Setelah lima belas hari berada di garis depan, pasukan diperintahkan untuk kembali ke pangkalan. Pasukan bertahan di daerah pegunungan yang terlet disebelah utara kota Majenang, untuk memudahkan kordinasi, maka sepakatlah di antara para pasukan yang ada untuk bermarkas di Tembongraja Wilayah Kec. Salem, terletak di tengah tengah Pegunungan Kendeng Kabupaten Brebes. di tempat yang baru Syekh Sufyan Tsauri memimpin kembali pasukannya dan pasukan Hizbullah senantiasa melancarkan aksi-aksi gerilya terhadap Belanda. Keadaan ini berlangsung hingga penanda tangan Persetujuan Renville dan disusul dengan perintah untuk kembalike daerah Republik.
Pada tanggal 4 Februari 1948 berangkatlah 1 pasuan Hizbullah untuk memenuhi perintah Hijrah ke daerah Republik di Banjarnegara. Syekh Sufyan Tsauri yang sejak lama mengidap penyakit sesak nafas, mendengar persetujuan Renville yang disusul dengan perintah hijrah, penyakitnya bertambah parah. Syekh Sufyan Tsauri berujar “Lebih baik mati dari pada bertemu dengan penjajah”.
Syekh Sufyan Tsauri merasa sangat berat berpisah dengan anak buahnya yang dicintaianya, yang selama ini berjuang dengan penuh semangat kepahlawanan berada dalam penderitaan bersama serta merasa senasib sepenanggungan. Oleh karena keadaan kesehatan yang tidak memungkinian, Syekh Sufyan Tsauri menyertai pasukannya untuk hijrah ke Daerah Republik, disarankan untuk pulang kembali ke Cigaru.
Pada awal Pebruari 1948, Hari Senin tanggal 22 Rabiulawal, dalam suasana yang sedih dan pilu, berangkatlah tandu yang membawa Syekh Sufyan Tsauri menigalkan Markas Pertahanannya setelah berbulan bulan menunaikan tugas suci di pengungsian sebagai mujahid yang tiada kenal menyerah.
Udara dipagi hari yang sejuk mengiringi geraknya tandu yang berjalan melalui celah-celah pepohonan besar dihutan belantara gunungan Kendeng. Syekh Sufyan Tsauri duduk dengan khusyu atas tandunya. Syekh Sufyan Tsauri berserah diri tawakal kepada Allah dengan tiada henti hentinya mengucapkan kalimah Thayyibah. Sementara itu penyakit yang menyerangnya semakin bertambah berat Syekh Sufyan Tsauri mengajak beristirahat sewaktu tiba di muka Surau Gunungjaya. Dengan nafas yang terengah-engah dan suara yang terputus putus, terdengarlah pesan Syekh Sufyan Tsauri yang terakhir: “anak-anakku, teruskanlah perjuanganmu, amar ma’ruf nahi munkar, dan usirlah kaum Penjajah”.
Selang beberapa lama, menyusul kemudian ucapan yang terakhir sekali dari Syekh Sufyan Tsauri: “Laa ilaaha Illallah”…. dan sampailah beliau menemui ajalnya untuk kembali ke Rahmatullah “Innaa lillaahi Wainna Ilaihi Raji’un”….. Syekh Sufyan Tsauri meninggalkan dunia setelah menyelesaikan tugasnya sebagai penganjur Islam dan pejuang kemerdekaaan yang hanya mendambakan Keluruhan Islam dan kemerdekaan Tanah Air.
Tampilkan Semua
