Asal Usul Dusun Sitinggil di Bantarsari Cilacap

by
Indonesia

CILACAP.INFO – Pagi yang cerah menghiasi Dusun Combo. Ujung-ujung daun tampak butiran-butiran air yang siap untuk menjatuhkan diri dan menyatu dengan tanah yang ada di bawahnya. Bentangan kebun yang diisi dengan berbagai macam pohon buah menunjukkan bahwa masyarakat Dusun Combo memiliki kesibukkan keseharian menggarap kebun tersebut.

Suara kokok ayam jantan yang bersahut-sahutan menyongsong datangnya pagi menambah suasana tenteram dan damai Dusun Combo. Tampak di ujung jalan dusun sebuah rumah yang asri dan sederhana. Di bagian depan rumah tampak balai-balai yang sering digunakan pemilik rumah untuk bersantai.

Di sebelah kanan tiang rumah tampak sebuah gentong berserta dengan siwur. Sepanjang jalan halaman rumah itu dihiasi dengan berbagai macam tanaman yang dapat dimanfaatkan oleh pemilik rumah.

Suara gemericik air yang mengaliri sawah yang ada di samping rumah semakin menambah keasrian dan keyamanan rumah itu. Rumah itu milik sepasang suami istri, yaitu Ki Cokro Pawiro dan istrinya yang bernama Suratmi. Sepasang suami istri ini memiliki kesibukkan menggarap kebun dan sawah yang ada di samping rumah.

Meskipun matahari masih malu-malu menunjukan muka, kesibukkan rumah itu sudah terlihat. Suratmi sibuk di dapur menyeduh kopi untuk Ki Cokro Pawiro. Sedangkan Ki Cokro Pawiro terlihat termenung di kursi dapur.

Kegelisahan Ki Cokro ditangkap oleh
Suratmi.

“Kang… Kang… Kang…,” panggil Suratmi.

“Kang…!!” Suratmi mengeraskan suaranya.

Ki Cokro gelagapan mendengarkan suara istrinya. Seketika lamunannya buyar, terbang meninggalkan isi kepalanya.

“Apa to… Mi… bikin kaget saja kamu ini,” jawab Ki Cokro.

“Pagi-pagi kok sudah melamun, apa yang kamu lamunkan, Kang?”

“Oh… aku sedang memikirkan nasib kita Mi… mikir nasibku, nasibmu, dan nasib si jabang bayi yang ada di dalam perutmu itu.”

“Lho… memangnya ada apa dengan nasib kita, Kang? Aku sudah bahagia hidup dengan kamu, Kang, apalagi dengan adanya si jabang bayi ini.

Aku merasa nasibku baik-baik saja menjadi istrimu. Kamu suami yang bertanggung jawab tidak pernah macam-macam, dan selalu membuat aku nyaman dan tenteram. Jadi aku pikir tidak ada yang kurang dengan nasibku ini, Kang.”

“Aku ingin membuat nasib kita menjadi lebih baik lagi, Mi. Agar kelak anak turunan kita tidak pernah menderita dan kekurangan.”

“Aku sudah bahagia dengan keadaan kita sekarang ini, Kang. Jadi, Kakang tidak perlu lagi melakukan sesuatu yang akan membuatku lebih bahagia. Sudah… ini kopinya diminum dulu, setelah itu kita pergi ke sawah.”

Hari berganti hari, minggu berganti minggu hingga usia kehamilan Suratmi sudah masuk bulan ketiga. Akan tetapi, Ki Cokro masih terganggu dengan keinginan yang pernah ia utarakan kepada istrinya.

Pada suatu senja Ki Cokro bersama istrinya duduk-duduk di bale rumahnya untuk melepaskan penat setelah seharian beraktivitas di kebun dan sawah. Sambil minum secangkir kopi dan menikmati sepotong ubi bakar, yang disuguhkan oleh istrinya yang sangat setia itu, Ki Cokro menyampaikan sesuatu pada istrinya.

“Suratmi, istriku sayang. Saya mau bicara, tapi saya mohon kamu jangan bersedih hati, karena ini semua merupakan tugas kehidupan yang harus saya jalani.”

“Apa masalah yang mau Kakang omongkan masih ada kaitannya dengan keinginan yang pernah Kakang sampaikan beberapa bulan yang lalu?”

“Benar sekali istriku. Walaupun kamu sekarang sedang me-ngandung anak kita, izinkan saya pergi menuju ke suatu daerah di Cilacap sebelah barat.

Saya ingin membuka lahan di sana. Saya ingin kelak anak cucu kita tidak kekurangan satu hal apa pun.”

Dengan rasa haru dan berat hati, Suratmi menatap wajah suaminya, kemudian berkata, “Sebenarnya berat sekali aku harus berpisah denganmu, Kang. Apalagi usia kandunganku sekarang sudah tiga bulan.

Aku butuh kamu di sisiku, Kang, menemani aku menjalani hari-hari menunggu lahirnya si jabang bayi ini. Namun, demi cita-citamu yang mulia, aku rela melepas kepergianmu.

Doaku selalu menyertaimu, Kang, mudah-mudahan engkau selalu mendapat perlindungan dari yang Mahakuasa dan doakan aku juga agar selalu sehat dan dapat merawat anak kita jika sudah lahir kelak.”

“Jadi, kamu mengizinkan aku untuk menggapai apa yang menjadi harapanku, Mi? Benar, Mi, kamu ikhlas izinkan aku pergi?” jawab Ki Cokro.

“Ya, Kang, aku tidak mau melihat suamiku merenung setiap hari. Meskipun aku sedang mengandung anakmu, aku tidak mau menghalangi apa yang menjadi keinginanmu. Kamu sudah mem-berikan kebahagiaan untukku. Kini giliranku memberi kebahagiaan untukmu, Kang.”

Sambil kembali minum kopinya yang masih tersisa, Ki Cokro berkata, “Iya, Mi, terima kasih atas pengertianmu. Engkau seorang istri yang salihah. Aku pergi untuk hari depan kita yang lebih baik. Aku berpesan padamu, jika anak kita lahir laki-laki, maka berilah nama Sirad!”

“Baik, Kang, akan kuingat pesanmu itu. Kapan kamu akan ber-angkat Kang?”

“Lebih cepat lebih bagus, jika kamu izinkan aku berangkat minggu depan.”

Satu minggu telah berlalu, pagi-pagi sekali setelah salat subuh bersama, Ki Cokro berpamitan pada Suratmi sambil memeluk dan mengelus-elus perut istrinya yang sedang hamil.

Suratmi pun tidak dapat menahan keharuannya. Dengan berlinang air mata ia berkata, “Pergilah, Kang. Hati-hatilah di jalan, doaku menyertaimu!”
“Ya Mi, terima kasih kamu sudah mau mengerti. Ingat pesanku untuk memberi nama anak kita Sirad!”

“Ya Kang, anak kita pasti akan aku beri nama Sirad, sesuai dengan keinginanmu.”

Bulan berganti bulan. Tidak terasa Ki Cokro telah meninggalkan rumah selama enam bulan. Ini berarti sudah saatnya Mbok Ratmi melahirkan si jabang bayi yang dikandungnya.

Dengan bantuan dukun beranak yang ada di desanya, Mbok Suratmi melahirkan seorang bayi laki-laki. Bayi laki-laki itu sangat sehat, montok, dan kulitnya putih.

Parasnya ganteng seperti paras Ki Cokro. Jika memandang paras si jabang bayi, Mbok Ratmi teringat kepada suaminya dan tanpa terasa airmatanya meleleh membasahi pipinya.

Jika rasa kangen kepada Ki Cokro begitu hebatnya, Mbok Ratmi hanya dapat memandangi wajah si jabang bayi, kemudian memeluknya erat-erat seolah-olah dia tidak mau dipisahkan dengan anaknya yang hadir di dunia ini sebagai tanda cinta dirinya dengan Ki Cokro.

Teringat dengan pesan suaminya, Mbok Ratmi memberi bayi itu nama Sirad. Waktu yang berlalu membuat Sirad tumbuh menjadi sosok pemuda yang ganteng dan gagah. Keprihatinan hidup yang ia jalani, karena ia hidup tanpa didampingi oleh sosok ayah, membuatnya menjadi seorang pemuda yang gigih, ulet, rajin bekerja, serta disegani oleh teman-temannya.

Sirad sangat menyayangi ibunya. Peran Ki Cokro digantikan oleh Sirad. Sirad bekerja keras menggarap kebun dan sawahnya untuk mencukupi kebutuhan hidup Ibu dan dirinya. Satu hal yang masih menjadi teka-teki dan pertanyaan yang sangat besar di dalam dirinya adalah masalah ayahnya.

Mengapa ayahnya meninggkan dia dan ibunya?

“Suatu waktu nanti aku akan bertanya tentang bapakku kepada simbok. Mengapa bapak tega meninggalkan aku dan simbok.”

Senja itu terlihat sangat indah. Perlahan namun pasti sang pemberi cahaya di siang hari akan meninggalkan dusun. Seiring dengan kepergian sang surya, perlahan langit yang cerah diganti dengan gelapnya senja.

Peran itu kemudian akan digantikan oleh bulan dan bintang. Sambil menikmati singkong rebus, Sirad memberanikan dirinya untuk bertanya kepada simboknya perihal bapaknya.

“Mbok, sampai hari ini aku belum pernah melihat wajah bapakku. Di mimpi pun aku tidak pernah” ucap Sirad.

Mbok Suratmi terkejut dengan pertanyaan anak semata wayangnya itu. Diletakkannya singkong rebus yang hampir saja masuk ke dalam mulutnya.

Dengan penuh kasih sayang Mbok Suratmi menatap wajah anaknya, matanya tampak berkaca-kaca. Mbok Ratmi berusaha untuk menahan agar air mata tidak meninggalkan pelupuk matanya.

Namun, kekuatan alam lebih kuat dari perintah Mbok Ratmi. Air mata itu tetap jatuh satu demi satu membasahi pipinya. Rasa kangen kepada suaminya yang sekian puluh tahun meninggalkan dirinya muncul kembali mengaduk-aduk rasa yang telah berhasil ia pendam.

“Mengapa Simbok menangis? Jika pertanyaanku ini membuat Simbok sedih saya minta maaf Mbok. Simbok tidak perlu menjawab pertanyaanku.”

“Iya, Le. Pertanyaanmu itu mengingatkan simbok kepada ba-pakmu. Simbok sudah berusaha untuk bersabar dan menunggu kepulangan bapakmu. Namun, sampai saat ini bapakmu tidak pernah kembali ke kita.”

“Memang bapak ke mana, Mbok? Bukannya bapakku sudah meninggal, seperti yang diucapkan oleh kawan-kawan bermainku dulu, Mbok?”

“Apa yang diomongkan oleh kawan-kawanmu itu tidak benar, Le… . Karena sekarang kamu sudah dewasa, sudah saatnya Simbok bercerita tentang bapakmu,” jawab mbok Suratmi sambil mengusap air mata yang semakin gencar menghinggapi pipinya.

Akhirnya, Mbok Suratmi menceritakan tentang kepergian suami-nya yang mengembara ketika Sirad masih dalam kandungannya.

Senja hari itu menjadi saksi terkuaknya misteri yang puluhan tahun menghinggapi dan mengganggu pikiran Sirad.

“Bapakmu sampai sekarang masih hidup. Dia bernama Cokro Pawiro. Ketika kamu masih dalam kandungan, ia pamit pergi ke wilayah Cilacap bagian barat untuk mencapai cita-citanya.”

“Apa cita-cita Bapak, Mbok? Mengapa hanya karena cita-cita bapak tega meninggalkan kita?” tanya Sirad lagi.

“Bapakmu punya cita-cita yang luhur, Le. Ia ingin membahagiakan kita. Untuk itulah bapakmu pergi dan membuka lahan di daerah sana,” sambung Mbok Suratmi lagi.

Setelah mendengar penjelasan ibunya tentang bapaknya, dalam hati Sirad muncul sebuah keinginan. Sirad ingin bertemu dengan bapaknya. Sirad memohon kepada Mbok Suratmi untuk pergi ke daerah Cilacap bagian Barat menyusul ayahnya.

“Baiklah, Le. Besok kita akan menyusul dan mencari bapakmu,”

Mbok Suratmi tidak tega menolak permintaan anaknya dan se-benarnya ia sendiri juga sangat ingin berjumpa dengan suaminya, yaitu Ki Cokro. Tanpa disadari, ternyata sudah sembilan belas tahun ia berpisah dengan suaminya, Ki Cokro.

Keesokan harinya Mbok Suratmi dan Sirad berkemas-kemas. Tidak lupa Mbok Suratmi mempersiapkan bekal untuk perjalanan mereka. Mbok Suratmi membungkus beberapa pakaian dan makanan.

Setelah perbekalan dirasakan cukup akhirnya kedua orang itu berangkat menuju Cilacap Barat. Tempat yang dituju adalah Desa Bantarsari. Menurut kabar berita yang diterima oleh Mbok Suratmi. Ki Cokro telah berhasil membuka lahan di daerah itu.

Karena keuletan, kerja keras, dan keramahannya, Ki Cokro dikenal oleh masyarakat sehingga Mbok Suratmi dan Sirad tidak mengalami kesulitan untuk menemukan kediaman Ki Cokro.

Rumah ki Cokro tidak pernah sepi. Setiap saat orang bisa datang ke sana. Ada yang datang untuk membahas pekerjaan, menanyakan tentang teknik membuka lahan baru, bahkan ada juga yang hanya sekadar ngobrol tak tentu arah hanya untuk mengisi waktu luang.

Suatu sore di rumah Ki Cokro Pawiro terlihat ia sedang bercakap-cakap dengan dua orang temannya, Ki Kartapusaka dan Ki Yasasuwita. Mereka membahas tentang pekerjaan membuka lahan.

Aktivitas obrolan tersebut terhenti karena kedatangan seorang perempuan paruh baya dengan seorang anak laki-laki. Setelah melihat kedua orang itu, Ki Cokro sangat terkejut. Serasa ditimpa oleh beban yang beratnya ratusan ton. Tanpa diminta, perempuan itu memperkenalkan dirinya kepada Ki Cokro.

“Kakang, aku Suratmi dan anak laki-laki yang aku bawa Ini Sirad, anakmu, Kang!” kata Mbok Suratmi sambil menangis terharu.

“Astaghfi rullah… ya Allah… benar ini kamu Suratmi, istriku yang dulu aku tinggalkan?”

“Ya Kakang… aku Suratmi, Kang….”

“Dan anak laki-laki ini anak kita yang kamu kandung dulu… Ya Allah… terima kasih ya Allah… akhirnya Kau pertemukan lagi aku dengan keluarga yang aku sayangi ini. Sini Le… aku ingin me-melukmu.”

Ki Cokro dan Sirad berpelukan. Ketiga orang itu bertangis-tangisan karena rasa haru yang sangat dalam. Setelah sekian puluh tahun terpisah akhirnya dapat berkumpul kembali. Melihat peristiwa yang mengharukan itu, Ki Kartapusaka dan Ki Yasasuwita mendekat.

“Apakah ini anakmu yang sering engkau ceritakan, Kang Cokro, yang kamu tinggal waktu masih berada dalam kandungan istrimu?”

“Betul, Kang Karta,” jawab Ki Cokro sambil menghapus air matanya.

“Wah… ganteng tenan. Gagah, siapa namamu, Le?” tanya Ki Yasasuwita.

“Sejak masih dalam kandungan ia sudah kuberi nama Sirad, Kang. Aku pesankan ke istriku jika kelak si jabang bayi lahir dan berjenis kelamin laki-laki, harus diberi nama Sirad”

Ki Cokro yang menjawab dengan terbata-bata sambil mengusap air mata. “Maafkan bapakmu, Le… sembilan belas tahun engkau ku-tinggalkan, baru sekarang kita bertemu,” sambungnya lagi sambil memeluk kembali Sirad.

Tidak ada yang mampu dilakukan oleh Sirad selain menuruti gerakan tubuh bapaknya yang menariknya ke dalam pelukan. Sirad tidak mampu berkata-kata, keharuan menyelimuti hatinya.

Sosok yang tadi berdiri dan sekarang memeluknya adalah bapaknya, figur yang selama ini dia idam-idamkan. Seseorang yang selama sekian puluh tahun ingin dilihat wajahnya. Tiba-tiba orang itu sekarang berdiri di depannya, dan bahkan memeluk dirinya. Sebuah anugerah yang luar biasa manisnya dari Allah.

“Alhamdulillah… terima kasih ya Allah… berkat kebesaran-Mu akhirnya aku dapat bertemu dan melihat wajahnya setelah sekian puluh tahun,” gumam Sirad dalam hati.

Sejak saat itu, Ki Cokro dan Mbok Suratmi bersepakat untuk tidak saling meninggalkan. Ki Cokro meminta kepada Mbok Ratmi dan Sirad untuk tinggal di rumahnya. Sejak saat itu Sirad tinggal bersama kedua orang tuanya.

Meskipun hidup serba kecukupan dan penuh dengan harta benda, Sirad tidak berubah. Ia tetap menjadi sosok yang ulet dan suka bekerja keras. Sirad rajin membantu ayahnya bekerja di kebun.

Sifat ayahnya yang sabar, bijaksana, dan pandai bergaul menurunkepadanya. Hal itu membuat Sirad disukai oleh warga di sekitar rumahnya. Ia ringan tangan. Siapa pun yang datang dan meminta bantuan, Sirad dengan senang hati dan ikhlas akan membantu. Ia juga terkenal sebagai pemuda yang pemberani dan tegas.

Ia bukan pemuda yang malas. Hal itulah yang membuat Sirad mendapatkan kepercayaan dari masyarakat desa untuk menjadi bayan pada saat bayan di dusun itu meninggal. Dusun itu bernama Dusun Jakatawa. Sebuah dusun yang wilayahnya terpisah oleh bentangan rel kereta api.

Pagi yang tenang dan hening pecah oleh teriakan seorang warga memanggil nama Bayan Sirad di depan rumah.

“Ki… Ki Bayan Sirad… Ki… Ki Bayan Sirad…!!” teriak orang itu.

Bayan Sirad ke luar dari rumahnya dan menghampiri orang tersebut.

“Tenang, Kang… tenang… ada apa ini, Kang?”

“Gawat Ki… Gawat… Ki Bayan, ada orang bertengkar, Ki. Mereka sudah saling hunus golok, cepat dilerai Ki… Jika tidak, akan terjadi pertumpahan darah di dusun kita ini,” lapor orang itu.

“Astaghfirullah… ada masalah apa, Kang?” tanya Bayan Sirad.

“Kurang tahu, Ki. Mereka tidak ada yang mau mengalah!” jawab orang itu.

“Kalau begitu, antarkan saya ke tempat kedua orang itu bertengar, sekarang !!”
“Baik Ki… .”

Bergegas Bayan Sirad mengikuti warganya menuju ke arah sebelah barat desa. Setelah beberapa menit berjalan, benar saja, di sebuah perkebunan pisang terlihat dua orang sedang berhadapan dan saling menghunus golok.

Muka kedua orang itu merah padam tanda amarah. Mereka sedang berdebat, tapi tidak jelas apa yang diperdebatkan. Hanya samar-samar suara mereka dapat terdengar oleh Bayan Sirad. Setelah jarak antara Sirad dengan kedua orang itu sudah dekat, Bayan Sirad berusaha untuk melerai pertengkaran itu.

“Ada apa, Kang? Kok sampean berdua bertengkar, pakai meng-hunus golok? Jika ada masalah dipecahkan dengan kepala dingin, bukan dengan emosi,” tanya Bayan Sirad.

Kedua orang itu berebut untuk berbicara terebih dahulu sehingga suasana semakin memanas karena masing-masing ingin didengar dan ingin mendapatkan kebenaran. Lalu Sirad meminta salah satu dari orang itu untuk berbicara dan meminta yang satunya diam dulu agar Sirad tahu dan paham duduk persoalannya.

“Ini, Ki Bayan. Pohon pisang Kang Parto roboh ke kebunku. Padahal, kebunku ini baru saja aku tanami kacang. Lihat ini, tanaman kacangku berantakan tidak karuan karena ditimpa oleh pohon pisang. Lha… aku nggak mau rugi, kuambil saja buah pisangnya sebagai ganti rugi,” kata Kang Sirin.

“Lha, itu ‘kan namanya maling, Ki Bayan. Mengambil barang orang tanpa izin yang punya ‘kan namanya maling. Maling ‘kan harus dihajar!”

Kang Parto mengangkat golok yang ada di tangannya siap untuk diayunkan.

“Sabar… sabar… sabar, Kang! Tidak semua masalah dapat di selesaikan dengan adu otot. Masalah itu tidak dapat diselesaikan dengan amarah, Kang! Tidak akan selesai. Salah-salah bukannya me-nyelesaikan masalah justru akan membuat masalah semakin ber-kepanjangan,” teriak Sirad sambil membentangkan tangan di antara kedua orang yang sedang dilanda emosi.

“Sabar… sabar bagaimana, Ki Bayan. Lha, saya rugi Ki Bayan. Lihatlah pisangku diambil Kang Sirin!” tukas Kang Parto.

“Saya juga rugi, tanaman kacangku belum berbuah, sudah rusak tertimpa pohon pisangmu!” sahut Kang Sirin.

“Begini saja, Kang Sirin. Buah pisang Kang Parto dikembalikan saja dan Kang Parto memberi benih kacang kepada Kang Sirin sebagai ganti tanaman kacangnya yang rusak karena tertimpa oleh pohon pisang yang roboh. Kang Parto dapat pisangnya kembali dan Kang Sirin dapat ganti rugi tanaman kacangnya yang rusak. Jadi, tidak ada yang dirugikan dan tidak ada yang diuntungkan. Bagaimana?” tanya
Bayan Sirad.

Kedua orang itu berpandangan, kemudian mengangguk-angguk tanda menyetujui usulan Bayan Sirad. Bayan Sirad tersenyum.

“Ya sudah, Kang. Masalah sudah selesai! Daripada bertengkar lebih baik untuk bekerja bukan?”

“Inggih, Ki Bayan. Terima kasih nasihatnya!” kata Kang Parto.

Kedua orang itu bersalaman kemudian meninggalkan tempat ter-sebut. Ki Bayan Sirad lega hatinya menyaksikan hal tersebut. Dia telah berhasil mencegah terjadinya pertumpahan darah.

Dengan tersenyum, ditinggalkannya tempat itu menuju kembali ke rumahnya. Suatu ketika Mbah Candra yang menjadi kepala dusun atau bahu di Jakatawa sakit.

Mbah Candra sudah sangat lama menjadi Bahu Jakatawa. Usianya sudah sangat tua. Akhirnya, disepakati untuk mencari pengganti Mbah Candra sebagai Bahu Jakatawa. Ketika musyawarah di Balai Dusun Jakatawa, beberapa orang diusulkan termasuk Bayan Sirad.

“Saya usul, Bayan Sirad jadi pengganti Mbah Candra,” kata Senthu.

“Saya setuju!” sahut Ki Kartareja.

“Betul, saya juga setuju!” sabung Ki Ardamenawi.

Karena banyak yang mendukung Sirad, akhirnya ia terpilih menjadi Kepala Dusun atau Bahu Jakatawa. Pada waktu itu pusat pemerintahan Dusun Jakatawa berada di sebelah utara jalur kereta api, sedangkan rumah Bahu Sirad di sebelah selatan rel, tidak jauh dari rawa-rawa yang biasa disebut Rawakeling.

Masyarakat percaya bahwa Rawakeling merupakan daerah yang wingit. Di dekat Rawakeling terdapat gumuk atau tanah yang lebih tinggi dari daerah sekitarnya. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, ada dua ekor hewan sakti yang tinggal di sana. Yaitu seekor menjangan rawa dan seekor banteng yang bertanda putih di dahinya.

Beberapa orang pernah melihat menjangan berbulu abu-abu itu melintas di gumuk, bahkan ada seorang pemburu mencoba menembaknya berkali-kali, tetapi tak satu pun peluru yang menembus tubuhnya. Peluru itu hanya berjatuhan saja.

Ketika Bahu Sirad sedang berjalan-jalan, ia bertemu beberapa warga.

“Dari mana, Kang?”

“Dari gumuk sana, Ki Bahu, saking Siti Hinggil,” jawab orang itu.

“Lha, sampean mau ke mana, Yu?”

“Saya mau menyebar kacang ke gumuk sana, wonten Siti Hinggil,” kata wanita itu sambil menunjuk daerah Rawakeling.

Karena seringnya warga menyebut tempat itu Siti Hinggil, Bahu Sirad mem-punyai rencana mengganti nama Dusun Jakatawa menjadi Sitinggil.

Bahu Sirad menyampaikan rencana tersebut kepada Senthu.

“Kang Senthu, saya punya rencana untuk mengganti nama Dusun Jakatawa menjadi Dusun Sitinggil,” kata Bahu Sirad.

“Mengapa diganti nama Sitinggil, Ki Bahu?” tanya Senthu.

“Karena di tempat ini terdapat gumuk yang oleh orang-orang disebut Siti Hinggil,” jawab Bahu Sirad.

Beberapa hari kemudian Bahu Sirad mengumpulkan warganya untuk membicarakan masalah tersebut. Dalam musyawarah tersebut diperoleh kesepakatan untuk mengganti nama daerah Jakatawa se-belah selatan rel menjadi Sitinggil.

Cerita Rakyat Cilacap ini diceritakan kembali oleh Ery Agus Kurnianto.

Penerbit:
Balai Bahasa Jawa Tengah
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Komentar