<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>Kumpulan Pos Sosok &#8211; Story Cilacap.info</title>
	<atom:link href="https://story.cilacap.info/tag/sosok/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://story.cilacap.info</link>
	<description>Media Online Masa Kini, Akurat, Mengedepankan Etika</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 Dec 2020 17:34:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	
<image>
<url>https://img.cilacap.info/images/story/favicon-32x32.png</url><title>Kumpulan Pos Sosok &#8211; Story Cilacap.info</title>
<link>https://story.cilacap.info</link>
<width>32</width><height>32</height><description>Info Kisah Menarik</description>
</image>
	<item>
		<title>Gus Dur Bapak Pluralisme dan Pejuang Kemanusiaan</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-34170/gus-dur-bapak-pluralisme-dan-pejuang-kemanusiaan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Hasan Bahtiar]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Dec 2020 17:34:27 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Bulan Gusdur]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[KH Abdurrahman Wahid]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-34170/gus-dur-bapak-pluralisme-dan-pejuang-kemanusiaan</guid>

					<description><![CDATA[ aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Bulan Desember ini, layak kita kenang sebagai bulan pluralisme, HAM, hari Nusantara, hari anti korupsi, hari ibu. di bulan Desember ini juga dikenang, bulan wafatnya Gus Dur. di Indonesia ini, siapa yang tidak kenal dengan Gus Dur? Tokoh bangsa yang digadang-gadang sebagai Bapak Pluralisme dan &#8220;Pejuang Kemanusiaan&#8221; ini menyabet banyak sekali penghargaan atas kerja-kerja kemanusiaan dan perdamaian yang ia perjuangkan. ]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Bulan Desember ini, layak kita kenang sebagai bulan pluralisme, HAM, hari Nusantara, hari anti korupsi, hari ibu. di bulan Desember ini juga dikenang, bulan wafatnya Gus Dur. di Indonesia ini, siapa yang tidak kenal dengan Gus Dur? Tokoh bangsa yang digadang-gadang sebagai Bapak Pluralisme dan &#8220;Pejuang Kemanusiaan&#8221; ini menyabet banyak sekali penghargaan atas kerja-kerja kemanusiaan dan perdamaian yang ia perjuangkan. </p>
<p>Gus Dur selalu berada di garis depan membela kemanusiaan dan keberagaman. Bagi Gus Dur, tak ada artinya beragama jika seseorang kehilangan kemanusiaannya. Sebab sebaik-baik manusia adalah yang memberikan manfaat bagi kemanusiaan. Pembelaan Gus Dur terhadap manusia bukan berarti melupakan Tuhan. Pemahaman Gus Dur yang sangat mendalam tentang agama Islam itulah yang membuat dirinya juga akan selalu berada di garis terdepan membela kemanusiaan.</p>
<p>Gus Dur sebagai sosok pemimpin yang mampu menyampaikan pesan dengan asyik, menggunakan bahasa yang membumi, tidak menggurui, mudah dipahami dan suka humor.</p>
<p>Buku biografi Gus Dur yang paling lengkap dan internasional best seller adalah yang ditulis oleh Greg Barton (The Authorized Biography Of Abdurrahman Wahid). Sementara untuk melacak jejak pemikirannya, dengan sangat mudah kita bisa menemui para sahabat dan muridnya secara langsung, serta membaca berbagai literatur yang ditulis oleh Gus Dur sendiri. Seperti buku Islamku Islam Anda Islam Kita, Prisma Pemikiran Gus Dur, Kiai Nyentrik Membela Pemerintah, hingga Tuhan Tidak Perlu Dibela. Buku-buku tersebut adalah hasil buah pemikiran Gus Dur yang bertebaran di media dan makalah-makalah di seminar.</p>
<p>Gus Dur kecil memiliki nama lengkap Abdurrahman Ad-Dakhil, lahir 4 Agustus 1940, walaupun versi lain menyatakan tanggal 7 September. Nama Ad-Dakhil belakangan diganti dengan Wahid (mengikuti nama depan ayahnya, KH. Wahid Hasyim), karena lebih populer.</p>
<p>Dari jalur ibu, Nyai Solichah, Gus Dur memiliki kakek yang bernama K.H. Bisri Syansuri. Beliau adalah pengasuh pesantren pertama yang mengajarkan kelas pada perempuan. Sementara kakek dari jalur ayah, yakni K.H. Hasyim Asyari, adalah tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU), ormas Islam terbesar di Indonesia saat ini.</p>
<p>Ketika usia 12 tahun, Gus Dur sudah ditinggal wafat ayahnya karena kecelakaan di jalan menuju kota Bandung. Seketika itu, pendidikannya diambil alih oleh ibunya. Pada tahun 1954 Gus Dur masuk ke Sekolah Menengah Pertama, lalu ibunya mengirimnya ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikan dengan mengaji kepada KH. Ali Maksum di Pondok Pesantren Krapyak sambil sekolah SMEP. Lulus dari SMEP, Gus Dur pindah ke Magelang untuk belajar di Pesantren Tegalrejo.</p>
<p>Seusai dari Tegalrejo, pada tahun 1959, Gus Dur pindah ke Pesantren Tambakberas di Jombang. Karena kecerdasan dan daya tangkapnya yang kuat, pada tahun 1963, Gus Dur menerima beasiswa dari Kementerian Agama untuk belajar Studi Islam di Universitas Al Azhar di Kairo, Mesir. Selama dua tahun di Mesir waktunya lebih banyak dihabiskan dengan jalan-jalan, menonton film, dan membaca di perpustakaan. Tidak puas mengembara ilmu di Mesir, pada tahun 1964, Gus Dur lalu berpindah ke Baghdad. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Universitas Baghdad tahun 1970, Gus Dur kemudian melanjutkan petualangan ke Belanda, Jerman dan Perancis sebelum kembali ke Indonesia tahun 1971.</p>
<p>Mulai sejak kecil, Gus Dur sudah terbiasa dengan lingkungan yang beragam. Ketika di Yogyakarta, Gus Dur dititipkan oleh ibunya kepada tokoh Muhammadiyah, Kiai Junaidi. di SMEP, Gus Dur juga sangat akrab dengan gurunya yang beragama Katolik. Darinya, ia dikenalkan dengan banyak buku, mulai dari karya Lenin &#8216;What is To Be Done&#8217;, Das Kapital-nya Karl Marx, karya-karya penulis terkenal seperti Ernest Hemingway, John Steinbach, dan William Faulkner.</p>
<p>Gus Dur remaja adalah sosok yang gemar membaca dan haus akan ilmu pengetahuan. Ketika menginjak usianya dewasa, ia mengembara ke Timur Tengah bahkan sampai ke Eropa. Ilmu yang dipelajarinya pun beragam, mulai dari klasik, modern, hingga post modern. Hal ihwal inilah yang membentuk cakrawala pemikiran Gus Dur begitu kaya, sehingga dalam melihat segala persoalan ia tidak mudah menghakimi dan menyesat-nyesatkan.</p>
<p>Pulang ke Indonesia</p>
<p>Setelah kembalinya dari Eropa, Gus Dur diajak bergabung oleh Dawam Rahardjo di Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) bersama dua sahabat lainnya, Aswab Mahasin dan Adi Sasono. Dari sini, ia meneruskan kariernya sebagai seorang penulis untuk majalah dan surat kabar. Namanya pun banyak dikenal sebagai seorang intelektual karena pemikiran dan daya kritisnya dalam melihat persoalan. Mulai dari kebangsaan, politik, pesantren, keislaman, hingga sepak bola.</p>
<p>Tidak hanya sebagai seorang intelektual an sich, Gus Dur juga bergerak sebagai aktivis. Bersama Arief Rahman, Rahman Tolleng, Marsilam Simanjuntak, dan Bondan Gunawan, ia bergabung di Forum Demokrasi (Fordem) sebagai bentuk perlawanannya terhadap rezim Orde Baru yang otoriter. Bersama Romo Mangunwijaya, Gus Dur juga melakukan pendampingan terhadap korban pembangunan di waduk Kedung Ombo. Dalam pandangan Antonio Gramsci (1891-1937), Gus Dur masuk kategori intelektual organik. Seorang cendekiawan yang tidak hanya duduk di menara gading, namun juga bergerak melakukan perubahan sosial.</p>
<p>Semasa hidupnya, Gus Dur mewakafkan dirinya untuk kepentingan dalam tiga skala besar! Islam, Indonesia, dan NU. Sebagai orang Islam, Gus Dur menyebarkan agama yang rahmatan lil &#8216;alamin. Pembelaannya kepada kaum yang termarginalkan, seperti Syiah, Ahmadiyah, Tionghoa, Inul, Dorce, bahkan sampai mengadvokasi kasus Kedung Ombo, adalah manifestasi islam yang dipandang oleh Gus Dur. Membebaskan dan merahmati semua.</p>
<p>Dalam bingkai Indonesia, Gus Dur memperjuangkan demokratisasi dan kemanusiaan. Pada Mei 2008 Gus Dur dianugerahi Medals of Valor dari The Simon Wieenthal Center di Amerika Serikat karena kegigihannya memperjuangkan pluralisme dan perdamaian.</p>
<p>Kiprahnya sebagai tokoh Indonesia sangat menentukan pada saat-saat bangsa Indonesia menghadapi situasi-situasi yang sulit. Diakui, hal yang paling ditakutkan oleh Gus Dur adalah perpecahan. Dalam prinsip perjuangannya selalu menggunakan cara-cara yang damai dan menolak kekerasan.</p>
<p>Sementara di wilayah Ke-NU-an, Gus Dur meneruskan perjuangan kakeknya, KH. Hasyim Asy&#8217;ari dengan memperjuangkan Pancasila sebagai dasar ideologi negara, Bhinneka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan UUD 1945. Semuanya itu yang kemudian mencerminkan sikap tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), i&#8217;tidal (bersikap adil), dan tawazun (berimbang).</p>
<p>Sebuah kaidah yang selalu menjadi pijakan oleh Gus Dur sebagaimana juga pendiri NU yang lain! &#8220;almuhafadhah ala qadim al-shalih wal akhdzu bil jadid al-ashlah&#8221;. Dalam hal ini, pendapat Quraish Shihab menyatakan, Gus Dur adalah seseorang yang berpijak di bumi Indonesia, melihat ke depan tetapi di saat yang sama tidak pernah tidak menoleh ke belakang.</p>
<p>Setelah Soeharto lengser, Gus Dur terlibat di politik dengan mendirikan PKB, dan pada 20 Oktober 1999, ia terpilih sebagai Presiden RI. Sayang, masa kepresidenannya hanya berlangsung 18 bulan akibat pertentangan politik dengan DPR/ MPR.</p>
<p>Namun masa yang sebentar itu telah meletakkan pondasi yang kuat bagi demokrasi di Indonesia. Gus Dur mampu menancapkan supremasi sipil terhadap militer. Selain itu, Gus Dur lah peletak pertama visi ekonomi kelautan dan kemaritiman.</p>
<p>Setelah ke luar dari istana, Gus Dur tetap melakukan aktivitas seperti biasanya sebelum menjadi presiden. Aktif menulis, seminar, mengajar pesantrennya di Ciganjur, memberikan ceramah pengajian di masyarakat bawah. Banyak orang menemui hanya untuk meminta nasihat dan dukungan dan doa layaknya seorang kyai. Gus Dur wafat pada 30 Desember 2009 di RSCM dan dimakamkan di Tebuireng Jombang.</p>
<p>Ia menikah dengan Sinta Nuriyah dan dikaruniai empat putri: Alissa Qotrunnada, Zannuba Ariffah Chafsoh, Anita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari. Dan keempat putrinya inilah yang sampai sekarang mewarisi pemikiran serta melanjutkan perjuangan KH. Abdurrahman Wahid.</p>
<p>Seorang kiai pesantren, pemimpin yang dikenal mempunyai keistimewaan ialah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Bahkan, Gus Dur tak hanya dikenang lewat tulisan-tulisannya, tetapi juga kuburannya yang diziarahi ribuan orang setiap hari. Nilai-nilai kemanusiaan yang dikembangkan oleh Gus Dur membuatnya tak hanya diziarahi umat Islam, tetapi juga masyarakat dari berbagai kalangan dan agama.</p>
<p>Gambaran singkat dari kepergian dua zahid (manusia dengan maqom zuhud) yang disambut iringan ribuan orang dari berbagai penjuru serta didoakan pula dari segala penjuru menunjukkan sebuah cinta dan kasih sayang. Rasa tersebut mengkristal dari seluruh komponen masyarakat sebagai wujud cinta dari dua zahid kepada semua manusia ketika hayat masih dikandung badan.</p>
<p>Kiai Husein menuturkan, Gus Dur, Maulana Rumi, dan para wali Allah merupakan orang yang selama hidupnya diabdikan untuk mencintai seluruh manusia, tanpa pamrih apapun. Mereka memberikan kebaikan semata-mata demi kebaikan itu sendiri, bukan bermaksud kebaikan tersebut kembali kepada dirinya.</p>
<p>Cara hidup demikian diungkapkan dalam sebuah puisi indah gubahan sufi besar dari Mesir, pengarang Kitab Al-Hikam, Ibnu Athaillah As-Sakandari yang sering dikutip Gus Dur dalam banyak kesempatan: Idfin wujudaka fil ardhil khumuli, fama nabata mimmaa lam yudfan laa yutimmu nitaa juhu (tanamlah eksistensimu di bawah tanah yang tidak dikenal. Sesuatu yang tumbuh yang tak ditanam, akan berbuah segar).(***)</p>
<p>Aji Setiawan, ST. Mantan penggiat PMII Komisariat KH Wachid Hasyim,(Universitas Islam Indonesia(UII) Yogyakarta</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[cilacap info featured]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[cilacap info featured]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Kisah Inspiratif Mbah Kusnadi dari Banjarnegara Tentang Bertahan Hidup &#8220;Urip Iku Ya Dilakoni&#8221;</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-31892/kisah-inspiratif-mbah-kusnadi-dari-banjarnegara-tentang-bertahan-hidup-urip-iku-ya-dilakoni</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 30 Aug 2020 21:22:18 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Banjarnegara]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Inspiratif]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-31892/kisah-inspiratif-mbah-kusnadi-dari-banjarnegara-tentang-bertahan-hidup-urip-iku-ya-dilakoni</guid>

					<description><![CDATA[BANJARNEGARA, STORY  aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211;  &#8211; di usianya yang tidak lagi muda, Mbah Kusnadi (80) asal Desa Gununglangit, Kecamatan Kalibening tetap semangat menjalani hidup.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>BANJARNEGARA, STORY <a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; </strong> &#8211; di usianya yang tidak lagi muda, Mbah Kusnadi (80) asal Desa Gununglangit, Kecamatan Kalibening tetap semangat menjalani hidup.</p>
<p>Setiap Pagi, Mbah Kusnadi menyiapkan bakul dan memikulnya menyusuri kampung-kampung, terkadang ia pulang kembali dan sampai rumahnya diwaktu senja hari.</p>
<blockquote><p>Wejangan dari Mbah Kusnadi, &#8220;Urip iku kuncine ya dilakoni bae (hidup itu kuncinya ya dijalani saja),&#8221; katanya.</p></blockquote>
<h2>Artikel Selanjutnya</h2>
<p>Dilansir dari laman <strong>Antaranews.com</strong>, Ada suara berderit yang sedikit mengganggu telinga saat Mbah Kasnadi (80) membuka pintu berbahan kayu dengan cat yang sudah mengelupas, di rumahnya di Desa Gununglangit, Kecamatan Kalibening, Banjarnegara, Jawa Tengah.</p>
<p>Sinar matahari pagi langsung menerobos masuk saat pintu rumahnya terbuka, dahi keriputnya mengernyit sesaat dan bola matanya yang mulai kelabu menyisir kondisi di luar rumah.</p>
<p>Ia lalu mengeluarkan dua bakul besar berisi berbagai perabot, ada tampah, pisau dapur, sapu lidi, sapu serabut kelapa juga piring plastik berwarna-warni.</p>
<p>Setelah semuanya siap, kaki tua beralaskan sandal jepit kumal berwarna oranye itu akan mulai melangkah keliling desa menyusuri jalan-jalan setapak, melewati pematang sawah, mendatangi rumah demi rumah.</p>
<p>Sudah lebih dari 40 tahun tubuh berpostur kecil dan ramping itu berjualan berkeliling desa sambil memikul dua bakul besarnya.</p>
<p>Terkadang ia berangkat sejak pagi dan kembali ke rumah pada siang hari. Namun ada kalanya juga ia baru kembali ke rumah saat langit temaram, atau biasanya disebut penduduk lokal dengan istilah sandingkala.</p>
<p>Pada saat itu biasanya ia akan mendengar suara tonggeret bersahutan. Serangga dengan suara nyaring itu seakan menyambutnya pulang.</p>
<p>Dirinya terkadang pulang dengan membawa uang Rp20.000 hingga Rp30.000. Keuntungan yang ia dapat dari hasil menjual setiap barang berbeda-beda. Misalkan untuk satu sapu lidi, keuntungannya berkisar Rp2.000 hingga Rp3.000.</p>
<p>Kendati demikian, berjualan berkeliling baginya bukan hanya perkara berapa uang yang didapat, tapi kadang tentang upaya bertahan hidup dan tentang menjalani apa yang disuka.</p>
<p>&#8220;Urip iku kuncine ya dilakoni bae (hidup itu kuncinya ya dijalani saja),&#8221; katanya.</p>
<p>Baginya, hidup masih harus terus berjalan dan semua yang ia jalani adalah upaya memelihara semangat hidupnya agar tetap dapat terus menyala.</p>
<p>Seperti saat senja ini, semangatnya makin menyala ketika ia pulang disambut cucu serta sayur sawi dan tahu goreng hangat di meja makan.</p>
<h2>Berdasarkan Teori Psikososial</h2>
<p>Menurut teori tentang tahap perkembangan manusia atau psikososial yang dikembangkan oleh Erik Erikson diketahui bahwa masa lansia merupakan masa integritas versus kekecewaan.</p>
<p>Teori itu menyebutkan bahwa seorang lansia yang mencapai masa integritas akan menemukan kedamaian dalam hidupnya.</p>
<p>Sementara itu, jika seorang lansia kesulitan mengintegrasikan antara masa lalu, masa kini dan masa depan akan cenderung menyesali hal-hal yang tidak sesuai keinginannya dan mudah merasa kecewa atau putus asa.</p>
<p>Berdasarkan teori tersebut, psikolog dari Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) cabang Barlingmascakeb Anna Kartika mengatakan bahwa Mbah Kasnadi merupakan contoh lansia yang dapat mencapai masa integritas.</p>
<p>&#8220;Ia berada dalam sisi diri yang utuh, mampu menerima setiap bagian dalam kehidupannya sebagai kesatuan dirinya, bukan pribadi yang kecewa, menyesali masa lalu dan lain sebagainya. Sehingga ia sehat secara psikologis,&#8221; katanya.</p>
<p>Sehat secara psikologis tersebut pada akhirnya dapat mendukung kondisi fisiknya sehingga ia masih mampu berjualan keliling dengan berjalan kaki sambil memikul bakul besar, dari satu desa ke desa lainnya.</p>
<p>Dia mengatakan kondisi Mbah Kasnadi juga merupakan dampak dari kebiasaan yang ia jalani sekian tahun lamanya.</p>
<p>Kebiasaan adalah perilaku berulang yang terbentuk dari aspek kognitif atau kesadaran, afektif atau perasaan dan konatif atau perilaku.</p>
<p>&#8220;Caranya yang pasrah menjalani hidup menjadikan tidak banyak konflik dalam diri sehingga aspek kognitif sangat berperan, sementara aspek afektif ditunjukkan dengan ia yang bahagia dengan kesederhanaan hidupnya. Selain itu aspek konatif ditunjukkan caranya menyikapi setiap segi kehidupannya dengan positif,&#8221; katanya.</p>
<h2>Lansia Produktif</h2>
<p>Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Praktisi dan Ahli Demografi Indonesia (IPADI) Soedibyo Alimoeso mengatakan lansia memang diharapkan tetap aktif di hari tuanya agar menjadi lansia yang sehat, aktif, mandiri, produktif dan bermartabat.</p>
<p>&#8220;Kalau lansia itu terus aktif, maka proses penuaan bisa diperlambat, seperti gangguan fisik, kognitif dan lainnya,&#8221; katanya.</p>
<p>Ia menambahkan bahwa lansia memang diharapkan menjadi pribadi yang sehat, aktif dan produktif sehingga tidak menjadi beban bagi keluarganya.</p>
<p>&#8220;Lansia itu bukan beban, tetapi justru aset, karena pengalaman dan kearifannya sehingga bisa menjadi SDM yang baik sesuai kemampuannya,&#8221; katanya.</p>
<p>Dengan demikian, kata dia, seluruh pihak terkait perlu memperhatikan pembangunan manusia secara utuh dengan pendekatan siklus hidup agar menghasilkan generasi yang lebih baik.</p>
<p>&#8220;Untuk lansia tentu diupayakan mereka untuk tetap aktif dan mandiri agar bisa memetik bonus demografi tahap kedua. Lansia yang bermasalah perlu dilakukan pendampingan dan perawatan secara benar dan baik oleh pemerintah daerah ataupun keluarganya,&#8221; katanya.</p>
<p>Siklus hidup yang dimaksud itulah, kata dia, yang mempengaruhi kondisi lansia di masa tuanya karena perilaku kesehatan pada saat masa kecilnya.</p>
<p>Kisah Mbah Kasnadi hanya sekelumit contoh penuaan yang sukses (succesfull ageing, red) bahwa lansia dapat tetap sehat dan produktif dengan didukung kesehatan psikologis yang baik.</p>
<p>Kesejahteraan psikologis, salah satunya bisa didapatkan dengan menjalani hidup penuh keikhlasan dan rasa syukur.</p>
<p>Karena menjadi tua itu pasti, namun menghabiskan masa tua dengan damai adalah suatu pilihan, yang tentunya dapat terus diupayakan.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/sosok-mbah-kusnadi-banjarnegara.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="800"
				height="533">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[sosok mbah kusnadi banjarnegara]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/sosok-mbah-kusnadi-banjarnegara-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[sosok mbah kusnadi banjarnegara]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Sosok Mayada, Suaranya Mirip Ummu Kultsum</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-27866/sosok-mayada-suaranya-mirip-ummu-kultsum</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Jun 2020 03:09:02 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Mayada]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-27866/sosok-mayada-suaranya-mirip-ummu-kultsum</guid>

					<description><![CDATA[ aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Mayada, Suaranya bak suara emas Ummu Kulsum. Ia sudah menerbitkan 14 album termasuk tiga album kompilasi dengan artis lain.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Mayada, Suaranya bak suara emas Ummu Kulsum. Ia sudah menerbitkan 14 album termasuk tiga album kompilasi dengan artis lain.</p>
<p>Mayada kerap muncul di layar kaca melantunkan lagu-lagu shalawat. Ia adalah Mayada, 16 tahun, yang nama aslinya Umi Mayadah. Namanya meroket sejak ia mengeluarkan album Cahaya Rasul 1 pada 1999, kumpulan shalawat yang di masa silam dinyanyikan oleh Ummu Kultsum, penyanyi legendaris Mesir.</p>
<p>Sejak kecil, anak sulung pasangan H. Adnan Ya&#8217;kub Limbong dan Hj. Sunarti Yusuf itu sudah belajar mengaji. Maklum, Orang Tuanya adalah juara qari dan qariah tingkat nasional. Ayahnya, juara MTQ TVRI/RRI 1986, sementara ibundanya juara MTQ Sulawesi Utara.</p>
<p>Minat Maya dalam berqiraah memang sudah tampak sejak kecil. Setiap kali ada tayangan qiraah di televisi, ia langsung duduk bersimpuh lalu menirukan suara qari di layar kaca. Ketika itu Orang Tuanya mengira anaknya hanya main-main saja. Bahkan terkadang Maya mengigau membaca Al-Quran layaknya seorang qariah.</p>
<p>Mendengar igauan cucunya itu, sang kakek yang kebetulan tidur bersamanya, kontak menangis. &#8220;Sub-hanallah, ini anak mengigaunya saja mengaji, lain dari pada yang lain,&#8221; kata kakeknya.</p>
<p>Tahu Maya berbakat dalam seni baca Al-Quran, ayahnya mendidik anak sulungnya itu tehnik membaca Al-Quran yang benar.
Dengan sabar, Adnan Ya&#8217;kub menurunkan keahliannya dalam hal qiraah sab&#8217;ah (tujuh jenis qiraah) kepada anaknya tercinta. Latihan yang sangat disiplin itu ternyata tidak sia-sia.</p>
<p>Ketika usianya menginjak tujuh tahun, Maya telah menguasai qiraah sab&#8217;ah, sehingga berhasil meraih juara I Musabaqah Tilawatil Quran tingkat Nasional di Jambi pada 1997 untuk kategori anak-anak. Lalu suara emasnya direkam dalam sebuah album qiraah anak-anak.</p>
<p>Selain itu, ternyata Maya juga gemar lagu-lagu shalawat. Kebetulan Orang Tuanya memiliki koleksi album shalawat cukup banyak, sehingga Maya dapat belajar dengan leluasa. Setelah cukup lancar, ia meluncurkan sebuah album shalawat. Kebetulan, Habib Husein Alaydrus &#8211; produser sebuah perusahaan rekaman &#8211; tengah mencari artis yang cocok untuk menyanyikan lagu-lagu Ummu Kultsum.</p>
<p>Habib Husein Alaydrus pernah ikut serta dalam perekaman album shalawat Nur Muhaammad SAW dan Ziarah Rasul yang dibawakan oleh Haddad Alwi. Suatu hari, Habib Husein menerima sebuah kaset qiraah Maya, dan langsung tertarik. Ketika menjalani tes rekaman, ternyata Maya mampu melantunkan lagu-lagu Ummu Kultsum.</p>
<p>&#8220;Pertama kali bikin album, saya grogi. Tapi saya senang, dan seru,&#8221; tutur Maya. Akhirnya, dalam waktu relatif singkat, pada 1999 sebuah album shawalat, Cahaya Rasul 1, berhasil dirilis. Ketika itulahsuara Maya banyak terdengar di radio dan televisi, apalagi memasuki bulan Ramadhan.</p>
<p>Sejak itu nama Mayada dikenal luas sebagai penyanyi cilik untuk lagu-lagu shalawat, sejajar dengan Sulis, Wafiq Azizah, dan lain lain. Maya tak pernah khawatir bersaing, sebab baginya persaingan harus dilihat secara positif sebagai fastabiqul khairat (berlomba dalam kebaikan). Bahkan ketika mengikuti MTQ, Maya sering minta sekamar dengan Wafiq Azizah.</p>
<p>Setelah album Cahaya Rasul 1, setiap kali menyambut Ramadhan, Maya selalu merilis album shalawat. Hingga sekarang sudah terbit 12 album, terdiri dari tujuh album Cahaya Rasul, tiga kompilasi dengan artis lain, dan dua lagi karet qiraah dan shalawat.. Sejak itu Maya sering diundang menggelar konser di berbagai kota-kota besar, termasuk tawaran konser di luar negeri. Beberapa waktu lalu ia menggelar konser di Kualalumpur dan Hong Kong.</p>
<p>Ada penggemar yang mengirim surat, ada pula yang berkunjung ke rumah. Tapi, ada penggemar yang unik: bertandang ke rumah membawa oleh-oleh sekeranjang mangga. Tentu keluarganya senang. Tapi, ada yang bikin sedih. Dalam setiap konser, ada penggemar yang berlebihan dengan menarik-narik bajunya, menungguinya di depan rumah (Bahkan sampai bermalam di teras), memanjat pagar rumah, atau membaca puisi di depan rumah.</p>
<p>Tapi, yang paling bikin sedih Maya ialah ulah para pembajak yang mencuri album shalawatnya. Praktis, semua albumnya selalu dibajak sehingga ia banyak merugikan. &#8220;Baru seminggu masternya keluar, kaset bajakannya sudah beredar,&#8221; katanya sedih.(***) Aji</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[cilacap info featured]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[cilacap info featured]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Syekh Jambukarang, Pembuka Dakwah Islam di Purbalingga</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-27853/syekh-jambukarang-pembuka-dakwah-islam-di-purbalingga</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 12 Jun 2020 16:46:15 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Purbalingga]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Waliyullah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-27853/syekh-jambukarang-pembuka-dakwah-islam-di-purbalingga</guid>

					<description><![CDATA[PURBALINGGA,  aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Berziarah ke makam Syekh Jambukarang sambil menikmati panorama puncak perbukitan Cahya di belahan utara Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>PURBALINGGA, <a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Berziarah ke makam Syekh Jambukarang sambil menikmati panorama puncak perbukitan Cahya di belahan utara Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.</p>
<p>Matahari baru saja menyeruak di ufuk timur, ketika sinar kemerah-merahan memancar ke seluruh penjuru. Penduduk desa melangkah beriringan menuju ladang, menelusuri jalan setapak berbatu dan berundak yang di kanan-kirinya curam.</p>
<p>Embun pagi, udara dingin, dan sepoi angin khas perbukitan mewarnai perjalanan ke Makam Syekh Jambukarang. Ia adalah ulama penyebar Islam di Purbalingga dan sekitarnya pada abad ke-12.</p>
<p>Makam yang dikeramatkan oleh penduduk itu terletak di Desa Panusupan, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, sekitar 20 kilometer sebelah utara Purbalingga. Untuk berziarah ke sana dibutuhkan waktu sekitar 30 menit dengan mikrobus jurusan Bobotsari-Rembang ke arah Monumen Jenderal Soedirman.</p>
<p>Sampai di Desa Rajawana, perjalanan dilanjutkan dengan pick up bak terbuka jurusan Rajawana-Panusupan sekitar empat kilometer. Dari Desa Panusupan, peziarah masih harus melanjutkan perjalanan lagi. Kali ini dengan berjalan kaki sejauh satu kilometer, melalui jalan setapak berlapis semen yang membelah desa sampai ke gerbang makam.</p>
<p>Di sini, setiap peziarah harus membayar retribusi (untuk pembangunan desa) sebesar Rp 3.000, lalu mengisi buku tamu. Dari situ kita menelusuri jalan selebar satu meter, naik-turun di lembah perbukitan hijau di belahan timur kaki Gunung Slamet. Sejauh mata memandang yang tampak hanya rerimbunan ilalang dan perbukitan yang menghijau.</p>
<p>Sepanjang perjalanan, sepoi angin pegunungan dan kicau burung hutan menemani para peziarah. Sesekali berpapasan dengan serombongan kecil peziarah yang pulang dari makam. Untuk menempuh jarak sepanjang empat kilometer itu dibutuhkan waktu sekitar dua jam, lantaran kondisi jalan yang naik-turun.</p>
<p>Sebagian peziarah mengeramatkan makam Syekh Jambukarang sehingga mereka menjadikannya sebagai sarana untuk bertawasul, menyampaikan doa kepada Allah SWT dengan perantara para wali. &#8220;Saya datang ke sini agar dagangan saya semakin laris,&#8221; kata Mbok Sutini asal Cirebon yang datang beserta tiga anggota keluarganya.</p>
<p>Pada umumnya, peziarah bertandang ke makam pada malam Minggu Pon atau Rabu Pon. Namun, jumlah peziarah membeludak pada pergantian tahun. Banyak anak muda menghabiskan malam panjang di sana. Umumnya mereka membaca ayat Kursi, sebab diyakini ayat Kursi mengandung bermacam-macam fadilah.</p>
<h2>Tiga Cahaya</h2>
<p>Siapa sebenarnya Syekh Jambukarang? Ia adalah putra Prabu Brawijaya Mahesa Tandreman, raja pertama Kerajaan Pajajaran. Ketika masih muda ia bernama Raden Mundingwangi, bergelar Adipati Mendang. Sejak muda ia senang menggeluti ilmu kanuragan. Meski berhak menjasi raja, ia lebih tertarik menjadi pendeta. Takhta kerajaan ia serahkan kepada adiknya, Raden Mundingsari, yang dinobatkan pada 1190.</p>
<p>Ia pun lalu bertapa di Gunung Jambudipa atau Gunungkarang di Banten. Selama bertapa itulah ia menyaksikan tiga cahaya di sebelah timur, menjulang tinggi ke angkasa. Ia lalu mencari asal cahaya tersebut bersama 160 pengikutnya, menyusuri hutan, pegunungan, dan sungai.</p>
<p>Setelah melewati Krawang, Sungai Comal, Gunung Cupu, Gunung Kraton, sampailah mereka di Desa Rajawana. Setelah mendaki Bukit Ardi Lawet, mereka tiba di Bukit Panungkulan yang juga disebut Bukit Cahya, masyarakat sekitar menyebutnya Gunung Cahya, di Desa Grantung, Kecamatan Karangmoncol, Purbalingga. di puncak bukit inilah mereka mendirikan pertapaan.</p>
<p>Pada waktu yang bersamaan, tiga cahaya tersebut juga disaksikan oleh seorang mubalig dari Timur Tengah, yang namanya kemudian dikenal sebagai Syekh Atas Angin, dan konon masih keturunan Rasulullah SAW. Maka bersama 200 pengiring, ia pun segera mencari sumber cahaya tersebut. Mula-mula mereka berlabuh di Gresik, Jawa Timur, lalu meneruskan perjalanan ke Pemalang, Jawa Tengah. Dari sana mereka lalu menuju ke Bukit Cahya. di sinilah ia bertemu dengan Raden Mundingwangi, yang sedang bertapa.</p>
<p>Ketika Syekh Atas Angin menyapanya dengan salam, Raden Mundingwangi diam saja. Sebab, ketika itu ia belum memeluk Islam. Maka mereka pun kemudian terlibat dalam adu kesaktian. Karena kalah, dan mengakui keunggulan Syekh Atas Angin, Raden Mundingwangi pun bersedia masuk Islam. Sejak itu oleh Syekh Atas Angin ia diberi ilmu kewalian dan gelar Pangeran Wali Syekh Jambukarang.</p>
<p>Untuk menyempurnakan keislamannya, Pangeran Jambukarang menunaikan ibadah haji ke Mekah, dan pulang dari Tanah Suci ia dikenal sebagai Haji Purba. Konon, ia memiliki beberapa kekeramatan, antara lain kupluk atau pecinya dapat terbang, mampu menumpuk telur di udara, menggandeng bejana tempat air di angkasa.</p>
<p>Tak lama kemudian, Syekh Atas Angin diambil menantu oleh Pangeran Jambukarang, dinikahkan dengan salah seorang putrinya, Nyai Rubiahbekti. Dari pernikahan ini lahirlah tiga putra dan dua putri: Pangeran Syekh Mahdum Husen, Pengeran Mahdum Medem, Pangeran Mahdum Umar, Nyai Rubiahraja, dan Nyai Rubiyahsekar. Belakangan, Pangeran Jambukarang membuka sebuah pesantren di Purbalingga.</p>
<p>Setelah wafat, ia dimakamkan di puncak Gunung Cahya. Ada beberapa keturunan Syekh Jambukarang yang mengabdi di Kasultanan Demak. Sementara Pangeran Mahdum Husen, salah seorang putranya, punya peran dalam mengusir pasukan Kerajaan Pajajaran yang menyerang daerahnya. Sedangkan cucu Mahdum Husen, Syekh Mahdum Wali Prakosa, meneruskan pengabdian keluarganya di Kesultanan Demak.</p>
<p>Dialah yang membuat soko guru Masjid Demak bersama Sunan Kalijaga, yang salah satunya kemudian terkenal dengan nama soko tatal, karena terbuat dari sisa-sisa kayu. Dialah pula yang meluruskan arah kiblat Masjid Demak, sehingga Sultan Demak memberi piagam penghargaan kepadanya.(***) Aji Setiawan, Purbalingga</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[cilacap info featured]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[cilacap info featured]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Menilik Sosok Emha Ainun Najib</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-27727/menilik-sosok-emha-ainun-najib</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 07 Jun 2020 16:37:59 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Emha Ainun Najib]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-27727/menilik-sosok-emha-ainun-najib</guid>

					<description><![CDATA[Menilik Sosok Emha Ainun Najib, seorang Pengelana dari Menturo yang juga sosok multikreatif. Kreativitasnya telah mengantarkan langkah kakinya ke berbagai dimensi kehidupan: santri, gelandangan, dan seniman sastra.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Menilik Sosok Emha Ainun Najib, seorang Pengelana dari Menturo yang juga sosok multikreatif. Kreativitasnya telah mengantarkan langkah kakinya ke berbagai dimensi kehidupan: santri, gelandangan, dan seniman sastra.</p>
<p>Tanggal 17 malam, di Dusun Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Halaman pesantren yatim piatu itu sudah nyaris penuh oleh jemaah. Nuansa putih mewarnai ribuan orang yang duduk di atas puluhan tikar yang terhampar, sampai ke luar kompleks Pesantren Zaituna. Pukul sembilan tepat, acara pun dibuka dengan pembacaan surah Al-Fatihah oleh seorang pria gagah yang juga mengenakan baju dan kopiah putih.</p>
<p>Acara demi acara pun kemudian mengalir dengan lancar. Selawat pembuka, yang diambil dari beberapa syair Maulid Simthud Durar, mengawali prosesi spiritual malam itu. Lantunan syair selawat itu semakin indah saat diiringi irama rancak yang berasal dari perpaduan berbagai alat musik modern dan tradisional. Jemaah, yang sebagian besar pemuda dan mahasiswa, pun segera larut dalam kesyahduan.</p>
<p>Usai beberapa lagu pembuka, acara yang dinantikan jemaah pun tiba. Sang pemimpin kelompok musik asal Jawa Timur kembali tampil, meraih mikrofon dan menyapa hadirin. Dengan lugas ia lalu menyampaikan sebuah prolog diskusi yang cukup panjang. Dengan gaya bicaranya yang agak &#8220;nakal&#8221; dan penuh sentilan, tokoh yang belakangan tubuhnya &#8220;membesar&#8221; ini menyoroti berbagai permasalahan kemasyarakatan.</p>
<p>Forum malam itu semakin semarak setelah sang narasumber membuka kesempatan dialog. Bergantian, beberapa orang yang hadir menyampaikan unek-uneknya. Terkadang hadirin ger-geran ketika audiens berbicara dengan gaya yang lugu. Maklum, jemaah yang hadir di pengajian rutin bulanan itu memang berasal dari berbagai golongan dan strata sosial.
Sang narasumber, tokoh sentral kita kali ini, adalah sosok yang dikenal multikreatif. Ia melintasi berbagai dimensi kreativitas, di awalinya sejak usia muda, yang membuatnya bisa masuk ke hampir semua golongan. Dialah Muhammad Ainun Najib, yang lebih dikenal dengan Emha Ainun Najib atau Cak Nun.</p>
<p>Berbagai predikat, seperti budayawan, kolumnis, seniman, Bahkan kiai, kini kerap dinisbatkan kepada pria yang mengaku mengawali segalanya dengan keterbatasan-keterbatasan yang melingkarinya. Sebuah proses panjang yang, menurutnya, berliku.</p>
<p>Dikenal memiliki stamina ketekunan dan keuletan yang menggebu-gebu dalam mengatur energi kebaikan, suami Novia Kolopaking ini mampu tetap eksis dalam berbagai geliat kehidupan. Ia Bahkan mampu mewarnainya secara langsung dengan arif.</p>
<p>1. Santri Gelandangan</p>
<p>Lahir pada 27 Mei 1953 di Menturo, Jombang, Jawa Timur, Emha adalah anak keempat dari lima belas bersaudara. Ayahnya, Muhammad Abdul Lathif, seorang petani dan kiai surau, sering menjadi muara keluh kesah masyarakat di sekitarnya. Begitu pula dengan ibunya, Chalimah.</p>
<p>Emha menjalani hampir seluruh episode awal kehidupannya di dusun kecilnya, Menturo. Ia bersyukur menjadi anak desa, yang memberinya pengalaman dan pelajaran tentang kesederhanaan, kewajaran, dan kearifan hidup. &#8220;Saya banyak belajar dari orang desa yang berhati petani. Mereka makan dari hasil yang ditanam. Semuanya berdasarkan kewajaran, kerja sebagai orientasi hidup, tak pernah mempunyai keinginan menguasai atau mengeksploitasi alam dan sesama manusia. Mereka tabah meskipun ditindih penderitaan,&#8221; kata Cak Nun.</p>
<p>Setamat SD, Emha melanjutkan ke Pondok Pesantren Gontor. Namun, dipesantren yang diasuh oleh K.H. Imam Zarkasyi itu ia hanya bertahan selama dua setengah tahun. Emha, yang sejak kecil dikenal kritis, melancarkan aksi protes terhadap ketidakadilan petugas keamanan pondok, sehingga &#8220;diusir&#8221; dari Pondok Pesantren Gontor.
Pengalaman dua setengah tahun di Gontor, tampaknya begitu berkesan bagi Emha, yang memang dibesarkan dengan kultur santri. Sekelumit pengalaman itu pula yang kelak kerap mewarnai berbagai karyanya yang sarat kritik sosial, lugas tapi sufistis.</p>
<p>Keluar dari Gontor, Emha lantas hijrah ke Yogyakarta, kota yang membuka peluang bagi pengembangan kreativitasnya. Usai menamatkan pendidikan menengah di SMA Muhammadiyah I pada 1969, ia juga sempat masuk ke Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada. Namun setelah kuliah empat bulan, pada hari kedua ujian semester I, ia keluar.</p>
<p>Gejolak jiwa seniman Emha, membawa langkah kakinya ke &#8220;Universitas&#8221; Malioboro. Sepanjang kurun 1970-1975, ia menggelandang hidup di komunitas Maliboro. Ia bergabung dengan kelompok penulis muda Persada Studi Klub, yang kala itu diasuh oleh &#8220;mahaguru&#8221; Umbu Landu Paranggi. Saat itulah pengembaraan sosial, intelektual, kultural, maupun spiritual Cak Nun memasuki babak baru, berkarya.</p>
<p>Nama Emha mulai dikenal orang, saat tulisan-tulisannya yang berupa esai, puisi, dan cerpen, bertebaran di berbagai media massa. Waktu yang hampir bersamaan ketika ia mulai rajin mementaskan pembacaan-pembacaan puisinya bersama Teater Dinasti pada tahun 1980-an.</p>
<p>Selepas bergulat panjang di &#8220;Universitas&#8221; Malioboro, dekade &#8217;80-an, sering dianggap sebagai periode produktif Cak Nun. Dalam rentang waktu tersebut, ia melahirkan beberapa antologi puisi, di antaranya Sajak-sajak Sepanjang Jalan (1977), Cahaya Maha Cahaya (1988), Syair Lautan Jilbab (1989), dan Suluk Pesisiran (1990).</p>
<p>Kini, setelah 30 tahun berkarya, Emha Ainun Nadjib telah mela­hirkan lebih kurang 25 antologi puisi yang berisi sekitar 800 judul puisi. Ciri khas puisi karyanya adalah kandungan protes sosial, sosio-religius, dan mistik Islam. di luar puisi, Cak Nun, bersama Halim H.D., &#8220;pengasuh&#8221; jaringan kesenian Sanggarbambu, aktif di Teater Dinasti dan mengasilkan beberapa repertoar serta pementasan drama.</p>
<p>Di antara karya fenomenalnya adalah drama kolosal Santri-santri Khidhir, yang dipentaskannya bersama Teater Salahudin di lapangan Gontor, dengan seluruh santri menjadi pemain, dan Lautan Jilbab, yang dipentaskan secara massal di Yogya, Surabaya, dan Makassar, tahun 1990.</p>
<p>2. Rumah Hantu</p>
<p>Hal unik lain dari tokoh satu ini adalah kenekatannya yang sering overdosis. Setelah sebelumnya pernah menggelandang di sepanjang emperan toko Malioboro, Yogyakarta, Cak Nun juga pernah menjadi gelandangan di Amsterdam, Belanda. Ketika itu, usai mengikuti salah satu event kepenyairan ia kehabisan bekal. Bahkan untuk membeli tiket pesawat pulang pun Cak Nun tidak mampu.</p>
<p>Beruntung, jiwanya adalah petualang. Ketidakberdayaan ini dimanfaatkannya untuk menimba pengalaman hidup. Bersama temannya, seorang penyair asal Amerika Serikat yang menjadi imigran gelap di Belanda, selama dua bulan Cak Nun, yang tak memegang uang sepeser pun, menempati satu petak flat yang tak berpenghuni.</p>
<p>Di Negeri Kincir Angin itu ada kebiasaan, jika ada sebuah rumah yang ditelantarkan atau ruang kosong yang tak di tempati lebih dari dua bulan, setiap orang berhak menempatinya. &#8220;Tapi jangan dianggap itu rejeki nomplok dulu,&#8221; kelakarnya. &#8220;Tinggal di rumah tanpa pemanas saat musim salju sama saja dengan kos di dalam kulkas.&#8221;
Beruntung tubuhnya telah terbiasa dengan kemelaratan. Meski melawan suhu di bawah nol derajat, Cak Nun tak pernah merasakan sakit. &#8220;Untuk mengisi kamar itu, kami menunggu setiap Senin malam orang-orang Belanda buang barang. Kasur, selimut, mesin ketik, teve hitam putih, kompor fungsi separo, meja, kursi, dan sebagainya kami angkut dari tempat pembuangan,&#8221; katanya lagi.</p>
<p>Untuk makan, keduanya mengais sisa-sisa restoran dan rumah tangga kaya yang membuang makanan agak kadaluwarsa.
&#8220;Rupanya, makin miskin dan menderita, perut kita makin tahan racun,&#8221; ujarnya terkekeh. di tempat itulah Cak Nun mengenal dan berinteraksi dengan para pengungsi, yang kebanyakan adalah pelarian politik dari berbagai negara Afrika. &#8220;Tiap hari kami bercengekrama sambil mencari secuil roti di sekitar Centraal Station Amsterdam.&#8221;
Dari para &#8220;panduduk haram&#8221; ini pula ia mengaku mengetahui cara membongkar kotak telepon agar ratusan koinnya ambrol keluar. Atau teknik benang koin yang digunakan untuk menipu telepon umum, sehingga satu koin bisa dipakai berulang kali, Bahkan bisa dipakai menelepon ke luar negeri.</p>
<p>Belakangan, ketika punya sedikit uang, ia menyewa kamar yang tarifnya murah, karena dipercayai penduduk sekitar ada hantunya. di Denhaag, pertengahan 1980-an, misalnya, Cak Nun pernah menyewa kamar yang konon juga ada setannya. Tarif sewanya kurang dari separuh harga normal, karena pernah ada penghuni kamar itu yang gantung diri. Setiap penghuni berikutnya selalu merasa terganggu.</p>
<p>&#8220;Saya ikhlas menyediakan diri diganggu dan berjanji tidak akan mengikutinya gantung diri, he he,&#8221; candanya.
Sepulang dari luar negeri, Cak Nun makin produktif berkarya dan Bahkan mulai merambah ke dunia musik. Ia melahirkan genre baru, musikalisasi puisi. Meski demikian, dalam berbagai kesempatan ia menolak disebut artis musik atau &#8220;penyanyi&#8221;.</p>
<p>Bersama Kyai Kanjeng, grup musik yang didirikannya, ia menelurkan album kaset bertajuk Kado Muhammad (1996), Wirid Padhang Mbulan (1997), Menyorong Rembulan (1999), Jaman Wis Akhir (1999), Perahu Nuh (1999), Kepada-Mu Kekasih-Ku (2000), Kenduri Cinta dan Maiyah Tanah Air (2002), dan Ummi Khultsum (2005).</p>
<p>3. Penulis Muda</p>
<p>Emha sebenarnya lahir bukan dari kultur &#8220;penyanyi&#8221;, ia lebih tepat sebagai pemikir dan penulis serba bisa. Sejak muda ia gandrung menulis puisi, cerpen, naskah drama, makalah, dan esei (kolom). Tahun 1977-1978, tulisan-tulisannya sudah sering dimuat di harian Kompas. Juga di rubrik kolom di majalah Tempo pada tahun 1981. Bisa dibilang, waktu itu ia termasuk salah satu penulis termuda yang mampu menembus ketatnya seleksi dua media terbesar di tanah air tersebut.</p>
<p>Di antara sekian banyak tulisannya, jenis esei merupakan salah satu yang menonjol dan banyak dibukukan. Hingga tahun ini, tulisan-tulisannya yang terserak di berbagai media itu telah dikumpulkan menjadi lebih dari 30 buku.
Tulisan Cak Nun yang ekspresif memang mempunyai kekuatan untuk disukai. Ada banyak cara yang digunakan buat mengekspresikan &#8220;dirinya&#8221; ke dalam jagat kata, yang membuat pembacanya kerap ikut terbawa mangkel, geli, tertawa, berduka, marah, atau terbakar.</p>
<p>Dalam hal ini Emha pernah berpendapat, jika seseorang ingin menghadirkan suatu karya, ia harus meyakin­kan diri bahwa salah satu penikmatnya adalah dirinya sendiri. Dan jadilah orang banyak. Artinya, pada saat yang bersamaan, agar karya bisa dinikmati oleh orang banyak, ia juga harus rela untuk menjadi siapa saja.</p>
<p>Tentu saja ilustrasi tersebut tidak mengatakan bahwa Emha cukup sukses mengatasi persoalan tersebut. Tetapi paling tidak untuk perspektif linguistis, karyanya memang memiliki &#8220;kelebihan&#8221; tertentu! dengan bahasanya yang padat, lugas, rileks, nakal, imajinatif, dan cerdas.</p>
<p>Pada kurun waktu selepas Orde Baru jatuh, produktivitas Emha tampak mulai menurun. Keadaan itu berlangsung sekitar tiga tahun. Hal ini tentu saja menggelisahkan teman-temannya, jangan-jangan Emha akan mengalami masa aus. Seperti mesin, secanggih apa pun, lambat laun ia akan men­ghadapi suatu masa yang tak bisa dipakai lagi. Dengan tersenyum Emha mengatakan, &#8220;Manusia kan sama sekali bukan mesin.&#8221;</p>
<p>Kegelisahan atau mungkin juga asumsi di atas sering tidak sesuai kenyataan. Bukankah, dalam dunia pemikiran, makin matang usia, makin kreatif dan produktif pula seseorang? Ia merasa, apa yang selama ini dapat dilakukannya tidak lepas dari kealamiahan yang Allah anugerahkan. Otak, yang dibantu akalnya, secara alamiah mengolah gagasan yang muncul dengan sendirinya, yang kemudian menghasilkan sebuah karya.</p>
<p>4. Keliling Dunia</p>
<p>Saat ini Emha lebih banyak menekuni aktivitas rutin bulanan dengan komunitas Masyarakat Padhang Mbulan disejumlah kota. Hingga rata-rata 10-15 kali pertemuan digelarnya setiap bulan bersama musik Kyai Kanjeng. Sampai sekarang, Kyai Kanjeng telah menggelar pentas di lebih dari 8.500-an kota kecamatan se-Indonesia.</p>
<p>Sekali waktu, Kyai Kanjeng juga mengelana ke berbagai kota di luar negeri. Seperti, beberapa waktu lalu, Kyai Kanjeng mengadakan pentas muhibah ke Mesir, Hong Kong, Malaysia, Eropa dan Italia. Acara pentas tersebut, yang umumnya diselenggarakan di lapangan terbuka, diikuti berbagai golongan, aliran, dan agama. Ia dan kelompoknya menawarkan kegembiraan menikmati kebersamaan seraya menghargai nilai-nilai kemanusiaan.</p>
<p>Kyai Kanjeng juga merupakan satu-satunya grup musik muslim yang mengiringi prosesi pemakaman Paus Johannes Paulus II dengan iringin musik dan puisi-puisi khusus untuk suasana duka itu. Bahkan Comune di Roma, semacam wali kota, mengizinkan pentas Kyai Kanjeng di Teatro Dalmazia pada 5 April 2005 malam, yang membawakan lagu-lagu spiritual. Ini menunjukkan betapa Kyai Kanjeng diterima oleh semua kelompok dan kalangan masyarakat di mana pun. 27 Mei kemarin Cak Nun memperingati ulang tahunnya ke 67 tahun secara sederhana dan jauh dari gegap gempita. Barokallohu fi umrik&#8230;Cak.(**&#8221;) Aji Setiawan</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[cilacap info featured]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[cilacap info featured]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Belajar Menjadi Jurnalis dari Mahbub Djunaidi</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-23284/belajar-menjadi-jurnalis-dari-mahbub-djunaidi</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Mar 2020 02:21:17 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Mahbub Djunaedi]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-23284/belajar-menjadi-jurnalis-dari-mahbub-djunaidi</guid>

					<description><![CDATA[ aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO &#8211; Siapa yang tidak mengenal sosok Mahbub Djunaidi, selain seorang aktivis pergerakan mahasiswa, beliau juga merupakan seorang jurnalis.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Siapa yang tidak mengenal sosok Mahbub Djunaidi, selain seorang aktivis pergerakan mahasiswa, beliau juga merupakan seorang jurnalis.</p>
<p>Dikalangan mahasiswa-mahasiswi khususnya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), sosok Mahbub Djunaidi tidaklah asing.</p>
<p>Kisah dan Kiprahnya dalam dunia tulis menulis juga dikenal dari sabang sampai merauke.</p>
<p>Kritik-kritik melalui tulisannya bisa menjadi cambuk terutama bagi pegiat yang berprofesi dalam bidang jurnalistik.</p>
<p>Beberapa tulisan-tulisan Mahbub Djunaidi yaitu seperti &#8220;Nyamuk Pers, Kuli Tinta dan juga Wartawan Penakut&#8221;.</p>
<p>Nyamuk Pers sendiri menurut Mahbub Djunaidi ialah seorang pewarta yang tidak mau diam, selalu gatal dan ingin mengubah dunia dengan sekali kibasannya, akan tetapi hal itu justru tidak membuat perubahaan fisik seorang pewarta yang dikatakan Nyamuk Pers.</p>
<p>Kuli Tinta : Seorang pewarta memang harus siap sedia dengan perlengkapan seperti tinta salah satunya. Akan tetapi kini, dengan menjamurnya media online, tinta bisa berubah jadi gadget.</p>
<p>Namun Mahbub Djunaidi dalam hal ini mengkritik seorang pewarta dengan sebutan Kuli Tinta yaitu dialamatkan untuk pewarta yang begitu dekat dengan kepemerintahan.</p>
<p>Pasalnya menurut Mahbub Djunaidi, pewarta seperti ini terbilang tidak melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang kritis, melainkan hanya menelan mentah-mentah apa yang dilontarkan misal pejabat.</p>
<p>Wartawan Penakut : Menurut Mahbub Djunaidi, jika wartawan mempunyai jiwa yang penakut lebih baik jangan jadi wartawan tapi jualan bakso.</p>
<p>Mahbub Djunaidi juga pernah menyatakan, bahwa kalau ingin kaya jadilah pengusaha bukan jadi wartawan.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[cilacap info featured]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[cilacap info featured]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
	</channel>
</rss>
