Entah apa alasannya, yang jelas itulah pesan terakhir yang beliau sampaikan. Mbah Platarklasa pun wafat menghadap Sang Pencipta. Karena kearifan dan kelebihan yang dimiliki, makamnya terus dikunjungi para peziarah yang datang dari berbagai daerah. Bahkan, pernah seorang putri raja asli dari Bali bernama Dewi Siti Ghojari yang sudah lama menetap di Keraton Surakarta datang dengan mengendarai kereta kuda yang bernama Jaran Megantara. Dewi Siti Ghojari bermaksud untuk bersemadi mencari ketenangan diri. Tibatiba angin menyapu memorak-porandakan pohon-pohon di se kitar tempat duduk Dewi Siti Ghojari bersemedi. Lenyapnya suara gemuruh terdengar sayup-sayup suara gaib.
“Ngger, untuk sementara menetaplah di Palinggihan ini. Sucikan dirimu dengan puasa selama empat puluh hari empat puluh malam (ngebleng). Berputarlah mengelilingi desa sebanyak tujuh kali di malam Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon mulai pukul 00.00 dan jangan sekali-kali kaugunakan untuk kesombongan, hingga kaumenemukan kesempurnaan hidup!”
Dalam hati Dewi Siti Ghojari bertanya, “Suara apa itu? Apa yang terjadi?” Dengan rasa takut, gemetar hingga berdiri seluruh bulu kuduk, beliau bertahan untuk tidak beranjak dari tempat duduknya. Diyakininya pasti ini yang dinamakan wangsit. Lalu, bagaimana, apakah Siti Ghojari melaksanakan wangsit itu? Dewi Siti Ghojari seketika itu juga melaksanakan apa yang diwangsitkan oleh suara gaib.
Betapa terkejut Dewi Siti Ghojari setelah empat puluh hari berpuasa ngebleng, kembali datang suara gemuruh. Ia terperanjat dengan hadirnya benda aneh berupa bundhel sudah ada di ha dap annya.
Singkat cerita, bundhel tersebut menjadi benda gaib yang turuntemurun. Dipegang oleh keturunan di dalam keluarga. Sampai suatu saat, bundhel tersebut dipegang oleh keturunan ke-33, yaitu Ki Anwar. Peninggalan pusaka bundhel bertahun-tahun dirawat oleh Ki Anwar, penduduk Desa Maoslor. Menjelang ajal, Ki Anwar bermaksud mewariskan bundhel tersebut kepada anak-anaknya. Namun, bag aimana dengan anak-anak Ki Anwar? Adakah yang sanggup menerima ta waran orang tua mereka?
Ternyata, tidak seorang pun anak Ki Anwar mau menerima karena beranggapan bahwa benda tersebut mengandung aliran dinamisme. Sementara, putra-putra Ki Anwar tidak ingin akidahnya ternoda oleh kepercayaan dinamisme. Ki Anwar saat itu sangatlah bingung, sedih mengingat umur yang sudah tua.
Tampilkan Semua

