Pada suatu pagi yang cerah terdengar suara telapak kaki kuda, datanglah seseorang dari Mataram menghadap Adipati Wirapraja.
“Adipati yang hamba hormati. Kami diperintahkan Sultan Mataram untuk memperluas pengaruh Mataram ke daerah barat, khususnya Ciancang Ciamis, dengan maksud agar daerah itu takluk terhadap Mataram dan mempertahankan wilayah kita dari Kompeni Belanda.”
“Saya terima maksud kedatangan Adipati untuk bergabung ber-sama pasukan kami dari Dayeuhluhur. Mudah-mudahan Ciancang Ciamis tidak dapat direbut oleh pihak Belanda.”
Dipersiapkanlah semua perlengkapan perang. Kegagalan me-nangkap pasukan Diponegoro dan menumpas pemberontakan di Mataram menimbulkan kemarahan pihak Belanda. Akibatnya, Be-landa secara membabi buta melakukan pembakaran desa-desa, menganiaya anak-anak, berbuat tercela terhadap perempuan, dan membunuh para tawanan. Dengan menyaksikan kejadian itu, pa-sukan Mataram dan prajurit Dayeuhluhur sangat geram terhadap kelakuan Belanda.
“Mari kita bersatu untuk memperkuat perlawanan kita kepada Belanda! Kita satukan kekuatan kita dan mari kita berjuang sampai titik darah penghabisan. Kita namai pasukan kita dengan nama Gerombolan Wetan. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, hidup pejuang kita, hidup!” begitu teriak semangat pejuang kita.
Pada hari yang sudah ditentukan, bersiaplah semua prajurit dengan segala perlengkapan perang untuk segera berangkat. Adi-pati Wirapraja memimpin pasukan sendiri. Keesokan harinya se-mua pasukan gabungan berangkat menuju Ciancang Ciamis, dan terjadilah pertempuran berhari-hari. Bunyi gemerincing senjata beradu keris dan tombak semakin riuh. Perkelahian satu lawan satu antara serdadu Belanda dan pasukan Gerombolan Wetan makin memuncak. Satu persatu pasukan Gerombolan Wetan tewas karena para pejuang hanya bersenjata keris dan tombak, sedangkan Belanda menggunakan senjata modern. Dengan demikian, banyak korban di pihak kita, tetapi pejuang kita masih pantang menyerah. Mereka mempertaruhkan nyawanya untuk memenangi peperangan.
Ketika peperangan berlangsung, tiba-tiba terdengar teriakan komandan serdadu Belanda, “Hei, kalian para ekstremis. Kalian me-nyerah saja, pemimpinmu telah tertembak! Mengapa kalian diam saja? Ayo menyerahlah kalau kalian orang punya mulut.”
Alangkah terkejutnya para pejuang mendengar teriakan itu. Mereka tidak menyangka Adipati Wirapraja telah gugur. Sesaat para pejuang terpukau. Akan tetapi, keheningan hanya berjalan sebentar saja. Para pejuang kembali bersemangat. Kehendak untuk menebus jiwa pemimpin merajai hati mereka.
“Ayo bangkit! Maju terus! Kita berjuang sampai titik penghabisan.
Allahu Akbar, Allahu Akbar,” teriak para pejuang Adipati Wirapraja.
Daerah pertempuran berpindah ke sebelah timur Ciancang Ciamis. Mayat bergelimpangan di sisi sungai. Pasukan yang masih hidup mundur karena tidak mungkin dapat melanjutkan lagi perlawanannya. Namun, para pejuang tidak patah semangat. Bahkan, kejadian itu menambah rasa benci kepada Belanda. Semangat baru untuk mempertahankan negara tercinta ini timbul lebih hebat dari yang sudah-sudah.
Tampilkan Semua
