Niskala Wastu Kencana menghela napas panjang berusaha me-ngeluarkan beban yang ada dalam hati dan pikirannya.
“Oh begitu, Kanda Prabu?” Kedua permaisuri serempak men-jawab.
Semua hening dengan pikirannya masing-masing. Tiba-tiba se-orang permaisuri berkata, “Begini, Kanda Prabu. Menurut hamba, untuk menghindari perpecahan serta pertumpahan darah, sebaiknya Gagak Ngampar harus mencari sendiri daerah untuk dijadikan ke-rajaan, tetapi beri ia petunjuk dan bantuan.”
“Bagus sekali usulmu, Dinda. Sekarang suruh pengawal untuk memanggil Gagak Ngampar agar menghadapku.”
“Baik, Kanda,” jawab para permaisuri.
Permaisuri pun menyuruh salah satu pengawal untuk memanggil Gagak Ngampar yang saat itu sedang berlatih bela diri.
“Gagak Ngampar, Baginda menyuruhmu menghadap sekarang,” kata pengawal kepada Gagak Ngampar.
“Sekarang?” tanya Gagak Ngampar.
“Ya, sekarang juga. Baginda sudah menunggumu,” tegas sang pe-ngawal.
“Baiklah, aku akan segera menghadap,” dengan patuh Gagak Ngampar pun langsung bersiap-siap untuk menghadap.
Selang beberapa saat Gagak Ngampar sudah berada di hadapan Baginda Prabu.
“Daulat, Tuanku Prabu, ada apa gerangan Baginda memanggil hamba?”
“Oh, anakku, Gagak Ngampar. Ananda hari ini dipanggil karena suatu alasan. Aku memintamu memperluas wilayah kerajaan. Kamu harus pergi ke sebelah timur Sungai Cijolang. Dirikanlah sebuah kerajaan di sana!” perintah sang Raja.
“Baik, daulat Tuanku Prabu! Hamba akan melaksanakan perintah Prabu sebaik-baiknya.”
Pada hari yang telah ditentukan, Gagak Ngampar dilepas oleh Prabu Niskala Wastu Kencana. Ia pergi disertai pengawal dan prajurit dengan membawa perbekalan secukupnya. Tidak lupa pengasuh Gagak Ngampar yang lucu pun ikut bersama tuannya. Pengasuh yang sangat sayang dan setia itu adalah Mamang Lengser. Berangkatlah Gagak Ngampar dengan iringan doa dari seisi Keraton Kawali.
Selama perjalanan Mamang Lengser selalu menghibur tuannya dengan melenggak-lenggokkan badannya sambil bersenandung. Ma-mang Lengser tidak dapat diam. Ia terus saja berbicara.
“Mamang tahu tidak?”
“Tahu apa, Den?”
“Ya, kalau Mamang teh jelek pisan, pendek, perut buncit, muka hitam, hidung pesek, suka ngupil, pipinya bengkak, hehehe,” gurau Gagak Ngampar kepada Mamang Lengser.
Mamang Lengser menangis sejadi-jadinya, duduk di tanah sambil memukuli badannya sendiri.
“Ah, Aden mah ngejek ke Mamang, Aden mah nakal!” Mamang Lengser merajuk.
Turun dari kudanya, Gagak Ngampar mendekati Mamang Lengser sambil tersenyum.
“Aduh tobat, Mamang Lengser. Saya tidak akan mengejek Ma-mang Lengser lagi!”
“Alasan Aden mah, sok ngejek terus ka Mamang.” Hubungan ke-duanya memang sangat akrab sehingga sering bercanda.
Tampilkan Semua
