Mengenal Tarian Sufi Maha Karya Rumi

cilacap info featured
cilacap info featured

Sementara itu di panggung, tebaran tembang melentingkan nuasa kesyahduan bersama lantunan wirid yang diselingi dzikir. Semilir angin terasa menyapu sekitarnya. Sungguh, pemandangan malam itu membawa penonton pada suatu tempat di mana sebuah ritual kudus sedang digelar.

Memang, kekudusan di sini tak berpaut dengan sebuah prosesi keagamaan, tapi berkelindan dengan sesuatu yang lain: gerak dan ritme tarian sufi yang konsentrik. Sosok darwis dibentuk menyerupai mandala yang indah.

Tarian melingkar darwis bisa digambarkan seakan planet-planet di angkasa raya sedang berputar mengitari matahari. Gerak melingkar dan berputar seperti gasing itu juga menggambarkan upacara tawaf atau mengelilingi Ka’bah pada waktu orang Islam melaksanakan ibadah haji.

Energi gerakan memutar yang melingkar-lingkar di tengah penonton ini menggambarkan gagasan sentral ajaran tasawuf, yaitu musyahadah (penyaksian penuh kehadiran dan keberadaan yang Esa). Apa yang dilakukan para penari sufi ialah menghadirkan suasana kerinduan mistikal Sufi kepada yang Satu, kekhusyukan jiwa mereka yang sedang berdoa dan tafakur.

Kain yang merumbai, ketika mereka berputar bak jamur raksasa yang memancar cahaya putih penuh dengan pesan simbolik. Dan pesan dari warna simbolik itu dapat digunakan sebagai bentuk penggambaran tentang keriangan rohani dari jiwa yang kerinduannya kepada yang Satu telah terpuaskan.

Sekitar tigapuluh menit itu, para penari tak lelah berputar dan akhirnya mereka terjatuh. Satu orang penari masih berbaring sendirian, sementara kedua penari yang lain telah beranjak bergabung dengan jemaah yang melingkar itu.Sesosok tubuh penari yang terbalut kain putih itu tengah bersujud ke arah sang guru, menirukan salah satu gaya yoga.

Ia bersujud dengan punggung rata bagaikan sebilah anak panah yang terentang dalam busur. Ia diam selama beberapa menit, barangkali sedang bermeditasi, barangkali sedang menyatukan detak jantungnya dengan degup jiwa semesta.

Musik dengan bunyi-bunyian yang minim mengalun lembut, mengajak khalayak untuk membayangkan bunyi-bunyian itu sebagai suara tangis dan gumam sedih, apalagi dibarengi dengan lafadz dzikir yang menghiba-hiba memanggil asma-Nya semata. Beberapa saat kemudian ia bergerak, menggeliat pelan dan pertunjukan berakhir.

Bentuk tarian sufi sesungguhnnya merupakan khasanah peradaban Islam yang tiada taranya di Persia pada beberapa abad yang lampau. Kini, tarian sufi sudah sangat jarang dilakukan oleh sebagian golongan tarekat di Indonesia.

Salah satu thariqat yang mengajarkan muridnya tarian sufi, yakni thariqat Naqsabandiyah Haqqaniyah yang bermursyid Syekh Hisyam Kabbani Al Haqqani.

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait