<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>Kumpulan Pos Purbalingga &#8211; Story Cilacap.info</title>
	<atom:link href="https://story.cilacap.info/tag/purbalingga/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://story.cilacap.info</link>
	<description>Media Online Masa Kini, Akurat, Mengedepankan Etika</description>
	<lastBuildDate>Mon, 18 Jul 2022 10:08:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	
<image>
<url>https://img.cilacap.info/images/story/favicon-32x32.png</url><title>Kumpulan Pos Purbalingga &#8211; Story Cilacap.info</title>
<link>https://story.cilacap.info</link>
<width>32</width><height>32</height><description>Info Kisah Menarik</description>
</image>
	<item>
		<title>Syekh Nahrawi Al-Banyumasi, Mursyid Tarekat Syadziliyah asal Purbalingga</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-49066/syekh-nahrawi-al-banyumasi-mursyid-tarekat-syadziliyah-dan-pengarang-kitab-di-hijaz-asal-purbalingga</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Aji Setiawan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 Jul 2022 11:52:26 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Purbalingga]]></category>
		<category><![CDATA[Syekh Nahrowi al-Banyumasi]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-49066/syekh-nahrawi-al-banyumasi-mursyid-tarekat-syadziliyah-dan-pengarang-kitab-di-hijaz-asal-purbalingga</guid>

					<description><![CDATA[PURBALINGGA, CILACAP.INFO &#8211; Syekh Nahrawi Al-Banyumasi, Beliau adalah Mursyd Tarekat Syadziliyah dan Pengarang Kitab di Hijaz yang berasal dari Purbalingga.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PURBALINGGA</strong>, <a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Syekh Nahrawi Al-Banyumasi, Beliau adalah Mursyd Tarekat Syadziliyah dan Pengarang Kitab di Hijaz yang berasal dari Purbalingga.</p>
<p>Syekh Nahrawi Al-Banyumasi adalah seorang ulama asal Indonesia yang sangat mahsyur di tanah Arab. Beliau lahir di Purbalingga pada tahun 1860. Nama aslinya adalah Kiai Mukhtarom.</p>
<p>Kemudian tafa’ulan kepada gurunya sehingga namanya menjadi Nahrawi. Nama lengkap beliau adalah &#8220;Ahmad Nahrawi Mukhtarom bin Imam Raja Al-Banyumasi Al-Jawi&#8221;.</p>
<p>Biografinya terdapat di kitab A’lamul Makiyyin yang ditulis oleh Syekh Abdullah Muallimi. Ada di entri nomor 1431 halaman 964,&#8221; ujar penulis buku Mahakarya Islam Nusantara itu.</p>
<p>Syekh Nahrawi wafat pada tahun 1926 pada usia 86 tahun dan dimakamkan Ma’la di Makkah. Meski demikian kiprah dakwahnya di tanah air tidak pernah terputus. Dakwah terus bersambung dilanjutkan keluarganya di Purbalingga.</p>
<p>Masa kecil Nahrowi dilewatinya dengan belajar Al-Qur’an dan ilmu agama kepada ayahnya, Kyai Haji Harja Muhammad yang juga dikenal dengan Imam Masjid Darussalam Purbalingga.</p>
<p>Syekh Nahrawi dan saudaranya, Kyai Haji Abu ‘Ammar melanjutkan pembelajaran di Makkah. Saat itu, usia Syekh Nahrawi baru 10 tahun.</p>
<p>Namun, Syekh Nahrawi telah memperoleh surat izin mengajar di Masjidil Haram karena ketekunannya dalam mencari ilmu. Beliau bahkan sempat menjadi seorang hakim agung.</p>
<p>Saat itu juga Makkah menjadi pusat peradaban ilmu dengan guru-guru ulama yang sangat mumpuni seperti Syekh Muhammad al-Maqri a-Mishri al-Makki, Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasballah, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, mufti madzab Syafi’iyah di Makkah, Syekh Ahmad An-Nahrawi al-Mishri al-Makki,  Sayyid Muhammad Shalih al-Zawawi al-Makki, salah seorang guru di Masjid Nabawi dan lain-lain.</p>
<p>Sejak itu, Syekh Nahrawi tidak kembali ke Nusantara. Beliau memilih berkarier di Makkah dan guru yang ulung. Berbeda dengan sang kakak, Abu ‘Ammar. Ia pulang ke tanah air dan menjadi Imam Masjid Agung Purbalingga.</p>
<p>Kyai Haji Abu ‘Ammar  pulang dari Makkah langsung menghidupkan dan memakmurkan Masjid Agung Purbalingga. Masjid tersebut merupakan peninggalan Mbah Abu ‘Ammar dan keluarganya. Sebab, tanah wakaf itu atas nama Kyai Haji Hardja Muhammad yang tidak lain adalah ayah Mbah Abu ‘Ammar .</p>
<p>Kyai Haji Abu ‘Ammar  juga dikenal dengan kelapangan dan luwes dalam bergaul. Hal itu dibuktikan dengan kedekatan Mbah Abu ‘Ammar  dengan tokoh lintas organisasi, seperti Kyai Haji Hasyim Asy’ari (NU) dan Kiai Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) pernah datang dan berdiskusi di Masjid Kauman semasa Mbah Abu ‘Ammar.</p>
<p>Bahkan Syekh Syurkati, pendiri Al Irsyad Al Islamiyah dari Makkah dikabarkan juga pernah bertandang. Kyai Haji Abu ‘Ammar  adalah seorang intelektual muslim yang sangat disegani tidak saja pada regional Banyumas akan tetapi juga nasional.</p>
<p>Kancah KH. Abu ‘Ammar di tingkat nasional bisa ditelusur ketika berteman akrab dengan seorang hakim Belanda yang sangat terkenal yaitu Prof. Terrhar.</p>
<p>Diskusi yang intens Kyai Haji Abu ‘Ammar  ini dengan Terrhar ini kemudian memunculkan perlunya sebuah peradilan bagi kaum inderland tersendiri yang terpisah dengan landrat yang ada ketika itu.</p>
<p>Peradilan ini hanya diberlakukan buat kaum inderlands yang berhubungan dengan hukum-hukum perdata (Begerlijc Wetbook). Sektor yang diurus oleh peradilan ini meliputi pernikahan, perceraian, hukum waris. Peradilan ini kemudian dikenal dengan Pengadilan Agama.</p>
<p>Peradilan agama ini telah berkembang sekarang sampai keseluruh persada nusantara. Dalam sejarah peradilan di Indonesia, pengadilan agama ini telah menjadi salah satu dari empat peradilan di Indonesia.</p>
<p>Pengadilan Agama telah sama kedudukannya dengan pengadilan umum serta di bawah satu atap Mahkamah Agung. Bahkan kewenangan Pengadilan Agama kini telah meluas tidak saja hal-hal yang berkenaan dengan hukum Perdata tapi juga menerima sengketa pidana yang bersifat syariah.</p>
<p><strong>Menjadi Guru di Makkah</strong></p>
<p>Sementara Syekh Ahmad Nahrowi Mukhtarom Al Banyumasi tidak mau pulang ke tanah Jawa. Bahkan oleh Pemerintah Saudi Syekh Ahmad Nahrowi Mukhtarom diangkat menjadi guru mengajar santri dari berbagai Negara.</p>
<p>Beliau Banyak mempunyai murid dan bahkan menjadi hakim agung di Arab Saudi (lihat; Islam transformasi; Azyumardi Azra; Gramedia; 1997).</p>
<p>Tidak satupun pengarang kitab di Haromain; Makkah-Madinah, terutama ulama-ulama yang berasal dariIndonesia yang berani mencetak kitabnya sebelum ada pengesahan dari Syekh Ahmad Nahrowi Mukhtarom Al Banyumasi.</p>
<p>Sehingga bisa dipastikan waktu Syekh Ahmad Nahrowi Mukhtarom al Banyumasi ini habis untuk mengkoreksi, mengedit dan mentahshih ratusan kitab karya ulama-ulama Nusantara yang pada waktu itu terkenal sangat produktif menulis karya.</p>
<p>Seperti Syekh Mahfudz Al Tremasi, Syekh Soleh Darat, Syekh  Nawawi Al-Bantani, Syekh Kholil Al Bangkalani, Syekh Junaid Al Batawi  dan lain-lain. Syekh Nahrowi iabaratnya adalah editor handal dari kitab-kitab klasik ulama-ulama Nusantara pada masa itu.</p>
<p>Syekh Nahrawi banyak mengoreksi ratusan kitab karya ulama-ulama Nusantara seperti Syekh Mahfudz Al Tremasi dan Syekh Nawawi Al Bantani.</p>
<p>Kala itu, para pengarang kitab, terutama yang berasal dari Indonesia, enggan mencetak karyanya sebelum diberi rekomendasi atau taqrizh oleh Syekh Nahrawi.</p>
<p>Beberapa karya tersebut adalah Fathul Majid Syarh Jauharatut Tauhid karya Syekh Husain bin Umar Palembang dan fatwa Al-Ajwibatul Makkiyah ‘alal As’ilatil Jawiyyah oleh Syekh Abdullah bin Abdurrahman Siraj.</p>
<p>Nah, menurut Syekh Nahrawi, kitab yang ditulis Syekh Abdullah berisi jawaban atas beragam persoalan di Nusantara seperti tradisi tahlil, mauludan, dan ziarah kubur.</p>
<p>pada Juli 2017 lalu, Komunitas Pegon di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Tengah menemukan karya tulis Syekh Nahrawi. Karya tersebut ditemukan saat mereka memeriksa kardus-kardus berisi kitab peninggalan Kiai Faqih Cemoro.</p>
<p>Kitab sepanjang delapan halaman itu merupakan catatan atau taqliq dari Risalah Iti’arat karya Syekh Ahmad bin Zaini Dahlan Al-Makki, seorang mufti Mekah yang menjadi guru Syekh Nahrawi.</p>
<p><strong>Menjadi Mursyid Thariqah</strong></p>
<p>Selain mengasas kitab, Syekh Ahmad Nahrowi juga menjadi Mursyid Thariqah Syadziliyah. Thariqah Syadziliyah muncul secara Besar-besaran di tanah Jawa baru di abad 19 ketika para santri Jawa yang sebelumnya berbondong-bondong belajar di Makkah dan Madinah pulang ke tanah air</p>
<p>Generasi awal adalah KH. Idris, pendiri Pesantren Jamsaren, Solo, yang mendapatkan ijazah kemursyidannya dari Syekh Muhammad Shalih, seorang mufti Madzhab Hanafi di Makkah.</p>
<p>Sementara guru-guru mursyid Syadziliyyah Jawa yang lain belajar pada generasi sesudah Syekh Shalih, yakni Syekh Ahmad Nahrawi Mukhtarom yang seangkatan dengan Kyai Idris Jamsaren saat berguru kepada Syekh Muhammad Shalih.</p>
<p>Ulama-ulama Jawa yang berguru thariqah Syekh Nahrowi antara lain KH. Muhammad Dalhar Watucongol, Muntilan, dan Kiai Siroj, Payaman, Magelang; KH. Ahmad Ngadirejo, Klaten; Kiai Abdullah bin Abdul Muthalib, Kaliwungu, Kendal; dan Syekh Abdul Malik, Kedungparuk Mersi, Purwokerto, Banyumas.</p>
<p>Dari Mbah Dalhar, ijazah kemursyidan itu turun kepada putranya KH. Ahmad Abdul Haqq (Mbah Mad Watucongol), Abuya Dimyathi (Cidahu, Pandeglang) dan Kiai Iskandar (Salatiga).</p>
<p>Perlu diketahui, Thariqah Syadziliyyah adalah thariqah yang didirikan oleh Syekh Abu al-Hasan Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar Asy-Syadzili Al Hasany, ulama kelahiran Ghamarah.</p>
<p>Yakni sebuah kampung di wilayah al-Maghrib al-Aqsha yang sekarang dikenal dengan Maroko. Beliau lahir pada tahun 593 H (1197 M) dan wafat di Humaitsara, Mesir pada tahun 656 H (1258M)</p>
<p>Beliau adalah seorang sufi pengembara yang mengajarkan bersungguh-sungguh dalam berdzikir dan berfikir di setiap waktu, tempat dan keadaan untuk mencapai fana’ (ketiadaan diri di hadapan Allah).</p>
<p>Beliau juga mengajarkan bersikap zuhud pada dunia dan iqbal (perasaan hadir di hadapan Allah). Beliau mewasiatkan agar para muridnya membaca kitab Ihya’ Ulumuddin dan kitab Qutul Qulub.</p>
<p>Peringatan Haul Syekh Ahmad Nahrowi berlangsung meriah. Puluhan ribu orang tumpah ruah di Alun-Alun Purbalingga, Sabtu (26/6) malam melepas kerinduan atas kehadiran Maulana Habib Luthfi bin Yahya dalam gelaran Haul Akbar Syech Nahrowi Muhtarom Al Banyumasi.</p>
<p>Haul ini digelar kali pertama untuk mengenalkan kembali bahwa Purbalingga pernah melahirkan ulama besar bertaraf internasional, Sayyid Syekh Ahmad Nahrowi Muhtarom Al-Banyumasi Al Makky.</p>
<p>la asal Purbalingga dan hijrah ke Makkah. Kiprahnya sebagai guru para santri dari berbagai negara, sempat menjadi hakim agung dan korektor kitab-kitab yane ditulis para ulama</p>
<p>&#8220;Umat Islam di Indonesia khususnya Purbalingga punya kebanggaan yang luar biasa. Karena Purbalingga telah melahirkan Syekh Nahrowi mewarnai keintelektualannya, keilmuannya dan seorang guru thoriqoh yang tinggal di Masjidil Haram,&#8221; katanya.</p>
<p>Rangkaian haul sendiri sudah berlangsung sejak jumat, dengan Karnaval seni dan dialog kebangsaan di Hotel Braling.</p>
<p>Puncak acara dengan tabligh Akbar dengan menghadirkan Habib Luthfy dan dimeriahkan penampilan Musthafa (Band Debu)(***)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/07/17/Maulana-Habib-Luthfi-saat-menghadiri-Haul-Syekh-Nahrawi-al-Banyumasi.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[Maulana Habib Luthfi saat menghadiri Haul Syekh Nahrawi al Banyumasi]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/07/17/Maulana-Habib-Luthfi-saat-menghadiri-Haul-Syekh-Nahrawi-al-Banyumasi-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[Maulana Habib Luthfi saat menghadiri Haul Syekh Nahrawi al Banyumasi]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Syekh Jambukarang, Pembuka Dakwah Islam di Purbalingga</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-27853/syekh-jambukarang-pembuka-dakwah-islam-di-purbalingga</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 12 Jun 2020 16:46:15 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Purbalingga]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Waliyullah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-27853/syekh-jambukarang-pembuka-dakwah-islam-di-purbalingga</guid>

					<description><![CDATA[PURBALINGGA, CILACAP.INFO &#8211; Berziarah ke makam Syekh Jambukarang sambil menikmati panorama puncak perbukitan Cahya di belahan utara Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>PURBALINGGA, <a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Berziarah ke makam Syekh Jambukarang sambil menikmati panorama puncak perbukitan Cahya di belahan utara Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.</p>
<p>Matahari baru saja menyeruak di ufuk timur, ketika sinar kemerah-merahan memancar ke seluruh penjuru. Penduduk desa melangkah beriringan menuju ladang, menelusuri jalan setapak berbatu dan berundak yang di kanan-kirinya curam.</p>
<p>Embun pagi, udara dingin, dan sepoi angin khas perbukitan mewarnai perjalanan ke Makam Syekh Jambukarang. Ia adalah ulama penyebar Islam di Purbalingga dan sekitarnya pada abad ke-12.</p>
<p>Makam yang dikeramatkan oleh penduduk itu terletak di Desa Panusupan, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, sekitar 20 kilometer sebelah utara Purbalingga. Untuk berziarah ke sana dibutuhkan waktu sekitar 30 menit dengan mikrobus jurusan Bobotsari-Rembang ke arah Monumen Jenderal Soedirman.</p>
<p>Sampai di Desa Rajawana, perjalanan dilanjutkan dengan pick up bak terbuka jurusan Rajawana-Panusupan sekitar empat kilometer. Dari Desa Panusupan, peziarah masih harus melanjutkan perjalanan lagi. Kali ini dengan berjalan kaki sejauh satu kilometer, melalui jalan setapak berlapis semen yang membelah desa sampai ke gerbang makam.</p>
<p>Di sini, setiap peziarah harus membayar retribusi (untuk pembangunan desa) sebesar Rp 3.000, lalu mengisi buku tamu. Dari situ kita menelusuri jalan selebar satu meter, naik-turun di lembah perbukitan hijau di belahan timur kaki Gunung Slamet. Sejauh mata memandang yang tampak hanya rerimbunan ilalang dan perbukitan yang menghijau.</p>
<p>Sepanjang perjalanan, sepoi angin pegunungan dan kicau burung hutan menemani para peziarah. Sesekali berpapasan dengan serombongan kecil peziarah yang pulang dari makam. Untuk menempuh jarak sepanjang empat kilometer itu dibutuhkan waktu sekitar dua jam, lantaran kondisi jalan yang naik-turun.</p>
<p>Sebagian peziarah mengeramatkan makam Syekh Jambukarang sehingga mereka menjadikannya sebagai sarana untuk bertawasul, menyampaikan doa kepada Allah SWT dengan perantara para wali. &#8220;Saya datang ke sini agar dagangan saya semakin laris,&#8221; kata Mbok Sutini asal Cirebon yang datang beserta tiga anggota keluarganya.</p>
<p>Pada umumnya, peziarah bertandang ke makam pada malam Minggu Pon atau Rabu Pon. Namun, jumlah peziarah membeludak pada pergantian tahun. Banyak anak muda menghabiskan malam panjang di sana. Umumnya mereka membaca ayat Kursi, sebab diyakini ayat Kursi mengandung bermacam-macam fadilah.</p>
<h2>Tiga Cahaya</h2>
<p>Siapa sebenarnya Syekh Jambukarang? Ia adalah putra Prabu Brawijaya Mahesa Tandreman, raja pertama Kerajaan Pajajaran. Ketika masih muda ia bernama Raden Mundingwangi, bergelar Adipati Mendang. Sejak muda ia senang menggeluti ilmu kanuragan. Meski berhak menjasi raja, ia lebih tertarik menjadi pendeta. Takhta kerajaan ia serahkan kepada adiknya, Raden Mundingsari, yang dinobatkan pada 1190.</p>
<p>Ia pun lalu bertapa di Gunung Jambudipa atau Gunungkarang di Banten. Selama bertapa itulah ia menyaksikan tiga cahaya di sebelah timur, menjulang tinggi ke angkasa. Ia lalu mencari asal cahaya tersebut bersama 160 pengikutnya, menyusuri hutan, pegunungan, dan sungai.</p>
<p>Setelah melewati Krawang, Sungai Comal, Gunung Cupu, Gunung Kraton, sampailah mereka di Desa Rajawana. Setelah mendaki Bukit Ardi Lawet, mereka tiba di Bukit Panungkulan yang juga disebut Bukit Cahya, masyarakat sekitar menyebutnya Gunung Cahya, di Desa Grantung, Kecamatan Karangmoncol, Purbalingga. di puncak bukit inilah mereka mendirikan pertapaan.</p>
<p>Pada waktu yang bersamaan, tiga cahaya tersebut juga disaksikan oleh seorang mubalig dari Timur Tengah, yang namanya kemudian dikenal sebagai Syekh Atas Angin, dan konon masih keturunan Rasulullah SAW. Maka bersama 200 pengiring, ia pun segera mencari sumber cahaya tersebut. Mula-mula mereka berlabuh di Gresik, Jawa Timur, lalu meneruskan perjalanan ke Pemalang, Jawa Tengah. Dari sana mereka lalu menuju ke Bukit Cahya. di sinilah ia bertemu dengan Raden Mundingwangi, yang sedang bertapa.</p>
<p>Ketika Syekh Atas Angin menyapanya dengan salam, Raden Mundingwangi diam saja. Sebab, ketika itu ia belum memeluk Islam. Maka mereka pun kemudian terlibat dalam adu kesaktian. Karena kalah, dan mengakui keunggulan Syekh Atas Angin, Raden Mundingwangi pun bersedia masuk Islam. Sejak itu oleh Syekh Atas Angin ia diberi ilmu kewalian dan gelar Pangeran Wali Syekh Jambukarang.</p>
<p>Untuk menyempurnakan keislamannya, Pangeran Jambukarang menunaikan ibadah haji ke Mekah, dan pulang dari Tanah Suci ia dikenal sebagai Haji Purba. Konon, ia memiliki beberapa kekeramatan, antara lain kupluk atau pecinya dapat terbang, mampu menumpuk telur di udara, menggandeng bejana tempat air di angkasa.</p>
<p>Tak lama kemudian, Syekh Atas Angin diambil menantu oleh Pangeran Jambukarang, dinikahkan dengan salah seorang putrinya, Nyai Rubiahbekti. Dari pernikahan ini lahirlah tiga putra dan dua putri: Pangeran Syekh Mahdum Husen, Pengeran Mahdum Medem, Pangeran Mahdum Umar, Nyai Rubiahraja, dan Nyai Rubiyahsekar. Belakangan, Pangeran Jambukarang membuka sebuah pesantren di Purbalingga.</p>
<p>Setelah wafat, ia dimakamkan di puncak Gunung Cahya. Ada beberapa keturunan Syekh Jambukarang yang mengabdi di Kasultanan Demak. Sementara Pangeran Mahdum Husen, salah seorang putranya, punya peran dalam mengusir pasukan Kerajaan Pajajaran yang menyerang daerahnya. Sedangkan cucu Mahdum Husen, Syekh Mahdum Wali Prakosa, meneruskan pengabdian keluarganya di Kesultanan Demak.</p>
<p>Dialah yang membuat soko guru Masjid Demak bersama Sunan Kalijaga, yang salah satunya kemudian terkenal dengan nama soko tatal, karena terbuat dari sisa-sisa kayu. Dialah pula yang meluruskan arah kiblat Masjid Demak, sehingga Sultan Demak memberi piagam penghargaan kepadanya.(***) Aji Setiawan, Purbalingga</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[cilacap info featured]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[cilacap info featured]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Hendak Orang yang Ditakdirkan Mengarungi Dunia</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-27563/hendak-orang-yang-di-takdirkan-mengarungi-dunia</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2020 10:40:58 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Purbalingga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-27563/hendak-orang-yang-di-takdirkan-mengarungi-dunia</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Aji Setiawan]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Aji Setiawan</p>
<p>Purbalingga. Seorang pemimpin umum(PU) media massa terkenal sempat terkagum kagum dengan pendapat saya. Ada lagi tentang jimat cincin yang tahan diracun. Saya memang punya intan dan Jamrud, tapi sudah diminta orang. Cewe ngejeknya batu akik, padahal inten beneran. Itu yang membuat cewek tergila gila ingin menggantinya dengan emas.</p>
<p>Dik, sudah dua kali adik pinjam rukuh dan sajadah. Engkau sholat dibekas tempat sujudku. Dik, sudah kuiklaskan. Aku kini mempersiapkan penggantimu. Seluruh doa terpanjat, sepatah kata gagal terucap&#8230;.</p>
<p>Dik, kuharus menunggumu. Harus memulai dengan sesuatu yang baru. Menormalisasii keadaan. Bangkit dari rasa stres dan gengsi. Sekalipun itu tinggal batu akik. Atau mutiara berkemas, aku kan bersabar menunggumu, dik. &#8230;. </p>
<p>Habis sudah Jamrud khatulistiwa. Masa kita mau ngarang gunung tanpo mas atau ide Gus Dur nyari peta harta Karun yang ketemu ternyata batu tulis, Bongkahan batu yang tulisannya Jawi kuno, berbahasa Jawi Sansekerta.
 Sewaktu waktu, ingin saya ke Martapura pesen bener intan berlian hijau. Sudah ku ikhlaskan.</p>
<p>Indonesia memang kaya, andai saja gunung gunung itu disulap jadi permata dan mutiara. Atau cuma air putih yang saya tiup dengan la ila ha ilalloh 1000x, kadang dengan doa Burdah, suwun untuk guru sekumpul.. Al Fatihah. Kok kuat, tegar, sabar dan ikhlas, kunci rahasianya apa? Strungle for life. Bertahan hidup. yang tidak sekedar hidup saja. Namun menjadi bangsa petarung dan memenangi pertandingan.</p>
<p>Padahal racun itu sudah masuk tubuh, aku harus mengeluarkanya dengan air kelapa atau sari buah jeruk. Jarang lho orang diguncang musibah maha dahsyat masih bertahan. Ingin rasanya saya melawan keadaan, namun cuaca selalu menghalangi saya untuk ke luar rumah.</p>
<p>Keluar rumahku kalau penting sekali dan uniknya kok cuma hari Senin dan Jumat. Aku cuma punya waktu itu, Senin kadang beli jeruk dan cari kopi jahe untuk minum sore (sahira atau kopi tahlil).</p>
<p>Jumat beli alat pencukur kumis, parfum untuk jumatan .Kalau aku pusing, aku ambil wudhu. Jadi umurnya 25 tahun, Moco QS Yusuf. Bila butuh uang banyak, aku Dhuha yang sudah rutin, saya genapkan 10 rokaat. Dan baca QS Waqiah sehabis Asar.</p>
<p>Kok ada minta ilmu kebal, saya kasih suruh puasa, kok Iki aneh aneh Rasulullah SAW nggak begitu, umatnya yang mulia mintanya yang enggak enggak.</p>
<p>Pernah sehari ngimami sholat mahasiswi dan Alhamdulillah, model SPL atau Out Bond UII, saya ampu. Zero korban. Mahal seh, setiap peserta 100 ribu sehari.</p>
<p>Padahal tempatnya batu cadas dan penuh jurang, Kelor, Kaliurang. Itu kok seumur umur, saya dapat pertanyaan seabreg dan harus saya jawab satu persatu, karena setiap orang punya problem masing masing.</p>
<p>Engkaulah penentu sejarah masa depan, setiap generasi punya sejarah sendiri. Kita akan menjadi bagian dari sejarah itu sebagai agen of change (agent perubahan) ataukah hanya menjadi sampah sejarah (bangsa penggunaan, miskin dan bodoh!).</p>
<p>New normal di tengah Pandemi. Cuci tangan yang bersih, lalu sarapan. Wis disuruh cuci tangan malah Kon ora Madang (Gus Hayat). Yo rak Popo, men bersih, wudhu sekalian, kita ingin cahaya Alloh yang terpancar itu mampu menundukkan murkanya Alloh yang tak terkira kan dahsyatnya ke segala sisi kehidupan! ekonomi stagnan, pengangguran meluas, orang sakit bertambah banyak, yang terdampak pandemi meningkat serta kita belum punya jawaban seketika manjur. Masyarakat mintanya instan. Pemerintah terbatas.</p>
<p>Ada disparitas kebutuhan dan stok. Jadi bersabarlah, cuaca yang kurang bersabar mau tidak mau harus dihadapi, seperti polusi udara. Untung sudah pake masker. Marilah kita ambil hikmah, di setiap kesulitan ada jalan kemudahan. Kalau engkau bertaqwa, wayarzuhqu min khaitsu la yah tasib. Dimana engkau tiba tiba ingin mendapat rezeki mendadak. Janji Alloh akan dibayar tunai, cukup dengan Kun Fayakun! Dari Gusti Alloh.</p>
<p>Di bumi Indonesia yang kita cintai ini, temukan kesadaran kebersamaan yang mulai pudar mari kita jalani kehidupan baru itu dari titik 0, kefitrian yang sudah tergembleng sebulan lamanya menjadi bekal menghadapi hari hari esok, dengan semangat baru dan menggapai masa depan yang gemilang. Mentor Setia tiadatara. Purbalingga. Aji Setiawan.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[cilacap info featured]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[cilacap info featured]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
	</channel>
</rss>
