Tidak pakai istirahat, kami langsung berbagi tugas. Ada yang mendirikan tenda, ada yang menyiapkan bahan makanan untuk kami makan sore ini. Setelah tenda terpasang, nesting dikeluarkan, bahan masakan disiapkan, kami pun mulai memasak. Sayur Sop yang sudah dibersihkan dari rumah dibungkus rapih dengan plastik pembungkus sehingga masih sangat segar ketika dimasak untuk kami makan, telor balado, ikan asin dan bakwan menjadi hidangan kami sore ini. Hhmmm..lezat, apalagi dinikmati diketinggian setelah aktivitas yang sangat menguras tenaga.
Kalau ada yang tanya, kenapa tidak ada Mie Instan?. Tentu saja ada, tapi itu pilihan terakhir jika kami kehabisan bahan makanan, dan hanya memiliki sedikit waktu untuk memasak. Kadang kami berprinsip, pemenuhan gizi saat pendakian itu jauh lebih penting, walaupun makan Mie Instan hangat diketinggian yang dingin ini tentu saja sangat nikmat.
Saya, Widi dan Bang Epps kebagian memasak sore ini. yang lain menggunakan waktu istirahatnya sambil menikmati indahnya pemandangan dari atas sini. Fahmi dan Usep berfoto-foto di Goa yang berada tidak jauh dari tenda kami. Pak Sakri tentu saja sedang menikmati me-time nya dengan bersandar sambil ditemani rokok favoritenya.
Tidak terasa, waktu menunjukkan pukul 5 sore, makanan pun sudah terhidang dan siap disantap. Seperti biasa dalam hitungan menit makanan sudah raib tak tersisa, tangan-tangan lapar bagai anacconda bergerak cepat, siap memangsa musuh nya, langsung masuk ke dalam perut mereka.
“Alhamdulillaaahh.. kenyang!.” Kata yang pastinya terucap dari mulut kami semua. Momen makan bersama ini merupakan salah satu saat yang paling nikmat ketika kita melakukan pendakian. Sesi makan pun usai, kini waktunya kami bersiap untuk melaksanakan Sholat maghrib. Cuaca yang semula mendung, kini tampak kembali normal, langit mulai memerah, matahari hampir kembali ke peraduannya.
Sambil menunggu waktu maghrib tiba, Fahmi menunjukkan hasil foto-foto yang diambilnya bersama Usep tadi. Tidak ada yang tampak aneh di awal, sampai suatu foto yang sedikit mencuri perhatian kami. Dalam foto terlihat seperti wanita berambut panjang, namun samar-samar dan wajahnya nya pun tidak kelihatan. Padahal foto itu diambil fahmi di dalam goa yang tentu saja tidak ada siapa-siapa di sana. Tidak mau memperpanjang situasi mengingat kami masih berada di gunung ini, akhirnya kami memutuskan untuk mengabaikan foto itu.
Waktu maghrib pun tiba, kami masuk ke tenda bersiap-siap menunaikan sholat. Usai menunaikan sholat maghrib, sambil menunggu waktu isya kami membuat kopi dan teh untuk menghangatkan tubuh kami dari dinginnya malam yang mulai menusuk-nusuk sampai ke tulang.
Tampilkan Semua

