Suara petir menggelegar seiring dengan sumpah yang diucapkan Panembahan Dalem Reksapati. Ia mulai melaksanakan tugas pertamanya. Karena memiliki kesaktian yang luar biasa, ia berhasil mengubah hutan belantara menjadi sebuah kampung yang diberi nama Babakan yang bermakna ‘tahap-tahap’. Semakin lama, semakin banyak orang berdatangan untuk menetap di perkampungan tersebut. Seiring berjalannya waktu, daerah tersebut menjadi luas dengan para penduduk yang banyak. Panembahan Dalem Reksapati pun menikah dengan Ratna Kencana. Bahkan, Ratna Kencana tidak lama kemudian mengandung putra mereka yang pertama. Sangat besar kasih sayang Reksapati kepada istrinya. Apa pun yang diminta pasti akan diturutinya.
Panembahan Dalem Reksapati berhasil membuka sebuah hutan menjadi perkampungan yang diberi nama Babakan
sebagai syarat untuk mempersunting putri Wangsa Karta penguasa Desa Larangan.
Suatu hari, Ratna Kencana bermimpi. Dalam mimpinya ia mendengar suara gaib yang terus terngiang-ngiang dalam benaknya.
“Ratna Kencana, engkau, ayahmu, ibumu, dan jabang bayi dalam kandunganmu ada dalam kuasaku. Untuk keselamatan kalian, mintal ah pada suamimu untuk menangkap seekor ikan di Sungai Cibeng keng. Bakarlah ikan itu untuk dia makan. Dan, kamu harus menyaksikan suamimu memakan daging ikan itu hingga bersisa kepala dan duri saja!” Begitu terbangun, dengan wajah kebingungan Ratna memanggil suaminya.
“Kakanda, Kakanda, Kakanda, di mana engkau? Kakanda, di mana engkau? Kakanda, di mana engkau?” Berulang kali memanggil, tidak ada sahutan. Ratna ke luar dari pondoknya, memandang sekeliling berharap menemukan suaminya segera. Sadar suaminya tidak ada di sana, ia berjalan menyusuri perkampungan. Tidak sia-sia usahanya, ia pun menemukan suaminya sedang menebang kayu di pinggir hutan. Dengan senyum mengembang, ia hampiri Reksapati.
Mendengar suara langkah kaki, Reksapati berhenti dari pekerjaannya. Ia terkejut mendapati Ratna berdiri di hadapannya. Tangan kanannya menggenggam sebuah pancing yang pada mata kailnya telah tertancap seekor cacing yang sedang menggeliat, sedangkan tangan kirinya tidak berhenti mengelus perutnya.
“Adinda, Ratna, adakah sesuatu yang penting hingga kau mencariku sampai ke sini?” ujarnya heran.
“Ya, Kanda! Tangkaplah seekor ikan di Sungai Cibengkeng. Aku akan menemanimu, Kanda. Akan aku bakar ikan itu untuk kaumakan. Sisakan kepala dan durinya untukku.”
“Tapi, sejak tinggal di sini tidak pernah aku mendapati seekor ikan pun.”
“Ini keinginan di jabang bayi, Kanda!” Ratna merajuk sambil mengelus perutnya.
“Dan, ingatlah sumpah Kanda yang kedua pada ayahanda!” Ratna menambahkan.

