<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>Kumpulan Pos Sidareja &#8211; Story Cilacap.info</title>
	<atom:link href="https://story.cilacap.info/tag/sidareja/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://story.cilacap.info</link>
	<description>Media Online Masa Kini, Akurat, Mengedepankan Etika</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Feb 2023 19:00:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	
<image>
<url>https://img.cilacap.info/images/story/favicon-32x32.png</url><title>Kumpulan Pos Sidareja &#8211; Story Cilacap.info</title>
<link>https://story.cilacap.info</link>
<width>32</width><height>32</height><description>Info Kisah Menarik</description>
</image>
	<item>
		<title>Kisah Kadipaten Penyarang Sidareja Cilacap</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-42358/kisah-kadipaten-penyarang-sidareja-cilacap</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Huda]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Dec 2021 18:05:42 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Cerita Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Cilacap]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Sidareja]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-42358/kisah-kadipaten-penyarang-sidareja-cilacap</guid>

					<description><![CDATA[CILACAP.INFO &#8211; Pada zaman dahulu di tanah Pasundan berdiri sebuah kerajaan besar yang bernama Kerajaan Pajajaran. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja bijaksana, Prabu Ciung Wanara namanya. Sang Prabu mempunyai seorang permaisuri yang cantik jelita.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Pada zaman dahulu di tanah Pasundan berdiri sebuah kerajaan besar yang bernama Kerajaan Pajajaran. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja bijaksana, Prabu Ciung Wanara namanya. Sang Prabu mempunyai seorang permaisuri yang cantik jelita.</p>
<p>Dari perkawinannya dengan Sang Permaisuri, Prabu Ciung Wanara dikaruniai tujuh orang anak, yaitu Punggung Kencana (Ling ga Hingwang), Lingga Wesi, Susuktunggal, Anggalarang, Siliwangi, Mundingwangi, dan Mundingmalati (Ranggasena).</p>
<p>Dari putra ketujuh, yaitu Mundingmalati atau Ranggasena, Sang Prabu dikaruniai empat orang cucu, yaitu Segarawangi, Wadas Malang, Gunung Sari, dan Sena Reja atau Hajar Sena. Selain itu, Prabu Ciung Wanara juga mempunyai saudara laki-laki atau adik yang mengabdi di Keraton Surakarta, bernama Arya Bangga.</p>
<p>Pada suatu hari, sang Prabu memerintahkan kepada putra ketujuhnya, yaitu Mundingmalati atau Ranggasena, supaya melakukan pengembaraan. Ranggasena dan keempat putranya dipercaya oleh sang Prabu untuk membuka sebuah kadipaten di tanah Jawa. Pada saat itu, di Kerajaan Pajajaran Ranggasena belum mempunyai jabatan apa pun. Prabu Ciung Wanara bermaksud agar kadipaten yang didirikan oleh Ranggasena nantinya dapat menjadi penghubung antara Pajajaran dan kerajaan lain di tanah Jawa.</p>
<p>&#8220;Ranggasena, Putraku, sudah saatnya engkau tunjukkan jati dirimu sebagai putra raja,&#8221; titah sang Prabu.</p>
<p>&#8220;Ampun, Ayahanda Prabu, apakah yang harus ananda perbuat untuk menunjukkan jatidiri ananda?&#8221; sembah Ranggasena.</p>
<p>&#8220;Mengembaralah, ajaklah keempat anakmu melangkah ke arah matahari terbit. Carilah tempat di tanah Jawa yang kamu anggap baik. Tinggallah di sana dan dirikan sebuah kadipaten. Ayah berharap kadipaten itu nanti dapat menjadi penghubung antara Pajajaran dan Kerajaan lain di Tanah Jawa.&#8221;</p>
<p>Tanpa banyak pertanyaan lagi Ranggasena bersedia menjalankan amanat sang Prabu. Ia harus rela meninggalkan istri tercintanya. Ia juga harus rela meninggalkan Ibu Permaisuri di Kerajaan Pajajaran. Sebenarnya, istrinya tidak merelakan Ranggasena membawa keempat putranya pergi mengembara.</p>
<p>Selain itu, sang istri juga khawatir jika Ranggasena mempunyai istri lagi di tempat pengembaraannya nanti. Namun, keberatan dan kekhawatiran sang istri itu tidak menggoyahkan niat Ranggasena untuk menjalankan perintah ayahandanya, Prabu Ciung Wanara. Dengan segala upaya, dia berusaha meyakinkan istrinya bahwa apa pun yang terjadi dia akan tetap setia.</p>
<p>Tiba waktunya berpisah, Pajajaran tidak seramai biasanya. Suasana sedih menyelimuti warga Kerajaan. Tiada senyum dan gurau terlontar. Tidak ada satu pun kata canda terlempar. Semua muka menunduk lesu. Hanya air mata yang berbicara, Pajajaran sedang berduka. Pajajaran bagai tubuh yang terkoyak oleh sejuta luka yang menganga, perih, pedih, dan menyakitkan. Saat itu, di Balairung Pajajaran, Ranggasena beserta keempat putranya sedang menghadap Prabu Ciung Wanara.</p>
<p>&#8220;Ayahanda Prabu, segala persiapan sudah ananda lakukan. Bekal pun sudah kami cukupkan. Izinkanlah Ananda beserta keempat cucu Ayahanda ini meninggalkan Kerajaan Pajajaran untuk memulai pengembaraan kami,&#8221; sembah Ranggasena pada Prabu Ciung Wanara.</p>
<p>&#8220;Ranggasena, kebulatan tekadmu menjalankan perintahku merupakan cermin jiwa kesatria pada dirimu. Aku tahu, semua ini memang berat. Berat meninggalkan Kerajaan tercinta, berat meninggalkan ayah-ibu, dan berat meninggalkan istrimu, tetapi langkah inilah yang akan menentukan masa depanmu. Oleh karena itu, jangan kamu ragu. Janganlah kota atau negara besar yang kautuju. Pergilah, belahlah hutan lebat dan sepi. Jadikan tempat itu bersemi. Langkahkan kakimu ke arah terbit matahari.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ananda siap melaksanakan, Ayahanda Prabu. Kami mohon diri berangkat mengembara.&#8221;</p>
<p>Tangis dan deraian air mata mengiring keberangkatan Ranggasena beserta keempat putranya. Setiap mata terus menatap sayu seakan-akan menahan dan tidak mau melepas mereka. Apalagi, mata wanita belahan jiwa. Mata itu terus berlinang, tidak pernah rela melepas mereka pergi mengembara. Namun, apa daya, ia tidak kuasa untuk menolak kehendak raja.</p>
<p>Dengan langkah mantap Ranggasena dan keempat putranya meninggalkan Kerajaan Pajajaran. Rasa sedih karena harus berpisah dengan orang-orang yang dicintainya sudah tidak tampak di raut wajah. Mereka melangkah sambil bersenda gurau seakan tidak ada beban pada diri mereka.</p>
<p>Dalam pengembaraan itu, mereka tidak lagi mengenakan pakaian kerajaan. Kegemerlapan pakaian Kerajaan Pajajaran sengaja ditanggalkan agar identitas mereka sebagai putra Raja Pajajaran tidak diketahui orang. Mereka menyamar sebagai orang desa dengan pakaian yang sangat sederhana.</p>
<p>Hari demi hari, waktu demi waktu, Ranggasena beserta keempat putranya terus melangkah. Jalan terjal mereka lalui, hutan rimba penuh onak dan duri mereka sibak, tetapi tidak juga ditemui tempat yang pas seperti kehendak ayahandanya. Mereka tidak pernah menyerah, mengeluh, atau putus asa. Bahkan, tidak pernah sedikit pun terlintas rasa ingin pulang ke Pajajaran.</p>
<p>Tanpa terasa, dua tahun telah berlalu. Selama itu pula mereka telah mengembara dari satu tempat ke tempat lainnya. Pada saat itu Ranggasena beserta keempat putranya sampai di tengah hutan yang penuh dengan pohon besar. Daun-daunnya yang rindang seakan menjadi atap sebuah alam yang terbuka. di sela-sela kerindangan daun dan ranting terdapat banyak sarang burung yang menandakan kebebasan hidup burung di sana.</p>
<p>Sementara itu, dibalik pohon banyak hewan berseliweran ke sana-kemari. Tampak sekali jika hutan itu masih asli dan belum dirambah orang. Belum ada manusia yang berani datang atau tinggal di tempat itu. Barangkali, Rangasena dan keempat putranyalah manusia pertama yang menginjakkan kaki di hutan itu.</p>
<p>Hari mulai gelap, terlebih lagi hutan di tempat Ranggasena dan putranya beristirahat sangat lebat, lengkaplah kegelapan menyelimuti tempat itu. Ranggasena kemudian memutuskan untuk tinggal di tempat itu.</p>
<p>&#8220;Anakku, sebentar lagi hari akan gelap. Sebaiknya kita segera mencari kayu dan dedaunan untuk membuat tempat berlindung malam ini,&#8221; kata Ranggasena kepada keempat putranya.</p>
<p>&#8220;Benar, Ayah, tampaknya tempat ini nyaman untuk beristirahat,&#8221; jawab putra tertuanya.</p>
<p>Tanpa banyak bicara, mereka lalu mencari kayu dan dedaunan untuk membuat rumah-rumahan. Dalam waktu singkat, rumah perlindungan sederhana telah berdiri di antara batang-batang pohon besar. Dengan menyilangkan batang kayu pada ranting pohon yang satu dengan yang lain, terbentuklah rumah pohon yang kuat untuk mereka berlima. Daun-daun yang terkumpul mereka susun sebagai atap dan dinding untuk menahan dinginnya udara. Tidak lupa, mereka juga membuat api unggun.</p>
<p>Selain untuk menghangatkan lingkungan, api itu juga digunakan sebagai penerangan supaya jika ada binatang buas yang mendekat dapat terlihat. Malam pun tiba. Kegelapan menyelimuti seluruh isi hutan. Keempat putranya sudah tidur di rumah panggung, tetapi Ranggasena belum juga pergi ke pembaringan. Dia masih duduk di dekat api unggun. Ranggasena tampak merenung, sesekali pandangan matanya disebarkan ke sekitar seakan-akan ada sesuatu yang direncanakannya.</p>
<p>&#8220;Apakah tempat ini yang dimaksudkan oleh Ayahanda Raja?’ katanya dalam hati.</p>
<p>&#8220;Jika memang ini yang dikehendaki, apa yang harus kulakukan dengan hutan selebat ini?&#8221;</p>
<p>Lama Ranggasena merenung, angan demi angan terus menggelayut, membebani setiap celah pikirnya. Semua kembali pada pertanyaan, langkah apa yang harus ia lakukan dengan tempat itu.</p>
<p>Sementara, tidak ada seorang pun yang tinggal menghuni tempat sesunyi dan sengeri itu. Renung demi renung dilaluinya, akhirnya rasa kantuk pun menghampiri. Mata tidak lagi mampu tersangga. Dengan langkah yang mulai lemas, ia naik ke rumah pohon menyusul keempat putranya yang telah terlelap. Irama malam dan nyanyian kesunyian di hutan itu pun mengayunnya dalam mimpi.</p>
<p>Suasana tenang di hutan itu membuat Ranggasena dan keempat putranya merasa nyaman. Mereka merasa betah tinggal di tempat itu. Apalagi bagi Ranggasena, ia meyakini bahwa tempat itu adalah tempat yang dimaksudkan oleh ayahandanya. Keyakinan itulah yang membuatnya bertahan. Sehari, dua hari, dan sampai berhari-hari mereka belum menemukan tanda-tanda adanya orang lain yang mau tinggal di tempat itu. Namun, ketika berjalan-jalan di sekitar hutan,
Ranggasena dan putranya dikejutkan oleh adanya sekelompok orang yang berada di tengah hutan.</p>
<p>&#8220;Siapa mereka? Hemm&#8230; tampaknya memang sudah ada orang yang terlebih dahulu tinggal di hutan ini,&#8221; guman Ranggasena dalam hati sambil melangkah menghampiri mereka.</p>
<p>&#8220;Salam, Ki Sanak,&#8221; sapa Ranggasena kepada mereka sambil menyalami satu per satu.</p>
<p>&#8220;Maaf, kami mengganggu. Perkenalkan nama saya Ranggasena dan ini keempat anak saya. Kami pengembara yang kebetulan sampai di tempat ini dan merasakan betapa tenteram dan asrinya hutan ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Selamat datang, Ki Ranggasena. Semoga berkah Tuhan menyertai pengembaraan Ki Rangga,&#8221; jawab seorang yang paling tua dalam kelompok itu.</p>
<p>&#8220;Terima kasih, Ki. Maaf, bagaimana kami harus menyebut Kiai?&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, ya, sampai lupa memperkenalkan diri. Saya Ngabei Ta ngerang. Mari, silakan singgah ke gubuk saya. Tidak enak kita berbincang sambil berdiri seperti ini,&#8221; Kiai Ngabei Tangerang mem persilakan.</p>
<p>Setelah mereka masuk dan duduk, Kiai Ngabei Tangerang melanjutkan ceritanya, &#8220;Oh, ya, kami ini adalah penduduk asli di hutan ini.</p>
<p>Kebetulan, saya yang paling tua dan dituakan oleh mereka. Mereka memanggil saya Kiai Ngabei Tangerang. Kami sudah cukup lama tinggal di Hutan Penyayangan ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hutan Penyayangan?&#8221; tanya Ranggasena.</p>
<p>&#8220;Ya, ya, itu sekadar nama yang saya buat untuk menyebut tempat ini. Nama itu saya pilih karena hutan ini banyak pohon besar dan rindang, banyak binatang yang tidak pernah saling bermusuhan, dan berbagai jenis burung yang hidup dan bersarang di sela ranting pepohonan. Hutan dan semua binatang itu hidup berdampingan tanpa ada permusuhan seakan hidup saling menyayangi. Oleh karena itulah, hutan ini saya namai Hutan Penyayangan.&#8221;</p>
<p>Kiai Ngabei Tangerang menerangkan dengan rinci semua keadaan di hutan itu. Dari tutur katanya tampak sekali bahwa sebenarnya dia bukan orang sembarangan. Sebenarnya, Kiai Ngabei Tangerang adalah seorang yang sudah tersohor ke mana-mana sebagai seorang ahli agama. Selain itu, dia juga dikenal sebagai seorang yang memiliki ilmu kesaktian. di hutan itu dia hidup bersama dengan dua orang anaknya, yaitu Tejalamat dan Megalamat.</p>
<p>Setelah mendengar penjelasan Kiai Ngabei Tangerang yang cukup rinci, Ranggasena mencoba menjelaskan kembali asal muasal mengapa mereka sampai di hutan itu. Akan tetapi, ia tidak menceritakan bahwa dirinya adalah putra Prabu Ciung Wanara, Raja Pajajaran. Hal itu ia lakukan agar Kiai Ngabei Tangerang tidak curiga pada mereka. Memang, sebagai orang tua dan berilmu, Kiai Ngabei Tangerang tidak menaruh curiga sedikit pun terhadap Ranggasena dan anak-anaknya.</p>
<p>Namun, tetap saja ada orang yang tidak suka atas kedatangan Ranggasena. Hal itu sesuai juga dengan cerita Kiai Ngabei Tangerang bahwa di Penyayangan masih ada perselisihan kecil karena perebutan lahan atau perbedaan pendapat. Ia sudah berusaha mencari cara agar mereka tidak saling bermusuhan, tetapi belum berhasil.</p>
<p>Kondisi penduduk seperti itu menggerakkan hati Ranggasena untuk membantu Kiai Ngabei Tangerang. Dalam hati ia bertekad untuk dapat menyatukan mereka. Oleh karena itu, ia memantapkan diri untuk tinggal di Hutan Penyayangan.</p>
<p>&#8220;Kiai, jika Kiai tidak keberatan, saya beserta anak-anak mohon diterima di tempat ini untuk membantu dan berguru kepada Kiai,&#8221; tutur Ranggasena kepada Kiai Ngabei Tangerang.</p>
<p>&#8220;Heheheh&#8230; Kalau membantu dan tinggal bersama, dengan senang hati saya menerima, tetapi untuk berguru, ilmu apa yang dapat saya berikan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya percaya, Kiai memiliki ilmu hidup dan kehidupan yang tidak kami miliki,&#8221; kata Ranggasena meyakinkan Kiai Ngabei Tangerang.</p>
<p>Melihat kesungguhan Ranggasena, Kiai Ngabei Tangerang akhirnya menyetujui dan menerima mereka. Bahkan, Kiai Ngabei Tangerang meminta mereka untuk tinggal bersama di gubuknya.</p>
<p>Waktu terus berlalu, tanpa terasa sudah bertahun-tahun Ranggasena dan anak-anaknya berguru pada Kiai Ngabei Tangerang. Selama itu pula mereka menerima ilmu agama, ilmu kebatinan, dan ilmu-ilmu lainnya. Ranggasena pun juga sudah mengerti dan memahami keadaan hutan dan karakter penduduk Penyayang. Rang gasena merasa sudah saatnya untuk mengemukakan niatnya mendirikan sebuah kadipaten di temapat itu kepada Kiai Ngabei Tangerang.</p>
<p>&#8220;Maaf, jika saya lancang, Kiai. Penduduk Penyayang makin lama makin banyak. Sekarang ini pun tampaknya sudah banyak. Jika Desa Penyayang ini dibiarkan terus begini seakan-akan tidak pernah berkembang dan maju,&#8221; kata Ranggasena kepada Kiai Ngabei Tangerang.</p>
<p>&#8220;Maksudmu bagaimana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya berpikir, sudah saatnya kita mengubah Desa Penyayang menjadi sebuah kadipaten, Kiai.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lalu, apa yang akan kamu lakukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika Kiai setuju, saya mohon izin menggerakkan warga untuk mewujudkan kadipaten itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Secara pribadi, aku setuju. Namun, hal itu tidak berarti dapat langsung dikerjakan. Semua itu harus dirembuk bersama seluruh warga.&#8221;</p>
<p>Saat itu, tanpa mereka sadari, ada sepasang mata dan telinga yang secara sembunyi-sembunyi mengintip dan mendengarkan pembicaraan itu. Mata dan telinga itu adalah milik seorang penduduk yang tidak suka terhadap Ranggasena. Secepat kilat dan tanpa bersuara ia meninggalkan tempat itu dan mengabarkan kepada sekelompok orang yang tidak suka terhadap Ranggasena. Ia menceritakan rencana Ranggasena dengan berbagai bumbu cerita agar orang-orang tidak menyetujui.</p>
<p>Orang-orang yang mendengarkan hasutan pengintai tadi lalu mencari cara dan siasat untuk menggagalkan rencana Ranggasena. Mereka berniat menghasut seluruh penduduk agar menolak usulan Ranggasena. Berbagai cara mereka lakukan dengan satu tujuan menggagalkan rencana Ranggasena. Jika perlu, ketika Ranggasena menyampaikan usulan rencananya rakyat sudah tahu dan semua menolaknya.</p>
<p>Saat yang dinanti-nantikan itu akhirnya tiba juga. Pada suatu hari, Kiai Ngabei Tangerang mengumpulkan penduduk Penyayang. Mereka duduk berkumpul di pelataran depan rumah sang Kiai. Sementara itu, Kiai Ngabei Tangerang diapit oleh Tejalamat dan Megalamat berdiri menghadapi mereka.</p>
<p>&#8220;Sedulur-sedulur, saya sengaja mengumpulkan kalian karena ada sesuatu yang penting yang harus kita bicarakan.&#8221; kata Kiai Ngabei Tangerang membuka pembicaraan.</p>
<p>Penduduk yang hadir semua diam. Mereka menunggu dengan rasa penasaran, sebenarnya apa yang akan disampaikan oleh sesepuh mereka itu. Mata mereka menatap tanpa berkedip seakan takut kehilangan gerak sang Kiai.</p>
<p>Kiai Ngabei Tangerang kemudian melanjutkan ucapannya, &#8220;Beberapa waktu yang lalu Ranggasena menghadap padaku dan menyampaikan rencananya. Meskipun menyetujuinya, aku belum dapat mengiyakan sebelum berbicara dengan kalian.&#8221;</p>
<p>&#8220;Rencananya apa, Kiai?&#8221; tanya salah seorang penduduk.</p>
<p>&#8220;Biarlah Ranggasena sendiri yang mengatakan supaya lebih jelas.&#8221;</p>
<p>Ranggasena lalu mengemukakan apa yang menjadi maksud dan rencananya, yaitu mengembangkan Penyayang menjadi sebuah kadipaten. Mendengar ucapan Ranggasena semua penduduk menggangguk-angguk. Namun, tiba-tiba mereka berteriak-teriak tidak setuju. Mereka berdalih bahwa Ranggasena bukan penduduk asli. Mereka curiga Ranggasena hanya akan merusak tatanan yang selama ini sudah berjalan dengan baik.</p>
<p>Hari itu suasana semakin memanas. Meskipun Ranggasena menjelaskan bahwa tujuannya adalah memajukan Penyayang, penduduk masih tetap pada pemikirannya. Semakin lama teriakan demi teriakan terlontar semakin ramai dan tidak ditemukan kata sepakat. Bahkan, ada penduduk yang justru menantang Ranggasena untuk beradu kekuatan.</p>
<p>Kiai Ngabei Tangerang mencoba mendinginkan suasana yang panas dan mulai tidak terkendali itu. Namun, upayanya sia-sia. Penduduk belum mau menerima. Mereka lebih senang jika yang membangun kadipaten adalah Kiai Ngabei Tangerang sendiri.</p>
<p>&#8220;Ya, ya, aku paham maksud kalian. Namun, perlu juga kalian pahami, aku sudah tidak muda lagi. Aku sudah terlalu tua untuk memimpin pembangunan sebuah kadipaten. Oleh karena itu, perlu dicari pemimpin yang muda, pandai, dan tegas seperti Ranggasena.&#8221;</p>
<p>Mendengar ucapan Kiai Ngabei Tangerang semua penduduk terdiam seribu bahasa. Mulut mereka membisu bagai terkunci. Mereka merasakan ucapan tulus itu keluar dari orang yang selama ini mereka hormati. Apalagi ketika sang Kiai menegaskan bahwa dia juga akan turut mewujudkan kadipaten itu, penduduk semakin yakin bahwa ucapan itu benar. Mereka semakin terbuka pikirannya. </p>
<p>Mereka juga menyadari bahwa sebenarnya Ranggasena tidak memiliki niat jahat, tetapi tulus untuk memajukan Penyayang. Yang terpenting lagi, seperti kata sang Kiai, bahwa mereka akan menjadi saksi berdirinya kadipaten di tempat itu. Akhirnya, satu demi satu mereka menyetujui rencana Ranggasena dan bersedia membantu membangun kadipaten. Ranggasena merasa lega karena pada akhirnya rencananya dapat diterima oleh penduduk. Bahkan, ada yang membuat hati Ranggasena sangat bergembira, yaitu penduduk bersedia membantunya membangun kadipaten.</p>
<p>Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, keesokan harinya Ranggasena, anak-anaknya, Kiai Ngabei Tangerang, dan para penduduk mulai bergotong-royong menyiapkan lahan untuk mendirikan kadipaten. Ada yang menebang pohon, mencari kayu yang cocok untuk bangunan. Ada yang membersihan rumput ilalang yang ada di tempat yang direncanakan. Ada pula yang membangun jalan agar pantas menjadi sebuah pusat pemerintahan. Semua bergerak bersama-sama, termasuk para wanita.</p>
<p>Jika pria bekerja di luar, para wanita bekerja di dapur, menyiapkan makanan untuk mereka. Melihat sikap bahu-membahu penduduk, Ranggasena dan Kiai Ngabei Tangerang merasa senang. Mereka merasa sudah tidak ada lagi yang curiga terhadap maksud Ranggasena.</p>
<p>Satu demi satu pekerjaan terselesaikan dengan gotong-royong. Kebersamaan itu telah menghasilkan wujud nyata. Ranggasena dan Kiai Ngabei Tangerang dan sebagian penduduk bertugas membangun pendapa dengan kayu dari hutan itu juga. Anak-anak Ranggasena pun mendapat tugas masing-masing. Salah satunya adalah membangun jalan kadipaten. Setiap hari, seakan tanpa lelah, mereka menjalankan tugas mereka sehingga pembangunan dapat terselesaikan dengan cepat.</p>
<p>Pendapa kadipaten telah berdiri megah. Rumah-rumah di sekitar pendapa itu pun sudah berdiri dan siap dihuni. Jalan-jalan juga sudah dapat dilalui. Semua terselesaikan dengan rapi dan lancar tanpa satu pun halangan. Boleh dikatakan sebuah kadipaten telah berdiri, tetapi pemerintahannya belum berjalan karena belum ada pimpinan yang tetap.</p>
<p>Suatu hari, Kiai Ngabei Tangerang, Ranggasena berserta anak-anaknya, dan penduduk berkumpul di pendapa. Mereka berembuk tentang nama yang baik dan pas untuk kadipaten yang mereka dirikan. Selain itu, mereka juga berembuk tentang siapa yang patut menjadi pimpinan, menjadi adipati. Rembukan itu berjalan dengan baik dan lancar. Rembukan dalam suasana kekeluargaan itu akhirnya menyepakati bahwa Ranggasenalah yang patut menjadi adipati. Untuk memberi nama kadipaten memang terjadi banyak pendapat. Ada yang mengusulkan namanya tetap Penyayang.</p>
<p>Namun, ada yang menyanggah bahwa nama itu sudah menjadi nama salah satu desa. Ranggasena kemudian angkat bicara. Ia mengusulkan kadipaten itu diberi nama penyarang. Nama itu ia ambil karena, ketika belum dibangun kadipaten dan masih berupa hutan, tempat itu banyak sarang burung dan hewan lainnya. Pertemuan itu akhirnya membuahkan kesepakatan tanpa ada pertentangan. Secara aklamasi mereka memutuskan nama kadipaten yang baru mereka bangun adalah Kadipaten Penyarang. Mereka juga sepakat mengangkat Ranggasena menjadi Adipati Penyarang.</p>
<p>Keesokan hari Ranggasena resmi menjabat sebagai adipati di Kadipaten Penyarang dengan gelar Adipati Ranggasena. Penobatannya sebagai adipati dilakukan oleh Sinuhun Keraton Surakarta. Pada saat itu seluruh penduduk terlihat bersuka cita. Sorak sorai menggema
di mana-mana. Pesta ala kadarnya mereka gelar sebagai luapan rasa bahagia. Diam-diam, ternyata sudah cukup lama Ranggasena jatuh cinta kepada putri Kiai Ngabei Tangerang yang bernama Tejalamat.</p>
<p>Oleh karena itu, setelah diangkat menjadi adipati, Ranggasena melamar Tejalamat agar bersedia menjadi pendamping hidupnya. Cinta tak bertepuk sebelah tangan, Tejalamat menerima lamaran itu dan bersedia menjadi istri Adipati Ranggasena. Kiai Ngabei Tangerang pun merestui niat suci Adipati Ranggasena mempersunting putrinya.</p>
<p>Setelah menjabat sebagai adipati, Adipati Ranggasena segera membentuk struktur organisasi pemerintahan. Hal itu ia lakukan agar jalannya pemerintahan di Kadipaten Penyarang dapat berjalan lancar. Ia menempatkan anak-anaknya pada posisi atau bagian yang penting dalam pemerintahan. Wadas Malang bertanggung jawab di bidang keagamaan, Gunung Sari bertanggung jawab di bidang keamanan, sedangkan Sena Reja atau Hajar Sena bertanggung jawab di bidang ekonomi. Banyak juga penduduk yang juga mendapat tanggung jawab dan kepercayaan untuk mengelola dan ikut memajukan Kadipaten Penyarang. Kiai Ngabei Tangerang, meskipun sudah tua, juga mendapat bagian. Ia diangkat menjadi penasihat karena sangat berjasa atas pendirian Kadipaten Penyarang dan pengangkatan Adipati Ranggasena. Namun sayang, belum lama memangku jabatan sebagai penasihat, Kiai Ngabei Tangerang meninggal dunia.</p>
<p>Untuk kelancaran pelaksanaan tanggung jawab, tidak semua putra Adipati Ranggasena tinggal di kadipaten. Wadas Malang dan Gunung Sari tinggal di wilayah kadipaten sebelah barat. Segara Wangi tinggal di wilayah kadipaten sebelah timur. Hanya Sena Reja atau Hajar Sena yang tetap tinggal di kadipaten untuk membantu ayahnya mengelola kadipaten. Sifat tidak pilih kasih Adipati Ranggasena terhadap putra dan penduduknya menjadikan Kadipaten Penyarang semakin maju dan berkembang.</p>
<p>Saat itu agama Islam sudah masuk ke Kadipaten Penyarang, tetapi penduduk belum dapat memelajari ajaran tersebut. Oleh karena itu, Adipati Ranggasena memerintah Wadas Lintang untuk mengupayakan penyebaran ajaran itu.</p>
<p>Gunung Sari ditugasi untuk menjaga keamanannya agar tidak terjadi gejolak dalam penyebaran agama dan utamanya menjaga ketenteraman dan ke tenangan masyarakat. Bidang ekonomi, termasuk pekerjaan warga Kadipaten Penyarang, ditugaskan kepada Sena Reja. Dialah yang mengatur semua kegiatan perekonomian. Selain itu, untuk memantau dan mengendalikan kegiatan penduduk sehari-hari, Segara Wangilah yang ditugasi.</p>
<p>Kemajuan Kadipaten Penyarang semakin terkenal. Lebih-lebih ketika Adipati Ranggasena memperkenalkan Kadipaten Pe nyarang ke Pusat Pemerintahan di Surakarta dan Pajajaran. Untuk membuktikan kemajuannya, Adipati Ranggasena mengirimkan kayu ke Pajajaran untuk membangun pendapa. Pada waktu itu belum ada kendaraan untuk mengangkut kayu dari Kadipaten Penyarang ke Pajajaran. Kayu-kayu itu dikirim dengan cara diseret menggunakan ikat pinggang oleh murid-murid Sunan Kalijaga. Hanya merekalah yang mampu melakukan karena memiliki kesaktian yang diajarkan oleh Sunan Kalijaga.</p>
<p>Kerja sama yang dilakukan Adipati Ranggasena dengan Pemerintah Keraton Surakarta dan Pajajaran menjadikan Kadipaten Penyarang semakin terkenal. Segala penjuru sudah mengetahui tentang keberadaan Kadipaten Penyarang dan Adipati Ranggasena, tentang penduduknya yang telah mendapat tempat tinggal yang layak dan hidup tenteram, serta tentang kemampuan penduduk mengolah dan mengelola hutan dengan baik. Namun, masih ada amanat yang belum terselesaikan oleh Ranggasena, yaitu membangun jalan yang menghubungkan wilayah Surakarta dan Pajajaran. Hal itu berarti bahwa Adipati Ranggasena baru menyelesaikan separuh amanat ayah andanya.</p>
<p>Membangun jalan bukanlah pekerjaan yang mudah. Adipati Ranggasena merasa tidak mampu mengerjakan sendiri. Dahulu selalu dibantu oleh Kiai Ngabei Tangerang, tetapi sekarang harus mencari bantuan orang lain karena Kiai Ngabei Tangerang telah tiada. Ilmu yang diajarkannya pun belum cukup untuk membangun jalan yang menghubungkan Surakarta dan Pajajaran. Dalam hal inilah kesabaran dan ilmunya diuji. Ia harus mencari cara agar jalan dapat dibangun dengan baik dan lancar.</p>
<p>Ia terus memikirkan hal itu sampai-sampai tidak tidur beberapa hari. Pada suatu malam, tanpa sengaja Adipati Ranggasena tertidur. Ia bermimpi bertemu dengan Kiai Ngabei Tangerang. </p>
<p>&#8220;Ranggasena, tugas yang harus kamu jalankan memang berat. Tidak mudah membuat jalan. Namun, kamu tidak perlu putus asa. Semua pasti ada jalan. Ada ilmu yang dapat digunakan, tetapi harus memiliki kesabaran dan pemikiran yang suci. Putramu dapat membantu menyelesaikan tugas itu.&#8221;</p>
<p>Adipati Ranggasena terkejut lalu terbangun dari tidurnya. Ia berusaha mengingat-ingat pesan Kiai Ngabei Tangerang dalam mimpinya.</p>
<p>&#8220;Pesan Kiai akan saya lakukan. Mohon restu, Kiai,&#8221; gumannya.</p>
<p>Keseokan hari Adipati Ranggasena mulai menjalankan apa yang dipesankan Kiai Ngabei Tagerang dalam mimpinya. Ia mulai membangun jalan ke arah barat, yang akan menghubungkan Kadipaten Penyarang dengan Pajajaran. Setiap hari ia menjalankan tugas itu dengan sabar. Ia tidak pernah marah kepada siapa saja yang membantunya. Yang lebih penting, meskipun putranya ikut membantu, ia tetap harus ikut serta melakukan dan memimpin pelaksanaan tugas tersebut.</p>
<p>Bertahun-tahun Adipati Ranggasena dibantu putra-putranya serta penduduk Kadipaten Penyarang bekerja tidak kenal lelah. Sedikit demi sedikit pembangunan jalan diselesaikan dengan lancar. Keberhasilan itu membuat hati mereka lega. Pekerjaan yang mereka pikir mustahil dilakukan itu telah dirampungkannya. Meskipun belum terlihat benar-benar rapi, jalan yang menghubungkan Kadipaten Penyarang dan Pajajaran itu sudah dapat dilewati dengan nyaman.</p>
<p>Setiap daerah yang dilalui jalan itu diberi nama dengan sebutan ci oleh Adipati Ranggasena, seperti Cipari, Cikangleles, Cikalong, Cinangsi, Cibenda, dan Ciloning. Kata ci memiliki makna ‘sumber air’.</p>
<p>Penamaan dengan sebutan ci tersebut dimaksudkan agar daerah yang diberi nama dengan kata itu tidak pernah kehabisan air.Pembangunan kadipaten dan jalan telah selesai dijalankan. Dengan demikian, amanat Prabu Ciung Wanara telah dipenuhi oleh Adipati Ranggasena. Namun, Adipati Ranggasena tidak berkeinginan kembali ke Pajajaran. Ia memilih menetap dan menyatu dengan penduduk Kadipaten Penyarang. Hal itu sudah menjadi tekadnya ketika diangkat sebagai adipati.</p>
<p>Ia tidak akan meninggalkan dan akan tetap menjadi bagian Kadipaten Penyarang. Tekad itu dibuktikannya dengan tetap menjadi Adipati sampai usianya senja. Kekuatan manusia ada batasnya. Karena usianya yang semakin tua, Adipati Ranggasena merasa tidak mampu lagi menjadi adipati. Oleh karena itu, ia menyerahkan tampuk pimpinan Kadipaten Penyarang kepada putra bungsunya, yaitu Sena Reja atau Hajar Sena. Ia menjadi adipati kedua di Kadipaten Penyarang dengan gelar Adipati Anom Ranggasena.</p>
<p>Seperti halnya ayahnya, penobatan Adipati Anom Ranggasena pun dikukuhkan oleh Sinuhun Keraton Surakarta. Entah beberapa waktu lamanya, setelah menyerahkan tampuk kekuasaan kepada putranya, Adipati Ranggasena meninggal dunia. Namun, sebelum meninggal ia berpesan kepada istri, anak, dan semua penduduk Kadipaten Penyarang.</p>
<p>&#8220;Anak dan cucuku semua, jika waktuku tiba, aku harus meninggalkan kalian semua. Tapi, jika kalian minta apa saja kepadaku, aku sanggup.&#8221;</p>
<p>Setelah berpesan seperti itu, Adipati Ranggasena menghembuskan napasnya yang terakhir. Ia lalu dimakamkan di wilayah Kadipaten </p>
<p>Penyarang yang disebut Cisagu. Kata cisagu berasal dari pesan Adipati Ranggasena yang &#8220;sanggup&#8221; memenuhi permintaan anak, cucu, dan penduduk semua. Kata sanggup dalam bahasa Jawa adalah saguh. Jadi, nama Cisagu berasal dari kata ci dan saguh. Selanjutnya, makam Adipati Ranggasena disebut Panembahan Cisagu. Sampai saat ini makam tersebut menjadi tempat ziarah yang terkenal dan banyak didatangi peziarah dari berbagai penjuru.</p>
<p><strong>Diceritakan oleh: Suryo Handono</p>
<p>Disadur dari Cerita Rakyat Cilacap Jawa Tengah.</p>
<p>Diterbitkan oleh Balai Bahasa Jawa Tengah Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan</strong> </p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/ilustrasi-Ranggasena-dan-Kiai-Ngabei-Tangerang-dan-para-penduduk-bergotong-royong-untuk-mendirikan-kadipaten-1200x675.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="675">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[ilustrasi Ranggasena dan Kiai Ngabei Tangerang dan para penduduk bergotong royong untuk mendirikan kadipaten]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/ilustrasi-Ranggasena-dan-Kiai-Ngabei-Tangerang-dan-para-penduduk-bergotong-royong-untuk-mendirikan-kadipaten-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[ilustrasi Ranggasena dan Kiai Ngabei Tangerang dan para penduduk bergotong royong untuk mendirikan kadipaten]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Fenomena Banjir Jadi Berkah Buat Jasa Gerobak Motor, Tarifnya Wow</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-33868/fenomena-banjir-jadi-berkah-buat-jasa-gerobak-motor-tarifnya-wow</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 15 Dec 2020 08:23:20 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Banjir]]></category>
		<category><![CDATA[Cilacap]]></category>
		<category><![CDATA[Sidareja]]></category>
		<category><![CDATA[Unik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-33868/fenomena-banjir-jadi-berkah-buat-jasa-gerobak-motor-tarifnya-wow</guid>

					<description><![CDATA[CILACAP.INFO &#8211; Diguyur hujan lebat seharian, tak ayal jika berimbas Banjir disejumlah daerah di Cilacap, dan dari data yang dikeluarkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap, Minggu (13 Desember 2020) tercatat 11 Kecamatan di Cilacap terdampak banjir.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Diguyur hujan lebat seharian, tak ayal jika berimbas Banjir disejumlah daerah di Cilacap, dan dari data yang dikeluarkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap, Minggu (13 Desember 2020) tercatat 11 Kecamatan di Cilacap terdampak banjir.</p>
<p>Daerah terdampak banjir tersebut yaitu meliputi: Adipala, Bantarsari, Cipari, Gandrungmangu, Jeruklegi, Kampung Laut, Kedungreja, Kesugihan, Majenang dan Sidareja.</p>
<p>Seperti di Kecamatan Sidareja, wilayah ini adalah langganan Banjir setiap tahunnya kala musim hujan dan diguyur hujan dengan intensitas yang tinggi hingga seharian.</p>
<p>Banjir yang menjadi langganan tersebut dikarenakan Sidareja wilayahnya merupakan cekungan, namun sebagiannya adalah pegunungan dengan ditanami tumbuhan pinus.</p>
<p>Jika banjir, bahkan bisa menutupi jalur utama yang menghubungkan antar kecamatan dan provinsi, seperti ke Sidareja, Patimuan, begitu juga di Gandrungmangu yang juga langganan banjir, padahal jalur tersebut terbilang ramai dengan lalu lalang kendaraan, dan menuju Karangpucung, Pangandaran, atau ke arah Purwodadi, Ciamis dan Langensari, Kota banjar Jawa Barat.</p>
<p>Dijumpai di lampu merah Sidareja, terdapat fenomena unik dan menyita perhatian pengguna jalan yang menggunakan kendaraan, apalagi yang mengendarai sepeda motor.</p>
<p>Bagaimana tidak, pasalnya terlihat beberapa gerobak berjejeran dengan beberapa orang joki dan pendorongnya. Ternyata mereka adalah para penyedia jasa angkut motor dengan gerobak.</p>
<p>Dimana motor itu diletakan di atas gerobak dan kemudian dibawa oleh joki dan pendorongnya. Kala awak redaksi Cilacap.info melintas, meski tak sempat memfoto fenomena tersebut, namun dari penuturan penyedia jasa, mereka menawari jasa tersebut Rp20 ribu.</p>
<p>Untuk sekali angkutan, gerobak tersebut hanya bisa mengangkut 1 sepeda motor, dan bagi yang takut menerjang banjir mereka akan menggunakan jasa tersebut.</p>
<p>Akan tetapi jika datangnya dari arah Cipari atau Manganti dan yang tidak tahu kondisi banjir di Sidareja, meskipun menggunakan jasa tersebut, akan tetapi masih ada beberapa titik di depan nya sampai ke POM Bensin Wringinharjo Gandrungmangu yang tergenang banjir.</p>
<p>Manakala redaksi menelusuri wilayah tersebut, pengendara sepeda motor yang menggunakan jasa tersebut berujar, &#8220;Ternyata banjirnya tidak hanya di Lampu Merah.&#8221; Ujar salah seorang pengendara.</p>
<p>Namun demikian, Banjir menjadi berkah tersendiri bagi penyedia jasa angkut motor menggunakan gerobak.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/ilustrasi-jasa-gerobak-angkut-motor-saat-banjir-1200x675.jpeg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="675">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[ilustrasi jasa gerobak angkut motor saat banjir]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/ilustrasi-jasa-gerobak-angkut-motor-saat-banjir-100x75.jpeg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[ilustrasi jasa gerobak angkut motor saat banjir (Istimewa www.motorplus-online.com)]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Kisah Haryo Leno Pendiri Sidareja Cilacap</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-18777/kisah-haryo-leno-pendiri-sidareja-cilacap</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 24 Oct 2019 17:15:15 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Cerita Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Sidareja]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-18777/kisah-haryo-leno-pendiri-sidareja-cilacap</guid>

					<description><![CDATA[CILACAP.INFO &#8211; Alkisah, Pasirluhur adalah sebuah kadipaten yang gemah ripah loh jinawi. Kadipaten tersebut dipimpin oleh seorang adipati yang arif bijaksana dan mengayomi rakyat. Beliau adalah Kanjeng Adipati Kadang Doho. Kanjeng Adipati mempunyai seorang putri yang cantik jelita, yaitu Dewi Ciptarasa.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Alkisah, Pasirluhur adalah sebuah kadipaten yang gemah ripah loh jinawi. Kadipaten tersebut dipimpin oleh seorang adipati yang arif bijaksana dan mengayomi rakyat. Beliau adalah Kanjeng Adipati Kadang Doho. Kanjeng Adipati mempunyai seorang putri yang cantik jelita, yaitu Dewi Ciptarasa.</p>
<p>Kecantikan Dewi Ciptarasa tidak hanya dikagumi di kadipatennya, tetapi juga terkenal hingga kadipaten-kadipaten di sekitarnya. Bahkan, telah sampai pula kabar kecantikannya tersebut hingga ke tanah Pajajaran. Nama Dewi Ciptarasa berasal dari kata cipta dan rasa yang memiliki arti ‘menggugah rasa’. Setiap orang yang melihat Dewi Ciptarasa akan tertarik kepadanya.</p>
<p>Dewi Ciptarasa memiliki kulit yang putih dan halus bagaikan pualam. Wajahnya cantik bagaikan bidadari. Rambutnya panjang, lebat, dan hitam berkilau. Alisnya sehitam arang kayu. Matanya jernih indah berseri. Bibirnya merah merona bagaikan buah ceri. Badannya anggun tinggi semampai. Tidak akan ada habisnya mengagumi kecantikan Dewi Ciptarasa. Semua keindahan ada padanya dan semuanya menyatu hingga terbentuklah kecantikan yang sempurna.</p>
<p>Salah satu putra Pajajaran yang bernama Banyakcatra atau Kamandaka datang ke Pasirluhur untuk membuktikan kecantikan Dewi Ciptarasa. Ia penasaran dengan kabar yang beredar. Ia ingin membuktikan kebenaran kabar itu. Benarkah sang Putri memiliki kecantikan bidadari khayalannya seperti yang diceritakan banyak orang? Ia pun berangkat mencari jawabannya. </p>
<p>Akhirnya, sampailah ia di Pasirluhur. Ia bertemu dengan orang yang dicarinya. Setelah menyaksikan kecantikan Dewi Ciptarasa, Banyakcatra percaya akan berita-berita yang didengar selama ini. Singkat cerita, mereka kemudian saling mengenal dan memiliki ketertarikan satu sama lain. Mereka pun saling jatuh hati dan akhirnya menikah. Pernikahan Dewi Ciptarasa dan Banyakcatra atau Kamandaka dikaruniai seorang putra yang tampan dan diberi nama Bajang Laut.</p>
<p>Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, Bajang Laut tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan gagah perkasa. Namun, sangat disayangkan, semenjak ia dilahirkan hingga menjadi dewasa ini Bajang Laut tidak pernah ke luar dari desanya. Karena hal itu, Bajang Laut memiliki keinginan untuk mengembara mencari ilmu dan pengalaman. Dengan keinginan yang sangat besar itu, Bajang Laut memberanikan diri menemui ayahnya. Setelah memantapkan diri, Bajang Laut menghadap ayahandanya.</p>
<p>&#8220;Wahai, anakku, ada apa engkau menghadapku?&#8221;</p>
<p>Bajang Laut pun menjawab, &#8220;Ampun beribu ampun, Rama. Saya mohon izin untuk pergi mengembara! Hamba ingin mencari ilmu dan pengalaman.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mengembara? Apa yang akan kau dapatkan dari mengembara?&#8221; tanya ayahnya.</p>
<p>&#8220;Saya bisa mendapat ilmu, Rama. </p>
<p>Setidaknya saya belajar hidup mandiri. Dengan pengalaman hidup di luar istana, saya berkeinginan menjadi orang yang berguna bagi banyak orang. Tidak hanya bergantung kepada apa yang telah diberikan Rama. Tolong, izinian saya pergi Rama,&#8221; Bajang Laut memohon agar keinginannya dikabulkan oleh ayahandanya.</p>
<p>Bajang Laut yang tumbuh menjadi pemuda tampan dan gagah meminta izin kepada ayahandanya untuk mengembara.</p>
<p>&#8220;Apakah kautahu hidup di luar sana sangat sulit. Akan ada banyak rintangan yang kauhadapi. Selama ini hidupmu selalu dilayani, sedangkan di luar kauharus melakukan semuanya sendiri. Apa kamu sanggup?&#8221;</p>
<p>&#8220;Itulah sebabnya, Rama. Hamba ingin belajar tentang hidup dan kehidupan. Saya ingin mencari pengalaman hidup mandiri. di luar sana adalah tempat yang tepat. Dengan hidup sendiri saya akan banyak belajar. Saya akan berusaha untuk mengatasinya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagus sekali keinginanmu itu, anakku. Jadi, sudah kaupikirkan masak-masak keputusanmu ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, Rama.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau memang itu sudah keputusan yang engkau ambil, Rama akan mengabulkannya. Rama hanya dapat memberikan nasihat karena sebelum ini engkau belum pernah ke luar dari desa ini. Rama minta engkau menjaga diri dan jangan sampai membuat malu keluarga ini!&#8221; nasihat ayahnya.
&#8220;Pergilah, anakku! Berhati-hatilah karena ada banyak rintangan yang akan kau hadapi di luar sana!&#8221; pesan ayahandanya sambil memberikan restunya.</p>
<p>Ayahandanya, Bajang Laut menghadap ibun- danya yang sedang berada di Tamansari. Ia ingin mengabarkan rencananya itu sekaligus meminta izin kepada ibundanya. Mendengar permintaan anaknya, ibundanya menangis dan terus membujuknya untuk membatalkan rencana itu. Ia khawatir terjadi apa-apa pada anak semata wayangnya.</p>
<p>Namun, rencana Bajang Laut sudah bulat. Ia kukuh dalam pendiriannya. Ia yakin kepergiannya itu akan membawa manfaat, yaitu menambah ilmu dan pengalaman hidup. Dengan berat hati sang ibunda akhirnya merelakan Bajang Laut pergi mengembara.</p>
<p>Persiapan pun dilakukan. Semua perlengkapan yang diperlukan selama perjalanan disediakan. Namun, Bajang Laut hanya memilih yang sekiranya sangat diperlukan dan mudah dibawanya mengembara agar tidak terlalu membebaninya.</p>
<p>Tibalah saatnya Bajang Laut untuk meninggalkan rumah. Ia memohon restu kepada kedua orang tuanya. Ia pergi mengikuti arah angin dan langkah kakinya. di awal perjalanan Bajang Laut merasa lancar dan belum bertemu dengan banyak rintangan.</p>
<p>Di tengah pengembaraannya, Bajang Laut bertemu dengan dua orang kakak beradik pengembara sakti.</p>
<p>&#8220;Wahai, Ki Sanak. Kalau boleh saya tahu siapa nama Ki Sanak dan hendak ke mana Ki Sanak berdua?&#8221; tanya Bajang Laut.
&#8220;Maaf, Ki Sanak. Saya Haryo Leno dan ini adik saya Joko Leno. Kami berdua dari sebuah padepokan dan ingin mengembara mencari pengalaman hidup,&#8221; sahut Haryo Leno.</p>
<p>Dalam pertemuan itu mereka saling berbagi cerita dan mene- mukan banyak kesamaan tentang prinsip dan pandangan hidup. Mereka bertiga mengembara bersama-sama. Suka dan duka selama perjalanan mereka rasakan bersama sehingga terbentuklah ikatan seperti saudara kandung. Rasa persaudaraan di antara mereka bertiga begitu erat sehingga perjalanan itu menjadi sangat menyenangkan. Mereka bertiga sangat menikmati perjalanan itu. Mereka berbahagia dan tertawa bersama di antara embusan angin, hijaunya dedaunan, hamparan sawah yang menghijau dan gunung yang menjulang, hewan-hewan yang berlarian dan terlihat jinak. Mereka menyatu bersama alam.</p>
<p>Ketika mereka sedang asyik menikmati pemandangan dan beristirahat, berkatalah Bajang Laut, &#8220;Wahai, kedua saudaraku. Aku berjanji kelak jika aku menduduki singgasana. Kalian berdua akan aku jadikan sebagai penggawa!&#8221;</p>
<p>Waktu pun berputar dengan cepat, Haryo Leno dan Joko Leno masih setia bersama dengan Bajang Laut. Janji Bajang Laut yang akan mengangkat Haryo Leno dan Joko Leno sebagai penggawa apabila Bajang Laut menduduki singgasana membuat Haryo Leno tetap bertahan. Namun, janji Bajang Laut tidak kunjung terlaksana sehingga muncullah niat Haryo Leno pergi meraih impiannya sendiri.</p>
<p>Ia pergi tanpa pamit kepada kedua saudaranya. yang dilakukannya bukan karena ia membenci Bajang Laut, tetapi ia ingin memiliki kehidupan yang lebih baik. Ia ingin mencari kehidupannya sendiri. Karena Haryo Leno berpikir apabila dirinya hanya menunggu Bajang Laut benar-benar menduduki singgasana, hal itu memerlukan waktu yang lama dan belum pasti.</p>
<p>Dengan demikian, Haryo Leno memu- tuskan membuka hutan untuk bercocok tanam. Sampailah Haryo Leno di hutan yang tanahnya rata dan subur. Haryo Leno mem- buka hutan tersebut dan menjadikannya tanah pertanian. Karena keuletan dan kegigihannya, semua tanaman yang ia tanam tumbuh dengan subur. Tanaman-tanaman tersebut menghasilkan buah dan sayuran yang segar sehingga Haryo Leno dapat memanen hasil jerih payahnya sendiri, tanpa bergantung kepada orang lain.</p>
<p>Haryo Leno beranggapan bahwa sebuah proses perjuangan yang dilakukan dengan bersungguh-sungguh akan membuahkan hasil sesuai perjuangannya. Kesabaran dan ketelitian ia tanamkan pada dirinya. Proses yang baik akan memperoleh hasil yang baik pula.</p>
<p>Di kala sang mentari masih mengintip, Haryo Leno memandangi tanaman yang begitu subur, timbullah rasa puas, bangga, dan kagum. Dia pun bergumam dalam hati, &#8220;Tempat ini betul-betul sida reja ‘jadi ramai’ atau sida makmur ‘jadi makmur’. Jika kelak tempat ini menjadi desa, aku akan memberinya nama Desa Sidareja!&#8221;.</p>
<p>Memandang hasil kerja kerasnya membuat hati Haryo Leno se- nang. Ia benar-benar bahagia karena tanamannya tumbuh dengan</p>
<p>subur dan sehat. Dengan tanaman itulah Haryo Leno dapat mencukupi kebutuhan hidupnya. Sementara itu, sejak kepergian Haryo Leno yang tanpa pamit, Joko Leno dan Bajang Laut terus mencari Haryo Leno. Mereka berdua berpencar mencari ke mana-mana hingga ke pelosok-pelosok desa. Mereka khawatir terjadi sesuatu pada Haryo Leno. Bajang Laut pergi ke arah barat, sedangkan Joko Leno pergi ke arah timur.</p>
<p>Berbulan- bulan mereka melakukan pencarian itu. Pada titik-titik mendekati keputusasaan, Joko Leno berhasil menemukan Haryo Leno.
Tidak selang beberapa lama Joko Leno mendatangi Haryo Leno dan bertanya alasan kakaknya pergi dengan tiba-tiba dan tanpa pamit kepada Bajang Laut. Bahkan, pamit kepada adiknya sendiri pun tidak. Haryo Leno bercerita tentang kepergiannya karena ia merasa rugi bila hanya mengandalkan janji dari Bajang Laut. Bahkan, ia berpikir entah kapan Bajang Laut akan menduduki singgasananya.</p>
<p>Sementara, waktu itu Bajang Laut jauh dari rumahnya dan hidup bersama dirinya. Haryo Leno merasa tidak enak kepada Bajang Laut apabila dirinya pergi berpamitan karena ia berpikir bahwa Bajang Laut mungkin akan mengira dirinya orang yang tidak sabaran dan tidak percaya kepadanya. Ia juga khawatir Bajang Laut tersinggung dengan keputusan dan tindakannya tersebut. Oleh karena itu, Haryo Leno memutuskan pergi tanpa pamit. Akan tetapi, Joko Leno malah berkata lain.</p>
<p>&#8220;Hanya alasan Kakang saja. Sesungguhnya Kakang ingin menyaingi Bajang Laut, kan? Ingin menjadi penguasa dan memiliki wilayah kekuasaan sendiri! Kakang juga tidak mengatakan apa pun kepadaku. Kakang ingin meraih sukses sendirian?&#8221;
Haryo Leno menjawab, &#8220;Tidak adikku, bukan begitu. Kamu salah mengerti dengan apa yang aku katakan padamu.</p>
<p>Percayalah Kakang pergi karena Kakang hanya ingin mewujudkan cita-cita Kakang untuk dapat hidup mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Kakang tidak ingin berutang budi kepada Bajang Laut. Semua itu kulakukan bukan untuk menyaingi kerajaannya. Kalau Kakang tetap menunggu diangkat menjadi penggawa, Kakang pasti tidak akan dapat menjadi seperti sekarang ini.&#8221;</p>
<p>Terjadilah selisih pendapat antara mereka. Mereka memiliki alasan masing-masing sehingga terjadilah pertempuran. Kesaktian keduanya berimbang, pertempuran pun terus berlangsung. Mereka saling mengejar, melukai, dan tidak ada yang mau mengalah. Mereka hanya memikirkan pendapat masing-masing dan merasa pendapat pribadi mereka yang paling benar.</p>
<p>Pertempuran dua saudara kandung itu pun semakin menjadi-jadi. Konflik yang memicu terjadinya pertempuran itu hanyalah ke- salahpahaman antara Haryo Leno dan Joko Leno yang telah membela Bajang Laut. Padahal, Bajang Laut sendiri tidak mengetahui bahwa kakak beradik yang ia janjikan untuk menjadi penggawa di singgasananya itu telah bertempur hendak bunuh-membunuh.</p>
<p>Pertempuran tersebut berlangsung berhari-hari. Suatu saat Haryo Leno hendak bersandar (bahasa Jawa, sende-sende) karena lelah melawan Joko Leno. Setiap kali ada tempat yang digunakan untuk pertempuran pasti sebagai peringataan digunakan sebagai nama sebuah desa ataupun tempat. Salah satunya tempat yang digunakan bersandar oleh Haryo Leno. Tempat itu sekarang menjadi desa yang diberi nama Sindeh, dari kata sende.</p>
<p>Pertempuran belum juga berhenti, mereka terus saling mengejar. Akhirnya, mereka pun berhenti di suatu tempat. Tempat perhentian itu menjadi nama sebuah desa yang disebut Karanggandul. Nama itu diambil karena Haryo Leno melihat di sekitar tempat itu banyak pohon pepaya, dalam bahasa Jawa disebut dengan gandul. Saat itu Haryo Leno naik ke gunung dan berhenti untuk melihat sekelilingnya.</p>
<p>Ia melihat jurang yang sangat curam, banyak bebatuan besar, dan dikelilingi rumput liar yang lebat. Siapa pun yang masuk atau terjatuh ke jurang tersebut pasti tidak akan terselamatkan. Ditemukan jasadnya pun belum tentu karena apabila terjatuh badannya akan hancur dan tidak berbentuk.</p>
<p>Tempat itu dinamakan Jurang Ngadeg karena pada saat itu Haryo Leno melihat jurang itu dalam posisi berdiri atau bahasa Jawa ngadeg. Karena kesaktian yang dimiliki, keduanya masih bertempur untuk mengalahkan satu sama lain. Mereka bersikeras mempertahankan kekuatan dan pendirian mereka. Haryo Leno tetap teguh tidak mau</p>
<p>kalah dan dikalahkan, begitu pula dengan Joko Leno. Pertempuran semakin sengit dan berlangsung lama. Pada akhirnya, mereka berdua tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah. Keduanya meninggal akibat pertempuran tersebut. Mereka berdua pun dimakamkan di tempat mereka bertempur.</p>
<p>Ibarat ungkapan dalam bahasa Jawa me- nang dadi areng, kalah dadi awu ‘menang menjadi arang, kalah menjadi abu’. Menang ataupun kalah dalam pertempuran tersebut akan berbuah sia-sia karena semuanya telah hancur berantakan. Hingga saat ini kita masih dapat mengunjungi makam Haryo Leno dan Joko Leno di Cilacap.</p>
<p><strong>Diceritakan oleh: Umi Farida</p>
<p>Disadur dari Cerita Rakyat Cilacap Jawa Tengah.</p>
<p>Diterbitkan oleh Balai Bahasa Jawa Tengah Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan</strong> </p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/ilustrasi-kisah-pendiri-Sidareja-Cilacap-Haryo-Leno-1200x675.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="675">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[ilustrasi kisah pendiri Sidareja Cilacap Haryo Leno]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/ilustrasi-kisah-pendiri-Sidareja-Cilacap-Haryo-Leno-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[ilustrasi kisah pendiri Sidareja Cilacap Haryo Leno]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
	</channel>
</rss>
