Kerajaan Dayeuhluhur Cikal Bakal Kabupaten Cilacap

alam dayeuhluhur cilacap
alam dayeuhluhur cilacap

Penggawa Kerajaan pun sudah siap mengumpulkan rakyat untuk menyaksikan adu kesaktian itu.

“Rakyat Kerajaan Dayeuhluhur, berkumpulah sekarang, mari kita saksikan adu kesaktian antara raja kita dengan Suradika dari Cirebon!”
Di halaman istana Kerajaan gegap gempita orang-orang menyak-sikan adu kesaktian itu. Seorang penggawa berwara, “Para pembesar istana serta rakyat Kerajaan Dayeuhluhur, mari kita lihat adu ke-saktian. yang pertama adalah lomba makan.”

“Tuanku Raja Prabu Raksagati makan dengan daging kambing!” “Suradika makan dengan lauk daging ayam!”

“Siap!” serempak keduanya menjawab.

Waktu Penggawa Kerajaan memberikan aba-aba, terjadilah ke-anehan. Daging ayam dalam hidangan mengeluarkan suara berkokok, sedang daging kambing yang akan dimakan Raja Raksagati bersuara kambing, maka bersoraklah penonton.

“Hore, hebat, hebat!” teriak penonton.

“Hadirin adu kekuatan pertama seimbang,” teriak Mamang Lengser.

“Sekarang adu kesaktian kedua, memasang bubu (perangkap ikan) di halaman istana yang tidak ada airnya!”

Semua penonton terperangah. Tiba-tiba suatu keajaiban terjadi, di halaman istana yang tidak berair itu, bubu sang Prabu penuh ikan. Semua penonton bersorak, “Hidup Prabu, hidup Prabu!” sedang girang-girangnya penonton, tiba-tiba ada lagi keajaiban. Bubu Suradika berhasil menangkap putri sang Prabu. Penggawa sampai menganga mulutnya melihat keajaiban bubu Suradika sambil meloncat loncat, “Hidup Suradika, hidup Suradika!”

Dengan kejadian itu sang Prabu menyatakan diri kalah. “Aku mengakui kekalahanku, Suradika!”

“Sekarang sebagai imbalannya, nikahilah putriku yang terkena bubumu itu!”

Akhirnya, Suradika diangkat menjadi pejabat Kerajaan Dayeuh-luhur. Beberapa saat kemudian, Raja Raksagati mangkat digantikan putranya, Adipati Raksapraja menjasi raja keempat. Dalam me-laksanakan roda pemerintahan, Adipati Raksapraja terkenal sangat adil, arif, dan bijaksana serta mampu menjadi anutan dan pengayom masyarakatnya. Tidak mengherankan apabila masyarakatnya sendiri sangat patuh dan taat serta menghormati sang Adipati.

Keberhasilan Adipati Raksapraja dalam mengatur roda peme-rintahannya tidak terlepas dari pengalaman falsafah leluhurnya yang selalu dipegang teguh, yaitu Rineksa Panca Satya. Falsafah tersebut tidak hanya diamalkan, tetapi benar-benar berdampak kepada kesejahteraan negeri, sifat kerukunan, kegotongroyongan, dan tolong-menolong yang merupakan gambaran kehidupan masyarakat Dayeuhluhur sehari-hari.

Pengaruh Kerajaan Mataram sangat besar di Kerajaan Dayeuh-luhur. Terbukti dengan masuknya Adipati Raksapraja menganut agama Islam. Semakin hari kekuasaan Mataram semakin terasa dan untuk melicinkan jalan tersebut, Kerajaan Mataram melalui Kiai Gendeng Mataram memberikan seorang putri yang cantik jelita untuk diperistri oleh Adipati Raksapraja. Dari perkawinan itu lahirlah bayi laki-laki yang bernama Wirapraja. Kelak kemudian hari Wirapraja diangkat menjadi Adipati di Dayeuhluhur dengan gelar Adipati Wirapraja. Raja Raksapraja mengetahui bahwa permaisurinya adalah mantan selir Sultan Mataram. Wirapraja juga bukanlah anak kandungnya karena waktu itu permaisuri sudah hamil 5 bulan. Namun, sudah terlanjur Wirapraja tetap menggantikan Raksapraja sebagai raja kelima.

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait