mereka berangkat, menembus jalan setapak, lalu sampai di jalan raya besar, menyusurinya, jauh, sangat jauh, sampai akhirnya mereka tiba di kota B, di sana mereka berhenti di sebuah pasar, Wahyu dan Widya mulai mencari segala keperluan mereka.
kurang lebih setelah 2 jam,
mencari kesana kemari dan setelah mendapatkanya, mereka langsung cepat kembali.
Wahyu berhenti di pom bensin, ia harus mengembalikan motornya dalam keadaan bensin full, etika ketika meminjam barang orang lain.
jam sudah menunjukkan pukul 4, sudah terlalu sore, sejenak ia melihat Widya dari jauh, ia berhenti tepat di samping penjual cilok, ketika Wahyu sampai di sana, ia membeli beberapa cilok, untuk Widya dan dirinya sendiri, saat itulah, di penjual cilok, melihatnya seperti ingin menyampaikan sesuatu.
“Mas nya pendatang?” kata orang asing itu.
“mboten pak” “kulo KKN ten mriki” (tidak pak, saya hanya KKN di sini)
“tetep ae, wong joboh to” (tetap saja, orang luar kan?) kata di penjual, masih melihat Widya dan Wahyu bergantian.
“nek oleh takon, masnya sama mbaknya KKN dimana?”
Wahyu menceritakan semuanya, termasuk tempat KKN nya, saat itu juga terlihat jelas sekali perubahan wajah di penjual.
“Loh, sampeyan berarti mari iki liwat Alas D*********??” (berarti sebentar lagi anda akan lewat di hutan **********??)
“nggih pak” (iya pak)
“loh loh, halah dalah” “wes yangmene mas, opo ra isok mene ae mas, sampeyan golek penginapan ae, soale nek jam yangmene, jarang onok sing liwat” (sudah jam segini mas, apa gak bisa besok saja mas, cari saja penginapan, soalnya jam segini sudah jarang ada yang lewat) kata si bapak


