Cerita Lengkap KKN di Desa Penari SimpleMan

ilustrasi cover cerita KKN di Desa Penari
ilustrasi cover cerita KKN di Desa Penari

Wahyu dan Widya, terdiam cukup lama, seperti termenung memastikan bahwa yang mereka lihat, manusia.
tidak ada angin, tidak ada hujan, Wahyu dan Widya tercekat saat ada orang tua bungkuk bertanya tiba-tiba tepat di samping mereka.

“Nopo le” (ada apa nak?) suaranya halus sekali, sangat halus, “sepeda’e mblodok?” (motornya mogok?)

Wahyu dan Widya hanya menggangguk, pasrah.
si orang tua memanggil anak-anak yang lebih muda, kemudian menuntun sepeda, menepi dari jalan raya, tidak lupa, di orang tua mempersilahkan Wahyu dan Widya istirahat sebentar, sembari menunggu motornya di betulkan.

suanasanya ramai, semua orang dibuk dengan urusanya sendiri2
ada yang bercanda, ada yang mengobrol satu sama lain, ada yang menikmati alunan gamelan yang di tabuh seirama, lengkap dengan di pengantin yang terlihat jauh dari tempat Wahyu dan Widya duduk.

“aku ra eroh nek onok kampung nang kene?” (aku tidak tau ada kampung di sini?)
Widya hanya diam saja, matanya fokus pada panggung, di depan penabuh gamelan masih ada ruang, acara apa yang akan mereka adakan dengan ruang seluas itu.

rupanya, pertanyaan Widya segera terjawab, dari jauh, tiba-tiba tercium aroma melati. aroma yang familiar bagi Widya.
di ikuti serombongan orang, dihadapanya ada seorang penari, ia di tuntun naik ke atas panggung, kemudian, semua orang memandang pada satu titik, tempat penari mulai berlenggak lenggok di atas panggung, semua mata, seperti terhipnotis melihatnya
“Ayu’ne curr!”(cantik sekali anj*ng!) kata Wahyu

bingung, apakah hanya perasaan saja, mata di penari beberapa kali mencuri pandang pada Widya, ia seperti mengenal penari itu, tapi, tidak ada yang tau siapa di penari, sampai si bapak tua kembali, menawarkan makanan pada mereka
Wahyu yang mungkin lapar, melahap habis mulai dari lemper sampai apem di hadapanya, sembari bercakap-cakap sama si bapak tua, namun Widya lebih suka melihat di penari, ia mampu membuat semua orang tertuju melihatnya, menatapnya dengan tatapan yang menghipnotis.
setelah di penari turun dari panggung, si bapak mengatakan, motor mereka sudah selesai, bisa di naikin lagi, benar saja.

motor mereka sudah bisa di pakai lagi, sebelum pergi, Wahyu dan Widya berpamitan, mereka berterimakasih sudah mau menolong mereka yang kesusahan,
si bapak menggangguk, mengatakan mereka harus hati-hati, tidak lupa si bapak memberi bingkisan, menunjukkan isinya pada Wahyu dan Widya, itu adalah jajanan yang di hidangkan tadi, membungkusnya dengan koran, Widya menerimanya, mengucap terima kasih lagi, lalu lanjut pergi.
tidak ada yang seheboh Wahyu, yang terus berbicara tentang cantiknya paras di penari, kisaran usianya mungkin lebih tua dari mereka, namun, cara dia berdandan, bisa menutupi usianya sehingga dari jauh, kecantikanya terlihat begitu sulit di gambarkan.
Widya, lebih tertarik dengan kampung itu. demi apapun, sewaktu perjalanan, tidak di temui satu kampung pun, jangankan kampung, warung saja tidak ada sama sekali.

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait