Legenda Bunga Wijayakusuma

cilacap info featured
cilacap info featured

Sementara itu, di Kasuhunan Surakarta, Sri Susuhunan tampak gelisah dan resah. Setiap detik dirasanya bagaikan siksaan yang sangat menyakitkan. Wajahnya kadang-kadang memegang dan pandangannya seperti kosong. Sejak keberangkatan Ki Patih dan keempat puluh prajuritnya untuk mencari bunga Wijayakusuma, Sri Susuhunan selalu tegang. Ia merasa resah dan selalu gelisah menanti hasilnya. Dari hari ke hari Sri Susuhunan menanti dengan tidak sabar. Namun, ia tidak melupakan keluarga Ki Patih dan para prajuritnya. Hampir setiap hari ia berkeliling dan menjenguk serta memberikan harapan-harapan kepada keluarga yang ditinggalkan para utusannya itu agar selalu sabar dan tabah. Meskipun sebenarnya ia sendiri selalu gelisah dan resah.

Pada suatu hari, Adipati Rekso memberi tahu Sri Susuhunan bahwa ada berita tentang Ki Patih dan para prajuritnya. Dari berita itu dikabarkan bahwa hanya satu kapal layar yang kelihatan, sedangkan yang lainnya tidak tampak. Sri Susuhunan sangat terpukul mendengar berita itu. Ia merasa sedih karena banyak prajuritnya yang tidak kembali. Wajah Sri Susuhunan tampak pucat dan berlinang air mata. Ia memerintah Adipati Rekso menyiapkan penyambutan kedatangan Ki Patih dan keempat prajuritnya yang selamat itu. Sri Susuhunan juga menginstruksikan untuk mengundang keluarga korban dan masyarakat untuk menyambut kedatangan Ki Patih dan keempat prajurit yang selamat itu. Tidak lupa, para keluarga korban diberi santunan yang layak serta penghargaan setinggi-tingginya. Keluarga korban yang ditinggalkan juga diberi jaminan bagi kelangsungan hidupnya. Sri Susuhunan juga berusaha meyakinkan keluarga korban bahwa suami, ayah, atau anak yang telah menjadi korban itu adalah pahlawan karena telah berjuang demi kepentingan negara.

Sri Susuhunan duduk dan menengadahkan kedua tangannya untuk memohon kepada yang Mahakuasa agar bunga Wijayakusuma yang ditebus dengan banyak pengorbanan itu tidak menjadi sia-sia.

Sri Susuhunan mengharap semoga bunga itu menjadi dorongan bagi pelanjut dirinya dalam memimpin pemerintahan yang adil dan bijaksana dalam memimpin Kasuhunan Surakarta.

Copyright: Cerita Rakyat
Balai Bahasa Jawa Tengah
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait