Kisah Asal Mula Sungai Serayu

desa kesugihan kidul terdapat sungai serayu
desa kesugihan kidul terdapat sungai serayu

“Aaahh, lega rasanya. Saudara-saudaraku, mari kita lanjutkan perjalanan,” kata Bima dengan senyum lebar. Saudara-saudara Bima hanya tersenyum melihat kelakuan Bima tersebut. Konon, air seni Bima tersebut menjelma menjadi aliran sungai yang cukup deras alirannya.

Tidak berapa lama berjalan tibalah mereka di sebuah desa. Na-mun anehnya, suasana di desa tersebut sangat mencekam. Seluruh penduduknya tidak ada yang berani ke luar rumah. Semua rumah penduduk tertutup rapat. Tidak terlihat aktivitas layaknya sebuah kehidupan desa yang tenteram. Pandawa heran dan penasaran dengan apa yang terjadi di desa yang belum mereka ketahui namanya tersebut.

“Apa gerangan yang terjadi?” Puntadewa atau Yudistira membu-yarkan keheningan.

“Kita coba mencari tahu saja dari penduduk, Kakang!” sergah Arjuna.

“Tetapi, tidak ada satu pun pintu rumah penduduk yang terbuka.

Kita hendak bertanya pada siapa, Adi?” lanjut Puntadewa gusar.

Mereka berlima terus berjalan menyusuri lorong desa yang sepi senyap itu. Mereka merasakan aroma anyir di mana-mana. Setelah beberapa lama mereka dihinggapi rasa penasaran dan gusar, sampailah mereka di sebuah gubuk yang pintunya terbuka sedikit. Dengan hati-hati Puntadewa selaku pemimpin Pandawa mengucapkan salam di depan pintu gubuk tersebut.

“Sampurasun, apakah ada orang di dalam?” tanyanya sopan dan lembut. Tidak ada jawaban dari gubuk tersebut. Puntadewa pun mengulangi salamnya. Bima yang sedari masuk wilayah tersebut sudah penasaran merasa sangat tidak sabar.

Ia hendak masuk ke dalam gubuk untuk mencari tahu apakah ada penduduk yang da-pat memberikan keterangan tentang keadaan desa yang sangat men-cekam tersebut. Ketidaksabaran Bima tersebut segera dicegah oleh Puntadewa dan Arjuna.

“Sabarlah, Adik Bima. Ayahanda dan ibunda mendidik kita untuk tahu adan sopan santun. Bukan begitu caranya bertamu. Aku mohon jagalah sikapmu!” cegah Puntadewa dengan penuh kewibawaan.
“Iya, Kakang Bima. Kita coba mengucap salam dahulu. Siapa tahu penghuni gubuk ini tidak mendengar,” tukas Arjuna dengan senyum mengembang menenangkan sang kakak yang tampak sudah tidak sabar tersebut.

Sementara itu, Nakula dan Sadewa hanya berdiri santun. Puntadewa mengulangi lagi salamnya untuk kali ketiga. Tidak berapa lama muncullah seorang lelaki renta dari arah belakang gubuk tersebut.

“Ada apa, Ki Sanak? Siapa kalian? Apakah kalian utusan Bakasura?” tanya lelaki itu dengan wajah ketakutan.

“Tenang, Ki. Kami datang dengan maksud yang baik. Perkenalkan, kami Pandawa. Putra Prabu Dewanata. Saya Puntadewa, mereka ini adik saya Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa,” jawab Puntadewa de-ngan tenang sembari memperkenalkan diri pada penghuni gubuk tersebut.

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait