Mengenal Syaikh Mas’ud asal Kawunganten Cilacap

by
Indonesia

Syekh Mas’ud adalah seorang tipikal kiai yang sederhana. Meskipun dikenal memiliki kecapakan dan keahlian yang luar biasa, penampilannya sangat sederhana. Dalam hal ini, Gus Dur (1982) mengungkapkan:

Orangnya sederhana. Dalam pergaulan sangat bersikap rendah hati kepada orang lain, Bahkan kepada yang lebih muda umurnya sekalipun. Suaranya tidak pernah dikeraskan. Penampilannya adalah penampilan kiai ‘kampung’ yang tidak ada ‘kegagahan’nya sedikit pun.

Pendidikan Syaikh Mas’ud Kawunganten Cilacap

Pendidikan agamanya dimulai dari ayahnya sendiri. Kemudian saat usianya menginjak umur sepuluh tahun ia dikirim oleh ayahnya untuk belajar kepada Kiai Hanafi di Desa Sarwadadi yang lokasinya tidak jauh dari tempat tinggalnya.

Di bawah asuhan Kiai Hanafi ia belajar al-Quran dan menamatkannya di tahun 1936. Kemudian tanpa sepengetahuan ayahnya, ia melanjutkan belajarnya ke Mojosari Kebumen. Di bawah bimbingan Kiai Ahmad, Mas’ud memperdalam ilmu gramatikalnya hingga menghafal dan memahami kitab Alfiyyah Ibn Malik.

Setelah belajar selama empat tahun di Kebumen, Mas’ud merasa semakin dahaga dalam mempelajari ilmu agama. Pada tahun 1940 ia melanjutkan pengembaraannya ke pesantren Al-Ihsan Jampes dan belajar langsung di bawah asuhan Syekh Ihsan Jampes. Di sini ia belajar selama tujuh tahun dan memfokuskan diri untuk lebih memperdalam pengetahuannya di bidang ilmu fikih.

Dari Pesantren al-Ihsan Jampes, tepatnya pada tahun 1947, ia melanjutkan pendidikannya ke pesantren Darul Hikam Bendo Pare Kediri. Sebuah pesantren “keramat” yang melahirkan sejumlah Kiai-Kiai besar di seantero Jawa.

Sebut saja Mbah Sahal Mahfudz (Rais Aam PBNU 1999-2014), Abuya Dimyathi Banten, Syekh Mahmud Bode Cirebon, dan Kiai-Kiai besar lainnya. Di Pesantren Bendo ini, Syekh Mas’ud selama sepuluh tahun mempelajari lebih dalam tentang disiplin ilmu fikih beserta kaidah-kaidahnya.

Komentar