Asal Mula Desa Kesugihan

desa kesugihan kidul terdapat sungai serayu
desa kesugihan kidul terdapat sungai serayu

Entah berapa lama Prabu Bawana Keling tertidur. Dia sangat merasa nyaman berbaring di atas batu tersebut. Ketika terbangun dia merasa lapar. Seakan tanpa disadari, Sang Prabu berguman.

“Hemm… tangi turu kaya kiye kok kencot, patute nek mangan tumpeng bosok karo ngombe degan klapa ijo, enak banget”. ‘Hemm… bangun tidur seperti ini kok lapar, alangkah enaknya jika makan tumpeng bosok (tupeng mogana) dan minum kelapa hijau muda, enak sekali.’

Ucapan Prabu Bawana Keling itu terdengar oleh seorang laki-laki separuh baya yang sedang mencari rumput. Zaman dulu lain dengan zaman sekarang. Zaman dahulu, ucapan seorang pertapa pasti diperhatikan oleh orang yang mendengarnya. Demikian pula laki-laki pencari rumput itu, ketika mendengar ucapan Prabu Bawana Keling, si pencari rumput langsung pulang.

Rumah si pencari rumput berada di grumbul (kampung) sebelah barat Sungai Serayu. Sesampainya di rumah, ia berkata pada istrinya.

“Yung, Yung, jagone disembeleh, karo beras sing paling maen. Siki gawea tumpeng bosok, aku tek ngepet degan klapa ijo.” ‘Bu, Bu, Sem-belihlah ayam jago, dan beras yang paling baik. Sekarang buatlah tumpeng bosok, aku hendak memetik kelapa hijau muda.’

Yang dimaksud tumpeng bosok adalah tumpeng yang di dalamnya diisi dengan daging ayam Jawa, srundeng, dan lainnya. Sekarang, kebanyakan orang mengenal tumpeng bosok dengan nama tumpeng mogana.

Disebut tumpeng bosok karena di dalam tumpeng tersebut berisi aneka lauk, yang bila tumpeng itu disentuh dengan sendok/ centong akan mudah terurai gunungan tumpengnya dan langsung bercampur antara nasi tumpeng dan isi lauknya.

Singkat cerita, si istri pencari rumput itu langsung mengerjakan membuat tumpeng sesuai apa yang diminta oleh suaminya. Setelah selesai membuat tumpeng dan memetik kelapa muda, si pencari rumput dan istrinya lalu menuju Gunung Selok untuk memper-semBahkan tumpengnya kepada sang pertapa, yang tidak lain atau sesungguhnya adalah Prabu Bawana Keling.

Menerima persembahan itu, Prabu Bawana Keling agak kaget dan bertanya, “Eh… deneng slirane ngerti nek aku lagi kepengin tumpeng bosok karo degan klapa ijo?” ‘Ehh… kok kalian mengetahui jika aku sedang menginginkan tumpeng bosok dan kelapa muda hijau?’

Lalu si pencari rumput menjawab, “Inggih Sang Sutapa. Nalika

Sampeyan dalem ngendika, kula wonten sak ngandhaping sela kumalasa punika.” ‘Iya, Sang Pertapa. Ketika Anda berkata tentang itu, saya berada di bawah batu yang rata dan luas itu’.

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait