Kisah Asal Mula Sungai Serayu

desa kesugihan kidul terdapat sungai serayu
desa kesugihan kidul terdapat sungai serayu

“Aku sudah tidak sabar lagi menyantap dagingmu yang pasti lezat itu.”

Dengan membawa segerobak makanan bekal para Pandawa, Bima memamerkan kepada Bakasura. Kemudian Bima menghampiri Bakasura.

“Hai, Bakasura, mari makan… hahaha,” ledek Bima sambil me-nyantap segerobak makanan bekalnya dengan lahap. Bakasura sangat marah melihat kelakuan Bima. Ia naik darah, matanya melotot tajam, giginya menggerutuk, tangannya mengepal geram.

“Kurang ajar, kau manusia hina, apa maksudmu?” geramnya marah sembari menyerang Bima membabi buta. Pertarungan se-ngit pun terjadi antara Bakasura dan Bima. Bima menangkis se-rangan Bakasura dengan gesit. Ia juga mengayun-ayunkan gada sakti rujakpala, pusaka andalannya untuk melawan Bakasura yang ber-tubuh kuat itu.

Pertarungan sengit pun terjadi antara Bakasura dan Bima.

“Makhluk serakah kau, Bakasura! kau harus mati!” teriak Bima. Dengan satu ayunan gada sakti itu tubuh Bakasura tersungkur menghunjam bumi. Tubuhnya yang besar itu hancur berkeping-keping. Kemenangan Bima ini tidak mengherankan para Pandawa yang lain.

Mereka sangat mengenal kepiawaian Bima dalam hal menggunakan pusaka tersebut. Setelah itu keajaiban terjadi. Suasana yang tadinya redup mencekam berangsur menjadi terang dan cerah. Rupanya pengaruh kekuatan pagar ghaib yang ditanam Bakasura mulai sirna.

Singkat cerita, semenjak itu penduduk Desa Ekacakara pun kem-bali hidup tenang dan tenteram. Keluarga Pandawa pun melanjutkan perjalanan melewati aliran sungai yang merupakan jelmaan dari air seni Bima.

Akhirnya, sampailah mereka di suatu tempat. di tempat tersebut tinggallah beberapa penduduk. Keseharian mereka memanfaatkan air sungai untuk mencuci, mencuci beras, mandi, dan lain-lain.

Pada suatu hari, ada seorang gadis jelita penduduk desa tersebut sedang mencuci di sungai itu. Konon, namanya adalah Dewi Drupadi. Ia tampak sudah selesai mencuci baju di sungai itu. Cucian yang sudah bersih diletakkan di pinggir sungai, sedangkan Dewi Drupadi kembali ke sungai untuk mandi.

Ia mandi dengan sangat asyiknya. Ia berenang ke sana kemari menikmati kesejukan air dan keindahan pemandangan sambil sesekali bermain riak air sungai. Suara ketipak air yang dimainkan sang dewi itu clung plak clung clung clung plak clung clung clung plak clung clung clung clung.

Dari kejauhan Bima mendengar suara ketipak air tersebut. Se-mentara, saudaranya yang lain beristirahat di bawah pohon yang rindang. Bima mendengar harmonisasi suara indah yang diciptakan ketipak tersebut bak alunan nada yang menawan.

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait