“Wah, pasti orangnya cantik sampai si Aden lupa menanyakan namanya,” gurau Mamang Lengser. Prabu Gagak semakin terlihat malu.
“Dia tidak hanya cantik, tetapi juga baik hati dan lemah lembut.” “Besok kita cari gadis itu, Den.”
Keesokan harinya sang Prabu ditemani Mamang Lengser mencari rumah gadis tersebut. Mereka bertanya kepada orang-orang yang ditemui dengan menjelaskan ciri-ciri gadis itu. Setelah agak lama mencari, akhirnya mereka berhasil menemukan rumah sang gadis. Sang gadis sedang menyapu halaman rumahnya ketika mereka sampai di tempat itu.
“Permisi,” sapa Prabu Gagak kepada sang gadis.
Terkejut sang gadis dengan kedatangan Prabu. Dalam hatinya sangat ketakutan jika dirinya atau ayahnya telah melakukan kesalahan yang membuat sang Prabu murka sehingga mendatangi rumahnya. Ia tidak mengenali bahwa sang Prabu adalah laki-laki yang ditemuinya di hutan. Sebab, penampilan Prabu Gagak pada saat berburu berbeda sekali dengan saat ini.
“Ya, Paduka Prabu,” hormat sang gadis dengan lirih.
“Jangan takut, saya ke sini hanya ingin bertemu ayahmu,” kata sang Prabu kepada gadis itu. Sang gadis semakin khawatir jika ayahnya telah melakukan kesalahan. Akan tetapi, ia pun mempersilakan sang Prabu masuk ke rumahnya.
“Oh, mari silakan masuk, Paduka. Saya akan memanggilkan ayah saya,” diliputi perasaan takut, ia pun masuk ke dalam rumah dan me-manggil ayahnya.
Selang beberapa menit, ayah sang gadis ke luar menemui mereka.
“Daulat, Tuanku Paduka. Mohon maaf, Paduka Prabu, sekiranya hamba boleh tahu apa yang sebenarnya terjadi? Mungkinkah hamba atau anak hamba melakukan kesalahan kepada Paduka sehingga Paduka repot-repot menemui kami?” dengan lirih ayah sang gadis bertutur kepada Prabu Gagak.
“Jangan kaget. Jangan takut. Kedatangan saya ke sini adalah untuk mempersunting anak Bapak,” Prabu Gagak langsung menyatakan maksud kedatangannya. Terkejut dengan apa yang didengarnya, ayah sang gadis terdiam dan merasa khawatir.
Tampilkan Semua