Di bawah asuhan Kiai Hanafi ia belajar al-Quran dan menamatkannya di tahun 1936. Kemudian tanpa sepengetahuan ayahnya, ia melanjutkan belajarnya ke Mojosari Kebumen. di bawah bimbingan Kiai Ahmad, Mas’ud memperdalam ilmu gramatikalnya hingga menghafal dan memahami kitab Alfiyyah Ibn Malik.
Setelah belajar selama empat tahun di Kebumen, Mas’ud merasa semakin dahaga dalam mempelajari ilmu agama. Pada tahun 1940 ia melanjutkan pengembaraannya ke pesantren Al-Ihsan Jampes dan belajar langsung di bawah asuhan Syekh Ihsan Jampes. di sini ia belajar selama tujuh tahun dan memfokuskan diri untuk lebih memperdalam pengetahuannya di bidang ilmu fikih.
Dari Pesantren al-Ihsan Jampes, tepatnya pada tahun 1947, ia melanjutkan pendidikannya ke pesantren Darul Hikam Bendo Pare Kediri. Sebuah pesantren “keramat” yang melahirkan sejumlah Kiai-Kiai besar di seantero Jawa.
Sebut saja Mbah Sahal Mahfudz (Rais Aam PBNU 1999-2014), Abuya Dimyathi Banten, Syekh Mahmud Bode Cirebon, dan Kiai-Kiai besar lainnya. di Pesantren Bendo ini, Syekh Mas’ud selama sepuluh tahun mempelajari lebih dalam tentang disiplin ilmu fikih beserta kaidah-kaidahnya.
Selain belajar dipesantren-pesantren yang telah disebutkan di atas, Syekh Mas’ud tercatat belajar ke sejumlah pesantren dan Kiai besar lainnya di tanah Jawa. Seperti kepada KH. Zubair bin Dahlan (ayahanda Mbah Maimun Zubair) Al-Anwar Sarang Rembang, Syaikh Masduqi Lasem (ayah mertua KH. Taufiq Pekalongan dan KH. Miftakhul Akhyar wakil Rais Aam PBNU 2015-2020), KH. Wahid Hasyim Tebu Ireng Jombang, KH. Ahmad Syu’aib Sarang Rembang, hingga belajar kepada Syaikh Ismail Zain Yaman dan Syaikh Yasin Padang. (Islami.co)
Tampilkan Semua

