Cerita Rakyat Bundhel Tlatah Maos Lor

cilacap info featured
cilacap info featured

“Ngger, untuk sementara menetaplah di Palinggihan ini. Sucikan dirimu dengan puasa selama empat puluh hari empat puluh malam (ngebleng). Berputarlah mengelilingi desa sebanyak tujuh kali di malam Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon mulai pukul 00.00 dan jangan sekali-kali kaugunakan untuk kesombongan, hingga kaumenemukan kesempurnaan hidup!”

Dalam hati Dewi Siti Ghojari bertanya, “Suara apa itu? Apa yang terjadi?” Dengan rasa takut, gemetar hingga berdiri seluruh bulu kuduk, beliau bertahan untuk tidak beranjak dari tempat duduknya. Diyakininya pasti ini yang dinamakan wangsit. Lalu, bagaimana, apakah Siti Ghojari melaksanakan wangsit itu? Dewi Siti Ghojari seketika itu juga melaksanakan apa yang diwangsitkan oleh suara gaib.

Betapa terkejut Dewi Siti Ghojari setelah empat puluh hari berpuasa ngebleng, kembali datang suara gemuruh. Ia terperanjat dengan hadirnya benda aneh berupa bundhel sudah ada di ha dap annya.

Singkat cerita, bundhel tersebut menjadi benda gaib yang turuntemurun. Dipegang oleh keturunan di dalam keluarga. Sampai suatu saat, bundhel tersebut dipegang oleh keturunan ke-33, yaitu Ki Anwar. Peninggalan pusaka bundhel bertahun-tahun dirawat oleh Ki Anwar, penduduk Desa Maoslor. Menjelang ajal, Ki Anwar bermaksud mewariskan bundhel tersebut kepada anak-anaknya. Namun, bag aimana dengan anak-anak Ki Anwar? Adakah yang sanggup menerima ta waran orang tua mereka?

Ternyata, tidak seorang pun anak Ki Anwar mau menerima karena beranggapan bahwa benda tersebut mengandung aliran dinamisme. Sementara, putra-putra Ki Anwar tidak ingin akidahnya ternoda oleh kepercayaan dinamisme. Ki Anwar saat itu sangatlah bingung, sedih mengingat umur yang sudah tua.

“Kepada siapa bundhel ini akan kuserahkan?” dalam keadaan bingung datanglah seorang abdi dalem bernama Ki Abu Hasan, sepupu Ki Anwar yang sudah lama mengabdi.

“Kanjeng, jangan bersedih! Suatu saat pasti ada penerus yang mampu mewarisi. Percayalah padaku, Kanjeng! Pasrahkan saja kepada Sang Pencipta.”

“Terima kasih, Ki Abu. Perkataanmu telah membuat hatiku sedikit lega.”

Tidak sampai satu tahun apa yang disampaikan Ki Abu Hasan menjadi kenyataan. Bahkan, ternyata Ki Abu Hasan sendiri yang menerima wangsit tersebut melalui mimpi-mimpi Ki Anwar. Secara gaib pula bundhel sudah ada di senthong kecil tempat Ki Abu Hasan bersemadi. Sejak saat itu banyak orang berdatangan ke rumah Ki Abu Hasan. Beliau dianggap sebagai sesepuh atau orang pintar. Mereka datang untuk meminta bantuan berbagai macam kesulitan hidup Bahkan mengobati orang sakit.

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait