namun, pak Prabu mengatakan hal lain yang membuat Widya begidik ngeri,
“onok sing nyoba ngbari sampeyan mbak” (ada yang mencoba memberi pesan sama kamu mbak)
“sinten pak?” (siapa pak?)
“mbah-mbah sing nunggu nang Watu Item” (kakek-kakek penjaga batu kali itu)
setelah kejadian itu, Widya diminta ke rumah pak Prabu bila masih sakit.
namun, ada kejadian lagi, yang Widya alami, kali ini melibatkan Nur, dan alasan kenapa rentetan semua kejadian ini, berhubungan satu sama lain.
Mohon Maaf, harusnya hari ini gw Free, udah siapin waktu juga, rencana awal mau namatin malam ini tapi tiba-tiba di suruh lembur lagi.
besok saja ya, mohon maaf sekali.
waktu itu siang hari, Widya sedang mengerjakan prokernya yang sudah tertunda beberapa hari, Wayu mendekati Widya, ia menawarkan kesempatan untuk ke luar desa sementara karena harus membeli perlengkapan untuk progress kerjanya yang harus dibeli di kota.
“Melu mboten?” (ikut gak?)
“adoh gak?” (jauh gak?)
“2 jam” kata Wahyu, “aku wes ijin pak Prabu, oleh nyilih motor’e” (aku sudah ijin pak Prabu, boleh pinjem motornya)
“nggih pon, melu” (ya sudah, ikut)
Wahyu melihat jam di tanganya, pukul 11 lewat, ia harus cepat menyelesaikan urusanya di kota, karena sesaat sebelum meminta ijin, pak Prabu sudah mewanti-wanti untuk sudah kembali sebelum hari petang, saat Wahyu menanyakan kenapa harus seperti itu, toh ada jalan setapak yang gampang di telusuri untuk masuk ke hutan ini.
dengan wajah tidak tertebak, pak Prabu, mengatakan, “gak onok sing ngerti opo sing onok gok jero’ne Alas le” (tidak ada yang pernah tau apa yang tinggal di dalam hutan nak).
Tampilkan Semua

