Suara seruling mengiringi semilir angin membuat hawa terasa sejuk. Daun-daun yang menghampar hijau di lembah dan tebing di sela perbukitan bergoyang pelan seakan mengikuti nada. Sungai kecil mengalir di sebelah sungai Cijolang, yang menjadi tanda saksi alam yang menjadi ciri khas Pasundan dengan ditandai bahasa sehari-hari, adat, kesenian, budaya, dan bentuk rumah, yang semuanya bercorak Pasundan.
Di tepi Sungai Cijolang berdiri patung pahlawan Pangeran Di-ponegoro yang sedang menunggang kuda dan mengacungkan senjata keris dengan gagahnya. Ini menandakan bahwa leluhur kita ikut berjuang mempertahankan bumi yang dicintainya bersama Pangeran Diponegoro. Inilah gambaran keadaan alam Dayeuhluhur yang ter-letak di dataran tinggi sesuai dengan asal-usul nama Dayeuhluhur.
Dayeuhluhur diambil dari dua kata dayeuh yang berarti ‘kota’ atau ‘tempat’ dan luhur yang berarti ‘tinggi’. Daerah ini merupakan tempat berkumpulnya orang-orang dengan kekuatan atau kesaktian yang tinggi pada zaman dahulu serta tempat bertapa atau berlatih ilmu kanuragan.
Zaman dahulu di wilayah Dayeuhluhur Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, berdiri Kerajaan Kawali yang dipimpin oleh Prabu Niskala Wastu Kencana. Raja ini memiliki dua orang istri. Istri pertama me-lahirkan seorang putra dengan nama Prabu Siliwangi dan istri kedua melahirkan putra bernama Prabu Dewa Niskala. Prabu Niskala Wastu Kencana mempunyai adik sepupu yang mempunyai putra bernama Gagak Ngampar. Gagak Ngampar tinggal bersama Prabu Niskala Wastu Kencana.
Pada suatu pagi yang cerah Prabu Niskala Wastu Kencana se-dang bersantai di Tamansari dengan didampingi istri-istri yang di-kasihinya. Mereka sedang menghibur Paduka Raja yang terlihat sedang bermuram durja. Salah seorang istrinya bertanya.
“Kanda Prabu, mengapa sepertinya hari ini Kanda bermuram durja. Ada apa gerangan, Kanda? Adakah yang tidak berkenan di hati Kanda mengenai Dinda, Tuanku Prabu?” tanya sang istri kepada Raja.
“Oh, tidak, Dinda. Adinda begitu baik kepada Kanda dan Dinda begitu menyayangi putra-putra Kanda,” jawab Raja kepada istrinya.
“Kalau begitu, apa gerangan yang Kakanda Prabu pikirkan? Mo-hon Kakanda Prabu berkenan menyampaikan segala sesuatu kepada hamba, mungkin hamba dapat membantu Kanda Prabu,” lanjut sang Istri.
“Oh, terima kasih, Dinda. Dinda sudah begitu perhatian kepada Kakanda.”
Prabu Niskala Wastu Kencana berkata dengan lirih, “Begini, Dinda Ratu. Usiaku sudah lanjut, Kanda sudah tidak mampu lagi memimpin kerajaan ini. Nah, untuk itu aku wariskan tahtaku kepada kedua putraku. Sebelah barat untuk Prabu Siliwangi dan sebelah timur untuk Dewa Niskala. Akan tetapi, aku masih memikirkan Gagak Ngampar yang menginginkan tahta Kerajaan Kawali. Aku ingin tidak ada perpecahan di antara mereka,” Prabu Niskala Wastu Kencana menyampaikan kegundahannya.
Tampilkan Semua
