Menilik Kisah dan Riwayat Syaikh Sufyan Tsauri Cigaru Majenang

cilacap info featured
cilacap info featured

Sufyahn Tsauri muda kemudian dijodohkan dengan Siti Marchamah, puteri dari K. Abdul Majdid. Setelah pernikahan berlangsung, Syekh Sufyan Tsauri kembali menuju Pondok Pesantren Tremas di Pacitan untuk memperdalam Ilmu Pengetahuan Islam selama 3 (tiga) tahun.

Setelah itu Syekh Sufyan Tsauri kembali ke Cigaru dan mengabdikan Ilmunya dengan sepenuh hati. Pada tahun 1927, Syekh Sufyan Tsauri berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan Ibadah Haji.

Ketika pertama kali Syekh Sufyan Tsauri memasuki Pondok Pesantren Cigaru, kondisinya masih sangat sederhana. Masjid dan Pondok masih beratap alang-alang. Santrinya masih sedikit.

Berkat ketekunan Syekh Sufyan Tsauri, santrinya bertambah banyak. Pada tahun 1935, jumlah santri mencapai 880 orang yang berasal dari dalam dan luar negeri seperti Singapura dan Malaysia. Syekh Sufyan Tsauri mengajarkan Kitab Tafsir, Hadits, Fiqh, Aqoid dan Tasawuf serta Ilmu Alat lainnya.

Untuk ukuran kondisi Pondok Pesantren di era Pendudukan Penjajah, Keberadaan Pesantren Cigaru termasuk berkembang pesat dan semakin dirasakan manfaatnya oleh Masyarakat Majenang khususnya.

Hal itu terjadi sampai dengan peristiwa pendudukan Jepang. Pada saat itu, Syekh Sufyan Tsauri merasa perlu untuk terjun, bersama para santrinya, untuk berjuang mmempertahankan kemerdekaan Indonesia. Syekh Sufyan Tsauri pun turun mempelopori Perjuangan untuk memimpin Umat Islam Majenang dalam melawan Penjajah.

Pada awal tahun 1945 dibentuklah pasukan Hizbullah yang terdiri dari para pemuda Islam yang patriotik. Dalam pembentukan ini, putra-putra Majenang tidak ketinggalan ikut andil. Dan atas restu dari Syekh Sufyan Tsauri berangkatlah enam orang pemuda Majenang untuk mengikuti latihan Hizbullah, me’reka ialah: Syaefurrahman Suwandi, Habin Adnan, Ahmad Ghozali, A. Muhdzier, Loekman Daroni dan Soehari.

Keenam orang tersebut adalah santri-santri Syekh Sufyan Tsauri. S. Suwandi mendapat latihan di Cisarua Bogor selama tiga bulan, sedang lima orang lainnya berangkat pada giliran yang kedua dan dilatih di Dai Dan Peta Kroya Cilacap di bawah asuhan Jenderal Soedirman yang pada waktu itu menjabat Dai Dan Cho PETA Kroya.

Setelah peristiwa pemberontakan Peta melawan Jepang di Gumilir Cilacap yang dipimpin oleh Kusaeri, Mursidik dlan Sardjono, maka tempat latihan dipindah ke Dai Dan Peta Sumpyuh. Baru saja berlangsung dua bulan latihar dibubarkan pada tanggal 15 Agustus 1945, karena Jepang kalah perang melawan sekutu.

Pada tanggal 7 Nopember berlangsung Mu’tamar Urnat Islam Seluruh Indonesia di Yogyakarta yang kemudian melahirkan partai Masyumi dan telah mengambil keputusan antara lain: “Bahwa Umat Islam fardlu ‘ain melakukan perang total, jihad fisabilillah untuk membela Negara dan Agama”. Untuk melaksanakan Keputusan tersebut harus dibentuk barisan yang kuat yang dapat menghimpun tenaga pemuda (yang ber umur 35 kebawah) dan orang tua (yang ber-umur 35 tahun keatas) dengan cara meningkatkan dan memperbesar pasukan Hizbullah yang telah ada ditambah dengan barisan Sabilillah.

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait