Syaikh as-Sayyid Mahfudz sudah wafat atau masih hidup?

by
Indonesia

Luka yang dialami oleh as-Syaikh as-Sayyid Mahfudz al-Jailani al-Hasani baru ketahuan ketika beliau selesai menunaikan qadhil hajat kemudian mengambil air wudhu. Saat itu beliau melukar kaos dalamnya dan orang yang berada didekatnya dapat melihat di punggung beliau ada luka vertical namun tidaklah sampai mengeluarkan darah. Hanya warna merah saja yang nampak menggaris di punggungnya.

Tak ada seorang pun dari pengikut beliau yang mengira jika as-Syaikh as-Sayyid Mahfudz al-Jailani al-Hasani akan syahid waktu itu. Karena sesudah berwudhu, Syaikh as-Sayyid Mahfudz al-Jailani al-Hasani masih sempat memimpin shalat dzuhur berjama’ah. Beliau juga kemudian berkhutbah, dimana dalam isi khutbahnya, beliau menyatakan hendak “beristirahat” dan meminta pada para pengikutnya agar dimanapun kelak mereka berada untuk senantiasa berjuang mengupayakan ‘izzul islam wal muslimin.

Selesai khutbah, as-Syaikh as-Sayyid Mahfudz al-Jailani al-Hasani lalu tiduran dengan bagian kepala beralaskan paha Kyai Lukman bin Ibrahim, Pengasuh Pesantren Lirap, Kebumen. Keduanya juga masih sempat ber-shouftoh (bercanda) satu dengan yang lain. Namun tak lama berselang sesudah itu, beliau lalu melantunkan suara dzikir yang membuat suasana disekitarnya menjadi hening. Banyak kepala tertunduk sambil mengikuti dzikir beliau. Namun ketika alunan dzikir mulai dirasa oleh satu dua telinga sudah tak terdengar lagi, beberapa orang seperti tersadar dan tercekat tenggorokannya lagi amat terperanjat. Oleh Sayyid Hanifuddin al-Jailani al-Hasani, mereka diberitahu jika abahnya yaitu as-Syaikh as-Sayyid Mahfudz al-Jailani al-Hasani telah syahid.

di tengah kesadaran orang–orang yang semula mengelilingi dan berada dekat dengan beliau, tiba–tiba mereka masih dikejutkan lagi ingatannya dengan melihat jumlah orang yang bersama menjadi tinggal sedikit. “Kira–kira hanya tinggal 20-an orang dari semula ada sekitar 50-an”. Begitu ungkap H. Ridho, salah seorang saksi hidup pada peristiwa itu. H. Ridho ini tinggal di Desa Wanayasa, Banjarsari, Jawa Barat. Beliau di AOI lebih dikenal dengan nama Pardi dan bertugas memegang senjata berat jenis Karaben hasil rampasan dari tentara Belanda.

Komentar