Cerita Lengkap KKN di Desa Penari SimpleMan

ilustrasi cover cerita KKN di Desa Penari
ilustrasi cover cerita KKN di Desa Penari

namun, motor Wahyu benar-benar mereka betulkan, dan mereka tulus membantu tanpa meminta apapun,
jadi, apa mungkin, hantu bisa membetulkan motor.

satu yang coba Widya yakini, mungkin, mereka tidak melihat kampung tadi saja, yang terpenting, di jalan setapak ini, Desa KKN mereka sudah semakin dekat.
sesampainya di kampung, Wahyu pergi mengembalikan motor, sedangkan Widya sudah di tunggu oleh semua anak, mereka khawatir, berdiri menunggu di teras rumah.

“tekan ndi seh?? kok suwe’ne” (darimana sih? kok lama sekali) kata Ayu,

“tekan Kota, belonjo keperluan kene” (dari kota)
(belanja keperluan kita)

Nur membuang muka melihat Widya, sudah biasa, kadang Nur memang seperti itu, setelah dia menceritakan kejadian kemarin, ia tidak lagi mau membicarakan itu, sekarang, dia sedikit menjauhi Widya, dan ia merasakan itu, sangat terasa.
di suasana tegang itu, hanya Bima yang mencoba mencairkan suasana, “wes ta lah, kok kaku ngene seh”(sudahlah, kok canggung gini)

Bima menggandeng Widya, menyuruhnya masuk rumah, “awakmu pegel kan” (kamu pasti capek kan)

tidak beberapa lama, Wahyu sudah datang, ia masuk ke rumah
tanpa membuang2 waktu, alih-alih ia istirahat, Wahyu dengan suara menggebu-gebu bercerita kalau baru saja mengalami kejadian tidak mengenakan atas insiden motor, sampai dibantu, orang kampung, tidak lupa, ia bercerita tentang penari yang ia temui, kecantikanya, ia ceritakan semua
bukan sambutan yang Wahyu dapat, tapi tatapan kebingungan lah yang pertama Wahyu lihat.

“ra onok Deso maneh nang kene” (tidak ada desa lagi di sini) kata Bima, Wahyu yang mendengar itu tidak terima.

“eroh tekan ndi awakmu” (tau darimana kamu)

“aku wes sering nang kota yu,”
(aku sudah sering ke Kota Yu) “Prokerku onok hubungane ambek program hasil alam, dadi sering melu nang kota mabek wong-kene” (Prokerku berhubungan sama program hasil alam, jadi sering ikut ke kota sama orang dini) “sampe sak iki, aku rong eroh onok deso maneh nang kene”
(sampai sekarang, aku belum nemuin satu lagi kampung di dekat sini)

“ngomong opo, mbujuk” (bicara apa, nipu) kata Wahyu geram.

“Mas” kata Nur, “pancen ra onok Deso maneh nang kene, kan wes tau dibahas” (Mas, memang gak ada lagi desa di sini, kan sudah pernah dibahas dulu)
“koen kabeh nek ra percoyo, tak dudui bukti, nek aku ketemu wong deso liane” (kalian kalau gak percaya tak kasih bukti kalau ada desa lain di sekitar sini)

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait