Kisah Kadipaten Penyarang Sidareja Cilacap

ilustrasi Ranggasena dan Kiai Ngabei Tangerang dan para penduduk bergotong royong untuk mendirikan kadipaten
ilustrasi Ranggasena dan Kiai Ngabei Tangerang dan para penduduk bergotong royong untuk mendirikan kadipaten

“Siapa mereka? Hemm… tampaknya memang sudah ada orang yang terlebih dahulu tinggal di hutan ini,” guman Ranggasena dalam hati sambil melangkah menghampiri mereka.

“Salam, Ki Sanak,” sapa Ranggasena kepada mereka sambil menyalami satu per satu.

“Maaf, kami mengganggu. Perkenalkan nama saya Ranggasena dan ini keempat anak saya. Kami pengembara yang kebetulan sampai di tempat ini dan merasakan betapa tenteram dan asrinya hutan ini.”

“Selamat datang, Ki Ranggasena. Semoga berkah Tuhan menyertai pengembaraan Ki Rangga,” jawab seorang yang paling tua dalam kelompok itu.

“Terima kasih, Ki. Maaf, bagaimana kami harus menyebut Kiai?”

“Oh, ya, sampai lupa memperkenalkan diri. Saya Ngabei Ta ngerang. Mari, silakan singgah ke gubuk saya. Tidak enak kita berbincang sambil berdiri seperti ini,” Kiai Ngabei Tangerang mem persilakan.

Setelah mereka masuk dan duduk, Kiai Ngabei Tangerang melanjutkan ceritanya, “Oh, ya, kami ini adalah penduduk asli di hutan ini.

Kebetulan, saya yang paling tua dan dituakan oleh mereka. Mereka memanggil saya Kiai Ngabei Tangerang. Kami sudah cukup lama tinggal di Hutan Penyayangan ini.”

“Hutan Penyayangan?” tanya Ranggasena.

“Ya, ya, itu sekadar nama yang saya buat untuk menyebut tempat ini. Nama itu saya pilih karena hutan ini banyak pohon besar dan rindang, banyak binatang yang tidak pernah saling bermusuhan, dan berbagai jenis burung yang hidup dan bersarang di sela ranting pepohonan. Hutan dan semua binatang itu hidup berdampingan tanpa ada permusuhan seakan hidup saling menyayangi. Oleh karena itulah, hutan ini saya namai Hutan Penyayangan.”

Kiai Ngabei Tangerang menerangkan dengan rinci semua keadaan di hutan itu. Dari tutur katanya tampak sekali bahwa sebenarnya dia bukan orang sembarangan. Sebenarnya, Kiai Ngabei Tangerang adalah seorang yang sudah tersohor ke mana-mana sebagai seorang ahli agama. Selain itu, dia juga dikenal sebagai seorang yang memiliki ilmu kesaktian. di hutan itu dia hidup bersama dengan dua orang anaknya, yaitu Tejalamat dan Megalamat.

Setelah mendengar penjelasan Kiai Ngabei Tangerang yang cukup rinci, Ranggasena mencoba menjelaskan kembali asal muasal mengapa mereka sampai di hutan itu. Akan tetapi, ia tidak menceritakan bahwa dirinya adalah putra Prabu Ciung Wanara, Raja Pajajaran. Hal itu ia lakukan agar Kiai Ngabei Tangerang tidak curiga pada mereka. Memang, sebagai orang tua dan berilmu, Kiai Ngabei Tangerang tidak menaruh curiga sedikit pun terhadap Ranggasena dan anak-anaknya.

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait