Pendakian dimulai, dengan jalur yang kini nyaris tanpa pepohonan. Batu-batu besar menemani kami di awal pendakian puncak pagi ini. Kami masih bisa dengan lincah mendaki karena batu itu memudahkan pijakan kami. Namun tidak berlangsung lama, jalur berubah menjadi hamparan pasir batu yang nyaris sulit dijadikan pijakan. Apalagi dengan kemiringan hampir 45 derajat
Dua langkah naik, satu langkah kami merosot turun, mirip jalur di Mahameru. Sesekali kami harus menghindar dari bebatuan yang berjatuhan dari atas. Dari perkiraan jam 7 pagi kami sampai, ternyata jam 8.30 pagi kami baru tiba. 3 jam total perjalanan kami sampai atas, maklum lah lagi-lagi karena kami ini pendaki amatir.
Akhirnya, kaki kami menapak diujung jalur pendakian puncak ini. Sorak soray dan teriakan syukur kami, menggema seketika di atas puncak gunung tertinggi Jawa Tengah ini.
“Alhamdulillaaahhhhhhhhhhhhhhhhh…Ya Allah, Puncaaaakkkkk!!..” Teriak kami, seraya melakukan sujud syukur atas nikmat yang luar biasa ini. Tidak ada yang lebih nikmat bagi seorang pendaki selain dapat meraih puncak dalam keadaan sehat dan selamat. Puncak memang bukan segalanya, tapi meraih puncak sudah pasti menjadi tujuan utama para pendaki seperti kami.
Rasa lelah hilang seketika, semua halang rintang yang kami hadapi selama pendakian ini, terbayar sudah oleh pemandangan yang terhampar indah di depan mata kami. Setelah mengatur nafas sejenak, kami langsung berfoto, untuk mengabadikan keindahan alam dari ketinggian ini. Sekarang awan bukan hanya ada di atas kami, tapi juga di bawah pandangan kami. Salah satu hikmah mendaki puncak adalah kita dapat melihat betapa luas bumi ini, betapa agungnya kekuasaan Tuhan. Kita manusia hanya buih kecil yang bukan apa-apa, tidak ada yang patut kita sombongkan.
Puncak yang kami daki ini sebernarnya bukan lah puncak utama gunung ini, melainkan masih ada satu puncak lagi yang dapat kami jangkau dengan menyusuri pinggir kawah ini. Walau demikian, kami tetap bersyukur sudah sampai sejauh ini. Kami sebenarnya bisa saja melanjutkan ke puncak utama, namun mengingat hari sudah siang, dan teman kami Widi menunggu di bawah, kami memutuskan cukup sampai di sini.
Setelah kurang lebih satu jam kami berada di sini, kini kami harus segera turun, karena asap belerang dari kawah gunung ini sewaktu-waktu dapat meracuni kami. Dengan tenaga yang tersisa, kaki-kaki ini mulai melangkah turun, tak lebih mudah dari perjalan naik tadi. Kami harus kembali menghadapi hamparan pasir berbatu yang kini dapat membuat kami tergelincir jika tidak hati-hati.
Tampilkan Semua

