Ia pun lalu bertapa di Gunung Jambudipa atau Gunungkarang di Banten. Selama bertapa itulah ia menyaksikan tiga cahaya di sebelah timur, menjulang tinggi ke angkasa. Ia lalu mencari asal cahaya tersebut bersama 160 pengikutnya, menyusuri hutan, pegunungan, dan sungai.
Setelah melewati Krawang, Sungai Comal, Gunung Cupu, Gunung Kraton, sampailah mereka di Desa Rajawana. Setelah mendaki Bukit Ardi Lawet, mereka tiba di Bukit Panungkulan yang juga disebut Bukit Cahya, masyarakat sekitar menyebutnya Gunung Cahya, di Desa Grantung, Kecamatan Karangmoncol, Purbalingga. di puncak bukit inilah mereka mendirikan pertapaan.
Pada waktu yang bersamaan, tiga cahaya tersebut juga disaksikan oleh seorang mubalig dari Timur Tengah, yang namanya kemudian dikenal sebagai Syekh Atas Angin, dan konon masih keturunan Rasulullah SAW. Maka bersama 200 pengiring, ia pun segera mencari sumber cahaya tersebut. Mula-mula mereka berlabuh di Gresik, Jawa Timur, lalu meneruskan perjalanan ke Pemalang, Jawa Tengah. Dari sana mereka lalu menuju ke Bukit Cahya. di sinilah ia bertemu dengan Raden Mundingwangi, yang sedang bertapa.
Ketika Syekh Atas Angin menyapanya dengan salam, Raden Mundingwangi diam saja. Sebab, ketika itu ia belum memeluk Islam. Maka mereka pun kemudian terlibat dalam adu kesaktian. Karena kalah, dan mengakui keunggulan Syekh Atas Angin, Raden Mundingwangi pun bersedia masuk Islam. Sejak itu oleh Syekh Atas Angin ia diberi ilmu kewalian dan gelar Pangeran Wali Syekh Jambukarang.
Untuk menyempurnakan keislamannya, Pangeran Jambukarang menunaikan ibadah haji ke Mekah, dan pulang dari Tanah Suci ia dikenal sebagai Haji Purba. Konon, ia memiliki beberapa kekeramatan, antara lain kupluk atau pecinya dapat terbang, mampu menumpuk telur di udara, menggandeng bejana tempat air di angkasa.
Tak lama kemudian, Syekh Atas Angin diambil menantu oleh Pangeran Jambukarang, dinikahkan dengan salah seorang putrinya, Nyai Rubiahbekti. Dari pernikahan ini lahirlah tiga putra dan dua putri: Pangeran Syekh Mahdum Husen, Pengeran Mahdum Medem, Pangeran Mahdum Umar, Nyai Rubiahraja, dan Nyai Rubiyahsekar. Belakangan, Pangeran Jambukarang membuka sebuah pesantren di Purbalingga.
Setelah wafat, ia dimakamkan di puncak Gunung Cahya. Ada beberapa keturunan Syekh Jambukarang yang mengabdi di Kasultanan Demak. Sementara Pangeran Mahdum Husen, salah seorang putranya, punya peran dalam mengusir pasukan Kerajaan Pajajaran yang menyerang daerahnya. Sedangkan cucu Mahdum Husen, Syekh Mahdum Wali Prakosa, meneruskan pengabdian keluarganya di Kesultanan Demak.
Tampilkan Semua
