Di kala sang mentari masih mengintip, Haryo Leno memandangi tanaman yang begitu subur, timbullah rasa puas, bangga, dan kagum. Dia pun bergumam dalam hati, “Tempat ini betul-betul sida reja ‘jadi ramai’ atau sida makmur ‘jadi makmur’. Jika kelak tempat ini menjadi desa, aku akan memberinya nama Desa Sidareja!”.
Memandang hasil kerja kerasnya membuat hati Haryo Leno se- nang. Ia benar-benar bahagia karena tanamannya tumbuh dengan
subur dan sehat. Dengan tanaman itulah Haryo Leno dapat mencukupi kebutuhan hidupnya. Sementara itu, sejak kepergian Haryo Leno yang tanpa pamit, Joko Leno dan Bajang Laut terus mencari Haryo Leno. Mereka berdua berpencar mencari ke mana-mana hingga ke pelosok-pelosok desa. Mereka khawatir terjadi sesuatu pada Haryo Leno. Bajang Laut pergi ke arah barat, sedangkan Joko Leno pergi ke arah timur.
Berbulan- bulan mereka melakukan pencarian itu. Pada titik-titik mendekati keputusasaan, Joko Leno berhasil menemukan Haryo Leno.
Tidak selang beberapa lama Joko Leno mendatangi Haryo Leno dan bertanya alasan kakaknya pergi dengan tiba-tiba dan tanpa pamit kepada Bajang Laut. Bahkan, pamit kepada adiknya sendiri pun tidak. Haryo Leno bercerita tentang kepergiannya karena ia merasa rugi bila hanya mengandalkan janji dari Bajang Laut. Bahkan, ia berpikir entah kapan Bajang Laut akan menduduki singgasananya.
Sementara, waktu itu Bajang Laut jauh dari rumahnya dan hidup bersama dirinya. Haryo Leno merasa tidak enak kepada Bajang Laut apabila dirinya pergi berpamitan karena ia berpikir bahwa Bajang Laut mungkin akan mengira dirinya orang yang tidak sabaran dan tidak percaya kepadanya. Ia juga khawatir Bajang Laut tersinggung dengan keputusan dan tindakannya tersebut. Oleh karena itu, Haryo Leno memutuskan pergi tanpa pamit. Akan tetapi, Joko Leno malah berkata lain.
“Hanya alasan Kakang saja. Sesungguhnya Kakang ingin menyaingi Bajang Laut, kan? Ingin menjadi penguasa dan memiliki wilayah kekuasaan sendiri! Kakang juga tidak mengatakan apa pun kepadaku. Kakang ingin meraih sukses sendirian?”
Haryo Leno menjawab, “Tidak adikku, bukan begitu. Kamu salah mengerti dengan apa yang aku katakan padamu.
Percayalah Kakang pergi karena Kakang hanya ingin mewujudkan cita-cita Kakang untuk dapat hidup mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Kakang tidak ingin berutang budi kepada Bajang Laut. Semua itu kulakukan bukan untuk menyaingi kerajaannya. Kalau Kakang tetap menunggu diangkat menjadi penggawa, Kakang pasti tidak akan dapat menjadi seperti sekarang ini.”
Terjadilah selisih pendapat antara mereka. Mereka memiliki alasan masing-masing sehingga terjadilah pertempuran. Kesaktian keduanya berimbang, pertempuran pun terus berlangsung. Mereka saling mengejar, melukai, dan tidak ada yang mau mengalah. Mereka hanya memikirkan pendapat masing-masing dan merasa pendapat pribadi mereka yang paling benar.


