Asal Mula Desa Kesugihan

desa kesugihan kidul terdapat sungai serayu
desa kesugihan kidul terdapat sungai serayu

CILACAP.INFO – Keberlimangan harta, kedudukan, dan kenikmatan dunia sering menjadi ukuran kepuasan hidup seseorang di dunia. Namun, hal itu belum tentu berlaku pada semua orang. Ada orang yang puas dengan kedudukan dan kekayaannya.

Ada juga orang yang merasa bahwa kedudukan dan kekayaan itu tiada artinya dan tidak membuatnya puas. Ketidakpuasan itu disebabkan oleh tujuan atau motivasi hidup masing-masing individu.

Keadaan seperti itu juga terjadi pada diri seorang raja di Kerajaan Keling yang bergelar Prabu Bawana Keling. Takhtanya sebagai raja, kekayaannya yang berlimpah, dan segala kenikmatan yang tersedia baginya tidak pernah membuatnya bahagia.

Ketidakbahagiaan Prabu Bawana Keling itu lebih disebabkan oleh belum ditemukannya arti hidup dan makna kehidupan yang sesungguhnya. Dari ilmu agama yang dipelajarinya, ia tidak menemukannya. Dalam kedudukannya sebagai raja, arti hidup dan makna kehidupan tidak juga diperolehnya.

Pada suatu hari Prabu Bawana Keling, yang karena ketidakpuasan dalam hidup dan ingin mencari arti hidup dan makna kehidupan yang sesungguhnya, memutuskan untuk meninggalkan semua gemerlap dunia yang dimilikinya. Ia berniat mengembara untuk mendapatkan apa yang selama ini tidak diperolehnya.

“Hemm, apalah gunanya hidup jika tak mengetahui arti hidup ini,” kata Prabu Bawana Keling dalam hati.

Prabu Bawana Keling lalu menyerahkan takhta kerajaan kepada anaknya dan membagi-bagikan hartanya kepada rakyat Kerajaan Keling. Dia memutuskan untuk mengelilingi Pulau Jawa. Diam-diam dia meninggalkan Kerajaan seorang diri.

Dia melangkah dan terus melangkah seakan-akan tidak pernah merasa lelah. Bukit dan gunung dia daki, lembah ngarai dia telusuri, hutan lebat dia masuki. Tidak jarang halangan merintang, binatang buas menghadang, tetapi dia pantang menyerah. Semua rintangan dilaluinya tanpa kebimbangan atau ketakutan.

Hari demi hari dilalui, waktu demi waktu dijalani dengan me-langkah dan melangkahkan kaki untuk mencari tempat yang dapat mengungkap arti kehidupan. Tanpa terasa sampailah Prabu Bawana Keling di Gunung Selok. di tempat itu dia merasakan suasana yang tenang dan nyaman untuk beristirahat dan Bahkan mungkin bertapa.

Dia lalu mencari tempat untuk melepaskan lelah. Setelah beberapa lama mencari, Sang Prabu mendapati sebuah batu lebar dengan penampang atas rata. Dia lalu menggunakan batu itu untuk tidur melepaskan lelah.

Batu yang digunakan untuk tidur oleh Prabu Ba-wana Keling itu kemudian dinamakan kanendran yang memiliki makna ‘tempat tidur raja’ (nendra: ‘tidur’, nalendra: ‘ratu/raja’).

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait