Kisah Nyi Blorong Putri Jelita dari Segara Kidul

ilustrasi model Nyi Blorong
ilustrasi model Nyi Blorong

Sementara itu, di Laut Selat Sunda, kematian Teja Arum mening-galkan duka yang amat mendalam bagi keluarganya dan abdimya yang bernama Ki Cekruk Truna.
“Pangeran Teja Arum, mengapa kau pergi secepat ini?” isak Ki Cekruk Truna.

Tiba-tiba datang sesosok iblis mendatangi mereka. Ki Cekruk Truna terkejut dengan kedatangan iblis yang tidak dikenalnya itu.

“Kau… kau si… siapa? Beraninya masuk ke sini tanpa izin dahulu? Siapa kau sebenarnya?” gagap Ki Cekruk tergagu.
“Hahahahahaha… kau tanya siapa aku? Buka telingamu lebar-lebar supaya dapat mendengar dengan baik. Aku Buntung Seta. Aku adalah demit dari Karang Bolong. Aku akan bantu kau menghidup-kan kembali ndaramu, Pangeran Teja Arum, hahahaha…,” jawab sang iblis bernama Buntung Seta itu.

Singkat cerita, mayat Teja Arum dibawa oleh Buntung Seta. Se-telah itu, Prabu Dewa Mungkar datang. Terkejutlah ia karena mayat Teja Arum sudah tidak ada di tempat ketika ia membunuhnya. Ternyata Buntung Seta adalah Ratu Pantai Selatan yang menyamar. Ia yang menghidupkan Teja Arum sehingga membuat Nyi Blorong bersuka cita. Pada sisi lain, Prabu Dewa Mungkar belajar ajian lebur sekethi yang dapat membuat apa pun menjadi hancur berkeping-keping. Setelah cukup menguasai, ia menuju ke dasar Laut Selatan untuk membunuh Teja Arum kembali.

Terjadilah pertarungan sengit antara keduanya. Prabu Dewa Mungkar menggunakan ajian Lebur Sekethi, sedangkan Teja Arum menggunakan ajian Gelap Ngampar. Prabu Dewa Mungkar dapat dirobohkan oleh Teja Arum. Tubuhnya hangus terbakar tidak ber-sisa sedikit pun. Teja Arum pun sempat terkena ajian Prabu Dewa Mungkar yang membuat wajahnya menjadi rusak dan menjijikkan. Hal ini membuat Nyi Blorong jijik dengannya.

“Kakang Teja Arum. Jika engkau ingin wajah tampanmu kembali lagi, kakang harus bertapa selama 100 tahun di dasar Selat Bali,” kata Nyi Blorong menasihati kekasihnya itu.

Hal itu dimaknai oleh Teja Arum sebagai penolakan cinta Nyi Blorong. Teja Arum sangat kecewa. Ia melangkah pergi meninggalkan Nyi Blorong. Speninggal Teja Arum keanehan terjadi. Tubuh Nyi Blorong berubah bersisik seperti ular. Itulah kutukan Teja Arum yang merasa dikhianati oleh Nyi Blorong.

Diceritakan oleh: Tri Wahyuni

Disadur dari Cerita Rakyat Cilacap Jawa Tengah

Diterbitkan oleh Balai Bahasa Jawa Tengah Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait