Asal Usul Dusun Mertangga Jetis Nusawungu Cilacap

by
Indonesia

“Baik, Kakang Suryonegoro. Esok aku akan pergi lagi menghadap sang raja dan menyampaikan pesan kakang ini,” jawab Cokronegoro masih terliputi rasa gusar, tetapi tidak berani menanyakan alasannya apa.

Keesokan harinya, Cokronegoro berangkat ke Kerajaan dengan menunggangi kuda kesayangannya dan dikawal oleh beberapa prajurit pilihan. Sesampainya di Kerajaan Mataram ia diperkenankan menghadap sang raja.

“Ampun, Baginda raja. Hamba sudah menyampaikan pesan baginda kepada kakak hamba, Adipati Ayah, Kakang Suryonegoro”, lapor Cokronegoro sembari memberi salam takzim kepada sang raja.
“Lalu, mengapa ia tidak memenuhi perintahku, wahai Cokronegoro?” tanya sang raja dengan mengernyitkan dahinya.
“Ampun, Baginda. Kakak hamba tidak dapat hadir ke kerajaan. Beliau hanya menitipkan pesan bahwa beliau tidak akan pernah datang lagi ke Kerajaan,” jawab Cokronegoro dengan sedikit rasa takut dan gusar yang teramat sangat.
“Benarkah Suryonegoro berkata demikian?”, tanya sang raja mulai terlihat marah. Ia bangkit dari singgasananya.

Dengan suara bergetar, sang raja berkata dengan lantang, “Beraninya Suryonegoro melawan perintahku. Kalau begitu, pulangkah kau Cokronegoro. Sampaikan kepada kakakmu yang sombong itu, Aku memerintahnya datang ke sini dengan membawa sekotak wayang kulit. Kalau ia masih bersikukuh tidak mau hadir ke sini, ia akan aku berhentikan sebagai Adipati Ayah,” kata sang raja penuh amarah dengan menggeram.

Singkat cerita, Cokronegoro kembali ke Kadipaten Ayah dan menceritakan kejadian tersebut pada sang kakak. Ia pun menyampaikan amanat sang raja yang memerintahkan Suryonegoro menghadap membawa sekotak wayang kulit. Cokronegoro masih bingung, untuk apa raja memerintahkan kakanya membawa sekotak wayang kulit. Apa hubungannya dengan pemanggilan kakaknya itu? Seribu tanya berkecamuk di dada dan kepala Cokronegoro.

Adipati Suryonegoro bergeming. Ia tidak melaksanakan perintah raja tersebut. Ia masih saja mengutus adiknya untuk datang ke Kerajaan dan mengantarkan sekotak wayang kulit yang diminta sang raja. Cokronegoro semakin bingung dengan sikap sang kakak. Namun, didorong rasa hormat dan patuh terhadap sang kakak, Cokronegoro berangkat lagi ke Kerajaan Mataram dengan membawa sekotak wayang kulit permintaan sang raja.

Komentar