Malam itu semakin larut dan udara semakin dingin. Ki Patih dan keempat prajurit itu tiba-tiba mencium bau harum yang menyengat. Bau harum itu sangat menggoda kekhusukan semadinya. Semadi mereka itu berakhir secara bersamaan dan mereka membuka mata secara serempak. Mereka sangat takjub melihat bunga Wijayakusuma yang sedang mekar berada di depan mata mereka. Pancaran sinar yang ke luar dari bunga Wijayakusuma itu bertambah indah. Pancaran sinarnya sangat menakjubkan karena mereka belum pernah melihatnya.
Saat itu malam telah larut dan suasana semakin sepi. Hanya suara deburan ombak dan suara desiran angin yang terdengar. Suasana malam itu mendadak berubah, yang tadinya sangat dingin mendadak jadi hangat. Mungkin karena pancaran sinar bunga Wijayakusuma yang menyebabkan malam itu berbeda dengan malam lainnya. Biasanya, malam-malam di tepi pantai selatan terasa sepi dan dingin. Sekarang, saat bunga Wijayakusuma mekar dan memancarkan sinar, suasana menjadi terang benderang. Pada saat itu, bunga Wijayakusuma sedang mencapai puncak mekarnya. Bunga tersebut memancarkan sinar yang indah sehingga menerangi apa pun yang berada di sekelilingnya. Selain itu, bunga tersebut menebarkan keharuman yang semerbak ke sekelilingnya.
Ki Patih dan keempat prajurit itu sangat takjub melihat bunga Wijayakusuma yang sedang mekar.
Melihat keadaan seperti itu, Ki Patih dan para prajurit terpukau. Mereka tidak bosan-bosannya memandangi bunga Wijayakusuma yang sedang mekar itu. Namun, tiba-tiba bunga yang sedang mekar itu terlepas dari tangkainya dan jatuh tepat ke dalam mangkuk yang telah disediakan oleh Ki Patih. Sinarnya mendadak jadi berkurang, tetapi harumnya tetap semerbak. Akhirnya, bunga Wijayakusuma itu dapat dikuasai oleh Ki Patih dan keempat prajurit itu. Mereka berpelukan dan bercengkeraman karena terharu. Rasa lega menyelinap ke dalam hati mereka. Mereka bergumam bahwa untuk mendapatkan bunga Wijayakusuma itu harus ditebus dengan tiga puluh enam nyawa temannya. Ketiga puluh enam prajurit pilihan itu merupakan pahlawan yang telah berjuang mengemban tugas negara. Bunga Wijayakusuma itu telah meminta tumbal jiwa yang tidak sedikit. Tiga puluh enam jiwa prajurit teladan telah terenggut nyawanya dalam perburuan bunga Wijayakusuma itu.
Ki Patih kemudian mengajak keempat prajurit itu mempersiapkan diri untuk kembali ke Surakarta. Tidak lupa, Ki Patih membawa mangkuk yang berisi bunga Wijayakusuma itu. Ia membungkus bunga itu dengan kain. Ki Patih membawa bunga itu dengan hatihati. Keempat prajuritnya siap mengawal keamanan agar bunga Wijayakusuma dapat sampai di Kasuhunan Surakarta dengan selamat.
Tampilkan Semua

