Cerita Lengkap KKN di Desa Penari SimpleMan

ilustrasi cover cerita KKN di Desa Penari
ilustrasi cover cerita KKN di Desa Penari

“cah lanang ding ngganteng iku ae wes kenal loh kale Badarawuhi” (anak ganteng itu saja sudah kenal sama dia)
“Nur” ucap Widya sembari tidak bisa menahan takutnya lagi, suasana di ruangan itu benar-benar baru kali ini bisa membuat Widya setakut ini.

“iling Nur iling” (sadar Nur sadar)

Nur tertawa semakin kencang, tertawanya benar-benar menyerupai tertawa yang membuat Widya diam takut.
“awakmu gak ngerti, sopo aku” (kamu gak ngerti siapa aku?)

“mbok pikir, nek gak onok aku, cah ndanlek model koncomu sing gowo Bolo alus nang kene isok nyilokoi putu ‘ku, aku, sing jogo Nur sampe sak iki, ra tak umbar, Bolo alus nyedeki putuku. ngerti”
(kamu pikir, kalau tidak ada aku, anak nakal seperti temanmu yang sudah membawa penunggu di sini bisa mencelakai cucuku, aku yang selama ini sudah menjaganya, tidak akan ku biarkan mereka mendekati cucuku. mengerti)
“nyilokoi nopo to mbah” (mencelakai bagaimana?)

“cah ayu, kancamu siji bakal ra isok balik. nek awakmu rong sadar, opo sing bakal kedaden, tak ilingno, cah ganteng iku, bakal gowo ciloko, nyeret kabeh nang petoko nang deso iki”
(anak cantik, satu dari temanmu tidak akan bisa kembali, jika kamu belum sadar, semuanya akan terjadi, ingatkan anak itu, yang sedang membawa petaka jika di biarkan semuanya akan kena batunya di desa ini)

setelah mengatakan itu, Nur teriak keras sekali, lalu jatuh terjerembap.
Widya menggotong Nur kembali ke kamarnya, menungguinya sampai ia terbangun dari pingsanya, dan benar saja, ia tidak tahu kenapa ia bisa tertidur, mungkin terlalu terbawa ketika sholat.

Nur bercerita saat di pondok, kalau sudah kudu menikmati sholatnya, biasanya sampai ketiduran.
entah apa yang Widya pikirkan, sampai tiba-tiba ia bertanya hal yang Nur paling tidak sukai

“sejak kapan bisa lihat begituan?”

awalnya, Nur salah tingkah, tidak mau cerita, sampai ketika Widya menungguinya, Nur mengatakanya, sejak mondok, ia bisa melihatnya, karena memang harus
“Ghaib itu ada” kata Nur, “sebenarnya, tiap orang ada yang jaga, jenisnya berbeda-beda, ada yang jahat, ada yang baik, ada yang cuma mengikuti, ada yang cuma numpang lewat”

“awakmu onok sing jogo?” (kamu ada yang jaga?) tanya Widya.
“jarene onok” (katanya ada) ucap Nur, suaranya pelan, sepeti tidak mau menjawab.

“kok jarene” (kok katanya)

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait