Pertempuran dua saudara kandung itu pun semakin menjadi-jadi. Konflik yang memicu terjadinya pertempuran itu hanyalah ke- salahpahaman antara Haryo Leno dan Joko Leno yang telah membela Bajang Laut. Padahal, Bajang Laut sendiri tidak mengetahui bahwa kakak beradik yang ia janjikan untuk menjadi penggawa di singgasananya itu telah bertempur hendak bunuh-membunuh.
Pertempuran tersebut berlangsung berhari-hari. Suatu saat Haryo Leno hendak bersandar (bahasa Jawa, sende-sende) karena lelah melawan Joko Leno. Setiap kali ada tempat yang digunakan untuk pertempuran pasti sebagai peringataan digunakan sebagai nama sebuah desa ataupun tempat. Salah satunya tempat yang digunakan bersandar oleh Haryo Leno. Tempat itu sekarang menjadi desa yang diberi nama Sindeh, dari kata sende.
Pertempuran belum juga berhenti, mereka terus saling mengejar. Akhirnya, mereka pun berhenti di suatu tempat. Tempat perhentian itu menjadi nama sebuah desa yang disebut Karanggandul. Nama itu diambil karena Haryo Leno melihat di sekitar tempat itu banyak pohon pepaya, dalam bahasa Jawa disebut dengan gandul. Saat itu Haryo Leno naik ke gunung dan berhenti untuk melihat sekelilingnya.
Ia melihat jurang yang sangat curam, banyak bebatuan besar, dan dikelilingi rumput liar yang lebat. Siapa pun yang masuk atau terjatuh ke jurang tersebut pasti tidak akan terselamatkan. Ditemukan jasadnya pun belum tentu karena apabila terjatuh badannya akan hancur dan tidak berbentuk.
Tempat itu dinamakan Jurang Ngadeg karena pada saat itu Haryo Leno melihat jurang itu dalam posisi berdiri atau bahasa Jawa ngadeg. Karena kesaktian yang dimiliki, keduanya masih bertempur untuk mengalahkan satu sama lain. Mereka bersikeras mempertahankan kekuatan dan pendirian mereka. Haryo Leno tetap teguh tidak mau
kalah dan dikalahkan, begitu pula dengan Joko Leno. Pertempuran semakin sengit dan berlangsung lama. Pada akhirnya, mereka berdua tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah. Keduanya meninggal akibat pertempuran tersebut. Mereka berdua pun dimakamkan di tempat mereka bertempur.
Ibarat ungkapan dalam bahasa Jawa me- nang dadi areng, kalah dadi awu ‘menang menjadi arang, kalah menjadi abu’. Menang ataupun kalah dalam pertempuran tersebut akan berbuah sia-sia karena semuanya telah hancur berantakan. Hingga saat ini kita masih dapat mengunjungi makam Haryo Leno dan Joko Leno di Cilacap.
Diceritakan oleh: Umi Farida
Disadur dari Cerita Rakyat Cilacap Jawa Tengah.
Tampilkan Semua

