Cerita Rakyat Bundhel Tlatah Maos Lor

cilacap info featured
cilacap info featured

“Kepada siapa bundhel ini akan kuserahkan?” dalam keadaan bingung datanglah seorang abdi dalem bernama Ki Abu Hasan, sepupu Ki Anwar yang sudah lama mengabdi.

“Kanjeng, jangan bersedih! Suatu saat pasti ada penerus yang mampu mewarisi. Percayalah padaku, Kanjeng! Pasrahkan saja kepada Sang Pencipta.”

“Terima kasih, Ki Abu. Perkataanmu telah membuat hatiku sedikit lega.”

Tidak sampai satu tahun apa yang disampaikan Ki Abu Hasan menjadi kenyataan. Bahkan, ternyata Ki Abu Hasan sendiri yang menerima wangsit tersebut melalui mimpi-mimpi Ki Anwar. Secara gaib pula bundhel sudah ada di senthong kecil tempat Ki Abu Hasan bersemadi. Sejak saat itu banyak orang berdatangan ke rumah Ki Abu Hasan. Beliau dianggap sebagai sesepuh atau orang pintar. Mereka datang untuk meminta bantuan berbagai macam kesulitan hidup Bahkan mengobati orang sakit.

Dengan hati tulus, dilayaninya orangorang tanpa mengharap imbalan apa pun. Tidak terasa empat puluh tahun sudah Ki Abu Hasan memegang amanah tersebut. Beliau ingin mewariskan kepada anaknya. Dipanggilnya anak tertua karena sudah menjadi kebiasaan turun-temurun bahwa pewaris bundhel adalah anak laki-laki yang paling tua.

“Anakku, Tuslam. Umurku sudah tua. Mungkin hidupku tidak akan lama lagi. Bapak percaya kau pasti dapat memegang bundhel warisan leluhurmu!”

“Tidak Bapa. Bukan saya orang yang tepat untuk menerima bundhel itu. Berikan saja kepada yang mampu merawat dan menjaganya.”

Mendengar kakak kandungnya tidak mau menerima, datanglah putra Abu Hasan yang bungsu, yaitu Ki Hadi Prayitno yang terkenal dengan panggilan Hadi Rame. Dengan lantang ia berkata, ” Bapa, jika Kakang Tuslam tidak mau, saya siap melanjutkan jejak Bapa.”

Ki Abu Hasan masih menyangsikan putra bungsunya apakah mampu menjalankan amanah yang cukup berat. Apalagi dengan persyaratan yang tidak mudah. Mengingat usianya yang masih terlalu muda dikhawatirkan masih banyak memikirkan keduniawian. Oleh karena itu, Ki Abu Hasan masih memberi kesempatan kepada Ki Hadi Rame agar dipikirkan masak-masak.

Kemauan keras Ki Hadi Rame tidak dapat lagi dibendung. Beliau berpikir siapa lagi kalau bukan ia yang menerima. Kakak satu-satunya menolak dengan sangat tegas. Jangan sampai Bundhel Tlatah Maoslor lepas dari keluarga. Mulailah Ki Hadi Rame memenuhi seluruh persyaratan. Pada saat tapa yang dilakukan Ki Hadi Rame belum selesai, datanglah seorang pengembara dari Jawa Barat bernama Ki Slamet. Ki Slamet bertamu ke rumah Ki Abu Hasan dengan tujuan meminta bundhel warisan leluhur.

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait