<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>Kumpulan Pos Ulama &#8211; Story Cilacap.info</title>
	<atom:link href="https://story.cilacap.info/tag/ulama/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://story.cilacap.info</link>
	<description>Media Online Masa Kini, Akurat, Mengedepankan Etika</description>
	<lastBuildDate>Tue, 09 May 2023 10:18:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	
<image>
<url>https://img.cilacap.info/images/story/favicon-32x32.png</url><title>Kumpulan Pos Ulama &#8211; Story Cilacap.info</title>
<link>https://story.cilacap.info</link>
<width>32</width><height>32</height><description>Info Kisah Menarik</description>
</image>
	<item>
		<title>Habib Ahmad Bafaqih, Wali Allah Penuh Karomah Dari Tempel Jogja</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-53305/habib-ahmad-bafaqih-wali-allah-penuh-karomah-dari-tempel-jogja</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 May 2023 08:58:25 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Habaib]]></category>
		<category><![CDATA[Jogja]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-53305/habib-ahmad-bafaqih-wali-allah-penuh-karomah-dari-tempel-jogja</guid>

					<description><![CDATA[YOGYAKARTA, CILACAP.INFO &#8211; Edisi Selasa, 09 Mei 2023, Bagi masyarakat di Tempel, Sleman, Habib Ahmad bin Ali Bafaqih begitu dikenal. Bahkan saat haulnya di minggu terakhir bulan Syawal dipastikan selalu ramai didatangi ribuan warga dan peziarah.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>YOGYAKARTA</strong>, <a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Edisi Selasa, 09 Mei 2023, Bagi masyarakat di Tempel, Sleman, Habib Ahmad bin Ali Bafaqih begitu dikenal. Bahkan saat haulnya di minggu terakhir bulan Syawal dipastikan selalu ramai didatangi ribuan warga dan peziarah.</p>
<p>Habib Ahmad Bafaqih adalah putra dari Habib Ali Bafaqih. Dia dikenal sebagai sosok yang tegas. Beliau terlahir dengan keadaan cacat. Dengan keterbatasan fisiknya ini Ahmad Bafaqih sering kali mengalami cacian dan hinaan dari orang-orang sekitarnya.</p>
<p>Hebatnya semua cacian dan hinaan itu dia terima dengan sabar, Ahmad Bafaqih tak pernah membalas cacian itu. Meski dengan keterbatasan fisik maupun kekurangan harta, dia selalu sabar.</p>
<p>Di masa mudanya Ahmad Bafaqih pernah berjualan kecil-kecilan seperti berjualan korek api walaupun hasilnya tidak menguntungkan. </p>
<p>Kondisi kekurangan fisik maupun cobaan lainnya seperti kekurangan harta membuat Ahmad Bafaqih selalu berserah diri kepada Allah SWT. </p>
<p>Konon dengan kesabaran, dan kesucian hati, dia dianugerahi ilmu ladunni. Menurut cerita Ilmu tersebut didapatnya saat sedang berdiam diri di salah satu masjid di Yogyakarta. </p>
<p>Banyak pejabat hingga artis turut mengambil keberkahan beliau. Salah satunya adalah Wakil Presiden RI H Adam Malik yang kemudian membuatkan kubah makam untuk Habib Ahmad Tempel dan ayahandanya.</p>
<p>Banyak cerita yang menyebut karamah beliau. Salah satu kisah yang beredar adalah beliau tahu berita terbaru padahal tak membaca koran, mendengarkan radio ataupun menonton televisi.</p>
<p>Beliau juga dikatakan telihat berhaji di Mekkah padahal beliau saat itu tak pergi kemana-mana.</p>
<p>Selain itu banyak orang yang sakit menjadi sembuh dengan izin Allah melalui karamah Habib Ahmad Tempel. Salah satu cerita yang beredar adalah saat Adam Malik diberitakan sakit.</p>
<p>Oleh tim medis kepresidenan dan tim medis dari luar negeri menyatakan bahwa beliau mengidap suatu penyakit yang sulit disembuhkan. </p>
<p>Kemudian keluarga Adam Malik mengundang Habib Ahmad Bafaqih ke Jakarta bersama Habib Muhammad menantu beliau. Usai Adam Malik dirajah oleh Habib Ahmad Bafaqih, penyakit Adam Malik sembuh total. </p>
<p>Kini dakwah Habib Ahmad Bafaqih Tempel diteruskan di antaranya oleh putra beliau, Habib Umar bin Ahmad Bafaqih (Sokaraja), Habib Ali bin Ahmad Bafaqih (Jogjakarta), kemudian oleh habib Muhammad Hamid Bafaqih (menantu dan juru kunci makam), Habib Husein bin Abdullah Assegaf (Sedayu, Jogja) dan Habib Zein Magelang.</p>
<p>Sedangkan di Kalsel, murid beliau yang terkenal adalah Guru Haji Asmuni (Guru Danau).</p>
<p>Diantara ijazah wirid dari Habib Ahmad Tempel adalah, &#8220;Jika kita ada hajat khusus hendaklah membaca Allahumma shalli ‘ala sayyidina muhammadin wa ‘ala aali sayyidina muhammad,&#8221; sebanyak 124 kali bisa dicicil maksimal dalam jangka 40 hari.</p>
<p>Habib Ahmad Tempel sebenarnya wafat pada bulan Sya’ban. Sedangkan haul Ahad terakhir bulan Syawwal adalah haul ayahandanya, yakni Habib Ali bin Ahmad Bafaqih.</p>
<p>Karena haul Ahad terakhir bulan Syawwal sudah berlangsung sejak jaman Habib Ahmad Tempel hidup, maka waktu haul ini tetap dipertahankan di Kemusuh.</p>
<p>Acara puncak haul beliau sendiri terdiri dari 2 sesi, malam Ahad ziarah kubra dan tahlil sedangkan Ahad Shubuh Maulid Nabi SAW. (***)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2023/05/09/Habib-Ahmad-Bafaqih-Tempel-Jogja.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[Habib Ahmad Bafaqih Tempel Jogja]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2023/05/09/Habib-Ahmad-Bafaqih-Tempel-Jogja-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[Habib Ahmad Bafaqih Tempel Jogja]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Redaktur GMNU Cyber Team: Joko Tingkir adalah Wali Allah dan Keturunan Rasulullah</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-49349/redaktur-gmnu-cyber-team-joko-tingkir-adalah-wali-allah-dan-keturunan-rasulullah</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Huda]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Aug 2022 02:24:26 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Jaka Tingkir]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-49349/redaktur-gmnu-cyber-team-joko-tingkir-adalah-wali-allah-dan-keturunan-rasulullah</guid>

					<description><![CDATA[CILACAP.INFO &#8211; Redaktur GMNU Cyber Team sekaligus founder Cilacap.info, Bahtiar menyoroti sebuah lagu dangdut yang tengah viral yang dalam judul dan isinya terdapat nama Joko Tingkir.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Redaktur GMNU Cyber Team sekaligus founder Cilacap.info, Bahtiar menyoroti sebuah lagu dangdut yang tengah viral yang dalam judul dan isinya terdapat nama Joko Tingkir.</p>
<p>Pegiat Media Sosial yang diminta untuk mengelola laman Islampers.com sebagai laman Official GMNU, terlihat Bahtiar mempublish nasab Joko Tingkir.</p>
<p>Saat dikonfirmasi, Bahtiar mengatakan bahwa lagu dangdut berjudul &#8220;Joko Tingkir Ngombe Dawet&#8221; ini memang kerap distel oleh anak-anak muda dan mudah dijumpai serta didengar di mana-mana.</p>
<p>&#8220;Saya manut ulama saja lah, jika ada Ulama NU dan Masyarakat menyatakan keberatan dengan lagu yang membawa-bawa nama Joko Tingkir, saya sebagai warga Nahdliyin tentu akan ikut beliau-beliau (Ulama) dan Masyarakat, adapun jika Masyarakat dan Ulama keberatan, itu artinya masyarakat dan Ulama sangat menghormati sosok Joko Tingkir, karena Joko Tingkir ini bukanlah orang sembarangan, Beliau adalah Wali Allah, sehingga nama beliau sangat sakral dan harus dimuliakan.&#8221; Kata Bahtiar.</p>
<p>Ia menceritakan bahwa Joko Tingkir bukanlah tokoh fiksi yang hanya diceritakan dalam sebuah buku kisah-kisah dan film-film, melainkan Beliau ini Sosok yang nyata dan merupakan Ulama dan Cucu Rasulullah SAW.</p>
<p>&#8220;Joko Tingkir ini tokoh nyata, bukan tokoh fiksi yang kemudian difilmkan, beliau merupakan Ulama dan keturunan Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi Wasallam yang juga diketahui bahwa Beliau adalah murid dari Kanjeng Sunan Kalijaga. Beliau memiliki 40 Karomah.&#8221; Kata Bahtiar.</p>
<p>Bahtiar menjelaskan ia mengetahui berdasarkan apa yang dikatakan oleh KH Abdurrahman Wahid dalam syiir Sigro Milir dalam suatu tayangan youtube yang dipublish pada tahun 2003 saat Beliau (Gus Dur) berceramah dalam acara Maulid Nabi di Gresik Jawa Timur.</p>
<p>&#8220;Saya melihat dalam salah satu kanal di Youtube yang terdapat konten ceramah Almaghfurlah Gus Dur yang tengah menceritakan Joko Tingkir. Jadi, Beliau Almaghfurlah Kiai Haji Abdurrahman Wahid pernah mengatakan tentang isi daripada Syiir Sigro Milir, bahwa menurut Beliau dalam syiir tersebut sebetulnya menceritakan tentang Sultan Hadiwijaya atau Joko Tingkir asal Pajang yang memiliki 40 kesaktian.&#8221; Kata Bahtiar.</p>
<p>Sedangkan, masih lanjut dia, Kesaktian yang dimaksud Gus Dur ini bisa dikatakan dengan Karomah, namun Karomah Wali Allah tidak mungkin diceritakan oleh dirinya sendiri. </p>
<p>&#8220;Kesaktian yang dimiliki oleh orang soleh seperti Raden Joko Tingkir ini biasa disebut oleh masyarakat di Indonesia dengan Karomah. Seorang Wali Allah juga tidak akan mungkin menceritakan tentang Karomahnya sendiri sebab itu merupakan sifat ujub yang justru dijauhi oleh seorang Wali Allah. Akan tetapi karomah itu bisa diketahui oleh orang lain yang kemudian menjadi saksi dan diceritakan kepada Masyarakat. Buktinya kan ada, yang menceritakan kisah karomah Joko Tingkir justru orang lain seperti yang terdapat dalam syiir Sigro Milir.&#8221; Terang Bahtiar.</p>
<p>Sementara terkait orang sakti yang ngaku-ngaku wali di era teknologi, Bahtiar mengatakan jangan dipercaya.</p>
<p>&#8220;Orang yang membicarakan di mana-mana di internet bahwa dirinya memiliki karomah yang diberikan Tuhan, pamer akrobat kebal meski entah itu benar atau tidak, itu jelas bukan wali tapi orang cari cuan untuk memperkaya diri.&#8221; Ujar Bahtiar.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/08/13/joko-tingkir-by-topo-pinterest.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[joko tingkir by topo pinterest]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/08/13/joko-tingkir-by-topo-pinterest-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[joko tingkir by topo pinterest]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Syekh Nahrawi Al-Banyumasi, Mursyid Tarekat Syadziliyah asal Purbalingga</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-49066/syekh-nahrawi-al-banyumasi-mursyid-tarekat-syadziliyah-dan-pengarang-kitab-di-hijaz-asal-purbalingga</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Aji Setiawan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 Jul 2022 11:52:26 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Purbalingga]]></category>
		<category><![CDATA[Syekh Nahrowi al-Banyumasi]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-49066/syekh-nahrawi-al-banyumasi-mursyid-tarekat-syadziliyah-dan-pengarang-kitab-di-hijaz-asal-purbalingga</guid>

					<description><![CDATA[PURBALINGGA, CILACAP.INFO &#8211; Syekh Nahrawi Al-Banyumasi, Beliau adalah Mursyd Tarekat Syadziliyah dan Pengarang Kitab di Hijaz yang berasal dari Purbalingga.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PURBALINGGA</strong>, <a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Syekh Nahrawi Al-Banyumasi, Beliau adalah Mursyd Tarekat Syadziliyah dan Pengarang Kitab di Hijaz yang berasal dari Purbalingga.</p>
<p>Syekh Nahrawi Al-Banyumasi adalah seorang ulama asal Indonesia yang sangat mahsyur di tanah Arab. Beliau lahir di Purbalingga pada tahun 1860. Nama aslinya adalah Kiai Mukhtarom.</p>
<p>Kemudian tafa’ulan kepada gurunya sehingga namanya menjadi Nahrawi. Nama lengkap beliau adalah &#8220;Ahmad Nahrawi Mukhtarom bin Imam Raja Al-Banyumasi Al-Jawi&#8221;.</p>
<p>Biografinya terdapat di kitab A’lamul Makiyyin yang ditulis oleh Syekh Abdullah Muallimi. Ada di entri nomor 1431 halaman 964,&#8221; ujar penulis buku Mahakarya Islam Nusantara itu.</p>
<p>Syekh Nahrawi wafat pada tahun 1926 pada usia 86 tahun dan dimakamkan Ma’la di Makkah. Meski demikian kiprah dakwahnya di tanah air tidak pernah terputus. Dakwah terus bersambung dilanjutkan keluarganya di Purbalingga.</p>
<p>Masa kecil Nahrowi dilewatinya dengan belajar Al-Qur’an dan ilmu agama kepada ayahnya, Kyai Haji Harja Muhammad yang juga dikenal dengan Imam Masjid Darussalam Purbalingga.</p>
<p>Syekh Nahrawi dan saudaranya, Kyai Haji Abu ‘Ammar melanjutkan pembelajaran di Makkah. Saat itu, usia Syekh Nahrawi baru 10 tahun.</p>
<p>Namun, Syekh Nahrawi telah memperoleh surat izin mengajar di Masjidil Haram karena ketekunannya dalam mencari ilmu. Beliau bahkan sempat menjadi seorang hakim agung.</p>
<p>Saat itu juga Makkah menjadi pusat peradaban ilmu dengan guru-guru ulama yang sangat mumpuni seperti Syekh Muhammad al-Maqri a-Mishri al-Makki, Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasballah, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, mufti madzab Syafi’iyah di Makkah, Syekh Ahmad An-Nahrawi al-Mishri al-Makki,  Sayyid Muhammad Shalih al-Zawawi al-Makki, salah seorang guru di Masjid Nabawi dan lain-lain.</p>
<p>Sejak itu, Syekh Nahrawi tidak kembali ke Nusantara. Beliau memilih berkarier di Makkah dan guru yang ulung. Berbeda dengan sang kakak, Abu ‘Ammar. Ia pulang ke tanah air dan menjadi Imam Masjid Agung Purbalingga.</p>
<p>Kyai Haji Abu ‘Ammar  pulang dari Makkah langsung menghidupkan dan memakmurkan Masjid Agung Purbalingga. Masjid tersebut merupakan peninggalan Mbah Abu ‘Ammar dan keluarganya. Sebab, tanah wakaf itu atas nama Kyai Haji Hardja Muhammad yang tidak lain adalah ayah Mbah Abu ‘Ammar .</p>
<p>Kyai Haji Abu ‘Ammar  juga dikenal dengan kelapangan dan luwes dalam bergaul. Hal itu dibuktikan dengan kedekatan Mbah Abu ‘Ammar  dengan tokoh lintas organisasi, seperti Kyai Haji Hasyim Asy’ari (NU) dan Kiai Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) pernah datang dan berdiskusi di Masjid Kauman semasa Mbah Abu ‘Ammar.</p>
<p>Bahkan Syekh Syurkati, pendiri Al Irsyad Al Islamiyah dari Makkah dikabarkan juga pernah bertandang. Kyai Haji Abu ‘Ammar  adalah seorang intelektual muslim yang sangat disegani tidak saja pada regional Banyumas akan tetapi juga nasional.</p>
<p>Kancah KH. Abu ‘Ammar di tingkat nasional bisa ditelusur ketika berteman akrab dengan seorang hakim Belanda yang sangat terkenal yaitu Prof. Terrhar.</p>
<p>Diskusi yang intens Kyai Haji Abu ‘Ammar  ini dengan Terrhar ini kemudian memunculkan perlunya sebuah peradilan bagi kaum inderland tersendiri yang terpisah dengan landrat yang ada ketika itu.</p>
<p>Peradilan ini hanya diberlakukan buat kaum inderlands yang berhubungan dengan hukum-hukum perdata (Begerlijc Wetbook). Sektor yang diurus oleh peradilan ini meliputi pernikahan, perceraian, hukum waris. Peradilan ini kemudian dikenal dengan Pengadilan Agama.</p>
<p>Peradilan agama ini telah berkembang sekarang sampai keseluruh persada nusantara. Dalam sejarah peradilan di Indonesia, pengadilan agama ini telah menjadi salah satu dari empat peradilan di Indonesia.</p>
<p>Pengadilan Agama telah sama kedudukannya dengan pengadilan umum serta di bawah satu atap Mahkamah Agung. Bahkan kewenangan Pengadilan Agama kini telah meluas tidak saja hal-hal yang berkenaan dengan hukum Perdata tapi juga menerima sengketa pidana yang bersifat syariah.</p>
<p><strong>Menjadi Guru di Makkah</strong></p>
<p>Sementara Syekh Ahmad Nahrowi Mukhtarom Al Banyumasi tidak mau pulang ke tanah Jawa. Bahkan oleh Pemerintah Saudi Syekh Ahmad Nahrowi Mukhtarom diangkat menjadi guru mengajar santri dari berbagai Negara.</p>
<p>Beliau Banyak mempunyai murid dan bahkan menjadi hakim agung di Arab Saudi (lihat; Islam transformasi; Azyumardi Azra; Gramedia; 1997).</p>
<p>Tidak satupun pengarang kitab di Haromain; Makkah-Madinah, terutama ulama-ulama yang berasal dariIndonesia yang berani mencetak kitabnya sebelum ada pengesahan dari Syekh Ahmad Nahrowi Mukhtarom Al Banyumasi.</p>
<p>Sehingga bisa dipastikan waktu Syekh Ahmad Nahrowi Mukhtarom al Banyumasi ini habis untuk mengkoreksi, mengedit dan mentahshih ratusan kitab karya ulama-ulama Nusantara yang pada waktu itu terkenal sangat produktif menulis karya.</p>
<p>Seperti Syekh Mahfudz Al Tremasi, Syekh Soleh Darat, Syekh  Nawawi Al-Bantani, Syekh Kholil Al Bangkalani, Syekh Junaid Al Batawi  dan lain-lain. Syekh Nahrowi iabaratnya adalah editor handal dari kitab-kitab klasik ulama-ulama Nusantara pada masa itu.</p>
<p>Syekh Nahrawi banyak mengoreksi ratusan kitab karya ulama-ulama Nusantara seperti Syekh Mahfudz Al Tremasi dan Syekh Nawawi Al Bantani.</p>
<p>Kala itu, para pengarang kitab, terutama yang berasal dari Indonesia, enggan mencetak karyanya sebelum diberi rekomendasi atau taqrizh oleh Syekh Nahrawi.</p>
<p>Beberapa karya tersebut adalah Fathul Majid Syarh Jauharatut Tauhid karya Syekh Husain bin Umar Palembang dan fatwa Al-Ajwibatul Makkiyah ‘alal As’ilatil Jawiyyah oleh Syekh Abdullah bin Abdurrahman Siraj.</p>
<p>Nah, menurut Syekh Nahrawi, kitab yang ditulis Syekh Abdullah berisi jawaban atas beragam persoalan di Nusantara seperti tradisi tahlil, mauludan, dan ziarah kubur.</p>
<p>pada Juli 2017 lalu, Komunitas Pegon di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Tengah menemukan karya tulis Syekh Nahrawi. Karya tersebut ditemukan saat mereka memeriksa kardus-kardus berisi kitab peninggalan Kiai Faqih Cemoro.</p>
<p>Kitab sepanjang delapan halaman itu merupakan catatan atau taqliq dari Risalah Iti’arat karya Syekh Ahmad bin Zaini Dahlan Al-Makki, seorang mufti Mekah yang menjadi guru Syekh Nahrawi.</p>
<p><strong>Menjadi Mursyid Thariqah</strong></p>
<p>Selain mengasas kitab, Syekh Ahmad Nahrowi juga menjadi Mursyid Thariqah Syadziliyah. Thariqah Syadziliyah muncul secara Besar-besaran di tanah Jawa baru di abad 19 ketika para santri Jawa yang sebelumnya berbondong-bondong belajar di Makkah dan Madinah pulang ke tanah air</p>
<p>Generasi awal adalah KH. Idris, pendiri Pesantren Jamsaren, Solo, yang mendapatkan ijazah kemursyidannya dari Syekh Muhammad Shalih, seorang mufti Madzhab Hanafi di Makkah.</p>
<p>Sementara guru-guru mursyid Syadziliyyah Jawa yang lain belajar pada generasi sesudah Syekh Shalih, yakni Syekh Ahmad Nahrawi Mukhtarom yang seangkatan dengan Kyai Idris Jamsaren saat berguru kepada Syekh Muhammad Shalih.</p>
<p>Ulama-ulama Jawa yang berguru thariqah Syekh Nahrowi antara lain KH. Muhammad Dalhar Watucongol, Muntilan, dan Kiai Siroj, Payaman, Magelang; KH. Ahmad Ngadirejo, Klaten; Kiai Abdullah bin Abdul Muthalib, Kaliwungu, Kendal; dan Syekh Abdul Malik, Kedungparuk Mersi, Purwokerto, Banyumas.</p>
<p>Dari Mbah Dalhar, ijazah kemursyidan itu turun kepada putranya KH. Ahmad Abdul Haqq (Mbah Mad Watucongol), Abuya Dimyathi (Cidahu, Pandeglang) dan Kiai Iskandar (Salatiga).</p>
<p>Perlu diketahui, Thariqah Syadziliyyah adalah thariqah yang didirikan oleh Syekh Abu al-Hasan Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar Asy-Syadzili Al Hasany, ulama kelahiran Ghamarah.</p>
<p>Yakni sebuah kampung di wilayah al-Maghrib al-Aqsha yang sekarang dikenal dengan Maroko. Beliau lahir pada tahun 593 H (1197 M) dan wafat di Humaitsara, Mesir pada tahun 656 H (1258M)</p>
<p>Beliau adalah seorang sufi pengembara yang mengajarkan bersungguh-sungguh dalam berdzikir dan berfikir di setiap waktu, tempat dan keadaan untuk mencapai fana’ (ketiadaan diri di hadapan Allah).</p>
<p>Beliau juga mengajarkan bersikap zuhud pada dunia dan iqbal (perasaan hadir di hadapan Allah). Beliau mewasiatkan agar para muridnya membaca kitab Ihya’ Ulumuddin dan kitab Qutul Qulub.</p>
<p>Peringatan Haul Syekh Ahmad Nahrowi berlangsung meriah. Puluhan ribu orang tumpah ruah di Alun-Alun Purbalingga, Sabtu (26/6) malam melepas kerinduan atas kehadiran Maulana Habib Luthfi bin Yahya dalam gelaran Haul Akbar Syech Nahrowi Muhtarom Al Banyumasi.</p>
<p>Haul ini digelar kali pertama untuk mengenalkan kembali bahwa Purbalingga pernah melahirkan ulama besar bertaraf internasional, Sayyid Syekh Ahmad Nahrowi Muhtarom Al-Banyumasi Al Makky.</p>
<p>la asal Purbalingga dan hijrah ke Makkah. Kiprahnya sebagai guru para santri dari berbagai negara, sempat menjadi hakim agung dan korektor kitab-kitab yane ditulis para ulama</p>
<p>&#8220;Umat Islam di Indonesia khususnya Purbalingga punya kebanggaan yang luar biasa. Karena Purbalingga telah melahirkan Syekh Nahrowi mewarnai keintelektualannya, keilmuannya dan seorang guru thoriqoh yang tinggal di Masjidil Haram,&#8221; katanya.</p>
<p>Rangkaian haul sendiri sudah berlangsung sejak jumat, dengan Karnaval seni dan dialog kebangsaan di Hotel Braling.</p>
<p>Puncak acara dengan tabligh Akbar dengan menghadirkan Habib Luthfy dan dimeriahkan penampilan Musthafa (Band Debu)(***)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/07/17/Maulana-Habib-Luthfi-saat-menghadiri-Haul-Syekh-Nahrawi-al-Banyumasi.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[Maulana Habib Luthfi saat menghadiri Haul Syekh Nahrawi al Banyumasi]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/07/17/Maulana-Habib-Luthfi-saat-menghadiri-Haul-Syekh-Nahrawi-al-Banyumasi-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[Maulana Habib Luthfi saat menghadiri Haul Syekh Nahrawi al Banyumasi]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Peran NU dalam Persiapan dan Pasca Kemerdekaan NKRI</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-31079/peran-nu-dalam-persiapan-dan-pasca-kemerdekaan-nkri</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 14 Aug 2020 17:36:41 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Nusantara]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-31079/peran-nu-dalam-persiapan-dan-pasca-kemerdekaan-nkri</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Aji Setiawan &#8211; Peran dan kontribusi Nahdatul Ulama (NU) sangat besar dalam sejarah perjuangan bangsa, baik sebelum maupun setelah kemerdekaan, terutama dalam pemberdayaan masyarakat.NU juga mempunyai kedekatan hubungan dengan Presiden RI yang pertama, Soekarno. Pada Muktamar Alim Ulama se- Indonesia tahun 1953 di Cipanas, diputuskan untuk memberi gelar kepada Soekarno sebagai Waliyul Amri Dharuriy bis-Syawkah (Pemimpin Pemerintahan yang berkuasa dan wajib ditaati).Bila dipandang dari sudut nasionalisme, NU dan Soekarno selalu menempatkan kepentingan nasional, kepentingan bangsa di atas kepentingan orang-perorang, kelompok atau golongan. Dukungan NU kepada Bung Karno juga dicatat dalam sejarah dengan dikeluarkannya Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 di bawah komando KH. Hasyim Asy`ari yang mewajibkan segenap umat Islam, khususnya warga NU untuk berperang melawan sekutu. ]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Aji Setiawan &#8211; Peran dan kontribusi Nahdatul Ulama (NU) sangat besar dalam sejarah perjuangan bangsa, baik sebelum maupun setelah kemerdekaan, terutama dalam pemberdayaan masyarakat.NU juga mempunyai kedekatan hubungan dengan Presiden RI yang pertama, Soekarno. Pada Muktamar Alim Ulama se- Indonesia tahun 1953 di Cipanas, diputuskan untuk memberi gelar kepada Soekarno sebagai Waliyul Amri Dharuriy bis-Syawkah (Pemimpin Pemerintahan yang berkuasa dan wajib ditaati).Bila dipandang dari sudut nasionalisme, NU dan Soekarno selalu menempatkan kepentingan nasional, kepentingan bangsa di atas kepentingan orang-perorang, kelompok atau golongan. Dukungan NU kepada Bung Karno juga dicatat dalam sejarah dengan dikeluarkannya Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 di bawah komando KH. Hasyim Asy`ari yang mewajibkan segenap umat Islam, khususnya warga NU untuk berperang melawan sekutu. </p>
<p>Keterlibatan NU untuk memperjuangkan berdirinya Republik berkobar ketika Jepang datang menggantikan penjajah Belanda pada tahun 1942.</p>
<p>Penguasa Jepang sejak awal lebih condong bekerja sama dengan para pemimpin Islam, ketimbang pemimpin tradisional atau pemimpin nasionalis. Kecondongan ini terjadi karena Jepang menganggap para kyai yang memimpin pesantren merupakan pendidikan masyarakat pedesaan, sehingga dapat dijadikan alat propaganda yang efektif. Sebagai imbalannya para pemimpin Islam diberi kemudahan dalam urusan keagamaan. Kecondongan Jepang yang seperti itu tidak diabaikan oleh NU.</p>
<p>Alasannya bukan karena mau dijadikan sebagai propagandis melainkan untuk memanfaatkan kesempatan untuk mensosialisasikan keinginan untuk merdeka. Ketika Jepang membentuk kantor urusan agama (shumubu) yang membentuk jaringan langsung para kyai pedesaan dan memberi pelatihan terhadap para kyai dengan mengajarkan sejarah, kewarganegaraan, olahraga senam dan bahasa Jepang, bukan malah membawa kyai tunduk pada Jepang tetapi sebaliknya, terjadi politisasi di kalangan kyai.</p>
<p>Siasat yang dibuat NU tersebut tercium oleh Jepang. K.H. Hasyim Asyari ditangkap dengan alasan yang tidak jelas. Terjadi kegoncangan di tubuh organisasi NU. Kegoncangan bertambah hebat ketika K.H. Mahfudz Shiddiq ikut ditangkap dengan tuduhan melakukan gerakan anti Jepang. Penangkapan itu terus terjadi pada ulama-ulama lain di Jawa Tengah dan Jawa Barat dengan tuduhan yang sama yakni gerakan anti Jepang. K.H. Wahab Hasbullah mengeliminir kegoncangan yang terjadi dalam NU dengan melakukan lobi ke beberapa pejabat Jepang, seperti Saiko Siki Kan (Panglima tertingi bala tentara Jepang di Jakarta), Gunseikan (Kepala Pemerintahan militer Jepang di Jakarta) dan Shuutyokan (Residen Jepang di Surabaya). Usaha keras K.H. Wahab untuk membebaskan K.H. Hasyim, K.H. Mahfudz Shiddiq dan beberapa kiai lainnya membuahkan hasil dibebaskannya kiai-kiai itu. Usaha untuk pembebasan ini memakan waktu sampai enam bulan.</p>
<p>Untuk memperkuat kekuatan militernya, Jepang membentuk kekuatan sukarela Indonesia yakni Peta yang diikuti banyak orang Indonesia dari berbagai kalangan tak terkecuali umat Islam dan para kiai. Kenapa orang Indonesia mau menjadi Peta, padahal mereka tahu pembentukan Peta dimaksudkan untuk membantu tentara Jepang menghadapi Sekutu yang akan datang ke Jawa? Masuknya banyak orang Indonesia ke Peta lebih karena untuk mengetahui seluk-beluk kemiliteran dan mengangankan mendapat peranan politik yang lebih besar di masa yang akan datang, bukan karena semata ingin membantu Jepang.</p>
<p>Selain itu, pemerintah Jepang akan membubarkan organisasi sosial-politik-keagamaan yang tidak mau diajak bekerja sama, sebaliknya yang masih mau diajak kerja sama akan dikooptasi. MIAI dibubarkan oleh Jepang pada tahun 1943 dan diganti dengan Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) yang menyatakan siap membantu kepentingan Jepang. Hanya NU dan Muhammadiyah yang diperbolehkan secara sah oleh Jepang untuk menjadi anggota Masyumi.</p>
<p>Pada tahun 1944, NU pertama kalinya masuk ke dalam struktur pemerintahan dengan diangkatnya K.H. Hasyim Asyari sebagai Ketua Shumubu (Kantor Urusan Agama). Pada tahun itu juga K.H. Wahid Hasyim berhasil melobi Jepang untuk memberikan pelatihan militer khusus kepada para santri dan mengizinkan mereka membentuk barisan pertahanan rakyat tersendiri yakni Hizbullah dan Sabillilah. Sejak saat itu ormas Islam memiliki pasukan tersendiri. Kaum nasionalis yang netral agama menguasai tentara nasional (Peta) yang dibentuk Jepang.</p>
<p>Baik Peta, Hisbullah ataupun Sabilillah yang diharapkan Jepang bisa membantu Perang Asia Timur Raya, ternyata yang terjadi malah kebalikan, kemampuan ketika komponen ini dipergunakan untuk memukul Jepang. Pada tanggal 7 September 1944, Perdana Menteri Jepang Kuaki Kaiso menjanjikan kemerdekaan kepada Indonesia. Janji itu dilontarkan karena dibeberapa medan pertempuran, Jepang mengalami kekalahan terhadap Sekutu. Janji itu kemudian direspons secara positif oleh Pimpinan Kongres Umat Islam se-Dunia, Syekh Muhammad Amin Al-Husaini dari Palestina mengirimkan surat kepada pemerintahan Jepang melalui Duta Besar berkuasa penuh pemerintah Jepang untuk Jerman. Surat itu juga ditembuskan kepada K.H. Hasyim Asy&#8217;ari (Rais Am Masyumi). Dengan cepat K.H. Hasyim menyelenggarakan rapat khusus Masyumi pada tanggal 12 Oktober 1944, yang menghasilkan resolusi ditujukan kepada pemerintah Jepang.</p>
<p>Resolusi tersebut berisi! pertama, mempersiapkan umat Islam Indonesia agar mampu dan siap menerima kemerdekaan Indonesia dan agama Islam. Kedua, mengaktifkan kekuatan umat Islam Indonesia untuk memastikan terlaksananya kemenangan final dan mengatasi setiap rintangan dan serangan musuh yang mungkin berusaha menghalangi kemajuan kemerdekaan Indonesia dan agama Islam. Ketiga, bertempur dengan sekuat tenaga bersama Jepang Raya di jalan Allah untuk mengalahkan musuh. Keempat, menyebarkan resolusi ini kepada seluruh tentara Jepang dan kepada segenap bangsa Indonesia. (Choirul Anam, 1999: 126). Berbagai fasilitas dan kemudahan yang diberikan oleh Jepang dimanfaatkan umat Islam untuk menyadarkan masyarakat akan hak-hak politiknya di masa depan.</p>
<p>Jauh hari sebelum persiapan kemerdekaan dilakukan, NU pada Muktamarnya ke-15 yang diselenggarakan bulan Juni 1942 (muktamar terakhir masa kolonial Belanda) diadakan rapat tertutup yang dihadiri oleh 11 orang ulama yang dipimpin oleh K.H. Mahfudz Shiddiq untuk membicarakan calon yang pantas untuk dijadikan presiden pertama Indonesia. Sebelas tokoh NU menentukan pilihan dua nama yang disebut, yakni Soekarno dan Mohammad Hatta. Para ulama memilih Soekarno banding Hatta dengan perbandingan suara 10:1.</p>
<p>Pembicaraan mengenai calon pemimpin pertama Indonesia itu dilakukan pada saat Indonesia belum bisa memastikan kapan akan merdeka. NU melakukan pembicaraan dini mengenai pemimpin bangsa Indonesia dikarenakan NU menganggap pemimpin itu sangat penting. Ada ajaran (Islam) yang menyebutkan bahwa pemimpin yang lalim masih lebih baik ketimbang tidak ada pemimpin.</p>
<p>Untuk mematangkan persiapan Indonesia menyambut kemerdekaannya, pada tanggal 29 April 1945 dibentuklah Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang anggotanya berjumlah 62 orang diketuai oleh Soekarno dan Mohammad Hatta sebagai wakilnya. Dalam badan itu juga tercantum nama K.H. Wahid Hasyim sebagai anggota. BPUPKI selain menyusun Undang-Undang Dasar (UUD) juga muncul pembicaraan mengenai bentuk negara. Polarisasi pendapat di dalam BPUPKI mengenai bentuk negara! satu pihak menginginkan Indonesia menjadi negara Islam, pihak lainnya menginginkan Indonesia menjadi negara kesatuan nasional yang memisahkan negara dan agama. di BPUPKI inilah Soekarno meletakkan dasar-dasar bakal negara Indonesia.</p>
<p>Sebagian umat Islam menginginkan dibentuknya Negara Islam sehingga memungkinkan dilaksanakannya syariat Islam secara penuh. Menurut Soekarno ada dua pilihan tentang bentuk negara Indonesia yakni persatuan staat-agama tetapi sonder (tanpa) demokrasi atau demokrasi tetapi staat dipisahkan dari agama.</p>
<p>Soekarno condong memilih pilihan yang kedua. Menurutnya, negara demokrasi dengan memisahkan agama dari negara tidak mengabaikan (nilai-nilai) agama. (Nilai-nilai) agama bisa dimasukkan ke dalam hukum yang berlaku dengan usaha mengontrol parlemen, sehingga undang-undang yang dihasilkan parlemen sesuai dengan Islam. Pemikiran Soekarno ini substansialistik yang menginginkan dilaksanakannya ajaran Islam, tetapi tidak setuju terhadap formalisasi ajaran Islam.</p>
<p>Dalam pidatonya tanggal 1 Juni 1945, Soekarno mengusulkan agar negara Indonesia didasarkan pada Pancasila atau lima dasar, yakni! 1) kebangsaan! 2) Internasionalisme, perikemanusiaan! 3) Permusyawaratan, perwakilan, mufakat! 4) Kesejahteraan! 5) Ketuhanan.</p>
<p>Polarisasi di BPUPKI tidak berhenti begitu saja. Perdebatan sengit tentang sila Ketuhanan yang Maha Esa dengan kewajiban melaksanakan syariat agama Islam bagi pemeluk-pemeluknya yang diajukan dalam Piagam Jakarta. Tujuh kata terakhir mendapat tentangan keras dari kelompok nasionalis-sekuler-kristen. Perdebatan ini menurun ketika para pemimpin nasionalis-muslim seperti Wahid Hasyim, Kasman Singodimedjo, dan Bagus Hadikusumo dalam pertemuannya dengan Hatta menjelang sidang PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada tanggal 18 Agustus 1945, sepakat untuk mencabut tujuh kalimat dalam Piagam Jakarta yang menjadi titik sengketa dengan kelompok nasionalis-sekuler-kristen.</p>
<p>Piagam Jakarta adalah hasil rumusan dari tim sembilan anggota PPKI (di dalamnya KH. Wahid Hasyim) yang bertugas merumuskan tentang dasar negara. Sikap ketiga pemimpin nasionalais-muslim tersebut merupakan kelanjutan dari diskusi antara KH. Wahid Hasyim, KH. Masykur (NU) dan Kahar Muzakir (PII) dengan Soekarno pada akhir Mei 1945.</p>
<p>Pasca Proklamasi</p>
<p>Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia ternyata perjuangan masih terus berlanjut. Kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara diliputi ketegangan setelah kekalahan Jepang dari Sekutu. Sekutu yang datang ke Indonesia untuk melakukan pelucutan senjata terhadap Jepang dilihat sebagai musuh yang akan mengembalikan Indonesia ke tangan Belanda kembali. Terbukti tentara Sekutu diboncengi oleh tentara Belanda (NICA). Selama periode 1945-1949, Tentara Nasional dan laskar-laskar rakyat melakukan perlawanan sengit terhadap Sekutu dan Belanda.</p>
<p>Para kiai dan pengikutnya dalam jumlah yang sangat besar sejak awal terlibat aktif dalam perang kemerdekaan. Banyak dari mereka yang tergabung dalam barisan Hizbullah yakni kelompk semi-reguler yang dilatih kemiliteran oleh tentara Jepang. Komandan Hizbullah adalah Zainul Arifin tokoh NU dari Sumatera Utara. Pada saat yang sama laskar-laskar yang terdiri dari kiai desa bersama dengan pengikutnya muncul dengan nama Sabilillah yang dikomandani KH. Masykur, tokoh NU yang kelak menjadi politisi terkenal dan pernah menjabat sebagai Menteri Agama berkali-kali. Pada permulaan tahun 1944 setelah empat bulan Hizbullah terbentuk, seluruh Jawa-Madura dan beberapa daerah di Kalimantan dan Sumatera juga sudah terbentuk. Sabilillah adalah laskar pendamping Hisbullah yang terdiri dari kelompok rakyat non reguler.</p>
<p>Tentara Inggris mendarat pada bulan September 1945 yang menduduki Jakarta atas nama Netherlands Indies Civil Administration (NICA). Pada pertengahan bulan Oktober tentara Jepang merebut kembali beberapa kota di Jawa (Semarang dan Bandung) yang telah jatuh ke tangan Indonesia dan menyerahkan kepada Inggris. Pemerintah Republik Indonesia yang telah diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945 menahan diri untuk tidak melakukan perlawanan dan mengharapkan penyelesaian secara diplomatik. Pemerintah tampaknya menerima saja ketika bendera Belanda dikibarkan di Jakarta. Kondisi dan kenyataan ini membuat para pempimpin Indonesia sangat marah, termasuk para ulama NU.</p>
<p>NU kemudian ikut terlibat aktif dalam perjuangan ini dengan fatwa yang sangat terkenal &#8220;Resolusi Jihad&#8221;. Pada tanggal 21-22 Oktober wakil-wakil cabang NU di seluruh Jawa dan Madura berkumpul di Surabaya dan menyatakan perjuangan kemerdekaan sebagai jihad. Resolusi jihad ini meminta pemerintahan RI mendeklarasikan perang suci dengan Resolusi tentang jihad Fisabilillah.</p>
<p>Isi resolusi Jihad itu adalah,&#8221;berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe Fardloe &#8216;ain (jang harus dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata atau tidak (bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 Km dari tempat masoek dan kedodoekan moesoeh.Bagi orang-orang jadi berada di loear djarak lingkaran tadi, kewadjiban itu djadi fardloe kifayah (jang tjoekoep, kalau dikerdjakan sebagian sadja).Apabila kekoetan dalam no 1 beloem dapat mengalahkan moesoeh, maka orang-orang jang berada diloear djarak lingkaran 94 Km wajib berperang djoega membantoe No 1, sehingga moesoeh kalah. Kaki tangan moesoeh adalah pemedjah teqat dan kehendak ra&#8217;jat, dan haroes dibinasakan, menoeroet hoekoem Islam sabda Chadist, riwajat Moeslim.&#8221;</p>
<p>Resoloesi ini disampaikan kepada: P.J.M Presiden Repoeblik Indonesia dengan perantaraan Delegasi Moe&#8217;tamar! Panglima Tertinggi T.R.I.! M.T. Hizboellah! M.T. Sabilillah dan Ra&#8217;jat Oemoem</p>
<p>Resolusi Jihad sangat berpengaruh besar terhadap umat Islam, khususnya NU. Banyak santri dan pemuda NU ataupun rakyat umum yang kemudian bergabung ke pasukan-pasukan non reguler seperti Hizbullah dan Sabillilah. Pada tanggal 10 Nopember, dua minggu setelah Surabaya kedatangan Inggris (diboncengi Belanda) pecah perang, yang dikenal sebagai perang 10 Nopember 1945.</p>
<p>Banyak santri dan kaum muda NU terlibat aktif dalam perang tersebut. Banyak pejuang-pejuang NU ini &#8216;memakai jimat&#8217; yang diberikan kiai-kiai mereka dipesantren atau di desanya. Bung Tomo yang menggerakkan massa melalui pidato radio, mungkin tidak pernah menjadi santri, tetapi diketahui meminta nasehat kepada K.H. Hasyim Asy&#8217;ari. Perang juga terjadi dibeberapa daerah seperti di Ambarawa dan Semarang.</p>
<p>Dengan Resolusi Jihad dan kritiknya terhadap pemerintahan RI yang dianggap pasif menghadapi serangan kaum agresor penjajah, NU telah menampilkan dirinya sebagai kelompok yang cinta tanah air dengan membangun kekuatan radikal melawan musuh dengan perang. Sikap ini muncul berkali-kali dengan terus mengkritik pemerintah yang menandatangani &#8220;Perjanjian Linggarjati dan Renville&#8221; dengan Belanda. Perubahan sikap NU yang berpegang pada tradisi Sunni, yang kadang bisa moderat dan kadang bisa radikal dipicu oleh sebuah kaidah fikih yang menjadi dasar pegangan keagamaan mereka.</p>
<p>Dalam konteks ini penguasa sah adalah pemimpin-pemimpin RI, walaupun dalam sejarahnya NU juga mengakui pemerintah Hindia Belanda sebagai pemerintah de facto yang sah yang wajib ditaati (walaupun bukan muslim) selama masih memperbolehkan umat Islam menjalankan agamanya. Jepang telah mengakhiri pemerintahan Hindia Belanda, dan ketika Belanda ingin kembali, sebuah pemerintahan pribumi sudah menggantikannya.</p>
<p>Dari sudut pandang ini, Belanda dan sekutunya tidak lain adalah musuh kafir yang harus dilawan. Perang suci menjadi kewajiban agama. Muktamar NU yang pertama setelah perang adalah pada bulan Maret 1946, dan NU kembali mengeluarkan resolusi yang kali ini dikhususkan kepada mereka yang diwajibkan agama untuk ikut serta dalam memperjuangkan mempertahankan Negara Kesatuan Indonesia. (***) Aji Setiawan, mantan Sekretaris PMII Komisariat KH Wachid Hasyim UII Yogyakarta. Penulis tinggal di Purbalingga Jawa Tengah.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/ulama-nuasantara.jpeg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="700"
				height="393">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[ulama nuasantara]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/ulama-nuasantara-100x75.jpeg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[ulama nuasantara]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Jejak Langkah 2 Ulama Pembangun Bangsa</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-28470/jejak-langkah-2-ulama-pembangun-bangsa</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Aji Setiawan]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 30 Jun 2020 21:30:39 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Berita Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kiai Ahmad Dahlan]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Syaikh Hasyim Asy'ari]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-28470/jejak-langkah-2-ulama-pembangun-bangsa</guid>

					<description><![CDATA[CILACAP.INFO &#8211; Nahdlatul Ulama didirikan pada 31 Januari 1926 M atau bertepatan dengan 16 Rajab 1344 H, pada awal berdiri, Hadratussyekh KH Hasyim Asyari menjabat sebagai Rais Akbar dan H Hasan Gipo sebagai Ketua Tanfidziyah.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Nahdlatul Ulama didirikan pada 31 Januari 1926 M atau bertepatan dengan 16 Rajab 1344 H, pada awal berdiri, Hadratussyekh KH Hasyim Asyari menjabat sebagai Rais Akbar dan H Hasan Gipo sebagai Ketua Tanfidziyah.</p>
<p>Dan Muhammadiyah lahir lebih dahulu dari NU, yaitu 18 November 1912 M atau bertepatan dengan 8 Dzulhijjah 1330 H. Muhammadiyah didirikan KH Ahmad Dahlan.</p>
<p>Namun jika kita tilik lagi dalam sejarah berdirinya kedua ormas ini</p>
<p>Awal sebelumnya KH Wahab Chasbullah dan para Kyai pesantren telah mendirikan organisasi pergerakan :</p>
<p>1, Taswirul Afkar (kawah candradimuka pemikiran) atau Nahdlatul Fikr tahun 1914</p>
<p>2, Nahdlatul Wathon atau Kebangkitan Tanah Air pada 1916</p>
<p>3, Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Saudagar) tahun 1918.</p>
<p>Namun hal yang paling mendasar pada pembentukan organisasi NU sendiri berangkat dari adanya Komite Hijaz yang dibentuk oleh Kyai Wahab Chasbullah untuk menggagalkan pembongkaran makam Rosulullah SAW di Makkah.</p>
<p>Pembentukan Komite Hijaz yang akan dikirim ke Muktamar Dunia Islam, hal ini telah mendapat restu KH Hasyim Asy’ari.</p>
<p>Maka pada 31 Januari 1926, Komite Hijaz mengundang ulama terkemuka untuk mengadakan pembicaraan mengenai utusan yang akan dikirim ke Muktamar di Mekkah.</p>
<p>Para ulama dipimpin KH Hasyim Asy’ari datang ke Kertopaten, Surabaya dan sepakat menunjuk KH Raden Asnawi Kudus sebagai delegasi Komite Hijaz.</p>
<p>Namun setelah KH Raden Asnawi terpilih, timbul pertanyaan siapa atau institusi apa yang berhak mengirim Kiai Asnawi?</p>
<p>Maka lahirlah Jam’iyah Nahdlatul Ulama (nama ini atas usul KH Mas Alwi bin Abdul Aziz) pada 16 Rajab 1344 H yang bertepatan dengan 31 Januari 1926 M.</p>
<p>Dengan kata lain, NU adalah lanjutan dari komunitas dan organisasi-organisasi yang telah berdiri sebelumnya, namun dengan cakupan dan segmen yang lebih luas.</p>
<p>Organisasi Muhammadiyah sendiri pada mulanya diusulkan oleh kerabat dan sekaligus sahabat Kyai Ahmad Dahlan yang bernama Muhammad Sangidu, seorang Ketib Anom Kraton Yogyakarta dan tokoh pembaruan yang kemudian menjadi penghulu Kraton Yogyakarta, yang kemudian diputuskan Kyai Dahlan setelah melalui salat istikharah.</p>
<p>Pada masa kepemimpinan Kyai Dahlan (1912-1923), pengaruh Muhammadiyah terbatas di karesidenan-karesidenan seperti: Yogyakarta, Surakarta, Pekalongan, dan Pekajangan, sekitar daerah Pekalongan sekarang.</p>
<p>Selain Yogya, cabang-cabang Muhammadiyah berdiri di kota-kota tersebut pada tahun 1922, tahun 1925 Abdul Malik Karim Amrullah membawa Muhammadiyah ke Sumatra Barat dengan membuka cabang di Sungai Batang, Agam.</p>
<p>Dalam tempo yang relatif singkat, arus gelombang Muhammadiyah telah menyebar ke seluruh Sumatra Barat, dan dari daerah inilah kemudian Muhammadiyah bergerak ke seluruh Sumatra, Sulawesi, dan Kalimantan. Pada tahun 1938, Muhammadiyah telah tersebar ke seluruh Indonesia.</p>
<p>Merunut kepada silsilah beliau, melalui Sunan Giri (Raden Ainul Yaqin) KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan memiliki garis keturunan yang sama sampai dengan Rasulullah dengan urutan lanjutan sebagai berikut:</p>
<p>KH Hasyim Asy&#8217;ari</p>
<p>Maulana Iskhaq
Sunan Giri (Raden Ainul Yaqin)
Abdurrohman / Jaka Tingkir (Sultan Pajang)
Abdul Halim (Pangeran Benawa)
Abdurrohman (Pangeran Samhud Bagda)
Abdul Halim
Abdul Wahid
Abu Sarwan
KH. Asy’ari (Jombang)
KH. Hasyim Asy’ari (Jombang)</p>
<p>Silsilah KH. Ahmad Dahlan</p>
<p>Maulana Iskhaq
Sunan Giri I (Prabu Satmata), salah seorang anggota wali songo
Sunan Giri II (Sunan Dalem)
Pangeran Kedhanyang (Ki Ageng Gribig I
Ki Ageng Gribig II
Ki Ageng Gribig III
Ki Ageng Gribig IV
Demang Jurang Juru Sapisan
Demang Jurang Juru Kapindo
Kyai Ilyas
Kyai Murtadha
Kyai Muhammad Sulaiman
Kyai Abu Bakar
KH Ahmad Dahlan</p>
<p>Adapun Persamaan dan Perbedaan antara kedua Pendiri Organisasi NU dan Muhammadiyah</p>
<p>Persamaan</p>
<p>1. Masih satu nasab yang sama berujung pada Sunan Giri
2. Masih satu sanad keilmuan baik dalam belajar ilmu agama ataupun ilmu ilmu yang lainya dan tentu saja pada amaliah masing masing Pendiri Organisasi baik NU dan Muhammadiyah.</p>
<p>Perbedaan</p>
<p>NU pada awalnya lebih menekankan pendidikan non formal atau pesantren untuk formal kurang penekanan
Muhammadiyah lebih menekankan pendidikan formal dengan mendirikan sekolah sekolah dan lainnya untuk pesantren kurang ditekankan.</p>
<p>Namun dalam hal organisasi Muhammadiyah dengan NU lebih dulu Muhammadiyah 1912 mendapat legalitas organisasi, sedang NU ada di belakang Muhammadiyah karena organisasi NU harus melalui proses hingga nama organisasi NU mendapat legalitas.</p>
<p>Wallahu&#8217;allambishowab..</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2020/07/16/Kiai-Ahmad-Dahlan-dan-Kiai-Hasyim-Asyari.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[Kiai Ahmad Dahlan dan Kiai Hasyim Asyari]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2020/07/16/Kiai-Ahmad-Dahlan-dan-Kiai-Hasyim-Asyari-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[Kiai Ahmad Dahlan dan Kiai Hasyim Asyari]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Syaikh Abdul Malik al Banyumasi Sesepuh Mursyid Naqsabandiyah Khalidiyah Tanah Jawa</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-28047/syaikh-abdul-malik-al-banyumasi-sesepuh-mursyid-naqsabandiyah-khalidiyah-tanah-jawa</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Aji Setiawan]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 19 Jun 2020 12:18:10 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Banyumas]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-28047/syaikh-abdul-malik-al-banyumasi-sesepuh-mursyid-naqsabandiyah-khalidiyah-tanah-jawa</guid>

					<description><![CDATA[BANYUMAS, CILACAP.INFO &#8211; Syaikh Abdul Malik al Banyumasi, Ia adalah sosok ulama yang cukup disegani di Banyumas Jawa Tengah. Syaikh Abdul Malik semasa hidupnya memegang dua thariqah besar (sebagai mursyid) yaitu:]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>BANYUMAS</strong>, <a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Syaikh Abdul Malik al Banyumasi, Ia adalah sosok ulama yang cukup disegani di Banyumas Jawa Tengah. Syaikh Abdul Malik semasa hidupnya memegang dua thariqah besar (sebagai mursyid) yaitu:</p>
<p>Thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah dan Thariqah Asy-Syadziliyah. Diketahui Asy-Syaikh Abdul Malik lahir di Kedung Paruk, Purwokerto, pada hari Jum&#8217;at 3 Rajab 1294 H (1881).</p>
<p>Nama kecilnya adalah Muhammad Ash&#8217;ad sedang nama Abdul Malik diperoleh dari ayahnya, KH Muhammad Ilyas ketika ia menunaikan ibadah haji bersamanya.</p>
<p>Sejak kecil Asy-Syaikh Abdul Malik telah memperoleh pengasuhan dan pendidikan secara langsung dari kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya yang ada di Sokaraja, Banyumas terutama dengan KH Muhammad Affandi.</p>
<p>Sang ayah adalah KH Muhammad Ilyas bin H Aly Dipowongso. Syaikh Muhammad Ilyas trukah berdakwah di wilayah eks Karsidenan Banyumas di mulai dari grumbul Kedungparuk sekembalinya dari menuntut ilmu selama puluhan tahun di Mekkah.</p>
<p>Guru Ilyas demikian nama yang lebih dikenal dilahirkan di Kedung Paruk sekitar tahun 1186 H/1765 M dari seorang Ibu bernama Siti Zaenab binti Maseh bin KH Abdussamad (Mbah Jombor).</p>
<p>Guru Ilyas mulai menyebarkan luaskan thariqah naqsabandiyah khalidiyah sesuai tugas dan amanah gurunya yakni Syaikh Sulaiman Zuhdi Al Makki sekitar tahun 1246 H/1825 M pada usia 60 tahun.</p>
<p>Setelah belajar Al-Qur&#8217;an dengan ayahnya, Asy-Syaikh Abdul Malik kemudian mendalami kembali Al-Qur&#8217;an kepada KH Abu Bakar bin H Yahya Ngasinan (Kebasen, Banyumas).</p>
<p>Pada tahun 1312 H, ketika Syaikh Abdul Malik sudah menginjak usia dewasa, oleh sang ayah, ia dikirim ke Mekkah untuk menimba ilmu agama.</p>
<p>Di sana ia mempelajari berbagai disiplin ilmu agama di antaranya ilmu Al-Qur&#8217;an, tafsir, Ulumul Qur&#8217;an, Hadits, Fiqh, Tasawuf dan lain-lain.</p>
<p>Asy-Syaikh Abdul Malik belajar di Tanah suci dalam waktu yang cukup lama, kurang lebih selama limabelas tahun.</p>
<p>Dalam ilmu Al-Qur&#8217;an, khususnya ilmu Tafsir dan Ulumul Qur&#8217;an, ia berguru kepada Sayid Umar Asy-Syatha&#8217; dan Sayid Muhammad Syatha&#8217; (putra penulis kitab I&#8217;anatuth Thalibin hasyiyah Fathul Mu&#8217;in).</p>
<p>Dalam ilmu hadits, ia berguru Sayid Tha bin Yahya Al-Magribi (ulama Hadramaut yang tinggal di Mekkah), Sayid Alwi bin Shalih bin Aqil bin Yahya, Sayid Muhsin Al-Musawwa, Asy-Syaikh Muhammad Mahfudz bin Abdullah At-Tirmisi.</p>
<p>Dalam bidang ilmu syariah dan thariqah alawiyah ia berguru pada Habib Ahmad Fad&#8217;aq, Habib Aththas Abu Bakar Al-Attas, Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi (Surabaya), Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas (Bogor), Kyai Soleh Darat (Semarang).</p>
<p>Sementara itu, guru-gurunya di Madinah adalah Sayid Ahmad bin Muhammad Amin Ridwan, Sayid Abbas bin Muhammad Amin Ridwan, Sayid Abbas Al Maliki Al-Hasani (kakek Sayid Muhammad bin Alwi Al Maliki Al-Hasani), Sayid Ahmad An-Nahrawi Al Makki, Sayid Ali Ridha.</p>
<p>Setelah sekian tahun menimba ilmu di Tanah Suci, sekitar tahun 1327 H, Asy-Syaikh Abdul Malik pulang ke kampung halaman untuk berkhidmat kepada keduaorang tuanya yang saat itu sudah sepuh (berusia lanjut).</p>
<p>Kemudian pada tahun 1333 H, sang ayah, Asy Syaikh Muhammad Ilyas berpulang ke Rahmatullah. </p>
<p>Sesudah sang ayah wafat, Asy-Syaikh Abdul Malik kemudian mengembara ke berbagai daerah di Pulau Jawa guna menambah wawasan dan pengetahuan dengan berjalan kaki.</p>
<p>Ia pulang ke rumah tepat pada hari ke- 100 dari hari wafat sang ayah, dan saat itu umur Asy Syaikh berusia tiga puluh tahun.</p>
<p>Sepulang dari pengembaraan, Asy-Syaikh tidak tinggal lagi di Sokaraja, tetapi menetap di Kedung Paruk bersama ibundanya, Nyai Zainab.</p>
<p>Perlu diketahui, Asy-Syaikh Abdul Malik sering sekali membawa jemaah haji Indonesia asal Banyumas dengan menjadi pembimbing dan syaikh.</p>
<p>Mereka bekerja sama dengan Asy-Syaikh Mathar Mekkah, dan aktivitas itu dilakukan dalam rentang waktu yang cukup lama.</p>
<p>Sehingga wajarlah kalau selama menetap di Mekkah, ia memperdalam lagi ilmu-ilmu agama dengan para ulama dan syaikh yang ada di sana.</p>
<p>Berkat keluasan dan ke dalaman ilmunya, Syaikh Abdul Malik pernah memperoleh dua anugrah yakni pernah diangkat menjadi Wakil Mufti Madzab Syafi&#8217;i di Mekkah dan juga diberi kesempatan untuk mengajar.</p>
<p>Pemerintah Saudi sendiri sempat memberikan hadiah berupa sebuah rumah tinggal yang terletak di sekitar Masjidil Haram atau tepatnya di dekat Jabal Qubes.</p>
<p>Anugrah yang sangat agung ini diberikan oleh Pemerintah Saudi hanya kepada para ulama yang telah memperoleh gelar Al-&#8216;Allamah.</p>
<p>Syaikh Ma&#8217;shum (Lasem, Rembang) setiap berkunjung ke Purwokerto, seringkali menyempatkan diri singgah di rumah Asy-Syaikh Abdul Malik dan mengaji kitab Ibnu Aqil Syarah Alfiyah Ibnu Malik secara tabarrukan (meminta barakah) kepada Asy-Syaikh Abdul Malik.</p>
<p>Demikian pula dengan Mbah Dimyathi (Comal, Pemalang), KH Khalil (Sirampog, Brebes), KH Anshori (Linggapura, Brebes), KH Nuh (Pageraji, Banyumas) yang merupakan kiai-kiai yang hafal Al-Qur&#8217;an, mereka kerap sekali belajar ilmu Al-Qur&#8217;an kepada Syaikh Abdul Malik.</p>
<p>Kehidupan Syaikh Abdul Malik sangat sederhana, di samping itu ia juga sangat santun dan ramah kepada siapa saja. Beliau juga gemar sekali melakukan silaturrahiem kepada murid-muridnya yang miskin.</p>
<p>Baik mereka yang tinggal di Kedung Paruk maupun di desa-desa sekitarnya seperti Ledug, Pliken, Sokaraja, Dukuhwaluh, Bojong dan lain-lain.</p>
<p>Hampir setiap hari Selasa pagi, dengan kendaraan sepeda, naik becak atau dokar, Syaikh Abdul Malik mengunjungi murid-muridnya untuk membagi-bagikan beras, uang dan terkadang pakaian.</p>
<p>Sembari juga mengingatkan kepada mereka untuk datang pada acara pengajian Selasanan (Forum silaturrahiem para pengikut Thariqah An-Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah Kedung paruk yang diadakan setiap hari Selasa dan diisi dengan pengajian dan tawajjuhan).</p>
<p>Konon beliau mengamalkan lebih dari 12 thariqah,hanya yang diturunkan paling tidak 4 thariqah yaitu naqsyabandi al-khalidi, syadziliyah, qairiyah naqsyabandiyah dan alawiyah.</p>
<p>Di samping memberikan pelajaran tentang ilmu tashawuf (Thariqah), beliau juga mengembangkan ilmu al-qur&#8217;an (tahfidul-qur&#8217;an dan qira!ah sab&#8217;ah).</p>
<p>Tidak sedikit para hafidh dan qari&#8217; datang kepada beliau untuk mengambil ilmu al-qur&#8217;an atau sekedar tabarukan. Mbah Malik tidak meninggalkan harta ataupun karya tulis.</p>
<p>Namun karya agung beliau adalah karya yang dapat berjalan yaitu murid-murid beliau yang kini menjadi tokoh-tokoh masyarakat, ulama, kiyai, rijalul qaum (tokoh panutan) seperti diuangkapkan oleh al &#8216;alaamah al-mursyid al-habib Muhammad Luthfi bin Hasyim bin Aly bin Yahya.</p>
<p>Murid-murid dari Syaikh Abdul Malik di antaranya KH Abdul Qadir, Kiai Sa&#8217;id, KH Muhammad Ilyas Noor (mursyid Thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah sekarang), KH Sahlan (Pekalongan), Drs Ali Abu Bakar Bashalah (Yogyakarta), KH Hisyam Zaini (Jakarta), Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya (Pekalongan), KH Ma&#8217;shum (Purwokerto) dan lain-lain.</p>
<p>Sebagaimana diungkapkan oleh murid beliau, yakni Habib Luthfi bin Yahya, Syaikh Abdul Malik tidak pernah menulis satu karya pun.</p>
<p>&#8220;Karya-karya Al-Alamah Syaikh Abdul Malik adalah karya-karya yang dapat berjalan, yakni murid-murid beliau, baik dari kalangan kyai, ulama maupun shalihin.&#8221;</p>
<p>Diantara warisan beliau yang sampai sekarang masih menjadi amalan yang dibaca bagi para pengikut thariqah adalah buku kumpulan shalawat yang beliau himpun sendiri, yaitu &#8220;Al-Miftah al-Maqashid li-ahli at-Tauhid fi ash-Shalah &#8216;ala babillah al-Hamid al-majid Sayyidina Muhammad al-Fatih li-jami&#8217;i asy-Syada&#8217;id.&#8221; Shalawat ini diperolehnya di Madinah dari Sayyid Ahmad bin Muhammad Ridhwani Al-Madani. </p>
<p>Konon, shalawat ini memiliki manfaat yang sangat banyak, di antaranya bila dibaca, maka pahalanya sama seperti membaca kitab Dala&#8217;ilu al-Khairat sebanyak seratus sepuluh kali, dapat digunakan untuk menolak bencana dan dijauhkan dari siksa neraka.</p>
<p>Syaikh Abdul Malik semasa hidupnya memegang dua thariqah besar (sebagai mursyid) yaitu: Thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah dan Thariqah Asy-Syadziliyah.</p>
<p>Sanad thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah telah ia peroleh secara langsung dari ayah beliau yakni Syaikh Muhammad Ilyas, sedangkan sanad Thariqah Asy-Sadziliyah diperolehnya dari As-Sayyid Ahmad An-Nahrawi Al-Makki (Mekkah).</p>
<p>Dalam hidupnya, Syaikh Abdul Malik memiliki dua amalan wirid utama dan sangat besar, yaitu membaca Al-Qur&#8217;an dan Shalawat. Beliau tak kurang membaca shalwat sebanyak 16.000 kali dalam setiap harinya dan sekali menghatamkan Al-Qur&#8217;an.</p>
<p>Adapun shalawat yang diamalkan adalah shalawat Nabi Khidir AS atau lebih sering disebut shalawat rahmat, yakni &#8220;Shallallah &#8216;ala Muhammad.&#8221; Dan itu adalah shalawat yang sering beliau ijazahkan kepada para tamu dan murid beliau.</p>
<p>Adapun shalawat-shalawat yang lain, seperti shalawat Al-Fatih, Al-Anwar dan lain-lain. Beliau juga dikenal sebagai ulama yang mempunyai kepribadian yang sabar, zuhud, tawadhu dan sifat-sifat kemuliaan yang menunjukan ketinggian dari akhlaq yang melekat pada diri beliau.</p>
<p>Sehingga amat wajarlah bila masyarakat Banyumas dan sekitarnya sangat mencintai dan menghormatinya. </p>
<p>Beliau disamping dikenal memiliki hubungan yang baik dengan para ulama besar umumnya, Syaikh Abdul Malik mempunyai hubungan yang sangat erat dengan ulama dan habaib yang dianggap oleh banyak orang telah mencapai derajat waliyullah.</p>
<p>Yakni seperti Habib Soleh bin Muhsin Al-Hamid (Tanggul, Jember), Habib Ahmad Bilfaqih (Yogyakarta), Habib Husein bin Hadi Al-Hamid (Brani, Probolinggo), KH Hasan Mangli (Magelang), Habib Hamid bin Yahya (Sokaraja, Banyumas) dan lain-lain. Diceritakan, saat Habib Soleh Tanggul pergi ke Pekalongan untuk menghadiri sebuah haul.</p>
<p>Selesai acara haul, Habib Soleh berkata kepada para jamaah,&#8221;Apakah kalian tahu, siapakah gerangan orang yang akan datang kemari? Dia adalah salah seorang pembesar kaum &#8216;arifin di tanah Jawa.&#8221; Tidak lama kemudian datanglah Syaik Abdul Malik dan jamaah pun terkejut melihatnya.</p>
<p>Hal yang sama juga dikatakan oleh Habib Husein bin Hadi Al-Hamid (Brani, Kraksaan, Probolinggo) bahwa ketika Syaikh Abdul Malik berkunjung ke rumahnya bersama rombongan, Habib Husein berkata, &#8220;Aku harus di pintu karena aku mau menyambut salah satu pembesar Wali Allah.&#8221;</p>
<p>Satu hal yang sering diungkapkan dalam berbagai kesempatan oleh murid kesayangan Mbah Malik yakni Habib Luthfi bin Aly bin Hasyim bin Yahya (Pekalongan) bahwa beliau memiliki ratusan guru ruhani, tapi yang &#8220;kemantil-kantil&#8221; di pelupuk mata beliau adalah Mbah Malik.</p>
<p>Tiga hal yang diwasiatkan kepada penerus Mbah Malik yaitu! jangan tinggalkan shalat, jangan tinggalkan al-qur&#8217;an dan jangan tinggalkan shalawat.</p>
<p>Disamping itu dalam berbagai kesempatan Mbah Malik sering menyampaikan pesan-pesannya kepada murid-murid dan cucu-cucu beliau untuk melakukan dua hal, yaitu pertama agar selalu membaca shalawat kepada Rasulullah SAW dan kedua agar sellau mencintai serta menghormati dzuriyyah (cucu-cucu) Rasulullah SAW.</p>
<p>Penerus Mbah Malik Mbah Malik adalah guru besar Thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah dan As-Syadziliyah Indonesia. Silsilah kemursyidan diserahkan kepada murid kesayangan beliau (Habib Muhammad Luthfi bin Aly bin Hasyim bin Yahya dan cucu beliau Abdul Qadir bin Lyas Noor).</p>
<p>Kalau kepadasang cucu hanya kemursyidan thariqah An-Naqsabandiyah al-Khalidiyahnya saja, namun kemursyidan kedua thariqah besar tersebut (Naqsyabandi dan Syadzili) diserahkan kepada muridnya yakni Habib Muhammad Luthfi bin Aly bin Hasyim bin Yahya. </p>
<p>Mbah Malik menurunkan seorang anak laki-laki dari Nyai Siti Warsiti yang lebih dikenal Mbah Johar (putri syaikh Abubakar bin H Yahya, kaliwedi, guru mbah Malik) yakni Ahmad Busyairi, namun meninggall dalam usia 36 tahun (1953). Sedang dari mbah Mrenek Maos Cilacap, tidak dikaruniai anak.</p>
<p>Dari perkawainannya dengan Nyai Siti Hasanah putri H Abdul Khalil (Kedung Paruk), ia menurunkan seorang putri yaitu Nyai Khairiyah. Sang putri tunggal ini Nyai Khairiyah menurunkan sembilan anak.</p>
<p>Dengan Kyai Anshor Sokaraja, satu orang putri yaitu Hj Siti Fauziyah dan dariKyai Ilyas Noor, delapan anak tiga laki-laki dan lima perempuan yaitu Hj Siti Faridah, KH Abdul Qadir, Siti Fatimah, Siti Rogayah, KH Sa&#8217;id, KH Muhammad Ilyas Noor, Hj Isti Rochati dan Nurul Mu&#8217;minah.</p>
<p>Tiga penerus Mbah Malik yang meneruskan amaliah Mbah Malik masing-masing yakni pertama, KH Abdul Qadir bin KH Ilyas Noor Subtil Malik lahir di Kedung Paruk 11 Oktober 1942 wafat pada hari Selasa 19 Maret 2002 (5 Muharam 1423 H dalamusia 60 tahun) dan dimakamkan di belakang Masjid Bahaa-ul-Haq wa Dhiyaa-uf-Dien. Ia memangku kemursyidan selama 22 tahun (1980-2002).</p>
<p>Penerus kedua yakni yakni KH Sa&#8217;id bin KH Ilyas Noor Subtil Malik lahir diKedung Paruk pada tanggal 15 April 1951 wafat pada hari kamis tanggal 3 Juli 2004 dalam usia 53 tahun dan dimakamkan di belakang Masjid Bahaa-ul-Haq wa Dhiyaa-uf-Dien.</p>
<p>Ia memangku kemursyidan selama 2 tahun (2002-2004). Selepas itu kemursyidan thariqah dari tahun 2004 sampai sekarang dipegang oleh KH Muhammad bin KH Ilyas Noor Subtil Malik.</p>
<p>Syaikh Abdul Malik wafat pada hari Kamis, 2 Jumadil Akhir 1400 H (17 April 1980) pada usia 99 tahun dan dimakamkan di belakang masjid Bahaaul-Haq wa Dhiyaa-ud-Dien, Kedung Paruk Purwokerto Banyumas dan memangku kemursyidan selama 68 tahun (1912-1980). (*)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2020/06/16/Syaikh-Abdul-Malik-al-Banyumasi-dan-Maulana-Habib-Luthfi.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[Syaikh Abdul Malik al Banyumasi dan Maulana Habib Luthfi]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2020/06/16/Syaikh-Abdul-Malik-al-Banyumasi-dan-Maulana-Habib-Luthfi-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[Syaikh Abdul Malik al Banyumasi dan Maulana Habib Luthfi]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Gus Miek dan Kisah Motor Habis Bensinnya</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-27927/gus-miek-dan-kisah-motor-habis-bensinnya</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Jun 2020 12:42:21 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Gus Miek]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-27927/gus-miek-dan-kisah-motor-habis-bensinnya</guid>

					<description><![CDATA[1.Kiai Hamim Jazuli, akrab disapa Gus Miek, dikenal sebagai kekasih Allah (wali) yang penuh dengan karomah. Suatu saat, pada tahun 1980-an, Gus Miek menghadiri semaan Mantab di daerah Nganjuk, Jawa Timur.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>1.Kiai Hamim Jazuli, akrab disapa Gus Miek, dikenal sebagai kekasih Allah (wali) yang penuh dengan karomah. Suatu saat, pada tahun 1980-an, Gus Miek menghadiri semaan Mantab di daerah Nganjuk, Jawa Timur.</p>
<p>Selesai acara, Gus Miek diantar oleh salah satu jamaahnya yang bernama Yai Faqih dengan menggunakan sepeda motor. Tapi di tengah jalan bensinnya habis.</p>
<p>&#8220;Kamu itu, sebenarnya Ikhlas ngga’ sih nganterin aku?&#8221; Seloroh gus Miek.</p>
<p>Ini kemudian dijawab dengan Nyengir khas Santri Galau. &#8220;Yaa udah, ayo marung saja, itu di depan ada warung. Lha malam-malam gini cari bensin kemana?&#8221;</p>
<p>Setelah duduk di warung, &#8220;Pesen teh hangat tiga pak,&#8221; pinta Gus Miek.</p>
<p>&#8220;Kok tiga Gus? Lha satunya untuk siapa??&#8221;.</p>
<p>&#8220;Sudaaahhh minum saja tehmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Alhamdulillah, dah habis Gus.&#8221;</p>
<p>&#8220;Satu yang utuh itu, bungkus saja. Ayo kita teruskan perjalanan.&#8221;</p>
<p>Sambil bawa bungkusan plastik teh hangat, Yai Faqih clingak-clinguk di depan motornya. Lha gimana tidak? Motor gak bisa jalan buat apa?</p>
<p>&#8220;Cepat masukkan teh hangatmu itu ke tanki motor.&#8221;</p>
<p>&#8220;Waduhhh, bisa protol nanti mesin motorku,&#8221; batin Yai Faqih.</p>
<p>&#8220;Heiii, kenapa diam? Cepat masukkan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Njih Gus.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sekarang stater.&#8221;</p>
<p>Dan…… mak Jreennggg juga, keduanya lalu meneruskan perjalanan sampai ke ndalem Gus Miek. Alih-alih mensilahkan masuk untuk istirahat sebentar, Gus Miek malah dawuh, &#8220;Jangan dimatikan mesinnya, langsung pulang sana. Keburu habis bengsin-bengsinannya.&#8221;</p>
<p>Jangan Ceritakan Kejadian Ini Sampai Aku Mati</p>
<p>2.&#8221;Jangan ceritakan kejadian ini sampai aku mati,&#8221; dawuh Mbah Yai Hayat, Rois Syuriah PCNU Nganjuk tahun 1980- an. Waktu pulang dari rapat besar NU di Surabaya, ternyata mobil yang beliau kendarai bersama rombongan kehabisan bensin di tengah malam dan jauh dari pemukiman warga.</p>
<p>&#8220;Waduh gimana ini yai?&#8221; Keluh salah satu anggota rombongan. Dengan santai beliau berkata, &#8220;Haa,,, sana cari air di kali.&#8221;</p>
<p>&#8220;Untuk apa?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Pokoknya cari saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Injih Yai.&#8221;</p>
<p>Setelah mendapatkan air, beliau berkata, &#8220;Nohh masukkan ke tempat bensin.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mbah Yai???’.</p>
<p>&#8220;Masukkan sajalah.&#8221;</p>
<p>Setelah air sungai dimasukkan, &#8220;Coba, stater mobilnya.&#8221;</p>
<p>Dan….Jrengggg, mobil langsung nyala.</p>
<p>Keterangan: Kisah dari Mbah Yai Baghowi (Suriah NU Nganjuk) dan Kangmas Nabhan Ibnul Qayyim (Ponaan Yai Faqih.).</p>
<p>Penulis: Imam, Kediri.</p>
<p>اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ</p>
<p>Mudah²han dapat berkah beliau dan para wali Allah aamiin,..alfatihah&#8230;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[cilacap info featured]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[cilacap info featured]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Syekh Jambukarang, Pembuka Dakwah Islam di Purbalingga</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-27853/syekh-jambukarang-pembuka-dakwah-islam-di-purbalingga</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 12 Jun 2020 16:46:15 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Purbalingga]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Waliyullah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-27853/syekh-jambukarang-pembuka-dakwah-islam-di-purbalingga</guid>

					<description><![CDATA[PURBALINGGA, CILACAP.INFO &#8211; Berziarah ke makam Syekh Jambukarang sambil menikmati panorama puncak perbukitan Cahya di belahan utara Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>PURBALINGGA, <a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Berziarah ke makam Syekh Jambukarang sambil menikmati panorama puncak perbukitan Cahya di belahan utara Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.</p>
<p>Matahari baru saja menyeruak di ufuk timur, ketika sinar kemerah-merahan memancar ke seluruh penjuru. Penduduk desa melangkah beriringan menuju ladang, menelusuri jalan setapak berbatu dan berundak yang di kanan-kirinya curam.</p>
<p>Embun pagi, udara dingin, dan sepoi angin khas perbukitan mewarnai perjalanan ke Makam Syekh Jambukarang. Ia adalah ulama penyebar Islam di Purbalingga dan sekitarnya pada abad ke-12.</p>
<p>Makam yang dikeramatkan oleh penduduk itu terletak di Desa Panusupan, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, sekitar 20 kilometer sebelah utara Purbalingga. Untuk berziarah ke sana dibutuhkan waktu sekitar 30 menit dengan mikrobus jurusan Bobotsari-Rembang ke arah Monumen Jenderal Soedirman.</p>
<p>Sampai di Desa Rajawana, perjalanan dilanjutkan dengan pick up bak terbuka jurusan Rajawana-Panusupan sekitar empat kilometer. Dari Desa Panusupan, peziarah masih harus melanjutkan perjalanan lagi. Kali ini dengan berjalan kaki sejauh satu kilometer, melalui jalan setapak berlapis semen yang membelah desa sampai ke gerbang makam.</p>
<p>Di sini, setiap peziarah harus membayar retribusi (untuk pembangunan desa) sebesar Rp 3.000, lalu mengisi buku tamu. Dari situ kita menelusuri jalan selebar satu meter, naik-turun di lembah perbukitan hijau di belahan timur kaki Gunung Slamet. Sejauh mata memandang yang tampak hanya rerimbunan ilalang dan perbukitan yang menghijau.</p>
<p>Sepanjang perjalanan, sepoi angin pegunungan dan kicau burung hutan menemani para peziarah. Sesekali berpapasan dengan serombongan kecil peziarah yang pulang dari makam. Untuk menempuh jarak sepanjang empat kilometer itu dibutuhkan waktu sekitar dua jam, lantaran kondisi jalan yang naik-turun.</p>
<p>Sebagian peziarah mengeramatkan makam Syekh Jambukarang sehingga mereka menjadikannya sebagai sarana untuk bertawasul, menyampaikan doa kepada Allah SWT dengan perantara para wali. &#8220;Saya datang ke sini agar dagangan saya semakin laris,&#8221; kata Mbok Sutini asal Cirebon yang datang beserta tiga anggota keluarganya.</p>
<p>Pada umumnya, peziarah bertandang ke makam pada malam Minggu Pon atau Rabu Pon. Namun, jumlah peziarah membeludak pada pergantian tahun. Banyak anak muda menghabiskan malam panjang di sana. Umumnya mereka membaca ayat Kursi, sebab diyakini ayat Kursi mengandung bermacam-macam fadilah.</p>
<h2>Tiga Cahaya</h2>
<p>Siapa sebenarnya Syekh Jambukarang? Ia adalah putra Prabu Brawijaya Mahesa Tandreman, raja pertama Kerajaan Pajajaran. Ketika masih muda ia bernama Raden Mundingwangi, bergelar Adipati Mendang. Sejak muda ia senang menggeluti ilmu kanuragan. Meski berhak menjasi raja, ia lebih tertarik menjadi pendeta. Takhta kerajaan ia serahkan kepada adiknya, Raden Mundingsari, yang dinobatkan pada 1190.</p>
<p>Ia pun lalu bertapa di Gunung Jambudipa atau Gunungkarang di Banten. Selama bertapa itulah ia menyaksikan tiga cahaya di sebelah timur, menjulang tinggi ke angkasa. Ia lalu mencari asal cahaya tersebut bersama 160 pengikutnya, menyusuri hutan, pegunungan, dan sungai.</p>
<p>Setelah melewati Krawang, Sungai Comal, Gunung Cupu, Gunung Kraton, sampailah mereka di Desa Rajawana. Setelah mendaki Bukit Ardi Lawet, mereka tiba di Bukit Panungkulan yang juga disebut Bukit Cahya, masyarakat sekitar menyebutnya Gunung Cahya, di Desa Grantung, Kecamatan Karangmoncol, Purbalingga. di puncak bukit inilah mereka mendirikan pertapaan.</p>
<p>Pada waktu yang bersamaan, tiga cahaya tersebut juga disaksikan oleh seorang mubalig dari Timur Tengah, yang namanya kemudian dikenal sebagai Syekh Atas Angin, dan konon masih keturunan Rasulullah SAW. Maka bersama 200 pengiring, ia pun segera mencari sumber cahaya tersebut. Mula-mula mereka berlabuh di Gresik, Jawa Timur, lalu meneruskan perjalanan ke Pemalang, Jawa Tengah. Dari sana mereka lalu menuju ke Bukit Cahya. di sinilah ia bertemu dengan Raden Mundingwangi, yang sedang bertapa.</p>
<p>Ketika Syekh Atas Angin menyapanya dengan salam, Raden Mundingwangi diam saja. Sebab, ketika itu ia belum memeluk Islam. Maka mereka pun kemudian terlibat dalam adu kesaktian. Karena kalah, dan mengakui keunggulan Syekh Atas Angin, Raden Mundingwangi pun bersedia masuk Islam. Sejak itu oleh Syekh Atas Angin ia diberi ilmu kewalian dan gelar Pangeran Wali Syekh Jambukarang.</p>
<p>Untuk menyempurnakan keislamannya, Pangeran Jambukarang menunaikan ibadah haji ke Mekah, dan pulang dari Tanah Suci ia dikenal sebagai Haji Purba. Konon, ia memiliki beberapa kekeramatan, antara lain kupluk atau pecinya dapat terbang, mampu menumpuk telur di udara, menggandeng bejana tempat air di angkasa.</p>
<p>Tak lama kemudian, Syekh Atas Angin diambil menantu oleh Pangeran Jambukarang, dinikahkan dengan salah seorang putrinya, Nyai Rubiahbekti. Dari pernikahan ini lahirlah tiga putra dan dua putri: Pangeran Syekh Mahdum Husen, Pengeran Mahdum Medem, Pangeran Mahdum Umar, Nyai Rubiahraja, dan Nyai Rubiyahsekar. Belakangan, Pangeran Jambukarang membuka sebuah pesantren di Purbalingga.</p>
<p>Setelah wafat, ia dimakamkan di puncak Gunung Cahya. Ada beberapa keturunan Syekh Jambukarang yang mengabdi di Kasultanan Demak. Sementara Pangeran Mahdum Husen, salah seorang putranya, punya peran dalam mengusir pasukan Kerajaan Pajajaran yang menyerang daerahnya. Sedangkan cucu Mahdum Husen, Syekh Mahdum Wali Prakosa, meneruskan pengabdian keluarganya di Kesultanan Demak.</p>
<p>Dialah yang membuat soko guru Masjid Demak bersama Sunan Kalijaga, yang salah satunya kemudian terkenal dengan nama soko tatal, karena terbuat dari sisa-sisa kayu. Dialah pula yang meluruskan arah kiblat Masjid Demak, sehingga Sultan Demak memberi piagam penghargaan kepadanya.(***) Aji Setiawan, Purbalingga</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[cilacap info featured]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[cilacap info featured]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Khazanah News: Suluk Linglung Sunan Kalijaga</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-26495/khazanah-news-suluk-linglung-sunan-kalijaga</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 01 May 2020 12:54:56 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Berita Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Sunan Kalijaga]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-26495/khazanah-news-suluk-linglung-sunan-kalijaga</guid>

					<description><![CDATA[CILACAP.INFO &#8211; Siapa yang tidak mengenal sosok Syaikh Raden Said atau Sunan Kalijaga, beliau adalah ulama dan salah satu tokoh penyebar islam di jawa bersama 8 ulama lainnya.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; Siapa yang tidak mengenal sosok Syaikh Raden Said atau Sunan Kalijaga, beliau adalah ulama dan salah satu tokoh penyebar islam di jawa bersama 8 ulama lainnya.</p>
<p>Beliau Sunan Kalijaga adalah salah satu dari ke-9 (sembilan) wali songo, adapun beliau cara beliau berdakwah dan menyebarkan islam di tanah jawa melalui pendekatan budaya.</p>
<p>Selain wayang dipadukan nuansa islami, beliau juga memiliki beberapa suluk atau tembang &#8211; tembang. Diantara suluk yang terkenal yakni Suluk Linglung, adapun begini isi di dalam suluk linglung Kanjeng Sunan Kalijaga:</p>
<blockquote><p>Birahi ananireku,
aranira Allah jati.
Tanana kalih tetiga,
sapa wruha yen wus dadi,
ingsun weruh pesti nora,
ngarani namanireki</p></blockquote>
<p>Timbullah hasrat kehendak Allah menjadikan terwujudnya dirimu! dengan adanya wujud dirimu menunjukkan akan adanya Allah dengan sesungguhnya! Allah itu tidak mungkin ada dua apalagi tiga. Siapa yang mengetahui asal muasal kejadian dirinya, saya berani memastikan bahwa orang itu tidak akan membanggakan dirinya sendiri.</p>
<blockquote><p>Sipat jamal ta puniku,
ingkang kinen angarani,
pepakane ana ika,
akon ngarani puniki,
iya Allah angandika,
mring Muhammad kang kekasih.</p></blockquote>
<p>Adapun sifat jamal (sifat terpuji/bagus) itu ialah, sifat yang selalu berusaha menyebutkan, bahwa pada dasarnya adanya dirinya, karena ada yang mewujudkan adanya. Demikianlah yang difirmankan Allah kepada Nabi Muhammad yang menjadi Kekasih-Nya.</p>
<blockquote><p>Yen tanana sira iku,
ingsun tanana ngarani,
mung sira ngarani ing wang,
dene tunggal lan sireki iya Ingsun iya sira,
aranira aran mami.</p></blockquote>
<p>Kalau tidak ada dirimu, Allah tidak dikenal/disebut-sebut! Hanya dengan sebab ada kamulah yang menyebutkan keberadaan-Ku! Sehingga kelihatan seolah-olah satu dengan dirimu. Adanya AKU, Allah, menjadikan dirimu. Wujudmu menunjukkan adanya Dzatku.</p>
<blockquote><p>Tauhid hidayat sireku,
tunggal lawan Sang Hyang Widhi,
tunggal sira lawan Allah,
uga donya uga akhir,
ya rumangsana pangeran,
ya ALLOH ana nireki.</p></blockquote>
<p>Tauhid hidayah yang sudah ada padamu, menyatu dengan Tuhan. Menyatu dengan Allah, baik di dunia maupun di akherat. Dan kamu merasa bahwa Allah itu ada dalam dirimu.</p>
<blockquote><p>Ruh idhofi neng sireku,
makrifat ya den arani,
uripe ingaranan Syahdat,
urip tunggil jroning urip sujud rukuk pangasonya,
rukuk pamore Hyang Widhi.</p></blockquote>
<p>Ruh idhofi ada dalam dirimu. Makrifat sebutannya. Hidupnya disebut Syahadat (kesaksian), hidup tunggal dalam hidup. Sujud rukuk sebagai penghiasnya. Rukuk berarti dekat dengan Tuhan pilihan.</p>
<blockquote><p>Sekarat tananamu nyamur,
ja melu yen sira wedi,
lan ja melu-melu Allah,
iku aran sakaratil,
ruh idhofi mati tannana,
urip mati mati urip.</p></blockquote>
<p>Penderitaan yang selalu menyertai menjelang ajal (sekarat) tidak terjadi padamu. Jangan takut menghadapi sakratulmaut, dan jangan ikut-ikutan takut menjelang pertemuanmu dengan Allah. Perasaan takut itulah yang disebut dengan sekarat. Ruh idhofi tak akan mati! Hidup mati, mati hidup.</p>
<blockquote><p>Liring mati sajroning ngahurip,
iya urip sajtoning pejah,
urip bae selawase,
kang mati nepsu iku,
badan dhohir ingkang nglakoni,
katampan badan kang nyata,
pamore sawujud, pagene ngrasa matiya,
Syekh Malaya (Sunan Kalijogo) den padhang sira nampani,
Wahyu prapta nugraha.</p></blockquote>
<p>Mati di dalam kehidupan. Atau sama dengan hidup dalam kematian. Ialah hidup abadi. yang mati itu nafsunya. Lahiriah badan yang menjalani mati. Tertimpa pada jasad yang sebenarnya. Kenyataannya satu wujud. Raga sirna, sukma mukhsa. Jelasnya mengalami kematian! Syeh Malaya (S.Kalijaga), terimalah hal ini sebagai ajaranku dengan hatimu yang lapang. Anugerah berupa wahyu akan datang padamu.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[cilacap info featured]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[cilacap info featured]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
		<item>
		<title>Kiai Shonhaji, Ulama di Kebumen Guru Spritual Gus Dur</title>
		<link>https://story.cilacap.info/ci-22560/kiai-shonhaji-ulama-di-kebumen-guru-spritual-gus-dur</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Cilacap.info]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 12 Feb 2020 00:28:13 +0000</pubDate>
				
		<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://story.cilacap.info/ci-22560/kiai-shonhaji-ulama-di-kebumen-guru-spritual-gus-dur</guid>

					<description><![CDATA[CILACAP.INFO &#8211; KH. Shonhaji Chasbullah adalah salah satu di antara guru mursyid KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Jika disebut &#8220;5 Kyai Khos&#8221; yang selalu dipatuhi komandonya oleh Gus Dur, maka beliaulah salah satu di antaranya.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://story.cilacap.info" aria-label="Story Cilacap.info">CILACAP.INFO</a> &#8211; KH. Shonhaji Chasbullah adalah salah satu di antara guru mursyid KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Jika disebut &#8220;5 Kyai Khos&#8221; yang selalu dipatuhi komandonya oleh Gus Dur, maka beliaulah salah satu di antaranya.</p>
<p>Latar Belakang KH. Shonhaji</p>
<p>KH. Shonhaji Chasbullah lahir sekitar tahun 1916 M. Masa kecilnya dilalui dengan belajar agama dibeberapa pesantren. Diantaranya Pesantren Lerap (milik kerabat beliau), Pesantren Jetis (asuhan ayah beliau) dan Pesantren Sumolangu, yang semuanya masih dalam wilayah Kebumen.</p>
<p>Lalu semasa remaja beliau mulai melanglang buana dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Diantaranya ia mengaji kepada Mbah Nahrowi Dalhar Watu Congol Magelang, Mbah Muhajir ayah dari Syaikh Hayat Bendo Pare Kediri, dan masih banyak lagi pesantren lainnya.</p>
<p>Adapun yang pernah mondok di Ringinagung itu adalah kakek beliau, Mbah Abdurrahman Jetis. Tapi cerita yang biasa didengar, Mbah Abdurrahman Jetis mondok di Kepung Pare Kediri. Kepung adalah nama sebuah kecamatan dan Ringinagung, disamping berada di wilayah Kecamatan Kepung. Ringinagung juga menjadi Pesantren tertua di Kecamatan tersebut.</p>
<p>KH. Shonhaji lebih dikenal dengan Mbah Jimbun Kebumen. Beliau merupakan besan dari Hadhratus Syaikh KH. M. Utsman bin Nadi al-Ishaqi Jatipurwo, disamping juga berguru thariqah hingga disempurnakan sampai mendapatkan &#8220;Ijazah Kemursyidan Izin&#8221; dari Mbah Utsman al-Ishaqi. Secara nasab beliau masih keturunan ulama-ulama besar, berdarah biru, yang bersambung ke para sunan (Wali Songo) penyebar Islam di Nusantara ini.</p>
<p>Kyai Shonhaji mulai diketahui khalayak umum sebagai gurunya Gus Dur adalah setelah pengakuan Gus Dur sendiri saat berlangsung Istighatsah Akbar di Gelora Bung Karno. Mungkin banyak yang bertanya, guru dalam hal apa?</p>
<p>Di dalam Ahlussunnah wal Jama’ah, terlebih Nahdlatul Ulama, thariqah atau tasawwuf merupakan hal yang tidak bisa terpisahkan. Dalam ‘Hadits Jibril’ dikenal dengan 3 komponen agama Islam! yakni Iman (tauhid), Islam (fiqih) dan Ihsan (tasawwuf). Ketiganya tidak bisa terpisahkan antara satu dengan yang lainnya, harus berjalan secara seimbang dan beriringan. Maka Kyai Shonhaji bisa dikatakan sebagai guru thariqah atau tasawwufnya Gus Dur.</p>
<p>Salah satu ajaran Kyai Shonhaji yang melekat pada diri Gus Dur adalah kesederhanaan. Seorang tetangga Kyai Shonhaji menyaksian hal itu. Diceritakannya ia sering melihat Kyai Shonhaji pergi ke pasar Tengok berbelanja sayuran sendiri. di mata tetangganya itu tentu merupakan pemandangan yang aneh, mengesankan istrinya &#8220;kebangetan&#8221; membiarkan kyai yang sudah sepuh itu &#8220;kedangkrakan&#8221; ke pasar sendiri. Tapi itulah secuil gambaran kesederhanaan Kyai Shonhaji.</p>
<p>Meski memiliki nasab yang mulia, tatkala ada seorang kyai penghafal al-Quran sowan ke Kyai Shonhaji menanyakan silsilah, maka jawab Kyai Shonhaji: &#8220;Inna akramakum ‘indallahi atqakum&#8221;. (Sesungguhnya paling mulianya kalian di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa).</p>
<p>Kita tahu ayat di atas di awali dengan penegasan Allah bagaimana manusia diciptakan berjenis laki-laki dan perempuan, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal. Amal shaleh lebih utama ketimbang membanggakan nasab mulia. Jawaban di atas mencerminkan kesederhanaan Kyai Shonhaji yang tidak mau terlena dengan membanggakan nasabnya sendiri, sedang amal shalehnya terabaikan.</p>
<h2>KH. Shonhaji dan Gus Dur</h2>
<p>Saat dukungan semakin santer pada Gus Dur sebagai Ketua Umum PBNU, Kyai Shonhaji adalah satu di antaranya yang secara terang-terangan meminta mantan presiden itu bersedia menjadi Ketua Umum. Bahkan Mbah Sonhaji telah berkirim surat langsung kepada Gus Dur yang dititipkan melalui Umarudin Masdar, salah satu direktur dan peneliti pada Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKIS).</p>
<p>Mbah Shonhaji selama ini dikenal sebagai salah satu guru spiritual yang dihormati Gus Dur. Tiap Gus Dur datang ke Kebumen, beliau juga hadir mendampinginya. Menurut Wakil Ketua PCNU Kebumen, Drs. Dawamudin Masdar MAg, dirinya ikut menemani Umarudin bersilaturahim dengan Mbah Sonhaji. Bahkan kiai itu menulis selembar surat berhuruf Arab berbahasa Jawa. &#8220;Surat itu sudah dibawa ke Jakarta dan sampai langsung ke Gus Dur. Intinya, meminta Gus Dur bersedia dan menyempatkan diri menjadi Rois Aam demi kepentingan umat,&#8221;imbuh Dawam.</p>
<p>Dawam menyatakan, dari pertemuan itu Kyai Shonhaji merasa prihatin atas kondisi NU saat ini. Terpanggil untuk ikut urun rembuk selaku kyai sepuh demi kemaslahatan umat, dia yang dekat dengan Gus Dur lalu berinisiatif menulis surat.</p>
<p>Dawam yang juga cendekiawan NU di Kebumen itu mengakui, selama era KH. Hasyim Muzadi, PBNU telah terkena limbah politik. Dampaknya sangat terasa ketika Pemilu 2004 massa NU di bawah terombang-ambing. Guna mengembalikan organisasi NU makin independen dan kredibel serta berpihak pada nahdliyyin, menurut Dawam, harus ada tokoh yang dihormati untuk menjadi yang dituakan di NU. Tokoh tersebut adalah Gus Dur.</p>
<p>Menurut salah satu cucu beliau, Gus Hakim Luqman Al Ishaqy, ungkapan Kyai Shonhaji mengenai Gus Dur adalah: &#8220;Gus Dur wonge gunake adan, arep melebu thoriqoh liyo wae sek sempat kirim surat&#8221;(Gus Dur itu orangnya beretika, akan masuk ke thariqah yang lain saja dia masih sempat (minta izin dengan) berkirim surat.</p>
<p>Kewafatan Kyai Shonhaji</p>
<p>10 tahun sebelum kewafatannya, saat usia beliau sudah udzur yakni 82 tahun, masih sempat menikah lagi dengan wanita yang umurnya kebalikan dari umur beliau, 28 tahun. Beliau menikahi Ibu Nyai Nurul Kholidiyah Purwodadi, janda dari Mbah Mangli atau KH. Hasan Asy’ari.</p>
<p>Ada satu pesan beliau yang didengar oleh salah satu cucunya, Gus Ahmad Danyalin Al-Ishaqi, dan sering didawuhkan saat beberapa bulan menjelang kewafatannya yaitu sabda Nabi Saw.:</p>
<p>كُنْ مَعَ اللهِ فَاِنْ لَمْ تَكُنْ مَعَ اللهِ فَكُنْ مَعَ مَنْ كاَنَ مَعَ اللهِ فَاِنَّهُ يُوْصِلُكَ إِلَى اللهِ</p>
<p>&#8220;Hendaklah engkau selalu bersama Allah. Jika tidak mampu, berusahalah selalu bersama orang-orang yang dekat dengan Allah. Karena sesungguhnya orang itulah yang akan menyampaikanmu kepada Allah.&#8221;(HR. Abu Daud). Dalam dunia thariqah, hal ini adalah dengan ‘menghadirkan wajah guru mursyid’ ketika melakukan ibadah.</p>
<p>Ulama sepuh dan ahli tawasuf asal Kebumen itu wafat dalam usia 92 tahun. Tepatnya wafat pada hari Senin 17 Maret 2008 M. sekitar pukul 17.00 WIB. Kemudian jenazahnya dimakamkan pukul 13.00 WIB esok harinya, di Jimbun, Sruweng, Kebumen, Jawa Tengah. (via Bangkitmedia.com)</p>
<p>Sya’roni As-Samfuriy, Tegal 18 September 2014</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
					<media:content
				url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured.jpg"
				type="image/jpeg"
				medium="image"
				width="1200"
				height="728">
				<media:title type="plain">
					<![CDATA[cilacap info featured]]>
				</media:title>
				<media:thumbnail
					url="https://img.cilacap.info/mediafile/2022/05/10/cilacap-info-featured-100x75.jpg"
					width="100"
					height="75" />
									<media:description type="plain"><![CDATA[cilacap info featured]]></media:description>
													<media:copyright>Redaksi Cilacap.info</media:copyright>
							</media:content>
				</item>
	</channel>
</rss>
