Orang-orang yang baru kembali dari Mekah dan Madinah menyebarkan tarekat Syattariyyah, seringkali perpaduan antara Naqsyabandiyah dan Khalwatiyah. Tarekat Rifaiyyah dan Qadiriyah juga sudah tersebar. Sisa-sisa ajarannya dapat ditemukan di Aceh, Minangkabau, Banten, dan Maluku, dengan ciri kekebalan tubuh atau debus. (Brunessen, 1999, 197). Syekh Yusuf Makasar dikenal sebagai penganut Tarekat Khalwatiyah. Abdurrauf Sinkel dikenal sebagai penganut Tarekat Syatariyah, dan sebagainya.
F. HIPOTESIS
Fondasinya pertanyaan ini kemudian menggerakkan Michael Laffan, Profesor Sejarah di Universitas Princenton, untuk meneliti proses tumbuh kembangnya Islam di Indonesia yang memiliki corak dan ciri khusus dalam Buku Buku Sejarah Islam di Nusantara menjadi narasi yang unik karena digambarkan melalui kacamata orang asing.
Sebelum Laffan mencoba membaca Islam di Nusantara, ia terlebih dulu mencoba memaknai Islam melalui kacamata para pengamat Barat sebelumnya. Menurut para pengamat Barat mulai dari para administrator kolonial, para cendeikawan orientalis Belanda, hingga para antropolog modern seperti Clifford Geertz penafsiran Islam yang damai ala Indonesia terus-menerus mendapat ancaman dari luar oleh tradisi-tradisi Islam yang lebih keras dan intoleran.
Di bukunya, Laffan tidak hanya mencoba mengurai jejak Islam di Nusantara. Ia juga menarasikan berbagai pengamatan orang-orang Barat. Dari sebagian pengamatan orang Barat tersebut, Laffan menemukan beberapa penelitian yang tidak obyektif.
Sebab, beberapa pengamat lebih berfokus pada penyebaran agama Kristen dan malah melupakan entitas Islam itu sendiri. Pembacaan terhadap kitab suci Al-Quran dilupakan padahal esensi dari pengamatan yang mereka lakukan adalah agama Islam. Selain itu, pemaknaan terhadap Al-Quran pun hanya dilakukan dengan ala kadarnya. Sehingga, apa yang mereka urai pun tidak sempurna.
Dalam hal ini, Laffan pun mencoba mengurai Islam dengan perpekstif yang lain. Ia menyusuri bagaimana citra populer Islam Indonesia dibentuk oleh berbagai perjumpaan antara cendekiawan kolonial Belanda dan para pemikir Islam reformis.
Laffan juga menyuguhkan peran-peran tradisi Arab, Tiongkok, India, dan Eropa yang telah berinteraksi sejak awal masuknya Islam. Hasil perkawinan lintas budaya dan intelektualitas inilah yang kemudian melahirkan Islam Nusantara.
G. PEMBAHASAN
Dari masa ke masa ulama-ulama Nusantara telah lama menjalin jejaring sanad keilmuan dengan para maha guru Islam yang ada di Mekkah dan Timur Tengah. Sekembalinya dari merantau itulah, para ulama Indonesia mulai mengembangkan keilmuan (pembaharuan) serta menjadi inspirasi untuk menggerakan semangat jihad melawan kolonialisme.
Tampilkan Semua

