“Bima, kudu ngawini Badarawuhi, anak’e iku wujud’e ulo, sekali ngelahirno, isok lahir ewonan ulo”
(Bima harus mengawini Badarawuhi, anaknya itu berwujud ular, sekali melahirkan, bisa lahir ribuan ular)
“salah kancamu, wes ngelakoni hal gendeng nang kunu, dadi kudu nanggung akibate” (salah temanmu sendiri, jadi sekarang mereka harus tanggung jawab)
“Badarawuhi iku ngunu ratune ulo, bangsa lelembut sing titisan aji sapto, balak’e ra isok di tolak opo maneh di mendalno, mene isuk, tak coba’e ngomong apik-apik’an, wedihku, koncomu ra isok balek orep2”
(Badarawuhi itu ratunya ular, bangsa lelembut yang sudah tak terbendung, kutukanya, gak bisa di tolak apalagi sampai di buang, besok pagi, biar tak coba ngomong baik-baik, takutnya, temanmu tidak bisa kembali hidup2)
mbah buyut pergi, Nur, Wahyu dan Anton melihat Widya sendirian di pawon, duduk, sembari termenung.
“Goblok! Bima karo Ayu asu! kakean ngent*t!” (bodoh! Bima sama Ayu itu Anj*ng! kebanyakan ngent*t)
kaimat itu, yang mereka semua pikirkan malam itu. meski yang di ucapkan Wahyu itu kasar, namun tidak ada yang keberatan dengan semua itu, terlebih, masalah ini sudah sampai ke pihak kampus, Bahkan ke keluarga Bima dan Ayu.
pak Prabu menceritakan bahwa kronologi kejadian ini sudah tidak bisa mereka bendung, KKN yang menjadi tanggung jawab beliau, harus sampai, ke semua orang yang terlibat, meski awanya Nur mencoba memohon agar masalah ini jangan sampai ke luar dulu, namun, hilangnya Widya, membuat Pak Prabu akhirnya menyerah dan memilih melaporkanya.
lalu apa yang terjadi sama Ayu dan Bima?
Pagi itu, serombongan mobil datang, mereka adalah keluarga sekaligus panitia KKN yang sudah mendengar semua ceritanya dari pak Prabu.
Tampilkan Semua

