Legenda Waduk Naga Wangsa Desa Kubangkangkung, Kecamatan Kawunganten

ikon waduk kubangkung
ikon waduk kubangkung

“Baiklah Bapak, besok pagi-pagi sekali saya akan berangkat dengan Samin.”

Pagi-pagi buta Samun dan Samin berangkat ke hutan untuk mencari lahan bercocok tanam. Setelah setengah hari mereka berputar-putar menelusuri hutan, sampailah mereka pada tempat yang dirasa sangat bagus dan cocok untuk semua jenis tanaman pertanian. Tempat itu adalah hutan di daerah Kubangkangkung.

“Di Samin, aku rasa tempat ini adalah tempat terbaik dari tempat-tempat yang lainnya,” kata Samun kepada adiknya.

“Benar sekali Kang. Aku rasa tempat ini cocok untuk ditanami padi gaga.”

Setelah mereka menemukan tempat yang dianggap cocok untuk bercocok tanam maka mulailah mereka membuka hutan tersebut dengan cara membersihkan semak belukar.

Hari demi hari Samun dan Samin bekerja tanpa mengenal lelah, pagi berangkat sore pulang, Bahkan terkadang sampai larut malam mereka baru tiba di rumah. Suatu hari di saat mereka bekerja, tiba-tiba Samin melihat sebutir telur besar yang berada di semak-semak hutan tersebut.

“Kang… Kang… Kang Samun, ini benda apa, Kang? Kok seperti telur,” Samin berteriak-teriak memanggil kakaknya.

Dengan tergopoh-gopoh Samun berlari mendatangi adiknya yang kelihatan panik karena melihat sesuatu. Setelah sampai di dekat adiknya, Samun lalu memerhatikan benda itu.

“Itu kok seperti telur.”
“Ya Kang, itu memang seperti telur.”
“Ya sudah, ambillah. Telur itu menjadi milikmu karena kamu yang pertama kali menemukannya.”

“Tapi… aku tidak berani megambilnya, Kang. Aku takut. Aku takut kalau telur itu beracun. Setelah saya sentuh, saya keracunan lalu mati. Tidak, Kang, aku tidak berani,” sahut sang adik dengan muka yang ketakutan.

“Baiklah kalau begitu. Aku punya usul.”
“Apa itu, Kang?”
“Telur itu kamu yang menemukan, tapi aku yang ambil. Bagaimana kalau nanti telur itu kita bagi dua, setuju?”

“Setuju Kang, setelah sampai di rumah telur itu kita masak. Kita bagi empat, seperempat bagian untuk Bapak, seperempat untuk ibu, seperempat untuk Kang Samun, dan yang seperempatnya lagi untuk saya.”

Samun kemudian mengambil telur itu. Telur itu memang tidak seperti telur-telur biasa. Telur itu memiliki ukuran yang lebih besar dan memiliki cangkang yang sangat kuat.

“Coba aku lihat, Kang!” kata Samin setelah telur itu ada di tangan Samun.

“Ini seperti telur ular, Kang. Tapi, yang aneh, mengapa telur ular sebesar ini ya? Jangan-jangan ini telur ular naga, Kang. Apa tidak lebih baik kita tinggalkan aja, Kang?”

Tampilkan Semua
Cilacap Info
IKUTI BERITA LAINNYA DIGOOGLE NEWS

Berita Terkait