Namun saat itu, lingkungan keluarganya yang taat beragama masih bisa membuat Jefri menyukai pelajaran agama, terutama seni membaca Al-Quran. Saat kelas 5 SD, misalnya, Jefri pernah mengikuti kejuaraan MTQ sampai tingkat provinsi.
“Kebiasaan kedua Orang Tua saya melantunkan Al-Quran membuat saya tertarik mendalami seni qiraah secara bersungguh-sungguh,” tuturnya.
Selain agama, Jefri juga mempunyai bakat terpendam di bidang seni. “Entah mengapa, saya suka sekali tampil di depan orang banyak,” katanya suatu hari.Tapi masa kanak-kanak Jefri yang masih terbilang cukup agamais itu tidak berlangsung lama. Menjelang remaja, ia justru semakin nakal.
Ia pernah dimarahi ibunya yang sedang mengajar karena merasa sangat terganggu dengan suara gitar dan nyanyiannya yang sangat keras. Saking marahnya, sang ibunda sampai membentaknya, “Hei, setan!”
Kenakalannya pun semakin menjadi saat ia masuk pesantren. Bahkan akhirnya Jefry dikeluarkan dari pondok. “Waktu itu saya terlambat, guru saya tidak tahan lagi atas sikap saya tersebut. Begitu masuk, saya ditimpuk pakai penghapus. Kemudian, karena kesal, saya ‘mengembalikan’ penghapus itu dengan cara yang sama,” kenangnya sambil tersenyum simpul.
Keluar dari pesantren, ia masuk Madrasah Aliyah, yang cuma bisa dijalaninya selama satu tahun. Ia dikeluarkan, karena berkelahi.
Pendidikan yang carut marut dan pergaulan yang tidak terkontrol membawa Jefri masuk dunia yang liar. Saat usianya baru 16 tahun, ia sudah mulai mengenal dunia malam. Ia hanya masuk sekolah saat ujian. Setiap malam ia lebih sering berada di diskotek untuk menari. “Tiap ke diskotek, diam-diam saya mempelajari gerakan orang-orang yang nge-dance,” kenang Jefri.
Karena bakat, ia pun kemudian menjadi penari yang bertualang dari satu diskotek ke diskotek lain. Bahkan beberapa kali ia berhasil memboyong piala ke rumah sebagai best dancer. Belum puas, ia juga mencoba merambah dunia fotomodel dan ikut fashion show dibeberapa diskotek. Akhirnya, meski dengan nilai pas-pasan Jefri berhasil lulus SMA pada tahun 1990.Usai SMA ia menjajal kemampuan aktingnya dengan menjadi pemeran pengganti dalam beberapa sinetron. Aktingnya mulai dilirik sutradara.
Tahun itu juga ia mendapat peran di sinetron Pendekar Halilintar. “Waktu itu sinetron masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat dan artis film,” kenang Jefri. Sementara itu hubungan Jefri dengan kedua Orang Tuanya semakin memburuk. Apihnya mati-matian menentang kegiatan Jefri. Haji Ismail Modal sangat mengenal kelamnya dunia yang tengah digeluti anaknya. Karena, di masa mudanya Ismail juga pernah berkecimpung di dunia film.
Tampilkan Semua
