam dan hening. Dalam keheningan itu, tiba-tiba terdengar suara gaib menggema di sekeliling tempat mereka berdiri.</p>
<p>&#8220;Terkutuklah Ratna Kencana dan kalian semua! Bencana akan datang melanda! Terkutuklah Ratna Kencana dan kalian semua! Bencana akan datang melanda! Terkutuklah Ratna Kencana dan kalian semua! Bencana akan datang melanda!&#8221; suara itu berulangulang dan menggema membuat semua warga Desa Babakan diliputi ketakutan yang teramat sangat. Mereka panik dan resah. Apa sebenarnya yang telah terjadi. Ratna Kencana terperanjat, ia menangis sesenggukan. Menyesali permintaannya pada sang suami yang diturutinya dari mimpi.</p>
<p>&#8220;Kasihan warga desa ini. Mereka tidak tahu apa-apa tetapi harus menanggung bencana akibat kesalahanku&#8230; Andai saja waktu dapat diulang, mungkin dusun ini tetap menjadi Dusun Larangan. Tidak ada Desa Babakan. Tangis Nyi Wangsakarta pecah di tengah ke heningan.
Tiba-tiba kilat menyambar, petir menggelegar, terpaan angin yang kian kencang menimbulkan derak dahan pohon dan daun-daun bergesekan menambah suasana mencekam. Mega hitam menyelimuti langit di atas Leuweung Wates bagaikan memasuki masa kelam dan gelap.
&#8220;Apa yang dapat aku laukan, Ayahanda?&#8221; tanya Reksapati kemudian. Ia merasa harus melakukan sesuatu dengan kesaktiannya.</p>
<p>&#8220;Pengorbanan! Ada yang harus berkorban&#8230;!&#8221;
&#8220;Bukan! Bukan! Bukan! Ada yang harus dikorbankan! Kami yang akan berkorban. Jika kau sanggup membuat ikan yang kau makan hidup kembali, itulah masa depan perkampungan!&#8221;
Ki Wangsakarta menarik tangan istri dan putrinya. Berlari menjauh masuk ke hutan, lalu menghilang dalam kegelapan. Panembahan Dalem Reksapati mengerti, ia harus menghidupkan ikan sepat itu lagi. Ia berlutut di atas batu, mengerahkan kesaktiannya, men engadahkan tangan memohon perlindungan yang Maha Kuasa. Awan hitam berganti terang, angin berhenti bertiup kencang dan berubah menjadi sepoi-sepoi. Seketika, ikan sepat yang sudah ting gal kepala dan durinya saja dengan ajaib hidup lalu meloncat ke dalam Sungai Cibengkeng. Dan, ikan tersebut merupakan satusatunya (tunggal) yang dapat hidup setelah dimakan. Seiring dengan berjalannya waktu, daerah tersebut menjadi luas dengan penduduk yang banyak. Atas jasa Panembahan Dalem Reksapati, daerah yang dahulunya bernama Babakan diganti nama menjadi Sepatnunggal, berdasar pada kejadian luar biasa, yaitu ikan sepat satu-satunya yang ajaib.</p>
<p>Kini Sepatnunggal yang merupakan nama salah satu desa di Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, dikenal sebagai lokasi yang dilindungi oleh makhluk gaib atau jin. Dengan pusatnya di Kampung Larangan, Kampung Dana Warih, dan Kampung Wangen yang disangga oleh kampung-kampung lain, yaitu Kampung Babakan, Kam pung Leuwi Panjang, dan Kampung Kutangsa.</p>
<p>Kepercayaan penduduknya, bila pendatang berbuat jahat di daerah ini, ia tidak akan mampu ke luar dari desa dalam keadaan selamat. Dan, jika yang berbuat jahat atau mencemarkan nama baik desa adalah penduduk asli, disadari atau tidak ia akan &#8220;dijauhkan&#8221; atau &#8220;menjauh dengan sendirinya&#8221;.</p>
<p>Copyright: Cerita Rakyat.
Penerbit:
Balai Bahasa Jawa Tengah
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[cilacap info featured]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[cilacap info featured]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
	</channel>
</rss>
