Menurut teori tentang tahap perkembangan manusia atau psikososial yang dikembangkan oleh Erik Erikson diketahui bahwa masa lansia merupakan masa integritas versus kekecewaan.
Teori itu menyebutkan bahwa seorang lansia yang mencapai masa integritas akan menemukan kedamaian dalam hidupnya.
Sementara itu, jika seorang lansia kesulitan mengintegrasikan antara masa lalu, masa kini dan masa depan akan cenderung menyesali hal-hal yang tidak sesuai keinginannya dan mudah merasa kecewa atau putus asa.
Berdasarkan teori tersebut, psikolog dari Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) cabang Barlingmascakeb Anna Kartika mengatakan bahwa Mbah Kasnadi merupakan contoh lansia yang dapat mencapai masa integritas.
“Ia berada dalam sisi diri yang utuh, mampu menerima setiap bagian dalam kehidupannya sebagai kesatuan dirinya, bukan pribadi yang kecewa, menyesali masa lalu dan lain sebagainya. Sehingga ia sehat secara psikologis,” katanya.
Sehat secara psikologis tersebut pada akhirnya dapat mendukung kondisi fisiknya sehingga ia masih mampu berjualan keliling dengan berjalan kaki sambil memikul bakul besar, dari satu desa ke desa lainnya.
Dia mengatakan kondisi Mbah Kasnadi juga merupakan dampak dari kebiasaan yang ia jalani sekian tahun lamanya.
Kebiasaan adalah perilaku berulang yang terbentuk dari aspek kognitif atau kesadaran, afektif atau perasaan dan konatif atau perilaku.
“Caranya yang pasrah menjalani hidup menjadikan tidak banyak konflik dalam diri sehingga aspek kognitif sangat berperan, sementara aspek afektif ditunjukkan dengan ia yang bahagia dengan kesederhanaan hidupnya. Selain itu aspek konatif ditunjukkan caranya menyikapi setiap segi kehidupannya dengan positif,” katanya.
Lansia Produktif
Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Praktisi dan Ahli Demografi Indonesia (IPADI) Soedibyo Alimoeso mengatakan lansia memang diharapkan tetap aktif di hari tuanya agar menjadi lansia yang sehat, aktif, mandiri, produktif dan bermartabat.
“Kalau lansia itu terus aktif, maka proses penuaan bisa diperlambat, seperti gangguan fisik, kognitif dan lainnya,” katanya.
Ia menambahkan bahwa lansia memang diharapkan menjadi pribadi yang sehat, aktif dan produktif sehingga tidak menjadi beban bagi keluarganya.
“Lansia itu bukan beban, tetapi justru aset, karena pengalaman dan kearifannya sehingga bisa menjadi SDM yang baik sesuai kemampuannya,” katanya.
Dengan demikian, kata dia, seluruh pihak terkait perlu memperhatikan pembangunan manusia secara utuh dengan pendekatan siklus hidup agar menghasilkan generasi yang lebih baik.
“Untuk lansia tentu diupayakan mereka untuk tetap aktif dan mandiri agar bisa memetik bonus demografi tahap kedua. Lansia yang bermasalah perlu dilakukan pendampingan dan perawatan secara benar dan baik oleh pemerintah daerah ataupun keluarganya,” katanya.
Tampilkan Semua

