Asal Usul dan Kisah Gunung Srandil

Pintu Masuk Gunung Srandil Adipala Cilacap
Pintu Masuk Gunung Srandil Adipala Cilacap

Suatu hari saat fajar baru menyingsing di ufuk timur, Ni Supa membangunkan Ki Supa dengan suara pelan, “Ki, bangun Ki. Hari sudah pagi, temani Nini pergi ke sumur yuk,” sambil menjinjing cepon (semacam bakul yang terbuat dari anyaman bambu) berisi beras untuk dipususi (dicuci).

Ki Supa segera bangun, dan segera menemani Ni Supa yang akan pergi ke sumur, yang terletak agak jauh dari rumahnya. Tugas Ki Supa adalah menemani dan menimbakan air untuk mencuci beras. Mereka berjalan beriringan. Sungguh sebuah pemandangan dan kerja sama yang indah. Sambil menimba air, Ki Supa melantunkan tembang berbahasa Jawa tentunya.

Jago kluruk rame kapiarsi,
Lawa lawong luru pandhelikan,
Jrih kalawan ing semune,
Wetan bang sulakipun mertandhani yen bangun enjing…..

Di tengah-tengah keasyikan Ki Supa melantunkan tembang, tiba-tiba ada benda semacam batu raksasa melayang dan hampir jatuh menimpa mereka. Dengan spontan, Ki Supa berteriak, “Awas Nini!” Sambil tangannya mendorong Ni Supa, hingga terjatuh, dan beras yang ada di cepon pun wutah (tumpah).

Sementara itu, kaki Ki Supa menendang benda raksasa tersebut dengan sekuat tenaga sambil mengucap, “Duh Gusti!”

Benda semacam batu raksasa itu pecah menjadibeberapa bagian dan terpental ke arah selatan. Namun, ada pecahan batu sebesar kerbau yang tertinggal di dekat sumur Ki Supa. di kemudian hari, batu itu digunakan untuk batu nisan, tanda kuburan bagi Ki dan Ni Supa.

Karena Ki dan Ni Supa dianggap sebagai leluhur atau orang pertama yang trukah dan tinggal di tempat itu, kuburan tersebut kemudian dikenal orang dengan nama “Panembahan Waktu Kumpul”. Grumbul tempat Ki Supa tinggal diberi nama Grumbul Beras Wutah.

Bagaimana kelanjutan pecahan benda raksasa yang terpental ke arah selatan? Ternyata benda raksasa itu pecah menjadi empat bagian. yang terbesar, jatuh di pinggir laut selatan, di Desa Karangbenda. Benda itu jatuh menyerong dari selatan ke arah barat daya. Ketika benda itu jatuh, orang-orang yang tengah berkumpul, sedang memanen padi di sawah, berteriak, “Awas selok!” Selok maksudnya sela (bahasa jawa yang berarti ‘batu’).

Sekarang tempat tersebut dikenal orang dengan nama Gunung Selok.

Dua pecahan yang berukuran hampir sama, tetapi lebih kecil dari selok, jatuh secara bersebelahan berjajar di Desa Glempangpasir, sebelah timur Selok. yang satu dinamakan Gunung Kembar karena memang bentuk dan ukurannya hampir sama dengan gunung yang satunya, yakni Gunung Srandil.

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait